Naruto © Masashi Kishimoto

.

.

.

Cygnus Jessenia

.

.

.

Waiting You

.

.

2. April Sonata

Seorang pemuda berambut pirang mengerjapkan mata, mencoba menyingkirkan silau yang menyapa matanya. Papan putih menjadi pemandangan yang ia tangkap pertama kali. Kemudian ia mengalihkan pandangannya dan mendapati sebuah seragam baseball yang berserakan dan tongkat baseball yang kusam penuh debu. Ia bahkan tidak melepas sepatunya saat tidur, alhasil pinggiran kasurnya sekarang berwarna coklat pudar. Sepertinya minggu ini ia harus mencuci sprei lagi.

"Kaa-san, kenapa tidak membangunkanku?" tanyanya mengerang saat seorang wanita berambut merah panjang membuka pintu kamar dan tersenyum ceria. Pemuda tersebut menggosok wajahnya asal.

"Ini kan hari Minggu. Kaa-san membiarkanmu tidur lebih lama karena kau kelihatan capek sekali. Pasti karena habis bertanding…kau mau sarapan?" tanya wanita yang tak lain adalah Kushina. Ia memungut seragam Naruto yang berserakan di lantai lalu memasukkannya dalam keranjang pakaian.

"Nanti saja," Naruto memejamkan matanya kembali.

Kushina hampir menutup pintu sebelum kembali membukanya lagi, tubuh wanita berambut panjang itu seperti tersentak dan matanya melebar, "Oh ya…semalam Sakura-chan menelepon dan menanyakanmu? Apa semuanya baik-baik saja? Kau tahu maksudku kan? Sakura-chan jarang menelepon kita," Kushina menunggu jawaban Naruto yang sekarang menggulung diri dan terlihat seperti udang goreng tepung siap santap.

"Hn," Naruto membuka gorden kamar yang berada di samping kepalanya, mengabaikan ibunya yang pergi dengan keranjang cucian. Mata birunya menatap gorden kamar Sakura yang berayun pelan, melambai-lambai kepadanya seolah-olah mengolok-olok Naruto karena hanya berani menatapnya dari balik jendela kaca, "Kau mengharapkan apa? Tidak ada yang terjadi," bisik Naruto lebih kepada dirinya sendiri.

Naruto terpekur, dagunya bergemeletuk menandakan bahwa ada gigi yang beradu di dalam mulutnya, membayangkan ada Sakura yang berteriak-teriak dari balkon rumahnya sembari melambai semangat seperti tidak ada hari esok. Naruto menelusupkan tangannya ke bawah kepalanya. Plafon putih menjadi pemandangan yang kembali ditangkap Naruto setelah ia mengalihkan pandangannya dari jendela kamar tetangganya. Pemuda itu membuang nafas kasar dan menyentakkan sepatu yang belum sempat ia lepas melayang melawan graviasi.

Tiba-tiba saja ia merindukan seseorang.


Naruto menggosok tubuhnya yang terasa lengket. Ia tidak sempat mandi tadi malam karena kelelahan dan sekarang ia ingin berlama-lama di kamar mandi, menghabiskan hidupnya dengan berendam air panas sampai ujung jari-jarinya mengkerut. Naruto hampir tertidur di dalam bak mandi jika saja perutnya tidak berbunyi dan minta diisi. Ia melangkah keluar dari bak dan langsung melilitkan handuk kecil ke pinggangnya.

Jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Ayahnya, Minato, harus pergi ke Gifu untuk menggantikan direktur dalam rapat sedangkan ibunya, Kushina, pergi mengunjungi Jiraiya, paman Naruto. Alhasil, sekarang Naruto berdiri sendirian di dapur sembari menunggu kari yang sebelumnya di tinggal dalam kulkas dan sekarang ia menghangatkannya dalam microwave. Naruto duduk di samping kulkas tanpa baju atasan, ia hanya mengenakan track pants. Puncak musim semi sudah berlalu dan kini Naruto bisa melihat sisa-sisa bunga Sakura kering yang berjatuhan di halaman rumahnya dari jendela dapur.

Sakura…

Naruto memikirkan kembali ucapannya tadi malam kepada Sakura. Apa yang salah dengannya? Tidak seharusnya ia bersikap sebrengsek itu. Kata-kata itu meluncur begitu saja tanpa bisa dicegah. Hatinya berkali-kali berkata agar Naruto minta maaf tapi samar-samar ingatan Naruto tentang Yahiko membuatnya mengurungkan niat seperti ada alat gaib yang membungkam mulutnya.

Naruto mendadak mendengus, ia mengeluarkan kari dari dalam microwave dan menempatkanya di meja. Pemuda itu kemudian membuka jendela di samping bak cuci piring, "Keluarlah. Sampai kapan kau mau memata-mataiku?" Naruto menyesal karena sedikit mengkhawatirkan Sakura. Nyatanya, gadis itu tidak pernah jera, "Kau boleh ikut sarapan…kalau kau mau," Naruto menghempaskan dirinya ke kursi.

"Tentu saja mau!" Sakura tiba-tiba muncul dari balik semak Lavender. Gadis itu membersihkan dirinya dan langsung memasuki dapur keluarga Namikaze lewat pintu belakang.

Naruto mengamati Sakura sejenak. Gadis itu datang dengan catatan kecil dan beberapa ranting semak di rambut. Naruto mengambilkan piring baru untuk Sakura dan menyendokkan nasi ke dalamnya. Kepulan uap nasi menerpa wajah Sakura. Gadis berambut pink itu terus saja tersenyum tatkala melihat Naruto menyendokkan nasi untuknya. Apalagi Naruto yang tidak memakai atasan apapun sangat-sangat panas. Sakura bisa melihat otot-otot terbentuk di perut Naruto, juga bekas luka melintang di rusuk kanannya.

"Ini seperti mimpi. Bisa sarapan dengan Naruto-kun. Ini seperti mimpi… menjadi kenyataan. Kita berdua makan bersama dan kau bahkan tidak pakai baju. Ini sangat romantis"

"Jangan mendramatisir. Cepat makan," Naruto menyendokkan kari ke mulutnya.

"Hai, Hai! Itadakimasu!"

Naruto mengamati cara makan Sakura yang menurutnya merepresentasikan diri Sakura sehari-hari, bersemangat. Ia sebenarnya ragu jika gadis itu belum sarapan tapi melihat nafsu makannya yang besar mau tak mau membuat Naruto mengasumsikan jika tetangganya itu memang 100% kelaparan.

"Oishi!" kata Sakura sambil memandang Naruto. Gadis itu merasa sangat senang karena bisa menghabiskan waktu bersama dengan laki-laki yang ia sukai. Naruto tidak biasanya sebaik ini. Jadi, jika ada momen keberuntungan seperti ini maka tidak boleh disia-siakan.

"Makan pelan-pelan, baka. Aku tidak mau kau mati tersedak di rumahku."

Sakura mengangguk dan memelankan cara makannya. Ia bisa melakukan apapun permintaan Naruto. Masalah cara makan bisa ia hadapi dalam satu kedipan mata.

Mendadak Naruto berdeham, matanya bergerak ke kanan dan ke kiri untuk mencari objek yang menarik, "Yang kemarin malam, kau tahu, aku -"

"Oh ya, aku lupa mengucapkan selamat atas kemenanganmu. Kau hebat sekali. Sungguh! Kau pemain baseball nomer satu di dunia. Bagiku, Naruto-kun adalah yang terhebat. Ah, Yahiko nii-san juga hebat lho. Kalian berdua luar biasa. Ngomong-ngomong, kemarin kau melihatku kan? Aku datang dan menyemangatimu dengan keras, kau melihatku kan?" Mata Sakura berbinar-binar.

"Tidak."

"A-apa?"

"Aku fokus pada pertandingan," suara logam yang beradu dengan gigi membuat Sakura tersadar. Gadis itu mengamati Naruto yang memasukkan sesendok nasi kari ke dalam mulutnya serta tidak memandang Sakura ketika bicara. Entah karena makanan atau sesuatu yang lain, Naruto jelas tidak mengarahkan atensinya kepada Sakura.

"Benarkah kau tidak melihatku? Wajahku?" Sakura menyingkirkan piringnya ke samping agar dirinya bisa memajukan tubuhnya ke arah Naruto.

"Rambutku?"

"Tidak."

"Hidungku?"

Naruto menggeleng

"D-dahiku?"

Naruto meletakkan sendoknya di atas piring dan setengah membantingnya ke dalam wastafel.

"Aku selesai."

Mata Sakura mengikuti kemanapun Naruto pergi. Naruto kemudian mengambil kaos yang daritadi ia gantung di gerendel pintu dapur dan langsung memakainya tanpa kesulitan. Gaya hidup laki-laki memang aneh.

"T-tidak apa-apa kalau Naruto-kun tidak melihatku. Lain kali aku pastikan kalau kau akan melihatku, mengenaliku. Jangan khawatir!"

"Daripada mengkhawatirkanku lebih baik kau mengkhawatirkan dirimu sendiri saja. Jika kau sudah selesai makan, letakkan saja piringnya di wastafel lalu pulanglah lewat pintu belakang. Jika kau mau, kau bisa pulang lewat pintu depan. Aku tidak menguncinya," Naruto membuka kulkas, mengambil sekaleng jus lalu menendang pintu kulkas sampai tertutup. Ia melangkah menuju ruang depan tanpa memperhatikan ekspresi apa yang dibuat Sakura karena perkataannya.

Mendadak kerongkongan Sakura kering seperti ada yang sengaja menyedot habis liurnya.

"Hari ini pun kau dingin sekali padaku. Hari ini hari Minggu. Semua orang libur bekerja," kata Sakura. Ia mengikuti Naruto ke ruang depan untuk mendapatkan kejelasan. Ada semacam kebingungan dalam diri Sakura yang memaksanya untuk terus mencari tahu. Sakura mempercepat langkahnya agar dirinya bisa berjalan tepat di belakang tubuh Naruto, "Apa kau juga tidak bisa libur untuk menggunakan ekspresi itu padaku? Jujur saja, nada bicara yang kau gunakan itu membuatku berpikir kalau kau ingin aku benar-benar pergi," suara Sakura melemah pada akhir kalimat.

Naruto berhenti. Ia meneguk jus kaleng yang isinya tinggal sedikit lalu berbalik menghadap Sakura,

"Tidak. Dan kau bisa pergi…sejak awal aku tidak pernah memintamu untuk tinggal."

Sakura terkesirap, ia melihat wajah Naruto yang kaku dan tidak menunjukkan tanda-tanda sedang bercanda atau hanya menggertak. Wajah Naruto ketat. Mata birunya menghujam Sakura sampai ke ulu hati. Sakura membisu. Hening sekali. Sampai-sampai Sakura merasa bisa mendengar derit gesekan tempurung lututnya sendiri.

"Kau bersikap seolah-olah ada yang menahanmu pergi. Aku tidak melakukannya, kau bebas pergi. Jangan membebani dirimu sendiri. Aku serius. Berhenti berjanji yang tidak-tidak karena aku bosan mendengarnya. Jangan menguntitku terlalu sering karena aku juga sudah bosan. Hari ini jangan menguntitku, aku mau bersantai dan nonton TV."

Naruto akan melangkah lagi sebelum Sakura menahan lengannya,

"Apa perhatianku selama ini tidak ada artinya bagimu?"

"Kau tahu jawabannya."

Naruto melenggang pergi meninggalkan Sakura yang bersandar pada dinding dan menangis tanpa suara.

.

.

Naruto merutuki dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia berkata seperti seorang bajingan kepada seorang gadis ceria yang mengidolakan seorang pemuda? Beberapa kali kepala kuning Naruto melongok untuk memastikan apakah Sakura masih berada di dapur, atau apakah gadis itu menangis? Seberapa banyak ia menyakiti gadis itu? Tapi sayangnya, Sakura tidak pernah mengeluh atau menangis di depannya hanya sekedar untuk memprotes perilaku kasarnya. Gadis itu juga tidak pernah memberikan tamparan atau pukulan kepada Naruto. Gadis bodoh macam apa yang akan menunggunya selama ini?

Setelah berdebat dengan dirinya sendiri, Naruto memutuskan akan kembali ke dapur dan memeriksa apakah Sakura masih berada di dapurnya. Tapi matanya menangkap sesuatu yang lain. Samar-samar helaian merah muda sedang bergerak menjauhi rumah Naruto.

Naruto mengintip dari jendela depan, Sakura sedang berjalan dari bagian belakang rumahnya sambil menenteng sebuah bunga daisy. Sakura terlihat memandangi bunga daisy itu dan menghitungnya satu persatu kelopaknya kemudian menatap langit. Ia mengangkat setangkai daisy dan mengarahkannya ke matahari seperti sedang membandingkan setangkai bunga kecil dan matahari. Naruto mengalihkan pandangannya seraya menutup gorden jendela. Ia membanting remote TV dan menendang pinggiran sofa,

"Sialan."

Sementara itu Sakura memandangi Bunga Daisy yang serbuk sarinya mulai menghilang karena ia mengayunkan bunga itu terlalu sering. Warna kuning pada tengah bunga Daisy sudah pudar. Bunga itu mengingatkan dirinya pada Naruto. Daisy, bunga yang mekar di musim semi bersamaan dengan bunga Sakura.

Ia bohong jika mengatakan bahwa hatinya tak tersakiti mendengar perkataan Naruto yang demikian. Ia juga ingin menangis bahkan menampar wajah Naruto sesekali untuk memuaskan rasa kecewanya tapi lagi-lagi ada yang menahannya. Perasaannya. Mana mungkin ia melukai Naruto kalau ia sudah berjanji akan menjaga Naruto. Ia tidak bisa melakukannya.

Tapi…

Kenapa rasanya sakit sekali? Kenapa sulit sekali bertahan di sisi Naruto?

Perasaannya terasa dicabik-cabik, diremas sekuat tenaga saat ungkapan perasaannya ditolak begitu saja. Kata-kata Naruto layaknya belati yang mengoyak dirinya. Terlalu kejam, terlalu sering.

Sebulir air mata lolos dari kelopak mata Sakura, mengalir melewati pipinya dan jatuh ke tanah basah. Gadis itu cepat-cepat mengusapnya, mengusir air mata tak tahu diri yang membuat dirinya menjelma menjadi gadis cengeng. Sakura mengenggam bunga daisy yang ia petik di belakang rumah Naruto erat, "Jadi seperti itu pemikirannya padaku?" Sakura membelai telapak tangannya sendiri, membayangkan bekas-bekas barut halus yang pernah ada di sana. Sakura memandang langit lagi. Begitu biru. Seperti Naruto…

Cahaya matahari menyakiti mata Sakura, memberinya seberkas silau yang tanpa sengaja mengarahkan Sakura untuk menemukan Naruto yang memperhatikannya dari jendela. Sakura melambai dengan senyum yang langsung melebar otomatis.

Naruto menutup gorden jendela dan menghilang dari bingkai jendela.

Senyum Sakura pudar dalam dua detik. Perasaan sesak menderanya. Begitu sesak. Rasanya sebesar apapun Sakura berusaha, Naruto akan selalu memalingkan diri darinya. Menciptakan jarak tak kasat mata yang semakin lama semakin lebar. Semakin lama Sakura tidak bisa menjangkaunya.

Sakura menarik nafas panjang. Air mata yang belum kering di pipinya harus rela dialiri oleh air mata baru yang tak kalah deras. Sakura menggigit bibir, ia merasakan panas yang aneh menyelimuti tubuhnya. Gadis bermata emerald itu berlari ke rumahnya dan tanpa sadar menjatuhkan bunga daisy-nya. Bunga daisy yang serbuk sarinya telah pudar. Tergeletak tak berdaya di atas tanah basah.

Kau semakin menjauh seperti angin dan debu

Aku …

Tidak bisa mengejarmu


Naruto menyumpal telingannya dengan kapas kecil untuk mencegah kerusakan telinga yang akan disebabkan omelan ibunya tentang sisa kari yang tumpah di dapur semalam. Ia bahkan tidak bisa berkonsentrasi untuk memakai sepatu.

"Kenapa kau belum juga berangkat, Naruto?"

"Uh? Aku sedang memakai sepatu," Naruto berdiri dan mengambil tasnya. Dahinya mengernyit tidak mengerti. Tidak biasanya ibunya menyuruhnya berangkat tanpa embel-embel 'Sakura sudah menunggumu'. Sakura juga biasanya akan menerobos masuk ke rumahnya dan mengoceh panjang lebar tentang menu sarapan dirumahnya. Namun, hari ini lain. Seharusnya Naruto bisa bernafas lega tapi ada perasaan aneh yang menghinggapinya. Seperti ada celah yang ditinggalkan seseorang begitu saja.

"Sakura…dia tidak datang kemari?"

Kushina menatap Naruto dengan pandangan yang sulit diartikan, pandangan itu seperti ingin melubangi wajah Naruto. Intens. Namun, hal tersebut hanya bertahan sesaat karena Kushina lebih memilih untuk kembali melanjutkan kegiatan berberes rumahnya.

"Tidak tahu. Kau juga tak akan peduli kalaupun dia tidak kemari kan?!"

Kata-kata Kushina tidak terdengar seperti sebuah pertanyaan tapi pernyataan bagi Naruto. Diam-diam kata-kata tersebut menohok Naruto. Kushina memang tidak pernah mendorong Naruto untuk membalas perhatian yang diberikan Sakura tapi sindiran kecilnya kerap kali tepat sasaran. Mengenai hati Naruto yang keras.

"Hanya penasaran. Apa yang membuatnya berhenti bertingkah gila seperti sebelumnya. Jika aku tahu mungkin aku bisa mencegahnya menghampiriku setiap hari," Naruto tersenyum sinis sembari menyisiri rambut dengan jemari panjangnya.

"Jika kau seperti ini terus Sakura-chan lambat laun akan benar-benar meninggalkanmu," Kushina bernafas kasar, "lagipula, aku juga tidak ingin dia berakhir denganmu. Pemuda dingin dan gadis manis sepertinya? Membayangkannya saja membuatku merinding. Lihat! Bulu tanganku berdiri!" Kushina menyodorkan tangannya ke arah Naruto.

"Ibu berlebihan. Siapa berakhir dengan siapa? Itu terlalu jauh. Biasakan berpikir dengan sederhana. Ketika sudah menemukan dasarnya masukkan ke rumus yang lebih kompleks," Naruto mencapai pintu, memberikan senyuman angkuh pada ibunya sendiri lalu melenggang pergi.

"Dasar bocah kurang ajar. Kemari kau!" Kushina mengejar Naruto sampai ke ambang pintu tapi nyatanya Naruto sudah berjalan melewati pagar rumah dan menuju stasiun."Bagaimana bisa aku yang baik hati ini memiliki anak laki-laki dengan perangai dingin seperti dia. Ya Tuhan, apa dosaku di masa lalu?" keluh Kushina. Sedetik kemudian ia terlonjak karena telepon rumahnya berbunyi, "Moshi-moshi. Oh…Sakura diantar oleh Kizashi-san? Tidak masalah. Naruto juga sudah berangkat. Semoga Sakura sembuh. Hai! Selamat pagi."

.

.

.

Sakura mengenakan syal berwarna merah cerah dan meletakkan kepalanya ke meja. Ino duduk disampingnya dengan roti isi yang mengganjal di mulutnya.

"Seriously? Flu di musim semi?"

Ino menggigit roti isinya dan duduk dengan kaki bersilang. Mata aquamarinenya terus menatap wajah Sakura yang kusam dengan hidung merah serta lilitan syal di leher,

"Dia ingin aku pergi. Naruto-kun ingin aku berhenti menganggunya. Aku…terus memikirkannya…aku tidak bisa konsentrasi…aku baru mengerjakan sepertiga tugas prakarya kita."

Sakura terus berkata dengan tatapan kosong. Suaranya memang sedikit sengau.

Bibirnya kering dan matanya terasa panas. Ia memang sakit. Sekarang tenggorokannya sakit dan ia ingin tidur di jam istirahat ini.

"Badanmu lumayan panas. Kenapa kau masuk sekolah sih?"

"Pagi ini aku membiarkannya berangkat sendiri. Dia…pasti senang karena aku tidak merusak paginya. Aku ingin tidur dan sialnya aku harus tetap berangkat karena hari ini ada ulangan. Hah, malangnya aku," Sakura meregangkan tubuhnya dan mencoba untuk duduk dengan posisi normal. Kepalanya berdenyut nyeri. Pagi ini ia baru saja menyelesaikan ulangan Matematika dengan kepasrahan penuh. Pikiran tentang Naruto tidak bisa membuatnya tidur semalaman, ia lupa belajar dan flu-nya semakin parah.

"Disaat sakit pun kau tidak bisa berhenti memikirkannya. Aku ragu kau bisa hidup tanpa dia sekarang," Ino menopang kepalanya dan merapikan poni Sakura yang berantakan, "Hidupmu menyedihkan. Kau tahu?"

Sakura mengamininya dengan sebuah anggukan. Ia menggosok hidungnya yang sudah merah.

"Dia sudah menyuruhmu untuk menjauh. Kau tunggu apalagi?"

Sakura menghembuskan nafas lewat mulutnya dan menaruh kepalanya ke atas meja lagi. Ia berniat untuk tidur tapi waktu istirahat sekarang hanya tersisa sepuluh menit, "Itu sulit sekali, kau tahu sendiri aku sangat menyukainya."

"Tidak. Tidak! Kau sudah membuat langkah besar. Kau berangkat sendiri, tidak menyiapkan bento untuknya. That's great," Ino tersenyum lebar.

"Kepalaku pusing jadi aku tidak sempat membuat bento. Apa dia sudah sarapan ya?"

Ino menepuk dahinya sendiri. Ia tidak habis pikir dengan sahabatnya itu. Mantra jenis apa yang Naruto berikan kepada Sakura sehingga Sakura bisa begitu lengket, begitu suka, dan begitu keras kepala jika menyangkut hal-hal yang berbau Naruto.

"Demi Tuhan, berhenti berpikir tentang Naruto bodoh itu. He is such of evil and you know that. Why you still don't understand? He hurt you…everytime," Ino menyentil dahi lebar Sakura, "Kau tidak berpikir kalau sebenarnya dia sudah pacar?"

Sakura membeku. Ia tidak pernah memikirkan kemungkinan itu. Selama ini ia hanya berfokus pada kesendirian Naruto. Naruto tidak pernah terlihat bersama seorang perempuan pun namun tidak menutup kemungkinan jika Naruto memang sudah memiliki pacar. Naruto itu tampan dan tidak ada orang tampan di Jepang yang tidak memiliki pacar.

"T-Tidak mungkin," Sakura menegakkan kepala lalu melongo seperti idiot baru, "Selama ini Naruto-kun tidak pernah terlihat dengan gadis lain. Aku tahu semua tentang dia."

"Ayolah. Kau hanya menghibur diri sendiri. Walaupun Naruto sangaaaat menyebalkan tapi tidak ada yang bilang kalau dia jelek," Ino mendekatkan wajahnya kepada Sakura sementara Sakura yang merasa terintimidasi segera memundurkan kepalanya, "Kau mengerti maksudku kan? Tidak baik mengejar laki-laki yang sudah punya pacar lho. Berhenti saja, huh…huh?" Jarak hidung Ino tinggal beberapa senti saja dari hidung Sakura, ia kemudian menyenggol lengan Sakura dengan lengannya sendiri.

"Aku tidak akan percaya kecuali aku melihatnya sendiri. Aku harus memastikannya," Sakura mengangguk dengan mata berbinar-binar seperti sudah menemukan sebuah pencerahan.

Ino menggeleng dan menggigit bibir merahnya sendiri.

"Penolakan kemarin…aku harus memastikannya….apa karena dia memang agak sedikit kejam" Sakura membuat celah antara ibu jari dan jari telunjuknya sesedikit mungkin. Ino mengangkat alisnya, "atau karena dia memiliki seorang pacar?!"

Ino mendesis dan menjauhkan wajahnya dari wajah sahabatnya yang mulai sekarang patut ia juluki Nona Positive Thinking. Sakura benar-benar membuat Ino gemas dengan segala tingkah keras kepalanya.

"Kau harus membantuku. Selidiki apakah dia sudah punya pacar. Okay?" Sakura menjabat tangan Ino secara sepihak dan meregangkan tubuh ke kanan dan ke kiri.

"Kau itu seperti anak ayam, Forehead. Meskipun sudah diusir berkali-kali tapi kau akan kembali terus-menerus."

"Jika aku ini adalah anak ayam, maka aku adalah anak ayam warna pink yang manis dan menggemaskan," Sakura tersenyum. Ia bergaya dengan meletakkan kedua telunjuknya ke pipi.

"Aku menyesal mengatakannya," cibir Ino,

"Sakura!"

Ino menghentikan Sakura yang nampaknya hendak meninggalkan bangkunya. Sakura membenahi syalnya lalu menatap Ino,

"Ya?"

"Bagaimana jika Naruto memang sudah memiliki pacar?"

Sakura tersenyum lembut pada Ino. Hidungnya mampat parah dan pertanyaan Ino menyentil hatinya. Sakura meremat ujung syalnya, pikirannya melanglang pada seseorang di kelas lain,

"Oh itu…Aku akan berhenti," Sakura memberi jarak pada kata-katanya, "Tapi sebelum itu terbukti aku akan terus mengejarnya, berada di sisinya. Seperti itulah perasaanku padanya."

"A foolish love," celetuk Ino. Di saat-saat tertentu Ino ingin menyeret Sakura pergi dari perasaan bodohnya kepada seorang pemuda yang bertahun-tahun mengabaikannya, "It's called foolish love."

Sakura memberikan senyum pahit kepada Ino sebelum benar-benar melangkah keluar dari kelas,

" Love always like that, Ino. Always."


Naruto memandangi langit melalui jendela di sampingnya. Semilir angin menembus celah jendela dan menghembuskan kesejukan tersendiri. Naruto menghela nafas. Ia sengaja tinggal di kelas dan membiarkan Kiba dan Sai pergi ke kantin tanpa dirinya. Ia lapar. Sangat. Tapi ia tidak ingin kemanapun.

Langit di bulan April memang begitu biru. Cerah. Seperti senyuman seorang gadis yang selalu meneriakkan namanya penuh semangat. Gadis yang biasanya akan datang ke kelasnya pada jam istirahat dan memaksanya untuk memakan bento yang harus Naruto akui memang enak. Kemana gadis itu? Tidak tahukah dia jika Naruto sudah sangat lapar.

Naruto menampar pipinya sendiri.

Bodoh

Kenapa sekarang ia memikirkan Sakura?

'Ini pasti karena aku kelaparan. Pikiranku jadi melantur kemana-mana,' begitu pikir Naruto.

"Oi! Naruto! Kau masih disini? Mana bentomu?" Kiba datang sembari memainkan tusuk gigi. Agaknya Kiba sedikit terkejut melihat Naruto yang lesu dan tidak bersemangat.

"Bento apa?" Naruto menyahuti Kiba tapi wajahnya sama sekali tidak berpaling dari jendela.

"O-bento. Dari gadis pink itu. Haruno Sakura. Penggemar beratmu yang gila," Kiba tergelak keras. Ia menghempaskan bokongnya di bangku di depan Naruto.

"Dia tidak kesini. Aku sudah menyuruhnya pergi," jawab Naruto dengan nada bicara mendayu. Ia seperti tidak ada tenaga.

"Benarkah?" Kiba menggebrak meja, "Kau menyuruhnya pergi? Tidak kusangka kau memang brengsek. Aku heran kenapa manusia kejam sepertimu digilai banyak orang?" Kiba berdecak setengah kagum setengah kesal.

Naruto memutar bola matanya. Tanpa menjawab pun ia tahu kenapa banyak gadis yang mengejarnya. Karena ia tampan. Ia tahu kelebihannya dan ia cukup tahu bagaimana cara menggunakannya. Kiba sialan itu berusaha untuk memancing tawa Naruto tapi mood Naruto yang sedang buruk membuatnya berpikiran negatif terus.

"Kau tidak bermaksud untuk membuatku memuji diriku sendiri kan? Aku bukan tipe orang narsis," Naruto mendesis masih dengan palingan wajah.

"Kau tahu ya rupanya?" Kiba tergelak lagi, "Lalu kenapa kau begitu murung, bocah tampan?"

"Naruto murung karena Sakura tidak datang memberinya bento."

"Shikamaru?"

Naruto mencari sumber suara yang mengatakan hal menyebalkan itu. Ia mendapati pemuda tinggi dengan rambut nanas berdiri diambang pintu. Diam-diam Naruto mengamati jam dinding. Istirahat masih tersisa lima menit dan sayangnya anak-anak belum kembali ke kelas. Naruto enggan sekali bertemu dengan Shikamaru kalau dirinya sedang berada di situasi seperti ini. Bad mood. Sangat. Karena Shikamaru adalah satu-satunya orang yang bisa membaca pikirannya yang sialnya selalu tepat.

"Kenapa kau kesini? Kelasmu di sebelah. Ini kelas 3-B. Punyamu 3-A," Naruto menunjuk tembok di depannya, ia bermaksud menunjuk kelas Shikamaru yang berada di sebelah kelasnya, "Kiba akan menunjukkan jalan jika kau tersesat."

Naruto menenggelamkan kepalanya lagi ke bantalan tangan yang kelihatannya terlanjur melekat pada meja.

"Jangan mulai menjadi brengsek. Aku tidak akan kemari jika saja kau datang ke ruang klub dan ikut rapat rutin seperti biasanya. Mendokusei," Shikamaru mengorek sebelah telinganya lalu tersenyum kecil. Ia kemudian mengalihkan pandangannya kepada Kiba.

"Shikamaru, a-aku sudah memberi tahunya. Dia bahkan menolak ajakanku ke kantin. Sungguh. Jangan memandangku seperti itu. Kau membuatku takut," kekikukan tergambar jelas di wajah Kiba. Harus Kiba akui Shikamaru bisa jadi orang yang mengerikan ketika marah. Meski terlihat seperti orang yang tidak punya semangat hidup tapi Shikamaru bisa melakukan hal-hal yang mengancam masa depan Kiba, tentunya masa depan yang menyangkut akademis dan kelangsungannya di Tim Baseball.

"Aku tahu kau tidak akan bisa memaksanya."

Kiba bernafas lega. Ia tersenyum canggung. Sementara Shikamaru mendatangi Naruto. Bersamaan dengan itu beberapa anak kelas 3-B mulai berdatangan.

"Hah~" Shikamaru menghela nafas, "Akhirnya fase ini datang juga. Pinky sudah menyadari kebodohannya dan memutuskan untuk berhenti."

"Aku yang menyuruhnya berhenti," Naruto capek harus mengatakan fakta ini berkali-kali.

"Tanpa kau suruh pun dia akan berhenti."

"Tunggu sebentar! Bagaimana kau bisa tahu? Bagaimana kau bisa tahu dia tidak datang?" Naruto menegakkan kepalanya. Mata birunya melebar, menatap Shikamaru dengan binar keterkejutan.

"Aku belum mengubah hobiku menjadi penguntit. Jika kau mau tahu," Shikamaru berhenti di samping tubuh Naruto, "Aku bertemu dengannya saat berangkat sekolah tadi. Dia diantar, jelas kalau kalian tidak bersama. Hari ini pergelangan tangannya tidak memerah seperti biasanya, artinya dia tidak membuat bento," Shikamaru berhenti berbicara. Ia memberikan kesempatan bagi dirinya sendiri untuk menikmati sebuah lollipop. Buku-buku jari Naruto mengerat, "Hidungnya merah dan dia pakai syal yang artinya dia sakit. Pasti Flu. Dan aku mengasumsikan pagi ini dia bangun dengan kepala pusing dan terlalu sakit untuk membuat bento untukmu yang pasti akan melempar bentonya…kepadaku," Shikamaru mengambil jeda nafas, "seperti biasanya."

"Kau hebat, Shikamaru. Rupanya kau memang orang yang sangat detail," Kiba bertepuk tangan heboh.

"Bagaimana kau tahu soal pergelangan tangan yang memerah itu?" mata Naruto memincing tajam. Shikamaru sekarang terdengar seperti detektif setengah maniak.

Shikamaru menggosok matanya pelan. Nampaknya ia akan menguap, "Selama ini Sakura selalu memasak makanan yang di dalamnya ada bahan-bahan yang harus dimemarkan, ditekan. Dan… Sakura menggunakan tangannya. Oh, kau mana tahu, kau kan jarang makan bento darinya. Maafkan aku. Sesekali otakku ini bisa salah," Shikamaru tidak jadi menguap. Mata malasnya itu sekarang terpancang pada Naruto, intens seperti hendak mengeluarkan sinar pembunuh sama seperti tokoh robot jahat di film-film.

Rahang Naruto mengeras. Apa-apaan ini? Ia diserang rasa bersalah dan Shikamaru datang memperkeruhnya. Naruto rasa Shikamaru ingin balas dendam karena dirinya tidak datang pada saat rapat. Shikamaru sangat jarang berkelahi bahkan nyaris tidak pernah, tapi pemuda bermata sipit itu bisa jadi sangat menyebalkan jika menyerang orang dengan kemampuannya berkata-kata ditambah kemampuan otaknya. Terkadang, ucapannya lebih menyakitkan daripada sebuah bogem mentah.

"Sikapmu ini…apa karena rapat tadi? Kau tahu, aku sedang tidak ingin berkelahi," desis Naruto.

"Aku tahu kau juga tidak punya cukup tenaga untuk berkelahi," Shikamaru akhirnya menguap. Ia menaikkan kedua tangannya ke belakang kepala dan menyangga kepalanya sendiri dengan kedua telapak tangannya. Pemuda itu berbalik, meninggalkan Naruto yang semakin mendapat mood buruk dan Kiba yang terperangah kagum.

Sial.

Naruto melengos. Pemuda bermata biru itu menunjuk ke arah pintu, "Sasuke! Bawa temanmu ini!" ucap Naruto saat melihat Sasuke melewati kelasnya.

"Tidak mau," Sasuke hanya melirik sedikit. Dengan tangan yang dimasukkan ke dalam kedua saku celana membuat pemuda berambut raven itu tampak sangat tampan. Beberapa gadis di kelas Naruto bahkan menjerit tertahan ketika melihat salah satu dari jenius SMA Hagano, Sasuke Uchiha, berhenti di depan kelas mereka.

"Kita lanjutkan pembicaraan kita lain kali. Datang ke ruang klub sehabis sekolah. Aku tidak mau kau ketinggalan informasi," Shikamaru melangkah keluar. Ia sempat menepuk bahu Sasuke, bahkan memasang senyum brengseknya pada Naruto sepersekian detik.

"Wow, harus kuakui, Shikamaru itu keren," Kiba menyisir rambut dengan jemarinya sembari bersiul mantap.

"Apanya yang keren? Jenius brengsek," Naruto menendang mejanya sampai terjungkal. Beberapa murid berteriak sampai ketakutan. Bahkan Kiba pun terkejut. Mereka memandangi sosok Naruto yang sekarang diselimuti oleh aura hitam.

"Kuso."


"Mision one. Mengikutinya pulang sekolah!"

"Kau sudah sering pulang bersamanya. Lagipula kau kan sakit, astaga! Lihat! Lendir kehijauan menjijikan keluar dari hidungmu."

"Ini ingus."

"Terserahlah."

Ino dan Sakura mengendap-endap diantara bangunan-bangunan, tiang-tiang, pilar-pilar dan semak-semak sekolah untuk mengikuti Naruto. Lebih tepatnya menguntit. Ino beberapa kali ingin kabur tapi cengkraman tangan Sakura sekuat besi dan Ino tidak bisa kemana-mana.

"Dia keluar dari halaman sekolah. Berbelok ke arah stasiun," bisik Sakura.

"Dia memang seharusnya ke stasiun. Tunggu! Dia berhenti di depan toko kue sus. Pacarnya seorang penjual kue?" Ino perlahan berpandangan dengan Sakura. Mereka terus memantau gerak-gerik Naruto sampai Naruto memasuki toko kue.

.

.

"Aku lelah," Ino menyandarkan punggunya pada tembok di sampingnya. Sudah dua puluh menit ia menunggu dan Naruto sama sekali belum kelihatan batang hidungnya.

Ino sungguh kagum pada Sakura yang masih dan sangat terlihat bersemangat layaknya orang sehat. Ino tidak pernah melihat Sakura lesu kecuali saat sakit. Sakura memang aneh.

"Sebenarnya dia mau beli kue atau menjadi batu disana?"

"Sssttt…diamlah. Kita bisa ketahuan," Sakura meletakkan telunjuk tangannya di depan bibir. Gadis itu mencoba melangkah mendekati toko. Ia cukup terkesirap ketika mendapati seorang wanita tengah membalik papan 'buka' menjadi 'tutup'. Kenapa tokonya tutup? Padahal Naruto belum keluar.

"Permisi Nona! Nona! Aku mau tanya!" Sakura berlari menghampiri perempuan yang kini membuka pintu toko dengan raut wajah heran, "Kenapa kau menutup tokonya? Pelanggan….pelanggan…maksudku tadi ada seorang anak laki-laki, berambut kuning dengan model spike seperti ini," Sakura menggambar bentuk rambut Naruto di udara," masuk ke sini dan sampai sekarang dia belum keluar."

"Oh…anak itu?! Dia hanya bertanya dimana pintu belakang dan minta izin lewat dari pintu belakang kami karena ada dua maniak yang mengikutinya."

"Apa?" Sakura menggigit jari.

Jadi Naruto sudah mengetahui keberadaan dirinya. Itulah sebabnya Naruto berjalan begitu cepat dan membodohinya dengan trik toko kue.

"Kau juga diikuti maniak?" tanya perempuan di depan Sakura.

"Tidak. Sama sekali tidak. Aku tidak mengenal maniak manapun dan tidak berniat berurusan dengan salah satu dari mereka," Sakura tertawa canggung. Ia jelas mengetahui bahwa maniak yang dibicarakan Naruto adalah dirinya dan Ino.

"Ngomong-ngomong, terima kasih. Maaf merepotkanmu," Sakura membungkuk minta maaf. Ino yang berada di belakangnya menaikkan alis dan berkata terima kasih dalam bahasa Inggris.

Sekarang mereka tidak tahu harus kemana. Sakura meyakini jika Naruto sudah naik kereta ke Edogawa beberapa menit yang lalu.

"Misi pertama untuk sementara ini ditunda. Jadwal keretaku lima belas menit lagi."

Ino mengangguk mengerti. Akhirnya pengintaian yang sia-sia itu berakhir. Ino lelah. Dia sudah mengatakannya kan?

"Jangan mengajakku lagi lain kali," Ino berbalik sembari mengibaskan rambut panjangnya.

"Aku tahu kau tidak akan tega membiarkanku berjuang sendiri. Sampai ketemu besok!" Sakura berlari sambil berteriak.

Ino tertawa kecil, mata aquamarinenya melirik, ia menangkap sosok mungil berambut pink sedang berlari dengan syal berkibar memanjang.

"Sampai ketemu besok, jidat."

.

.

.

.

.

Matahari sudah turun ke peraduannya beberapa menit yang lalu, meskipun begitu sisa-sisa cahaya kemerahan masih betah menggantung di cakrawala dan menunggu malam benar-benar mengusirnya. Anjing-anjing mulai melolong sebagai tanda bahwa malam berangsur datang. Di antara lolongan anjing itu berjalanlah seorang gadis dengan syal yang membungkus lehernya sampai ke dagu. Sweaternya sedikit basah karena dirinya harus berhimpitan dengan penumpang kereta lain yang rata-rata adalah pekerja kantoran yang juga ingin cepat-cepat pulang ke rumah masing-masing. Dan sekarang ia harus berjalan dari stasiun ke rumahnya. Gadis itu sengaja tidak memberitahu ayahnya untuk menjemput karena ayahnya harus lembur hari ini di kantor dan ibunya ada panggilan pekerjaan.

Gadis yang tak lain adalah Sakura, mengeratkan syalnya. Suhu tubuhnya naik lagi, bahkan sekarang nafasnya terasa panas, matanya pun merasakan hal yang sama. Sakura berjalan tertatih, entah kenapa lututnya nyeri sekali. Mungkin benar jika ibunya sering mengatakan kalau Sakura kena reumatik di usia muda karena kebiasaan mandinya.

Jarak rumahnya dan stasiun sekitar 500 meter. Saat dirinya baru menempuh setengah perjalanan, Sakura melihat pemuda dengan rambut spike warna pirang sedang bersandar pada tembok pagar salah satu rumah orang yang Sakura tidak terlalu kenal siapa pemiliknya.

Sakura setengah berlari untuk menyambangi orang yang ia yakini adalah Naruto. Walaupun sekarang sudah gelap dan hanya ada penerangan dari lampu jalan tapi Sakura yakin betul jika sosok yang dilihatnya adalah Namikaze Naruto. Sakura tidak mungkin salah. Ia sudah menghabiskan bertahun-tahun hidupnya untuk memperhatikan Naruto. Jadi, tipuan gelap seperti ini tidak akan bisa mengelabuhinya.

Jarak Sakura dan Naruto tinggal beberapa puluh meter lagi. Tiba-tiba senyum mengembang Sakura menghilang ketika ada seorang perempuan seusianya berambut pirang menghampiri Naruto dari balik belokan. Gadis pirang itu tersenyum sembari mengamit lengan kekar Naruto. Rahang Sakura kaku. Langkahnya semakin lama semakin pelan sampai jaraknya dan Naruto tinggal 10 meter.

"Naruto-kun?!"

Naruto dan si gadis pirang sama-sama menoleh. Bedanya, si gadis menampakkan kerutan di dahinya yang berarti ia sedang heran dan berusaha mengidentifikasi siapa gadis pink yang memanggil Naruto. Sedangkan, Naruto menampakkan sebuah ekspresi seperti ingin mengutuk.

"Oh, kau baru pulang?" tanya Naruto dengan suara datar. Ia melepas pegangan gadis pirang di sampingnya.

Sakura tertawa getir dalam hati. Naruto masih berpura-pura jika ia tidak tahu bahwa Sakura menguntitnya tadi. Gadis bermata emerald itu kini memandangi gadis pirang yang tidak pernah Sakura lihat sebelumnya dan Naruto. Matanya panas, "Iya, aku baru saja pulang. Kenapa kau masih disini?" Sakura merutuki dirinya. Ini bukan dirinya. Ucapan basa-basi seperti ini sama sekali bukan dirinya.

Naruto sama sekali tidak menjawab. Pemuda itu malah menyuruh si gadis pirang untuk berjalan lebih dulu sementara dirinya masih berhadapan dengan Sakura yang sakit dan kelihatan begitu letih.

"Dia…pacarmu?" Sakura memberanikan diri untuk bertanya. Matanya bersinggungan dengan mata Naruto yang tajam dan biru.

"Tidak- Tidak usah dijawab. Tidak apa-apa. Aku tidak terlalu penasaran-"

"Itulah sebabnya aku menyuruhmu untuk berhenti. Kau tahu aku tidak menginginkanmu."

Siapa yang menyayat Sakura sekarang? Karena ia merasa ada beberapa potong daging yang disayat dan diambil paksa dari tubuhnya.

"Tapi aku ingin berada di samping Naruto-kun. Aku menyukaimu- tidak- aku mencintaimu. Sungguh!"

Mata Sakura sudah berair. Kegelapan ini sama sekali tidak bisa menutupi kilau air di matanya dan Naruto dengan jelas dapat melihatnya. Naruto tidak bodoh.

Sakura selalu bilang bahwa dirinya menyukai Naruto tapi baru kali ini ia menyatakan cinta di hadapan pemuda pirang itu. Di bawah lampu jalan temaram yang berbunyi aneh seperti akan mati, di bawah kungkungan langit malam di seluruh Tokyo, Sakura mengatakannya.

Naruto tertawa, terus tertawa sampai tawa itu benar-benar menjadi keras. Naruto terbahak di depan wajah Sakura. Hati Sakura ciut. Ia tidak menyangka kalau Naruto akan tertawa mendengar pernyataan cintanya. Matanya kembali panas, nafasnya juga panas. Ia sakit, tapi ada sesuatu yang lebih menyakitkan dari sakitnya sendiri. Gadis itu berusaha menutup wajahnya yang ia yakin sudah memerah dengan syal.

"Cinta? Menurutmu apa itu cinta?" tawa Naruto tiba-tiba berhenti. Kepalanya maju ke depan, tepat beberapa senti dari wajah Sakura, "Katakan padaku, apa itu cinta? Kasih sayang? Suka? Tertarik? Katakan! Kau mencintaiku kan?"

Sakura menelan ludah, rahangnya sudah kebas. Ada sesuatu di dadanya yang menyentak ingin keluar. Perutnya serasa diaduk oleh sesuatu yang menjadikannya begitu berdebar sekaligus sakit. Sakura membuka mulut tapi tidak ada sepatah kata pun yang keluar. Ia lebih memilih menangis daripada menjawab pertanyaan dari Naruto.

Gadis pirang yang sebelumnya bersama Naruto sudah menghilang di belokan dan Naruto sepertinya menyadari hal tersebut. Maka dengan sedikit mendecakkan lidah, pemuda tinggi itu mundur dan hendak berbalik pulang, "Sudahlah. Aku tidak punya waktu untuk meladeni cinta seperti itu."

Naruto mendengar suara tangis samar-samar diudara, membelai telinganya sangat lembut. Pemuda itu memejamkan mata. Sebelum ia pergi, sepasang tangan mengenggam jari manis dan kelingkingnya. Sedikit gemetar. Tremor itu berlangsung untuk beberapa detik.

Naruto berbalik dan mendapati wajah Sakura sudah berlumuran dengan air mata. Mata gioknya sekarang kabur oleh air asin yang keluar dari matanya dengan deras. Sakura menggigit bibirnya dan memandang kedua bola mata Naruto tanpa ragu,

"Love is ..,"

Sakura mengambil nafas sebanyak yang ia bisa. Ia tidak akan mengatakannya lagi.

"Love is what I to do alone."

.

.

.

To be Continue…..

.

.

.

Well, aku rasa hurt nya kali ini ga terlalu kental. Gimana dong? Salahkan jari-jariku yang mengetik fic chapter ini begitu saja. Biar sedih silakan dibaca sambil dengerin lagu galau kkkkk. Seperti yang kalian lihat, Sakura disini bukan tipe orang yang menyerah meski diperlakukan jahat (Kayaknya sama seperti karakter aslinya sih). Apakah Naruto kurang kejam? Wkwkwk. Sebelumnya maaf aku mau bikin Shikamaru agak keren di fic ini hehe. Abis Cygnus suka sama Shika wkwk.

Dan kalian bisa tebak siapa cewek pirang itu?

And big thanks to everyone who supported me. Itu sangat berarti buat Cygnus. I wrote this fic because of you guys. And I hope y'all will support me and give me some ideas or critic to make this fanfic more perfect.

Ya walaupun ga terlalu banyak yang suka aku tetap update wkwk, soalnya ini cerita udah ngeganjel banget di otak aku

So, what do you think about this chapter? Tell me please! Because I am waiting you ^^ Iya! Kamu!

Kecup sayang

Cygnus Jessenia 3