Disclaimer:
Saint Seiya © Kurumada Masami
OCs © Author Sia Leysritt
Summary
"Para Half Bloods masih hidup. Mereka masih berkeliaran di sekitar kita seperti para Saint, prajurit Athena. Mereka bersembunyi, tidak memberikan identitas kepada siapapun karena tidak ada yang bisa dipercaya. Namun saat para Titan mulai bangun, mereka sadar bahwa mereka kini tidak bisa bertindak sendirian saja. Mereka butuh bantuan. Dan hanya Dewi Athena dan prajuritnya yang bisa memberi mereka bantuan itu."
Other Author OCs:
Shizen Areleous: Shimmer Caca
Ara Thea: Neo Tsukirin Matsushima29
Ringo: Neo Tsukirin Matsushima29
Sia Leysritt Present:
Halfbloods: Titan's War
Oblivion – III
Aliansi
"Today's opponents can be your allies tomorrow. And today's allies can be tomorrow's opponents."
― Suzy Kassem, Rise Up and Salute the Sun: The Writings of Suzy Kassem
Sebenarnya bahaya yang mengancam desa Rodorio tidak berhenti hingga tiga Cyclops burung dengan wajah dan badan manusia – kecuali sayap dan kakinya – berterbangan dan menyerang orang-orang di desa itu. Untung saja para ksatria berjubah emas telah berada di tempat, tepat pada saat penyerangan terjadi. Milo, Camus, Aiolia dan Shura.
"Excalibur!"
Tebasan pedang suci milik Capricorn Shura menebas beberapa dari kawanan monster perempuan tersebut. Monster yang dinamakan Harpi, dalam mitologi Yunani. Monster burung wanita yang diciptakan untuk menghukum raja Phineas. Shura, dengan cekatan dan sigap, segera menolong beberapa warga yang hampir jadi mangsa para Harpi dan bergegas membawa mereka ke temoat aman yang lumayan jauh dari kekacauan.
"Lightning Plasma!"
Pukulan cahaya sang Singa Emas, dalam sekejap, menghancurkan para Harpi. Mereka kini hancur menjadi serpihan-serpihan debu keemasan, tipikal hal yang terjadi setiap kali monster dihancurkan. Namun, pikirnya, ini terasa tak ada gunanya. Para harpi terus berdatangan dan jumlahnya tidak berkurang, bertambah malah, seolah-olah mereka berkembang biak setiap kali dikalahkan.
"Ini tak ada habisnya." Geram Milo.
Para Harpi masih mengudara. Jumlah mereka masih sangat banyak dan tidak ada tanda-tanda jumlah mereka bakal berkurang. Entah darimana pasukan sebanyak ini datang dan, menurut Milo, ini sedikit tidak wajar. Lagipula, sejak kapan Harpy memangsa manusia? Seingatnya Harpy hanya tertarik pada daging-daging mentah atau hal-hal semacam itu. Tapi ini bukan waktunya untuk memikirkan hal itu.
"Milo, penduduk lain sudah di evakuasi?"
Milo terlonjak kaget dan mendadak, konsentrasinya buyar. Suara itu, suara perempuan yang soprano dan terdengar agak lembut itu menyentaknya. Ia menoleh. Gadis itu berambut merah. Merah menyala dan panjang, seperti benang merah yang banyak jumlahnya. Kulitnya putih dan mulus, mata hijaunya berkonsentrasi pada Harpi yang berterbangan di udara, sesekali melirik Milo untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaannya.
"Milo? Kau belum menjawabku." Desak perempuan itu.
Ah.
"Sudah. Para Saint Perak sudah melakukan tugas mereka. Apa yang kau lakukan di sini, Shizen?"
Gadis itu, Shizen, menoleh menatapnya.
"Sri Paus memintaku ke sini. Misi dadakan."
"Oke dan... Kau sudah diberi cloth?" Ia memandangi Shizen yang telah mengenakan cloth miliknya.
"Sudah kubilang. Dadakan."
"Oh baiklah."
Dan pembicaraan mereka berakhir di sana karena jumlah monster yang datang terus bertambah. Milo semakin bertanya-tanya darimana pasukan sebesar ini datang.
"Tunggu, tunggu, tunggu... Kau akan bertarung seperti ini?!"
Nasha menjerit panik sambil meremas jubah Ixpellia sekuat tenaga. Pasalnya mereka sedang berpindah dari satu pohon ke pohon lain untuk menghindari amukan dari tiga Clycops buta yang tengah menggila.
Sudah jelas Ixpellia – Ixy, memperburuk keadaan. Dia memang selalu begitu.
"Tentu saja. Memang kau pikir aku akan meninggalkanmu di sana dalam keadaan tidak aman?"
Itu masuk akal, jika Ixy meninggalkan Nasha, bisa jadi salah satu dari mereka—yang perutnya paling keroncongan, tentu saja—akan langsung menargetkannya tanpa pikir panjang dan tidak memperdulikan Ixy. Tapi bertarung sambil menggendong seorang anak tujuh tahun di punggung juga bukanlah ide yang bijak.
Salah satu Cyclops menggeram dan mengayunkan pemukul bisbol besi raksasa miliiknya ke sembarang arah. Iixy mulai bertanya-tanya apa kebutaan mereka itu membuat otak mereka makin tumpul. Padahal, mereka tinggal mengandalkan indera penciuman mereka yang sangat tajam itu dan juga perut mereka yang kelaparan sebagai motivasi. Tapi tidak. Mereka memutuskan untuk membabi buta dan menyerang ke sembarang arah.
Ixy melompat dari dahan pohon yang dipijaknya. Salah satu Cyclops melempari pohon tempatnya berpijak dengan bongkahan batu besar. Ia melompat ke kepala Cyclops—Cyclops yang punya rambut – dan mulai menarik rambutnya. Sebuah seringai jahil terpasang di wajahnya. Nasha menenggak ludah. Ia punya firasat buruk.
Benar saja, detik berikutnya, Cyclops itu berteriak kesakitan dan tangannya naik untuk meraba-raba rambutnya. Ixy meluncur turun, membuat Nasha memekik. Gadis berkulit pucat itu hinggap di tengkuk sang raksasa bermata satu dan mulai menarik-narik rambutnya, memeperlakukan helai-helai tebal menjijikkan penuh kutu tersebut sebagai kekang kuda. Dan, tenaga Ixy memang bisa disetarakan dengan monster. Hasil latihan selama beberapa dekade. Dan Cyclops itu makin mengerang dan ia bergerak. Oleng. Seakan rambutnya itu memang tali kekang.
"Ole~~" Ixy berteriak kesenangan.
Nasha, yang sejak tadi komat-kamit agar ia dibiarkan hidup mengeleng-gelengkan kepalanya. Gadis berambut arang ini memang tidak takut mati.
Namun, bukan Ixy namanya jika ia hanya bermain-main tanpa ada rencana di baliknya. Salah satu Cyclops mendengar seruannya dan mulai berlari ke arah mereka, mengikuti insting barangkali, dan mengayunkan pemukul bisbol dari besi miliknya ke arah saudaranya yang bergerak oleng karena ulah Ixy.
Pemukul bisbol itu menghantam Cyclops berambut menjijikkan itu dan Ixy turun dari tunggangannya tepat pada saat itu juga. Ia melompat ke atas, Emei Piercers miliknya telah siap di tangan.
"Kalau darah mereka menyiprat, jangan salahkan aku, yah."
"Eh?"
Nasha tidak menerima penjelasan dari perkataan Ixy yang ambigu. Ixy mengangkat tangannya, memutar Emei Piercer dalam genggamannya, lalu detik berikutnya, ia menghunuskan senjata miliknya itu.
"Midnight Slash!"
Dan, dalam sekejap, kedua Cyclops tersebut menjadi debu. Setidaknya, Nasha bersyukur tidak ada darah yang menyiprat. Itu akan sangat menjijikkan. Nasha terbatuk saat debu-debu emas berjatuhan. Sama saja. Jijik.
"Kau bisa turun sekarang."
Mengikuti kata-kata Ixy, Nasha turun dari gendongannya dan Ixy segera mengenakan tudung berwarna hitam miliknya.
"... Kenapa?" Tanya Nasha. Biasanya jika Ixy, atau temannya yang lain mengenakan tudung, itu berarti ada sesuatu dan mereka harus menyembunyikan diri. Atau identitas. Atau yang manapun.
"Ada tamu tak di undang." Kata Ixy dengan nada gusar. Tentu ia gusar. Ia kenal cosmo ini, dan demi Hades? Ia tidak mau bertemu dengan pria ini. Tidak sekarang dan tidak selamanya.
Nasha memiringkan kepala sebelum dirinya mendengar suara raungan dari arah jam dua. Suara raungan itu dibarengi cahaya keemasan yang dapat membutakan mata jika dilihat dari dekat. Nasha menatap Ixy yang sepertinya tahu siapa tamu tak diundang tersebut, namun sebelum ia sempat bertanya, sang tamu misterius sudah berdiri di hadapan mereka.
Ia mengenakan cloth berwarna emas. Seorang Saint, Nasha langsung tahu. Rambutnya panjang dan berwarna ungu. Ungu Lilac dan diikat pada ujung rambutnya. Wajahnya tampak agak feminim, garis wajahnya pun tampak tak begitu jelas. Garis wajahnya lembut tapi masih terlihat sedikit maskulin. Ia tak punya alis mata, tetapi ada dua bulatan berwarna violet bertengger di tempat di mana alisnya harusnya berada. Matanya berwarna hijau. Hijau rumput. Matanya tampak tenang. Kalem. Mengingatkan Nasha pada permukaan air yang tenang dengan sedikit riak air.
Sang Saint misterius itu tersenyum padanya dan Nasha buru-buru membungkuk, mengucapkan kata "Halo" dengan terbata-bata sebelum Ixy mengetuk pelan kepalanya dengan kepalannya. Nasha mengaduh pelan, memandangi Ixy dengan tatapan heran penuh tanda tanya sementara sang Saint terkekeh pelan.
"Tidak usah canggung seperti itu." Pria itu tersenyum ramah. "Senang bertemu denganmu lagi, Ix."
Ixy menggerutu. Nasha memandangi keduanya bolak-balik, sementara Ixy tidak berniat menjawab pertanyaan tersirat Nasha. Ia mendelik pada Saint Emas tersebut.
"Halo Aries Mu. Lama tidak jumpa, dan tidak. Aku tidak senang bertemu denganmu."
Lana melihat kerumunan di depannya dengan perasaan panik. Demi Tuhan di mana adiknya berada? Mata violet miliknya mencari-cari. Ia cemas. Takut. Khawatir. Adiknya belum pulang sejak tadi. Awalnya ia tidak khawatir. Walau polos dan kepala angin, Nasha cukup bisa menjaga diri, setidaknya ia tidak kacau seperti Fana – Gadis berambut merah muda yang satu itu benar-benar kacau – tapi Lana tetap khawatir dan kekacauan yang terjadi di desa menambah kekhawatirannya dua kali lipat.
Ia masih mencari. Ingvalt dan Kai tengah mencari di area lain tapi nihil. Sejauh ini Lana belum menemukan Nasha.
"Lana? Apa yang kau lakukan di sini?"
Lana menoleh. Milo tengah berdiri di belakangnya. Untuk seseorang yang baru saja melawan sepasukan monster, Milo tampak segar. Ia tidak capek maupun kepayahan. Mungkin para Harpi itu tidak ada apa-apanya baginya dan rekan-rekannya yang adalah Saint Emas.
"Milo. Bagaimana keadaan desa?" Bukannya menjawab, Lana malah balik bertanya.
"Pasukan Harpi itu mulai berkurang dan beberapa Saint Perak telah berhasil mengevakuasi seluruh warga. Ada apa? Kau tampak panik."
Lana menggigit bibir. "Apa kau melihat Nasha?"
Milo mengernyit. "Tidak. Kenapa?"
"Dia hilang. Maksudku, dia belum kembali. Aku, Kai dan Ingvalt tengah mencarinya."
Milo terbelalak. Yang benar saja! Kenapa harus di saat seperti ini?!
"Apa?! Oh Demi Athena—sebentar, tenang, Lana, kau harus tenang dulu, oke?"
Lana terdiam. Sebenarnya di sini, Milo-lah yang panik, namun ia tidak mau berbicara lebih jauh karena dirinya sendiri juga panik.
"Aku akan mencarinya di tengah kekacauan ini, nanti—"
"Itu tidak perlu."
Pembicaraannya terputus. Sosok bertudung hitam menghampiri mereka, Nasha berada dalam gendongannya.
"Nasha!"
Nasha segera turun dan menghambur ke pelukan Lana sementara Milo tengah memandangi sosok bertudung hitam tersebut. Ia sempat mengira sosok ini adalah gadis yang ia temui tadi. Gadis yang menyerahkan gulungan gaib itu padanya tapi bukan. Sosok yang satu ini tidak tinggi. Tingginya itu tinggi rata-rata remaja perempuan berusia lima belas tahun. Tudungnya hitam, sementara gadis yang tadi pagi bertudung merah. Kalau diperhatikan baik-baik, kulit tangan dan kakinya lebih pucat dari gadis yang tadi pagi ia temui.
Ini gadis yang berbeda.
"Kau kemana saja? Aku, Kai dan Ingvalt mencarimu daritadi."
Nasha menunduk, ia tampak menyesal.
"Maafkan aku Lana."
Nasha tak berbicara lebih lanjut. Lana melirik sosok yang menggendong Nasha. Ia langsung tahu siapa sosok itu. Ia pasti Ixpellia. Namun, tak mungkin Lana terang-terangan memanggil namanya, tidak saat mereka punya rahasia yang harus dijaga. Maka ia berdiri dan membungkuk sopan, seakan ia berterima kasih pada orang asing yang baru saja menolong adiknya.
"Terima kasih sudah menemukan adikku."
Sosok bertudung itu, Ixy, Cuma mengangguk.
"Sebaiknya kalian berdua segera mengungsi." Kata Milo. "Di sini tidak aman. Aku tak tahu apa yang membuat para Harpi ini gila, tapi yang jelas, daging mentah tak akan memuaskan mereka."
Lana mengangguk, lalu ia melirik Ixy. Ixy hanya mengangguk samar. Anggukannya tak diperhatikan oleh Milo. Mengerti akan pesan tersirat tersebut, Lana buru-buru mengangguk lalu mengajak Nasha pergi.
Milo melirik Ixy. Pandangannya was-was. Sekali lihat, ia tahu betul gadis di hadapannya ini bukan manusia, lagipula, cosmo yang ia rasakan dari gadis ini besar. Tak mungkin cosmo sebesar ini dimiliki oleh orang awam.
"Jadi. Aku tak akan berbasa-basi. Siapa kau?"
Ixy tidak menjawab.
Milo mulai gusar.
"Kau tidak akan menjawab?"
Ixy diam. Bukan karena ia tidak mau menjawab, tentu saja. Karena ia tahu ada yang akan menjelaskan seluruh kejadiannya untuknya. Lagipula, ia dilarang memberitahu identitasnya.
"Tidak perlu waspada seperti itu, Milo. Dia bukan musuh."
Milo mengalihkan perhatiannya. Matanya terbelalak saat melihat sosok lelaki dengan garis wajah lembut dengan dua bulatan di tempat alisnya seharusnya bertengger.
"Mu? Kenapa kau ada di sini?" Tanya Milo, tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
Mu, Sang Saint Aries, tersenyum ramah. "Lama tidak jumpa Milo, aku datang karena ada yang perlu kami bicarakan dengan Sri Paus."
Milo mengerutkan kening. Sejak kapan Mu memanggil Sri Paus Shion dengan sebutan Sri Paus? Seingatnya Mu selalu memanggil Sri Paus dengan sebutan Wagashi.
Ixy mendelik pada Mu. Kami? Sejak kapan ia mengikutsertakannya? Lagipula, kenapa pula ia berbicara seakan mereka ini berteman? Mereka bukan teman, Demi Tuhan.
"Kami?" Milo mengerutkan kening.
"Ya, kami. Aku dan, ah, teman kita ini."
Dan detik itu juga Ixy mempunyai keinginan kuat untuk menampar wajah Saint Aries itu.
Milo mulai merasa bahwa dunia tengah melarangnya untuk beristirahat. Baiklah, sangkanya ia bisa beristirahat dengan tenang setelah para Harpi sialan itu mendadak menyerang desa – tentunya ia tak bisa sepenuhnya tenang. Harpi-harpi tersebut mundur secara mendadak, dan sejujurnya? Milo merasa itu aneh dan ia yakin bukan hanya dirinya yang berpikiran demikian.
Namun sayangnya, otaknya yang tidak sebrilian Camus itu, menolak untuk menggali rasa penasarannya lebih bangun. Kini dalam kepalanya hanya ada satu kata: Istirahat. Tapi, seperti biasa, Dewi Fortuna tak melakukan tugasnya dengan baik, atau mungkin beliau sedang tak ingin berpihak pada Sang Kalajengking Emas. Maka, segera setelah kembali, Aldebaran memberitahunya bahwa para Saint Emas diperintahkan untuk datang ke Papacy karena Sang Sri Paus telah menunggu.
"Dan, ada tujuh orang tamu juga yang menunggu kita." Jelas Aldebaran. Namun ia tidak memberitahu secara spesifik siapa tamu-tamu mereka. Maka dengan berat hati, Milo mengikuti Aldebaran bersama dengan Mu, Aiolia, Shura dan Camus, juga gadis tadi – dilihat dari bentuk badannya sih, tamu tak diundang itu seorang gadis, tapi Milo juga tidak yakin – (yang omong-omong adalah Ixy).
"Menurutmu, siapa tamu-tamu itu?"
Milo melirik ke arah Aiolia yang tengah berbisik di telinganya. Aiolia adalah seorang Saint Emas sama sepertinya. Saint rasi bintang Leo. Sama sepertinya, Aiolia tampak seperti remaja kelebihan hormon dengan semua otot-otot yang tampak tak wajar terlihat pada tubuh anak berumur tiga belas tahun. Wajahnya tirus, garis-garis wajahnya tegas dan hidungnya mancung. Kulitnya berwarna sawo matang. Rambutnya berwarna cokelat, mirip seperti warna cokelat pada kayu pohon dan agak bergelombang dengan ujung runcing. Matanya berwarna biru kehijau-hijauan.
"Mana kutahu. Semoga bukan orang-orang menyebalkan entah darimana." Jawab Milo acuh tak acuh.
"Jaga bicaramu, Milo. Jika mereka tamu-tamu Sri Paus, pastilah mereka orang-orang penting."
Milo mendelik ke arah Shura. Saint Capricorn itu, seperti biasa, memasang raut wajah tegas. Bentuk wajahnya tirus dan lonjong. Kulitnya putih namun tidak pucat. Badannya juga kekar. Lagi-lagi. Tampak seperti remaja kelebihan hormon. Rambutnya juga pendek, agak bergelombang dan ujungnya runcing.
"Iya, iya, Shura. Tentu aku tahu." Jawab Milo, sekali lagi dengan nada acuh tak acuh. Karena sesungguhnya? Ia tidak begitu peduli dengan tamu mereka.
Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai di Papacy. Di sana, rekan-rekan mereka yang lain tengah menunggu. Wajah-wajah mereka, bagi Milo, tidak asing lagi, toh, setiap hari hanya wajah-wajah ini saja yang ditemuinya. Namun, ada tujuh sosok ganjil di tengah-tengah mereka. Ketujuh sosok itu, sama seperti gadis yang datang bersama mereka. Berkerudung. Warna kerudung mereka berbeda-beda, berjejer dari Abu-abu, Biru laut, Jingga, Merah, Merah muda, Hijau dan Cokelat.
Milo mengerutkan kening. Ada apa dengan orang-orang bertudung hari ini?
"Sepertinya anggotamu sudah lengkap, Sri Paus Shion." Jawab yang berutudung merah. Dari suaranya yang cukup lembut dan feminim, Milo menduga bahwa yang bertudung merah ini seorang gadis. Ia sempat bertanya-tanya mungkin saja dia gadis misterius yang memberikannya gulungan pagi ini.
"Ya." Sri Paus mengangguk, tepat setelah Milo telah berada pada posisinya di antara Shaka dan Shura.
Shaka adalah Saint Virgo. Ia remaja pria berambut emas panjang. Kulitnya putih, dan ia berotot seperti rekan-rekannya yang lain. Matanya tertutup dan ia tampak seperti orang yang sedang tidur berdiri, namun, ia menutup mata bukan karena mengantuk. Ia menutup mata karena memang matanya tak boleh dibuka. Garis-garis wajahnya tidak begitu tegas, namun tidak juga halus. Hidungnya mancung dan di antara kedua alisnya ada sebuah permata berwarna merah, sebuah ciri khas orang-orang dari tanah kelahirannya, India.
"Oi, Shaka, apa kau tahu siapa orang-orang ini?" Bisik Milo kepada rekannya itu.
Shaka tidak menjawabnya. Ia hanya diam di tempat. Seperti patung.
"Ck. Tentu saja. Kau tidak akan menjawab." Milo menggerutu pelan. "Kenapa pula aku bertanya pada patung Buddha?"
Jika Shaka mendengar ledekan itu, ia tidak perduli.
"Para Saint Emas, terima kasih telah berkumpul di sini." Sri Paus mulai angkat bicara. "Ada alasan aku mengumpulkan kalian di sini, sekarang ini." Sri Paus tidak berbasa-basi. Tidak ada pidato panjang membosankan pada awal pemberitahuan kali ini. Milo bisa menebak mereka berkumpul karena masalah yang cukup serius.
"Alasan itu adalah... Adanya kabar mengerikan yang dibawa oleh tujuh tamu kita ini." Semua Saint Emas – kecuali Shaka tentunya – langsung melemparkan pandangan ke arah tujuh tamu misterius mereka.
"Mereka adalah..."
Sosok bertudung biru laut angkat bicara. Walau wajah tak terlihat, dari psotur badan yang tinggi dan berotot, Milo bisa menebak bahwa dia pria. Pria dewasa. Postur badannya tegak dan Milo dapat dengan mudah membayangkannya sebagai orang penuh wibawa dan kharisma.
"Kami menyebut diri kami sebagai Tujuh Sage." Suara yang keluar adalah suara bariton. Suara yang dalam, tegas dan mengintimidasi.
Milo mengernyit. Tujuh Sage? (Nama yang jelek, aku tahu.).
"Kami," Pria itu memberikan jeda singkat sebelum melanjutkan. "Adalah Dewan tertinggi, atau mungkin bisa kalian sebut... Pemimpin dari para Demigod."
Milo membelalakkan mata, begitu juga beberapa Saint Emas lain.
"Dan, Ya. Kami semua adalah Demigod."
"Kau tidak terluka? Baik-baik saja, bukan?"
Untuk yang kesekian kalinya, pertanyaan itu Lana lontarkan pada adik bungsunya. Dan, untuk kesekian kalinya juga, Ia memeriksa Nasha untuk memastikan dia memang tidak terluka. Nasha mengangguk pelan, ia memberikan senyuman kecil untuk meyakinkan kakaknya bahwa ia baik-baik saja.
"Aku baik-baik saja." Katanya.
Lana menatap Nasha lalu menghela napas. Ia berdiri lalu menatap adik bungsunya itu.
"Baiklah. Tapi lain kali, tolong jangan berjalan-jalan sendiri. Situasi saat ini sedang tidak aman. Aku tidak mau kau kenapa-kenapa."
"Iya Lana, aku mengerti."
Lana tersenyum.
"Lana..."
"Ya?"
Nasha berhenti berjalan.
"Menurutmu, apakah kita harus tetap menyembunyikan identitas kita?"
Lana menatapnya. Pikiran yang sama tengah mengganggunya sejak tadi.
"Kau juga terganggu dengan masalah itu yah?"
Nasha mengangguk pelan.
"Tentu saja harus."
Suara Ingvalt membuat mereka berbalik. Ingvalt telah datang bersama Kai.
"Ck. Untung ketemu. Kau ini memang magnet masalah." Ingvalt mengacak-acak rambut Nasha."
"Ingvalt, jangan rambutku." Protes Nasha.
Ingvalt terkekeh lalu menjauhkan tangannya. Raut wajahnya berubah serius. "Tidak ada pengecualian untuk peraturan yang satu ini. Suka atau tidak, kita tetap harus menyembunyikan identitas kita. Bahkan dari Milo dan Saint Emas lain."
Nasha menggigit bibir. Berpura-pura dan berbohong bukanlah keahliannya.
"Itu tidak adil. Aku tidak pandai berbohong." Protesnya sambil memanyunkan bibir.
"Kalau begitu, mungkin kau harus mulai berpikir untuk belajar berbohong sekarang."
Suara wanita yang agak rendah dan lembut itu mengganggu acara diskusi mereka.
"Kallisto." Kai melihat ke arah pendatang baru mereka.
Kallisto berjalan ke arah mereka, membuka tudung jingga yang dikenakannya, membiarkan keempat saudara itu menatap mata Amethyst dan wajah cantiknya.
"Hukum yang satu ini tak bisa di ganggu gugat, Nasha. Kukira kau sudah tahu itu. Mereka boleh tahu Demigod masih berkeliaran sana-sini tapi mereka tidak boleh tahu identitas kita."
Dan Nasha hanya bisa menggigit bibir mendengarkan perkataan Kallisto yang, tentu saja, tidak bisa ia bantah.
"Demigod? Yang benar saja, kukira para Demigod sudah—"
"Dengarkan kami sampai selesai." Tegur pria tersebut.
"Oi, memang kau siapa memerintah kami—"
"DeathMask." Sri Paus menegur Sang Saint Cancer, DeathMask. Pria itu berkulit gelap. Rambutnya berwarna biru tua, runcing seperti beberapa rekannya. Matanya kecil dan ia tampak menyeramkan dengan ekspresi di wajahnya itu. Badannya lumayan besar dan berotot, terlalu berotot untuk remaja berumur tiga belas tahun. Ia memasang ekspresi kesal pada wajahnya.
"Ck."
"Terima kasih, Sri Paus." Perempuan yang bertudung merah – yang Milo temui pagi ini – mengangguk singkat pada Sang Sri Paus, lalu memberikan sinyal pada teman – atau mungkins senior—nya untuk melanjutkan.
"Terima kasih. Ya, memang sesuai kata kalian. Yang kalian ketahui selama ini adalah ras kami telah musnah pada perang Ragnarok beberapa ratus tahun yang lalu. Itu," Pria bertudung biru memberikan jeda di tengah perkataannya, seakan mencari kata-kata yang pas. "Adalah informasi yang sengaja disebarluaskan agar kami bisa bersembunyi dari para Dewa."
Aiolia menaikkan sebelah alis. "Maaf atas ketidaksopanan saya, namun mengapa kalian harus bersembunyi dari para Dewa? Bukankah mereka orang tua kalian?"
Pria tersebut tidak langsung menjawab. Aiolia memperhatikan rekan-rekan pria itu. Beberapa mendengus, ada juga yang berpura-pura tak mendengar, bahkan Aiolia melihat ada yang mengumpat. Seakan kalimatnya tadi adalah sesuatu yang tidak seharusnya mereka ucapkan.
"Memang." Jawab pria tersebut. "Sayangnya, tampaknya mereka tak menganggap kami anak lagi." Pria tersebut berkata. Tak ada seorangpun yang bisa membaca ekspresinya saat itu, entah karena wajahnya tertutup oleh tudungnya atau memang ia saja yang pandai menyembunyikan ekspresinya.
"Perang besar itu terjadi karena adanya ramalan melibatkan kami. Isinya tentang salah satu di antara kami yang sepertinya akan membawa bencana bagi dunia. Karena tidak mau repot, sepertinya para Dewa merasa akan lebih cepat jika kami semua dibinasakan dalam perang berskala besar."
Kalimat tersebut, diucapkan tanpa emosi. Seakan-akan sang pria tidak perduli. Atau memang iya tidak perduli.
"Hee. Jadi kalian semua anak-anak buangan?" DeathMask mencemooh.
"DeathMas—"
Sebelum sang Sri Paus bisa menegur Saint nya itu, sebuah pisau saku melesat tepat ke samping DeathMask. Menggores pipinya dan darah menetes dari pipinya.
"Kuperingatkan kau, Saint Athena." Gadis berutudung merah muda menurunkan tangannya setelah melempar pisau itu. "Kami tidak mentolerir penghinaan, terutama dari Saint rendahan seperti kalian."
"Apa katamu?!"
"Cukup!" Sri Paus berdiri dari singgasananya. Tampak jelas bahwa pria penuh wibawa itu mulai kehilangan kesabarannya.
"Kita di sini untuk mendiskusikan hal penting, saya mohon jangan ada pertengkaran yang pecah di ruang suci ini. Dan DeathMask, kau tidak diperbolehkan berbicara seperti itu kepada tamu kita." DeathMask langsung membuang muka mendengar teguran dari Sri Paus. Walau kesal, ia tak berani membantah pria bertopeng itu.
Gadis bertudung merah muda mendengus, mulai merasa pertemuan ini percuma saja.
"Sebelum itu," Sang pria bertudung biru angkat bicara. "Kurasa lebih baik kita sambut Oracle kalian dulu."
Sebelum ada yang bisa bertanya apa maksud pria itu, kabut hijau menyelimuti ruangan tersebut. Kabut hijau yang berasal dari ruang tersembunyi di dekat Papacy. Seorang gadis kecil berambut putih muncul di balik kabut berwarna hijau pekat tersebut. Ia tampak seperti anak berumur tujuh tahunan. Kulitnya pucat. Matanya hijau dan menyala, tidak fokus, seakan matanya menerawang ke suatu tempat yang sangat jauh. Ia mengenakan baju terusan polos selutut dan tidak mengenakan alas kaki.
Ia membuka mulut, suara gadis itu mendesis di kepala para penghuni Papacy.
Aku adalah arwah Delphi, ujar gadis itu. Penyampai ramalan Phoebus Apollo, penebas Piton yang berkuasa.
Tak ada yang bicara, semua orang tampak terperangah akan kemunculan gadis itu. Gadis bersurai putih itu memandangi Sri Paus dengan tatapan dingin. Kemudian dia berpaling tanpa ragu pada tujuh pendatang baru itu.
Mendekatlah, Pencari, dan bertanyalah.
Hening.
"Tampaknya," Sang lelaki berambut biru angkat bicara. "Sang Oracle punya ramalan untuk kita."
To be Continued...
Pojok Rant
Tak ada... Review... *pundung di pojokan* TAT Oke, maaf kalau author kayaknya haus perhatian sangat, tapi rasanya hampa sekali tak ada review TvT Jadi merasa kalau cerita author gak menarik ;A; Tapi gak apa deh, anggap aja tantangan #PLAK
Kamus HalfBloods
Oracle of Delphi
Oracle of Delphi (Peramal dari Delphi) adalah pendeta yang melayani Kuil Apollo di Delphi, sebuah kota di Yunani.
Oracle bukan merupakan satu individu tunggal, melainkan dipilih di antara para pendeta wanita yang mengabdi di kuil Apollo.
Seorang Oracle harus memiliki karakter yang baik, meskipun dia bisa berasal dari latar belakang kaya, miskin, terpelajar, tua, atau muda. Kriteria utama tampaknya terletak pada kemampuannya untuk melayani.
Sekali seorang wanita menjadi Oracle of Delphi, dia akan mengambil nama Pythia dan harus meninggalkan kehidupan sebelumnya.
Menurut tradisi, Oracle of Delphi duduk di bangku berkaki tiga di atas sebuah lubang di bumi untuk menerima pesan yang disampaikan oleh Apollo.
Pemohon diharapkan untuk duduk diam sementara Sang Oracle berusaha berkomunikasi dengan Apollo.
Perkataan yang diucapkan Oracle saat berkomunikasi kadang-kadang samar namun cukup jelas di kesempatan lain.
Kalau di versi author, agak lain dengan yang penjelasan ini (yang di dapat dari situs amazine) dan akan dijelaskan di chapter berikut ^^
Pojok Monster
Harpi
Harpi adalah makhluk yang berwujud setengah wanita dan setengah burung. Harpi adalah anak dari Thaumas dan Okeanid Elektra dan merupakan saudari dewi Iris. Harpi adalah makhluk yang jahat dan kejam. Harpi menculik orang-orang dan mengambil benda-benda.
Mitologi tentang Harpi; Fineas, raja dari Trakhia punya bakat meramal. Dewa Zeus marah karena Fineas membocorkan rahasia terlalu banyak. Akhirnya dia dihukum, diasingkan di sebuah pulau di mana terdapat lemari penuh dengan makanan yang belum pernah dimakannya. Para Harpi selalu datang dan menyambar makanan dari tangan sang raja sebelum ia berhasil memakannya dan mengotori bekas-bekas makanannya. Peristiwa ini terjadi berulang-ulang sampai akhirnya Jason dan para Argonaut datang.
Cukup sampai di sini, sampai jumpa di chapter depan
Maaf jika ada kesalahan penulisan/typo yang mengganggu
