Disclaimer:

Saint Seiya © Kurumada Masami

OCs © Author Sia Leysritt


Summary

"Para Half Bloods masih hidup. Mereka masih berkeliaran di sekitar kita seperti para Saint, prajurit Athena. Mereka bersembunyi, tidak memberikan identitas kepada siapapun karena tidak ada yang bisa dipercaya. Namun saat para Titan mulai bangun, mereka sadar bahwa mereka kini tidak bisa bertindak sendirian saja. Mereka butuh bantuan. Dan hanya Dewi Athena dan prajuritnya yang bisa memberi mereka bantuan itu."


Other Author OCs:

Shizen Areleous: Shimmer Caca

Ara Thea: Neo Tsukirin Matsushima29

Ringo: Neo Tsukirin Matsushima29


Sia Leysritt Present:

Halfbloods: Titan's War

Hourglass – IV

Rencana


"Was I omniums teamu
Was ti songlu, tatemanxie, omniums
Omniums doqu timuixe si
Ortemm, cendoni, aflictiof
Gigantes, arumu, siollico
Hwat sulictre lliw?
Rospe
Timuixe"

From The ancient Tome of Aria, one of the Prophecies


Wanita itu menyusuri lorong gelap. Langkahnya santai dan tidak terburu-buru, sepatu but dengan hak lima senti miliknya mengetuk-ngetuk lantai, mengeluarkan suara tuk tuk tuk yang bergema di lorong itu. Wanita itu tinggi dan ramping. Wajahnya tersembunyi di balik kerudung dan topeng kelinci yang menutupi setengah wajah bagian atasnya. Ia mengenakan jas panjang berlengan panjang berwarna hitam dengan sweater abu dan celana panjang berwarna putih yang sudah robek sana-sini.

"Mereka lumayan." Katanya pada diri sendiri, membersihkan sisa-sisa tanah dan debu yang menempel pada jas dan celananya.

"Oh, sudah kembali?"

Sang wanita berbalik, mendapati seorang pria berdiri tak jauh darinya. Karena suasana lorong yang gelap, ia tak dapat melihat jelas rupa pria tersebut, namun dari suara sang wanita tahu dengan siapa ia berbicara. Senyumnya mengembang.

"Sudah."

Wanita itu mendekati sang pria.

"Mereka lumayan juga, aku sempat kewalahan karena lupa mereka punya kecepatan cahaya."

Sang pria terkekeh. "Aku tidak heran. Kau sudah tua, jelas kau pikun."

Sang wanita menggembungkan pipi, tak senang dikatai tua.

"Tolong ya, tampangku masih muda."

"Hanya tampang. Kenyataannya umurmu lebih dari seabad."

"Iya deh, maaf. Dasar anak kecil tidak sopan." Gerutu sang wanita.

Sang pria tertawa. "Aku tak pernah sopan. Lagipula, mereka tak mengejarmu? Bukankah kemunculanmu cukup mencurigakan?"

Sang wanita mengangkat bahu. "Sepertinya mereka mengira aku mati. Heran, tampaknya mereka tidak curiga seekor Cerastes bisa menyaingi kecepatan cahaya."

"Scorpio, aku yakin tidak heran. Tapi Aquarius pasti curiga."

Sang wanita mengangguk. Ia tahu sejak dulu Saint Aquarius adalah yang paling pintar dan cerdas di antara keduabelas Saint Emas. Ia pasti curiga. Belum selesai ia memikirkan pertarungannya tadi, sang pria menjewer telinganya.

"Aduh! Aduh!"

"Makannya jangan keluar seenaknya. Untuk apa juga kau menggantikan seekor Cerastes? Matipun tidak ada untungnya bagi kita." Kata sang pria seraya melepaskan jewerannya.

Sang wanita merengut. "Ya maaf, mereka kan lucu aku tidak tega kalau mereka mati. Lagipula aku bosan terkurung dalam kastil menyeramkan ini. Terus, kan bukan salahku penjagaan kastil ini payah." Katanya sambil menjulurkan lidah.

"Bukan payah. Kau yang curang. Kau kan pengguna Omnifarious." Kata si Pria

Omnifarious: Bentuk sempurna dari Shapeshifting yang membiarkan penggunanya mempunyai kuasa absolut akan wujud dirinya.

"Biarkan saja." Wanita itu menjulurkan lidahnya.

Sang pria memutar bola matanya. "Yang lebih tua siapa, sih? Sudahlah, ayo kembali. Si Boss sudah marah-marah karena kau hilang tuh."

Sang wanita meringis. "Dia senang sekali sih mengurung rekannya."

"Kalau kau sih memang perlu dikurung. Kalau tidak kau akan berbuat semaumu."

"Kau berkata seakan kau tak pernah berbuat begitu, Myster."

Sang pria, Myster, tersenyum. "Aku lebih pandai menyembunyikan sikapku yang seenak jidat itu daripadamu, asal kau tahu."

Dan merekapun berjalan ke ruang singgasana.


Hawa dingin mencekam yang disebabkan oleh kemunculan sang Oracle masih menyelimuti ruangan. Milo merasa bulu-bulu badannya berdiri, bukan hanya karena dingin tapi memang karena sang Oracle sendiri yang entah kenapa selalu menyebarkan hawa mencekam yang membuat mual setiap kali ia memasuki ruangan bersamaan dengan ramalan-ramalan gilanya.

Dan kabut berwarna hijau yang menyelimuti ruangan sama sekali tidak membantu.

Untuk beberapa saat tidak ada yang berani bergerak. Sudah cukup lama sejak sebuah ramalan keluar sendiri dari mulut sang Oracle tapi tak satupun berani maju untuk membuka mulut dan bertanya secara langsung ramalan apa yang sudah gatal ingin dikeluarkan oleh gadis kecil berambut putih bak salju tersebut. Namun tak lama kemudian, pria jangkung berjubah biru maju dan mendekati sang Oracle, tindakan yang menurut Milo bisa disetarakan dengan tindakan tidak waras atau cari mati.

"Bagaimana kami bisa memenangkan perang ini?"

Sang Oracle, gadis kecil berambut putih bagai salju itu membuka muulutnya, suara yang keluar dari mulut kecil itu terdengar seperti suara tiga orang nenek tua yang berbicara.

Aku melihat mimpi

Mimpi yang panjang

Kehancuran

Bentrokan

Perang panjang di Tanah Suci Athena

Para Pahlawan dan Ksatria

Bersatu harus bertahan

Bertahan dari musuh bebuyutan Olympus

Aku melihat mereka yang raib

Dua akan raib di kastil tak bertuan

Raib dalam pelukan sang Ibu

Dan dia yang tersegel, sang penguasa, waktu akan terlepas

Yang tertinggal

Harapan?

Ataukah

Kehancuran?

Setelah kata terakhir terlontar dari mulutnya, kabut hijau yang pekat itu mulai memudar dan sensasi-sensasi dingin yang menusuk leher mereka lenyap dalam sekejap. Gadis berambut putih itu tak lagi dikelilingi kabut hijau sehingga semua orang dapat melihat rupanya dengan sangat jelas. Gadis berkulit putih pucat dengan rambut putih bagai salju. Matanya yang sebelumnya berwarna hijau dan menyala berubah menjadi warna biru safir. Kelopak mata gadis itu perlahan menutup dan badannya limbung dan kepalanya pasti akan menghantam lantai marmer yang keras jika Aquarius Camus tidak segera menahan tubuh mungil itu.

"Saya akan membawanya kembali ke kuil." Kata Camus dengan nada monoton. Tanpa jawaban dari Sri Paus atau sanggahan dari orang lain, sang Aquarius menggendong gadis kecil itu, Sang Oracle, kembali ke kuilnya.

"Cepat sekali dia kalau menyangkut anak itu." Kata Milo dengan suara kecil.

Tak ada yang berkomentar selain Milo.

Sang pria berjubah biru langsung angkat bicara.

"Jadi, sesuai ramalan tadi, kita semua memang harus bekerja sama." Katanya dengan nada yang sama monoton dan sama membosankannya seperti Camus.

"Dan bukankah akan lebih sopan kalau kalian memperkenalkan diri dulu?" Gerutu DeathMask

Aphrodite, yang notabenenya dekat dengan DeathMask dan selalu menjadi sasaran bagi yang lainnya – dan juga Sri Paus – untuk ditunjuk sebagai orang yang harus mengawasi DeathMask – karena banyaknya masalah yang ia buat entah saat dia masih kecil atau sudah besar, yang jelas tidak ada satupun perbuatannya bisa dianggap normal – merasa ingin membunuhnya saat itu juga. Tangannya sedari tadi gatal ingin mencekik DeathMask dan ingin sekali mengambil satu buket mawar beracun dan menyumpalnya ke mulut DeathMask yang kurang ajar itu.

Aphrodite akan mentolerir jika ia mengatakan kalimat tidak sopan seperti itu saat mereka tidak sedang berada dalam rapat penting seperti ini, namun sekarang mereka tengah berada dalam pertemuan yang sangat penting, yang menyangkut tugas utama mereka sebagai Saint,dan DeathMask terus-menerus melontarkan kalimat-kalimat yang mungkin saja bisa merenggangkan bahkan menghancurkan aliansi yang baru – dalam proses tentu saja – dibentuk ini.

Dan tidak hanya Aphrodite saja, tampaknya Saint yang lain juga sudah siap untuk menyumpal mulut kepiting rebus itu dengan jurus mereka masing-masing.

Sebelum salah satu dari mereka sempat melakukannya, salah satu Demigod – gadis berjubah merah muda – angkat bicara.

"Ah benar. Tentu saja. Maaf atas ketidaksopanan kami."

Suara gadis itu, terdengar merdu bagi semua orang yang tengah berada dalam ruangan. Suara gadis itu bak suara nyanyian Siren yang menggoda dan meluluhkan indera pendengaran mereka. Aphrodite berani sumpah pikirannya mendadak kosong hanya karena mendengarkan suara gadis ini – siapapun dia – dan suaranya terngiang berulang kali di kepala Aphrodite bagaikan kaset rusak.

Aphrodite mengerjapkan matanya berulang kali dan melihat rekan-rekannya yang juga melakukan hal yang sama. Susah dipercaya ini gadis yang tadi melempari pisau ke arah DeathMask

Ixpellia yang berdiri di sebelah gadis berjubah merah muda tadi mendesah pelan. Ia tidak percaya begitu gampangnya para saint Athena dibuai oleh charmspeak. Ia menyikut gadis di sebelahnya.

"Jangan gunakan charmspeak mu." Bisiknya.

Gadis yang disikutnya cuman menyeringai puas.

"Memang kusengaja."

Ixpellia menggelengkan kepala.

"Baiklah, mungkin memang sebaiknya kami memperkenalkan diri." Kata Ixy, mengambil ahli situasi.

Tentu saja, perkenalan diri yang dimaksudkan Ixy bukanlah perkenalan normal seperti Hei namaku Ixy. Aku seorang Demigod, senang bertemu kalian, Perkenalan yang dimaksud Ixy adalah perkenalan singkat tanpa memberitahu identitas asli mereka, dan tentu saja semua teman-temannya tahu akan hal ini dan masing-masing sudah menyiapkan nama alias (dan Ixy berharap Patroklos dan kawan-kawannya mengusahakan agar tidak ada yang memakai nama konyol seperti Stik Ayam Panggang).

"Tentu." Kata pria berjubah biru dengan nada singkat dan terdengar bosan.

"Namaku Markos." Kata pria berjubah biru yang memperkenalkan diri sebagai Markos.

Ixy mendengus. Tentu saja nama asli pria itu bukanlah Markos.

Markos menatap para saint, beberapa dari mereka tampak tidak puas dengan caranya memperkenalkan diri, tetapi ada juga yang tampak biasa saja dan tidak begitu perduli.

"Apa ada yang salah dengan cara saya memperkenalkan diri?" Tanya Markos dengan nada suara yang terdengar kalem tapi berbahaya. Beberapa yang sudah kenal dengan watak pria ini pasti lebih memilih diam daripada menjawab dan berakhir dengan sesuatu yang tidak diinginkan.

"Tidak." Jawab Camus yang baru saja kembali dari kuil Oracle dan sudah mengambil tempat di antara Shura dan Aphrodite. "Hanya saja... Apa anda tidak akan memberitahu siapa orang tua Dewa anda?"

"Tidak."

Markos menjawabnya segera setelah pertanyaan tersebut dilontarkan. Ia menjawabnya dengan nada suara yang mengatakan Jangan tanyakan pertanyaan satu itu atau kukuliti kau.

Mengerti akan pesan tersirat tersebut, Camus menutup mulutnya, tidak mau memancing perdebatan yang tidak ada artinya. Kalau mereka memang tidak mau memberitahu, itu hak mereka (omong-omong, Aphrodite tampaknya sudah mengancam DeathMask dengan buket bunga mawar beracun yang diambilnya entah dari mana, karena itu DeathMask tidak membuka mulutnya).

"Oh, oh, giliranku!" Seorang yang memakai jubah cokelat mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Dari suaranya, Para saint menebak, ia mungkin remaja yang kelewat hiperaktif. Badannya ramping. Ia lebih tampak seperti seorang anak laki-laki kurus yang tidak pernah olah raga untuk menjaga bentuk tubuhnya agar terlihat mirip tubuh laki-laki dewasa atau mungkin dia memang masih remaja. Suaranya ringan dan tidak terdengar terlalu berat, kedengaran seperti anak remaja yang baru memasuki masa pubertas. Ia berjingkrak-jingkrak kegirangan – yang membuat beberapa saint heran karena dia kan cuman memperkenalkan diri saja – dan berkata dengan suara cukup lantang.

"Namaku Felix. Semoga aliansi kita bakal berlangsung lama, yah!"

Milo berani bersumpah dia melihat sebuah kedipan mata dan cengir jahil di balik tudung hijau itu. Dan Aiolia mulai berpikir bocah ini berharap aliansi mereka akan berlangsung singkat.

"Giliranku."

Berikutnya, seorang gadis yang berbicara. Aphrodite mengenal suara itu sebagai suara gadis yang barusan. Gadis yang meminta maaf kepada mereka dan juga gadis yang suaranya membuatnya – dan mungkin beberapa rekannya yang lain – merasakan sensasi aneh seakan mereka mabuk kepayang hanya dengan mendengar suaranya. Namun kali ini, suara gadis itu tidak memberikan sensasi apa-apa. Ia hanya mendengar suara jernih yang terdengar merdu seperti bunyi dentingan lonceng. Gadis itu tinggi, tingginya mungkin hampir mencapai seratus tujuh puluh dan badannya bagus – dan Camus tentu saja melemparkan pandangan tidak senang pada Milo yang jelas-jelas mencuri pandang ke arah gadis yang bersangkutan – bak badan seorang model. Walau tak dapat melihat wajahnya karena tudun merah mudanya, Aphrodite bisa menebak ada wajah rupawan di balik tudung itu.

"Namaku Belle. Senang bisa bertemu kalian semua." Katanya dan membungkuk hormat dengan sopan seakan ia seorang putri (dan Aphrodite jujur tidak akan heran kalau nyatanya dia memang seorang putri).

Ixy menutup mulutnya menahan tawa. Walau yang lain tak bisa melihatnya, ia tahu gadis di sebalahnya ini, si Belle, tampak ingin sekali muntah setelah memperkenalkan diri, seakan jijik dengan caranya memperkenalkan diri.

Setelah Belle, temannya yang berada di sebelahnya, seorang yang memakai jubah berwarna merah marun, mengeluarkan bunyi yang terdengar seperti gumaman pelan.

"...Sekarang... Aku... Mmm..."

Hening.

Para saint (kecuali Shaka tentu saja) mengerjapkan mata. Bingung. Kenapa mendadak gadis itu diam?

Belle mendesah dan menggoncang pelan bahu temannya itu.

"Rmm...? Eh...? Ah, saya ketiduran... Maaf..."

Ketiduran?! Para saint melongo menatap si gadis yang mengusap-usap matanya yang tersembunyi di balik kerudung.

"Namaku... Hmm... Morrigan..." Katanya dengan sangat perlahan sampai-sampai para Saint sendiri mengantuk mendengar suaranya yang lemas dan cara bicaranya yang lambat itu. Setelah itu, Morrigan tak bicara apa-apa lagi, yang lain menduga ia melanjutkan kembali tidurnya yang tertunda.

"Baiklah, kurasa sekarang giliraku...?" Yang satu ini, tampak seperti pria dewasa. Ia jangkung dan kurus, tidak berotot seperti yang berjubah biru. Dari caranya berdiri, bisa dilihat bahwa dia orang yang ramah dan rendah diri. Ia memberikan seulas senyum ramah – yang entah kelihatan atau tidak oleh para saint – pada semua yang berada di ruangan tersebut. Ia memakai jubah abu-abu.

"Aku Adam. Senang bisa bekerja sama dengan kalian." Ia membungkuk sedikit.

"Aku Lavender..." Yang berikutnya berbicara berjubah hijau. Ia perempuan dengan tinggi badan paling pendek di antara mereka semua. Suaranya kecil dan nyaris tak terdengar. Milo bahkan memintanya mengulangi namanya dua kali dengan suara lebih keras sebelum ia benar-benar mendengar nama gadis ini.

"Terakhir aku, yah. Kurasa." Yang terakhir juga tampaknya seorang remaja pria. Sama seperti yang berjubah cokelat tadi, yang satu ini suaranya juga terdengar seperti remaja yang baru memasuki masa pubertas. Bedanya dengan yang berjubah cokelat tadi adalah, warna jubah mereka (yang satu ini berjubah jingga), tinggi badan mereka (yang berjubah jingga lebih tinggi) dan fakta bahwa yang satu ini tidak se-hiperaktif yang berjubah cokelat.

"Namaku Samoel." Katanya sambil nyengir.

"Nah, karena perkenalan singkat sudah selesai—"

"Erm... Tunggu..." Aldebaran mengangkat tangannya.

"Ya?"

"Err... dia belum menyebutkan nama." Aldebaran menunjuk pada Ixy.

"Siapa? Aku?" Ixy menunjuk dirinya sendiri. Aldebaran mengangguk.

"Oh ya, benar. Sori. Namaku Lilith."

"Nah, sudah semua kan?" Tanya Samoel. "Kalau begitu, sekarang silahkan kalian juga memperkenalkan diri agar kita bisa mulai diskusinya."


Tempat itu menjadi jauh lebih sunyi dari biasanya. Nasha berjalan-jalan mengelilingi bangunan tua dan besar tersebut, setiap kali menutup mulutnya saat menguap. Tak ada yang bisa dilakukan. Para sage sedang berada di Sanctuary, pastinya untuk mendiskusikan aliansi yang telah diputuskan dalam rapat barusan.

"Rapat kacau." Ia ingat Ingvalt menjelaskan. Sebenarnya Ingvalt tidak boleh mengikuti rapat untuk beberapa alasan yang masuk akan. Umurnya baru dua belas tahun dan juga untuk mencegah perang dunia ketiga yang mungkin akan dimulainya dengan Patroklos. Tapi tentu saja Ingvalt cuek saja dan terang-terangan ikut, parahnya lagi anak itu berani adu pelototan dengan Patroklos selama rapat.

Sudah bukan rahasia lagi kalau Patroklos, salah satu tujuh sage tidak menyukainya dan kakak-kakaknya. Nasha selalu bertanya-tanya apa alasannya. Mereka punya orang tua dewata yang sama, bukankah itu berarti kurang lebih mereka bisa dikatakan saudara?

Patroklos adalah salah satu tujuh sage, semacam petinggi di tempat Nasha nantinya akan bersekolah. Sekolah khusus untuk anak-anak demigod sepertinya. Ya, walau sulit dipercaya ia adalah demigod. Kabar itu datang di saat yang kurang pas, sebenarnya, kabar itu datang tepat sehari setelah ibunys meninggal, begitu kata Ingavlt. Walaupun Nasha bersyukur karena berkat itu ia dan kakak-kakaknya tak perlu tinggal dan mengemis di jalan (walau dia agak yakin Milo pasti akan mengajak mereka tinggal di kuilnya karena dia adalah wali Nasha, dia tidak yakin Milo akan diijinkan melakukan hal tersebut) kabar itu juga membawakan fakta yang sangat amat mengejutkannya. Anak umur mana yang tidak terkejut saat mengetahui bahwa ayahnya adalah seorang dewa (walau saat itu Nasha masih belum mengerti apa-apa)?

Yang jelas, tidak semua hal buruk di sini. Ia mendapatkan beberapa orang yang mau jadi temannya (ada beberapa yang tidak menyukainya tapi tak ada yang berani mengganggunya karena takut pada Ingvalt dan Kai) dan beberapa guru di sini juga baik-baik.

Patroklos, menurut Ingvalt, bukanlah definisi guru baik-baik. Sebut saja nama Patroklos dan Ingvalt bisa memikirkan jutaan hinaan dan kata-kata mutiara untuknya.

Di sekolah Demigod ini, para demigod diwajibkan mempelajari beberapa mata pelajaran untuk bertahan hidup sebagai demigod dan juga untuk berbaur di dunia fana. Untuk alasan terakhir itulah mereka mempunyai pelajaran Ilmu Pengetahuan Dunia Fana. Karena masih sangat kecil, Nasha belum mulai belajar apa-apa. Dia baru boleh ikut bersekolah setelah dia berumur tujuh tahun.

Jadi, di sinilah dia, berjalan-jalan seorang diri sementara yang lain sibuk mengurus ini itu. Dia yang paling muda di sini jadi semua orang dewasa menyuruhnya untuk "Habiskan saja waktumu, nanti kami panggil". Sebenarnya ia sendiri juga ragu dia akan benar-benar di panggil. Siapa yang mau mengajak anak kecil sepertinya membantu? Ia yakin semua orang akan menganggapnya pengganggu.

Ia berjalan ke arah halaman depan bangunan. Bangunan tempat mereka berada sekarang bukanlah sekolah yang nanti akan dimasukinya, sekolah itu, kata Kallisto, berada di negara lain sebab Yunani tidak aman bagi mereka walau Nasha belum begitu mengerti apa alasannya. Bangunan besar ini hanyalah bangunan sementara yang dimodifikasi oleh Prometheus (Ya, aku kawan! Si pembaca cerita!Aku—Aduh! Anubis, berhenti memukulku, kau juga berisik!) untuk menjadi markas sementara selama mereka di sini. Nasha tak tahu apa yang dilihat manusia fana, tapi menurut senior-seniornya, mereka tidak akan melihat bangunan besar megah yang merupakan markas sementara para demigod.

"Nasha."

Nasha berbalik. Seorang gadis berambut merah muda mendekatinya. Gadis itu pendek, kira-kira dia cuman setinggi Kai walaupun gadis yang ini harusnya jauh lebih tua. Kedua matanya mempunyai warna mata yang berbeda. Heterochromia Iridum. Kelainan mata yang juga dipunyai Nasha. Mata gadis ini berwarna merah (kiri) dan ungu (kanan). Pipinya yang agak pucat bersemu merah. Rambu merah mudanya dikucir kuda dan acak-acakan, jelas sekali ia tidak perduli seperti apa ia mengikat rambutnya. Ia mengenakan baju kaos putih yang kebesaran dan celana jins panjang yang sebelahnya dilipat pendek hingga lutut dan sebelahnya dibiarkan lepas begitu saja tanpa dilipat. Baik baju dan celananya kotor. Ia mengenakan sepatu yang berbeda di kaki kiri dan kanannya. Kaki kanannya mengenakan sepatu berwarna putih sedangkan yang kanan berwarna hitam. Nasha menduga dia baru habis dari bengkel senjata.

"Fana. Kau kacau sekali." Kata Nasha.

Gadis itu, Fana, tertawa canggung. Ia sudah sering mendengar kata-kata itu, terlalu sering malah.

"Ma-Maaf. Aku erm... Sudah me-memeriksa senjata yang kemarin kau bawa padaku."

Ah ya. Senjata.

Kemarin saat jalan-jalan, Nasha tak sengaja menemukannya.

Gennaschy. Adalah senjata-senjata milik para pahlawan terdahulu yang masih berkeliaran di era ini. Biasanya demigod manapun yang menemukan benda ini harus membawa benda tersebut dahulu untuk di cek di bengkel senjata, meminta beberapa penyihir Mesir memeriksa apakah ada jampi-jampi atau semacamnya dalam senjata itu dan beberapa anak Hephaestus, sang Dewa Pandai Besi, akan mengecek kalau-kalau ada Ziel atau Mitama di dalamnya. Ziel atau Mitama adalah arwah pahlawan yang masih bersemayam dalam Gennaschy tersebut. Kadang-kadang pahlawan yang cukup terkenal dan cukup kuat mampu meninggalkan roh nya dalam senjata tersebut.

Hal ini tidak selamanya menguntungkan karena tidak semua pahlawan mempunyai kisah bahagia (Tidak semua? Hah! Hanya Perseus yang punya kisah yang berakhir bahagia.) dan kadang-kadang kalau pahlawan tersebut dikutuk dan kutukannya cukup kuat, kutukan itu juga bisa berefek pada si pengguna Gennaschy.

Baru-baru ini, Nasha menemukan salah satu Gennaschy. Ia tahu karena Lana pernah memberitahunya sebuah Gennaschy mempunya simbol berbentuk tanda plus dengan dua sayap atau semacamnya, dan tandanya biasanya berwarna hitam. Yang Nasha temukan kemarin sejujurnya jauh dari kata senjata. Benda itu adalah sebuah tongkat aneh yang tidak terlalu panjang. Tongkat itu punya semacam jaring di ujungnya yang mungkin bisa digunakan untuk meletakkan bola dan melemparkannya. Namun tanda Gennaschy yang ada pada benda itu membuatnya penasaran jadi ia mencoba membawanya pada ke bengkel.

"Oh, ya, ya. Terima kasih banyak Fana." Nasha tersenyum ramah padanya. "Jadi? Apakah itu benar-benar Gennaschy?" Tanya Nasha penasaran.

Fana mengangguk tegang. Bukan karena dia benar-benar tegang tentu saja, Fana memang seperti itu. Walau tak ada hal yang membuatnya tegang, gerak-geriknya selalu tampak seperti orang yang takut kalau-kalau dia akan diterkam dalam waktu beberapa detik.

"Yang kau bawa itu memang betul-betul Gennaschy." Kata Fana. " Dan tidak ada kutukan atau jampi-jampi, namun harus kuakui Gennaschy yang kau temukan bukan Gennaschy biasa."

"Eh?"

"Erm... Se-senjata itu—"

"Hei!"

Mereka berbalik saat ada yang menegur mereka dan melihat Ingvalt datang mendekati mereka. Rambut panjangnya acak-acakan dan bajunya kusut dan berantakan. Kelihatan sekali dia baru habis bangun setlah itu membantu yang lain bekerja dan terlalu malas untuk mengurusi dirinya sendiri (dan sebetulnya di situasi genting begini, mandi tidak lagi esensial bagi Ingvalt).

Wajah Fana memerah. Untungnya tidak ada yang sadar.

"Ingvalt. Ada apa?" Tanya Nasha penasaran.

"Kallisto meminta semua berkumpul untuk pertemuan singkat. Mungkin untuk mempersiapkan... Kau tahu, perang yang akan datang."

Ah ya, perang. Walaupun mereka tak punya Oracle, tapi setidaknya ada Areli yang bisa menggantikan peran Oracle untuk sementara. Areli adalah anak Apollo, satu-satunya anak Apollo di tempat itu yang punya kemampuan melihat masa depan. Walaupun mungkin tidak seakurat Oracle atau tidak bisa melontarkan ramalan penuh layaknya sang Oracle, Areli bisa menafsirkan masa depan lewat mimpi atau lewat hal-hal lain. Karena ramalan Areli lah, mereka kini berada dalam situasi ini. Situasi di mana mereka harus mempersiapkan diri untuk perang dan tidak ada pengecualian, Nasha juga harus ikut perang.

"Ah ya benar juga. Kalau begitu ayo kita pergi. Nanti kita kena marah kalau telat." Kata Nasha dan dia berlari-lari kecil ke arah Aula Besar. Ingvalt mendengus.

"Kau pikir Kallisto siapa? Patroklos?" Ingvalt mulai mengikuti adiknya, berjalan dengan santai dan tampak tak peduli jika ia terlambat.

Sementara Fana, masih diam di tempat dan memandangi Ingvalt dari belakang. Susah rasanya untuk tidak suka pada Ingvalt. Fana tahu selain dirinya, beberapa anak perempuan lain sering curi-curi pandang ke arah Ingvalt. Ingvalt tinggi untuk ukuran anak berumur dua belas tahun. Walau tak berotot seperti kebanyakan anak laki-laki di sini, dia lumayan menarik dan banyak anak Aphrodite yang menganggap rambu panjangnya yang berantakan itu sexy dan sifat dingin dan sarkastiknya itu cool.

Fana sependapat, tapi cuman untuk bagian cool-nya saja.

"Fana? Hei, kenapa kau melamun dengan wajah semerah kepiting rebus begitu?" Tanya Ingvalt.

Fana terperanjat. Rupanya karena dia tidak juga mengikuti Ingvalt, Ingvalt kembali menghampirinya dan memeperhatikan wajahnya yang sekarang sudah bertambah merah lebih dari sebelumnya.

"A—A—Aku tidak— A—Ayo kita erm, pergi." Katanya. Ia begitu panik dan terburu-buru sampai-sampai ia tersandung kakinya sendiri dan pasti akan jatuh jika Ingvalt tidak menahan tangannya.

"Ya, tapi perhatikan juga langkahmu. Ampun deh, kalau tidak ada orang di sampingmu pasti kau bakal selalu jatuh setiap kali mengambil langkah." Kata Ingvalt sambil nyengir.

Wajah Fana memanas dan dia cuman bisa mengangguk.

"Ayo. Aku tidak mau kalau sampai Kallisto benar-benar marah."


Diskusi mereka sudah berlangsung agak lama. Setelah Para saint emas memperkenalkan diri mereka, mereka langsung memulai diskusi dan kira-kira sudah sejam berlalu.

"Menurut saya pribadi, perang itu pasti aakn berlangsung di Sanctuary. Karena tempat ini adalah Tanah Suci Athena, benar bukan?" Markos menerima anggukan dari beberapa saint.

"Dan Para Pahlawan dan Ksatria bersatu harus bertahan. Ini artinya kita benar-benar akan bekerja sama. Pasti asyik." Kata Felix dengan nada semangat, membuat Markos menatapnya tajam untuk menyuruhnya diam.

"Dan mungkin setidaknya dua dari kita akan mati?" Aldebaran angkat bicara. "Dua akan raib di kastil tak bertuan." Kata Samoel. "Kalau aku jadi kalian aku akan jauh-jauh dari kastil." Ia menyarankan.

"Memang ada kastil di sekitar sini?" Tanya DeathMask acuh tak acuh.

"Tidak. Tapi arti ramalan biasanya berbeda dari yang kita tafsirkan." Melihat pandangan bingung DeathMask, Mu melanjutkan. "Kastil yang dimaksud, mungkin saja bukan Kastil yang berarti Istana, bisa jadi kastil yang dimaksud adalah semacam tempat besar di mana kau bisa tinggal atau mungkin kastil bisa saja di artikan sebagai Sanctuary ini. Secara teknis, tempat ini bisa di sebut Kastil milik Athena bukan?" Jelasnya.

Beberapa mengangguk menyetujui.

"Tapi tempat ini kan bukannya tidak bertuan." Milo mengingatkan. "Kecuali kalau kalian menganggap kita yang berada di sini adalah butiran debu."

"... Itu benar juga. Jadi Sanctuary sudah keluar dari daftar." Kata Belle.

"Dan musuh bebuyutan Olympus." Kata Ixy (yang omong-omong mengganti namanya menjadi Lilith barusan ). "Ini agak membingungkan karena Dewa-Dewi Olympus punya banyak sekali musuh."

"Betul..." Camus mengiyakan. "Musuh yang dimaksud bisa berarti Typhoon, Raja para Monster. Ia hampir menghancurkan gunung Olympus bukan? Lalu ada para raksasa—"

"Para Titan."

Semua berpaling, menatap satu-satunya orang yang daritadi belum membuka suara, yang daritadi tampaknya menikmati perannya sebagai Patung Buddha di sebelah Milo. Virgo Shaka.

"Kau terdengar yakin." Markos menaikkan sebelah alis.

"Bertahan dari musuh bebuyutan Olympus dan Dia yang tersegel, sang penguasa waktu, akan terlepas. Satu-satunya orang yang menguasai waktu dan merupakan musuh bebuyutan Olympus hanyalah..."

Mendadak, ruangan yang tadinya ramai karena diskusi menjadi hening. Suasana menjadi begitu mencekam dan setiap orang dalam ruangan dapat merasakan sesuatu yang dingin menyapu tengkuk mereka. Fakta mengerikan tersebut menghantam mereka bagaikan sebuah tamparan langsung di muka.

"Ya... Berarti lawan kita... Adalah Titan Kronos sendiri."

Hening.

"Ooh asyik!" Kata Felix, memecah keheningan yang mencekam itu. Semua orang memandangnya seakan ia menumbuhkan dua kepala. "Ini berarti kita akan cukup bersenang-senang bukan? Karena lawannya bukan lawan yang lemah dan bisa kita remehkan?" Katanya sambil nyengir dan meletakkan kedua tangannya di belakang kepala.

"Aku tidak akan berkata begitu jika aku jadi kau, Felix. Kita akan berperang, bukan bermain bianglala di taman ria." Tegur Belle.

"Sori, sori. Kupikir kata-kataku bisa menurunkan atmosfer tegang di sekitar sini. Lagian, bertarung dengan perasaan tegang selalu berakhir dengan kematian, kau tahu?"

"Apa kita akan benar-benar baik-baik saja beraliansi dengan anak yang masih hijau begini?" Bisik Aphrodite pada Shura.

"Aku juga sedikit ragu. Tapi kita tidak bisa menilai seseorang hanya dari tampak luarnya. Siapa tahu? Seseorang yang tampak lemah di luarnya bisa jadi sebenarnya orang yang sangat kuat." Jawab Shura. "Lagipula, ini demi melindungi Sanctuary. Jika aliansi ini ada untuk tujuan itu aku tidak akan ragu untuk menerimanya."

Aphrodite diam-diam mendengus. Begitulah Shura, menjunjung tinggi keadilan. Aphrodite sendiri khawatir kalau-kalau mereka diharuskan bekerja sama dengan orang lemah. Baginya, orang lemah tidak akan bisa berbuat apa-apa dan pada akhirnya akan tunduk pada orang yang lebih kuat dan berkuasa. Prinsip keadilannya adalah, orang yang berkuasa akan lebih mampu menjaga ketertiban dan menjaga keadilan. Siapa yang kuat akan menguasai yang lemah. Sesimpel itu. Tapi tentu saja ia tak akan mengatakan ini di depan Shura kalau tidak mau diceramahi habis-habisan oleh Saint Capricorn yang menjunjung tinggi keadilan itu.

"Pokoknya," Adam menyela, "Kita harus merencanakan matang-matang persiapan kita dan, jika memungkinkan, mungkin kita bisa—eh – saling mengakrabkan diri atau semacamnya agar kita bisa saling percaya saat bekerja sama nanti... Dan kita harus bisa siap tiap saat karena tidak ada yang tahu kapan penyerangan bisa dimulai."

Semua mengangguk mendengar usul Adam.

"Maaf, boleh saya bertanya?" Camus angkat bicara.

"Ya? Ada apa, Aquarius?"

"Kalian sudah hidup selama ratusan tahun, pastilah kalian sudah pernah setidaknya sekali berhadapan dengan Para Titan."

Atau setidaknya itu yang ia yakini dari beberapa buku yang dia baca. Setahunya ada beberapa titan yang juga mengikuti Perang Ragnarok, mereka direkrut oleh pihak lawan, dilepaskan dari segelnya karena itulah Perang Ragnarok beberapa ratus tahun yang lalu adalah perang besar-besaran yang kabarnya hampir memusnahkan semua Demigod – dan tentu saja sudah dikonfirmasi sebagai kesalahan besar karena nyatanya para Demigod masih berkeliaran di sana sini—dan kalau pengetahuan yang di dapatnya ini benar itu berarti, mereka setidaknya bisa bertanya-tanya untuk tahu apa yang bisa mereka duga.

"Oh ya, pernah. Sekali." Samoel angkat bicara karena tampaknya teman-temannya tak mau mengingat Perang besar yang menewaskan banyak teman mereka.

"Mereka sangat cerdik, para titan itu. Tidak terburu-buru dalam menyerang dan merencanakan segalanya dengan matang. Selalu punya rencana di balik rencana. Intinya kita harus ekstra hati-hati saat menghadapi mereka."

Jawaban yang diberikan Samoel sangat abstrak tapi setidaknya mereka mendapatkan intinya.

"Kami bisa memperjelas segalanya besok, dan itu, tentu saja, kalau kalian semua setuju dengan tawaran aliansi ini...?" Kata Belle perlahan, berbalik menghadap Sri Paus.

Sang Sri Paus menatap para saint yang langsung mengangguk, mengiyakan pertanyaan tersirat sang Sri Paus.

Sri Paus mengangguk dan dia berdiri dari singgasananya.

"Ya, kami terima tawaran aliansi ini dan akan bekerja sama dengan para Demigod untuk melawan para Titan dan menjaga perdamaian di muka bumi ini!"


Makan siang berlangsung setelah para Sage kembali dari pertemuan mereka. Rapat singkat para Demigod lain juga sudah selesai walau apa yang mereka lakukan barusan tidak bisa disebut rapat karena mereka hanya membahas sedikit kira-kira apa yang bisa mereka lakukan kalau-kalau ada serangan mendadak atau semacamnya.

Anak-anak Hermes tentu saja mengajukan berbagai ide yang khas dengan sifat-sifat mereka. Berbagai macam ide untuk menjebak para titan dengan beberapa benda-benda asing yang mereka ciptakan bersama anak-anak Hephaestus, (entah itu terompet yang akan mengeluarkan wangi busuk saat ditiup, atau bedak yang akan membuat sekujur tubuhmu menjadi hitam) tapi Kallisto tentu saja tidak yakin para Titan bisa dilawan dengan barang-barang seperti itu.

Anak-anak Demeter memberikan masukan yang cukup membantu, memperkuat pengamanan dengan menumbuhkan tanaman-tanaman beracun atau tanaman-tanaman yang sudah di jampi-jampi untuk menangkap monster. Itu tentu saja bisa membantu, tapi Kallisto takut membahayakan orang-orang awam dengan tanaman-tanaman itu.

Masih banyak lagi masukan, seperti perangkap api (jelas dari anak Hephaestus yang beberapa memang maniak api), sulur-sulur anggur yang bisa melucuti atau menangkap monster (Anak-anak Dionysius), atau membuat mereka tidur dengan bau-bau kemenyan atau semacamnya (Usul Eleanor, anak Hypnos) tapi belum ada ide yang betul-betul Kallisto terima jadi dia memberitahu mereka ia akan mempertimbangkannya.

Aula Besar hiruk pikuk saat waktu makan siang. Semua orang sudah benar-benar lapar, mungkin karena kecapekan dan beberapa memang belum makan apa-apa sejak pagi. Aula besar adalah aula yang benar-benar besar dan hanya diisi dengan beberapa meja panjang simpel dengan taplak meja berwarna krem. Di masing-masing meja, terdapat piring perak kosong dan gelas kaca yang agak besar. Itu adalah piring dan gelas ajaib, pikirkan saja apa yang ingin kau makan dan makanan itu akan muncul sendirinya pada meja itu (makanan betulan yang bisa dimakan, tentu saja).

Karena tidak terlalu lapar, Nasha cuman meminta kare super pedas saja dari piringnya. Ia duduk di sebelah Patroklos, dan tanpa kenal takut ia memulai pembicaraan dengannya.

"Anu, Patroklos, bagaimana rapatnya tadi?"

Patroklos berhenti mengunyah saladnya dan menatap gadis kecil yang duduk di sebelahnya. Sudah bukan rahasia lagi bahwa Patroklos adalah orang yang paling ditakuti di tempat ini. Ditakuti dalam artian, sikapnya yang terlalu dingin dan mulutnya yang tajam itu membuat orang-orang disekitarnya terlalu takut untuk mendekatinya. Satu-satunya orang yang berani mendekatinya paling hanya Kallisto saja.

Dan sepertinya jumlah orang yang berani mendekatinya sudah bertambah satu.

"Biasa saja." Katanya acuh tak acuh dan kembali menyantap makan siangnya.

"Oh."

Patroklos bersyukur Nasha tidak membuka mulutnya lagi. Ia sama sekali tidak ada niatan untuk berbicara dengan gadis kecil itu. Ia tidak perduli walau mereka punya orang tua dewata yang sama. Ia tidak suka gadis itu. Dan saudara-saudaranya. Atau lebih tepatnya, dia mungkin tidak menyukai semua orang di sini. Satu-satunya orang yang ia sukai hanyalah Kallisto.

"Kau tidak makan nasi?"

Panjang umur.

Gadis berambut cokelat karamel itu mendatanginya dan duduk di sebelahnya. Piringnya terisi penuh dengan nasi dan berbagai lauk. Kelihatan jelas gadis ini lapar sekali.

"Aku tidak selapar dirimu."

Kallisto memanyunkan bibir. "Apakah kau sedang mengataiku gemuk?"

"Kalau menurutmu begitu, ya. Mungkin itu." Patroklos terkekeh. Pemandangan yang jarang sekali dilihat oleh anak-anak Demigod lain.

"Aku tidak gemuk, kau tahu. Lagipula, aku lapar." Protesnya. "Omong-omong apa pertemuan kalian tadi berjalan lancar?"

Patroklos menjawab dengan anggukan.

"Hmm... Aku masih tidak percaya kita akan membuat aliansi dengan seorang Dewi." Kata Kallisto setelah menelan makanannya.

"Secara teknis, kita tidak beraliansi dengan Dewi-nya. Kita beraliansi dengan... Para Ksatria dan wakilnya."

"Sama aja."

Patroklos terkekeh. "Setelah ini kumpulkan yang lain. Kita harus bicara."


"Tunggu, tunggu... Kenapa kuilku yang jadi korban!?"

Milo menatap teman-temannnya dengan gusar. Mereka semua datang dan berkumpul dalam kuilnya setelah pertemuan tadi. Kuil Milo adalah salah satu kuil yang cukup berantakan (selain kuil DeathMask). Mereka berkumpul di dalam kamar empunya kuil yang menurut mereka laebih cocok dikatai kandang babi ketimbang kamar. Selimutnya tidak dilipat dan dibiarkan begitu saja di atas tempat tidur, sebagian selimutnya di atas tempat tidur sebagian lagi ada di bawah lantai. Kertas-kertas dokumen berserakan di mana-mana dan bantal tidak diletakkan teratur di tempat tidur. Ada yang terdampar di lantai dan ada satu di tempat tidur.

"Astaga Milo... Tidak bisakah kau atur kamarmu agar terlihat sedikit lebih elegan?" kata Aphrodite, jelas-jelas melemparkan pandangan jijik ke seluruh kamar.

Milo mendecih. "Jangan samakan aku denganmu Aphrodite, aku mana mengerti segala sesuatu tentang kecantikan dan elegan? Kalau kau mau berbicara soal hal-hal seperti itu, sana cari kloninganmu, si Misty."

Aphrodite merengut.

"Tapi jujur saja Milo, dari segi manapun kamar ini berantakan dan tidak normal." Kata Aldebaran, mencoba untuk memberikan tempat untuk teman-temannya. Kamar Milo tidak begitu besar jadi mereka harus duduk bersempit-sempitan dan Aldebaran agak merasa bersalah karena badannya yang paling besar yang berarti dia yang memakan tempat paling banyak.

"Maaf yah, aku sibuk dengan misi akhir-akhir ini sehingga membersihkan kamar tidak masuk nomor satu dalam daftarku." Gerutu Milo.

"Kau berlagak seperti orang sibuk saja." Kata DeathMask.

"Ck. Kau tak punya hak untuk berkomentar, Kepiting Rebus. Setidaknya aku tidak menempelkan wajah orang mati menjijikkan di tembok kuilku. Aku heran kenapa adik-adikmu tidak muntah setiap kali mereka masuk kuilmu."

DeathMask mendengus. "Tutup mulutmu Kalajengking Pongah. Thea dan Kana mengerti seleraku kok."

Aku sepenuhnya meragukan hal itu. Pikir Aiolia.

"Bagaimana kalau kita kembali ke tujuan awal kenapa kita di sini?" Mu angkat bicara. Mengalihkan topik sebelum terjadi perdebatan panjang yang akan berakhir dengan saling memaki dan pertengkaran panjang antara DeathMask dan Milo. Dua rekannya ini memang terkenal sering adu mulut akan hal sekecil apapun.

"Menurut kalian bagaimana? Tentang para Demigod itu?" Mu membuka pembicaraan setelah melihat teman-temannya sudah berhenti berbicara dan berhenti bergerak-gerak untuk memperbaiki posisi.

"Eh, mereka terlalu mencurigakan." DeathMask angkat bicara. "Sama sekali tidak mau memperlihatkan wajah mereka dengan alasan mereka tidak percaya siapa-siapa dan karena kita adalah Saint yang mengikuti perintah Athena. Kalian yakin kita bisa mempercayai orang-orang seperti mereka?"

"Setidaknya mereka memberi kita nama bukan?" kata Aldebaran.

"Kau yakin mereka memberikan nama asli?"

Aldebaran mengangkat bahu. "Entahlah, aku tak bisa berasumsi macam-macam, tapi ini aliansi. Aliansi tidak pernah berlangsung selamanya bukan? Mungkin saja kalau perang ini selesai berarti aliansi kita dengan mereka juga selesai dan itu membuat mereka berpikir mereka tidak wajib membeberkan identitas mereka pada kita."

"Tapi mereka masih anak-anak." Kata Shura.

"Shura, kita juga masih berumur belasan tahun." Mu mengingatkan. "Lagipula yang tampaknya masih anak-anak hanya Belle, Samoel dan Felix. Sisanya kalau bukan seumuran, mungkin lebih tua dari kita. Markos jelas sekali jauh lebih tua dari kita."

"Siapa peduli dengan umur?" Sergah DeathMask. "Yang penting adalah mereka tidak menyusahkan kita saja." Gerutunya.

Aphrodite menghela napas dengan kesal. "Tolong jangan mulai menambah musuh dan masalah. Yang akan kena ceramah nanti aku, kau tahu. Entah sejak kapan Paus menunjukku menjadi babysittermu." Gerutunya.

DeathMask mendengus. "Maaf saja yah. Lagipula, siapa yang butuh Babysitter? Kau pikir aku bayi?"

"Bukan bayi. Cuman bocah yang berada dalam tubuh remaja berumur 16 tahun." Kata Milo.

"Hah? Kau bilang apa tadi Kalajengking Pongah?" DeathMask menatap Milo dengan tatapan menantang.

"Kubilang kau bocah dalam tubuh remaja berumur 16 tahun. Kenapa? Ada masalah?" Milo balas menantangnya.

"Hei, hei, hei." Mu menarik Milo mundur sementara Aphrodite melakukan hal yang sama pada DeathMask. "Tolong jangan bertengkar. Kalian tidak mau kena Tenbu Horin milik Shaka, bukan?"

Mereka terdiam lalu menoleh ke arah Saint Virgo yang bersangkutan. Shaka duduk diam di situ, tapi semua bisa merasakan bahwa mood-nya benar-benar tidak enak. Aura gelap dapat terlihat di belakangnya dan tangannya bergerak-gerak, tampak siap mencekik siapapun yang mengganggu ketenangan pertemuan kecil mereka ini.

Karena tidak mau merasakan Tenbu Horin milik Saint Virgo itu, Milo dan DeathMask memutuskan untuk mengunci mulut mereka rapat-rapat.

"Pilihan bijaksana, kawan." Kata Aldebaran sambil menepuk pundak Milo.

"Hei, Milo. Di mana Camus." Kata Aphrodite sambil mengikat DeathMask dengan tali, mengabaikan protes dari Saint Cancer yang bersangkutan.

"Oh. Dia sedang menemani Sang Oracle."


Camus memungut kertas-kertas yang berserakan di kuil itu. Kertas itu penuh dengan gambar-gambar yang ia sama sekali tidak mengerti maknanya. Beberapa gambar berserakan di lantai dan beberapa terpajang rapih di dinding kamar.

Kamar sang Oracle terletak tidak jauh dari Pope's Chamber, lebih tepatnya di belakang Pope's Chamber. Kamar itu tampak berantakan dan tidak tampak seperti kamar untuk anak kecil pada umumnya, mengingat Oracle mereka masih kecil, tidak lebih dari enam tahun. Tidak ada boneka atau mainan di dalamnya. Hanya ada rak buku yang disesaki dengan banyak buku tebal dan sebuah lemari, tempat tidur, dan sebuah meja yang dipenuhi kertas dan pensil warna juga krayon. Dinding kamarnya penuh dengan gambaran yang dibuatnya.

Camus tidak mengerti untuk apa gambaran-gambaran tersebut. Mungkin karena tidak ada mainan atau hal lain yang bisa digunakannya untuk menghibur dirinya ia menggambar sebagai gantinya, atau mungkin gadis itu sendiri memang hobi menggambar.

Ia mengatur kertas itu dengan rapih dan meletakkannya di atas meja, lalu mengatur peralatan menggambar gadis itu dengan rapih. Ia lalu melangkah ke arah tempat tidur. Gadis kecil itu, Sang Oracle, tertidur lelap di atas tempat tidur. Rambut putihnya menutupi separuh wajahnya yang tampak tenang dan damai itu. Ia memeluk sebuah bantal dan selimut menutupi setengah badannya. Camus tersenyum lalu perlahan ia merapihkan poni gadis kecil itu agar bisa melihat wajahnya. Kulitnya putih pucat dan pipinya bersemu merah. Salah satu matanya ditutupi eyepatch. Merasakan sentuhan Camus, gadis itu bergerak. Matanya setengah terbuka dan dari pandangannya yang buram, ia dapat menerka bahwa yang ada di hadapannya itu Camus.

"...Papa?"

Camus mengelus pipi gadis kecil itu.

"Shh. Tidurlah kembali."

Dan gadis itu kembali tertidur tanpa banyak protes. Satu ramalan membuatnya lelah dan yang ia butuhkan sekarang hanyalah istirahat.

Camus tersenyum dan meninggalkan kamar anak itu. Kamar anak gadis yang baru saja memanggilnya "Papa".


Wanita bertopeng kelinci berdiri di hadapan sebuah jam pasir raksasa di dalam sebuah ruangan. Ruangan itu besar dan gelap. Ruangan itu juga berantakan. Kertas dan pecahan-pecahan kaca berserakan di sana-sini. Bau-bau tak sedap dan memusingkan dari kemenyan memenuhi ruangan. Satu-satunya sumber penerangan dalam ruangan itu hanyalah jam pasir raksasa yang bersinar terang dengan cahaya kebiruan.

"Humm~ Humm~ Persiapannya sudah hampir siap~" Katanya dengan riang.

"Kau tampak senang." Pria bertopeng rubah membuka pintu dan memasuki ruangan. Ia langsung menutup hidungnya begitu bau kemenyan menusuk indera penciumannya.

"Demi Titan, haruskah ada kemenyan di sini?" Kata pria itu dengan nada jengkel.

Sang wanita merengut. "Berisik. Memang kenapa sih? Ini kan ruanganku, terserah aku dong mau pasang apa sebagai pengharum ruangan."

"Kemenyan sebagai pengharum ruangan? Serius?" Tanya pria itu.

"Aku suka bau kemenyan."

Si pria mengangkat bahu. "Persiapannya sudah semua?"

Wajah wanita tersebut menjadi cerah. "Tentu saja sudah~ Sekarang kita tinggal mengambil bahan terakhir~" Katanya.

"Ah mereka yah..." Kata pria itu sambil menggaruk belakang lehernya. "Kau benar-benar mau menyuruhku menculik keduanya? Culik salah satu saja kenapa, sih? Jangan mempersulit misiku."

Wanita itu memanyunkan bibir. "Kalau cuma satu, aku takut rencana ini tidak akan bekerja. Kalau kita gagal Dantallion pasti marah sekali pada kita."

Si pria mendengus. "Aku lebih takut pada Faust daripada Dantallion."

Si wanita mengerutkan kening. "Kenapa? Dia terlihat tidak berbahaya."

Si pria kembali mendengus. "Kau belum pernah menjalani satu misi dengannya, sih. Sudahlah, berarti kita menculik keduanya?"

"Ya..." Lalu si wanita mengambil sebuah kertas berisi tulisan dari jubahnya. Ia tersenyum keji dan kertas dalam genggamannya terbakar habis.

"Lagipula, anak nakal harus dihukum bukan?" Ia tertawa. "Aku menunggu saat bertemu dengan Marina lagi~"


To be Continued


Pojok Rant:

Akhirnya bisa juga author melanjutkan fic ini TAT Akhir-akhir ini sibuk banget sama kuliah T^T Erm... maaf kalau saya membuat para readers menunggu terlalu lama. Author juga sibuk mencari referensi sana-sini untuk fic ini *sigh* semoga para pembaca puas dengan chapter kali ini. Terima kasih sudah mau membaca~


Kamus Aria

Was = Melihat
I = Aku
Omniums = Mimpi
Teamu = sebuah
Was ti = Itu adalah
Songlu = Panjang
Timuixe = Kehancuran
Gigantes = Raksasa
Arumu = Emas
Quod = Dan
Cendoni = Api
Hwat = Apa
Lliw = Akan
Rospe = Harapan
Siollico = Bentrokan
Sulictre = Tertinggal
Tatemanxie = Gelisah
Ortemm = Kematian
Aflictiof = Penderitaan


Pojok HalfBloods

Ziel/ Mitama = Arwah para pahlawan yang masih bersemayam dalam senjata yang mereka tinggalkan.
Gennaschy = Senjata yang dirasuki/ Memiliki arwah pahlawan yang bersemayam di dalamnya.


Pojok Reply

#AmuletWin777

Gianti: S-Sorry -/- I don't mean to underestimate it... Kupikir bakal lebih seru kalau kubuat begitu pertarungannya...
Ingvalt: Makanya lain kali ingatkan dirimu untuk mencari-cari fakta dan referensi
Gianti: #JLEBB TAT I-iya... Hauu...
Lana: But it's true that law of nature sometimes don't apply on fictions ^^ jadi jangan terlalu terpuruk, author.
Maria: Awalnya rambutku memang putih, tapi karena menurut author kami ini kembar identik, penampilan kami harus sama ^^
Ixy: Haha~ jelas dong aku badass~ badass itu perlu~
Gianti: Iya jubahnya beda-beda menurut turunan darah mereka~ Dan untuk para Dewa, eh, anak-anak kalian mengalami kehidupan yang cukup sulit ^^; jadi tolong maklumkan saja sikap mereka yah.
Nasha: Em... Terima kasiha tas review-nya *blush*

#Neo Tsukirin Matsushima29

Kana: Aku juga heran kenapa Rin-san mau sama Oniichan
Ixy: Aku juga sama...
Siria: Siria di sini Mama Thea~~ *lambai2*
Nasha: S-Saya baik2 saja kok ^^
Kallisto: Terima kasih atas Reviewnya~


Pojok Nama

Nama-nama samaran para Demigod sejauh ini:

Patroklos = Markos
Scarlett = Belle
Maximus = Felix
Rio = Samoel
Atlanta = Morrigan
Ixpellia = Lilith
Achim = Adam
Lily = Lavender


Cukup sampai di sini, sampai jumpa di chapter depan

Maaf jika ada kesalahan penulisan/typo yang mengganggu