Terdengar dengkuran halus dari mulut Hoseok. Ia sudah tertidur. Ia belum mandi dan belum mengganti pakaiannya. Apakah harus Jungkook menggantinya? Ini akan menjadi kesempatan yang bagus bagi dirinya.

"Aku akan memulainya..."

Happy reading

Jungkook menggendong tubuh lemas Hoseok menuju kamar mereka. Dengan kondisi seperti ini tidak memungkinkan baginya membawa Hoseok ke loteng tempat kamar tidur Hoseok berada. Jungkook memutuskan membaringkan Hoseok di ranjangnya. Melepas sepatu yang dipakainya lalu ia naik ke atas mengambil pakaian Hoseok.

Jungkook mengambil nafas dan menghembuskan dengan keras.

"Fighting Jungkook-ah kau pasti bisa. "

Jungkook mulai membuka perlahan kancing seragam yang melekat pada tubuhnya. Jungkook berusaha keras mengatur nafasku dan degup jantungnya yang sejak kapan berubah beat menjadi lebih cepat.

Sekarang ia sudah sampai di kancing terakhir. Ia berusaha melepas seragam Hoseok dengan hati hati.

"Aisshh kenapa dia memakai singlet. Aku jadi sudah membukanya. "

Jungkook hampir menyerah melepas singlet putih yang berhasil mencetak dua tonjolan kecil di bagian dadanya. Hoseok terus menggaruk garuk tubuhnya. Jungkook sebenarnya bingung kenapa ia melakukannya terus menerus. Karena pergerakan itu, Jungkook jadi semakin sulit melepas singlet sialan itu. Apa ia tidak usah melepasnya? Tidak! Ia harus melepasnya. Jungkook tak bisa membagi ranjang dengan seseorang yang bau keringat.

"Gatal gatal gatal!!" Hoseok tiba tiba teriak dan menunjuk area pahanya.

Jungkook yang melihat itu langsung membantu menggaruk area yang ditunjuknya. Namun, Hoseok bangun membuka celana sekolahnya sendiri menyisakan celana dalamnya dan menggaruk pahanya. Jungkook kaget dan sedikit memundurkan tubuhnya.

Mata Hoseok tetap setia menutup, ia terus menggaruk dengan keras pahanya. Mata Jungkook tertuju pada paha Hoseok yang kini sedikit berdarah.

"Jangan digaruk. Aku akan mengolesi salep. " Jungkook mengambil kotak P3K yang berada di meja di samping tempat tidurnya.

Ia mengambil sedikit dan mengoleskan lembut pada luka yang berada di paha Hoseok. Sepertinya itu karena alergi.

Hoseok kembali berbaring dan mungkin sekarang ia sedikit sadar.

"Hoseok kau alergi. " Jungkook selesai mengolesi paha kanannya dan kini beralih ke paha kirinya.

"Taehyung ssaem mengajakku makan duren. Padahal aku alergi pada buah satu ini. " Ujar Hoseok dengan suara sedikit lemah.

"Pabo.." Reflek Jungkook.

"Ekhemm Hoseok-ah aku ingin membantumu mengganti pakaian tapi aku kesulitan melepas singletmu bisa kau lepaskan. "Tanpa banyak perlawanan Hoseok melepas singletnya dengan perlahan. Ia melempar sembarang singletnya. Sepertinya Hoseok masih setengah sadar.

Kini tersisa celana dalam. Jungkook ragu apakah ia harus menggantinya juga. Ah apa pedulinya. Mereka kan sama sama laki laki. Jungkook melepas satu satunya kain yang menutupi tubuh Hoseok. Dengan mata yang sedikit tertutup ia berusaha tidak melihat "itu"nya. Dengan cepat ia meraih celana dalam baru milik Hoseok dan melakukan hal sama yaitu tidak melihat hal yang mungkin bisa membuatnya turn on saat ini.

Huftt ' gumamnya.

Ia lalu mengusap lembut tubuh Hoseok dengan kain basah. Mulai dari wajahnya, tubuhnya , sampai keujung kakinya. Ia berusaha menahan diri untuk tidak mengambil keuntungan akan kesempatan berharga ini.

Ia dengan cekatan memasangkan pakaian pada Hoseok. Meski sedikit kesulitan, karena Hoseok sesekali meraba raba tubuhnya sendiri.

"Hah...akhirnya selesai." Jungkook menarik selimut menutupi tubuh lelah mereka dua. Hoseok lelah karena kegiatannya bersama Taehyung sedangkan Jungkook lelah karena kegiatan mengganti baju Hoseok.

Malam itu, jungkook sedikit terganggu dengan pergerakan teman satu ranjangnya ini. Tangannya tak henti meraba raba tubuhnya sendiri.

Jungkook menarik tangan hoseok dan membuatnya tidur menyamping ia memeluk hoseok agar ia tidak lagi meraba raba tubuhnya sendiri.

Pagi menjelang, dua insan itu tak kunjung bangun dari fantasi tidur mereka. Sampai suara alarm pribadi milik jungkook berbunyi dan memaksa ia untuk bangun.

Krukkk...

"Perut sialan. Baiklah aku akan mengisimu sekarang. "Jungkook sebenarnya enggan beranjak dari tidurnya. Ia sangat bahagia ketika mengetahui Hoseok berada dipelukannya sepanjang malam. Menghadirkan kehangatan tersendiri bagi Jungkook yang dicap seorang player sejak sekolah menengah pertama. Bagi Jungkook Hoseok itu "Berbeda".

Kruk...

Kali ini bukan perut Jungkook yang bersuara. Melainkan suara perut pria lain di ruangan itu.

"Akhh aku lapar..." ia meregangkan tangan tangannya kesamping dengan sedikit menguap. Suaranya terdengar manja di telinga Jungkook. Kalian pasti taulah. Tidak perlu author praktekkan kan?

Hoseok tetiba kaget ketika menyadari ia berada di ranjang pemilik apartemen. Pakaiannya sudah terganti. Dan lebih mengerikan ia melihat Jungkook yang telah berdiri di samping tempat tidur itu dengan senyuman yang sulit diartikan.

"Pagi... apa tidurmu nyenyak?" Hoseok mengangguk.

"Kau bingung bukan kenapa kau berada di ranjangku dan kenapa bajumu sudah diganti?" Hoseok membeku.

"Mmmm... itu karena kau sudah terkapar saat baru pulang. Tidak mungkin kan aku mengangkatmu sampai ke loteng? Masalah bajumu, aku yang menggantinya. Tenang saja aku tidak melakukan hal lain selain mengganti bajumu. " Hoseok kembali terdiam.

"Terimakasih atas bantuanmu. Dan maaf sudah merepotkanmu. Lain kali aku tidak akan mengulangnya. "

Jungkook hanya tersenyum. "Hoseok boleh aku bertanya? Kenapa kau meraba raba saat tidur?" Hal yang ingin Jungkook ketahui saat ini.

Hoseok sedikit menggaruk kepalanya. "Itu kebiasaanku saat tidur supaya aku bisa tidur nyenyak. Ibuku melakukannya sejak kecil. Karena ibuku pergi jadi aku melakukannya sendiri. "

"Aahhh... begitu rupanya. Untung saja aku memelukmu jadi kau tidak gelisah dan meraba raba tubuhmu sepanjang malam. " Jungkook terkekeh melihat reaksi Hoseok.

"Kau seharusnya tidak perlu melakukannya!" Hoseok terlihat sedikit kesal.

"Kau terus gelisah membuatku tak bisa tidur. Jadi aku putuskan untuk memelukmu. Omong omong, tubuhmu memang enak untuk dipeluk. " Hoseok masa bodo dengan tanggapan Jungkook beranjak pergi menuju dapur.

"Hei...kenapa kau langsung pergi."jungkook mengikutinya dari belakang.

"Aku lapar. Berhentilah mengingat kejadian semalam. Aku pastikan itu tidak akan terjadi lagi. "Hoseok mendecih dan bergegas mencari bahan makanan di kulkas.

"Lihat saja nanti" gumam jungkook

Tangan Hoseok yang terampil dengan cepat mengolah bahan makanan yang sudah ia potong dan bersihkan. Keringat sesekali meluncur mulus dari kening lebarnya.

Jungkook bersyukur bisa menikmati pemadangan pagi ini sendiri. Jungkook bersumpah lelaki yang bernama Kim Tae Hyung itu tidak akan pernah bisa melihat betapa menggairahkannya hoseok saat memasak. Aish kenapa ia harus memikirkan laki laki pengacau itu. Ia tak sudi hoseoknya direbut oleh pria yang agak aneh itu.

"Jungkook." Ia menoleh.

"Kenapa?" Jungkook duduk di kursi meja makan yang langsung menghadap ke dapur.

"Aku bermimpi kejadian 8 tahun lalu. Kejadian dimana aku hampir kehilangan nyawaku. Apa kau pernah mendengarnya dari bibi? "

Jungkook mengangguk. "Aku tau hal itu. "Jawabnya singkat.

"Aku kehilangan jejaknya kook. " Jungkook mengernyitkan dahinya.

"Siapa yang kau maksud?"

"Penyelamat hidupku. Saat aku tenggelam di danau itu aku berdoa kepada Tuhan untuk mengirimku seorang penyelamat. Dan berjanji aku akan melakukan semua yang dia inginkan. " Hoseok berhenti sejenak. Ia menata makanan yang baru dimasaknya.

Jungkook meraih sumpit dan mulai mengunyah makanan.

"Lalu apa kau tau siapa dia?" Lanjut Jungkook menatap makanannya.

"Aku tidak tau. Aku tidak sempat melihat wajahnya apalagi bertanya namanya. Aku hanya mendapat gelang ini. Gelangnya tersangkut di kancing bajuku waktu ia menyelamatkan aku. " Hoseok menunjukkan gelang yang dipakainya. Gelang berdesain simpel namun tampak elegan.

"Itu milikku Hoseok-ah. "

Srettt

Tbc

Hello aku update lagi thankyou comment an lucunya. Seneng deh ceritaku disukai

See u next chapter