Length : twoshot

Cast : EXO Member

Genre : Romance. Hurt/Comfort.

Warning : Typo(s). BoyXBoy , OoC, AU, Mpreg?

Author: Shinkyu

Baca Chapter sebelumnya agar mengerti jalan ceritanya.

.

.

.

Kyungsoo berdebar melihat pistol ditangan Jongin. Apakah Jongin akan membunuh Chanyeol?

"Apa yang kau lakukan?" lirihnya menahan lengan kekasihnya yang hendak turun dari kasur.

"Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja. Setelah ini, kau akan ikut aku ke Amerika dan kita tak akan terpisah lagi. Aku berjanji." Jongin mengusap pipi Kyungsoo lembut, sorot matanya berpendar hangat menenangkan si mungil yang ketakutan melihat benda berbahaya di genggamannya.

"Tapi berjanjilah jangan menyakitinya." mata doe yang bulat mulai mengeluarkan air mata. Bagaimanapun Chanyeol calon suami Kyungsoo yang menyayanginya tanpa lelah selama bertahun-tahun ini. Chanyeol adalah lelaki yang baik walau pemaksa dan terkadang kasar.

Niat tulus Kyungsoo melindungi Chanyeol tak bisa Jongin mengerti, lelaki tan itu berfikir Kyungsoo memiliki rasa cinta pada Chanyeol, sehingga tak mau Chanyeol terluka. Emosi mulai terpancing membara dalam dada, Jongin mengertakan giginya dan langsung bangkit setelah memakai boxer asal menghampiri Chanyeol di luar bagaikan singa yang siap menerkam buruannya.

"Jongin! Tidak!" Kyungsoo berusaha kembali menahan lengan Jongin namun tak sempat lelaki itu bergerak begitu cepat.

"Jongin dengarkan aku dulu!" dengan panik Kyungsoo tergopoh menyusulnya sedikit kesulitan karena tubuh mungilnya terlilit selimut. Akibat kebiasaan tidurnya yang berantakan.

Jongin menatap datar layar interkom dimana terdapat Chanyeol yang tak henti menendang pintu. Wajah sepupunya itu sungguh berantakan, matanya bengkak dan memerah. Seperti menangis semalam suntuk. Seringai senang tak bisa Jongin tahan. Akhirnya Chanyeol merasakan bagaimana hancurnya menjadi dia dulu. Ketika orang yang kau cintai dicuri sepupumu sendiri.

Ketika Jongin membuka pintu, belum sempat dia bersuara Chanyeol langsung memberikan bogeman mentah dirahang hingga Jongin tersungkur ke lantai. Bukannya kesakitan Jongin justru tertawa terbahak-bahak. Mengabaikan bibirnya yang sedikit sobek.

"Katakan dimana Kyungsoo?!" Chanyeol berteriak menginjak perut Jongin. Berganti menendangi saat Jongin tak henti menyemburkan tawa geli, kemarahan Chanyeol mungkin tampak lucu dimatanya, rasanya Chanyeol ingin menghabisi Jongin saat ini juga. "Berhenti tertawa berengsek!"

Begitu mendengar samar langkah kaki terburu-buru. Tawa Jongin berubah menjadi teriakan.

"Chanyeol?! Tega-teganya kau!"

Kyungsoo datang memakai kemeja kebesaran, memergoki Chanyeol menginjaki perut lelaki yang ia cintai. Seharusnya sebelumnya Kyungsoo tak perlu mengkhawatirkan Chanyeol. Lelaki itu sama seperti dulu, kasar.

Wajah Kyungsoo memerah menahan kesal. Dia tak terima Jonginnya yang berharga diperlakukan begitu buruk walau oleh calon suaminya sendiri.

"Apa-apaan ini Kyungsoo?" lirih Chanyeol begitu Kyungsoo membantu Jongin berdiri, membersihkan tubuh topless Jongin dari bekas sepatu Chanyeol.

Sakit saja tak bisa mendeskripsikan perasaan Chanyeol, begitu menyadari penampilan Kyungsoo saat ini. Sungguh berantakan, memakai kemeja ukuran besar yang jelas bukan miliknya, tanpa celana. Ia baru menyadari penampilan Jongin pun hampir sama, hanya saja Jongin tak memakai atasan hanya boxer pendek.

Dalam sekali pandang pun Chanyeol bisa memahami bahwa mereka telah menghabiskan malam bersama. Amarah yang tadinya membara hilang berganti dengan nyeri tak terkira. Chanyeol bisa gila menahan rasa ini. Dia mencintai Kyungsoo sepenuh jiwa, tak pernah nenyentuhnya. Kyungsoo pun selalu menolak setuhannya. kini malam pertama Kyungsoo justru dihabiskan oleh Jongin saingannya.

Chanyeol sudah berangan-angan bahwa nanti setelah menikah malam pertama akan begitu indah karena mereka yang sama-sama belum pernah melakukannya. Kini Kyungsoo tak perjaka lagi, dan malah Jongin yang mengambilnya... Mengapa harus Jongin mengapa?

Chanyeol menangis tersedu-sedu, waktu tak bisa kembali. Kyungsoo-nya tak bisa kembali. Dia jatuh berlutut dihadapan Jongin dan Kyungsoo menangisi nasib hidupnya yang terasa begitu mengenaskan. Chanyeol hanya mencintai Kyungsoo seumur hidupnya, hanya Kyungsoo.

Sementara itu Jongin menyeringai menyaksikan betapa hancurnya Chanyeol didepan matanya. Kini dendamnya terbalaskan. Dia melirik Kyungsoo disampingnya, lelaki mungil berkulit putih pucat itu ikut menangis tanpa suara.

"Maafkan aku, aku mengkhianatimu." Kyungsoo melepaskan lengannya dari Jongin beringsut mengapai Chanyeol yang berlutut dilantai. "Chanyeol aku—" sebelum dapat menyentuh calon suaminya. Jongin langsung menarik Kyungsoo kembali ke sisinya tak membiarkan Kyungsoo berdekatan dengan Chanyeol lagi. Kyungsoo langsung menundukan kepala, tak berani menatap Jongin, dia memainkan jemarinya gelisah. Ada beberapa kata yang ingin ia sampaikan pada Chanyeol namun akan sulit jika ada Jongin disini.

Chanyeol bangkit berdiri tak bisa berkata-kata lagi. Dia menatap Kyungsoo lama, Kyungsoo pun balas melihatnya tepat dimata. Mereka berpandangan sebelum Jongin mengecup bibir Kyungsoo tiba-tiba. Menyampaikan secara sombong tanpa kata bahwa Kyungsoo kini miliknya. Menyindir Chanyeol untuk segera menyerah.

Pemandangan tersebut tak pelak membuat Chanyeol kembali tersulut. "Apa kau tak punya malu Jongin? Kami akan menikah seminggu lagi."

"Aku tahu, maka dari itu aku menggambilnya, sebelum menyesal seumur hidup." jawab Jongin enteng.

Chanyeol meludah. "Dasar sinting" dia mengumpat lantas perhatiannya memilih tercurah pada tunagannya. "Kyungsoo.."

Kyungsoo mengangkat wajahnya yang sendu karena rasa bersalah.

"Bagaimana kau bisa sejahat ini? Dasar egois!"

Kyungsoo tersentak akan umpatan Chanyeol. Retinanya mulai memerah menahan air mata.

"Jangan berteriak padanya." desis Jongin penuh ancaman. Dia mulai mengeluarkan pistol yang sedari tadi ia sembunyikan dibalik punggung.

"Kau tahu itu merupakan tindakan kriminal Jongin?" Chanyeol mundur satu langkah. Merasa terancam. Sial dia tak membawa senjata apapun.

"Memangnya aku peduli?" balas Jongin acuh. "Tutup mulutmu dan pergi dari sini. Sebelum peluru milikku menghentikan jantungmu."

"Memangnya aku peduli." Chanyeol membalikan ucapannya. Untuk apa dia hidup jika Kyungsoo tak ada disisinya.

Diantara mereka Kyungsoo bergetar ketakutan, kedua orang yang sama-sama memiliki peranan penting dihidupnya ini sudah kehilangan akal sehat.

"Aku tak main-main" Jongin bersiap menarik pelatuk. Sebelum jemari halus nan kecil menghentikannya. Kyungsoo dengan mata besarnya yang basah memandang Jongin penuh harap.

"Jangan... Aku tak mau kau menjadi orang jahat."

Kemudian lengan jongin jatuh menyerah kesamping tubuhnya tak mampu membatah.

"Aku akan pergi," ungkap Chanyeol pada akhirnya. "Tapi sebelum itu biarkan aku bicara berdua dengan Kyungsoo."

"Tidak." Jongin kembali mencondongkan pistolnya.

Chanyeol mendengus.

"Kyungsoo-ya, kita akan menikah" Chanyeol berucap selembut mungkin, mencoba merayu Kyungsoo. Mengabaikan Jongin yang menatapnya tajam.

Jongin segera mendekap pundak Kyungsoo. Dia takut Kyungsoo terbujuk untuk kembali pada Chanyeol.

"Apakah kau tidak pernah berpikir bagaimana jika nanti kedua orangtua kita tahu, perselingkuhanmu ini?"

Jongin dapat merasakan Kyungsoo menegang dalam dekapannya. Pelukannya pada Kyungsoo semakin erat.

"Ketika dua orang memutuskan untuk menikah, berarti bukan hanya kita yang akan terikat, keluarga, hubungan sosial pun makit mengerat. Kau akan memberikan rasa malu pada keluargamu, kakak lelakimu, terutama pada orangtuamu. Jika kau membatalkan pernikahan kita sekarang. Ayahmu memiliki riwayat sakit jantung, bagaimana menurutmu? Apakah beliau akan baik-baik saja mendengar putra bungsunya berselingkuh dan melarikan diri bersama sepupu calon suaminya sendiri?"

Bahu Kyungsoo melemas, lelaki mungil itu menutup wajahnya dengan telapak tangan. Tak bisa mengelak.

"Kau mengancamnya?" Jongin berdesis mematikan.

Chanyeol tersenyum mengejeknya. "Aku memberinya saran. Keputusan ada ditangannya."

"Kyungsoo ingat undangan sudah disebar, ratusan orang akan datang. Kau akan mempermalukan orangtuamu seumur hidup atau kau bisa ikut aku. Kyungsoo aku berjanji akan membahagiakanmu. Aku bersumpah dengan seluruh nafasku." Chanyeol tetap bersikeras.

Kyungsoo menangis tersedu-sedu. dia tertekan akan perkataan Chanyeol. Sementara itu Jongin terus menepuk bahunya yang bergetar mencoba menenangkannya.

Jongin mendekap tubuh Kyungsoo dan mulai bersuara. "Kita akan menjalaninya bersama. Aku pun berjanji kita akan melewati semuanya. Jika nanti kau akan bersedih, ingatlah bahwa itu bukan akhir dunia dan walaupun nanti kau akan mengecewakan orangtuamu. Ingatlah aku akan selalu menyayangimu." Jongin mencium kening Kyungsoo lembut lalu mengusap alis Kyungsoo yang berkerut. "Tenanglah"

Chanyeol mengepalkan tangan menyaksikan tindakan Jongin pada Kyungsoo membuatnya muak.

"Jadi Kyungsoo, janji siapa yang akan kau percayai?" Chanyeol memandang Kyungsoo lekat. Menyeringai sebelum melanjutkan.

"Aku yang menjanjikan kebahagiaanmu dan orangtuamu atau dia..." Chanyeol menunjuk Jongin yang menatapnya tajam. "...yang berjanji akan melewati semuanya dengan baik-baik saja" tambahnya dengan nada meledek.

Pandangan Kyungsoo kosong, angannya seakan terbang entah kemana.

"Kyungsoo, sayangku" Jongin mengelus kepalanya, menyadarkan Kyungsoo akan kebimbangan yang mungkin ia alami.

Chanyeol berdecih. "Kau tahu Kyungsoo, kata baik-baik saja yang diucapkan semua orang adalah omong kosong." dia menyunggingkan seringai.

"Sialan kau!" Jongin menghajar rahang Chanyeol hingga dia mundur selangkah dan terbatuk darah. "Seharusnya dari awal aku sudah membunuhmu!" teriak Jongin murka.

Kyungsoo menahan lengan Jongin. "Tanganmu akan sakit" katanya dengan berurai air mata.

"Do Kyungsoo aku menunggumu sampai besok. Pulanglah, kembali padaku kemudian orangtuamu tak akan menanggung malu akan tindakan putranya yang menjijikan." Chanyeol terbatuk, memuntahkan darahnya lalu membalikan badan meninggalkan Kyungsoo yang terpukul dalam pelukan Jongin.

Selepas kepergian Chanyeol. Kyungsoo terus memeluk Jongin, tak membiarkan Jongin pergi sedikit pun dari jangkauannya.

"Lihat aku Kyungsoo" Kata Jongin begitu mereka duduk diruang tamu dengan tubuh yang masih berpelukan. "Apa yang kau pikirkan? Aku tak akan pergi kemana-mana."

Kyungsoo menggeleng diantara ceruk leher Jongin yang wangi maskulin. "Biarkan seperti ini. Aku takut."

Jongin tersenyum, mengecup pelipis lelaki mungil yang terus menempelinya. "Seharusnya aku yang ketakutan sekarang. Bagaimana jika kau malah memilih bersama Chanyeol lagi? Dan aku akan sendiri lagi? Membayangkankannya saja sangat mengerikan. Apa yang harusku lakukan?"

Kyungsoo mengangkat wajahnya. Mata bulatnya yang besar membengkak, hidung mungil dan pipinya memerah karena terlalu banyak menguras air mata.

"Kau hanya perlu berhenti membayangkannya."

Jongin terkekeh mendengar saran lugu Kyungsoo. Dia mengecup hidung pujaannya itu gemas. "Kau benar."

Kyungsoo menutup wajahnya, ia tersipu malu akan tindakan Jongin barusan. "Sebaiknya aku membuat sarapan." katanya berupaya melarikan diri dari tatapan Jongin.

Sebelum Kyungsoo beranjak Jongin terlebih dahulu menarik si mungil jatuh ke pangkuannya.

"Jangan khawatir, kita akan mencari jalan keluarnya bersama. Kau hanya perlu percaya padaku." Jongin berkata sambil terus menatap matanya. Menyelipkan rambut hitam Kyungsoo yang menutupi wajah ke belakang telinga.

Kyungsoo tak menjawab, dia hanya tersenyum dan beranjak menuju dapur.

Jongin mengikuti dan memilih duduk dimeja makan memperhatikan Kyungsoo yang berjalan mondar-mandir memasak sesuatu di dapurnya dengan mamakai kemejanya dan celemek berwarna biru. Andaikan pemandangan ini bisa Jongin lihat selamanya ia akan sangat bahagia.

Kyungsoo meletakan kimchi spageti dimeja makan. Jongin tersenyum begitu mencium aroma masakan yang enak. Lengannya terurur ingin segera mencoba masakan mengiurkan itu— jika saja Kyungsoo tidak langsung menepisnya.

"Cuci muka, cuci tangan dan sikat gigi dulu" perintah Kyungsoo, alis tebalnya bertaut sebal.

Jongin terkekeh akan mimik menggemaskan kekasihnya. "Baiklah."

.

.

.

Setelah makan mereka memutuskan untuk kembali ketempat tidur bergelung bersama dibalik selimut.

"Apa rencanamu hari ini?" Jongin Mengusap pipi Kyungsoo.

"Tidak ada, aku ingin seperti ini terus bersama mu" Kyungsoo mendekatkan tubuhnya makin masuk ke dalam dekapan hangat Jongin.

"Baiklah." Jongin mencium keningnya gemas dan tersenyum lebar, dia begitu bahagia. Bersama Kyungsoo hidupnya terasa lebih lengkap. "Kyungsoo aku akan melindungimu dengan seluruh nafasku dari apapun didunia ini. Kita akan menjalaninya bersama." bisik Jongin ditengah keheningan. Jongin akan mempertaruhkan nyawanya dan apapun juga demi Kyungsoo. Jongin tidak ingin merasakan kesendirian lagi. Jongin tidak akan kalah lagi.

Jemari mungil Kyungsoo meremat selimut. Dapat Jongin rasakan kegelisahan Kyungsoo saat ini, maka lelaki yang lebih tinggi mengusapkan tangannya di punggung si mungil serta memberikan kecupan kecil di alis Kyungsoo. Mereka bersama sekali lagi menghabiskan siang dan malam saling berbagi kehangatan terhanyut dalam rasa nyaman, mencoba melupakan masalah yang akan segera datang.

Andaikan bisa Kyungsoo ingin terus seperti ini, bersembunyi dari dunia dan realita yang kejam di balik selimut bersama dengan Jongin di sampingnya.

Tetesan air mata lolos dari kelopak mata Kyungsoo yang terpejam.

.

.

.

Keesokan harinya, sinar matahari memancarkan cahayanya dengan terik, bagaikan menusuk mata Jongin, dia menguap kemudian mengusap wajahnya berusaha mengumpukkan konsentrasi. Masih setengah mengantuk. Lengannya terulur ke samping ingin mendekap tubuh mungil Kyungsoo namun tangannya tak bisa menjangkau apapun. Dia segera membuka mata dan terbelalak melihat sisi tempat tidurnya yang kosong melompong.

Jantungnya mulai berdetak tak nyaman, Jongin menyentuh sprei disampingnya dan merasakan dingin. Tak ada lagi bekas yang tersisa dari Kyungsoo. Lelaki itu telah meninggalkan kasur dari waktu yang lama.

Napasnya bagai terengut paksa. Kepanikan mulai mejalari nadi. Jongin segera berlari keluar kamar menuju dapur beharap Kyungsoo berada disana sedang memasakan sarapan untuk mereka.

"KYUNGSOO?!" pekik Jongin kesekeliling apartemennya yang sunyi. Kedua mata elangnya menyapu semua ruangan yang ia lewati dan tak menemukan keberadaan Kyungsoo. Dia melangkah takut menuju dapur lagi-lagi kekosongan yang menyambutnya.

Sengatan sakit menyerang matanya yang memerah menahan tangis dan amarah. "Tidak, jangan pergi jangan tinggalkan aku" gumam Jongin putus asa, meremat surai berantakannya. Dia hendak kembali kekamar untuk berganti pakaian dan mencari Kyungsoo diluar jika saja tak melihat nasi goreng yang dibetuk mirip beruang dengan selimut telur dadar dan selembar kertas berisi tulisan Kyungsoo tergeletak dimeja makan.

Dengan tubuh bergetar, Jongin medudukan diri di kursi menatap nanar sarapan itu. Dia mengambil kertas dimeja dan membacanya perlahan. Tinta dikertas tampak buram mungkin Kyungsoo menulisnya sambil menangis.

Untuk Jongin.

Hei, terimakasih telah menjadi pacarku selama dua hari. Mewujudkan impianku untuk bisa memelukmu, menghabiskan waktu bersamamu, membuat cinta ku makin tumbuh namun Jongin rasa cinta itu tidak lah cukup.

Andaikan bisa aku ingin percaya padamu, mengikuti kata hatiku dan meninggalkan semuanya.

Jika aku pergi kelak. Orang tua ku yang membesarkan, mendidik juga menyayangiku selama sisa hidupku akan menanggung malu, mereka akan hancur.

Tak apa jika aku yang tersakiti, aku rela namun jika orangtua dan keluargaku yang menanggungnya aku tak bisa hidup bahagia. Seumur hidup aku akan teringat tangis dan kesedihan mereka.

Bukan aku tak peduli padamu, bukan aku tak peduli pada perasaanku juga. Aku harap kau mengerti bahwa sepertinya kita memang tak bisa saling memiliki.

Chanyeol benar... Jongin kebahagiaan mereka adalah dengan aku menikah dengannya sedangkan kebahagiaanku adalah berada di sisimu. Yang takkan bisa wujudkan..

Selepas menulis surat ini, mungkin aku tak akan bisa tersenyum lagi. Tidak apa-apa asalkan orang disekitarku baik-baik saja. Berjalan dengan sebagaimana mestinya. Aku tak seberani kau yang mampu mengambil risiko.

Aku masihlah sama seperti dulu. Kyungsoo si pengecut yang tak berani menyatakan perasaannya padamu. Kini aku tetaplah Kyungsoo pengecut yang tak berani memperjuangkan cintanya.

Karenaku kau yang paling menanggung beban, kau pun terkena imbasnya. Maafkan aku.

Tiap torehan kata di kertas ini aku berharap. Jika bisa dilahirkan lagi... Semoga kita tak bertemu dan mengulang kisah cinta menyakitkan ini.

Semoga kau bisa bahagia dengan orang lain. Semoga kau lebih bahagia dari aku.

Dari aku yang akan selalu mencintaimu,

Kyungsoo.

Tangan Jongin terjatuh, membiarkan kertas itu bergulir menuruni meja. Tergeletak dilantai dengan keheningan.

Dulu saat mendengar kabar jika Kyungsoo dan Chanyeol berpacaran Jongin tak sehancur ini, dia masihlah kecil yang tak terlalu paham akan cinta. Di masa lalu Jongin memang menyadari kalau dia menyukai Kyungsoo tetapi Jongin berfikir dia pun bisa mencari orang lain selain Kyungsoo.

Kini Jongin bahkan tak bisa lagi berdiri tegak dan menerima kenyataan bahwa yang bisa membahagiakannya dalam sekejap dan menjatuhkannya ke jurang kesakitan hanya Kyungsoo seorang.

Mungkin puluhan yang sudah Jongin pacari namun mereka tak bisa memberikan efek seperti ini. Rasa nyeri itu terus mencengkram dadanya. Ingin sekali Jongin berlari menyusul Kyungsoo dan mengambil lelaki itu dari Chanyeol namun apa daya Kyungsoo telah memilih.

Pikiran gila melintas begitu saja, andaikan waktu dapat terulang kembali. Jongin ingin membunuh Kyungsoo sehingga dia tak bisa pergi dan menjadi milik orang lain.

Jongin menepis sarapan nasi goreng bentuk beruang itu hingga piringnya jatuh, pecah dan membuat berantakan. Jongin sama sekali tak peduli, Jongin tak ingin makan, Jongin tak ingin apapun juga. Jongin hanya ingin Kyungsoo seorang.

"Kenapa Kyungsoo-ya" desis Jongin membiarkan setetes air mata menuruni pipinya. "Padahal aku sudah berjanji akan mengatasinya bersamamu, kenapa kau tak percaya padaku"

Jongin belum rela akan kenyataan dia telah kalah oleh Chanyeol. Pada akhirnya Kyungsoo tetap memilih Chanyeol. Dia seharusnya menyerah namun bayangan sosok Kyungsoo dipelukannya semalam begitu indah untuk di ikhlaskan.

.

.

.

.

Beberapa orang berkali-kali melewatinya dan menatapnya keheranan. Bahkan ada juga yang menawarkannya bantuan namun Kyungsoo sama sekali tak peduli dia tetap menangis meraung di halte tak jauh dari apartemen Jongin. Niat hati ingin segera menjauh dari sana namun tetap saja perasaannya belum mau berpisah dari lelaki pujaannya.

Kyungsoo mengabaikan murid SMA yang menawarinya tisu, memilih menutup wajahnya dengan telapak tangan. Menangisi jalan hidupnya yang begitu menyedihkan.

Jika saja Jongin hadir sebelum Chanyeol berencana meminangnya. Jika saja dia tak menjalin hubungan dengan Chanyeol.

Banyak sekali penyesalan yang Kyungsoo sesali. Kyungsoo mengusap matanya yang membengkak kemudian menemukan seseorang berdiri dihadapannya.

"Kyungsoo?" panggil orang itu memastikan penglihatan jika dia tak salah orang.

"Baekhyun!"

Kyungsoo sedikit melompat dari kursi halte, mendekap tubuh Baekhyun erat. Sahabatnya yang kuliah di luar kota, yang tak ia jumpai sejak perpisahan SMA.

.

.

.

Disinilah akhirnya mereka, dua lelaki bertubuh hampir sama itu duduk berhadapan di sebuah cafe. Dua cangkir cofee tergeletak dimeja namun belum ada yang nenyentuhnya terlalu sibuk dengan fikiran masing-masing.

"Apa kabar?" Baekhyun buka suara, dia sedari dulu tak betah dengan keheningan.

Alis Kyungsoo terangkat bingung harus menjawab bagaimana sementara perasaannya sedang hancur. Dia baru saja meninggalkan orang yang ia cintai.

"Kau?" Kyungsoo balas bertanya.

Baekhyun tersenyum tipis, menyadari Kyungsoo tak banyak berubah sejak dulu sedikit irit bicara dan sulit ditebak. "Yeah, aku sekarang bekerja di salah satu percetakan, namun masih single tidak seperti kau yang sebentar lagi akan menikah" cerocos Baekhyun sedikit sebal.

Kyungsoo terkesiap. "Bagaimana kau tau?"

"Kau lupa aku ini pangeran gosip di sekolah, tentu saja aku tahu berita ini. Sayang sekali aku tak diundang"

Kyungsoo menyesap kopinya merasa bersalah. "Maaf aku tak tahu harus mengirim alamatnya ke mana, kau menghilang begitu saja" sesal Kyungsoo meletakan cangkirnya kembali di meja.

Baekhyun mengangguk memaklumi dia memang pindah rumah dan memilih flat sederhana di daerah kampusnya dulu. Tidak sepenuhnya salah Kyungsoo, Baekhyun menghilang dari sekitar Kyungsoo karena kecewa akan keputusan lelaki itu.

"Kau bahagia sekarang, Kyung?" tanya Baekhyun cemas, bagaimana pun Kyungsoo adalah sahabat baiknya.

Baekhyun tahu betul akan perasaan Kyungsoo untuk Jongin. Fakta akan Kyungsoo yang meyerah pada Jongin dan memilih lelaki lain cukup mengecewakan Baekhyun. Baekhyun tahu mungkin Chanyeol hanya pelarian semata. Kyungsoo hanya mencintai Jongin seharusnya Kyungsoo berjuang untuk cintanya bukan memilih orang lain seperti itu.

Kyungsoo memaksakan senyuman namun kaku dan tak sampai menyentuh matanya. "Aku bahagia kok"

"Jangan berbohong!" alis Baekhyun bertaut kesal. "Kau fikir aku tak lihat saat kau menagis di halte tadi?"

Kyungsoo menghembus kan nafas panjang dan menatap Baekhyun sebelum mulai bercerita kejadian beberapa hari yang menimpanya. Percuma rasanya jika harus dirahasiakan dari Baekhyun karena sahabatnya itu pasti akan mengetahui suatu saat nanti serta mungkin saja Baekhyun bisa membantu masalahnya.

"Kyungsoo..."

Tadinya Baekhyun duduk dihadapan Kyungsoo, kini dia pindah memilih duduk disampingnya. Mengusap bahunya yang bergetar lemah. Setelah menceritakan semua Kyungsoo tampak sangat terpukul.

"Aku akan membantumu"

Baekhyun berjanji dia akan memberikan kebahagiaan pada sahabarnya itu. Kyungsoo terjebak diantara situasi dimana dia harus mengorbankan perasaannya demi harga diri orangtuanya. Kyungsoo baru menyadari bahwa dia tak sepenuhnya menyimpan rasa pada Chanyeol.

"Semuanya sudah berakhir, Baek." Kyungsoo bergumam dan Baekhyun segera menariknya kedalam pelukan.

"Tidak, Kyungsoo jangan putus asa seperti ini."

Dalam dekapan Baekhyun Kyungsoo menggeleng. "Antarkan aku pulang, jika aku tak pulang hari ini. Chanyeol akan mengatakan pada orang tua ku kalau aku selingkuh" ujar Kyungsoo lirih.

Kesedihan menyelimuti, Baekhyun mengusap kepala Kyungsoo dan hanya bisa menuruti kemauan sahabat kecilnya. Dalam hati Baekhyun bertekad bahwa penderitaan Kyungsoo akan segera berakhir.

.

.

.

.

"Aku tak menyangka, kau masih memiliki malu ternyata untuk memilihku" cibir Chanyeol saat Kyungsoo memasuki kamarnya di kediaman Park. Ternyata selama dia pergi dengan Jongin, Chanyeol tidur dikamarnya.

Kyungsoo tak menjawab, tubuh dan batinnya terasa lelah. Dia berjalan menuju lemari mengambil beberapa potong baju berniat untuk mandi agar menyegarkan diri jika saja Chanyeol tak menariknya, berusaha mencium bibirnya kasar.

Pakaian digenggaman terjatuh begitu saja. Kepala Kyungsoo menoleh kesana kemari, tak membiarkan Chanyeol menggapai bibirnya. Tangan besar Chanyeol menahan pipinya sehingga Kyungsoo tak bisa berontak lagi. Dengan enggan Kyungsoo membuka mata dan menemukan Chanyeol menatapnya tepat dimata. Sorot lelaki itu begitu kesakitan.

"Kau masih menolakku" bisik Chanyeol sembari meremas pipi Kyungsoo. Si mungil meringis kesakitan. "Aku yang calon suamimu tak bisa menyentuhmu, sementara Jongin" tatapan mata Chanyeol berkelana keseluruh tubuh Kyungsoo. "Sudah mendapatkan semuanya!"

Chanyeol berteriak, melepaskan pipi Kyungsoo memilih menghajarnya di rahang. Kyungsoo terjatuh menghantam lemari. Dia menyeret tubuhnya mundur sejauh mungkin dari jangkauan Chanyeol.

"Ampun..." Gumam Kyungsoo ketakutan. Mimik wajahnya pucat pasti, bibirnya bahkan sedikit mengeluarkan darah.

Melihat betapa mengenaskan Kyungsoo, menggores hati Chanyeol tapi, kemarahan dan rasa terkhianati menggelapkan akal sehatnya.

"Masih untung aku tak membunuhmu."

Chanyeol meninggalkan kamar Kyungsoo begitu saja. Kyungsoo begitu ketakutan karenanya, dia bahkan telah memukul Kyungsoo. Orang yang paling ia jaga selama ini. Kini hancur ditangannya sendiri.

Chanyeol hanya berusaha merasakan bibir Kyungsoo tetapi lelaki itu bersikeras menolak, memberontak dan membuang muka. Sementara itu kemarin...

"Aku tidak mau kau menjadi orang jahat"

Kyungsoo memegang lengan Jongin yang sedang menodongkan senjata padanya. Kyungsoo terlihat begitu peduli pada Jongin. Kyungsoo bahkan tak melirik Chanyeol sama sekali. Padahal seharusnya Kyungsoo lebih cemas pada Chanyeol yang akan Jongin tembak.

Chanyeol tertawa sementara retinanya siap menumpahkan air mata. Dia memang tampak menang namun pada dasarnya dia tak mendapatkan apapun.

.

.

.

.

Sudah hampir empat puluh delapan jam kepergian Kyungsoo dari apartemen ini. Jongin masih bisa merasakan kehadiran lelaki mungil itu. Apakah dia berhalusinasi? Atau jongin sudah kehilangan kewarasannya?

Jongin tidak perduli lagi, dia bahkan tak ingat kapan terakhir kali dia makan dan membersihkan diri. Penampilannya sungguh berantakan tidak seperti Jongin biasanya seorang direktur salah satu perusahaan Amerika yang sukses. Kini dia terlihat seperti pemuda biasa, yang telah hancur oleh cinta.

Puluhan atau ratusan foto dengan objek sama tergeletak berantakan diruang tengah, tempat Jongin tidur sekarang. Dia tak mampu lagi tidur di kasur yang sama, tempat dimana dia dan Kyungsoo berbagi kehangatan.

Jongin meletakan bir kedelapannya lantas mengambil selembar foto saat Kyungsoo tertidur dipelajaran sejarah. Kyungsoo begitu polos dan murni seperti malaikat tanpa dosa. Kemarin Jongin kehilangan arah, angannya menuntut untuk bisa melihat Kyungsoo lagi namun ia sadar diri untuk tak menampakan diri dihadapan Kyungsoo lagi. Kyungsoo telah memilih, maka Jongin harus menghargai keputusannya. Karena dari itu Jongin memutuskan untuk mencetak semua foto Kyungsoo di PCnya.

Jongin mengelus foto wajah tenang Kyungsoo yang sedang tertidur itu, kemarin dia mendapatkan pemandangan serupa namun dengan Kyungsoo yang nyata. Bukan selembar foto tanpa nyawa seperti ini.

Kesedihan kembali menguasai Jongin, "Demi orang lain kau tega melupakanku, meninggalkanku." gumamnya sendu seiring dengan setetes air mata menjadi saksi betapa hancurnya hidup Jongin saat ini.

Dia segera menghapus air mata itu dan memilih menegak birnya namun saat mengangkat bir, kaleng itu terasa sangat ringan. Ternyata minumannya itu kosong. Jongin melirik tumbukan kaleng bir kosong yang berantakan dibawah sofa. Lalu menghela nafas berat. Dia harus ke supermarket lagi.

Jongin berdiri berpegangan pada sofa beraharap agar mabuk dapat mempertemukannya dengan Kyungsoo walau mungkin hanya dalam khayalannya saja.

.

.

.

Makan malam kediaman Park hanya dihadiri Chanyeol, Kyungsoo dan mama Park. Nunna Chanyeol sedang ada siaran berita sementara Tuan Park belum pulang dari kantor. Semenjak kejadian Chanyeol yang memukul Kyungsoo hubungan mereka menjadi makin dingin, melirik saja Kyungsoo engan apalagi bertegur sapa.

"Kyungsoo-ya kau harus makan." tegur mama Park menyadari calon menantunya tak kunjung menghabiskan makanan.

Kyungsoo tersentak kaget, dia sedang asik melamun. "Iya aku makan, ma." katanya secepatnya namun tak kunjung memasukan makanan ke mulut. Hanya sekedar omongan belaka.

"Ada apa dengannya? Dia hanya mengaduk-aduk makanan saja. Dasar." mama Park mencemooh tak perduli omongannya mungkin mrnyakiti hati Kyungsoo. Dia masih sebal akan Kyungsoo yang tak kunjung pulang setelah mengantar keponakannya, Jongin.

Chanyeol menghela nafas panjang, terganggu akan sifat ibunya yang mulai menunjukan sikap tak suka secara terang-terangan pada Kyungsoo. "Sudahlah ma."

.

.

.

Jongin memasuki apartemennya dan mendapati sang kakak duduk di ruang tamu dengan foto miliknya yang berserakan di lantai.

"Dia calon suami Chanyeol benar?"

Bir yang Jongin pegang jatuh kelantai.

"Semua foto ini sejak dia SMA, kau mengambilnya diam-diam? Jongin-ah ada apa ini" mata kakaknya memerah tampak menahan tangis dan terluka. "Kau menyukainya?"

"Hyung.. Mianhae" Jongin tercekat, dia menghampiri Minseok dan duduk berlutut didekat kaki hyungnya. "Aku yang mengenalnya lebih dulu, aku yang mencintainya tiba-tiba Chanyeol datang dan mengambil Kyungsoo begitu saja." dia menunduk menyembunyikan mimik wajahnya yang mengenaskan.

Minseok menepuk pundak adiknya. "Apa kah itu penting sekarang? Mereka akan menikah."

"Tolong jangan ingatkan aku!" pekik Jongin memutup telinganya histeris. Minseok langsung membawa adiknya itu kedalam pelukannya. Ikut merasakan kesedihan yang Jongin pendam.

"Mengapa tidak sedari dulu kau mengambilnya. Jika memang benar kau yang mencintainya lebih dulu. Mengapa kau membiarkan Chanyeol memacari Kyungsoo?"

Jongin menghela nafas lalu melepaskan diri dari dekapan Minseok. "Kupikir Kyungsoo hanya cinta anak-anak yang akan hilang jika aku menemukan orang lain yang lebih menarik." dia mengambil sebuah foto Kyungsoo yang tengah tertawa saat pelajaran olah raga. "Tapi dugaanku salah, bertahun-tahun aku selalu memikirkannya." Jemari Jongin mengelus foto itu penuh damba.

"Aku memacari banyak gadis dan lelaki saat di Amerika, tetap saja aku selalu membandingkan mereka dengan Kyungsoo. Mereka tidak tembam, tidak pendiam, tidak merona saat aku menatap, tidak memiliki bibir berbentuk hati dan tidak senang memasak. Kyungsoo... Segalanya harus seperti Kyungsoo. Hatiku hanya menginginkannya."

Minseok menutup mulutnya terkejut akan fakta bahwa adiknya menyimpan rahasia menyedihkan selama ini.

"Kemudian aku menyadari bahwa cintaku pada Kyungsoo bukan cinta masa SMA biasa. Aku Benar-benar mencintainya hingga rasanya hidupku tak berarti apa-apa tanpa kehadirannya. Selama ini aku menjalani hari dengan hampa. Aku hidup namun nafasku tak memiliki makna." air mata lolos begitu saja, mengalir membasahi pipi Jongin yang mulai tirus.

"Jongin-ah Gwenchana?" Minseok menghapus air mata itu segera.

"Aku hancur hyung, kau harus menolongku." air mata itu kemudian menjadi semakin deras. Minseok segera memeluk adiknya memberikan Jongin dekapan hangat dan topangan untuknya bersandar.

"Kau sudah terlambat, pernikahan mereka dipercepat."

Minseok merasakan tubuh adiknya menjadi kaku, Jongin bahkan menahan nafasnya sepersekian detik terkejut akan hari paling buruk akan segera datang lebih awal.

Minseok melepaskan pelukan mereka dan mengambil selembar tiket dari dalam tasnya. "Ambilah ini" dia menyerahkan tiket menuju Jeju itu pada Jongin. Tiket yang tadinya ia ingin gunakan untuk liburan.

"Untuk apa?" Jongin bertanya hampa.

"Pergilah, lupakan dia. Jika kau terus disini, kau akan semakin hancur. Tidak perlu datang ke acara pernikahan mereka. Aku akan mengatakan pada paman dan bibi Park bahwa kau kembali ke Amerika karena ada urusan penting"

Jongin diam saja, memandang tiket ditangannya. "Apakah tidak ada kejaiban untukku hyung?" Jongin bertanya putus asa.

Minseok tak menjawab namun tatapan matanya memancarkan penyesalan dan ucapan maaf.

Jongin memaksakan senyuman pada Minseok agar hyungnya itu tak merasa sedih akan nasibnya. "Sekarang saatnya aku menyerah kan?"

.

.

.

Lusa adalah hari yang dinanti Chanyeol, dia menelpon perancang busana mereka, Xi Luhan untuk segera mencocokan kembali pakaian pengantin. Sebenarnya hanya akal buluk Chanyeol agar menyampaikan secara tersirat pada Kyungsoo bahwa dia tak akan bisa lari lagi.

Luhan datang ke kediaman Park pukul sebelas pagi dan langsung menuju kamar kedua pengantin.

"Apa ini Soo, kau melakukan fiting baju sebulan lalu dan sekarang pakaian yang pas jadi kebesaran. Kau kehilangan berat badan? Sudah ku bilang kan untuk tidak usah diet." Luhan terus mengomel.

Kyungsoo melihat tampilan dirinya di layar kaca, sosoknya memakai jas berwarna putih bersih tampak begitu menawan. "Aku tidak diet." balas Kyungsoo singkat.

Luhan mendengus, memilih memfokuskan diri pada ukuran yang mungkin harus dia ubah lagi demi Kyungsoo padahal waktu pernikahan mereka itu sebentar lagi.

Chanyeol berkacak pinggang, memandang tubuh Kyungsoo yang memang makin kurus. Tulang tangannya bahkan terlihat menonjol. Kyungsoo kehilangan berat badan drastis hanya dalam beberapa hari.

Kantung mata Kyungsoo pun lebih tebal dan menghitam, seharusnya pengantin akan lebih merawat dirinya menjelang hari janji suci, berbeda dengan Kyungsoo. Calon suami Chanyeol itu malah terlihat makin mengenaskan.

Chanyeol membuang muka memilih meninggalkan Luhan dan Kyungsoo, dia akan segera merokok diluar. Kebiasaan buruknya belakangan ini jika sedang banyak fikiran.

Sebelum Chanyeol menutup pintu dia mendengar kembali pembicaraan mereka yang mampu membuatnya membeku tak bisa bergerak, bagaikan dilem secara kasat mata.

"Kyungsoo-ya ini adalah pernikahan yang mungkin kau lakukan seumur hidupmu, kau harus menjaga diri dengan baik"

Lalu suara pelan Kyungsoo menyahut lirih. "Aku tidak ingin pernikahan ini."

Dan pintu itu Chanyeol tutup dengan gusar.

.

.

.

.

Malam menjelang tak terasa Chanyeol menghabiskan waktunya sejak pagi hingga sekerang hampir tengah malam. Terlalu banyak fikiran mengakibatkannya enggan untuk pulang.

Lelaki bertubuh jangkung itu memasuki kamarnya dengan Kyungsoo. Sejak Kyungsoo kembali dari aksinya melarikan diri dengan Jongin tempo hari. Chanyeol memutuskan untuk menyatukan kamar mereka agar hubungan mereka makin erat namun Kyungsoo tetap saja pendiam dan tak mau berbicara dengannya walau dia sudah Chanyeol pukuli sekalipun. Kyungsoo kini tak lagi menangis dan meminta ampun justu memilih diam dan pasrah.

Chanyeol melirik tubuh mungil yang meringkuk di balik selimut, bahkan Kyungsoo tak mau repot-repot menunggunya pulang. Dia tidur lebih dulu begitu saja. Langkah kakinya tanpa sadar mendekati Kyungsoo lalu berjongkok dihadapan wajah Kyungsoo yang tengah tenang tertidur dengan nyaman tetapi, kemudian ketenangan itu berganti dengan kerutan di alisnya yang tebal. Tubuh itu bergerak gelisah, keringat mulai muncul dikeningnya.

Chanyeol berinisiatif menemuk punggung Kyungsoo, mencoba menenangkan si mungil yang mungkin bermimpi buruk. "Tenanglah" bisik Chanyeol ditelinga lelaki itu. Dia memberikan kecupan singkat dikening Kyungsoo. "Aku mencintaimu" ungkapnya sedih berharap Kyungsoo mendengarnya dan mampu melihat Chanyeol sebentar saja. Ketika hendak menarik diri, Kyungsoo menahan jemari Chanyeol.

"Jongin maafkan aku.. Jongin jangan pergi" igau Kyungsoo dalam tidurnya. Dia tak membuka mata, dalam alam bawah sadarnya sekalipun hanya ada Jongin dalam hatinya.

Chanyeol terjatuh terduduk di lantai yang dingin, merasakan hatinya kembali hancur berserakan.

Dia menguatkan diri, berdiri untuk segera pergi tak kuasa berada di ruangan yang sama dengan Kyungsoo lagi. Walau Chanyeol sudah dapat menebak perasaan Kyungsoo namun ego hatinya masih belum bisa menerima.

Chanyeol mengendarai mobilnya menuju salah satu club malam. Dia mengabaikan beberapa wanita jalang yang mengajaknya untuk menghabiskan malam. Chanyeol duduk sendirian di pojok bar meminum botol minuman keras tanpa gelas secara kasar. Membiarkan cairan itu mengotori kemejanya yang berwarna biru.

"Kau akan tersedak"

Chanyeol menoleh mendapati sosok lelaki menatapnya prihatin.

.

.

.

Tiga anak kecil menaburkan bunga-bunga disepanjang jalan yang akan dilewati pengantin. Suara piano mengiringi pintu yang terbuka. Sosok Kyungsoo bersama ayahnya datang bersiap menuju altar dimana Chanyeol menunggu dengan jas yang berwarna hitam.

Chanyeol berdiri gagah menanti Kyungsoo menghampirinya. Sementara Kyungsoo melangkah pelan dengan kepala sedikit tertunduk takut Jongin hadir dan mereka beradu pandang. Mungkin Kyungsoo akan berlari memeluk lelaki itu tanpa ditahan.

Para tamu menatap Kyungsoo yang melewati mereka dengan kekaguman, walau sekarang Kyungsoo terlihat kurus dan pucat namun tak bisa menyembunyikan ketampanan dan keimutannya yang alami.

"Tolong bahagiakan dia," tuan Do menyerahkan putranya dengan mata yang memerah pada Chanyeol.

Chanyeol mengangguk tanpa menjawab, segera mengambil tangan Kyungsoo untuk dia genggam.

Pendeta mulai membacakan ikrar Tuhan, semua orang mendengarkan dengan khidmat.

"Sebelum janji suci kita ucapkan, adakah dari kalian yang merasa keberatan dengan pernikahan ini?" pendeta melihat sekeliling gereja.

Minseok menunduk tak mau menyaksikan, dibangku belakang Baekhyun tak berbuat apapun. Sementara keluarga dan sanak saudara menggeleng pasti.

Pendeta tersenyum. "Baiklah kalau begitu-"

Tangan yang tak disangka justru terangkat. "Saya" Chanyeol tersenyum pasti. Dia merasakan seluruh orang terkesiap akan tindakannya, Kyungsoo pun tercengang memandangnya dengan mata yang melotot.

"Saya keberatan dengan pernikahan ini" Chanyeol melanjutkan kini dia membalikan tubuh memilih berhadapan dengan Kyungsoo tanpa memperdulikan teriakan mama Park dan desas-desus tamu undangan lain.

Chanyeol merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah tiket yang sudah ia pesan dari semalam. Menyerahkan tiket tersebut untuk Kyungsoo.

"Pergilah, kejar Jongin" ucap Chanyeol, suaranya pelan dan gemetaran. Butuh pergolakan batin yang kuat untuknya.

"Ch-an..yeol" Kyungsoo meneteskan air mata, dia tak menyangka Chanyeol akan melakukan perbuatan yang justru merugikannya.

"Aku pantas mendapatkan ini, aku sudah jahat padamu dan Jongin. Dari dulu seharusnya kau bersama Jongin tapi aku merenggutmu. Sekarang aku merelakanmu pergi, kembalilah menuju tempatmu seharusnya berada" Chanyeol mengusap pipi Kyungsoo pelan. "Aku mohon mulai sekarang berbahagialah,"

Kyungsoo tersenyum lebar walau air mata menetes membasahi pipinya yang tirus.

Untuk pertama kalinya setelah memutuskan mereka akan menikah, Chanyeol bisa melihat senyum Kyungsoo lagi. Kelegaan membanjiri hati, Chanyeol merasa sangat lega, ternyata keputusannya memang tepat. Seharusnya sedari awal dia merelakan Kyungsoo pergi.

Melihat orang yang kau cintai bahagia jauh lebih melegakan dibandingkan menahannya secara paksa. Lambat laun perasaan senang akan kebahagian Kyungsoo memenuhi diri Chanyeol. Dia balas tersenyum menyatukan keningnya dengan Kyungsoo.

"Terimakasih... Terimakasih banyak" gumam Kyungsoo.

Senyum diwajah Chanyeol melebar. Dia menjauhkan diri memberikan ruang untuk Kyungsoo. "Sekarang pergilah, jangan menoleh atau aku akan mengejarmu"

Kyungsoo terkekeh lalu menganggukan kepalanya. Sejenak dia menoleh pada keluarganya, ayah dan ibunya tampak terpukul namun mereka tersenyum padanya. Mungkin sudah menyadari bahwa dia akan lebih bahagia tanpa bersama Chanyeol.

Kyungsoo berlari keluar dari gereja meninggalkan Chanyeol dan semua beban yang ada.

Para tamu undangan keluar dengan kecewa beberapa bahkan melontarkan caci makian untuk prilaku kedua pengantin terutama pada Chanyeol.

Keluarga Park ikut pergi tanpa mau memandang putra bungsunya, tampak kekecewaan yang mendalam di diri mereka. Hanya Minseok yang berjalan mendekati Chanyeol memberikannya pelukan menenangkan, menyampaikan ungkapan terimakasih tanpa verbal.

Dari balik punggung Minseok, Chanyeol memandang bangku belakang tempat Baekhyun duduk dan tersenyum padanya.

"Aku berhasil." kata Chanyeol tanpa suara. Berkat Baekhyun, Chanyeol menyadari kesalahannya. Jika saja malam kemarin Chanyeol tak bertemu dia mungkin saat ini Chanyeol masih menutup mata akan penderitaan Kyungsoo selama ini.

Seperti dapat mendengar suaranya, Baekhyun tersenyum lebar. Mengacungkan ibu jari untuk semua yang telah Chanyeol lakukan. "Kau hebat." puji Baekhyun dengan air mata menuruni pipinya. Bagaikan ikut merasakan kesedihan dan kebahagiaan Chanyeol saat ini.

.

.

.

"Apa aku mengenalmu?" tanya Chanyeol begitu sosok itu duduk disampingnya.

Baekhyun tersenyum kecil mengangkat bahunya. "Aku mengenal pendampingmu" katanya mengambil salah satu botol minuman Chanyeol kemudian menegaknya.

Kenalan Kyungsoo rupanya. Chanyeol menganguk singkat kembali melamun memikirkan Kyungsoo dirumah.

"Apakah Kyungsoo bahagia denganmu?" tanya Baekhyun dengan pandangan kedepan. Chanyeol meliriknya sejenak.

Bayangan mimik wajah Kyungsoo yang ketakutan terlintas, Kyungsoo yang menangis, Kyungsoo yang memohon ampunan padanya, keluarganya yang memperlakukan Kyungsoo semena-mena, Kyungsoo yang berontak sentuhannya dan Kyungsoo yang kehilangan berat badan.

Semua fakta yang ada bagaikan mencengkram dada Chanyeol secara kasat mata. Dia mengambil nafas dengan rakus mencoba menenangkan diri.

"Kupikir, tidak." balasnya singkat tersenyum miris.

Baekhyun menatapnya beberapa saat. "Kau memang memiliki raganya namun sampai kapanpun hatinya hanya untuk Jongin."

"Apakah tak ada kesempatan untukku? Bukankah waktu akan bisa menghadirkan cinta diantara kami?" Chanyeol mengeluh putus asa.

"Memang sudah berapa lama kalian bersama? Bertahun-tahun bukan? Jawabannya sudah kau dapatkan. Hanya saja kau membutakan dirimu dan memilih tak perduli akan kenyataan bahwa Kyungsoo tak mencintaimu."

Chanyeol meremat botol minuman ditangannya. Baekhyun benar, dia memang tahu namun dia memilih tak perduli.

Tangan lentik itu menyentuh pundaknya yang kaku. "Chanyeol-ssi, kau tahu bukan cinta tak harus memiliki?"

Chanyeol tak menjawab hanya menundukan kepalanya.

"Cinta adalah ketika kau bahagia saat melihat orang yang kau cintai pun bahagia, walau bukan bersamamu. Cinta adalah saat kau rela mengorbankan perasaanmu untuknya, demi dia," Baekhyun menatap Chanyeol sedih, mencoba menyadarkan lelaki itu akan sikapnya selama ini.

"Apakah kau ingin selama sisa hidup Kyungsoo dia tak tersenyum lagi?"

Chanyeol mengingat senyum Kyungsoo yang berbentuk hati sungguh sangat indah. Sayang sekali jika pemandangan itu akan hilang.

"Kembalikan senyum Kyungsoo lagi dengan merelakannya pergi" ucap Baekhyun lembut.

Chanyeol meraung menangisi semuanya, sungguh berat untuknya melepaskan Kyungsoo yang selalu mengisi hari—harinya. Namun jika dengan bersama Jongin, Kyungsoo akan hidup bahagia maka Chanyeol akan berusaha merelakan walau mungkin dia akan menghancurkan dirinya sendiri.

Baekhyun benar, cinta bukanlah paksaan, namun tentang bagaimana membahagiakan orang yang kau sayang.

.

.

.

.

Jongin berdiri dibalik pagar, dibawahnya adalah lautan lepas berawarna biru jernih serupa dengan langit cerah diatasnya. Pemandangan kota Jeju sedikit mengobati nyeri di dada Jongin. Dia beralih memandang awan yang bergerak tertiup angin. Angannya mengambang pada seseorang yang mungkin sekarang resmi menyandang nama keluarga Park.

Jongin tersenyum kecil, menutup matanya membiarkan sepoian angin menerbangkan surainya yang berantakan.

"Semoga kau bahagia bersamanya" gumam Jongin.

"Tidak"

Tanpa disangka suara merdu seseorang yang ia fikirkan menjawab perkataannya. Jongin membuka mata bingung, dia mungkin sudah gila. Jongin harus berhenti memikirkan Kyungsoo atau kewarasannya akan hilang.

"Aku hanya bisa bahagia bersamamu"

Seiring dengan ungkapan itu, Jongin merasakan seseorang memeluknya dari belakang. Tubuhnya dipeluk sangat erat. Lengan mungil dan putih itu melingkari perutnya.

Jatung Jongin bertalu-talu, dadanya penuh oleh kemungkinan yang ia harapkan. Sepoian angin kembali berhembus dan kini Jongin dapat mencium wangi tubuh seseorang yang ia rindukan.

Jongin melepaskan pelukan itu lantas membalikan tubuh, mendapati Kyungsoo terbalut jas pernikahannya yang berwarna putih bersih berdiri dihadapannya. Kyungsoo terlihat seperti malaikat yang baru saja diturunkan Tuhan untuknya.

"Apakah aku bermimpi?" tanya Jongin pelan sembari mengerjapkan matanya.

Air mata Kyungsoo menetes begitu saja menyadari penampilan Jongin yang berantakan, bahkan kumis Jongin mulai tumbuh sedikit. Kyungsoo mengambil tangan Jongin meletakannya dipipinya.

"Aku disini, Jongin. Aku kembali padamu"

Jongin langsung meraup tubuh itu, memutarnya beberapa kali. "Tuhan terimakasih" gumam Jongin dihelaian rambut hitam Kyungsoo. Dia menciumi seluruh wajah Kyungsoo kemudian memberikan kecupan panjang dimulut si mungil.

"Tolong jangan tinggalkan aku lagi, aku mohon padamu" pinta Jongin sendu. Menurunkan Kyungsoo namun tak menjauhkan tubuh mereka.

Kyungsoo menempelkan pipinya di dada Jongin, menghirup wangi yang begitu ia rindukan. "Aku mencintaimu"

Jongin tersenyum lega, menyentuhkan hidungnya dipipi Kyungsoo. "Aku lebih mencintaimu"

.

.

.

.

"Taeoh kemari! Jangan berlari" Kyungsoo mengejar anaknya yang berumur tiga tahun Taeoh, sehabis mandi dia menolak memakai baju. Anak itu sangat aktif dan nakal.

"Kena kau!" Jongin baru tiba dari kantor lansung mangembil tubuh mungil itu. Menangkapnya dengan mudah.

"Aboeji!" Taeoh memekik tidak terima, cemberut ketika Jongin memberikannya pada ayahnya yang lain. Kyungsoo menatap Taeoh garang.

"Kau bisa masuk angin!" omel Kyungsoo mulai mengoleskan minyak bayi kemudian bedak pada tubuh Taeoh. Berhubung tenaganya masih banyak, Taeoh tetep melompat di kasur menghindari tangan Kyungsoo.

Jongin tertawa menyaksikan interaksi mereka, dia mendekati dua orang yang paling disayanginya. Memberikan mereka ciuman sayang.

"Kau juga harus mandi" ucap Kyungsoo setelah Jongin menciumnya.

"Bagaimana kalau mandi berdua?" tawar Jongin menaik turunkan alisnya mengoda. Walau sudah hampir tiga tahun berumah tangga Kyungsoo tetap merona diperlakukan seperti itu.

Si mungil memukul pundak Jongin malu. Kembali mencoba memakaikan anak mereka pakaian tidur.

"Aku ingin menelpon jacson!" teriak Taeoh bersemangat setelah dia rapih dengan baju tidurnya yang bergambar iron man.

Jongin mengusap kepala anaknya. "Baiklah," dia menyerahnya smartphonenya. Kyungsoo memang memiliki benda yang sama namun jarang ia pergunakan, agar Taeoh tidak bisa meminjam dan mempergunakan dengan yang tidak-tidak. Anak jaman sekarang sudah pandai mengunakan elektrik berbeda sekali dengan jamannya dulu.

Setelah kembali berhubungan, Jongin membawa Kyungsoo menuju Amerika seperti janjinya dulu, mereka berpacaran selama lima bulan dan memutuskan untuk segera menikah karena sudah tak tahan lagi untuk segera saling mengikat satu sama lain.

Terlalu lama waktu yang mereka buang selama ini, maka setelah berpacaran mereka ingin segera memiliki hubungan yang jelas.

"Halo" Baekhyun melambai begitu sambungan video call tersambung.

"Paman! Jacson! Jacson!" pekik Taeoh tak sabaran untuk segera bertemu saudaranya.

Baekhyun terkekeh kemudian menyodorkan Smartphonenya pada anaknya yang tengah bermain lego. Kemudian Taeoh dan Jacson saling mengobrol mengunakan bahasa mereka.

Kehidupan mereka kini sudah lengkap. Selepas merelakan Kyungsoo, Chanyeol mulai membuka hatinya untuk Baekhyun karena Baekhyun adalah orang yang menyenangkan dan selalu ada untuk Chanyeol, mudah rasanya untuk belajar mencintai Baekhyun. Tanpa disangka Chanyeol dan Baekhyun kemudian menikah tak lama setelah pernikahan Jongin dan Kyungsoo.

Hubungan mereka pun membaik, mereka sudah saling memaafkan. Kedua anak mereka juga sekarang menjadi sahabat dekat.

Kyungsoo melirik Jongin dengan sorot bahagia, Jongin tersenyum padanya memeluk pundak suaminya itu.

"Kyungsoo" Jongin memanggil lembut. Kyungsoo menoleh padanya melihat suaminya menatapnya lekat. "Hmm?" gumam Kyungsoo.

"Hanya denganmu, aku ingin hidup bersama. lebih lama dari selamanya." ucap Jongin memandang kedua mata bulat itu dengan syahdu.

Kyungsoo tersenyum menyentuh rahang Jongin. Membawa wajah rupawannya itu mendekat. Dia lantas mencium bibir Jongin, merasakan cinta dari suaminya yang tak pernah habis untuknya.

Cinta bukan hanya tentang memiliki namun juga bagaimana tentang merelakan. Maka kebahagiaan yang diharapkan pun akan hadir seiring berjalannya waktu.

END

A/N

Memang pada akhirnya bagaimanapun ffku, pairnya tetep jadi Kaisoo :'( bener-bener Kaisoo hard shipper.

Semoga kalian puas dengan ff ini.

Saya buatnya Benar-benar menguras emosi:( anjirlah geregetan sama kisah ini