I'll Be Here (New Version)
.
.
.
Hanya perlu percaya, bahwa aku akan selalu di sampingmu dan mencintaimu selalu dan selamanya.
.
.
TaeYu
"Aku akan selalu di sini, menunggumu dan mendukungmu."
.
.
WinKun
"Jangan melihat arah lain, cukup pandang aku yang selalu melihatmu."
.
.
JohnIl
"Aku akan selalu mencintaimu, meskipun aku tak berada di hatimu."
.
.
DoTen
"Melihat senyumanmu, aku bahagia dan merasa jatuh cinta setiap saat."
.
.
JaeWoo
"Hanya dengan di sampingmu, aku sudah bahagia."
.
.
LuChan
"Izinkan aku mengenalmu lebih jauh setelah ini."
.
.
MarkRen
"Tunggu sebentar lagi, maka aku akan mencintaimu."
.
.
NoMin
"Cukup lama aku bersabar, kini aku mohon jawab perasaanku."
.
.
SungLe
"Bersamamu setiap saat di mana dan kapanpun, aku sangat bahagia."
.
.
CHAPTER 2
...
Jisung terbangun dari tidurnya begitu ia merasakan tubuhnya dicolek-colek, ia mengerjapkan matanya beberapa kali begitu ia menemukan Chenle tengah berdiri di depannya dengan tingkah yang dibilang sedang —berusaha untuk— bertingkah imut.
"Kau kenapa sih?" Tanya Jisung yang lama-lama kesal —karena menahan gemas— pada Chenle yang saat ini tengah mengerucutkan bibirnya, imut.
"Aku lapar Jisungie~" ucap Chenle dengan nada suara yang mendayu. Jisung menggeleng pelan, ia lantas melihat ke arah jam wekernya dan menemukan jamnya itu sudah menunjukan waktu dua lebih tiga puluh lima menit. Artinya ini masih tengah malam yang menjelang pagi.
"Tahan sampai pagi Chenle-ya. Kau tahu aku tidak bisa memasak," ucap Jisung yang kemudian kembali berbaring dan berniat menarik selimutnya namun tertahan oleh Chenle yang menahan selimutnya menggunakan kedua tangan pemuda itu.
"Tapi aku tak bisa menahannya, Jisungie. Apa aku panggil Kun-ge saja ya?" Kata Chenle yang berhasil membuat Jisung kembali terduduk di atas kasurnya. "Jangan! Kau tak lihat, tadi Kun-hyung sangat kelelahan." Cegah Jisung yang kemudian berdiri.
Chenle mempoutkan bibirnya, "Lalu aku harus bagaimana Jisung? Aku sangat lapar!" Pekik Chenle yang mau tak mau membuat Jisung harus menutup mulut teman sepermainannya itu.
"Ya sudah, kita keluar saja dulu. Siapa tahu di dapur masih ada makanan," ucap Jisung seraya mendesah pelan. Sepertinya Jisung harus menahan kantuknya untuk beberapa puluh menit ke depan demi menemani pemuda Zhong ini.
Chenle tersenyum lebar, ia lantas menggandeng lengan Jisung dan keduanya keluar dari kamar mereka berdua.
Gelap.
Begitulah suasana di ruang tengah, namun cahaya dari dapur —yang lampunya memang sengaja dinyalakan— berhasil menuntun keduanya hingga sampai di dapur dorm mereka. Chenle lantas membuka lemari pendingin yang letaknya memang dekat dengan pintu dapur, sementara Jisung sudah menarik kursi meja makan dan duduk di sana. Jisung memperhatikan bagaimana wajah Chenle yang terlihat bingung saat pemuda itu mungkin tidak menemukan apa yang pemuda China itu inginkan.
Dalam fikirannya, Jisung sering kali berfikir, jika dirinya masih terlalu kecil untuk mengetahui dan mengerti apa itu yang namanya cinta. Namun, seiring berjalannya waktu, Jisung juga tak menampik jika pengetahuan akan cinta memang perlu. Hingga ia tak akan salah menentukan jika dirinya tiba di waktu untuk memilih, seperti yang tengah dialami kakak-kakaknya saat ini. Dan dari kakak-kakaknya pulalah, Jisung dapat belajar apa itu cinta, apa itu berjuang dalam cinta, dan apa itu sakit untuk cinta. Jisung mengerti semuanya. Terima kasih kepada kakak-kakaknya.
"Jisung, cuma ada buah-buahan saja." Chenle menghampiri Jisung dan duduk di depan pemuda Park itu dengan tangan yang membawa beberapa buah-buahan untuk menahan rasa laparnya.
"Sudahlah, makan saja. Lumayan 'kan buat mengganjal perutmu?" Balas Jisung yang dijawab anggukan kepala oleh Chenle.
Kembali, Jisung larut ke dalam lamunannya dengan mata yang memperhatikan wajah Chenle. Sungguh, jika Jisung ingin jatuh cinta, itu tak masalah 'kan jika ia jatuh cinta pada Chenle? Meskipun Chenle orang yang berisik dan sedikit manja, tapi itu adalah hal yang membuat Jisung malah jatuh hati pada pemuda China di hadapannya ini.
"Kenapa menatapku begitu? Kau mau?" Suara pelan Chenle dan tatapan mata sipit itu berhasil membuat Jisung kembali ke dunia. Jisung menggelengkan kepalanya, "Tidak, kau saja makan dan cepat habiskan. Aku masih mengantuk." Balas Jisung disertai menutup mulutnya. Berpura-pura menguap, karena dirinya malu ditangkap basah sedang menatap pemuda di hadapannya itu.
Chenle hanya mengangguk kecil. Mencoba percaya dan tak ambil pusing dengan apa yang sebenarnya tengah difikirkan sahabat baiknya itu. Chenle kembali mengambil buah apel keduanya, dan segera memakannya. Mereka berdua sibuk dengan kegiatan masing-masing, Chenle dengan buahnya dan Jisung kembali dengan lamunan panjangnya.
"Kalian berdua tidak tidur?" Sampai suara seseorang menginterupsi keduanya. Keduanya menoleh ke pintu dapur dan menemukan Kun yang sedang berdiri di sana.
Chenle terkekeh malu hingga ia menundukan kepalanya, sementara Jisung ia mengusap canggung tengkuknya dan mencuri tatap pada Kun dan sesekali pada Chenle. Kun tersenyum kecil, ia menghampiri keduanya dan berdiri di dekat Chenle.
"Kalian lapar? Kenapa tidak bangunkan gege saja," ujar Kun seraya mengacak rambut Chenle gemas.
"Kami tidak mau merepotkan gege. Tadi gege terlihat sangat lelah soalnya," balas Chenle polos. Kun tersenyum lembut, merasa bersyukur sikap jahil duo maknaenya ini tidak kambuh saat-saat begini.
"Apa kalian masih masih lapar? Mau gege masakan sesuatu?" Tanya Kun seraya melirik Jisung yang sedari tadi diam memperhatikan percakapan dirinya dan Chenle.
"Tidak perlu Kun-hyung. Kami akan kembali ke kamar, tinggal sedikit lagi waktu untuk kami tidur." Jawab Jisung sembari berdiri dari duduknya.
"Baiklah, nanti saat waktunya sarapan, hyung bangunkan lagi." Balas Kun dengan senyum lembutnya. Jisung dan Chenle lantas menganggukkan kepala mereka, mengiyakan.
Jisung pun segera menggandeng tangan Chenle dan keduanya kembali ke kamar mereka berdua. Kun menghela nafasnya panjang, ia lalu meraih gelas kosong dan mengisinya dengan air minum. Setelahnya, Kun meletakan gelasnya dan membereskan sampah yang ditinggalkan Chenle sebelum kembali ke kamar yang digunakannya untuk tidur. Mereka berdua benar, dirinya memang lelah. Terlebih hatinya.
...
Lucas membuka ruang latihan dan hanya menemukan tiga orang di sana dalam suasana yang bisa dibilang sangat canggung. Mereka bertiga adalah Renjun, Jeno dan Jaemin, di mana Jeno berdiri di tengah-tengah antara Renjun dan Jaemin. Lucas mengernyitkan dahinya, merasa bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi pada adik-adiknya itu.
"Xuxi-ge? Kau sudah datang?" Renjun menyapa dan berlari menghampiri Lucas. Renjun pun menggandeng lengan Lucas, "Jeno-ya, aku pergi dulu ya. Aku ada janji dengan Lucas-ge." Pamit Renjun seraya mengajak Lucas pergi dari tempat latihan.
"Tunggu Renjun! Kau mau membawaku ke mana sekarang?" Lucas menahan langkah Renjun begitu mereka sampai di depan gedung SM.
Renjun mendongak dan menatap Lucas dengan mata memerah dan berair, seperti menahan tangisnya. Lucas yang melihat itupun mendesah pelan dan mengusap pipi Renjun.
"Baiklah, kita jalan-jalan sambil kau menenangkan fikiranmu. Bagaimana?" Usul Lucas yang lantas diangguki oleh Renjun.
Keduanya pun berjalan-jalan di belakang gedung SM tanpa penyamaran yang berarti. Karena memang, di tempat ini jarang sekali orang yang lewat hingga banyak dari artis-artis SM yang jika ingin mencari udara segar, mereka datang ke taman belakang gedung SM ini.
Lucas dan Renjun pun lantas duduk di sebuah bangku taman. Lucas memperhatikan wajah Renjun yang terlihat sedang bersedih, entah apa alasannya, Lucas merasa kasihan pada adiknya ini.
"Ingin bercerita? Kau nampak sedang ada banyak masalah," Lucas membuka suara dengan bahasa China setelah sekian menit hanya suara angin yang terdengar.
Renjun menghembuskan nafasnya berat, ia menengadahkan kepalanya menatap langit pagi yang tertutupi awan putih. "Xuxi-ge," panggil Renjun pelan.
Lucas berdeham dan mengikuti arah pandang Renjun. "Aku rindu orangtuaku, rindu halaman rumahku, dan rindu teman-temanku." Ucap Renjun dengan pandangan yang masih mengarah ke langit. "Jika aku tahu cinta serumit ini, aku pasti akan memilih untuk tetap tinggal bersama orangtuaku, tidak bertemu dengan mereka, dan tidak ingin menjadi dewasa. Aku ingin tetap menjadi Renjun kecil yang polos," sambung Renjun dengan setetes air mata turun dari mata indahnya.
Lucas mengalihkan pandangannya dan menatap sendu pada Renjun. Meskipun ia terkenal sebagai anak yang pecicilan, tak tahu malu, tapi Lucas masih bisa menempatkan dirinya pada situasi yang seperti ini. Terlebih ini tentang perasaan salah satu adik kesayangannya.
Lucas meraih tangan Renjun dan menggenggamnya erat hingga sang empu menoleh dan menatap Lucas dengan mata yang basah. Lucas mengulurkan sebelah tangannya dan mengusap pipi Renjun yang basah. Renjun mengerjapkan matanya beberapa kali untuk bisa mengerti apa yang tengah Lucas lakukan padanya.
"Xuxi-ge, jangan seperti ini! Kalo Haechanie melihat bagaimana?" Renjun mengerucutkan bibirnya dan menjauhkan wajahnya dari tangan Lucas.
"Aku hanya ingin membantumu Renjun. Nanti kalau ada yang melihatmu menangis bersamaku, lalu ada yang mengadu? Habis aku dihukum Kun-ge, Renjun." Balas Lucas membela diri.
Renjun hanya mengangguk kecil, lalu mengusap pipinya sendiri. Ia kemudian mengalihkan pandangannya dan menemukan Jeno dan Jaemin yang memakai baju seragam, sedang berjalan di depan sana. Lucas mengikuti arah pandang Renjun dan tersenyum tipis.
"Cinta memang sulit, Renjun. Tapi, jika sudah ada seseorang yang mencintaimu dengan tulus dan selalu ada di sampingmu, kenapa kau harus mencari orang lain yang sudah jelas ada yang menunggu orang itu untuk membuka pintu hatinya?" Ucapan Lucas berhasil membuat Renjun kembali mengalihkan atensinya.
"Omonganmu tinggi juga, Xuxi-ge. Tapi sayang, sampai sekarang kau tidak berani mendekati Haechan. Kau mau dia diambil orang lain, Xuxi-ge?" Goda Renjun yang membuat wajah Lucas memerah karena menahan kesal.
"Bukan seperti itu Renjun. Kau tahu sendiri jika Haechan sangat dekat dengan Mark, aku—"
"Tapi kau juga tahu, jika Mark itu mencintaiku." Potong Renjun yang membuat Lucas menatap tajam dirinya. Bukannya takut, Renjun malah tertawa melihat ekspresi Lucas. Merasa menang karena Lucas tidak membalas lagi ucapannya.
Namun, dalam hati Lucas tersenyum, ia tersenyum karena bisa membuat Renjun kembali tertawa.
"Tapi Xuxi-ge, kau tenang saja, aku akan membantumu mendapatkan Haechan!" Janji Renjun dengan senyum manisnya.
Lucas menganggukkan kepalanya dan tersenyum lebar, "Pegang janjimu, Huang Renjun!"
...
Jeno melirik Jaemin yang tengah berjalan di sampingnya. Mereka berdua sedang dalam perjalanan menuju sekolah mereka yaitu Seoul of Performing Arts. Keduanya atau bertiga bersama Haechan, tahun ini sudah memasuki tahun ketiga mereka. Dan di tahun depan juga, ketiganya sudah mulai memasuki usia dewasa. Memikirkan hal ini, entah mengapa Jeno merasa senang dan juga sedih sekaligus.
"Jeno! Jaemin!" Langkah Jeno berhenti begitu mendengar suara seseorang memanggil nama mereka berdua. Menolehkan kepala keduanya, Jeno menemukan teman satu sekolahnya yang juga baru debut beberapa minggu lalu itu tengah berlari menghampiri keduanya.
"Hyunjin! Jeongin!" Sapa Jaemin pada mereka berdua. Kedua orang yang dipanggil Hyunjin dan Jeongin itupun tersenyum kepada mereka berdua.
Meskipun mereka di depan kamera jarang terlihat menyapa, namun nyatanya di belakang kamera mereka cukup dekat. Karena biasanya, mereka akan bertemu di jalan dan berangkat bersama ke sekolah mereka secara bersamaan. Seperti hari ini.
"Kau kenapa Jeno-ya? Mukamu terlihat suntuk?" Tanya Hyunjin pada Jeno yang berjalan di sampingnya. Sementara Jaemin, kini berjalan di belakang bersama Jeongin. Dan keduanya pun mengobrol bersama.
Jeno tersenyum kecil dan menggelengkan kepalanya, "Bukan masalah besar, Hyunjin-ah. Hanya kurang tidur, mungkin?" Balas Jeno ragu.
Hyunjin tertawa kecil dan berkata, "Kita sama, Jeno-ya. Aku pun kurang tidur."
"Aku juga Jeno-hyung!" Jeongin tiba-tiba menimpali yang membuat Hyunjin dan Jaemin tertawa sementara Jeno hanya terkekeh pelan.
"Omong-omong, Haechan tidak datang?" Tanya Hyunjin kembali saat dirinya baru menyadari jika temannya ini hanya datang berdua.
"Dia ada jadwal, jadi tidak bisa sekolah hari ini. Manager-hyung sudah minta izin." Giliran Jaemin yang menjawab. Hyunjin pun hanya ber'Oh' ria hingga mereka berempat sampai di gerbang sekolah mereka.
"Baiklah, sampai jumpai lagi ya. Kajja Jeongin-ah." Ajak Hyunjin sambil menggandeng tangan Jeongin. Jeongin pun melambaikan tangannya pada Jeno dan Jaemin yang dibalas oleh Jaemin dan senyuman kecil oleh Jeno.
"Mereka berdua pasangan yang manis. Bukan begitu, Jeno-ya?" Tanya Jaemin sembari melanjutkan langkahnya yang disusul Jeno di sampingnya.
"Kenapa? Kau iri?" Balas Jeno datar.
Jaemin tertawa kecil dan memukul bahu Jeno main-main. "Iya, aku iri. Satu tahun aku hiatus kau semakin dekat dengan Renjun dan melupakanku," ucap Jaemin seraya menatap sinis pada Jeno.
"Tapi bukankah kau sekarang juga dekat dengan Renjun? Bahkan sekarang banyak shipper kalian." Jeno berhenti berjalan di dekat tangga menuju kelas mereka. Jaemin ikut berhenti dan berdiri di depan Jeno.
Beberapa teman dan adik kelas mereka yang melihatpun hanya sesekali berbisik dan tak mau ikut dengar apa yang mereka bicarakan. Karena bagaimanapun, mereka juga manusia biasa yang butuh privasi bukan?
"Apa kau cemburu? Jika iya, berarti rencanaku berhasil," ujar Jaemin dengan senyum miring yang terpatri di bibirnya.
Jeno mendesah pelan dan mengendikan bahunya, "Terserahmu Na Jaemin." Ucapnya pelan seraya melangkahkan kakinya menaiki tangga.
Jaemin mengikuti di belakangnya dan berbicara lirih, "Ini sudah lama Jeno. Kapan kau akan membalas perasaanku?"
...
"Haechan-ah, bangun!" Mark menarik selimut milik Haechan hingga sang empu mengerang tak terima. Haechan pun dengan terpaksa duduk di atas ranjangnya dan mengusap kedua matanya yang masih terasa berat.
Mark yang baru saja mandi pun masih mengeringkan rambutnya dan menatap Haechan malas melalui pantulan bayangannya di cermin.
"Bangun dan cepat mandi, Lee Haechan! Hyungdeul sudah menunggu di depan." Titah Mark yang dibalas dengusan malas oleh yang lebih muda.
"Tidak bisa apa aku tidur lima menit lagi?" Haechan berniat kembali berbaring jika ia tak melihat lirikan tajam dari Mark. Haechan kembali mendengus, bukannya ia takut pada Mark, hanya saja jika sudah seperti ini, pasti mood Mark sedang tidak bagus.
"Ada apa lagi hyung? Kau bertengkar dengan Injunie lagi?" Tanya Haechan sembari bangkit dari kasurnya dan berjalan menghampiri Mark.
Mark menghembuskan nafasnya panjang. "Aku tak tahu apa yang terjadi antara Renjun dan Jeno serta Jaemin. Tapi tadi Lucas menghubungiku jika Renjun sempat menangis." Cerita Mark.
Haechan mengernyitkan dahinya, "Renjun menangis? Lalu hungungannya dengan Jeno dan Jaemin apa?" Tanyanya tak mengerti.
"Ya, soalnya Renjun menangis saat Lucas menghampiri ketiganya di ruang latihan. Saat akan masuk, Renjun keburu keluar dan mengajaknya mencari udara segar. Dan di sana Renjun menumpahkan segala kegundahannya," jelas Mark pada Haechan yang hanya bisa menganggukan kepalanya.
"Tapi, memangnya Lucas-hyung bisa diandalkan jika malah seperti ini?" Balas Haechan dengan wajah polosnya.
Mark terkekeh pelan, "Jangan melihat orang dari luarnya, Haechan. Kau hanya belum mengenal Lucas terlalu jauh, nanti jika kau mengenalnya, aku yakin kau pasti akan jatuh hati padanya." Ujar Mark.
Haechan berdecih dan berkata, "Kalau aku jatuh cinta pada Lucas-hyung, nanti kau cemburu lagi hyung."
"Oh astaga! Sudah berapa kali kubilang jika itu tak akan terjadi? Hatiku sudah kuberikan pada Renjun sepenuhnya!" Pekik Mark yang membuat Haechan tertawa.
"Aku tahu hyung! Jangan dibawa perasaan begitu, lama-lama kau jatuh cinta lagi padaku." Kata Haechan yang membuat wajah Mark memerah menahan kesal.
"YAKK MARK LEE! LEE DONGHYUCK! SAMPAI KAPAN KALIAN DI DALAM?! KITA AKAN BERANGKAT SEBENTAR LAGI!" Teriakan dari luar kamar mereka berhasil membuat tawa Haechan berhenti dan segera berlari keluar kamar sambil membawa handuknya.
Mark tertawa kecil, namun di dalam hati, ia berjanji dalam hatinya sendiri bahwa dari sekarang, hatinya hanyalah milik Huang Renjun. Lee Donghyuck adalah masa lalunya, dan masa depannya adalah Huang Renjun.
...
TBC
Thanks a Lot To :
Chapter 1 : kyungie love (2), Guest, kunkunxjungjung, Jiiiiii, Nurul1707, Khasabat04.
Chapter 2 : Nurul1707, kyungie love, PreciousRuby, Khasabat04, DoubleHuang, Guest, KMinee, MJH09, Guest (2), TennaHazel Uchiha, mocchabear.
NOTE :
Ini khusus anak-anak Dreamies. Untuk hyungdeul menyusul ya, menunggu ide dari Kak Tia, soalnya untuk chap ini murni dari Wi semua (jadi harap maklum kalau pendek). Wi lagi suka sama anak-anak Stray Kids, apalagi HyunJeong. Kebetulan mereka satu sekolah dan satu angkatan, Wi buat mereka jadi dekat di sini. Kebetulan juga kan Woojin itu mantan anak SM dan dekat sama Jungwoo dan yang lain juga. Ada yang suka Stray Kids juga?
Ps. Wi mau lanjutin ff Choose Me sama Broken Home, masih ada yang mau baca?
Sampai Jumpa!
Wi!
