Chapter 3
"Kutukan Keabadian Sang Ratu"
"Kalau kau tidak ingin membunuhnya, biar aku saja yang membunuhnya!"
Tiba-tiba sebuah belati melesat kearah sang ratu dan tepat mengenai perutmya.
"Arrgghhhh Sialan! Jerit sang ratu. Dia mencari dari mana asal belati itu, dan melihat tetsuya yang bediri menatapnya dengan tatapan berapi-api.
.
.
.
.
Unmei
Kuroko no Basuke
Disclaimer to Fujimaki Tadatoshi
Pairing : AkaKuro
Warning: Shounen-ai (boyxboy), OOC
Saya tidak mengambil keuntungan apapun dari cerita ini. Cerita ini dibuat hanya untuk kesenangan saja, jika ada kesamaan atau kemiripan cerita, itu murni ketidaksengajaan.
Storyline by : JT_Chan
.
.
.
.
~Selamat Membaca~
"sialan kau tetsuya! Dasar anak kurang ajar!" sang ratu marah, sangat marah. Dia bermaksud untuk memabalas. Dia mencoba membunuh tetsuya.
Namun tiba-tiba, belati itu memancarkan cahaya yang sangat terang, dan api mulai keluar dari belati tersebut.
"Argghh panas! Panas! Sialan! Sialan kau Tetsuya!" sang ratu menggeram marah. Dia menatap nyalang tetsuya.
"kekuatan jahat harus dilenyapkan.. kau harus lenyap dari muka bumi ini!" tetsuya berteriak pada sang ratu. Dia tak takut.
Sang ratu terlihat sangat kesakitan, namun ditengah ajalnya dia berkata pada sang pangeran.
"Tet..suya sialan! Aku mengutukmu! Kau akan hidup abadi dalam kesepian dan kesedihan! Dan kau tak akan bisa mati! Kau hanya bisa mati ditangan orang yang kau cintai! Camkan itu tetsuya sialan! Arghhh!".
Sang ratu berteriak keras. Api melahap tubuhnya hingga menjadi abu.
Mendengar kutukan sang ratu. Tetsuya terduduk lemas. 'tidak mungkin.. tidak mungkin.. aku tidak ingin hidup abadi.. Sei-kun..hiks.." tetsuya menangis. Dia berjalan kearah tubuh sang kekasih yang sudah tak bernyawa.
"Sei-kun.. kenapa kau tinggalkan aku.. hiks.. kau berjanji akan selalu bersamaku.. kau berjanji akan membuatku bahagia.. tapi mengapa.. mengapa kau pergi begitu cepat.. hiks" Tetsuya menangis pilu.
Dia mencoba untuk membangunkan kekasihnya, namun sang kekasih sama sekali tak bergerak. Tubuhnya mulai mendingin. Bibirnya mulai membiru.
Para Prajurit meletakan tangan di depan dadanya dan membungkuk hormat pada jasad sang iblis. Mereka tau iblis itu tak pantas untuk di hormati.
Namun melihat sang pangeran yang begitu kehilangan sosok iblis kejam itu. Dan melihat kejadian tadi, mereka tau iblis itu mencintai pangeran mereka dengan tulus.
Bahkan dia rela kabur dari kerajaannya dan menentang takdir hanya untuk bersama pangeran mereka. Begitupun sang pangeran yang sangat mencintai iblis itu dengan sepenuh hati.
Tetsuya tak peduli harus menaggung dosa dan masuk neraka. Dia tak peduli. Dia hanya ingin bersama akashi.. orang yang begitu dicintainya. Dia akan ikut kemana akashi akan ke neraka sekalipun. Dia akan ikut.
Tetsuya berharap kutukan itu tak mempan padanya. Dia sangat takut. Dia tak ingin hidup abadi.
Namun apa daya, sepertinya kutukan itu memang sudah ditakdirkan untuknya.
Setelah cukup tenang ia kembali berdiri. Dia mengambil sebuah botol, tetsuya berniat memasukan abu sang ratu kedalamnnya.
Namun saat dia memegang abu tersebut. Abunya tiba-tiba menghilang dan menyisakan belati ibunya.
Tiba-tiba dia merasakan keanehan pada tubuhnya. Tubuhnya sangat panas, seperti ada sesuatu yang perlahan mengalir kedalam tubuhnya.
"Arghhh.. panas.." tetsuya merintih.
Melihat sang pangeran yang kesakitan. Sang jendral menghampiri.
"Pangeran anda tidak apa-apa? Pangeran sadarlah.." sang jendral memangku kepala pangerannya. Dia mencoba menyadarkannya.
"Cepat ambilkan air!" teriak sang jendral pada pasukannya.
"Ini jendral airnya" ucap salah satu prajurit.
Sang jendral mencoba untuk membangunkan pangeran. Dia menciprat-cipratkan air ke wajah sang pangeran. "Pangeran sadarlah.. ku mohon sadarlah.." ucapnya.
"Uhhh.. kepalaku.. sakit sekali.. ukh" ucap tetsuya.
Melihat pangerannya yang sudah sadar merekapun lega. "untunglah pangeran baik-baik saja.. apa ada yang sakit pangeran? Dimana dimana yang sakit?" tanya sang jendral panik.
"Tenanglah jendral.. aku baik-baik saja.. entahlah.. aku juga bingung kenapa aku tiba-tiba pingsan.." ucap tetsuya.
"Syukurlah kalau begitu pangeran.. anda membuat jantungku berhenti tadi.."
"maaf..maaf.."
Tetsuya mencoba bangun. Dia menarik nafas sebentar. Namun disetiap tarikan nafasnya terasa berat. Sangat berat. Mengingat semua kejadian yang menimpanya, membuatnya dadanya sesak.
Dia mencoba menenangkan dirinya. "baiklah.. mari kita kembali ke istana.. dan tolong bantu aku membawa sei-kun.. aku ingin membuat upacara kematian untuknya." ucap tetsuya mantap. Dia mencoba untuk tegar.
"Baik Pangeran" Para prajurit dengan patuh menuruti keinginan tetsuya.
Mereka senang karena sang ratu yang jahat telah mati. Mereka sangat bersyukur mempunyai pemimpin seperti tetsuya.
Dia baik, sopan dan ramah. Walau memang tubuhnya lemah, namun keberanian dan kepintarannya tidak kalah dengan pangeran-pangeran hebat diluar sana.
Tetsuya dan pasukannya kembali menuju ke istana.
Para warga yang mendengar meninggalnya sang ratu bersorak saat melihat sang pangeran dan pasukannya kembali ke istana.
"Hidup pangeran Tetsuya!"
"Hidup!"
"Hidup!"
Sepanjang perjalan menuju istana, sorak sorai mengiringi mereka. Warga Seirin sangat senang. Karena mereka terbebas dari sang ratu penyihir yang kejam. Seorang Ratu yang tak segan untuk menyihir atau membunuh mereka.
Mereka berharap kerajaan bisa damai dalam kepemimpinan tetsuya nantinya.
Setelah tibanya mereka di istana, sang penasehat kerajaan datang menghampiri pangeran.
"Selamat datang kembali paduka pangeran" ucap si penasihat kerajaan ramah.
"Ya, bagaimana kabarmu pak penasihat? Apa istana baik-baik saja?" tanya tetsuya.
"Istana baik-baik saja pangeran, harusnya hamba yang bertanya.. apa anda baik-baik saja?"
"Aku baik-baik saja.. ya.. setidaknya tubuhku baik-baik saja" ucap tetsuya. dia menunudukan kepalanya.
Seketika suasana menjadi sangat canggung. Si penasihat kerajaan mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.
"Ahh.. . Saya dengar anda berhasil membunuh paduka ratu.. beliau memang pantas mendapatkannya. Pangeran sungguh sangat hebat."
"aku tidak sehebat itu pak penasihat. Aku hanya berfikir. Aku memang harus membunuhnya. Kejahatannya sudah diluar batas." Ucap tetsuya.
"seperti biasa. Pangeran sangat rendah hati.."
Hening sesaat. Si penasihat terlihat gelisah. Dia ingin mengatakan sesuatu, namun dia terlihat takut.
'apa ini waktu yang tepat untuk menyampaikan hal itu, terlebih lagi.. pangeran sedang berduka.. tapi.. aku harus tetap menyampaikannya.. aku tidak mungkin membiarkan kerajaan ini terlalu lama tanpa kepemimpinan seorang raja' fikir sang penasihat kerajaan.
"Ada apa? Kau terlihat sangat gelisah.."tanya tetsuya. Sejak tadi dia sebenarnya melihat gerak gerik si penasihat yang aneh.
"Sebenarnya... ada hal yang ingin hamba katakan pangeran.."
"Apa yang ingin kau katakan? Jika itu memang penting, katakan saja padaku.. tidak perlu sungkan.." ucap tetsuya.
"ummm itu.. saya rasa pangeran, sudah saatnya anda diangkat menjadi raja Seirin.. kita tidak mungkin membiarkan kerajaan ini kosong tanpa pimpinan seorang raja, pangeran".
"ahh kau benar.." jeda sejenak. Tetsuya menatap si penasihat mantap.
"Aku rasa aku siap untuk menjadi raja. Cepat siapkan semuanya yang dibutuhkan untuk pengangkatanku. Dan satu lagi. Siapkan upacara kematian untuk Sei-kun"
"Baik pangeran. Saya akan menyiapakan semuanya. Saya pamit undur diri pangeran."
"Ya"
Penasehat istanapun pergi. Tetsuya memutuskan untuk kembali ke kamarnya.
Di kamar pribadi Pangeran.
Tetsuya gelisah, hatinya tidak tenang. Kutukan sang ratu berputar di otaknya seperti kaset rusak. Tetsuya takut. Dia tidak ingin hidup abadi.
Dia bahkan berencana untuk bunuh diri agar bisa bertemu lagi dengan kekasih hatinya.
"Untuk apa aku hidup. Hidupku sudah tak berarti lagi. Sei-kun sudah pergi selamanya dari hidupku. Hiks..hiks Sei-kun" Tetsuya tak sanggup menahan air matanya lagi.
Tetsuya tidak sanggup hidup tanpa akashi. Baginya akashi adalah seorang yang sangat penting di hidupnya. Cinta pertamanya.
Walaupun dia iblis. Dan orang bilang dia jahat dan kejam. Tapi di mata tetsuya, akashi sangatlah baik. Terutama padanya. Akashi Mencintainya dengan tulus dan tanpa alasan.
"Sei-kun.." dia menyebut nama sang terkasih berkali-kali. Berharap sang kekasih akan kembali padanya.
Memasuki jendela kamarnya secara diam-diam. Dan menemuinya. Seperti biasa. Namun kenyataanya tidak ada siapapun yang datang. Karena orang yang sudah mati tidak mungkin kembali hidup kan?.
Tetsuya tak berdaya.. dia tidak bisa bunuh diri begitu saja. Kalau dia bunuh diri, lalu siapa yang akan memimpin kerajaan ini.
Kerajaan Seirin adalah peninggalan ayah dan ibunya. Semua kenangannya ada disini. Dia tak mungkin meninggalkan kerajaan ini begitu saja. Dia punya tanggung jawab besar pada kerajaan ini.
Apalagi dia adalah anak satu-satunya sang raja. Pewaris sah satu-satunya. Tidak ada yang lain, karena tetsuya tidak memiliki satupun saudara kandung.
Ditengah keheningan malam, tetsuya terus menangis. Menangis dan menangis.
Pagi harinya. Istana sibuk dengan persiapan pengangkatan tetsuya menjadi raja. Bahkan para wargapun sangat antusias dan menunggu acara sakral tersebut.
Tetsuya datang ke ruang makan. Para pelayan sibuk menyiapkan makanan untuk pengeran mereka.
"ahh.. pangeran.. selamat pagi. Ibu sudah siapkan sarapan untuk pangeran" ucap kepala pelayan.
"terimakasih bu. Tapi aku tidak lapar. Aku hanya ingin segelas air putih. Aku sangat haus". Ucap tetsuya.
"baiklah nak, ibu akan ambilkan air dan susu untuk anda pangeran" si pelayanpun pergi untuk mengambil apa yang tetsuya minta.
Tetsuya memutuskan untuk duduk di kursinya.
Dari kejauhan terlihat penasihat istana berjalan ke ruang makan. ke arah tetsuya.
"Pangeran.. persiapan upacara pemakaman untuk akashi seijuuro sudah siap." Ucap penasihat istana.
"Baiklah.. terimakasih mari kita kesana" tetsuya berdiri dari kursinya.
"Tunggu dulu pangeran. Makanlah dulu. Ini airnya pangeran" pelayan isatana datang dan mencegah sang pangeran pergi sebelum sarapan.
"Terimakasih bu tapi saya tidak lapar."
"Tidak pangeran harus sarapan. Setidaknya minumlah susu dan makanlah beberapa potong roti" bujuk kepala pelayan istana.
"aku akan makan setelah upacara kematian sei-kun bu".
Kepala pelayan terlihat sedih.
"baiklah aku akan minum susu terlebih dahulu". Ucap tetsuya
Karena tidak tega melihat tatapan sedih si kepala pelayan, akhirnya tetsuya meminum susunya sebelum pergi.
Setelah minum, tetsuya bergegas pergi ke tempat dimana jasad kekasihnya berada.
"pangeran telah tiba" ucap salah satu pengawal kerjaan.
Para pasukan memberi hormat pada tetsuya saat tetsuya memasuki ruangan itu. Tetsuya menatap sebuah peti yang terletak di tengah ruangan itu dengan perasaan sedih.
"Sei-kun" Tetsuya segera mendekat ke arah kekasihnya. Air mata mulai jatuh membasahi pipinya.
Tetsuya berlutut dan menggenggam tangan kekasihnya.
"Sei-kun maafkan aku... hiks.. karena a..ku kau mati. Se..andainya..hiks.. kau tidak untuk mem..bawaku per..gi.. kau pas..ti masih hi..dup. hiks..hiks"
Pecah sudah tangisan tetsuya. Dia tak kuat melihat kekasihnya terbujur kaku. Wajahnya putih pucat dan bibirnya membiru. Tapi dia masih tetap tampan.
"a..ku mencintaimu sei-kun.. aku men..cintaimu.." tetsuya mencium kening kekasihnya penuh sayang.
Dia berharap kekasihnya akan bahagia di sisi tuhan. Dia juga berharap di kehidupan selanjutnya mereka akan disatukan kembali.
Setelah tetsuya puas menangis. Dia memberi perintah kepada prajurit untuk membawa pujaan hatinya ke halaman belakang istana.
Kekasihnya akan dikremasi. Dan tetsuya sendiri yang akan melakukan hal tersebut.
Setelah siap. Para pasukan membawa akashi seijuuro ke atas kayu perapian. Tetsuya mencoba menguatkan hatinya.
"aku harus kuat. Demi sei-kun dan demi negeri ini"
Salah satu prajurit memberi kayu yang sudah di beri api diatasnya. Tetsuya mengarahkan kayu tersebut ke jasad kekasihnya,
Tangannya gemetar. "sei-kun" dia terus menerus meyebutkan nama kekasihnya.
"Semoga kau bahagia disisi tuhan.. aku mencintaimu.."
Api mulai membakar tubuh kekasihnya. Tubuh kekasihnya mulai tak terlihat. Tetsuya menangis lagi. Air matanya seakan tak pernah habis.
Api yang semula besar mulai mengecil dan hilang. Sekarang hanya tersisa abu kekasihnya. Tetsuya mengambilnya dan memasukannya ke dalam kendi.
Dia akan menyimpannya di altar kematian kekasihnya untuk sementara, sebelum nanti dia akan melepaskan abunya ke laut.
Dia memeluk kendi tersebut dengan sayang.
.
TBC
.
Hallo..
Ketemu lagi dengan saya di cerita ini hihi..
Tetsuya: JT-san, kau jahat sekali padaku di cerita ini.. kau ambil sei-kun dariku hiks.."
Author: Eh ada dede tetsuya.. hehe.. cup cup jangan nangis dong.. maafkan saya membuatmu menderita di cerita ini hiks..hikss tet-chan sini peluk nee-chan.."
Tetsuya dan sayapun berpelukan pemirsa.. (haha senangnya.. ya ampun..)
Tiba-tiba aura jadi dingin..
Akashi: "Ekkhmmm"
Author: "Tet-chan, koq saya tiba-tiba merinding ya.. err.. "
Tetsuya : "Sei-kun"
Tetsuya melepas pelukan saya. Dan lari menghampiri si iblis merah. (Tet-chan hidoii!)
Tetsuya : "Sei-kun.. kau masih hidup? Hiks.. sei-kun.. sei-kun" Tetsuya memeluk erat akashi.
Akashi : "Aku masih hidup tetsuya.. aku masih hidup di dalam hati dan fikiranmu.."
Tetsuya : "Sei-kun.."
Akashi : "Tetsuya.."
Tetsuya : "Sei-kun"
Akashi : "Tetsuya"
.
.
.
Author : "STOOPPPP! Kapan selesainya wooyyy.. udahlah sana lanjutin di kamar aja.. " (Eh?)
Akashi : "Dengan senang hati.." menggendong tetsuya ala pengantin.
Muka tetsuya merah. Dia tak bisa berkata apa-apa pemirsa...
Author: "Woy puasa woy..! ahh sudahlah.. Sampai jumpa minggu depan ya.. by by. . saya mau intip mereka dulu hihihihi"
(( INI APA COBA.. HADUHHH ))
.
.
Terimakasih buat semuanya yang udah mampir di cerita abal saya ini wkwk..
Terimakasih juga buat yang udah memberi suara dan coment juga..
Yang punya kritik, saran atau uneg-uneg dengan cerita saya ini, silahkan di coment aja hehe.. saya akan senang.. sangat senang malah..
Chap depan akan saya up sehabis lebaran.. saya mau mudik dulu soalnya.. hehe.. doakan supaya saya selamat sampai tujuan ya..
Akhir kata..
.
.
.
Salam "AkaKuro Forever Yeaahhhhh"
.
.
Sampai jumpa di Chapter 4 "Kekuatan dan Keabadian"
