Disclaimer:
Saint Seiya © Kurumada Masami
OCs © Author Sia Leysritt
Summary
"Para Half Bloods masih hidup. Mereka masih berkeliaran di sekitar kita seperti para Saint, prajurit Athena. Mereka bersembunyi, tidak memberikan identitas kepada siapapun karena tidak ada yang bisa dipercaya. Namun saat para Titan mulai bangun, mereka sadar bahwa mereka kini tidak bisa bertindak sendirian saja. Mereka butuh bantuan. Dan hanya Dewi Athena dan prajuritnya yang bisa memberi mereka bantuan itu."
Other Author OCs:
Shizen Areleous: Shimmer Caca
Ara Thea: Neo Tsukirin Matsushima29
Ringo: Neo Tsukirin Matsushima29
Sia Leysritt Present:
Halfbloods: Titan's War
Aureate – I
Cerastes, Ular Bertanduk
"If your opponent is better armed and has longer reach, then surprise is your only ally. And then you'd better hope he's half asleep."
― Sherwood Smith, Crown Duel
Dia menengadah menatap langit. Langit malam itu tampak sangat gelap. Tak satupun bintang terlihat malam itu. Jelas. Malam itu awan berarak-arak menutupi bintang, awan hitam tebal yang menggelapkan langit yang memang sudah gelap. Mendung. Pertanda hujan. Bukannya meringis karena jeleknya cuaca, ia malah tersenyum, menanti-nantikan turunnya hujan. Hatinya seakan berbisik gemas; Sedikit lagi, sedikit lagi.
Seraya menunggu, ia merebahkan dirinya, kedua tangannya berada di belakang kepalanya. Ia tak repot-repot menurunkan tudung jubah birunya. Walau menyukai hujan, harus ia akui malam itu memang dingin sekali. Untungnya jubah ini saja cukup untuk menghangatkannya. Gadis itu menutup matanya, menunggu butiran air dari langit turun membasahi wajahnya. Belum semenit ia menanti, ia merasakan sesuatu yang basah mengenai kedua pipinya.
Gadis itu membuka matanya, sekejap, ia melihat sesuatu berwarna cream abstrak tepat di depan matanya. Ia mengerjapkan kedua mata, mencoba membuat pandangannya lebih jelas. Saat pandangannya berubah jelas, ia berhadapan dengan sepasang mata berwarna Violet.
"Ah!" Gadis itu terlonjak kaget dan langsung bangun dari posisi tidurnya. Pemilik manik Violet tersebut, tertawa kecil melihat reaksi gadis bermata belang tersebut. Pemilik manik Violet itu berambut cokelat susu. Kulitnya putih bersih tanpa cela. Ia tersenyum geli dan si gadis bermata belang memberengut.
"Jangan menakutiku seperti itu, Lana."
"Kau yang menakuti dirimu sendiri, Nasha." Jawab Lana. "Kau tahu,kalau kau tidur di sini pada cuaca begini kau akan masuk angin." Jawab Lana.
Lana Coppelia Ermengild. Kakak tertua Nasha, sang gadis bermata belang. Nasha hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan kembali duduk ke posisi semula, memandang langit gelap tanpa bintang dan kakaknya mengikutinya.
"Tak bisa tidur?"
Nasha menggeleng.
"Mimpi?"
Sebuah gelengan lagi. "Hanya masalah insomnia biasa."
Lana mengangguk.
"Ada kabar apa dari atas?" Tanya Nasha.
"Hmm? Ah.. Ya—" Sebelum Lana sempat menjawab, sebuah suara baru menyelesaikan kalimatnya.
"Sepertinya segel monster di sini telah melemah."
Kedua saudari itu berbalik, mendapati seorang anak laki-laki dengan mata biru laut berambut panjang coklat berdiri tak jauh dengan mereka bersama seorang anak gadis berambut biru dengan mata biru laut. Mereka adalah Ingvalt Einhart Ermengild dan Kairi Evalyn Ermengild.
"Ingvalt."
"Kai."
Keduanya mengangguk dan duduk dengan kedua saudara mereka.
"Kurasa sedikit lagi kita tidak akan hanya duduk berdiam diri di sini." Kata Ingvalt.
"Kenapa kau di luar sini? Kau sedang sakit." Tegur Lana.
"Kondisiku tak jauh lebih buruk daripadamu, kak."
"Nah, makanya jangan memperparah kondisimu sendiri."
"Aku tidak memperparah, angin tak akan menggangguku."
"Itu bisa memperparah, Ingvalt."
"Tidak. Berhentilah memperlakukanku seperti anak kecil."
"Kau memang anak kecil. Kau lebih muda dariku."
"Hanya sekitar 12 menit!"
Kai memutar bola matanya. "Mereka mulai lagi." Nasha hanya bisa tetawa kecil. Aneh sekali rasanya mereka masih bisa tertawa seperti ini setelah kehilangan ibu mereka.
Ya, Sayang, keempat anak ini telah kehilangan ibu mereka di umur yang sangat belia. Kejadiannya baru enam tahun yang lalu. Walau saat itu Nasha baru berusia beberapa bulan. Ia tidak ingat ibunya, yang Nasha tahu ibunya meninggal karena sebuah kecelakaan. Kecelakaan apa, Nasha tak pernah tahu. Nasha masih bertanya-tanya kenapa mereka masih bisa tertawa seperti ini. Mungkin saja karena mereka masih bersama-sama. Masih punya satu sama lain. Mereka tidak sendirian.
"Hei, hei, ayolah kakak-kakakku yang manis. Daripada bertengkar terus bagaimana kalau kita tidur? Cuaca dingin seperti ini paling nyaman digunakan untuk tidur dan jujur, kelopak mataku sudah mulai berat sekarang." Kata Kai, meringankan suasana. Nasha tersenyum. Di antara semua saudaranya ia paling dekat dengan Kai, mungkin karena umur mereka tak begitu beda jauh – hanya beda 3 tahun – dan mungkin juga karena sifat Kai yang periang dan terbuka.
Kai adalah sosok yang periang. Ia spontan, bebas dan mandiri. Ia tidak suka dikekang dan terkadang ia berbuat semaunya, tapi ia mengerti batasan tertentu dan tidak akan berbuat terlalu kelewatan. Namun dia juga punya sedikit sisi sinis jika ada hal yang membuatnya jengkel. Beda dengan Nasha, dia adalah sosok yang lebih tenang dan pendiam. Ia tidak suka bicara jika ia merasa tidak perlu berbicara, tapi dia tidak dingin
Ingvalt dan Lana adalah sepasang kembar fraternal. Kembar yang tidak punya kemiripan apa-apa terkecuali warna rambut mereka. Lana adalah sosok yang mempunyai sifat keibuan. Mungkin karena dia yang paling tua dan karena dia sekarang bertanggung jawab mengurus adiknya, dia hampir tak pernah memikirkan kepentingannya sendiri dan hanya memikirkan kepentingan adik-adiknya. Sementara Ingvalt, dia adalah pribadi yang pendiam, tapi dia santai. Ia hampir tidak pernah serius dan dia tak akan banyak berbicara kecuali dia memang perlu bicara. Singkatnya, untuk sepasang kembar, mereka berbeda jauh.
"Salahkan Lana, dia yang mulai."
"Maksudmu buruk kalau kakakmu mengkhawatirkanmu?"
"Bukan—"
"Sudah, sudah." Kai menengahi kedua kakaknya. "Ayo kita kembali tidur. Yang lain pasti bertanya-tanya di mana kita."
Nasha mengeluarkan suara tawa kecil sebelum akhirnya berdiri, lalu mengikuti ketiga kakaknya.
Malam itu, hujan tak turun saat Nasha terjaga. Hujan turun saat semua terlelap. Hujan badai yang cukup deras. Angin kencang dan hujan itu, jika mengenai kulit, akan terasa seperti tusukan jarum. Nah, sayang, percayakah kau dengan pertanda?
Aku pribadi percaya badai malam itu merupakan pertanda buruk.
"Milo, berhentilah menguap."
Sang Saint Aquarius, pria berambut biru dan bermata biru safir itu memandang sahabat karibnya dengan pandangan tidak senang. Pria berambut biru keunguan di sampingnya tengah menguap lebar, menutupi mulutnya dengan sebelah tangan lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Aku mengantuk Camus, lagipula ini masih pagi. Untuk apa kita pergi misi sepagi ini? Jam segini aku masih tidur."
Camus memutar bola matanya.
"Lebih cepat kita pergi, lebih baik. Kita bisa cepat kembali dan kau bisa kembali tidur."
"Berhentilah membuat janji palsu, bung. Aku tahu setumpuk dokumen berisi kau-tahu-apa sedang menungguku di meja." Milo berhenti berbicara sejenak. "Dan aku tahu semua dokumen itu darimu."
Camus tidak mengiyakan tapi tidak juga menyangkal.
Kedua pria ini adalah sahabat baik. Memang tidak kelihatan sama sekali tapi begitulah kenyataannya. Aquarius Camus, pria asal Perancis berambut biru itu, adalah pria berwibawa yang tenang dan sangat dingin. Mungkin karena dia Master elemen es dan itu mempengaruhi sifatnya. Sejujurnya? Ia jarang sekali tersenyum. Kalaupun ada ekspresi lain yang akan ia perlihatkan, itu adalah ekspresi memberengut. Seperti sekarang. Saat sahabatnya mengeluh ini itu hanya karena satu hal; Bangun pagi.
Oh, tapi tunggu. Pria ini bisa tersenyum, Sayang. Hanya saja tidak pada semua orang. Ia hanya bisa tersenyum pada seorang wanita. Ya, wanita spesial, tapi kita akan mencapai bagian itu nanti.
Sementara Milo. Pria satu ini jauh berbeda dari sahabatnya. Memang ada saatnya dia bersikap kalem, untuk menjaga imej-nya atau apa ridak ada yang tahu, namun dia lebih ceria dibandingkan sahabatnya yang dingin sedingin es. Ia juga tidak begitu rajin saat dihadapkan dengan setumpuk dokumen yang harus diperiksa dan ditandatangani. Yang begitu itu bukan tugasnya, itu tugas Camus, Shaka dan Mu. Tiga orang itu betah duduk berlama-lama membaca dokumen yang isinya sama semua dan menandatangani kertas-kertas tak berguna itu. Milo lebih senang melakukan misi. Misi dalam bentuk apapun itu. Tapi ia jelas tidak suka kalau misi itu mengharuskanya untuk bangun pagi.
"Berhentilah mengeluh. Kau seorang Saint Emas." Tegur Camus.
Milo memberengut dan menggumamkan sesuatu sebelum perhatiannya teralihkan oleh suara anak kecil yang memanggil mereka.
"Milo! Camus!"
Kai dan Nasha menghampiri mereka. Nasha, seperti layaknya seorang perempuan, mengenakan terusan putih selutut, sementara Kai memakai baju polos putih dengan celana coklat. Gadis ini benar-benar tak mau terlihat feminim. Oh, kedua Saint itu kenal dengan sepasang saudari ini, tentu saja. Milo tersenyum lebar dan begitu Kai mendekatinya, Kai melepaskan pegangannya pada tangan Nasha dan langsung menghambur pada Saint Scropio tersebut. Sang pria, langsung menangkapnya dan memutarnya di udara.
"Hei Kai, pagi." Sapa Milo sambil menurunkan sang gadis dari gendongannya. Rasanya aneh menyebut Kai sebagai gadis karena bagi Milo, Kai tidak terlihat seperti seorang gadis. Nasha hanya terdiam di tempatnya dan Camus hanya menggelengkan kepalanya. Oh bukan, bukannya Camus tidak suka, tentu saja. Ia hanya heran kenapa mood-nya cepat sekali berubah melihat kedua bocah ini.
Nah sayang, sepasang saudari ini dekat dengan Saint Emas. Khususnya dua Saint yang ada di sini sekarang, juga dengan Saint Leo. Itu karena menurut cerita Lana dan Ingvalt, ibu mereka bekerja sebagai pelayan di Sanctuary. Nama ibu mereka adalah Athalia Elfriede Ermengid. Tidak banyak yang Ingvalt dan Lana ceritakan pada Kai dan Nasha, dan mereka berdua juga tidak mau bercerita terlalu banyak mengenai mendiang ibu mereka. Begitu juga Milo dan Camus. Kedua Saint Emas ini jarang bercerita banyak tentang ibu mereka kecuali mungkin tentang fakta bahwa ibu mereka dekat dengan para Saint.
"Sedang jalan-jalan?" Tanya Milo.
Kai mengangguk. "Kalian sendiri? Mau pergi misi?" Milo meengangguk, Nasha menaikkan sebelah alis.
"Sepagi ini?"
"Salahkan Camus, dia terlalu rajin."
Camus tidak menjawab – karena ia rasa tidak penting dan ia tak harus menjawab – dan hanya menatap Milo dengan pandangan datar.
"Ayo Milo." Kata Camus, berjalan meninggalkan sahabatnya itu.
"Ah, Hei! Cih, dasar workaholic. Dia dan Shaka sama saja." Kedua bocah itu tertawa mendegar gerutuan Milo.
"Yah," Milo menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Aku harus pergi sekarang. Nikmati hari kalian, gadis-gadis." Milo berkedip sebelah mata pada mereka berdua.
Keduanya mengangguk dan melambai kepada sang Saint Emas yang sudah berjalan menjauh, menuju hutan yang berada di sebelah utara desa.
"Menurutmu yang lainnya sudah kesana?" Tanya Nasha penasaran.
"Pasti sudah, dan Kallisto tidak akan senang."
Nasha memandang kakaknya heran. "Kenapa tidak?"
Kai mendengus. "Gadis itu tidak suka saat buruannya direbut. Kau tahu sendiri dia lebih suka bekerja sendiri. Ia tak mau ada saingan."
"Kurasa hampir semua di tempat kita seperti itu." Kata Nasha.
"Ya, tapi tidak separah dia. Berdoa saja Rio bisa menahannya sebelum ia mencakar kedua pria malang itu."
Nasha tertawa gugup, tapi ia benar-benar berharap teman-temannya juga Milo dan Camus akan baik-baik saja.
Karena,
Cerastes bukanlah lawan yang mudah dikalahkan.
"Jadi… Apa misi kita hari ini?" Tanya Milo dengan nada ogah-ogahan.
"Aku sudah mengulanginya dua kali Milo." Jawab Camus. Ia sama sekali tidak mengerti bagaimana ia bisa punya sobat yang malas seperti ini. Sejujurnya ia sama sekali tidak mengerti bagaimana mereka bisa berteman, mungkin saja dulu ia terlalu polos atau mungkin saat itu dunia sedang jungkir balik sehingga dia mau-mau saja mengakrabkan diri dengan orang malas ini, tapi toh, sekali menjalankan misi Milo akan menjalankan misi itu sampai tuntas dan itu setidaknya sudah cukup bagi Camus.
"Aku lupa." Jawab Milo enteng.
"Umurmu berapa tahun ini?"
"Tiga belas." Jawab Milo sambil nyengir kuda.
"Kau belum memasuki usia di mana kau sudah menjadi pikun. Atau mungkin sifat malasmu yang membuatmu mendadak pikun?" Kata Camus dengan nada menyindir.
" Tidak dua-duanya. Kau tahu sendiri aku paling malas mendengarkan penjelasan misi yang panjangnya hampir sama dengan panjang ceramah Shaka. Aku lebih suka bertindak secara langsung."
Camus menatapnya dengan satu alis terangkat. "Menyerang secara sembrono dan menyusahkan orang lain? Yah itu memang gayamu, tentu saja, tapi pada akhirnya aku yang kerepotan."
"Ha ha, lucu. Jadi? Apa misi kita kali ini?" Tanya Milo untuk yang kesekian kalinya.
Camus mendesah. "Kali ini kita diperintahkan Sri Paus untuk menyelidiki kasus orang-orang menghilang di hutan dekat Desa Rodorio." Jawabnya.
Milo menaikkan sebelah alis. "Lagi? Bukankah kemarin ada beberapa Saint Perak yang diperintahkan untuk mengeceknya?"
"Justru karena itu. Kau belum dengar keadaan mereka setelah kembali dari sana?"
Milo menggeleng.
"Ada tiga Saint Perak yang dikirim ke hutan itu. Beberapa bulan ini jumlah orang yang menghilang semakin meningkat dari biasanya. Kabarnya mereka semua menghilang saat mereka mendekati hutan ini dan lenyap begitu saja. Mungkin kalau hanya satu dua orang, itu masih wajar. Entah di makan binatang buas atau mati kelaparan karena tersesat. Tapi lebih dari lima itu bukan jumlah yang wajar."
"Mungkin saja kalau mereka memang bosan hidup dan mau bunuh diri sama-sama."
"Milo."
Sekali lagi Milo hanya nyengir kuda mendengar suara temannya yang sedingin es itu. Ia sudah terbiasa dengan jawaban-jawaban dan sikap Camus yang kelewat dingin itu. Ia sudah mengenal Camus sejak mereka masih mengenakan popok – baiklah, itu mungkin terlalu berlebihan tapi mereka memang sudah mengenal satu sama lain untuk waktu yang sangat lama – sehingga segala jawaban dan sikap dingin Camus sudah kebal total padanya. Tapi memang rasanya mencurigakan lima orang lebih lenyap begitu saja dan memang mustahil rasanya kalau mereka semua bunuh diri sekaligus di sana.
"Iya, iya kau benar, aku akui. Lanjutkan saja."
Camus mendesah. "Kemarin tiga Saint Perak dikirim untuk menyelidiki hutan itu dan mereka kembali dalam keadaan luka parah dan satunya mati mengenaskan." Jawabnya.
Milo mulai tertarik pada arah pembicaraan ini.
"Saint Perak? Mati?" Tanyanya, memastikan ia tidak salah dengar.
"Ya. Mati. Wajahnya dirusak dan leher juga kulit dadanya terkoyak… Itu seperti bukan perbuatan manusia."
"Hmm…" Milo mengusap-usap dagunya seraya berpikir. "Maksudmu adalah, orang-orang menghilang di hutan itu karena perbuatan mahkluk yang bukan manusia?" Camus mengangguk.
"Dari ceritamu berarti hanya satu mahkluk yang bisa… Dan tidak mungkin ulah binatang buas biasa bukan?" Kata Milo sambil menyeringai lebar, menatap ke arah hutan yang kini sudah ada di depan mata.
"Ya. Hanya satu mahkluk..."
Milo kembali menyeringai. "Monster." Ia suka ini. Mangsa baru setelah sekian lama. Ia merasa tangannya mulai terasa gatal dan kuku merah panjang kebanggaannya, Scarlet Needle miliknya mulai terasa panas. Panas karena akhirnya mendapatkan mangsa baru.
"Kau jangan langsung bertindak sembrono dan mencari tanpa arah, Milo. Aku tahu kau ingin secepat mungkin menghabisi mangsamu tapi kita butuh rencana."
"Ck." Milo menatap Camus, ia terlihat seperti anak kecil yang sudah tidak sabar mendapatkan ijin bermain dari orang tuanya. Tapi ia tahu, merengek seperti apapun, Camus tidak akan bergeming. Camus selalu tahu banyak cara untuk membuat Milo mengikuti kemauannya.
"Baiklah, baiklah. Jadi Balok Es, bisa kau beritahu ide brilian apa yang sudah terbentuk dalam otak jeniusmu itu?" Tanya Milo acuh tak acuh.
Camus tak mengindahkan nama panggilan yang diberikan Milo dan melanjutkan.
"Karena kita tak tahu mahkluk apa yang kita kejar sekarang dan tidak tahu keberadaannya, kita belum bisa berbuat apa-apa. Tapi kita juga harus cepat menemukannya dan satu-satunya hal yang terbesit dalam pikiranku adalah, kita akan berpencar."
Milo menaikkan sebelah alis. "Oke, itu cukup brilian. Tapi bagaimana kita akan memberitahu satu sama lain ketika salah satu dari kita menemukannya?"
"Itu pertanyaan bodoh, Milo. Kau bisa telepati bukan? Gunakan otakmu." Gerutu Camus.
"Aku bukan pemikir cepat sepertimu, bung. Otakku hanya berguna saat di medan pertarungan. Sudahlah, lebih baik kita cepat selesaikan misi ini. Aku mau pulang dan tidur." Katanya.
Camus menggelengkan kepala. "Apa hanya tidur saja yang ada di pikiranmu?" gerutunya sebelum ia berpisah jalan dengan Milo.
Milo memutar bola matanya lalu ia pergi ke arah yang berlawanan. Jujur, Milo benci mangsa yang bersembunyi karena itu membuatnya kerepotan. Ia tidak pernah suka main petak umpet dengan mangsa-mangsanya. Ia hanya mau pertarungan jantan tanpa sembunyi-sembunyi, membunuh – atau menangkap jika mereka butuh informasi dari musuh bersangkutan – mangsanya dan habis perkara. Namun yang ini, ia harus berkeliling mencari-cari mangsanya, seekor monster, entah monster apa.
"Oh?"
Ia menemukan apa yang di carinya. Sebuah jejak di tanah basah tersebut. Jejak itu tidak terlihat seperti jejak kaki binatang, bukan. Jejak itu tampak seperti jejak bekas ular yang melata melalui tempat itu, dan jejaknya besar. Raksasa. Milo menyeringai. Sepertinya bukan hanya dirinya seorang yang ingin bermain-main dengan monster ini. Cepat sekali ia menemukan jejaknya dan ia yakin monster ini, ular raksasa ini, juga ingin bermain-main dengannya, atau dia hanya sekedar lapar saja dan tengah memancing mangsanya ke sarangnya entah di bagian mana di hutan ini.
Tapi tentu saja ia tak akan menjadi mangsa. Monster itulah yang akan menjadi mangsanya.
Ia mengikuti jejak itu, berdoa dalam hati agar hujan tak turun – mengingat langit lumayan mendung pagi ini – agar jejak tersebut tak disapu bersih oleh air hujan – kadang-kadang Milo berpikir itu ulah Poseidon yang merupakan musuh Athena – sehingga tidak mempersulit misinya. Jejak itu membawanya ke bagian terdalam hutan tersebut, ke hadapan mulut sebuah gua.
"Oho, jadi di sini sarang mahkluk misterius ini?" Gumamnya. Ia menaikkan tangan kanannya, kuku jari telunjuknya memanjang dan berwarna merah. Scarlet Needle miliknya sudah siap. Sudah terasah. Sekarang, haruskah ia menunggu mangsanya keluar? Atau haruskah ia melancarkan satu serangan ke dalam gua untuk menimbulkan serangan kejutan?
Tidak butuh waktu lama bagi Milo untuk memutuskan.
"Scarlet—!"
Belum sempat ia melancarkan serangannya, sekelebat bayangan berwarna hitam muncul dan menerjang ke arahnya. Refleks, ia melompat ke belakang. Bayangan yang menyerangnya pun berhenti, kini Milo dapat melihat jelas siapa penyerangnya.
Di hadapannya, seekor ular raksasa menatapnya ganas dan mendesis geram. Ular itu besar. Raksasa. Warnanya hijau pucat dengan bagian perutnya berwarna putih, yang membedakannya dengan ular biasa adalah tanduknya yang besar. Tanduknya tampak seperti tanduk domba. Keras dan berwarna hitam.
"Heh, aku tak tahu monster apa kau, tapi kutebak kau adalah mangsa yang tengah kami cari-cari."
Sebagai jawaban. Ular itu mendesis kembali, tatapannya tampak lebih ganas dari barusan.
Milo menyeringai.
"Oi Balok Es, mangsa kita ada di sini. Cepat datang kalau kau mau kebagian jatah."
Begitulah isi pesan telepati Milo untuk sobatnya. Ia tak punya lagi waktu berpikir karena detik berikutnya, ular raksasa tersebut menerjang ke arahnya. Milo sedikit dikejutkan oleh gerakannya yang cekatan, terlalu cekatan malah, untuk makhluk berukuran raksasa. Milo menghindar dengan lincah. Dengan susah payah, dan ia tak diberi kesempatan menyerang.
Cih, ular ini cepat juga. Ia seperti tidak punya tulang belakang!
Oh, andai saja dia tahu kebenarannya.
Milo mendarat setelah merasa jarak antara dirinya dan monster ganas itu sudah cukup jauh. Tanpa membuang waktu lagi, ia melancarkanserangan kebanggaannya.
"Scarlet Needle!"
Tiga tusukan Scarlet Needle ia arahkan pada ular raksasa tersebut. Namun, tanpa mengalami banyak kesusahan, ular raksasa itu menghindarinya. Sekali lagi, dengan kecepatan yang tidak normal untuk makhluk berukuran raksasa. Milo mendecih dan kembali melompat menjauh. Oh, betapa dia benci berada di posisi tikus yang dikejar kucing.
"Diamond Dust!"
Sejumlah butiran kristal salju yang tajam diikuti dengan angin dingin yang kencang – yang tentu saja dapat dirasakan oleh Milo juga – menerjang ke arah sang monster dan dengan cekatan, ular raksasa tersebut menghindar lalu menyeruak masuk ke dalam tanah, menyembunyikan dirinya.
"Cih."
Aquarius Camus berdiri beberapa jarak dari medan pertarungan Milo dan ular raksasa tersebut.
"Lama sekali, Balok Es." Gerutu Milo.
Camus memutar bola matanya. "Bersyukur saja setidaknya aku sudah datang." Balasnya. Ia memicingkan matanya ke arah ular bertanduk tersebut menghilang.
"Cerastes... kah?"
Cerastes—Monster ular bertanduk dalam legenda Yunani. Monster ular yang sangat fleksibel hingga dipercaya ia tak punya tulang belakang.
"Cerastes? Pantas saja ular satu ini lincah sekali." Kata Milo, mendarat di sisi Camus.
"Ya. Ini pertarungan yang mengandalkan kecepatan dan kelincahan." Kata Camus.
Milo menaikkan sebelah alis. "Baiklah, apa rencanamu Balok Es?"
Belum sempat Camus menjawab, makhluk yang dibicarakan telah muncul dari dalam tanah di belakang mereka dan menerjang mereka. Camus dan Milo menghindar, namun ular tersebut berhasil menggigit bahu Milo yang – untungnya – dilindungi oleh Cloth Emas.
"Kh!"
Milo cepat-cepat mengulurkan tangan untuk menangkap – atau menghancurkan juga boleh – mahkluk tersebut, namun sial, makhluk tersebut menghindar secepat ia muncul dan kembali bersembunyi. Milo melirik bagian Cloth yang di gigitnya. Tidak retak, tentu saja, tapi ada sedikit bekas gesekan. Lecet, mungkin lebih tepat.
"Heh, jadi kekuatanmu bukan hanya di kecepatanmu saja toh?" Tapi harus Milo akui kecepatan ular ini merepotkan. Sangat merepotkan. Gerakannya bahkan lebih cepat darinya yang notabenenya adalah seorang Saint Emas.
"Kita harus mengatasi masalah kecepatannya itu." Kata Camus yang kini telah berada di sisi Milo. Milo memutar bola matanya.
"Ya, itu jelas sekali Balok Es. Pertanyaannya; Bagaimana? Kecepatannya itu bahkan melebihi kita yang mempunyai kecepatan cahaya."
"Itu karena dia fleksibel. Dia tidak punya tulang belakang." Jelas Camus.
"Lewati saja pelajaran sejarahnya, Pak." Gerutu Milo. "Apa rencanamu?"
"Hal paling dasar yang harus dilakukan saat melawan musuh yang lebih cepat darimu adalah; Menyudutkan musuh." Jelas Camus.
Milo menaikkan sebelah alis. "Oke, bisa kau gunakan kata-kata yang lebih simple?"
Camus menghela napas. "Maksudku adalah kita mempersempit ruang geraknya. Selama area geraknya masih luas, dia akan terus diuntungkan. Dia bebas melompat kesana kemari. Jadi, agar kita punya kesempatan menang kita harus menyudutkannya. Mempersempit ruang geraknya sehingga ia tak punya tempat atau celah untuk menghindar."
Milo mengangguk, setidaknya kurang lebih ia mengerti.
"Baiklah. Tapi hutan ini luas sekali. Kita berada di posisi yang tidak menguntungkan."
Itu benar. Sejauh mata memandang, hutan ini tampak tak berujung. Tidak ada jalan buntu atau tembok yang bisa digunakan untuk menyudutkan monster itu. Mereka pun tak diberi kesempatan untuk berpikir. Detik berikutnya ular tersebut muncul dari tanah di bawah mereka dan mereka pun dipaksa untuk menghindari ular bertanduk tersebut.
Milo mendecih. Ia ingin cepat-cepat membereskan ular satu ini. Mau tidak mau, ia harus memikirkan sebuah rencana, walaupun memikirkan strategi bukanlah bidangnya. Demi Athena, dia 'kan bukan Camus. Milo mendarat di salah satu pohon di hutan itu. Ia tidak tahu apakah ular itu tengah kehilangan jejaknya ataukah makhluk itu tengah menargetkan Camus sebagai mangsa barunya, yang jelas untuk saat ini ular itu tidak ada di dekatnya. Ia mulai mengetuk-ngetuk batang pohon, kebiasaan yang kadang ia lakukan jika ia sedang gusar atau bosan.
Memojokkan...
Setidaknya dari pengamatan Milo sendiri, hutan ini bukan tempat yang cocok untuk menyudutkan atau memojokkan lawan. Banyak pohon, memang, tapi pohon-pohon saja tidak cukup. Tidak ada tembok tebal tanpa celah yang bisa mereka gunakan untuk menyudutkan sang ular. Hutan ini terlalu luas dan tampak seakan tak berujung. Milo mulai berpikir bahwa lebih baik ia kembali main petak umpet dengan sang ular dan berusaha memposisikan dirinya dalam posisi kucing yang mengejar tikus.
Satu-satunya tempat yang terpikir olehnya adalah gua tempat makhluk tersebut—
Tunggu... Gua?
Ah ya, dia ingat sekarang.
Ada gua. Gua tempat makhluk itu keluar tadi. Itu satu-satunya tempat di hutan ini yang memungkinkan mereka menjebak ular itu. Tapi ada beberapa hal yang dipertimbangkannya. Apakah gua itu berujung pada jalan buntu? Ataukah gua itu punya jalan keluar yang tembus ke tempat lain pada sisi seberang? Apakah gua itu cukup sempit sehingga ular itu tak bisa bebas bergerak atau malah luas dan tidak memberikan keuntungan sama sekali baginya dan Camus?
Seandainya Milo punya kesabaran yang cukup panjang seperti Aldebaran dan Mu, atau mungkin seperti Camus dan Shaka, dia pasti akan berpikir matang-matang dulu. Tapi nyatanya kesabaran yang ia miliki sudah terkuras habis karena ular tersebut. Karena sang Cerastes tersebut. Ia lalu menuntun dirinya ke arah gua tadi. Saat gua itu telah dilihatnya, dari jauh, ia dapat melihat Camus. Masih menjadi tikus yang dikejar oleh ular, sang Cerastes. Namun, dari mimik dan raut wajah Camus yang kelewat tenang itu, Milo sadar si Balok Es itu punya rencana yang sama sepertinya.
Tepat saat ular itu menerjang, Camus telah berada tepat di depan gua. Camus dengan cekatan, menghindar. Ia menghindar, namun nyaris terkena taring Cerastes.
"Milo!"
'Oh, dia menyadari keberadaanku toh.'
Milo menyeringai ia lalu melompat ke depan gua, menyiapkan kuku merah kebanggaannya, dan...
"Scarlet Needle!"
Milo menembakkan jurus kebanggaannya. Scarlet Needle miliknya menerobos memasuki gua dan tak lama, terdengar suara desisan keras. Sangat keras dan memekakkan telinga, Milo berharap itu adalah desisan yang menandakan rasa sakit dan itu berarti serangannya sukses.
Hening.
"... Kita cek?" Tanya Milo.
"Ya."
Dan mereka memasuki gua itu. Begitu memasukinya, bau asam menyengat tercium oleh mereka. Mengetahui bau menyengat apa ini, mereka mempercepat langkah mereka dan tidak butuh waktu lama untuk mereka tiba di ujung gua. Apa yang mereka lihat, membuat mereka terkesiap.
Beberapa tumpukan mayat dengan kondisi mengenaskan ada di sana. Kuliat mereka robek sana-sini dan darah ada di mana-mana. Kini tahulah mereka bahwa orang-orang yang hilang itu bukan sekedar hilang melainkan menjadi mangsa sang Cerastes.
"Sial." Umpat Milo. "Makhluk itu sudah lama lepas di sini dan kita baru menyadarinya."
Camus mengerti kekesalan Milo. Mereka adalah para Saint. Tugas mereka adalah melindungi Bumi serta seluruh isinya. Ia dan Milo merasa gagal sebab beberapa korban jatuh karena kelalaian mereka, tapi kejadian ini tak bisa diapa-apakan lagi. Nasi sudah menjadi bubur, apa yang sudah rusak tak bisa diperbaiki. Camus melirik butiran debu di tanah – yang ia tebak adalah hasil dari mereka membunuh sang Ular Bertanduk – dan menghela napas. Misi mereka sudah berakhir.
"Kita harus laporkan ini pada Paus." Kata Camus sambil menepuk pundak Milo. Tangan sahabatnya tengah membentuk kepalan keras. Camus tahu sahabatnya tengah kesal. Emosi. Marah. Memaki diri malah, tapi tidak ada yang bisa mereka lakukan. Milo juga sadar akan hal ini dan dia juga mengangguk dan mereka keluar, meninggalkan gua itu untuk melaporkan hasil misi mereka pada Sri Paus.
Saat mereka keluar, tak satupun menyadari lima sosok bertudung tengah mengawasi mereka dari jauh.
.
.
.
"Mereka merebut buruanku."
Seorang wanita berkerudung jingga merengut, memanyunkan bibir tanda tidak senang seraya menatap kepergian kedua Saint Emas yang telah lama meninggalkan hutan.
"Kau kurang cepat, kak. Kau harus mengakui itu." Jawab seorang anak muda berkerudung merah marun dengan senyum jenaka terulas pada bibirnya.
Wanita berkerudung kuning memelototi pemuda berkerudung merah tersebut. "Aku tidak kurang cepat, kau yang menghentikanku untuk menghabisi buruanku."
Sang pemuda mengangkat kedua tangannya. "Hei, kalau itu tidak kulakukan, kita bisa terekspos. Kau tahu kalau keberadaan kita ini dianggap tidak ada lagi dan kita harus menjaga situasinya tetap seperti itu bukan? Lagipula, kau sudah menghabisi dua Cerastes lainnya."
Wanita tersebut mencibir, tapi tidak membantah.
"Sudahlah, setidaknya mereka menyelesaikan pekerjaan kita." Seorang gadis muda berkerudung hitam hinggap di dahan pohon dekat sang wanita berkerudung kuning. Rambut hitam panjangnya yang terkepang dibiarkan jatuh di sisi sebelah kanan. "Jadi kita tidak perlu repot-repot turun tangan."
"Aku tidak perduli, aku tidak suka buruanku di rebut." Ia menatap sang gadis berkerudung hitam. "Dan lagi, kenapa kau pakai jubah hitam? Itu bukan warna asramamu."
"Aku kan Putri Dewa Waktu. Aku tak terikat aturan." Jawab gadis berkerudung hitam dengan santai.
Sang pemuda berjubah merah yang sedaritadi diam memanyunkan bibir. "Rasanya tidak adil."
"Memang tidak, tapi kapan Marina mengikuti peraturan? Hari di mana dia akan mengikuti peraturan adalah hari di mana babi bisa terbang." Cibir wanita bertudung kuning tadi.
Marina, sang gadis bertudung hitam tertawa renyah dan ia membuka tudungnya, memperlihatkan sepasang manik belang. Kiri berwarna biru dan kanan berwarna emas. Ia berkulit pucat dengan semu merah muda di kedua pipinya, yang terlihat agak memerah karena udara dingin. Bibirnya yang berwarna merah muda pucat terlihat kering, sekali lagi karena udara dingin – atau mungkin juga karena dia kurang minum air dan hanya minum kopi panas akhir-akhir ini – dan rambut panjangnya yang terkepang jatuh sempurna di sisi sebelah kanannya.
"Aku tak suka terkekang aturan. Aku melakukan apapun yang kuinginkan."
Wanita bertudung kuning itu mendengus dan membuka pula tudung miliknya, memperlihatkan sosok wanita muda dengan rambut coklat caramel. Rambutnya pendek, nyaris menyentuh bahu. Kedua mata Amethyst miliknya menatap tajam ke arah Marina yang masih tersenyum jenaka.
"Itu bukan sesuatu yang baru, tapi kuharap kamu tidak merepotkan orang lain dengan sikapmu yang semaunya itu."
Suara tawa kecil terdengar dari belakang Marina dan mereka bertiga berbalik untuk melihat siapa tamu yang mendatangi mereka.
"Kau tak perlu khawatir, kakakku tak pernah merepotkan orang."
Marina tersenyum penuh kemenangan.
"Tuh. Kau dengar adikku."
Orang baru yang muncul adalah gadis yang penampilannya identik dengan Marina. Rambut hitam yang sama. Mata belang yang sama. Kulit, bahkan warna bibirnya sama, tidak ada perbedaan sedikitpun dari mereka, kecuali tudung mereka – Maria bertudung putih – dan saat mereka mulai membuka suara. Suara Marina lebih tinggi dan keras daripada suara Maria yang agak rendah dan agak terdengar seperti bisikan.
"Dia adikmu, tentu ia membelamu." Sang pemuda bertudung merah berkata, membuka tudungnya pula, memperlihatkan senyum jenakanya. Rambut cokelat tembaga miliknya acak-acakan, terlihat seperti rambut orang yang baru bangun tidur beberapa menit yang lalu, tampak seperti rambut yang belum pernah bersentuhan dengan sisir atau memang sudah acak-acakan permanen. Mata merahnya bersinar jenaka dan tampak begitu inosen. Walaupun posturnya tegak dan berbadan bagus, ia tampak seperti anak kecil yang baru mengenal dunia sehari yang lalu.
"Diamlah, bocah." Ejek Marina.
Pemuda tersebut cemberut. "Aku bukan bocah, Marina. Aku lebih tua darimu."
"Sikapmu membuatmu terlihat seperti bocah, Rio."
"Sudah, sudah." Kata wanita berambut caramel yang sedari tadi diam. "Kita sudah tidak ada urusan di sini, lebih baik kita kembali sebelum kita dilihat orang."
"Tidak ada yang akan datang ke sini lagi, Kallisto." Kata Marina, memutar bola matanya.
"Kita tidak bisa lengah, Marina. Kau jauh lebih muda dariku, turutilah perkataan orang yang lebih tua." Kata wanita itu, wanita bertudung kuning yang bernama Kallisto.
"Aku tidak mengikuti perkataan siapapun kecuali orang tuaku." Tandas gadis berjubah hitam tersebut.
"Oke, terserah. " Sanggah Rio sebelum Kallisto dan Marina memulai perang dunia ketiga. "Tapi Kallisto benar, kita harus kembali sekarang. Yang lainnya pasti menunggu kabar dari kita."
Maria menatap Marina, memintanya untuk jadi anak baik dan menurut saja. Karena diminta adiknya, Marina pun menurut.
"Iya, oke deh." Dan Marina lah yang pertama kali meninggalkan hutan itu, di susul oleh adiknya dan Rio sementara Kallisto masih berdiri di sana, tampak begitu tertegun.
"Ternyata... Usaha kita beberapa tahun yang lalu tidak cukup ya...?" Gumamnya. Lalu sekejap, ia menghilang, mengikuti ketiga temannya meninggalkan hutan itu.
Di sebuah ruangan, ruangan tersembunyi yang berada di Pope's Chamber, seorang gadis berambut putih bersih bagai salju, duduk di atas kursi, memainkan krayon dalam genggamannya dan mulai menggambar pada kertas kosong di atas mejanya. Dalam ruangan itu, kertas-kertas lain berserakan. Semua kertas itu terisi gambar. Namun, Sayang, gambar-gambar itu bukanlah sekedar gambar yang iseng dibuat oleh sang gadis kecil.
Gadis berambut salju tersebut tengah menggambar sang Ular Bertanduk, juga dua orang Saint Emas yang melawannya. Sebelah matanya tertutupi oleh eyepatch dan sebelah matanya berwarna biru. Biru seperti safir, seperti warna mata sang Saint Aquarius.
Gadis itu memandangi gambar yang telah di buatnya, lama ia memandangi hasil karyanya itu sebelum mulutnya mulai bergerak.
"Sudah waktunya..."
To be Continued.
Pojok Rant
Re-write again :v mohon maafkan author ini. Setelah membaca karya Putri Poseidon ini, entah kenapa rasanya terlalu banyak plotholes yang author ciptakan sehingga author memutuskan bahwa cerita ini memang musti di tulis ulang. Beberapa karakternya pun sedang author rombak, termasuk –terutama – pemeran utamanya sendiri, si Nasha. Saya harap para readers maklum saja dengan keputusan saya #ndasmu dan menikmati cerita yang sudah saya revisi ini #ndasmu2 dan saya mohon juga pendapat pembaca lewat kotak review :3
Pojok Monster
Cerastes
Cerastes adalah mahkluk dalam mitologi Yunani, yaitu ular bertanduk yang tidak punya tulang belakang. Ada beberapa mitos yang mengatakan ia punya empat tanduk kecil dan ada juga yang mengatakan ia punya sepasang tanduk domba yang besar (author menggunakan ide tanduk domba karena lebih mengintimidasi). Tanduk-tanduk itu biasa digunakan untuk mengecoh mangsanya. Cerastes sering bersembunyi dalam tanah di padang pasir dan hanya menyisakan tanduknya di permukaan tanah/pasir untuk mengecoh mangsanya dan saat mangsanya mendekat, mereka akan langsung menerkamnya.
Cukup sampai di sini, sampai jumpa di chapter depan
Maaf jika ada kesalahan penulisan/typo yang mengganggu
