WARNING : Be careful, kalian mungkin tidak cocok dengan genrenya.
Read it Rate it.
Selamat membaca, sobat.
Ketika Sakura melangkah lebih jauh meninggalkan Naruto di depan Ichiraku, ia tahu bahwa semuanya tidak akan sama lagi. Sakura tidak akan menunjukkan wajah sedihnya, ia tidak akan berbalik karena Naruto tidak akan menangis sama seperti dirinya. Ia bahkan tidak tahu apakah Naruto masih di sana.
Memang, gadis itu tidak tahu jika ada pemuda berambut pirang yang menahan diri untuk berteriak membelah keramaian. Sakura tidak tahu jika Naruto berdiri berjam-jam di depan kedai ramen. Mematung menghukum dirinya sendiri.
.
.
.
.
.
Sakura masih mengingat bagaimana dirinya mengasosiakan Naruto. Pemuda itu seolah-olah mampu menjelma menjadi segala apa yang berbentuk indah. Naruto adalah matahari. Naruto adalah angin musim panas yang hangat. Naruto adalah langit biru yang cerah. Naruto adalah kumpulan warna pelangi yang membelah langit dan tenggelam di suatu tempat yang jauh. Naruto adalah bunga lonceng biru kecil yang tumbuh di dekat jendela kamar Sakura.
Jika Sakura melihat bintang pada malam hari, melihat meteor yang gugur dan terbakar atmosfer, tidak ada yang bisa ia pikirkan kecuali ingin membagi keindahan itu dengan Naruto. Cinta masa kecilnya begitu menggebu karena Sakura memimpikan kehidupan penuh dengan guyuran kasih sayang seperti ayah-ibunya ketika besar nanti.
Suatu ketika, Sakura pernah menemukan sebuah kalimat dalam buku cinta picisan yang ia beli karena sampulnya bergambar gadis cantik saat dirinya masih berusia 12 tahun.
Jika kau sudah menemukan cintamu….jangan pernah melepaskannya
Bertahun-tahun Sakura mempercayainya sampai ia menyadari bahwa cinta dan mencintai bukan tentang sebuah alasan dan argumen. Cinta tentang merasakan, cinta tentang penerimaan, cinta tentang dua orang yang berbagi jiwa.
Dan Sakura tidak mendapatkannya dari Naruto.
Maka ketika untuk yang kedua kalinya, Sakura membalik lembar terakhir buku cinta picisannya yang tertelungkup penuh debu dalam kotak kardus di gudang rumahnya, ia menangis.
Cinta yang dipendam terlalu lama akan memberikan penyesalan
Seperti perasaannya kepada Naruto.
Sejak dari awal pun Sakura tidak pernah menjadi apa-apa di hidup Naruto. Lalu kenapa ia bertahan dan berharap menjadi sesuatu jika dari awal pun ia memang tidak pernah ada. Perasaannya mungkin hanya sebuah souvenir bagi Naruto yang diberikan secara percuma dan akan hilang suatu saat nanti. Padahal Mebuki selalu berkata kepada Sakura bahwa setiap individu di semesta pantas mendapatkan cinta dan kasih sayang.
Dan jika Sakura tidak bisa mendapatkannya dari seseorang berarti Sakura harus mencari cinta yang baru.
Sakura bergulat dengan perasaannya sendiri, dengan setumpuk rasa kagumnya kepada Naruto, dengan harapannya, dengan mimpinya yang ingin memasak untuk Naruto suatu hari nanti, dengan cintanya. Dengan dirinya.
Sakura mungkin terlihat cengeng. Ia mungkin seorang gadis yang menjijikkan karena bergelayut pada seorang pemuda yang bahkan tidak menyukainya. Ia memaksakan diri. Seharusnya ia tidak.
Seharusnya Sakura sudah mengakhiri semuanya sejak lama.
Aku tidak akan menunggumu lagi
.
.
.
.
Naruto belongs to Masashi Kishimoto
.
.
.
Waiting You
.
.
.
5. Sayonara
Aku tahu dia menjauhiku.
Gadis malang yang sebelumnya selalu mencuri pandang dengan mata jenaka dan tersenyum seperti tiada hari sedih dalam hidupnya kini menjauh dan menggigit bibirnya saat kami tidak sengaja berpapasan di koridor sekolah. Ia memalingkan wajahnya dan sedikit menunduk serta pura-pura menggosok rok bagian kirinya dengan tangan. Padahal jika ia tidak ingin melihatku, ia tidak perlu alasan untuk memalingkan wajah. Sakura tidak perlu alasan untuk menjauh karena aku sendiri tidak sanggup memandangnya lagi. Aku tidak sanggup memandang rasa sakit yang terpancar dari kedua mata gioknya, aku tidak sanggup untuk berharap bahwa ia akan melemparkan senyumnya lagi sebagaimana biasanya.
Aku tahu.
.
.
.
.
"Mau makan di kantin?" Ino menghampiri Sakura dan menumpukan sikunya di atas meja. Gadis cantik itu sedikit menungging sehingga kulit pahanya sedikit tersingkap. Ia hanya akan mendengus jika beberapa anak laki-laki sengaja lewat di belakang tubuhnya untuk kemudian bersiul genit dan melemparkan tatapan lapar.
"Tidak bawa bekal," Sakura menyahuti dengan suara lirih, sekilas terdengar seperti gumaman. Gadis berambut pink itu meletakkan kepalanya ke atas meja. Pagi tadi ibunya mengomel karena tidak menemukan semua kotak bekal Sakura yang biasanya ia simpan di kabinet atas di dapur mereka. Semuanya lenyap kecuali sebuah kotak makan dengan gambar panda karena kenyataannya Sakura membuang semua kotak makannya pada malam dimana ia memutuskan untuk tidak lagi menganggu Naruto.
"Kalau begitu kutraktir makan di kantin, ya?" Ino kembali tersenyum dan menggoyangkan lengan Sakura. Gadis berambut pirang itu sempat melayangkan tatapan sebal kepada anak laki-laki yang sengaja berdiri lama di belakang tubuh Ino sebelum akhirnya tersenyum manis kepada Sakura lagi.
"Tidak lapar," Sakura melirik Ino. Sakura sedang dalam keadaan tidak mood untuk melakukan apapun. Ia sudah seperti permen kapas yang lama tersentuh udara dan teronggok di atas meja.
"Kau kenapa sih? Tidak biasanya kau diam seperti ini. Kau sakit? Tidak panas," Ino dengan cekatan segera menempelkan punggung tangannya ke dahi Sakura tanpa mempedulikan tepisan tangan Sakura, "Coba buka mulutmu, kau sariawan kan? Atau gigimu berlubang? Aaaaa-,"
Ino terhuyung karena tiba-tiba Sakura mendorongnya saat dirinya menyentuh bibir Sakura. Seketika itu Sakura menggumamkan kata maaf saat menyadari bahwa Ino melotot karena terkejut.
"Hey! Apa masalahmu, Sakura? Aku hanya menyentuhmu sedikit untuk memeriksa gigimu dan-," Ino menatap Sakura dengan pandangan tidak percaya, "dan kau mendorongku. Seriously? Kau takut aku lesbian?"
"Bukan seperti itu, Ino. Aku hanya-aku hanya tidak ingin diganggu-"
"Fine. Terserahmu saja kalau begitu," Ino mengangkat kedua tangannya sebatas kepala menandakan bahwa ia menyerah menghadapi Sakura. Ino berbalik pergi sambil membawa kotak bekalnya. Ia menghentakan kaki lebih keras daripada biasanya.
"Pig! Tunggu! Dengarkan aku!" Sakura bangkit dari kursinya berusaha mengejar Ino namun sahabatnya itu sudah hilang dibelokan menuju kantin.
Sakura menutup wajah dengan kedua tangannya sambil merintih pelan. Hidungnya memerah pertanda bahwa mungkin sebentar lagi ia akan menangis. Ia mengacaukan semuanya. Tidak seharusnya ia melampiaskan kekesalannya pada orang lain. Ditengah kegelisahannya, handphone-nya berbunyi. Satu pesan suara masuk. Sakura menekan layar ponselnya dengan malas-malasan, tak berapa lama terdengar suara yang tidak asing di seberang sana. Sakura menahan nafasnya.
'Hey, gendut.'
Sakura mengernyit, nada bicara orang yang mengiriminya pesan terlampau datar untuk melemparkan panggilan hinaan seperti itu.
'Kau mungkin tidak akan percaya ini tapi aku akan membuatmu menderita 8 jam lagi.'
Sakura semakin tidak mengerti, hanya ada kebisingan untuk beberapa saat sampai akhirnya tarikan nafas cepat di pesan suara itu,
'Sakura, aku merindukanmu.'
Setelahnya terdengar suara-suara yang tidak Sakura tahu apa itu, sepertinya si pengirim sedang berada di tempat ramai. Pesan itu habis dan kembali ke awal. Sakura memandangi handphone-nya dan berniat untuk menelepon balik si pengirim namun handphone si pengirim sedang dalam mode tidak aktif.
"8 jam apa?" Sakura memutuskan untuk menyusul Ino ke kantin sambil menelepon seseorang. Ia membenahi kemeja seragamnya sembari menjepit handphone diantara kepala dan pundaknya.
"Apa-apaan tiba-tiba bilang merindukanku-," Sakura melotot dan segera berbalik tatkala melihat Naruto berjalan ke arahnya sambil mendrible bola basket. Pemuda berambut pirang itu kelihatannya terlalu fokus mendrible bola basket di sepanjang koridor sehingga tidak menyadari Sakura yang sempat berdiri 10 meter di depannya kini berlari menjauh.
Gadis berambut merah jambu itu bersembunyi di pinggir pintu masuk kelas 2. Beberapa anak yang ada di dalam kelas sejenak terdiam karena melihat senior mereka masuk ke kelas sembari memeluk ponselnya dan terengah. Mereka membungkuk sedikit kepada Sakura dan Sakura langsung meletakkan jari telunjuknya di depan bibir.
Sakura mengintip keluar saat merasa Naruto sudah tidak terlihat lagi. Sebelumnya ia tidak pernah seperti ini. Sebelumnya, bertemu Naruto adalah sebuah keberuntungan, menyapanya adalah sebuah ritual yang tidak akan terlewatkan tapi Sakura tidak bisa lagi. Ia sudah berjanji pada Naruto dan pada dirinya sendiri untuk tidak menganggu tetangganya itu lagi. Sudah lewat masanya dimana Sakura menempeli Naruto terus seperti lintah ladang di musim hujan.
Sakura menghela nafas dan menempelkan ponselnya ke telinga lagi setelah menekan layarnya dan berbicara singkat,
"Halo, pendek. Ini Sakura. Apa maksudmu dengan membuatku menderita? Jika kau sudah menyalakan handphone-mu itu maka kau akan tahu jika aku juga merindukanmu."
Sakura mengakhiri pesan suaranya dan berlari menuju kantin dan tidak memperhatikan jika Naruto bersandar pada dinding yang terhalangi oleh pintu kelas lain.
Pemuda itu nyaris tidak mendapati bias kegundahan lagi wajah Sakura. Ya, pada akhirya Sakura memang memilih pergi sama seperti yang kebanyakan orang. Bukan salah Sakura. Tidak ada orang yang mau menunggu bertahun-tahun hanya untuk disakiti.
Naruto mengusap wajahnya dengan perasaan campur aduk. Bukan maunya untuk menyakiti...tapi perasaan ini, perasaan jijik pada dirinya sendiri tidak pernah sedetik pun lenyap kendati neneknya sudah lama pergi. Naruto mengingat dirinya saat kecil hanya bisa bersembunyi di belakang ibunya saat lontaran amarah neneknya keluar seperti semburan gletser. Ia memang tidak terbiasa disayangi. Ia pikir selamanya akan seperti itu.
"Naruto, kau masih disini? Pelatih mau bicara padamu, dia disana," Kiba menyentuh lengan Naruto dan menunjuk figur kecil orang yang memakai pakaian olahraga yang berdiri diujung lorong bersama Shikamaru, "Hei, Naruto? Kau baik? Aku disini! Matamu lihat kemana sih?" Kiba mengikuti arah pandang Naruto dan mendapati sepasang siswi yang tengah terkikik malu sambil memandangi Naruto.
Fans Naruto, pikir Kiba.
"Aku tidak apa-apa, kupikir aku baru saja melihat seseorang yang kukenal," Naruto mulai mendribel bolanya lagi dan melemparkannya kepada Kiba, "Kembalikan ke tempat penyimpanan alat olahraga dan jangan lupa kunci pintunya," tambah Naruto seraya berlalu meninggalkan Kiba sendirian.
"Dasar tukang suruh. Dia bahkan tidak bilang tolong."
.
.
Sakura berpegang pada tiang kecil di dalam kereta saat kereta yang ia tumpangi sedikit terguncang. Seseorang bertanya padanya apakah ia baik-baik saja tatkala Sakura hampir terjungkal karena mengantuk. Ia mengangguk dan mengintip Naruto yang berdiri tiga meter dari tempatnya. Pemuda itu berpegang pada tali pegangan kereta. Figurnya yang jangkung membuat Sakura dengan mudah menemukannya. Ia pikir Naruto akan pulang telat seperti biasanya namun ia tidak menyangka bahwa akan menemukan Naruto di dalam kereta kendati Sakura sudah sengaja pulang bertepatan dengan dibunyikannya bel pulang di sekolah. Pada menit selanjutnya Sakura melihat Naruto meliriknya. Namun pada detik selanjutnya wajah Naruto berubah ketat dan bibirnya membentuk garis lurus. Mungkin Sakura berhalusinasi.
Sakura membalikkan badan. Ia tidak mau halusinasinya menganggunya. Tidak lagi. Bukankah selama ini ia terlalu banyak berharap dan tetap tidak mendapatkan apapun? Tidak ada secuil kebahagiaan yang ia tuai dari penantiannya. Tidak ada.
Kereta berguncang lagi dan mulai terdengar suara seretan nyaring. Kemudian keluar suara perempuan yang memberitahukan jika mereka sampai di stasiun Edogawa. Sakura melepaskan pegangannya dan bergegas keluar dari kereta sebelum kereta itu melanjutkan perjalanan ke stasiun berikutnya. Gadis berambut pink itu tidak sengaja menyikut seseorang di sampingnya saat keluar dari pintu kereta tatkala emeraldnya tidak sengaja bertatapan dengan Naruto yang juga berusaha keluar dari kereta.
"Maaf," Sakura menundukkan kepala sembari meminta maaf pada orang yang sempat memberinya tatapan kekesalan.
Sakura tahu Naruto melihatnya dan ia juga tidak berharap jika pemuda itu menyapanya. Seharusnya memang jangan. Ia pikir Naruto ingin memainkan peran orang asing kali ini jadi ia kembali tersenyum dan menggumamkan kata maaf bahkan ketika seorang pria paruh baya tidak sengaja mendorong Sakura karena terlalu terburu-buru dan membuat Sakura terjungkal, gadis itu masih menggumamkan kata maaf sambil tertawa kecil. Beberapa orang berusaha menolongnya namun gadis itu malah tersenyum dan mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja.
Naruto tidak beranjak dari tempatnya.
"Hei, tolong jaga temanmu! Tempat ini sedang ramai, " kata seorang pria kepada Naruto. Pria itu melihat lutut Sakura berdarah karena tergores lantai. Rok pendeknya tidak bisa melindungi kulit lututnya dari lantai kasar.
Naruto menghela nafas. Ia tidak bisa berbuat apa-apa jika orang lain sudah marah-marah di tempat umum.
Pemuda berambut pirang itu mengulurkan tangan menawarkan bantuan, namun Sakura tidak bergeming dan bangkit menggunakan tangannya sendiri untuk menumpu tubuh. Ia tidak melihat Naruto dan menganggap seolah-olah uluran tangan itu tidak pernah ada. Nyatanya, Naruto memang tidak pernah benar-benar menjadi sosok nyata dimana Sakura bisa menuangkan ceritanya. Naruto lebih seperti seorang pemuda idaman di kisah-kisah putri cantik.
Sakura lalu mengambil tasnya yang sebelumnya tergeletak di lantai. Ia menggumamkan permintaan maaf lagi dan berlalu begitu dengan langkah terseok dan rambut belakang yang kusut. Ia sama sekali tidak menoleh.
Ia takut.
Sakura takut melihat mata biru Naruto yang bisa saja menggoyahkannya lagi, ia takut melihat ekspresi apa yang akan ditampilkan Naruto ketika melihat dirinya jatuh terduduk di keramaian, ia terlalu takut mendapati bahwa Naruto hanya menganggapnya tidak lebih dari seorang penganggu yang sialnya tinggal bersebelahan dengan pemuda berambut pirang itu.
Naruto mengeratkan genggaman tangannya pada tas jinjingnya dan tertawa pelan. Ia sudah berhasil membuat seorang gadis jijik betul kepadanya.
"Pergilah yang jauh, Sakura. Pergilah yang jauh."
.
.
Sakura berjalan sendirian ke rumahnya. Hari belum terlalu malam. Ia pikir ini adalah sebuah perubahan karena biasanya ia akan menunggu Naruto pulang namun hari ini gadis itu memutuskan untuk pulang terlebih dahulu. Ia keluar dari sekolah tepat ketika bel pulang berbunyi. Sesampainya di rumah ia sedikit bingung ketika mendapati sebuah mobil hitam terparkir di depan rumahnya.
"Tadaima!" kata Sakura sembari melepas alas kakinya.
"Okaeri, Sakura-chan," sahut Mebuki dengan nada terlampau gembira. Wanita paruh baya itu tersenyum lebar dan wajahnya sudah seranum tomat. Ia tergopoh-gopoh menyambut Sakura di depan pintu.
"Apa ada tamu?" bisik Sakura, ia berusaha mengintip beberapa orang yang kelihatan sedang bercengkrama dengan ayahnya di ruang tamu. Tumben sekali ayahnya juga sudah pulang.
"Iya. Ayo masuk. Tunggu-tunggu! Rapikan rambutmu dulu!" Mebuki tersenyum lagi sembari membenahi anak rambut Sakura yang mencuat ke sana-sini dan mengelap dahi putrinya yang sedikit basah itu.
"Memang siapa yang datang? Teman bisnis ayah?" Sakura sedikit terhuyung tatkala ibunya mendorong punggungnya.
"Lihat saja dulu!"
"Tapi Ma, Aku-"
"Sakura-chan sudah pulang?!" Kizashi berdiri dari duduknya, diikuti oleh tiga orang di depan ayah Sakura.
"Hei gendut! Aku datang."
" G-Gaara?"
"Haruno Sakura. Tidak kusangka kau masih sejelek dulu, jidatmu tidak berubah, masih sele-"
"Jangan mulai, Gaara. Kau tidak jauh-jauh ke Jepang hanya untuk mengomentari jidatku, kan?"
Gaara tersenyum lembut dan memandang Sakura dengan seulas senyum tipis menawan yang seingat Sakura sudah dimiliki sejak Gaara masih begitu belia,
"Nee-san masih segalak dulu juga," mata panda Gaara menyipit manis.
Sakura mengetuk dahi pemuda berambut merah yang sudah lebih tinggi daripada dirinya itu. Gaara adalah sahabat masa kecil Sakura di Inggris, sudah seperti adik Sakura sendiri, dia dulunya adalah anak laki-laki pemalu yang selalu membawa boneka, boneka hadiah dari pamannya meskipun tubuh boneka itu sudah penuh dengan coretan spidol hasil keusilan kedua kakak Gaara.
Sakura tersenyum lembut dan merentangkan kedua tangannya, "Mau memeluk Nee-san?"
Tanpa banyak bicara Gaara merengkuh tubuh Sakura ke dalam pelukannya dan tertawa pelan, merasakan bagaimana angin menerbangkan sejumput rambut Sakura dan membawanya ke wajah Gaara.
"I miss you."
"I miss you more."
Sakura menjerit kencang saat Gaara sedikit mengangkat tubuhnya dan memojokkannya sampai punggung Sakura menyentuh pembatas balkon.
"Kau mau melemparku ke bawah, huh? Kau mau membunuhku? Bocah nakal, kau bocah nakal!"
Pekikan Sakura mengundang keingintahuan seorang tetangganya yang kini mengintip dari balik gorden penutup jendelanya.
"Dia…siapa?"
Rumah keluarga Haruno menjadi lebih ramai karena kedatangan keluarga Rei, meskipun tidak semuanya datang. Gaara datang bersama Ayah dan Ibunya saja. Ia bilang ia sangat merindukan Jepang dan berniat menghabiskan awal liburan musim panasnya di Jepang. Gaara berkata jika dia ingin membuat Sakura menderita, salah satunya dengan mengacak-acak tatanan rambut Sakura di depan pagar rumahnya.
"Hentikan, aku sudah susah-susah menata rambutku dan kau merusaknya," Sakura melepas bando merah mudanya dan membantingnya ke aspal karena kesal.
"Kau kan jelek, mau dandan selama apapun tetap jelek," Gaara tersenyum jahil mendapati raut kesal Sakura. Pemuda yang lebih muda satu tahun dari Sakura itu mengacak rambut Sakura lagi, kali ini lebih brutal.
"Ayah! Dia mengacak rambutku terus! Ayah!" Sakura melongok ke dalam garasi mobil, mengadu pada ayahnya yang sedang berusaha mengeluarkan mobil dari garasi.
"Pengadu."
"Ayah! Dia-"
"Sakura-chan sudah mau berangkat?"
Sakura menoleh dan mendapati Kushina keluar dari rumahnya dan mendekatinya dengan senyum lebar yang terpampang jelas di wajahnya yang cantik.
"E..iya, Bibi," Sakura membungkuk dan ikut tersenyum.
"Kebetulan Naruto juga baru berangkat, tidak mau berangkat bersama- eh dia siapa?"
Bersamaan dengan munculnya pertanyaan tersebut, Naruto keluar dari dalam rumahnya sembari menenteng tas sekolah. Naruto terlihat sedikit lesu, ia keluar sambil meminum sekotak yogurt.
"Temanku dari Inggris. Rei Gaara. Gaara kenalkan itu Bibi Kushina, tetangga kami."
Alih-alih membungkuk memberi hormat, Gaara malah maju dan menjabat tangan Kushina lalu tersenyum tipis sambil mengucap namanya sendiri.
"Dari Inggris? Wah, keren sekali. Anak-anak dari luar negeri memang beda ya, aku bisa merasakan perbedaannya," Kushina menepuk lengan Gaara main-main.
"Kaa-san?!"
"Oh ya, kenalkan juga dia anakku, Namikaze Naruto. Teman Sakura," Kushina setengah menyeret lengan Naruto agar dapat berdiri bersisian dengannya.
"Temanmu?" Gaara menoleh kepada Sakura yang ada di belakangnya. Bahasa Jepang Gaara tidak terlalu bagus dan logat Kushina sedikit membingungkannya sehingga Gaara meminta penjelasan pada Sakura.
Sakura menatap Naruto yang juga memberikan pandangan yang serius pada Sakura. Mata biru Naruto padam sinarnya, memandang Sakura, memberi penilaian sama seperti biasanya. Seperti menghakimi. Tangan Sakura mendingin.
"Sakura?" Gaara membangunkan Sakura dari kegugupannya.
"Dia itu-"
"Kaa-san, buku tugasku ada yang tertinggal di atas meja belajarku. Bisa tolong ambilkan? Yang warnanya kuning," potong Naruto cepat.
Kushina tidak berkata apa-apa, perempuan paruh baya itu langsung berlari kecil masuk ke dalam rumah.
Naruto tidak ingin ibunya melihat pertengkaran mereka.
"Dia itu?" Gaara menunggu.
"Dia itu tetangga yang kebetulan satu sekolah denganku," Sakura mengalihkan pandangannya pada pemuda berambut merah di sampingnya, "Gaara, aku harus segera berangkat," kata Sakura sembari membenahi rambutnya.
Saat ayah Sakura sudah sampai di depan mereka, ia menawari Naruto tumpangan namun pemuda itu menolak dengan dalih bahwa harus menjemput temannya yang lain.
Gaara ikut naik mobil bersama Sakura, meninggalkan Naruto yang mematung dengan kotak yogurtnya yang tinggal setengah.
"Loh, Sakura-chan mana?" tanya Kushina pada Naruto sambil mengulurkan buku pada Naruto.
"Sudah pergi."
Naruto berjalan cepat dan memandangi gambar stroberi pada kotak yogurtnya,
'Dia itu tetangga yang kebetulan satu sekolah denganku'
Naruto mendecih, Sakura sudah benar-benar membuangnya. Perasaan jijik pada dirinya sendiri muncul lagi, dimana ia harus kembali mementalkan perasaannya dan membuang segala rasa yang Naruto kira akan membuat seseorang tersakiti.
Ia tidak bisa menyayangi seseorang.
Karena hal yang ia sayangi akan selalu pergi meninggalkannya,
Naruto tidak ingin Sakura pergi.
Jangan.
.
.
.
"GANTI POSISI! NARUTO CATCHER! SHIKAMARU TETAP PITCHER, BOCAH ANJING KAU YANG PUKUL BOLA SEKARANG!"
Pelatih baseball sekaligus guru olahraga SMA Hagano, Maito Guy, berteriak lantang dari base ketiga sambil mengarahkan telunjuk tangannya pada Inuzuka Kiba yang ada di base pertama. Rambut mangkuk pelatih sang guru berayun pelan, setengah basah karena ia ikut berpanas-panasan bersama pemain baseball lainnya.
Naruto yang diberi perintah untuk berganti posisi segera melempar tongkat pemukulnya dan menangkap lemparan glove dari Kiba dan serta meraih catcher helmet yang juga sudah Kiba lemparkan ke tanah.
"Pukul dengan benar," bisik Naruto sambil menepuk bahu Kiba.
"Kau meremehkan aku? Kau pikir kenapa kita disuruh ganti posisi?" mata Kiba basah oleh keringat, dagunya dipenuhi oleh air yang menetes dari dahu., "Kau saja sana yang fokus, jangan meleset terus."
"JANGAN MENGGOSIP! CEPAT!" Guru Guy berteriak lagi.
Naruto memasang posisi di belakang Kiba. Ia memperhatikan Shikamaru yang mengetatkan ekspresi wajahnya, matanya tajam dan ia hendak melempar dengan tangan kanan.
Naruto kemudian melakukan hal yang sama, memasang posisi sempurna dan bersiap menerima lemparan jikalau Kiba tidak bisa memukul dengan benar.
Shikamaru melempar bolanya…
"STRIKE!" teriak Naruto kencang.
Kiba hendak berpindah untuk memberikan kesempatan pada pemukul lain namun Shikamaru menahannya,
"Jangan berpindah, ulangi sekali lagi! Oke?" pemuda jenius itu meminta izin pada guru Guy dan pelatihnya itu mengangguk setuju.
Shikamaru kembali melempar bolanya..
"STRIKE!" teriak Naruto lagi.
"Ulangi!" kata Shikamaru. Kali ini, pemuda itu menggunakan tangan kirinya untuk melempar. "Fokus Kiba!"
Di saat yang sama di seberang lapangan Naruto menangkap sosok yang begitu ia kenali tengah berjalan pulang sambil melihat latihan mereka. Sakura. Tidak ada senyum di wajahnya. Mata mereka bertemu namun kemudian Sakura membuang pandangan dan tertawa saat Hinata memainkan rambutnya. Senyum itu membuat nafas Naruto semakin berat. Betapa ia terlalu sering membuat Sakura menangis sehingga terkadang lupa jika gadis itu bisa begitu cantik saat sedang bahagia.
"Naruto fokus! Naruto-"
DUAK!
Kiba strike untuk ketiga kalinya dan bola tersebut menghantam tepat di ruas hidung Naruto dan membuat pemuda itu terhuyung jatuh sambil memegangi hidungnya.
"SUDAH KUBILANG FOKUS! ISTIRAHAT 15 MENIT!"
Shikamaru mendatangi Naruto dan menawarkan uluran tangannya, namun Naruto menolak dan memilih bangkit sendiri. Ia melempar helmnya ke sisi lapangan dan membasuh muka dengan air mineral.
"Istirahat 15 menit…setelah itu lari keliling lapangan setelah latihan bubar. Mengerti?" kata Shikamaru tegas.
"Hn," Naruto mengambil handuk kering dan berteriak kepada salah satu manajer junior yang merupakan adik kelasnya, "es batu, cepat!"
"Baik, Senpai."
"Kau tidak seperti biasanya, Naruto. Ada apa? Ada hal yang membebanimu? Atau kau cidera?"
"Bukan apa-apa. Bukan hal yang penting," sahut Naruto. Ia menengadahkan kepala saat manajer junior di timnya mengompres hidungnya yang memerah.
Shikamaru meraih air mineral yang ada di bangku samping Naruto, "Biar kutebak. Sakura?"
Naruto menyeringai dan tertawa pelan, terkesan seperti mengejek, "Sakura? Dari sekian banyak hal kau menebak Sakura? Kau menggelikan."
"Tidak sulit mengetahuinya. Aku seorang pelempar, Naruto. Mataku harus tajam, aku fokus, aku tahu perhatianmu sempat teralih saat Sakura lewat. Kau pikir kenapa bolanya bisa sampai meleset? Aku memang sengaja menghantam wajahmu."
Seringaian Naruto menghilang dan digantikan dengan gertakan gigi. Ia tidak habis pikir Shikamaru, teman sejak ia masih kecil sengaja melempar bola ke wajahnya. Shikamaru itu salah satu dari pelempar terbaik tingkat SMA di Tokyo dan dengan mudahnya ia mengakui sengaja mengenai wajah Naruto dengan bola baseball yang jelas-jelas sangat sakit jika mengenai kulit apalagi tulang rawan seperti tulang hidung.
"Sialan kau, Shikamaru!"
Shikamaru tergelak lalu memakai kembali sarung tangannya,
"Aku tidak terlalu mau ikut campur, hanya saja kuharap masalahmu tidak mempengaruhi penampilanmu. Kau tahu sendiri jika tim kita akan ikut turnamen baseball tahunan antar SMA di penghujung musim panas. Aku butuh kerjasama dan kerja kerasmu, Naruto. Kita tidak bisa kalah lagi seperti tahun lalu. Kau mengerti kan?"
Naruto tidak menyahuti tapi Shikamaru tahu jika Naruto mendengarkannya.
"BERKUMPUL! KITA LANJUTKAN LATIHAN!" teriak guru Guy.
Shikamaru menepuk bahu Naruto dan menghampiri guru Guy sambil mengorek telinga meninggalkan Naruto yang termenung.
.
.
.
.
Naruto berjalan pelan sambil memanggil tongkat baseball-nya. Rambut kuningnya basah dan sepatunya setengah kotor. Ia mandi di sekolah seusai latihan dan pulang dalam keadaan luar biasa penat. Ia pulang terlambat karena harus dihukum karena kelalaiannya.
Suasana begitu ramai, hiruk pikuk suara orang di sepanjang jalan memenuhi pendengarannya. Suara tawa, teriakan, tangisan anak-anak, rengekan, gerutuan, serta sebuah tawa halus yang begitu ia kenali. Naruto sontak mencari-cari ke segala arah dan menemukan seorang gadis muda duduk di bar stool dari kayu, gadis itu sedikit membungkuk mendekatkan mulutnya dengan pinggiran mangkuk, meniup helaian mie ramen sembari melempar senyuman pada seorang pemuda yang kesulitan menggunakan sumpit.
Dengan senyum yang masih setia bertengger di bibirnya, gadis itu mengarahkan ujung sumpitnya ke bibir si pemuda dan membuka mulutnya seakan memeragakan agar si pemuda ikut membuka mulut.
Gadis itu menurunkan sumpitnya dan memejamkan mata kala si pemuda menyentil dahinya main-main. Si gadis tersenyum. Cantik seperti guguran sakura di musim semi. Dia memang Sakura dan Naruto hanya bisa menikmati keindahannya tanpa tahu bagaimana menghentikan gugurannya.
Naruto memandang langit yang sedikit keruh karena tertutup awan dan bias lampu, ia mengeratkan genggamannya pada tongkat baseball-nya dan kembali melangkahkan aku meninggalkan gadis yang tengah memakan ramen di Ichiraku tersebut.
Pada suatu ketika, Naruto pernah terbangun di tengah malam dan tidak bisa kembali tidur. Usianya 16 kala itu. Kushina tiba-tiba saja masuk ke kamar Naruto dan menghampiri Naruto yang berdiri di balkon pada jam 3 malam.
"Belum tidur? Lampumu kelihatan masih menyala sewaktu ibu kembali dari kamar mandi," Kushina menggosok matanya lalu meregangkan tubuh di belakang Naruto.
"Hanya terbangun saja," sahut Naruto. Ia tidak berbalik untuk melihat ibunya.
"Eh? Kenapa? Mimpi buruk?"
"Tidak. Aku mimpi indah," Naruto menghela nafas dan mendongak melihat kerlipan bintang yang sedang terang-terangnya kemudian baru berbalik menghadap ibunya. Wajah Naruto tidak terlihat, bayangan atap menimpa wajahnya sehingga hanya bagian mulut Naruto ke bawah saja yang terkena sinar dari lampu kamarnya.
"Lalu?"
"Saking indahnya, aku tahu kalau mimpi itu tidak akan pernah menjadi nyata, Ibu."
Malam itu Kushina melihat setitik kristal yang bergelayut di dagu Naruto kendati tidak ada suara yang lolos dari mulut putranya itu.
.
.
.
Sakura,
Malam itu, aku bermimpi kita bermain di padang yang luas. Aku bermimpi kita kembali menjadi anak-anak dan kita berkejaran bersama sementara Karin mengamati kita di bawah jembatan sambil mengenggam freesbe. Mata hijaumu gemerlapan ditimpa sinar matahari dan kau menggenggam tanganku sambil berkata bahwa kau akan bermain seterusnya denganku.
Sakura,
Malam itu aku begitu membenci diriku sendiri
Karena aku begitu mengharapkanmu untuk terus bertahan di sampingku, memberikan senyum jenaka seperti biasanya meskipun aku akan mendorongmu pergi lagi dan lagi.
Aku tidak pernah ingin mendengar kata selamat tinggal terucap dari mulutmu.
Sakura,
Sorry.
.
.
.
.
To be continue
.
.
.
.
Plis jangan maki aku plis. Baru banget dapet mood buat update hehe
Maafin Cygnus yang update-nya laaamaaa. Mood buat nulis yang sedih-sedih menurun drastis. Mohon dimaklumi. But I'm back, right? Hehe.
Ga tau lah kalian masih inget apa engga sama ff ini. Terserah, gapapa, sumpek banget makanya pengen nulis yang sedih-sedih.
Cygnus ga mengharapkan apapun kali ini, just enjoy it.
See you.
