Semua karakter milik bapak Masashi Kishimoto
DANDELION IN THE RAIN
Part 2
based on true story
.
.
.
.
.
"Sakuraaa!"
Seorang gadis berambut merah berlari kencang di lorong kelas membuat beberapa orang menyingkir agar tidak terjadi kecelakaan ringan.
"Ada apa?" Sakura yang hendak menuju kelasnya berbalik menatap Karin.
"Lihat!" Karin menunjukkan selembar kertas yang menunjukkan bahwa band mereka berhasil menjadi juara 1 dalam festival band kemarin.
"Huwaaa…." Sakura ikut melonjak girang sambil memeluk Karin. Naruto yang ada di dalam kelas langsung keluar melihat siapa yang membuat onar di pagi hari.
"Satu lagi piagam bisa kujadikan bahan untuk aplikasiku mendaftar di fakultas musik nanti." Ujar Karin bersemangat.
Naruto yang melihat piagam itu ikut melonjak bersama dengan kedua gadis itu. Sedangkan Sai dan Kiba hanya tersenyum di dalam kelas mereka masing-masing.
"Pulang sekolah nanti, kita harus mengadakan pesta." Ujar Naruto.
"Hn. Ku tunggu kalian semua di rumahku. Termasuk kau!" Sakura dan Naruto mengikuti arah telunjuk Karin.
"Oh, Teme! Ya, kau juga harus ikut! Ketika aku mabuk nanti, setidaknya ada orang yang akan mengantarku pulang." Naruto menepuk pundak Sasuke sedikit lebih keras.
"Siapa yang kau maksud akan mabuk itu, Naruto?" Suara lantang yang muncul dari belakang mereka terdengar seperti teredam kain. Dan tentu saja mereka semua membeku sejenak kecuali Sasuke.
"Oh gawat!" Karin langsung kabur ke kelasnya, begitupun dengan Sakura. Sasuke hanya tersenyum miring, mengejek betapa bodohnya Naruto.
"Kau ikut denganku ke kantor Naruto." Perintah Kakashi.
"Kakashi sensei." Naruto meringis tanpa bisa melarikan diri.
.
.
-o0o-
.
.
.
Bukan hanya personil Noise band yang ada di kediaman Karin. Melainkan setengah dari anggota klub musik. Cukup ramai untuk apartemen Karin yang luas. Kedua orang tuanya bekerja di Kirigakure dan hanya pulang sebulan sekali. Hal itu membuat mereka puas untuk menikmati pesta.
"Ini adalah pesta terakhir kemenangan kita karena sekarang kita akan fokus mengejar mimpi kita masing-masing. Maka dari itu, kami umumkan bahwa Noise band dibubarkan. Mungkin suatu saat, kita akan bermain bersama lagi, entah sepuluh tahun, atau dua puluh tahun lagi, atau saat kita sudah memiliki cucu sekalipun. Kita akan bertemu lagi di Konoha High School dengan cerita baru dan kenangan kita yang sekarang. Oleh karena itu, aku mengucapkan terima kasih kepada semua anggota Noise." Ada jeda saat Karin menatap satu persatu personilnya sebelum ia melanjutkan. "Naruto, Sai, Kiba dan Sakura. Berkat kalian, aku bisa melangkah sejauh ini, berkat kalian, aku memiliki mimpi yang akan kuraih sebentar lagi. Terima kasih banyak." Karin membungkuk sembari meneteskan air mata.
Sakura mengambil tisu untuk menghapus air matanya. Sai yang ada disamping Sakura, tersenyum dan mengusap-usap rambut merah mudanya.
"Sudahlah, jangan menangis terus, mari kita rayakan hari ini dengan kebahagiaan, untuk klub musik, untuk Noise, untuk para band junior dan untuk masa depan." Shikamaru mengangkat gelasnya yang berisi cola. Di ikuti oleh semua orang, kecuali Sasuke. Pria itu hanya duduk di sofa sembari menggenggam erat gelasnya.
"Yooooww…!" Semua orang bersulang.
Pesta dimulai dengan lagu-lagu ciptaan mereka, diiringi gitar akustik milik Karin dan beberapa anggota lainnya. Suasana sangat hidup hingga mereka larut dalam lagu-lagu mereka.
Sakura duduk bersimpuh di depan meja tamu, berhadapan dengan Sasuke yang bersandar di sofa. Karin berada di seberang Sakura sembari ikut menyenandungkan lagu One Ok Rock yang di nyanyikan Tenten.
"Hoi Sasuke, dari tadi kau hanya diam, tidakkah kau ingin mengucapkan selamat untukku?" Karin mendongak.
"Hn, selamat."
"Hanya itu?" Karin berbalik menghadapnya.
"Kalian, sejak kapan mulai berteman?" Sakura yang asyik bermain kartu dengan Sai, Kiba dan Choji berhenti sejenak untuk melihat Karin.
"Giliranmu." Kiba menyenggol Sakura.
Ia meletakkan kartu pocker supaya bisa mengeluarkan kartu love 4 dan keriting 4 bersamaan.
"Kami dulu bertetangga, sejak kecil kami selalu bermain bersama. Tapi saat aku kelas 5 SD, orang tuaku pindah ke Kirigakure. Rumah kami di jual, dan aku mengikuti mereka kesana. Saat aku masuk SMP, aku meminta mereka untuk membiarkanku tinggal di apartemen ini bersama nenekku. Tapi setahun yang lalu, kau tahu, nenekku meninggal dunia." Jawab Karin santai.
"Ah, benar. Aku merindukan nenekmu." Sakura lagi-lagi menghentikan permainannya untuk menatap Karin.
"Dia juga pasti merindukan mulutmu yang cerewet." Canda Karin.
"Jadi kalian teman masa kecil." Choji menyahut.
"Begitulah kira-kira." Karin menjawab.
Sasuke hanya diam, tampak bosan. Selalu.
Tiba-tiba terdengar suara gelas pecah dari balkon. Mereka sempat mematung sejenak mencari siapa pembuat onar.
"Ah, Naruto, dia mabuk lagi." Geram Shikamaru sambil memapah Naruto masuk ke ruangan. Saat itu pula Sasuke bangkit mengambil alih pria kuning itu.
"Sakura, kau mau ikut pulang atau…" Sasuke menatap Sai sejenak.
"Biar aku yang mengantar Sakura." Sahut Sai.
"Ah, sebaiknya aku ikut mereka pulang, Sai. Aku tidak mau merepotkanmu. Lagipula Sasuke kun terlihat keberatan membawa gitar Naruto juga tas sekolahnya."
"Baiklah," Sai tersenyum.
Sakura mewakili Sasuke dan Naruto untuk pamit ke semua teman-temannya yang sudah lebih dulu berada di pintu apartemen.
Sai dan Karin mengantar Sakura yang membawa gitar di punggungnya hingga pintu depan.
"Hati-hati dijalan," ujar Sai. Ia mengusap rambut Sakura sekali lagi.
"Kalian, berhati-hatilah." Karin melambaikan tangannya.
"Terima kasih Karin. Sampai jumpa." Sakura hendak mengimbangi langkah Sasuke, namun Sai menarik tangannya dan memeluknya di hadapan Sasuke, juga Karin. Mereka semua terkejut kecuali Naruto yang bergumam tak jelas. Sakura tidak bisa mendengar ocehan Naruto karena ia sendiri terkejut dengan perlakuan Sai yang tiba-tiba.
"Sampai jumpa di sekolah." Ucap Sai di telinganya.
Sakura yang salah tingkah hanya menjawab sekedarnya. Lalu melambaikan tangannya yang kaku sebelum menyusul Sasuke yang sudah lebih dulu sampai lift.
Karin hanya tersenyum senang.
.
.
-o0o-
.
.
.
Sepanjang perjalanan pulang, Sakura dan Sasuke hanya diam. Ada atmosfer aneh yang menyelimuti mereka. Hari ini, Sasuke sama sekali tidak terlihat ramah. Mungkin ada sesuatu yang terjadi, batin Sakura menebak.
"Hoi, Sakura. Sakuuuraaa…" Naruto bergumam. Ia melepaskan diri dari papahan Sasuke. Pria kuning itu mencoba berjalan sendiri, tapi badannya tidak kuat menahan dirinya sendiri hingga terjatuh ke samping – hampir menimpa Sakura kalau saja Sasuke tidak sigap menahannya.
"Diamlah Naruto!" Geram Sasuke kesal.
"Kau yang diam Teme, kenapa kau tidak bilang saja pada Sakura, eh?" Mata sayu Naruto menatap Sasuke.
"Bilang apa?" Sakura tampak bingung.
Naruto menoleh ke arah Sakura. Kemudian menatap Sasuke. "Lihat. Lihat wajah polos itu, Teme!"
"Apa?" Sakura menatap Sasuke. "Ada apa?" Ia mulai terusik.
"Kau harusnya putus dengan Sai dan lihatlah Teme. Dia lebih pantas untukmu Sa-ku-ra chan."
Gedebuuk!
Naruto terjatuh, lalu berdiri lagi dibantu Sakura. Sasuke hanya diam tanpa ada keinginan untuk membantu.
Sakura semakin tidak mengerti akan situasi yang terjadi. Ia meminta kejelasan di mata hitam sehitam malam itu. Namun laki-laki itu hanya berpaling.
"Besok aku akan mengatakannya pada Hinata. Hinata, ah Hinata~" Naruto mulai menyenandungkan nama gadis pemalu yang sekelas dengan Sakura.
Untuk sementara, Sakura hanya diam sampai ia dan Sasuke mengantarkan pria kuning itu tiba dirumahnya. Setelah pamit dengan bibi Kushina dan paman Minato, Sakura bergegas keluar dari kediaman Uzumaki menuju rumahnya sendiri yang letaknya persis disamping rumah Naruto.
"Sasuke kun…" Tangan Sakura tertahan di gagang gerbang rumahnya – mengurungkan niat untuk membukanya. "Sebenarnya, apa yang terjadi?" Kali ini matanya benar-benar memancarkan rasa keingintahuan yang tinggi. Ia harus mendapatkan jawaban.
"Ada apa dengan Sai?" Tanya nya lagi karena Sasuke tak kunjung menjawabnya. Laki-laki itu hanya diam dengan tangan kirinya yang masuk ke saku celana.
"Tidak ada apa-apa. Sebaiknya kau masuk Sakura. Sudah malam." Ucap Sasuke datar, seolah tak ada yang ingin ia ungkapkan.
"Kau dan Naruto sedang menyembunyikan sesuatu." Tebak Sakura.
Sasuke hanya diam.
Sakura mulai tidak sabar. Ia berbalik dengan matanya yang sudah berkaca-kaca.
Sejenak laki-laki itu mundur selangkah.
"Apa ini ada hubungannya dengan gadis berambut pirang itu?" Tatapan Sakura lurus menerobos mata kelam laki-laki itu.
Alis Sasuke sempat berkerut sedetik. "Kau tahu?"
"Hah, benar." Sakura mendengus, tersenyum, lalu membuka gerbang rumahnya.
"Sakura." Panggil laki-laki itu. Tangan Sakura sempat gemetar sejenak. Ia terkejut, betapa panggilan itu mempengaruhi jantungnya. Suara baritone itu terdengar lembut, tidak seperti sebelum-sebelumya. Membuat dadanya kembali menghangat, seolah ia baik-baik saja.
Tapi Sakura tidak berani menatap laki-laki itu. Ada rasa malu dalam dirinya yang tidak ingin orang lain tahu tentang kelemahannya.
"Aku tahu." Hanya itu yang bisa Sakura jawab.
"Sakura." Lagi-lagi nada yang sama, tapi jauh lebih lembut. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Mungkin karena debaran itu ia merasa frustasi. Frustasi dengan dirinya sendiri, frustasi dengan hatinya dan dengan otaknya yang bodoh. Betapa bodohnya ia menganggap Uchiha Sasuke sebagai orang yang bisa menenangkan hatinya disaat ia ingin berteriak karena rasa sakit.
Sakura menarik napasnya sebelum memberanikan diri menatap Sasuke.
"Ino, dia hanya mantan kekasihnya yang sudah lama meninggalkan Sai. Mungkin saat itu, saat itu kebetulan mereka bertemu." Sakura tersenyum.
Tidak, Sakura sangat tahu, Sai sering mengantar gadis itu pulang, dan hanya kebohongan yang ia dapat ketika ia menghubungi pria itu.
Sasuke menatapnya tajam.
"Aku baik-baik saja." Jawab Sakura untuk kilat mata laki-laki itu.
Belum sempat ia meyakinkan Sasuke, laki-laki itu sudah menariknya. Mendekapnya erat di dada bidangnya. Disana, disana, dipelukan itu, Sakura tak kuat menahan semua kebohongan yang ia coba yakinkan bahwa semua yang ia lihat adalah kesalahan. Disana, hatinya berontak, berontak dari kata 'baik-baik saja'. Disana, ia menangis, mengeluarkan semua ampas dari rasa sakit hatinya yang membuat dadanya sesak berhari-hari. Dan di sana, di pelukan laki-laki yang mampu mencairkan hatinya itu, ia merasa terlindungi.
Untuk beberapa saat, ia memohon, untuk beberapa saat saja ia ingin mengikuti egonya. Sakura membenamkan wajahnya seiring dekapan Sasuke yang semakin erat.
Biarkan seperti ini, kumohon biarkan seperti ini. Pintanya dalam hati.
.
.
-o0o-
.
.
.
Bulan Agustus yang hangat adalah bulan kebahagian bagi sebagian orang. Karena mereka memiliki masa libur yang panjang dan bebas berlibur di manapun atau pun memakai bikini model apapun.
Tapi tidak bagi siswa kelas akhir Konoha High School. Mereka di wajibkan untuk mengikuti kelas tambahan selama satu minggu. Tentu saja, kelas tiga adalah kelas dimana mereka harus belajar lebih keras dari biasanya, lebih berjuang dari biasanya, dan lebih menegangkan dari biasanya. Apakah kau ingin melanjutkan ke jenjang berikutnya atau memilih jalan lain. Disinilah masa depanmu dimulai.
Tapi bagi Sakura, masa depan itu fleksible. Rencana masa depan, belum tentu sesuai dengan rencana masa sekarang. Ia hanya ingin mengikuti arus. Biarkan waktu yang menentukan pilihannya.
Untuk saat ini, ia hanya ingin satu hal.
Bahwa kenangan yang ia rajut sekarang, akan selamanya menjadi kenangan paling indah dalam sejarah hidupnya. Masa SMA.
"Seperti itulah."
Sakura tersenyum bangga.
Sasuke hanya menatapnya datar. Sedetik kemudian mengalihkan pandangan. Melihat matahari dari sela-sela dedauanan pohon ek yang rindang sembari bersandar pada dinding belakang gudang olahraga.
"Bagaimana denganmu?"
"Aku akan berangkat ke Tokyo tepat di hari kelulusan."
"Tokyo?"
"Kakakku sudah mendaftarkanku di akademi kepolisian." Mata laki-laki itu masih tidak berpaling.
Sakura langsung paham siapa yang Sasuke sebut kakak. Sosok yang selama ini merawatnya dari kecil. Tentu saja Sasuke akan memilih tinggal bersama satu-satunya orang yang bisa disebut keluarga dibandingkan hidup sendirian di Konoha.
"Apa ada kemungkinan kau akan kembali lagi ke Konoha?"
"Entahlah."
"Hanya sekedar menyiram makam ibu dan ayahmu?" Sakura menatapnya lekat.
Sasuke akhirnya berpaling untuk menatap Sakura. Lagi-lagi kilat luka di matanya tampak jelas. Sakura tahu persis itu.
"Mungkin. Tapi tidak dalam waktu dekat." Laki-laki itu menunduk.
"Kau benar, untuk apa kita membiarkan diri sendiri kesepian? Merasa sendirian di dunia ini hanya akan menambah luka. Kita semua butuh kebahagiaan." Sakura mencoba tersenyum.
Laki-laki itu, entahlah, Sakura tidak ingin menatapnya lagi. Ada sebagian dari hatinya menginginkan Sasuke agar bahagia, tapi sebagaian dari hatinya juga ingin bersikap egois. Entahlah, ia sendiri tidak mengerti mengapa hati bisa seperti jalan raya, memiliki cabang, memiliki pertigaan maupun perempatan yang membawanya ke arah dan tujuan yang berbeda. Sakura membenci ketidakkompakan hatinya.
Tapi bagaimanapun, ia tidak berhak menyuarakan hati. Ia bukan seseorang yang berhak mengatur Sasuke. Bukankah masa depan itu jauh lebih penting? Akhirnya ia hanya bisa memejamkan mata, menahan semua emosi yang berontak.
Ya, cukup, hanya itu yang bisa mereka bahas sekarang. Tidak ada yang ingin mengeluarkan suara lagi. Karena mereka tengah tenggelam dalam pikiran masing-masing. Mungkin suatu saat, mereka akan merindukan masa dimana 'diam' adalah situasi yang paling nyaman diantara mereka.
.
.
-o0o-
.
.
.
Kembang api adalah salah satu puncak acara yang paling dinanti di musim panas.
Hampir semua siswa akan menghabiskan malam mereka untuk menikmatinya dalam festival musim panas, baik itu bersama sahabat, bersama kekasih, maupun bersama keluarga.
Sebelumnya Sakura mengunjungi pesta kembang api itu bersama Naruto, tapi karena pria kuning itu sudah memiliki kekasih, Hinata Hyuga, Sakura harus memahami dan akhirnya menerima ajakan Sai setelah gagal memaksa Sasuke untuk ikut pergi bersama dengannya.
Sakura mencoba melupakan apa yang terjadi antara Sai dan mantannya, tapi situasi aneh masih saja ia rasakan meskipun ia mencoba untuk ceria.
Seharusnya, mereka semua bahagia, seharusnya.
Tapi apa yang dirasakan sakura berbeda. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Ia merasa hampa. Kehampaan itu terasa lebih menyakitkan jika dibandingkan saat ia belum memiliki seseorang yang bertengger di hatinya.
Meskipun ada Sai disisinya. Ia bertanya-tanya, apa selama ini, ia membohongi diri sendiri? Apa selama ini ia hanya melakukan apa yang seharusnya seorang kekasih lakukan? Ia benar-benar bingung dengan dirinya sendiri.
"Katakan apa yang kau rasakan, Sakura." Sai berhenti melangkah setelah lima belas menit hanya berjalan tanpa arah dalam keramaian, ia membawa Sakura menepi untuk melihat sungai mengalir di bawah mereka.
Sejenak Sakura memberikan tatapan bertanya pada Sai. Meskipun otaknya tidak bodoh, tapi pura-pura bodoh terkadang bisa menyelamatkan diri sendiri.
Ada jeda panjang yang dirasakan Sakura sebelum pria itu melanjutkan pembicaraan.
"Saat pertama kali aku mendengarmu bernyanyi, kau membuatku kagum. Kau berhasil menarik perhatianku. Saat itu, kau tampak percaya diri, selalu tersenyum dan terlihat ceria. Hingga semua orang ingin mengenalmu lebih dekat. Termasuk aku. Sampai pada akhirnya, kuputuskan untuk menaruh hatiku." Sai menatap Sakura. Kilat kesedihan terlihat dimata hitamnya. Mengingatkannya dengan mata laki-laki itu. "Tapi sayangnya, keputusan itu - bukan hatiku yang memilihnya, melainkan egoku."
Sakura masih menatap Sai dengan tangannya yang menggenggam erat pagar jembatan. Angin yang berhembus membuat anak rambutnya keluar dari sanggulnya. Ia masih belum berkedip.
"Tidak seharusnya aku memaksa hati." Sai menarik pundak Sakura agar sepenuhnya menghadap padanya. "Dan tidak seharusnya kita berbohong." Ia mensejajarkan matanya dengan mata hijau Sakura.
"Aku tidak mengerti." Akhirnya Sakura bersuara.
"Maafkan aku Sakura." Ucap Sai menunduk penuh rasa bersalah.
Dan ekspresi itu. Ekspresi pria itu memperjelas keraguan dalam benak Sakura.
"Ah, ya," Sakura mengangguk paham. "Kau benar. Kau harus jujur dengan hatimu sendiri, Sai."
Sai menatap Sakura lagi. Muncul kerutan diantara alisnya. Ia tahu, Sai menahan napasnya beberapa saat. Yang harus ia lakukan hanyalah menyelesaikan semuanya. Dengan baik-baik.
"Kembalilah padanya, Sai."
Mata Sai melebar. Jemarinya terkulai ke samping saat terlepas dari pundak Sakura. Ia berdiri tegap.
"Aku sudah tahu semuanya. Dimana sebenarnya hatimu berada."
"Sakura…" Suara Sai terdengar seperti bisikan.
"Terima kasih." Sakura memberanikan diri menatap mata Sai.
"Sakura…"
"Untuk membuatku mengerti bagaimana cara merelakan." Sejenak Sakura terhenyak. Kalimat yang baru saja ia ucapakan membuatnya terkejut. Tentang merelakan. Merelakan. Sebenarnya apa yang seharusnya ia relakan? Hatinya tidak untuk seseorang yang berada dihadapannya sekarang. Lantas apa yang harus ia relakan?
"Sakura, maafkan aku."
"Tidak," Sakura tersenyum tulus. "Hei." Sakura mengangkat dagu Sai yang tertunduk. "Pergilah, cari dimana seharusnya hatimu ingin pergi. Karena aku juga akan melakukan hal yang sama."
Awalnya Sai hanya diam menatap Sakura beberapa saat. Tapi senyum itu meyakinkannya. "Terima kasih, Sakura."
Sai mengusap rambut Sakura dengan lembut, sama seperti yang ia lakukan sehari-sehari. "Kau juga harus pergi, kudengar dari Karin hari ini adalah hari dimana kedua orang tuanya meninggal dunia."
Senyum Sakura seketika pudar. Beberapa detik ia berusaha mencerna perkataan Sai sebelum ia berlari diantara kerumunan orang-orang. Meninggalkan Sai yang tersenyum tulus melihatnya pergi.
Sakura mengangkat Yukata hijaunya setinggi lutut. Sandal geta yang terbuat dari kayu membuatnya susah untuk berlari, yang akhirnya dilepasnya dalam perjalanan.
Beberapa langkah sebelum sampai di rumah laki-laki itu, Sakura melihat seseorang membawa payung dengan tas belanja transparan berisi susu dan roti tawar di tangannya. Laki-laki itu berhenti tepat di depan pintu gerbang rumahnya. Mematung sejenak sebelum menoleh, menatapnya. Tatapan datar seperti biasa.
Sakura baru menyadari bahwa dirinya sudah basah kuyup oleh hujan. Ia belum bisa melanjutkan langkah karena tidak tahu apa yang akan ia lakukan setelah ini. Yang ia tahu, ia hanya ingin melihat laki-laki ini. Yang ia tahu, ia harus segera menemuinya. Tapi ia tidak tahu mengapa.
Laki-laki itu berjalan kearahnya. Setiap langkahnya membuat jantung Sakura berdetak lebih kencang, lebih kencang, dan lebih kencang. Dadanya sudah kembang kempis entah karena ia berlari sepanjang jalan atau karena laki-laki itu yang semakin mendekat.
"Bodoh!"
Suara baritone itu terdengar samar diantara bunyi hujan yang semakin deras. Dan saat itu juga, ia tidak lagi merasakan terpaan hujan.
Mata yang menyerupai onyx itu tak terbaca.
Sakura tersenyum. Dengan suaranya yang gemetar, ia bergumam.
"Aku putus."
.
.
-o0o-
.
.
.
Suara hujan masih terdengar jelas dari dalam rumah Uchiha Sasuke. Laki-laki itu meminjamkan kaos berwarna navy yang kebesaran untuk Sakura dan celana olahraga panjang.
Sakura mengeringkan rambutnya di meja makan Sasuke sambil melihat laki-laki itu meletakkan semua masakannya di meja. Sakura tersenyum melihat beberapa menu favoritnya, seperti Dandelion, telur gulung dan sup tomat.
"Untung saja aku pergi lebih awal, kalau tidak, aku bisa terjebak hujan disana." Sakura menyumpit telur dadar gulung sebelum Sasuke mengambilkan nasi putih. Berlarian di malam hari membuat perutnya lapar.
"Seperti kau tidak kehujanan saja." Gumam Sasuke.
"Setidaknya ada tempat berteduh yang menyediakan makan malam gratis."
Sasuke mendecak. "Aku hanya kasihan melihat gadis yang kehujanan seperti anak kucing bodoh yang mengincar makananku."
"Hei, kau tidak boleh begitu, aku ini datang dengan niat yang baik." Sakura berdiri, untuk melihat foto kedua orang tua Sasuke sambil membungkuk memberi salam. Kemudian menepukkan tangannya sebanyak tiga kali, lalu memejamkan mata.
"Apa yang kau lakukan?" Suara baritone itu terdengar terkejut.
Setelah beberapa saat memanjatkan doa, Sakura berbalik.
"Aku hanya menyapa kedua orang tuamu. Berharap mereka tidak marah karena telah meminta makan malammu." Sakura kembali duduk di tempatnya semula.
Sasuke yang melihat adegan itu hanya diam. Nasi putih sudah di depan mereka masing-masing. Sakura mulai makan dengan tenang.
Hujan sepertinya tidak mau menyerah. Tetesan-tetesannya masih sederas saat Sakura datang. Mereka hanya duduk sembari memandang hujan melalui teras rumah Sasuke sembari meminum ocha yang dibuat laki-laki itu.
"Sasuke kun," Sakura menoleh ke kiri, wajahnya yang sejajar dengan lengan kokoh pria itu, memperhatikan baik-baik wajah Sasuke. "Apakah patah hati selega ini?" Sakura kembali menatap tetesan hujan. "Mereka bilang, patah hati itu seperti dunia akan berakhir, langit terasa runtuh. Tapi aku justru merasa lega. Sebenarnya apa yang salah denganku?"
Ia memeluk kakinya. Jemari kakinya bergerak-gerak.
"Jangan tertawa, ini pertama kalinya aku patah hati."
"Apa kau yakin kau sedang patah hati?"
"Hei, aku sedang patah hati!" Sakura merengut.
"Patah hati akan membuatmu gila dalam satu malam. Tapi sepertinya kau baik-baik saja."
"Benarkah?" Sakura berpikir sejenak. "Ok, bawakan aku sake."
"Aku tidak punya yang seperti itu."
"Bukankah kau sedang memperingati hari…" Sadar ia telah mengucapkan nada yang salah, Sakura langsung menyesal, "ah maaf."
"Aku tidak memperingati hari kematian dengan sake atau semacamnya."
"Ah, begitu." Sakura merasa selamat, Sasuke tidak marah.
"Apa kau baik-baik saja?" Sakura menatap Sasuke.
"Simpan pertanyaan itu untukmu sendiri."
Sakura menghadap penuh pada Sasuke. Hening beberapa saat sebelum Sakura mengerutkan dahi.
"Jadi, dimana kau mendapat pukulan?" Ia memandang wajahnya cukup lama, memeperhatikan setiap jengkal kulit di wajah laki-laki itu.
Sasuke terdiam sejenak. Laki-laki itu tampak terkejut sebelum berpaling.
"Sebenarnya apa yang membuatmu di pukuli?"
"Tidak ada." Jawabnya singkat.
Tangan Sakura menjangkau pipi Sasuke dengan lembut, takut-takut ia menyentuh daerah yang terluka. Ia menolehkan laki-laki itu untuk menatap padanya. Lalu menyibakkan rambut hitam yang terjuntai di sisi kiri pipinya. Sejak makan malam tadi, Sakura sudah menyadari ada memar di pipi dan ujung matanya meski samar.
"Ternyata ada juga orang yang di pukuli karena dia tidak melakukan apa-apa? Alasan konyol apa yang membuatmu menutup-nutupinya?" Suara Sakura terdengar datar, lebih datar dari suara baritone Sasuke.
Sakura sempat merasakan hembusan napas berat laki-laki itu. Seolah ada beban yang coba ia buang seiring napas yang keluar.
Sasuke kembali mengabaikan Sakura. Ia berdiri meninggalkan Sakura yang masih duduk dengan posisi yang sama. Sakura sempat memejamkan mata. Merasakan ada rasa sakit yang tiba-tiba muncul. Sebagian lagi merasa malu karena terlalu percaya diri bahwa laki-laki itu mau terbuka padanya.
"Kupikir aku cukup bisa kau percaya," gumamnya lirih. "Tapi aku salah."
Ia bergegas mengambil yukata yang sempat ia jemur di teras belakang rumah Sasuke. Langkahnya semakin cepat saat laki-laki itu menatapnya penuh tanda tanya.
"Aku pulang, aku akan mengembalikan bajumu secepatnya, terima kasih."
Suara pintu terbanting terdengar keras. Ia menerobos hujan yang kini membawa angin kencang. Belum sempat ia membuka pintu gerbang, tangan kanannya serasa di tarik hingga ia hampir terjungkal jika saja tidak ada laki-laki yang menahan kedua lengannya.
"Apa yang kau lakukan?" Sakura meronta.
"Seharusnya, aku yang bertanya, ada apa denganmu?" Suara Sasuke yang meninggi membuat Sakura terdiam. Tangan Sasuke masih mencengkeram erat lengan Sakura.
Hujan yang masih deras membuat mereka berdua basah kuyup. Tapi tidak ada satupun dari mereka yang ingin meneduh. Kedua mata mereka masih menatap satu sama lain dengan pancaran amarah yang terlihat jelas.
"Lepaskan aku!" Sakura menghempaskan tangan Sasuke dan mencoba membuka kunci gerbang.
Laki-laki itu kembali membuatnya berbalik menatapnya.
"Kau boleh pulang setelah hujan reda, itupun aku yang akan mengantarmu." Rahang Sasuke mengeras.
"Apa urusanmu?" Teriak Sakura.
"Aku peduli padamu!" Sasuke balas berteriak.
Sakura selangkah menjauh. "Peduli?" Alisnya bertaut. "Kupikir selama ini kita berteman, ku pikir selama ini kau mulai membuka dirimu, tapi kau sama sekali tidak membiarkanku peduli padamu! Tentang kedua orang tuamu, aku berlari kesini untuk memastikan apa kau baik-baik saja di hari kematian mereka. Tentang apa yang terjadi pada memar di wajahmu, setidaknya aku ingin kau tidak merasa sendiri dengan menyimpan penderitaanmu sendirian. Tentang semua yang ada padamu Sasuke dan kau bilang kau peduli padaku?"
Sakura mengambil napas untuk menenangkan dirinya.
"Kau membuatku merasa egois dengan apa yang kau katakan tadi." Kini suara Sakura terdengar lirih, tertutupi oleh suara hujan.
"Maaf." Sasuke menatap lurus mata Sakura sebelum memeluknya. "Tidak semua penderitaan ingin dibagi dengan orang lain, Sakura. Terkadang, pura-pura tidak peduli akan membuat orang lain merasa lebih baik."
Sakura memejamkan matanya di dada Sasuke yang basah karena hujan.
"Apakah itu membuatmu lebih baik jika aku tidak tampak peduli padamu?" Sakura mendongak. Mencari kejujuran di mata laki-laki itu.
"Hn." Sasuke membalas tatapannya.
Cukup lama sampai hujan berubah menjadi gerimis.
Akhirnya Sakura melepas pelukan laki-laki itu dan mengangguk paham. Tidak seharusnya ia terlalu ikut campur. Laki-laki itu hanya butuh seseorang yang bisa memahaminya tanpa melibatkan diri terlalu jauh. Ia tahu batasannya. Ia mengerti posisinya dimata Sasuke. Meskipun jantungnya berdetak kencang mendengar bisikan laki-laki itu, ia harus tahu diri. Ia tidak boleh kecewa.
"Maafkan aku." Gumam Sakura.
"Sepertinya ada baju lagi yang harus kupinjamkan." Sasuke menatap baju olahraganya.
Sakura mendengus, "Dasar, tuan perhitungan!"
.
.
-o0o-
.
.
.
Musim panas berganti menjadi musim gugur. Di sepanjang pergantian musim itu, kabar tentang putusnya Sakura dan Sai menjadi topik hangat yang diperbincangkan murid-murid Konoha High School. Selalu ada pro kontra, tak lupa pula bumbu pemanis yang membuat gossip itu semakin panas. Untungnya tidak ada satupun dari mereka yang terganggu dengan kabar tersebut. Sai dan Ino kembali menjalin hubungan, Sakura dan Sai kini menjadi teman baik, begitupun Sakura dengan Ino.
Sedangkan kedekatan Sakura dengan Sasuke menjadi objek baru yang diperhatikan murid-murid lainnya, bahkan diantara mereka memasang taruhan untuk hubungan mereka berdua. Tak sedikit dari murid perempuan yang mencoba mendekati Sasuke, begitupun murid laki-laki yang gencar-gencarnya memberi perhatian kepada Sakura.
Tapi kedua manusia itu hanya bergeming, tujuan mereka kini hanya satu, lulus di semua ujian, baik itu ujian kelulusan maupun ujian masuk universitas. Tak jarang Sakura dan Sasuke mengadakan belajar kelompok bersama. Terkadang Karin pun juga ikut serta ke dalam kelompok kecil mereka baik dalam belajar maupun makan siang.
Sayangnya musim gugur yang selalu disertai dengan hujan deras membuat Sasuke sulit mendapatkan Dandelion.
"Karena benih Dandelion akan ikut menghilang diterpa hujan, itulah mengapa Dandelion jarang terlihat di musim gugur ini." Jelas Sasuke yang membuat Sakura mengangguk paham.
Sedangkan di musim dingin, Dandelion mulai tumbuh lagi, tapi tidak sebanyak musim semi dan musim panas. Disana Sakura menantikan mereka tumbuh. Namun ia sadar, pada musim semi berikutnya, Sasuke akan pergi jauh. Ia tahu itu, lalu apa yang akan kau lakukan Sakura? Entahlah.
.
.
-o0o-
.
.
.
Bunyi lonceng bergemerincing di setiap pintu cafe, lagu-lagu natal terdengar di sepanjang pusat perbelanjaan Konoha. Ramai, begitu yang terlintas di kepala Sakura. Tapi kenapa ia merasa sepi? Ia mengadah pada langit yang gelap dan padat seolah mereka hendak bersiap untuk menjatuhkan semua beban yang mereka miliki, salju.
Udara cukup dingin, ia memasukkan tangan di saku mantel, berharap ia mendapat kenyamanan dari rasa hangat. Seharusnya ia tidak keluar rumah, menikmati bersama ayah dan ibunya seperti tahun-tahun sebelumnya.
"Jangan cemberut begitu, kau akan berterima kasih padaku setelah ini." Naruto menggosok-gosokkan tangannya.
"Kau pikir aku bahagia menjadi orang ketiga dalam acara kencan kalian?" Sakura menggerutu sambil menendang kerikil di bawah pohon natal di tengah taman.
"Siapa yang bil…" Naruto belum sempat menyelesaikan ia mendengar suara lembut yang berjalan mendekat.
"Naruto kun, Sakura chan… Maaf membuat kalian menunggu." Hinata berlari menuju tempat mereka berdiri.
"Hinata, jangan berlarian seperti itu." Naruto memegang lengan Hinata.
Sakura yang melihat adegan kecil itu hanya tersenyum. "Baiklah, mau kemana kita?"
"Sebentar." Naruto menghentikan langkah Sakura.
"Apa?"
"Tunggu sebentar, lima menit lagi."
"Sebenarnya apa yang kau lakukan?" Sakura memberenggut. "Aku hampir membeku disini."
"Wah… Salju!" Hinata memandang keatas yang secara otomatis membuat kedua orang di hadapannya ikut melihat langit.
Sakura tersenyum, akhirnya langit tidak lagi sanggup menahan bebannya. Saat pandangan Sakura jatuh, ia melihat seseorang berdiri tepat di hadapannya. Memandangnya dalam tatapan tenang.
"Sasuke kun?" Sakura berbisik.
"Hoi Teme, akhirnya kau muncul juga. Aku sudah lelah menahan Sakura yang menggerutu karena kedinginan. Sekarang bawa dia dan aku akan menikmati kencanku." Naruto menepuk pundak Sasuke sesaat sebelum menyeret Hinata pergi.
"Oh, ya, Sakura yang akan mengantarmu ke stasiun. Jadi hati-hati dijalan." Tambah Naruto.
Sasuke hanya diam dan masih memandang Sakura. Sedangkan Sakura mengerutkan alis pada Naruto.
"Sasuke kun? Bukankah kau akan pergi ke Tokyo?"
"Hn. Keretaku masih dua jam lagi."
"Ah, begitu." Sakura membenamkan hidungnya ke dalam syal tebal yang ia lilitkan di leher. Entah kenapa, rasa senang yang muncul membuatnya merasa canggung sekarang.
"Mau jalan-jalan denganku dulu sebelum aku pergi?"
Sakura kembali menatap mata kelam itu. "Hm." Gumamnya mengangguk.
.
.
-o0o-
.
.
.
"Jadi, kau baru akan kembali ke sekolah saat hari kelulusan?" Sakura menghentikan langkahnya tepat di depan Stasiun Konoha.
Sasuke mengangguk. Ia juga ikut menghentikan langkahnya. "Sakura, sebenarnya aku sudah pindah ke Tokyo. Disini aku hanya membereskan beberapa hal yang kuperlukan untuk kepindahanku."
"Ah, benar, kita hanya tinggal ujian masuk universitas. Dan kau tidak perlu mengikuti ujian karena kau sudah masuk di akademi kepolisian. Hah, kenapa waktu begitu cepat berlalu." Sakura tersenyum, kemudian menunduk. Memainkan gelang pita yang diberikan Sasuke beberapa saat lalu sebagai hadiah natal.
"Ya, aku juga akan bersungguh-sungguh dan menjadi orang sukses. Suatu saat, ketika kita bertemu di masa depan, aku tidak akan malu bertemu dengan orang sukses sepertimu." Sakura memberanikan diri mendongak dan menatap Sasuke lurus-lurus.
Tapi wajah itu, wajah datar yang selalu berani membalas tatapannya itu membuatnya goyah. Hatinya bergetar entah karena apa. Yang jelas, sekujur tubuhnya terasa ngilu, jemarinya yang kaku karena dingin terasa berdenyut. Dan air mata yang berusaha ia bendung, keluar tanpa sanggup ia tahan lagi.
Kalah dengan tatapan Sasuke, ia menunduk, merutuki air mata yang semakin menetes deras. Ia mencoba mencubit diri sendiri untuk membuatnya sadar dan kembali menjadi gadis ceria. Tapi ia tak sanggup.
Sampai ia berada dalam dekapan yang menghangatkan tubuhnya. Menguatkan syaraf yang membuat tubuhnya bergetar. Ia tahu, ia mengenal pelukan ini karena hanya Sasuke yang bisa membuat perasaannya hangat hanya dari pelukan laki-laki itu.
Dan satu kalimat yang menghentikan semua rasa sakit yang di deritanya sekarang terdengar begitu jelas di telinganya.
"Sakura, aku mencintaimu."
.
.
-Tbc-
.
.
.
.
.
Thanks for give your feedback :)
Salam kenal
-Dean-
