Disclaimer:

Saint Seiya © Kurumada Masami

OCs © Author Sia Leysritt


Summary

"Para Half Bloods masih hidup. Mereka masih berkeliaran di sekitar kita seperti para Saint, prajurit Athena. Mereka bersembunyi, tidak memberikan identitas kepada siapapun karena tidak ada yang bisa dipercaya. Namun saat para Titan mulai bangun, mereka sadar bahwa mereka kini tidak bisa bertindak sendirian saja. Mereka butuh bantuan. Dan hanya Dewi Athena dan prajuritnya yang bisa memberi mereka bantuan itu."


Other Author OCs:

Shizen Areleous: Shimmer Caca

Ara Thea: Neo Tsukirin Matsushima29

Ringo: Neo Tsukirin Matsushima29


Sia Leysritt Present:

Halfbloods: Titan's War

SeerV

Langkah Pertama


"Doesn't matter if you can dream it or not, all that matters is if you can begin it or not? Take that first step."

Vikrmn, Corpkshetra


Asap mengepul dari kuali di hadapannya, bau tanaman herbal dan wangi-wangi tak sedap lainnya mengepul dalam ruangan gelap tersebut. Seorang pria membaca sebuah buku tebal – yang mungkin lebih cocok disebut kitab—lalu memasukkan beberapa tanaman hijau ke dalam kuali yang berisi cairan berwarna hijau pekat.

"Syukurlah warnanya berubah sesuai apa yang ada di buku." Katanya. Suara pria itu kecil dan agak lembut untuk ukuran seorang pria dewasa.

"Aku tidak mau ada ramuan meledak lagi untuk yang kesekian kalinya." Desahnya. "Membereskannya lebih merepotkan daripada membereskan makanan yang dilempar kesana kemari."

"Kau membicarakan wajahmu atau ruangannya?"

Si pria yang berada di depan kuali berbalik untuk melihat sesosok pria lain memasuki ruangan. Pria jangkung berambut hitam panjang dan raut wajah menyeramkan. Dia tampan, memang, namun otot-otot wajahnya tampak tegang. Ia tampak seperti seseorang yang sudah sangat lama tidak tersenyum,a tau mungkin memang kenyataannya begitu.

Si pria di depan kuali cemberut.

"Berisik. Kau tahu sendiri aku bukan kalian." Protesnya.

"Kau terlibat dengan kami. Denganku lebih tepatnya. Jadi jangan banyak protes."

"Iya, Iya. Omong-omong, ramuan ini mau kau gunakan untuk apa? Aku tak mau membayangkan efek ramuan ini, warnanya saja sudah tampak… Mengkhawatirkan seperti ini…" Si pria melirik cairan berwarna hijau pekat dalam kuali tersebut dengan tatapan khawatir sekaligus jijik.

"Mau kugunakan apa ramuan ini itu urusanku. Omong-omong aku punya tugas lain untukmu."


"Milo. Berhentilah menguap dan sentuh dokumenmu."

Milo menguap lebar sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Matanya terasa berat dan ia tak ada niatan untuk membuka kedua matanya dan menatap tiga tumpuk dokumen di hadapannya yang satupun belum di sentuhnya.

"Mrrhm…" Gerutunya tidak jelas.

Camus memutar bola matanya. Walau ia sudah terbiasa dengan kemalasan temannya ini, kelakuannya ini konyol dan kekanak-kanakan.

"Kau Saint Athena. Saint Emas. Membereskan dokumen ini adalah salah satu kewajibanmu selain bertarung di medan perang." Tegur Camus.

Milo mengerang. Sejujurnya dia sama sekali tidak bisa melihat apa gunanya dan apa pentingnya dokumen-dokumen tak berguna yang ada di hadapannya. Isi laporannya paling itu-itu saja dan dia sudah bosan membaca ribuan kertas dengan isi yang sama semua, tapi tampaknya Camus tidak membiarkannya melepaskan diri dari kertas-kertas keparat tersebut.

"Untuk apa sih kita membaca laporan-laporan saat ada Titan kejam yang mau menghabisi kita?" Gerutunya.

"Untuk berjaga-jaga. Mungkin saja ada informasi penting dari salah satu dokumen itu." Kata Camus acuh dan acuh. Ia benar-benar berharap Milo berhenti berbicara karena semua ocehan Milo membuat kepalanya pusing tujuh keliling.

Milo mendengus sambil sembarangan mengecap dokumen tersebut. "Maksudmu tiba-tiba ada kertas ajaib terselip di sini dari para Demigod itu?"

"Mungkin saja." Kata Camus. "Sekarang kerja."

Milo memutar bola matanya namun menurut. Mereka diam dan melanjutkan pekerjaan mereka (Milo sesekali menguap karena bosan). Dalam hati Milo bertanya-tanya apakah tidak apa-apa mereka sesantai ini. Ramalan Oracle kemarin sudah jelas sekali bahwa perang besar tengah menanti mereka dan lawan mereka bukan sembarang Dewa atau mahkluk mitologi lainnya. Lawan mereka adalah para Titan sendiri. Para Titan kejam yang dahulu digulingkan oleh dua belas Dewa Olympia.

"Hei, Camus."

"Hn."

Milo menatap Camus, kesal dengan responnya yang pendek dan tak pedulian itu.

"Bisakah kau menjawab panggilanku dengan "Ya" atau "Ada apa?" Sobat macam apa kau ini?"

"Akan kulakukan saat kau akhirnya membaca baik-baik dokumen itu sebelum mengecapnya." Kata Camus acuh tak acuh.

Milo mendengus kesal. "Kau peduli sekali pada mereka. Kau mau menikahi mereka yah?" Katanya kesal.

"Sekali lagi kau buka mulutmu kukurung kau dalam Freezing Coffin." Ancam sang Saint Aquarius.

Milo menggerutu tentu tak mau terkurung dalam balok es yang bahkan tak bisa dipecahkan oleh dua belas saint emas sekaligus. "Oke, oke. Tapi dengar dulu. Apa tidak apa-apa kita sesantai ini? Lawan kita adalah para Titan yang dulu pernah di lawan dua belas dewa Olympia. Tidakkah seharusnya kita… Kau tahu, mencari markas mereka dan menyerang?"

Camus menatap Milo dengan pandangan seolang Milo baru saja mengatakan hal terbodoh di dunia.

"Hanya orang bodoh yang masuk ke kandang musuh sembarangan, Milo." Kata Camus sambil mengembalikan perhatiannya kembali ke dokumen dalam genggamannya.

"Apa kau baru saja mengataiku bodoh?" Gerutu Milo.

"Terserah kau mau mengartikannya bagaimana. Aku tidak peduli." Kata Camus acuh tak acuh.

Milo menggerutu sebal lalu kembali mengecap asal dokumennya.

'Kenapa juga aku bicara dengan balok es?'


Ixpellia sedikit berharap ia mempunyai keberuntungan anak-anak Fortuna. Serius, sedikit keberuntungan dan dia tidak akan kedapatan tugas jaga pada hari ini. Sebenarnya, tugas yang harus dia jalankan hari ini hanyalah patroli biasa di sekeliling desa. Bukan tugas sulit yang makan banyak tenaga kecuali kalau Ixy termasuk kategori orang yang tidak punya banyak tenaga (kenyataannya Ixy punya tenaga sebanyak tenaga kuda). Yang membuat Ixy kesal adalah…

"Sepertinya kerusakan di sini sudah dibereskan. Syukurlah."

Bahwa ia harus patroli dengan Aries Mu.

Ixy pada awalnya tidak mempunyai sejarah yang buruk dengan pemuda berambut ungu pucat tersebut, hanya saja sesuatu terjadi dan hubungan mereka menjadi renggang. Setidaknya, renggang dari sebelah pihak saja karena Mu sendiri masih menganggap Ixy sebagai teman baiknya.

"Ixy? Kau mendengarku?"

Mu menoleh ke arah Ixy saat gadis itu tidak menjawab satupun pertanyaannya dan Ixy sendiri tidak melihat ke arahnya dan terus-terusan melihat ke arah lain agar ia tidak harus menatap pemuda ber-armor emas di sebelahnya dan terus-terusan berpura-pura tidak mendengar segala ucapan Mu.

Mu menghela napas. Tampaknya susah sekali baginya untuk mengembalikan semuanya seperti masa itu,masa saat ia masih akrab dengan Ixy. Tapi jujur saja Mu sendiri tidak tahu apa yang sudah ia perbuat sehingga membuat Ixy membencinya seperti ini. Selama ini ia tidak pernah mengatakan sepatah katapun yang menyinggung Ixy dan selalu berusaha menjadi teman yang baik, tapi kenapa…?

"Ixy?"

Dan lagi-lagi sang gadis tidak menggubrisnya.

Seperti yang Ixy beritahu padanya bertahun-tahun lalu, penampilannya tidak pernah berubah. Rambutnya masih hitam legam dan panjang, kini rambut itu sudah mencapai pinggangnya, padahal dulu saat ia bertemu dengannya pertama kali rambut itu masih sebatas bahu gadis itu. Kulitnya masih pucat, warnanya hampir sama dengan warna kulit mayat tapi tidak sepucat warna kulit mayat, tentu matanya berwarna hijau kebiruan dan dari semua anggota tubuh Ixy, hal yang paling menawan menurut Mu adalah kedua matanya. Kedua mata Ixy mempunyai warna yang tidak biasa dan tampak unik dan mistis. Mu menebak kedua mata itu adalah turunan dari orang tua dewatanya.

Ya, Aries Mu tahu bahwa gadis ini adalah Demigod. Kejadiannya betul-betul tidak disengaja tentu saja, dan Mu sendiri sudah berjanji pada Ixy untuk tidak memberitahukan jati dirinya dan tentang para Demigod kepada siapapun termasuk teman-temannya dan juga gurunya, Sri Paus Shion dan hingga kini ia menyembunyikan rahasia itu dengan baik.

Saat dulu bertemu Ixy, mereka masih kecil. Mu ingat saat itu Ixy adalah tipe-tipe anak yang tampak seperti tidak mau diganggu dan selalu menyendiri. Saat ia mau mengajaknya berkenlan, ia melakukan hal bodoh dan terjatuh tepat di depan gadis itu sehinga gadis itu tertawa melihatnya. Itu adalah awal mula pertemanan mereka namun mereka tidak pernah bertemu lagi sejak enam tahun yang lalu. Mungkinkah itu alasan Ixy tidak lagi mau berteman dengannya? Karena ia mendadak menghilang tanpa kabar?

"Hei, Ixy. Kenapa kau marah padaku?" Tanya Mu, memutuskan bahwa lebih baik ia langsung bertanya saja.

"Itu bukan urusanmu." Kata Ixy dengan nada datar yang terdengar ketus.

Mu menghela napas. "Kalau aku melakukan sesuatu yang salah, beritahu saja agar aku bisa memperbaikinya." Kata pria berambut ungu itu.

Ixy berhenti berjalan dan menoleh pada Mu. "Kau bisa diam tidak? Daritadi kau berisik terus dan itu membuatku risih." Katanya jengkel.

"Maaf… Aku hanya ingin tahu kenapa kau marah padaku." Jelas Saint Aries itu.

Ixy hanya menarik napas. Terlihat jelas dari wajahnya bahwa ini adalah topik yang selalu ingin dihindarinya dan Mu tetap memaksa ingin tahu duduk perkara topik tersebut. Ixy telah bersabar sedaritadi. Ia berusaha untuk tidak kasar pada sang Saint Aries tersebut, mengingat bahwa mereka akan menjadi kawan seperjuangan untuk sementara tapi pemuda berambut ungu tersebut terus-terusan mengganggunya dengan memanggilnya dan melontarkan pertanyaan yang tak ingin dijawabnya dan itu membutnya kesal.

"Dengar… Aku marah padamu atau tidak, itu urusanku. Kau tidak punya hak untuk tahu alsannya. Yang jelas, apapun yang kau lakukan tidak akan bisa memperbaiki atau membuatku merasa lebih baik."

Tanpa menunggu reaksi dari pria berambut ungu itu, Ixy melangkah pergi sambil merutuki Fortuna dalam hati karena nasibnya yang sial hari ini.

Sementara Mu hanya memasang wajah sedih. Apapun yang pernah dilakukannya, entah dia sengaja atau tidak – dia yakin setidaknya ia tidak sengaja melakukannya – pasti sangat menyakiti hati gadis itu. Namun bukan berarti Mu akan menyerah begitu saja. Pasti ada cara baginya untuk memperbaiki hubungan mereka. Sisa waktu patroli mereka hanya diisi oleh keheningan yang tidak mengenakkan. Tak satupun dari mereka yang berbicara. Ixy sendiri memang tidak mau berbicara pada Mu dan Mu sendiri takut kalau-kalau dia menyinggung Ixy. Setelah patroli, tanpa mengucapkan selamat tinggal, Ixy berjalan pergi, Mu tebak pasti ke markas rahasia para Demigod atau semacamnya. Dengan perasaan yang campur aduk Mu juga kembali ke kuilnya.

"Yo Mu! Baru pulang patroli?"

Mu mendongak untuk melihat Taurus Aldebaran berdiri di depan kuilnya. Mu tersenyum sopan.

"Selamat siang Aldebaran. Ya, aku baru saja kembali. Boleh kutanya kenapa kau menungguku di depan kuilku?"

Aldebaran tersenyum lalu menepuk keras punggung Mu. Mu yakin kalau dia bukan Saint Emas dia sudah terhempas ke dasar tangga di bawah sana. "Aku hanya penasaran saja dengan hasil patrolimu hari ini. Kau tadi pergi dengan—siapa namanya?—Lilith?"

Mu tersenyum kecil. Seperti halnya Saint emas lain, Aldebaran tidak tahu menahu tentang keberadaan Demigod ataupun jati diri para Demigod yang sebenarnya. Walau Mu sendiri juga tidak tahu Demigod lain selain Ixy, setidaknya sedikit banyak ia tahu tentang keberadaan Demigod, kalaupun ada Saint emas lain yang mengetahui keberadaan Demigod, paling hanya Saint Emas Libra, Dohko. Kalau bisa ia pasti akan memberitahu Aldebaran apa yang diketahuinya, namun ia sudah janji untuk menutup rapat-rapat mulutnya tentang perihal ini.

"Tidak ada yang spesial. Gadis itu tidak bicara banyak." Jelas Mu.

Atau lebih tepatnya ia menolak berbicara denganku.

"Hemm…" Aldebaran mengusap-usap dagunya dengan jari jempolnya, tampak sedang berpikir. "Mereka misterius sekali, yah? Aku mulai tidak yakin kita harus mempercayai mereka."

"Yah… Hubungan kita dengan mereka hanya sebatas beraliansi, bukan teman seperjuangan. Kau tidak harus mempercayai atau dekat dengan mereka kalau kau tak mau." Jawab Mu, memberikan jawaban senetral mungkin.

"Itu benar juga… Tapi tanpa ada rasa percaya kita tidak akan bisa bekerja sama dengan baik."

Mu tertawa kecil. "Aku cukup yakin mereka tidak punya pilihan lains elain mempercayai kita, bukankah sebaiknya kita melakukan hal yang sama? Setidaknya ada sedikit saja rasa percaya diantara kita dan mereka kan?"

Aldebaran mengangguk pelan walau ia masih sangat ragu. "Yah, aku juga kaget kau tiba-tiba datang ke sini. Ah, bukannya aku tidak senang. Setahuku kau sibuk di Jamir?" Tanya Aldebaran, mengalihkan topik pembicaraan. Topik yang sebenarnya ingin dijauhi oleh Mu.

Mu bukanlah tipe orang yang pandai berbohong, karenanya saat ia kembali ke Jamir beberapa tahun yang lalu ia hanya memberikan alasan bahwa ia sibuk memperbaiki cloth-cloth yang rusak di Jamir tapi alasannya yang sebenarnya jauh lebih rumit daripada itu. Enam tahun yang lalu seseorang –entah siapa—membunuh gurunya, Paus yang asli, Sri Paus Shion, dan menggantikan posisinya. Orang yang berada di Singgasana Paus sekarang ini bukanlah gurunya, ia tahu itu. Ia mengenal cosmo dan suara gurunya lebih baik dari teman-temannya dan ia yakin orang yang kini memimpin Sanctuary bukanlah gurunya, Aries Shion.

Namun, Mu tidak bisa terang-terangan memberitahukan ini pada semua teman-temannya. Mereka tidak akan percaya, apalagi dia tidak mempunyai bukti apapun dan omongannya hanya akan terdengar seperti tuduhan kosong. Yang bisa ia lakukan saat itu hanyalah menjauh dari Sanctuary agar pergerakannya tidak dibatasi oleh siapapun itu yang saat ini menjadi Paus, melaporkan segalanya pada Dohko menunggu instruksi selanjutnya dari Saint Emas yang sudah senior itu dan menetap di Jamir.

Namun, beberapa hari yang lalu Dohko memerintahkannya untuk kembali ke Sanctuary.

"Mereka telah bangkit. Kau harus membantu Saint Emas lain."

Setelah diskusi kemarin, Mu yakin yang Roushi maksudkan adalah para Titan. Mu bertanya-tanya apa Dohko juga nanti akan menyusul mereka di medan perang, tapi rasanya tidak mungkin karena Saint Emas senior itu tak pernah sekalipun melangkahkan kaki jauh dari puncak Goroho.

"Mu? Hei, Mu!"

Mu tersentak dari lamunannya dan menoleh pada Aldebaran. ""Ah, maaf," Mu tersenyum kecil, "Ada apa?"

"Kau tidak berubah yah," Komentar Aldebaran, "Selalu melamun. Aku tadi tanya, kenapa kau kembali ke sini? Bukankah kau sibuk di Jamir?"

"Ah ya, itu… Aku tidak butuh alasan untuk membantu teman-temanku kan?" Kata Mu. Untuk pertama kalinya ia berbohong denga mulus.

Aldebaran tertawa. "Astaga, ternyata kau puitis sekali yah? Kalau kau bukan Saint kau bisa jadi penulis." Canda pria berbadan besar tersebut.

Mu tertawa kecil dan saat mencapai kuilnya ia kaget mendapati sang Oracle berdiri di kuilnya. Gadis kecil berambut putih itu memeluk sebuah boneka kelinci dan duduk di depan pintu masuk kuil Aries.

"Lho? Nona Siria?"

Ah. Jadi namanya Siria.

Mu belum pernah sekalipun bertemu dengan Oracle yang baru. Ia cuman pernah mendengar bahwa Oracle yang kini bukan lagi cucu dari gurunya Shion, kini posisi itu jatuh pada gadis kecil di hadapannya.

"Halo…" Sapa gadis itu.

"Ada apa? Bukankah Camus ada di kuil Milo?" Tanya Aldebaran. Mu mengerutkan kening. Apa hubungannya dengan Camus?

Gadis itu, Siria mengangguk, mengindikasikan bahwa ia tahu Camus ada di kuil Scorpio."Aku tidak mencarinya…" Kata gadis itu.

"Oh? Jadi anda sedang jalan-jalan saja?" Tanya sang Saint Taurus. Sang Oracle mengangguk. Mu jujur saja, jarang berbicara pada Oracle sebelumnya. Walau mereka seumuran, tapi sang Oracle selalu memberikan kesan misterius yang membuatnya segan untuk didekati.

Nama Oracle yang sebelumnya adalah Serena. Ia adalah gadis berambut putih bagaikan salju, persis seperti warna rambut gadis di hadapannya ini. Matanya berwarna biru namun bukan biru safir seperti gadis kecil ini, matanya lebih terlihat seperti biru es. Mu tidak berani bertanya apa yang terjadi pada Serena. Setahunya Oracle hanya diganti saat Oracle yang sebelumnya meninggal, karena sekarang Oracle mereka adalah gadis kecil ini, Mu segera menyadari bahwa Serena pastilah sudah tidak ada lagi. Apapun yang menimpanya, Mu tak berani bertanya, itu hanya akan menorehkan luka di hati teman-temannya karena ia tahu beberapa dari mereka mempunyai hubungan baik dengan Oracle sebelumnya. Mu tidak menyalahkan mereka, Serena adalah orang yang menyenangkan. Ia ramah, baik, dan supel. Ia tipe gadis yang mudah didekati dan diajak berteman. Tidak ada yang tidak suka padanya dan dia baik pada semua orang. Ia juga mempunyai kesan misterius yang membuatnya terlihat lebih dewasa dari anak seumurannya. Singkat kata, ia adalah orang yang sempurna untuk dijadikan sebagai teman.

Gadis yang berada di hadapannya kini, sang Oracle yang baru, tidak begitu mirip dengan mendiang Serena. Wajahnya mungkin boleh mirip tapi sifatnya tidak begitu mirip. Gadis ini terlihat lebih pendiam dan malu-malu. Ia juga tidak begitu murah senyum seperti Serena— mungkin karena ia belum lama menjadi Oracle dan masih belum terbiasa dengan orang-orang baru—dan ia memiliki aura misterius yang lebih pekat dari Serena. Sejujurnya itu membuat Mu menjadi tambah segan mendekatinya.

"Hmm… Yah baiklah. Tapi anda harus kembali ke kuil anda ketika sudah gelap, karena sekarang kita berada di situasi yang lumayan genting."

Siria mengangguk. "Akan kulakukan."

Aldebaran mengacak-acak rambut gadis kecil itu. "Bagus, bagus. Baiklah, aku duluan Mu." Aldebaran menjauhkan tangannya dari rambut gadis itu lalu berjalan pergi, kembali ke kuil Taurus. Meninggalkan Mu berdua dengan sang Oracle misterius itu.

"Eh… Apa anda mau masuk saja? Sudah lumayan gelap dan di luar dingin." Tawar Mu pada gadis kecil itu.

Gadis kecil itu tidak menjawab dan terus memandang kosong ke arah cakrawala. Mu mulai bingung dengan apa yang harus ia lakukan. Tidak mungkin bukan, ia meninggalkan gadis kecil itu di luar kuil? Mungkin ia harus menemaninya di sini?

"… Menurutmu apa yang akan terjadi?"

Mu menatap gadis itu. Apa dia sedang bicara padanya?

"Ya, aku bicara padamu, pemegang jubah Domba Putih."

Oh, dia bicara padaku.

"Apa… Anda berbicara tentang perang?"

"… Perang. Kehancuran. Penyelamatan. Suka cita. Duka cita. Yang mati. Yang bertahan hidup."

Ciri khas Oracle yang Mu kenal adalah mereka sering berbicara dalam teka-teki. Gadis kecil inipun tidak jauh beda, padahal umurnya mungkin baru enam atau tujuh tahun.

"…Entahlah. Kita tidak bisa mengasumsikan apapun sebelum perang dimulai, bukan?" Mu menjawab dengan jujur dan memilih kata-katanya dengan sangat hati-hati.

Sang Oracle menatapnya dengan mata biru safir nya yang dingin. Mu mulai berpikir bahwa ia salah berbicara tetapi gadis kecil itu tidak menjawab lagi dan berbalik untuk meninggalkan kuil. Ia berjalan beberapa langkah sebelum berhenti dan tanpa berbalik, ia membuka mulutnya.

"Mereka datang." Katanya.

He? "Siapa?"

Siria berbalik untuk menatap Mu. "Semoga berhasil dengan rapatnya." Dan gadis kecil itu berjalan pergi.

Mu mengedipkan matanya berulang-ulang. Ia sama sekali tidak mengerti sepatah katapun yang dikatakan oleh gadis kecil itu. Tidak lama kemudian, seorang prajurit mendatanginya. Ia tampak terburu-buru. Mu menghampirinya.

"Ada apa?"

"Ah. Itu, para, erm, Demigod yang kemarin. Mereka datang untuk mendiskusikan rencana perang."


Beberapa jam sebelumnya

Tidak ada yang bisa Nasha lakukan di markas besar jadi dia berjalan-jalan di kota lagi. Sekali lagi, ia adalah mahkluk terkecil di markas dan walaupun ada beberapa yang bilang dia harus ikut perang – beberapa ini adalah beberapa orang yang Nasha tidak begitu percaya – ada juga yang bilang ia tidak perlu ikut – karena menurut Patroklos sendiri dia hanya akan mengganggu – fakta yang tidak bisa Nasha ganggu gugat. Entah apa yang akan ia lakukan selama perang nanti, Nasha tidak mau tahu yang jelas sekarang ia punya satu tugas. Mampir ke toko buku, meminjam buku, lalu pulang dengan selamat karena sudah hampir senja.

Perpustakaan yang biasa didatanginya tidak berada jauh dari tempatnya tinggal sekarang. Hanya makan waktu lima belas menit berjalan kaki dan ia sudah sampai. Sebenarnya, ada perpustakaan di markas besar, tapi masalahnya otak Nasha belum cukup besar untuk menampung buku-buku sulit yang ada di markas besar. Walau suka membaca, Nasha belum siap membaca buku-buku tebal yanga da di perpustakaan markas, lagipula bahasa-bahasa dalam buku itu sulit di baca.

Perpustakaan tempatnya meminjam buku adalah perpustakaan tertua di desa itu. Nama perpustakaan itu adalah Logix Calmind. Bangunannya tampak tua. Kelihatan sekali kalau bangunan ini sudah terlalu lama berdiri. Walau kokoh, ada beberapa bagian yang terlihat reyot, seperti lantai kayu pada teras depan dan juga beberapa kayu pada pintu masuk. Warna bata pada tembok pun tampak pucat dan banyak coretan-coretan pada temboknya – yang pastinya adalah ulah anak-anak yang tinggal di dekat situ – dan setelah Nasha perhatikan baik-baik, kaca pada jendela lantai dua nya perlu di ganti karena ada kaca yang sudah pecah.

Nasha melangkah masuk, bel pintu berbunyi begitu ia membuka pintu dan begitu masuk, ia di sambut oleh nyanyian.

Di musim semi itu

Air mataku tak dapat berhenti

Aku ingin berada di sisimu

Kehangatanmu yang lembut masih terasa di telapak tanganku

Meski aku tahu kau tak lagi di sini

Aku akan terus memanggil namamu—

Lagu itu terhenti saat sang penyanyi berdiri dari posisi jongkoknya di konter kasir dan menatap Nasha yang berdiri di pintu masuk. Gadis berambut biru itu hanya menatap si pria yang berdiri di balik meja kasir tersebut sambil tertawa geli. Pria itu tinggi. Tinggi dan tampan. Ia berambut cokelat susu dan pendek seleher. Matanya berwarna cokelat pula, namun cokelatnya begitu terang hingga hampir menyerupai merah. Warna yang bisa disebut amber. Kulit pria itu putih pucat dan kini menjadi semerah tomat karena rasa malu yang tidak akan bisa dideskripsikan lewat kata-kata.

"Selamat pagi Laguna." Sapa Nasha, tidak bisa menahan tawanya.

Pria itu, Laguna, membalas sapaannya dengan terbata-bata. "Se-selamat pagi." Ia menutupi wajahnya yang semerah tomat itu. "Ke-Kenapa tidak bilang kalau kau ada di sana?"

"Bel pintu berbunyi seperti biasa, kukira kau sadar."

Rasa malu pria itu makin bertambah.

"Uhh… Memalukan… Ini memalukan sekali, rasanya aku mau mati saja…"

Nasha tersenyum geli lalu ia berjalan ke arah salah satu rak buku lalu ia berbalik dengan senyum jahil.

"Aku tidak dengar apa-apa!"

Tapi Laguna tahu, dia pasti dengar.

Tidak butuh waktu lama untuk Nasha mencari buku yang ingin dipinjamnya. Ia langsung menemukannya di rak pertama yang ia datangi. Buku yang diambilnya tebal, tapi tentu saja tidak setebal buku-buku di markas besar. Buku itu bersampul kulit dan diikat dengan sebuah tali. Di ujung talinya, menggantung sebuah gantungan berbentuk daun dan judulunya tertulis jelas di sampul buku itu.

ελληνική μυθολογία

Mitologi Yunani

Buku tentang mitologi Yunani. Sebenarnya, buku semacam ini ada di markas besar, tapi setelah Nasha lihat, buku itu terlalu tebal dan tulisannya terlalu banyak hingga Nasha pusing sendiri membacanya. Seingat Nasha, buku yang ia pegang ini mempunyai gambar-gambar yang menarik dan tulisannya tidak terlalu banyak, bahasanya juga tidak begitu sulit. Alasan ia menginginkan buku ini adalah karena ia ingin tahu lebih banyak tentang orang tua dewatanya. Beberapa – bahkan Patroklos sendiri – mengatakan dia dan saudara-saudarinya adalah anak Poseidon, tapi itu juga bukanlah hal yang pasti. Itu hanyalah asumsi-asumsi teman-temannya dan Patroklos sendiri (yang tampak yakin mereka anak Poseidon) tapi mereka belum diakui oleh Poseidon sendiri.

Jadi, Nasha memutuskan untuk memperbanyak ilmu. Dia toh, kemungkinan tidak akan melakukan apa-apa selama perang ini – karena dia yang paling kecil dalam ukuran usia – jadi lebih baik melakukan sesuatu yang produktif bukan? Lagipula dia juga penasaran dengan dewa-dewi yang lain. Bukannya ia tidak tahu apa-apa tentang mereka semua, gadis bersurai biru itu tahu hal-hal umum mengenai dewa-dewi Yunani, tapi dari semua figur mitologi itu, pengetahuannya paling banyak mengenai Athena. Tidak heran, gadis itu tumbuh besar di antara para remaja yang notabenenya adalah pelindung Athena. Nasha sendiri menganggumi sosok Athena karena cerita-cerita para Saint Emas, namun sejak tahu keberadaan para Demigod dan bahwa dia dan saudara-saudarinya adalah Demigod, ia jadi ingin tahu lebih banyak tentang dewa-dewi lain.

Setelah mengambil buku tersebut, Nasha berjalan ke meja kasir. Meja itu adalah meja kayu yang tidak terlalu tinggi, walau begitu meja itu cukup tinggi untuk anak berumur 6 tahun seperti Nasha. Laguna menerima buku pinjamannya untuk di cap sebelum memberikannya kembali ke anak berumur enam tahun tersebut.

"Bacaanmu cukup berat untuk anak berumur enam tahun." Komentar Laguna.

"Tidak juga. Kan buku ini ada gambarnya." Jawab Nasha.

Laguna terkekeh. "Maksudmu kau meminjam hanya untuk melihat gambarnya?"

"Tidak kok, aku membaca bukunya juga." Kata Nasha sambil menggembungkan pipinya.

"Baiklah, baiklah. Omong-omong, mungkin sebaiknya kau kembali. Langit sudah mulai gelap." Kata Laguna seraya menunjuk ke arah jendela. Dari jendela, terlihat langit sore di luar telah menggelap dan bintang akan segera muncul.

"Wah, benar juga. Baiklah Laguna, aku duluan." Ia mengucapkan selamat tinggal dan cepat-cepat berlari keluar. Ia harus kembali sebelum hari benar-benar gelap. Sejak kejadian Cyclops kemarin, Nasha benar-benar jadi parno. Apalagi dengan fakta bahwa perang Titan sudah di depan mata, itu berarti monster-monster bisa jadi lebih liar dari sebelumnya. Hal terakhir yang Nasha butuhkan adalah tertangkap oleh monster ganas dan menjadi makan malam mereka.

Saking parnonya, Nasha terus-terusan menatap ke langit, memastikan langit belum terlalu gelap. Walau bintang sudah mulai muncul satu persatu, setidaknya sekitarnya masih terang. Masih ada lampu. Ia terlalu fokus pada langit dan cahaya di sekitarnya hingga tak menyadari ada seseorang di hadapannya… Setidaknya hingga ia menabrak orang tersebut.

"Wah!"

"Wah, wah,wah…" Sebuah suara asing menyapanya.

"Aku menemukan anak kucing yang tersesat."


To be continued


Pojok Rant

Akhirnya bisa lanjut juga fic ini *cry* hello minna, maaf kalau fic ini lama banget updatenya dan ceritanya kepanjangan dan bikin bosan. Soalnya author berusaha untuk menjelaskan berbagai hal sedetail mungkin biar gak terjadi lagi kebanyakan plotholes kayak sebelumnya. Semoga pembaca suka yah ^^


Pojok Reply

#AmuletWin777

Gak apa, bagi author juga Ingvalt itu sekseh kok~
Ingvalt: … Aku tidak seksi
Ya udah deh, cool
Ingvalt:Aku tidak cool
Serah deh. Yang jelas aku dan pembaca mikirnya gitu :v
Lana: Bukan hanya mereka. Sebagian besar perempuan di markas juga berpikir begitu.
And I'm glad you like the concept so far and thank you for your kind words Ishizu, you're a real angel~
Laguna: Thank you for the review *senyum ganteng*

#Neo Tsukirin Matsushima29

Karena~?
Milo: Idih amit-amit! Gue maunya di cium ama Shizen! #plak
Siria: Mama~ *peluk Thea*
Atla jadi Morrigan karena arti nama Morrigan berhubungan sama status ayahnya~
Kallisto: Terima kasih sudah mereview~


Cukup sampai di sini, sampai jumpa di chapter depan

Maaf jika ada kesalaha penulisan/typo yang mengganggu