Warning : Drama banget, Bertele-tele, Typo(s), menye
Boleh suka boleh tidak, setidaknya baca dulu
Selamat membaca, sobatku
Cerita ini mungkin tidak akan sama dengan cerita ledakan bintang atau cerita tentang gerombolan ikan di laut yang berenang bersama kawanannya. Cerita ini mungkin tidak akan menawarkan obat pada barut dalam yang digaruk bertahun-tahun. Tapi hidup selalu punya dua sisi. Dua-duanya terang dan gelap, tergantung dari mana dirimu memandang.
It's up to you
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
.
.
.
(I'm) Waiting You
.
.
.
4. As Flowers bloom and Fall
Semua selalu punya akhir
Musim semi yang setengah beku pun akan menghilang
Digantikan oleh teriknya mentari dan angin yang menyapu sakura-sakura yang bergelayut di dahan-dahan kurus
Semburat merah jambu yang menari di langit bersama gulungan awan sama seperti anak perempuan yang terus memandangiku dari jauh semenjak dulu
Dia terus memandangiku, di hari-hari dingin, di malam musim panas maupun saat hujan di musim gugur
Dia, seperti kolibri biru yang mendengung mengelilingi bunga kosmos
Dan aku adalah pengecut, orang tolol yang juga memandanginya dari kejauhan
Namikaze Naruto.
.
.
.
Aku tidak ingat kapan bertemu dengan seorang gadis kecil dengan rambut sewarna arum manis itu. Aku lupa itu hari apa. Gadis kecil itu bergelayut pada lengan ayahnya dan mengajak ayahnya berbicara terus menerus. Aku melihatnya dari jendela.
Ibu bilang akan ada tetangga baru yang akan menempati rumah di sebelah kami. Rumah itu hampir selalu kosong. Aku tidak ingat bahkan tidak tahu siapa pemiliknya. Beberapa bulan sekali akan datang sepasang pria yang menanyai ibu tentang rumah itu dan meminta tolong untuk menjaganya. Maka, setiap bulan, ayah dan ibu akan menyempatkan diri untuk membersihkan rumah itu. Jika mereka sedang bersih-bersih, aku akan menyelinap ke sebuah kamar di rumah itu lalu ibu akan berteriak agar aku tidak mengotori dinding dengan melempar bola baseball sembarangan.
Karena rumah itu kosong, aku biasa bermain dengan Yahiko dan anjingnya, Momo, di halamannya, juga dengan Karin dan Shion. Kami bermain freesbe.
Yahiko akan datang pada setiap akhir pekan, berlari dengan semangat sambil memegang kekang Momo, anjing betina peach yang di temukannya di antara lantana dan suplir liar di Chiba. Sedangkan Shion yang tinggal 3 blok dari rumahku selalu datang sambil membawa setoples kue yang selalu berganti rasa setiap minggunya, dan Karin, kakakku, adalah anak perempuan cerewet yang terus memperhatikanku. Ia akan ikut bermain karena khawatir kalau aku akan makan tanah lagi seperti sebelum-sebelumnya.
Pada usiaku yang ke-5, ayah membelikanku tongkat baseball mini dan karena terlalu girang aku memukul benda apapun yang ada di batas jangkauanku. Termasuk kacamata Karin. Ia sampai harus berganti kacamata sebanyak 3 kali dalam setahun karena ulahku. Ibu akan marah dan menjewer telingaku sampai merah tapi Karin hanya akan tertawa dan berkata bahwa ia senang akan dapat kacamata baru.
Satu-satunya emosi yang kuingat dari Karin adalah keceriaannya dan bagaimana caranya memarahi Yahiko. Ia bisa mengejar Yahiko sampai ke ujung blok lalu menyeret anak laki-laki yang lebih muda setahun darinya itu ke halaman rumah kami.
Karin hampir selalu tertawa. Dan anak itu mengingatkanku padanya.
Maka pada saat ibu memanggilku keluar untuk memperkenalkan diri, aku hanya bisa memasang tampang dingin.
Emosiku sudah ikut mati bersama bersama Karin dan Nenek. Mereka membawanya pergi ke dalam kubur.
Aku Namikaze Naruto.
Hobiku bermain baseball
Hal yang kubenci adalah menunggu ramen matang dan Haruno Sakura
Hal yang kusukai adalah ramen dan Haruno Sakura.
"Tangkap, Momo! Tangkap!" seorang anak laki-laki berambut orange melempar benda plastik hijau ke arah anjingnya, Momo. Ia tertawa melihat si anjing bersusah payah mengejar freesbe.
"Oi, oper padaku!" seorang anak perempuan berambut merah menyala melambaikan kedua tangannya ke udara. Anak itu melompat tinggi-tinggi agar dapat menangkap freesbe milik sepupunya. Selanjutnya, ia mengopernya kepada anak berambut pirang yang sedang bertopikan ember merah. Anak itu memegang sekop kecil dan tak sadar ada benda melayang ke arahnya. Anak itu tengah sibuk dengan gundukan pasir yang sudah ia bentuk menyerupai gunung. Karena tidak awas freesbe hijau itu akhirnya menghantam kepala si bocah pirang.
"Naruto-chan!" pekik si gadis kecil saat melihat Naruto jatuh tersungkur karena terkejut, "Apa kau terluka? Mana yang sakit? Biar aku lihat," kata si anak perempuan agak panik saat mendapati wajah Naruto begitu merah dan berlumuran pasir. Ia sedang berusaha mencopot ember merah dari kepala Naruto.
"Aku tidak apa-apa, Karin-nee," Naruto mengusap kepalanya sendiri.
Karin tersenyum lembut dan ikut mengusap kepala Naruto. Gadis berambut merah itu mengambil freesbe yang sedang diendus oleh Momo, anjing Yahiko.
"Ini, sekarang giliranmu yang melempar," kata Karin sambil tersenyum.
Mata bulat Naruto berbinar. Meski ayah dan ibunya melarangnya untuk berlarian di sepanjang pantai ataupun main bersama Yahiko dan Karin yang notabennya suka sekali menjahilinya namun ia sama sekali tidak bisa menolak tawaran Karin kali ini. Ia juga ingin main lempar freesbe sejak tadi tapi ibunya selalu menahannya dan malah menyodorinya ember dan sekop mainan.
"Eung," Naruto mengangguk semangat. Ia menyambar freesbe dari tangan Karin, mengabaikan gonggongan Momo. Dengan kekuatan penuh Naruto melempar freesbe tersebut ke arah Yahiko yang sedang bermain air di bibir pantai. Mumpung ibunya sedang sibuk menyiapkan makanan dan ayahnya sedang pergi membeli soda.
Yahiko berteriak kalau lemparan Naruto terlalu kuat. Freesbe hijau itu kini terombang-ambing bersama ombak. Naruto kecil mencebik dan hendak melangkah ke bibir pantai namun Karin mencegahnya. Gadis berkacamata itu menggeleng pelan. Ia tidak akan membiarkan Naruto untuk mendekat ke pantai pasalnya adiknya itu belum terlalu mahir berenang.
Maka sebagai pihak yang lebih tua, Karin berlari ke bibir pantai dan sempat menepuk pundak Yahiko. Ia menyusuri pantai dan berusaha menggapai freesbe yang kini semakin ke tengah.
Naruto menggigiti kukunya dan menjatuhkan sekopnya saat hanya melihat kepala Karin yang muncul di permukaan air. Ia memekik pelan sementara Momo terus mengonggong.
Naruto berteriak memanggil kakaknya ketika kepala Karin sudah benar-benar hilang dari pandangannya, ia berlari memanggil ibunya dan menunjuk freesbe yang mengapung semakin jauh. Detik itu juga Kushina berlari ke arah hanyutnya freesbe dan mulai berteriak histeris. Wanita itu memanggil-manggil nama suaminya dan menjerit. Puluhan orang berdatangan. Naruto yang masih dengan ember merah dan sekopnya yang terjatuh hanya bisa menangis saat melihat ibunya histeris di bibir pantai. Ia tidak benar-benar tahu apa yang terjadi. Mulai saat itu yang ia mengerti Karin tidak pernah pulang dari Chiba. Naruto tidak menemukan Karin lagi di halaman depan rumah kosong ataupun di sekolah. Neneknya membencinya. Ibunya tidak bicara. Ayahnya hanya membungkuk setiap ada tamu datang dengan pakaian hitam. Ia tidak tahu kenapa.
Luka yang sebenarnya baru dimulai setelah Nenek Naruto yang mulai mengabaikan Naruto dan menyebut setiap kelakuan Naruto sebagai sebuah keonaran. Neneknya selalu berguman soal Karin dan ia akan menyebut Naruto sebagai sumber kesialan. Nenek Naruto bahkan membentaknya ketika Naruto menunjukkan layang-layang yang ia menangkan dari adu layang-layang dengan Shikamaru.
Potongan-potongan masa lalu mulai membentuk suatu informasi di otak Naruto. Ayah dan ibunya akan mengajaknya ke tempat kremasi setiap bulannya dan Naruto bisa melihat nama Karin terukir di papan mahogani seukuran kotak pensil. Kushina bilang Karin sudah pergi menemui Tuhan dan sudah bahagia. Ayahnya bilang jika Tuhan sangat menyayangi Karin. Tapi Neneknya bilang kalau Naruto lah yang membuat Karin mati.
Bersama dengan berjalannya waktu, Naruto mulai paham apa itu kematian dan kenapa ada nama Karin di ruang kremasi itu meski tidak ada abunya sama sekali. Naruto pernah mendengar ayahnya bertengkar hebat dengan neneknya dan juga ayah Yahiko. Mereka membicarakan tentang Karin dan Naruto, dan satu-satunya yang Naruto paling ingat adalah perkataan neneknya yang mengatakan jika Naruto adalah anak sial dan ia telah menyebabkan Karin pergi menjemput ajalnya dalam usia yang terlampau muda.
Pada usianya yang ke-7, Naruto membuat bahu kiri Yahiko patah karena berusaha mengambil layangan Naruto yang tersangkut di balkon rumah tetangga Naruto. Yahiko menangis keras, begitupula dengan Naruto. Kushina bilang itu bukan salah Naruto tapi nenek masih bilang jika Naruto anak sial. Yahiko makan disuapi hampir selama 2 bulan dan Naruto akan selalu menangis ketika melihat perban Yahiko. Ia juga akan menangis ketika Yahiko merengek di malam hari dan berkata jika tangannya gatal atau ia tidak bisa mengambil sesuatu karena tangannya tidak bisa digerakan. Naruto takut jika tangan Yahiko tidak akan bisa digunakan lagi.
Kedua orang tua Yahiko sebenarnya tak menyalahkan Naruto tapi agaknya Naruto terlalu takut untuk menunjukkan diri di depan mereka setelah kejadian itu. Mulai saat itu ia menjauhkan diri dari Yahiko dan selalu menghindar tatkala Yahiko berkunjung ke rumahnya.
Semenjak memutuskan untuk menjauhi Yahiko, Naruto menjelma menjadi anak yang penyendiri. Ia tidak banyak bicara dan hanya akan mengangguk ketika ibunya bertanya tentang menu makan malam dan akan menjawab singkat ketika ayahnya bertanya tentang kegiatannya di sekolah.
Segala perlakuan yang diterima Naruto dari neneknya nyaris selama dua tahun membuatnya memiliki pemikiran jika dirinya memang anak yang dilahirkan dengan takdir buruk. Ia membuat orang disekitarnya menderita dan yang terakhir ia membuat anjing Yahiko, Momo, tertabrak motor. Bocah itu hanya berniat melempar bola baseball ke luar rumah untuk membuat Momo menjauhinya tapi tak disangka ada pengendara motor yang langsung menyambar tubuh Momo dan meninggalkan anjing ras Shiba Inu itu tergelatak di jalanan.
Naruto sama sekali tidak bisa melupakan tangisan Yahiko dan ekspresi sepupunya itu ketika ayah Yahiko mengubur Momo di halaman rumah mereka di Chiba.
Semua hal yang dekat dengannya akan berakhir mengenaskan. Begitulah pikir Naruto.
Pada usia Naruto yang ke-8, neneknya meninggal. Naruto sempat melihat jasad wanita itu dalam peti. Bibirnya tersenyum meski pipinya dipenuhi dengan kerut kaku. Naruto melonggok ke peti jenazah dan mengingat apa yang selalu neneknya itu katakan.
Anak sial
Naruto merenung dan melihat kedua orang tuanya menangis lagi. Bocah pirang itu memandangi jendela luar, mengabaikan puluhan orang yang sedang berlutut menghormati jenazah neneknya. Dasi kecilnya tertiup angin, rasanya ia sangat merindukan Karin,
'Aku tidak akan menyayangi siapapun lagi.'
"Mimpi itu lagi," Naruto mengusap wajah yang terasa begitu lengket. Naruto lupa cuci muka tadi malam karena terlalu lelah sehabis latihan baseball. Mimpi tentang Karin dan nenek sama sekali belum hilang meski kejadian itu sudah lewat bertahun-tahun yang lalu.
Moodnya kacau.
Tidak berapa lama Kushina menggedor pintu dan berteriak jika Naruto tidak bangun dalam hitungan ke-20 maka pemuda itu tidak akan dapat jatah sarapan.
"Naruto! Bangun atau-eh, kau sudah bangun?" Kushina membeku di depan pintu ketika Naruto membuka pintu sembari memegangi kepalanya sendiri
"Usiaku sudah 18 tahun dan aku sudah tahu bagaimana cara menyetel alarm, mematikannya, mengulangnya, dan aku tahu harus bangun jam berapa," Naruto menatap ibunya dengan pandangan malas. Ia mengacak rambutnya sendiri dan merasa jika rambut pirangnya sudah terlalu panjang.
"Pagi-pagi begini kau sudah marah-marah, pantas saja kau tidak segera dapat pacar," Kushina menghela nafas, ia masuk ke kamar Naruto dan membuka gorden kamar anaknya itu.
"Aku mau mandi" kata Naruto mengabaikan perkataan ibunya yang sebelumnya.
"Setelah itu turunlah ke bawah, Ibu sudah menyiapkan Yakizakana, telur gulung, Natto dan acar plum."
"Aku tidak suka sayur," kata Naruto sambil menyambar handuk yang diacungkan ibunya.
"Otakmu perlu diberi asupan sayuran-"
"Aku sudah cukup pintar tanpa makan sayur," kata Naruto ringan.
Kushina memegangi dadanya. Semakin hari Naruto menjadi semakin menyebalkan dan membuat kesabarannya diuji. Setiap ia menanyakan apa ada hal yang menganggu pikiran Naruto, anaknya itu hanya akan menjawab 'tidak' atau mengalihkan pembicaraan atau yang paling sering dengan menjawab pertanyaannya dengan pertanyaan lain yang menyebalkan.
"Jangan mandi lama-lama, nanti Sakura-chan akan segera datang."
"Suruh dia berangkat lebih dulu," sahut Naruto dari dalam kamar mandi.
"Jangan bertingkah menyebalkan seperti itu, dia tetangga kita. Siapa tahu juga dia bisa menjadi pacarmu," Kushina terkikik.
"Aku tidak mau. Kalau Ibu sebegitu sukanya dengan Sakura, Ibu saja yang pacaran dengannya."
Kushina memandang pintu kamar mandi dengan tatapan mengerikan seolah-olah Naruto sedang berdiri di depan pintu itu, kemudian ia menggerutu,
"Hah~, jika begini terus, sampai kapan pun kau tidak akan dapat pacar."
.
.
.
Kushina bilang Sakura mengingatkan dirinya kepada Karin. Itu benar. Naruto memang selalu menyangkal tapi hatinya sama sekali tak sependapat, bahkan otak rasionalnya itu mulai mencari kaitan Sakura dan Karin. Mereka tampak mirip. Rambut mereka, cara Sakura tersenyum bahkan cara Sakura untuk selalu bertahan di samping Naruto meski berkali-kali diabaikan.
Maka, tatkala hati Naruto mulai mengakui keberadaan Sakura, rasa takutnya kembali ke permukaan. Panggilan anak sial tidak pernah benar-benar pergi setelah neneknya meninggal. Ia khawatir jika Sakura dekat dengannya, hal yang buruk akan menimpa Sakura.
Naruto hanya ingin gadis itu hidup damai dan ia juga akan hidup damai dengan berpura-pura menjadi orang yang tidak punya hati. Ia masih berpura-pura tidak punya hati sampai Yahiko datang ke rumahnya dan melihat Sakura yang tertawa sambil membawa panci mainan. Kala itu, Sakura memaksa untuk membuat makanan palsu dari plastisin untuk Naruto. Gadis itu mengoceh bermenit-menit di depan rumah Naruto dan memperagakan bagaimana membuat bentuk kikil babi dan spaghetti dengan bakso di atasnya.
Naruto tidak bodoh untuk menyadari bahwa sepupunya menyukai Sakura. Yahiko berusaha menarik perhatian Sakura dengan memperkenalkan anjing barunya, anjing ras Akita Inu. Sakura kecil memekik kecil kala melihat anjing berbulu coklat keemasan itu duduk hanya dengan satu kata 'sit down' dari Yahiko.
"Sakura mau anjing, Ma!" teriak Sakura kepada ibunya yang sedang mengobrol dengan ayah Yahiko di halaman depan rumah Naruto.
"Sakura-chan, hamstermu kan baru mati. Kau tidak ingat ikanmu juga? Jangan membeli hewan peliharaan hanya karena ingin, kau harus merawatnya, tidak boleh dibeli untuk disia-siakan," Mebuki tersenyum. Ia berusaha menjelaskan penolakannya kepada Sakura.
"Sakura akan merawatnya! Janji! Please," Sakura menghampiri ibunya, gadis itu memeluk kaki ibunya karena sejak tadi ibunya terus menggeleng.
Tiba-tiba Yahiko ikut menghampiri Mebuki untuk menenangkan Sakura. Bocah yang lebih tua setahun dari Sakura dan Naruto itu memegang pundak Sakura sembari memberikan tali kekang anjingnya.
"Kau boleh main dengan anjingku kalau kau mau. Tidak perlu beli. Kau bisa ikut merawat anjingku. Kita akan merawatnya bersama."
Kata-kata itu jadi semacam janji bagi Sakura. Ia tersenyum ceria dan menangkup pipi Yahiko dengan cepat. Kecerian Sakura dan Yahiko mendatangkan mendung tersendiri bagi Naruto. Ia merasa diacuhkan meski harus ia akui kalau ia bahkan lebih sering mengacuhkan Sakura. Batinnya tidak terima. Kenapa harus selalu seperti ini? Karin juga selalu lebih mengandalkan Yahiko dibandingkan dirinya dan sekarang Sakura juga nampaknya akan melakukan hal yang sama.
"Naruto-kun, mau main bersama? Anjing Yahiko-nii pintar sekali lho," kata Sakura yang tiba-tiba saja sudah muncul di depan Naruto sambil membawa tali kekang.
"Tidak mau, aku ngantuk," kata Naruto sembari bangkit dari duduknya dan bersiap masuk ke dalam rumah, "lain kali saja," tambah Naruto saat melihat ekspresi sedih Sakura.
"Tidak apa-apa, kita main berdua saja," Yahiko mengelus kepala Sakura dan hal tersebut entah mengapa membuat Naruto tidak suka.
Selalu begitu
Selalu terulang
Selalu Naruto yang menyakitinya
Dan Sakura akan berakhir bersama orang lain
Sampai sekarang
Saat ini.
Aku tidak ingat ini hari apa karena semua hari seperti sama saja. Yang Aku ingat adalah hari ini aku ada pertandingan baseball. Yahiko bilang, ia akan datang ke Tokyo dan timnya akan melawan tim sekolahku. Ia bilang ia akan menang.
Cih, Anak itu, kesombongannya tidak pernah pudar. Ia tidak pernah mau mengalah. Tapi aku juga tidak akan mau kalah. Aku tidak berlatih bertahun-tahun hanya untuk kalah dalam pertandingan persahabatan. Terlebih lagi, aku tidak mau Sakura melihatku kalah.
Terakhir kali bertemu, Yahiko mengatakan bahwa anjingnya yang kedua sudah beranak. Kini ia punya dua anjing ras Akita Inu dan Yahiko memutuskan untuk menamai anak anjingnya dengan nama Chibi. Nama yang terlalu feminin untuk ukuran seekor anjing yang punya mata garang dan taring panjang. Si brengsek itu juga mengatakan akan mengenalkan anjing barunya kepada Sakura. Aku rasa dia memang sudah merencanakannya, mengambil hati Sakura dengan bantuan hewan peliharaan.
Sesaat sebelum kami bertanding, aku mendengar Sakura beberapa kali meneriakkan namaku dari atas balkon penonton. Jelas ia meneriakkan 'Naruto' dan bukan 'Yahiko' tapi kenapa si kepala orange yang itu malah yang melambai kegirangan. Aku meludah di lapangan ketika melihat usaha sepupuku untuk menarik perhatian Sakura. Aku semakin ingin mengalahkannya di dalam pertandingan.
Naluriku sama sekali tidak pernah meleset. Pada akhirnya timku menang meski dengan selisih skor tipis. Semua murid dari sekolahku bersorak sorai dan mengangkat tubuhku. Aku benci perayaan tapi untuk baseball aku bisa memberi kata kecuali. Di masa-masa sulit aku hanya bisa melarikan diri dengan bermain baseball. Karena itulah baseball punya arti yang lebih dari kata berharga bagiku.
Bermenit-menit sudah berlalu tapi Sakura tak juga datang. Aku sudah menunggunya. Biasanya dia akan mendatangiku dan bersorak dengan suara paling kencang. Tapi dia tidak datang.
Aku kecewa karena pada akhirnya aku menemukannya tengah berbincang dengan sepupuku, Yahiko. Sakura tersenyum. Tidak ada yang bisa kulakukan ketika aku sudah menemukannya bahagia. Karena jika dia bahagia maka itu sudah lebih dari cukup meskipun selalu ada ketidakrelaan karena ia tersenyum karena orang lain dan aku harus terus berpura-pura. Aku belum lupa siapa yang berperan sebagai penjahat di sini.
Aku berusaha untuk tidak peduli dan bahagia dalam duniaku sendiri tapi nyatanya sulit sekali untuk melupakan fakta bahwa aku menyukai Sakura dan sekarang ia tengah bersama dengan pemuda lain yang menyukainya. Aku berusaha untuk tidak menyayanginya tapi Sakura memang terlalu berharga untuk disia-siakan. Aku menyukai gadis konyol itu. Gadis yang bertahun-tahun memanggil namaku dari balik punggung. Gadis yang mau repot-repot mengambil bola baseball-ku dan menangis dikejar anjing setelahnya.
Setelah merayakan kemenangan timku di sekolah, Shikamaru bilang akan mentraktir seluruh anggota tim di Ichiraku. Aku tahu kalau Shikamaru bisa sangat royal dan sedemikian dermawan jika sedang senang. Maka, kami mengiyakan tawaran tersebut dan berangkat ke Ichiraku untuk makan ramen sepuasnya.
Namun, sesampainya di sana jantungku serasa melorot ke perut ketika mendapati Sakura dan Yahiko tengah makan ramen berdua. Ia memanggilku dengan nada riang,
"Kalian? Apa yang kalian lakukan- eh, Naruto-kun! Kemarilah!"
Yahiko terlihat mengernyit dan aku tahu kalau itu adalah salah satu sinyal kalau ia sedang terusik. Matanya mengisyaratkan bahwa ia tidak terlalu suka dengan kedatanganku. Aku mengusap dahi lalu berkacak pinggang. Shikamaru sudah akan duduk sebelum aku mencegahnya, "Lain kali saja perayaannya. Aku mau cepat-cepat pulang. Jaa ne!"
Aku tidak akan menyayangi siapapun. Tidak juga Sakura.
"Naruto-kun! Kenapa kau pergi? Kita bisa makan bersama! Naruto-kun?"
Aku nyaris berbalik ketika ia memekik pelan karena tersandung pembatas trotoar. Ia bisa saja membenturkan kepala ke trotoar jika tidak hati-hati.
"Apa kau pergi karena ada aku?"
Bukan.
"Kenapa, Naruto-kun? Kau bisa mengatakannya jika aku menganggumu. Jangan diam saja seperti ini,"
Aku tidak akan menoleh dan menjawabnya. Aku berharap gadis itu akan pergi.
"Naruto! Tunggu!"
Aku menghela nafas dan memelankan langkahku sampai benar-benar berhenti. Jarakku dan Sakura hanya terpaut dua meter. Udara malam yang dingin membuat tenggorokanku kering dan aku kesulitan bernafas. Seperti ada benda yang menyumbat mulutku dan lem gaib yang menggulung lidahku sampai ke langit-langit.
"Aku bosan melihatmu, Sakura."
Rasanya aku ingin membunuh diriku sendiri.
Dia menangis. Aku tahu itu. Dia menangis karena aku. Aku tahu itu sudah sejak lama.
Berdekatan dengan anak sial hanya akan membuatnya semakin menderita.
Dia sudah terlanjur menderita sekarang. Yang itu aku juga tahu.
Tapi aku juga menderita.
.
.
.
Haruskah aku mengulanginya lagi?
Aku Namikaze Naruto.
Hobiku masih bermain baseball
Hal yang kubenci sampai sekarang adalah menunggu ramen matang dan Haruno Sakura
Hal yang kusukai sampai sekarang adalah ramen dan Haruno Sakura.
Haruno Sakura,
Dia, seperti kolibri biru yang mendengung mengelilingi bunga Kosmos dan bunga-bunga yang mekar di bawah sinar bulan
Dan aku masih pengecut, orang tolol yang tidak bisa mengatakan 'aku mencintaimu'.
.
.
.
.
.
To be continued…..
.
.
.
.
Chapter kali ini bukan episode baper-baperan ya. Aku cuman mau nunjukkin sisi lain dari Naruto. He is just a human, guys! Ini ceritanya flashback kalau kalian bingung. Chapter ini juga ga sebanyak biasanya. Maafin. Oke?
Cygnus sih seneng aja kalau sampe ada yang baper, nangis dsb karena berarti Cygnus dah berhasil bawain cerita itu. Buat kalian yang nungguin yang baper-baper keknya harus nunggu lagi hehe.
As always, thanks for you all who always supported me. Ga bisa bales kalian satu per satu, satu kata buat pengen aku update cepet. Sabar. wkwkwkwk
Cygnus ga bisa sering update (selama ini update juga lama :v) karena tugas-tugas negara yang tidak bisa dilalaikan :((
Btw, aku kepikiran buat bikin cerita YAOI. Ya pengen aja sih, ngrasain sensasinya gitu wkwkwk.
Well, gimana pendapat kalian tentang chapter ini? Apakah masih ingin menghajar Naruto?
Give me your opinion. I'm waiting you ^^
