I'll Be Here (New Version)

.

.

.

Hanya perlu percaya, bahwa aku akan selalu di sampingmu dan mencintaimu selalu dan selamanya.

.

.

TaeYu

"Aku akan selalu di sini, menunggumu dan mendukungmu."

.

.

WinKun

"Jangan melihat arah lain, cukup pandang aku yang selalu melihatmu."

.

.

JohnIl

"Aku akan selalu mencintaimu, meskipun aku tak berada di hatimu."

.

.

DoTen

"Melihat senyumanmu, aku bahagia dan merasa jatuh cinta setiap saat."

.

.

JaeWoo

"Hanya dengan di sampingmu, aku sudah bahagia."

.

.

LuChan

"Izinkan aku mengenalmu lebih jauh setelah ini."

.

.

MarkRen

"Tunggu sebentar lagi, maka aku akan mencintaimu."

.

.

NoMin

"Cukup lama aku bersabar, kini aku mohon jawab perasaanku."

.

.

SungLe

"Bersamamu setiap saat di mana dan kapanpun, aku sangat bahagia."

.

.

CHAPTER 1

...

Pagihari datang dan suara berisik mulai terdengar di sebuah dorm yang tidak bisa dibilang kecil karena anggotanya yang cukup banyak.

"Ish, Yuta hyung, sudah berapa kali kubilang, jangan dimakan dulu. Tunggu yang lain." Doyoung menjauhkan sarapan yang dibuatnya dari tangan jahil Yuta yang saat ini tengah cemberut karena dimarahi oleh lelaki yang lebih muda.

"Aku hanya minta sedikit, Doyoungie. Aku lapar," Yuta menatap memelas pada Doyoung. Namun Doyoung tak peduli, ia lebih memilih meneruskan acara memasaknya dibandingkan pemuda Jepang itu.

"Daripada kau ganggu aku lebih baik kau bangunkan yang lain hyung. Agar kita cepat sarapan juga." Kata Doyoung seraya melirik Yuta yang masih berdiam di tempatnya.

Yuta berfikir sebentar. Kemudian, ia menganggukan kepalanya dan mulai beranjak dari dapur. Pertama, ia melangkahkan kaki ke kamarnya. Untuk melihat apakah kakak tertuanya dan adik kesayangannya sudah bangun atau belum. Sampai di depan pintu kamarnya, Yuta mengernyitkan dahinya heran, karena sungguh. Telinganya tak salah dengar 'kan? Ada suara orang bertengkar di dalam kamarnya.

Yuta ingin masuk dan melerai kakak dan adiknya yang mungkin sedang bertengkar. Namun Yuta menggeleng-gelengkan kepalanya, Yuta tak mau ikut campur dengan apa yang sebenarnya terjadi Taeil dan Winwin. Yutapun memilih untuk kembali ke dapur dengan raut wajah bingung. Dalam fikirannya, Yuta terus saja berfikir, tak mungkin 'kan Taeil hyung dan Winwin bertengkar?

"Lho hyung? Mana yang lain? Kok kau sendiri?" Doyoung menatap bingung pada Yuta yang sedang berjalan ke arahnya dengan tatapan kosong. Entah apa yang terjadi dengan kakak Jepangnya itu.

"Yuta hyung!" Yuta berjengit kaget mendengar seseorang memekik memanggilnya. Mengerjapkan matanya pelan, Yuta melihat Doyoung yang berkacak pinggang dan menatapnya tajam.

"A-ada apa Doyoungie?" Yuta tergagap melihat Doyoung yang seperti itu.

Doyoung menghela nafas panjang. Kakak Jepangnya itu memang selalu bisa membuatnya emosi di pagi hari.

"Harusnya aku yang bertanya begitu. Kau ini kenapa hyung? Aku menyuruhmu untuk memanggil yang lain 'kan? Tapi kau malah ke sini sendiri dan malah melamun begitu." Jelas Doyoung.

Yuta tersenyum kecil dan berkata, "Aku tidak apa-apa Doyoungie. Ah itu, yang lain juga sebentar lagi datang."

Doyoung mengangguk mengerti. Lalu pandangannya teralih pada dua sosok yang kini berjalan di belakang Yuta. Taeyong dan Ten, pantas Taeyong tak membantunya di dapur. Ternyata bersama pemuda Thailand itu.

"Apa semuanya belum bangun?" Tanya Taeyong begitu melihat ruang makan dormnya masih lenggang.

Yuta melirik sekilas ke arah Taeyong dan Ten sebelum mendudukan dirinya di kursi dan berpura-pura fokus dengan alat makan yang akan digunakannya.

Doyoung berdeham pelan, "Mereka akan ke sini sebentar lagi, Taeyong hyung." Katanya seraya meletakan makanan di meja makan.

Suara langkah kaki terdengar, dan para member NCT 127 pun mulai mendudukan dirinya di kursi. Yuta melihat satu persatu teman satu grupnya. Pandangannya menemukan Taeil yang saat ini tengah menundukan kepala dan Winwin yang duduk di sebelah anggota yang paling tua itu dengan senyum lebar. Yuta tak mau berfikir yang tidak-tidak, tapi pendengarannya tadi tak mungkin salah 'kan?

"..ta Yuta!" Yuta mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum menatap Taeyong yang memanggil namanya sedari tadi.

"Hah? Ada apa?" Tanya Yuta bingung seraya menatap satu persatu member yang lain yang juga sedang menatapnya dengan berbagai pandangan.

"Kau melamun terus hyung dari tadi. Apa ada yang mengganggu fikiranmu?" Kali ini Doyoung yang kembali berbicara.

Yuta menggeleng pelan, "Tidak ada. Aku hanya terfikirkan sesuatu tadi. Ayo kita mulai makan." Jelas Yuta dengan senyum yang mengembang.

Beberapa dari mereka langsung bertatapan, namun sedetik kemudian mereka memilih tak peduli dan kembali pada makanan masing-masing. Namun tidak pada Taeyong. Pemuda tampan itu menatap pemuda Jepang di sampingnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Tidak biasanya Yuta seperti ini. Apa yang disembunyikan pemuda Jepang itu sebenarnya?

.

.

...

Jungwoo tengah bersiap ketika Lucas tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya tanpa mengetuk pintu. Jungwoo menoleh pada Lucas dan menatap yang lebih muda dengan pandangan bertanya.

"Ada apa Xuxi? Kau sudah bersiap 'kan? Kita ke akan ke Music Bank hari ini." Kata Jungwoo seraya mematut dirinya di cermin dan membenarkan penampilannya.

Lucas mengangguk singkat, "Sudah hyung." Balasnya dengan pandangan lurus ke punggung Jungwoo.

"Kau kenapa? Kenapa jadi pendiam begini?" Tanya Jungwoo sembari membalik tubuhnya dan matanya bertemu dengan mata Lucas.

"Hyung, kapan mentraktir anak-anak Dream?" Bukannya menjawab pertanyaan Jungwoo, Lucas malah balik bertanya dengan wajah yang memerah samar.

Jungwoo mengernyitkan dahinya, tumben sekali Lucas bertanya begitu. "Kau ingin bertemu dengan anak-anak Dream ya? Ada yang kau suka dari mereka? Siapa Xuxi-ya?" Goda Jungwoo dengan senyum jahilnya.

Lucas menggeleng dengan cepat, wajahnya memerah dengan begitu kentara hingga tawa Jungwoo meledak.

"Hyung~!" Lucas merengek, ia tak suka digoda oleh kakak-kakaknya terlebih ini mengenai seseorang.

Jungwoo berusaha meredakan tawanya dengan sembari memegangi perutnya. Ia mendekati Lucas dan merangkul bahu yang lebih muda.

"Iya maaf, hyung hanya menggodamu, Xuxi-ya." Ucap Jungwoo dengan kekehan kecilnya.

Lucas mendengus pelan, "Jadi kapan?" Tuntut Lucas seraya menatap tajam Jungwoo.

"Mungkin akhir pekan nanti. Ayo kita keluar, Kun hyung pasti sudah menunggu kita." Ajak Jungwoo seraya melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya.

Lucas pun mengikuti Jungwoo dan mereka sampai di ruang makan. Di sana, sudah ada Kun yang tengah menyiapkan sarapan untuk keduanya. Kun memang sengaja bangun lebih pagi agar bisa menyiapkan sarapan untuk kedua adiknya itu.

"Selamat pagi, Kun hyung~." Jungwoo menyapa yang lebih tua sembari duduk di kursinya. Diikuti Lucas yang duduk di samping pemuda manis itu.

Kun tersenyum lebar, "Selamat pagi." Balasnya seraya memandang dua adiknya itu yang kini fokus dengan makanan mereka.

"Terima kasih untuk makanannya." Ucap Lucas dan Jungwoo sesaat setelah mereka menghabiskan makanan mereka.

Jungwoo pun melihat ke arah Kun yang duduk di hadapannya dan tengah melamun. Jungwoo menghela nafas pelan, kakaknya yang satu ini memang suka sekali melamun. Jungwoo pun berdiri dan menghampiri Kun.

"Hyung! Kau tenang saja, aku akan menyampaikan salammu pada Winwin hyung, nanti." Kata Jungwoo yang saat ini berdiri tepat di belakang Kun.

Kun mengerjap pelan dan menolehkan kepalanya. "Kau bicara apa Jungwoo-ya? Memangnya siapa yang memikirkan Winwin," ucapnya pelan dengan wajah yang memerah samar.

Jungwoo tertawa pelan, kakaknya ini memang tak pandai berbohong. "Hyung, tidak bicara saja aku sudah tahu kok. Oh iya, satu lagi, nanti saat bertemu anak Dream's, khususnya Haechan, bilang padanya ada salam dari Xuxi." Jungwoo berkata dengan mata yang berbinar.

"Hyung!" Lucas memekik tak terima karena ia lagi-lagi digoda oleh kakaknya itu.

"Jangan mengelak Xuxi-ya. Sudah, ayo berangkat. Nanti hyungdeul dan Mark marah lagi kalau kita telat. Kun hyung, kami pergi nde? Paipai." Jungwoo pun melangkah lebih dulu meninggalkan Lucas di belakangnya dengan raut wajah yang masih cemberut.

Kun menggelengkan kepalanya, teman-teman satu grupnya memang tak ada yang waras sepertinya.

.

.

...

Malam hampir larut namun pemuda berdarah China itu terus meliukkan badannya di depan kaca besar yang memantulkan bayangannya. Matanya begitu fokus menatap bayangannya sendiri dengan sesekali berfikir tentang koreografi yang belum terlalu dia hafal.

Pemuda bermarga Huang itu menghentikan gerak kakinya begitu pintu ruang latihan terbuka dan menampakan sosok pemuda bersurai hitam dan tengah melangkahkan kaki panjang pemuda itu ke arah dirinya.

"Jeno?" Renjun mengernyitkan dahinya melihat pemuda yang lebih muda satu bulan darinya itu. Pasalnya, pemuda itu bilang ia ingin kembali ke dorm terlebih dahulu bersama dengan member Dream yang lain.

"Kenapa kembali? Ada yang ketinggalan?" Tanya Renjun sembari mematikan tape yang tadi digunakannya untuk menyalakan musik.

Jeno masih diam, menatap lurus pada Renjun yang berjarak lima meter di depannya. Renjun menggaruk tengkuknya gugup, ia tak tahu apa yang terjadi pada temannya itu. Tak mau ambil pusing, Renjun memilih mengambil botol air minumnya dan segera menghabiskan air di dalamnya yang memang tinggal setengah.

"Dimana Mark hyung? Bukannya tadi dia bilang akan menemanimu?" Jeno membuka suaranya dan masih menatap Renjun.

Renjun mengangguk polos, "Memang. Tapi dia keluar saat dipanggil oleh Manager hyung tadi." Jawabnya dengan senyum kecil di bibirnya.

"Aku kira dia meninggalkanmu," ucap Jeno pelan seraya mengalihkan pandangannya.

Renjun mengulum senyum, "Mark hyung bukan kau, Jeno-ya." Katanya tak kalah pelan sembari merapikan barang-barangnya. Ini sudah terlalu larut, dan Renjun merasa lelah.

"Ren-" Panggilan Mark terhenti di depan pintu ruang latihan begitu matanya menemukan Jeno yang berdiri tak jauh dari Renjun.

Mark berdeham pelan. Ia masuk ke dalam dan melangkah mendekat pada Renjun. Sampai di hadapan Renjun, Mark menatap pemuda yang lebih muda darinya itu dengan senyum yang mengembang di bibirnya.

"Kau pulang dengan Jeno ya? Aku harus kembali ke dorm 127 bersama Manager hyung soalnya." Mark menatap Renjun dengan sorot mata bersalah.

Renjun mengangguk dan tersenyum membalas Mark. "Tak apa hyung. Aku mengerti," katanya.

"Baiklah." Mark kemudian berbalik dan menatap Jeno, "Jeno-ya, kebetulan kau kembali jadi aku minta kau pulang ke dorm bersama Renjun. Kasihan dia jika pulang sendiri." Katanya pada Jeno sembari melirik Renjun yang berdiri di belakangnya.

Jeno mengangguk singkat, "Aku mengerti, Mark hyung." Balasnya datar.

Mark tersenyum tipis. Ia lalu beralih pada Renjun dan mengacak gemas rambut pemuda China itu. "Aku pergi, dan berhati-hatilah," katanya dengan senyum lebar.

"Iya, hyung." Renjun tersenyum tak kalah lebar hingga Mark melangkah meninggalkannya dan Jeno dengan suasana hening yang mencekam.

Renjun mengambil tasnya dan segera menyampirkannya di bahunya. Lalu melangkah mendahului Jeno yang mengikuti di belakangnya. Renjun sebenarnya tak suka dengan keadaan mereka yang semakin lama semakin merenggang ini.

Renjun melirik ke belakang, dimana Jeno tengah berjalan dengan kedua tangan ia masukan ke dalam saku celananya. Renjun mengalihkan pandangannya begitu kedua mata mereka berdua bertemu. Jeno tersenyum tipis, melihat telinga Renjun yang memerah. Entah karena malu ataupun karena cuaca yang dingin.

Keduanya sampai di depan dorm. Renjun membuka pintu dan masuk ke dalamnya disusul Jeno yang mengikutinya. Begitu menutup pintu, Jaemin mendatangi keduanya dan langsung merangkul lengan Jeno.

"Renjun-ah, malam ini aku tidur di kamarmu ya? Aku ingin tidur dengan Jeno." Kata Jaemin seraya menatap penuh harap pada Renjun.

Renjun mengerjap polos, dan kemudian mengangguk mengiyakan, "Baiklah. Aku juga 'kan bisa tidur di kamar Haechan dan tidur bersamanya. Aku duluan ya, aku sangat lelah." Balasnya dengan senyum kecil yang terpatri di bibirnya.

Renjun pun melangkah menuju kamar MarkChan yang berada di samping kamarnya dan Jeno. Jeno melihat Renjun dengan pandangan sedih.

"Jeno-ya, kajja kita tidur." Ajak Jaemin dengan riang sembari menarik tangan Jeno.

Jeno mengangguk dan mengikuti langkah kaki Jaemin yang menarik dirinya ke dalam kamarnya dan Renjun.

.

.

...

Johnny menghela nafasnya panjang begitu memasuki dorm. Jaehyun yang berjalan di belakangnya menatap bingung pada kakaknya itu.

"Kau kenapa hyung?" Jaehyun menepuk bahu Johnny dari belakang.

Johnny menoleh dan menggelengkan kepalanya. "Tak apa, Jae," jawab Johnny dengan pelan.

"Ck! Kau tak perlu berbohong, John hyung." Jaehyun menatap Johnny dengan kesal.

Johnny terkekeh pelan, ia pun memasuki kamarnya bersama dengan Jaehyun. "Memangnya aku bisa berbohong apa padamu, Jaehyunie?" Katanya sembari duduk di kasurnya.

Jaehyun mengedikan bahunya, "Kau bisa berbohong banyak hal dariku hyung. Tapi aku yakin, kau begini pasti karena Taeil hyung 'kan?"

Johnny menghela nafas panjang, Jaehyun memang paling bisa membaca dirinya. Johnny membaringkan tubuhnya di atas kasur dan menatap langit-langit kamarnya. Fikirannya melayang membayangkan sosok yang lebih tua darinya.

"Kau tahu? Susah sekali mendapatkan hatinya. Doyoung sudah mengalah, tapi malah Winwin yang sekarang mendapatkan hatinya. Aku harus bagaimana Jaehyun-ah?!" Johnny hampir berteriak jika ia tak ingat ini sudah malam dan teman-temannya sudah berada di alam mimpi.

Jaehyun yang duduk di kasurnya pun melihat kasihan pada kakaknya itu. Kisah cinta sang kakak memang tak pernah mulus dari dulu. Jaehyun merasa prihatin sekarang.

"Sudahlah hyung, aku yakin, jika kau dan Taeil hyung berjodoh, nantinya kalian pasti bersama. Hanya kau perlu bersabar lebih lagi saja," ujar Jaehyun dengan senyum tipisnya yang tak mungkin dilihat oleh Johnny yang masih menatap langit-langit kamar mereka.

Johnny tak bergeming dari posisinya dan tak bersuara sedikitpun. Jaehyun yang menyadari itupun mendesah pelan.

"Hampir pagi hyung, aku tidur duluan ya. Jalja!" Jaehyun pun membaringkan tubuhnya dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.

Johnny pun melirik ke tempat tidur Jaehyun dan melihat yang lebih muda tengah terlelap. Johnny mendesah, mungkin memang hanya perlu menunggu waktu untuk mendapatkan seorang Moon Taeil. Semoga saja memang seperti itu.

.

.

...

Sabtu malam ini, Jungwoo tengah bersiap untuk pergi bersama Jaehyun ke suatu tempat. Entahlah pemuda berjuluk Casper itu mau membawa Jungwoo kemana, yang Jungwoo tahu, ia hanya perlu berdandan sebaik mungkin agar Jaehyun tidak kecewa.

Jungwoo keluar dari kamarnya dan bertemu Kun yang juga baru saja keluar dari kamar pemuda itu yang berada tepat di samping kamar Jungwoo.

"Jungwoo? Mau kemana?" Tanya Kun begitu melihat penampilan Jungwoo yang nampak rapi sekali.

"Aku mau pergi dengan Jaehyun hyung, hyung. Aku duluan ya!" Jungwoo segera berlari ke luar dorm begitu melirik jam tangan di tangan kirinya. Ia hampir terlambat.

Kun sendiri, kini menatap sendu ke arah pintu dorm. 'Andai Sicheng ke sini' ratap Kun dalam hati.

Jungwoo tiba di taman dekat gedung SM dengan sebuah masker putih menutupi wajahnya. Matanya mengedar mencari sosok yang mengajaknya keluar tadi. Begitu melihat seseorang melambaikan tangan ke arahnya, Jungwoo pun tersenyum dan berjalan mendekati pemuda bermasker hitam itu.

"Jaehyun hyung." Jungwoo memanggil pelan sosok pemuda yang berdiri di depannya itu.

Tanpa banyak bicara, Jaehyun segera menggandeng tangan Jungwoo dan mengajaknya berlari.

"Kajja! Nanti kita terlambat menonton!" Seru Jaehyun.

Jungwoo pun hanya diam dan menuruti langkah kaki Jaehyun yang mengajaknya berlari. Jadi, Jaehyun mengajaknya berkencan? Memikirkan hal itu, entah mengapa wajah Jungwoo terasa memanas.

Jungwoo tidak mungkin menyukai Jaehyun 'kan?

.

.

...

TBC

NOTE :

Ini chap 1nya, sengaja agak pendek karena kehabisan ide (sebenarnya banyak, tapi kurang pas aja kalo diketik di chap ini). Jadi harap maklum aja ya. Untuk pair, sebelum kami officialin, emang bakal kami acak-acak dulu, biar seru dan biar bikin kalian bingung /nah lho.

Di chap ini bagian MarkRenNoMin lumayan panjang ya? Meskipun minim dialog. Tapi emang iya, dari versi kemarin dan sekarang, kami gemay banget sama 4 orang itu. Meskipun kami bilang ff ini fokus sama JaeWoo, tapi maaf di chap ini momentnya kayak kurang pas gitu ya. (Sebenarnya mabuk JaeWoo juga gegara VLive JohnJaeWoo waktu itu. Tatapan mereka berdua bikin kami teriak gemay). Lagian kami juga dilemma sih, mau masangin Jungwoo sama siapa haha.

Sekian curhatan dari kami. See yaaaaa di chap depan!

WISTAR!