Disclaimer:
Saint Seiya © Kurumada Masami
OCs © Author Sia Leysritt
Summary
"Para Half Bloods masih hidup. Mereka masih berkeliaran di sekitar kita seperti para Saint, prajurit Athena. Mereka bersembunyi, tidak memberikan identitas kepada siapapun karena tidak ada yang bisa dipercaya. Namun saat para Titan mulai bangun, mereka sadar bahwa mereka kini tidak bisa bertindak sendirian saja. Mereka butuh bantuan. Dan hanya Dewi Athena dan prajuritnya yang bisa memberi mereka bantuan itu."
Other Author OCs:
Shizen Areleous: Shimmer Caca
Ara Thea: Neo Tsukirin Matsushima29
Ringo: Neo Tsukirin Matsushima29
Angelion Arcciel: AmuletWin777
Sia Leysritt Present:
Halfbloods: Titan's War
Bellum – VI
Bertarung Untuk Melindungi
"War must be, while we defend our lives against a destroyer who would devour all; but I do not love the bright sword for its sharpness, nor the arrow for its swiftness, nor the warrior for his glory. I love only that which they defend."
― J.R.R. Tolkien, The Two Towers
Lana tidak ingat adiknya pernah pulang selarut ini. Mengatakan bahwa sekarang sudah larut, mungkin agak berlebihan, tapi saat kau adalah seorang kakak dengan tiga orang adik (Walau Ingvalt selalu menolak dipanggil adik karena dia dan Lana cuman berbeda 12 menit), dan adik bungsumu belum pulang saat langit sudah gelap, bahkan jam tujuh malampun sudah termasuk larut bagi Lana. Seingatnya, Nasha hanya meminta ijin untuk ke perpustakaan, dan sebagai maniak buku, Nasha memang sering lupa waktu begitu dirinya menginjakkan kaki ke perpustakaan (yang omong-omong sudah bisa disebut surga atau rumah kedua bagi Nasha) tapi Nasha tidak pernah pulang setelah langit gelap.
Pergi kemana anak itu? Pikir Lana cemas.
Untungnya, markas besar mereka bukanlah asrama yang memiliki aturan jam malam yang menyebalkan, sehingga ia bisa keluar untuk mencari adik kecilnya. Punya aturan jam malam pun, ia tidak yakin akan ada yang keluar untuk mencarinya kecuali mungkin Ingvalt dan Kai. Mereka belum kenal betul para Demigod di markas besar. Toh, mereka belum lama berada di tempat itu, dan Lana sendiri tidak punya niat untuk mencari teman.
Entah karena masa kecil yang suram atau memang ia sendiri yang suka menyendiri, Lana tidak senang berada dalam keramaian. Berada di dalam keramaian dan tempat yang juga terlalu sepi membuatnya takut. Hal yang mungkin tak terdengar normal namun begitulah kenyataannya. Jika ia berada di tempat yang terlalu ramai atau terlalu sepi, ia akan mulai merasa mual. Seakan-akan ada semacam kekuatan tak kasat mata yang memelintir perutnya dan memaksanya mengeluarkan seluruh isi perutnya.
Untungnya, saat ini suasana desa tak begitu ramai dan tak begitu sepi. Ada beberapa orang yang masih berlalu-lalang, tapi setidaknya, situasi saat ini tidak bisa disebut ramai dan Lana menumpahkan sejuta rasa syukur kepada para dewa. Omong-omong soal para dewa, sejak tinggal bersama para demigod, Lana melihat banyak diantara mereka yang membenci orang tua dewata mereka. Lana tentu saja tidak tahu sebabnya apa, dia tidak punya hak untuk mengorek urusan pribadi mereka, namun ia menebak penyebabnya adalah masa kecil yang tidak bahagia.
Lana dan adik-adiknya bukan pengecualian. Ia tidak normal. Kai dan Ingvalt pun begitu. Banyak kejadian yang membuat mereka bertiga jauh dari kata normal. Saat Lana berumur tujuh tahun dulu, ia pernah meledakkan sebuah gentong besar berisi air. Kalau tidak salah saat itu, ia melihat seorang anak perempuan seumurannya di ganggu oleh sekelompok anak laki-laki. Lana tidak suka melihatnya. Dan ia ingat ia ingin sekali memberikan pelajaran untuk anak-anak laki-laki itu. Dan begitu saja, gentong tersebut meledak. Tentu saja Lana menjadi tersangka utama (dan kenyataannya memang begitu) dan ia mulai dianggap tidak normal dan dijauhi. Belakangan, Kai dan Ingvalt juga mengalami kejadian serupa.
Lana pernah bertemu ayahnya beberapa kali. Ayahnya tidak datang setiap hari, hanya datang beberapa kali dalam setahun. Saat itu, Lana tidak tahu bahwa ayahnya adalah dewa dan menganggap ayahnya adalah orang sok sibuk dan hanya mengunjungi istri dan anak-anaknya beberapa kali. Tapi setidaknya, ia mengunjungi dan itu sudah cukup bagi Lana. Tapi Lana tak pernah melihatnya lagi sejak ibunya hamil untuk terakhir kalinya. Saat Nasha ada di dalam perut ibunya. Memikirkannya membuatnya gusar. Ia memutuskan untuk kembali berkonsentrasi mencari adiknya.
Tapi sudah terlambat untuk mengingatkan diri untuk berkonsentrasi karena detik berikutnya ia menabrak seseorang. Orang yang ditabraknya adalah seorang wanita dewasa. Ia tinggi. Menurut Lana terlalu tinggi untuk ukuran perempuan (atau dia saja yang terlalu pendek). Kulitnya putih tanpa cela, mengingatkan Lana pada susu. Putih tapi tidak pucat. Tidak terlihat seperti kulit orang yang penyakitan (Beda dengan Lana yang kulitnya terlihat terlalu putih hingga menurutnya, ia mirip hantu). Rambutnya panjang mencapai lututnya, ekspresi wajahnya kalem dan tenang seperti permukaan air. Lalu mata wanita itu menatap lurus ke arah Lana. Lana tidak bisa berpaling. Kedua bola mata biru-ungu itu seakan menatap langsung ke jiwanya.
"Ah… Erm, ma-maafkan saya." Entah karena gugup atau terlalu terpesona, ia tergagap saat mengutarakan permintaan maafnya.
Wanita itu tersenyum padanya. Senyumnya tampak menenangkan. "Tidak apa-apa." Jawabnya. "Apa kamu baik-baik saja?"
Lana menjawabnya dengan anggukan.
Wanita itu tersenyum lagi. Kalau Lana adalah seorang laki-laki, ia pasti sudah jatuh cinta saat ini.
"Apa yang kamu lakukan di sini pada jam seperti ini?"
Ah.
Pertanyaan itu bukannya tidak wajar. Memang benar belum larut, tapi tidak lazim bagi seorang anak berumur dua belas tahun untuk berkeliaran sembarangan saat matahari sudah terbenam. Tapi Lana bukannya berkeliaran sembarangan ataupun tanpa alasan. Adik kecilnya hilang dan ia harus menemukannya.
Mungkin dia bisa minta tolong?
Bukannya dia tidak suka meminta pertolongan, tapi Lana lebih suka melakukan segala sesuatu sendiri. Pada akhirnya, bagi Lana, manusia hanya bisa mengandalkan diri mereka sendiri. Tidak baik terlalu bergantung pada orang lain karena itu akan membuat orang berpikir kita tidak bisa apa-apa tanpa mereka dan manusia tak berperasaan pasti akan memperhitungkan segala budi baik yang mereka pernah lakukan pada kita. Lana adalah tipe orang yang ingin menghindari hal itu.
Tapi, wanita di depan matanya ini tampaknya orang baik. Dari ekspresinya, kelihatan kalau dia memang hanya penasaran apa yang Lana lakukan malam-malam begini saat jalanan sudah mulai sepi. Maka, ragu-ragu, ia menjawab jujur.
"Saya sedang mencari adik saya. Dia belum pulang."
"Ah…" Wanita itu terdiam sesaat. "Kemana adikmu bilang dia akan pergi?" Tanya wanita itu.
"… Ke perpustakaan." Jawab Lana. "Dan saya sedang dalam perjalanan ke sana."
"Hmm… Tapi tidak aman kalau kau pergi sendirian. Kalau kau mau, aku bisa membantumu menemukannya."
Tidak terima kasih. Mungkin adalah kata-kata yang akan Lana berikan kalau saja keadaan sekitarnya tidak segelap ini. Sama seperti suasana terlalu ramai atau sepi, keadaan gelap juga membuatnya mual setengah mati. Dan dia tidak mengajak Ingvalt dan Kai karena kalau tidak salah mereka dipanggil oleh Kallisto untuk mengurus sesuatu (Lana tidak tahu apa yang dibutuhkan Kallisto dari dua anak berumur dua belas dan sembilan tahun) jadi ia terpaksa pergi sendiri. Kalaupun Nasha memang hilang dan kalau dia tidak ada di perpustakaan Lana tidak yakin ia bisa mencarinya seorang diri. Bukan hanya karena gelap… Tapi juga karena kemungkinan ada monster berkeliaran. Tapi tidak mungkin kan dia mengatakan hal seperti itu pada wanita ini. Dia bisa disangka orang gila.
"… Jika tidak merepotkan." Jawab Lana.
"Sama sekali tidak. Ayo. Kita cari adikmu."
Nasha selalu tahu bahwa dia bukan anak biasa. Bahkan sebelum ia tahu fakta bahwa ia adalah demigod. Ia tahu karena ia bisa melihat hal-hal yang tak bisa dilihat orang lain, hal-hal yang bahkan tak bisa dilihat oleh kakak-kakaknya. Waktu dia berumur lima tahun, ia pernah melihat seorang perempuan berambut hitam panjang dengan gaun polos putih yang selalu berdiri di bawah pohon besar di dekat rumahnya. Perempuan itu berkulit putih pucat (warna kulit yang tidak wajar) dan setengah wajahnya rusak parah. Nasha tidak merasa ngeri dengan semua itu, ia lebih penasaran dengan alasan kenapa wanita itu berdiri di situ setiap hari dan membawa sebuah payung merah yang sudah rusak. Payung merah yang di genggam wanita itu sudah robek sana-sini, beberapa besinya malah ada yang sudah bengkok. Singkatnya, payung itu tak bisa lagi disebut payung. Saat ia bercerita pada ibu dan ketiga kakaknya, mereka heran karena mereka tak pernah melihat wanita seperti itu di dekat sini dan bahwa Nasha mungkin salah lihat. Namun Nasha tahu ia tidak salah lihat karena dia melihat perempuan itu berdiri di tempat yang sama setiap hari. Memutuskan bahwa hanya dia yang bisa melihat wanita itu, dan tidak memusingkan alasannya, Nasha tidak lagi menyiggung masalah itu.
Ada hal lain lagi yang bisa Nasha lihat selain manusia tak kasat mata (yang belakangan Nasha kenal sebagai hantu atau roh orang mati). Ia lupa kapan persisnya ia melihat hal itu, tapi yang jelas, itu terjadi sebelum ibunya meninggal. Ibunya sedang memasak di dapur. Memasak daging kelinci hasil buruan (Nasha tak pernah mau ikut berburu dengan Ingvalt dan Kai karena merasa kasihan dengan binatang buruannya) Ingvalt dan Kai. Ia menghampiri ibunya untuk bertanya apakah ia boleh memakan kue di lemari makanan sesudah makan malam. Ia ingat ia berhenti sejenak saat melihat hal itu.
Di sekeliling tubuh ibunya ia melihat sesuatu. Bukan sesuatu, lebih tepatnya ia melihat semacam cahaya berwarna. Cahaya berwarna hijau. Warna hijau yang mengingatkannya pada rumput. Pohon. Daun. Segala warna hijau yang ada pada alam. Nasha menggosok-gosok kedua matanya, untuk memastikan bahwa ia benar-benar melihatnya, bukan karena halusinasia karena dia sudah setengah mengantuk. Dan yang dilihatnya benar. Bahkan semakin jelas, cahaya yang dilihatnya tampak meliuk-liuk dan menari. Berpendar lalu kembali menari. Cahaya itu terlihat seperti sinar bintang-bintang yang berkumpul jadi satu. Bintang berwarna alam. Karena rasa ingin tahunya, ia pun bertanya pada sang ibu. Namun tidak mendapatkan jawaban yang jelas.
Suatu saat, kau akan tahu apa itu.
Ia tidak tahu suatu saat itu kapan. Dia ingin protes. Ingin tahu. Tapi ia mengurungkan niatnya itu. Masih banyak waktu untuk mencari tahu. Itu yang dulu dia pikirkan. Ibu akan memberitahuku suatu saat nanti. Itu yang diyakininya dulu. Namun kini ibunya sudah tidak ada untuk memberitahunya. Dan ia kini dapat melihat sinar itu ada pada orang lain juga. Setiap bintang berwarna beda untuk tiap orang. Ia sudah melihat banyak warna di banyak orang, namun ini pertama kalinya ia melihat bintang dengan warna semengerikan ini.
Pria yang ia tabrak itu tinggi. Sangat tinggi. Bahkan lebih tinggi dari Patroklos. Ia merasa seperti berhadapan dengan sekumpulan menara tinggi yang di susun agar menjadi lebih tinggi lagi. Walau gelap, Nasha masih bisa melihat dengan jelas wajah pria itu. Kulitnya tidak putih. Kulitnya terlihat lebih ke warna krem. Krem hangat. Rambutnya pendek dan berwarna cokelat susu. Mata hijau pria itu berkilat-kilat dengan sinar jenaka tapi Nasha dapat melihat sesuatu yang lain pada matanya. Walau ia tidak tahu apa persisnya sesuatu yang lain itu.
Dari segala yang ada pada pria itu, tidak ada yang membuatnya takut. Tidak ada kecuali sinar—ah, bintang yang mengelilingi tubuh pria itu. Sinar-sinar bintang yang dilihat Nasha berwarna hitam keunguan. Sinar itu tidak berpendar lembut. Sinar di sekeliling tubuhnya mengingatkan Nasha akan sesuatu yang sudah layu. Pendarnya redup dan seperti tidak ada keinginan untuk bersinar kembali
"Jadi? Apa yang dilakukan kucing kecil sepertimu malam-malam begini, hmm?"
Nasha tersentak. Ia memandangi pria itu lalu sadar bahwa pria itu tengah berbicara padanya. Ia mengesampingkan benang mengerikan itu dari pandangan dan benaknya dan berusaha fokus pada pria itu sendiri ketimbang aura pada tubuhnya.
Fokus pada orangnya. Lupakan aura tubuh yang bodoh itu.
"Kucing… Maksud kakak saya?" Tanya Nasha ragu-ragu. Ia tidak melihat kucing di sekitar sini dan Nasha sendiri bukan kucing melainkan manusia.
"Iya, kamu. Kau kecil dan lucu. Dan kebingungan. Mirip kucing tersesat." Kata laki-laki itu dengan sebuah cengiran. Nasha melangkah mundur. Entah kenapa cengiran itu tidak terlihat sebagai pertanda bagus buat Nasha.
"… Saya manusia, kak." Jawab gadis bersurai biru itu.
Pria bermata emerald itu tertawa keras. "Tentu saja kau manusia, dik. Aku cuman bilang kau mirip kucing."
Nasha cemberut. Itu tidak membuatnya senang. Ia tidak suka disamakan dengan kucing. Ia suka kucing, tentu, tapi bukan berarti ia senang disamakan dengan kucing.
"Jangan cemberut begitu. Kucing itu lucu." Kata laki-laki itu.
"… Iya, tentu saja. Dan untuk menjawab pertanyaan kakak, saya baru kembali dari perpustakaan. Mau pulang."
"Hmm… Sendirian saja?" Tanyanya lagi.
Nasha mengangguk. "Memangnya kakak melihat orang lain selain kita berdua di sini?" Tanya Nasha.
"Tentu saja tidak." Jawab pria itu. "Hmm… Tidak baik rasanya membiarkan seekor kucing kecil berkeliaran seorang diri—"
"Sudah kubilang, aku bukan ku—"
"—Karena itulah, kakak yang baik dan tampan ini akan menemanimu pulang~"
Hah?
"… Maaf, tapi saya tidak mau ditemani oleh orang aneh dan mencurigakan seperti kakak…" Kata Nasha dengan nada datar.
Pemuda itu membuat gerakan dramatis dan menekan dadanya seakan ada sesuatu yang tajam yang menusuk jantungnya. Gerakan yang menurut Nasha sebenarnya tidak perlu dan berlebihan.
"Perkataan macam apa ini…?" Keluhnya dengan nada kecewa. Nada kecewa yang dibuat-buat. Nasha tahu itu.
"… Kalau kakak hanya mau membuang-buang waktuku dan bersikap dramatis, aku akan pulang sekarang." Kata Nasha dengan nada sesopan mungkin dan dengan kata-kata yang menurutnya tidak terlalu menyakitkan.
"Hei, hei, tunggu dulu." Ia menatap Nasha. "Aku serius. Anak kecil tidak baik keluyuran malam-malam begini."
"Aku tidak keluyuran."
"Biar kuantar kau pulang. Di mana rumahmu?"
Sekarang pemuda itu kelihatan serius. Tampaknya ia benar-benar peduli dengan keselamatan Nasha. Baik sekali. Mereka bahkan tidak saling kenal dan belum bertukar nama tapi kakak ini mau mengantarnya pulang hanya karena menurutnya tidak baik anak kecil pulang malam-malam begini. Nasha jadi merasa agak bersalah sudah bersikap sinis pada pemuda ini (ia terlalu sering menghabiskan waktu dengan Lana dan Ingvalt).
Tapi yang menjadi masalah, tidak mungkin ia membiarkan kakak ini mengantaranya sampai ke "rumah"nya. "Rumah"nya, Markas Besar, adalah tempat yang tak boleh diinjak siapapun. Siapapun kecuali para Half Bloods. Mungkin ia bisa membiarkan pemuda itu mengantarkannya setengah jalan saja? Tidak. Pemuda itu pasti curiga. Soalnya, jalan menuju Markas Besar adalah jalanan yang cukup sepi karena diselubungi kabut sihir yang membuat Markas Besar itu tampak seperti tempat angker yang dijauhi orang (atau kira-kira seperti itulah penjelasan Kallisto. Nasha tak pernah tahu kebenarannya). Akan mencurigakan kalau Nasha memintanya berhenti di tempat yang sepi. Pemuda itu pasti langsung tahu ia berbohong. Apa yang harus ia lakukan?
"Nasha!"
Mendengar suara yang familier dan mendengar namanya dipanggil. Nasha berbalik. Ia menemukan Lana berlari ke arahnya dengan seorang wanita yang tidak dikenal. Wanita cantik dengan rambut panjang melebihi lutut dan mata berwarna biru-ungu. Dan (lagi-lagi) Nasha memperhatikan sinar di sekitar badannya. Aura bercahaya di sekitarnya tampak indah seperti… Es. Berwarna biru keperakan dan, entah ini perasaan Nasha semata atau bukan, cahaya di sekeliling wanita itu terasa.. Dingin. Lalu, entah kenapa Nasha merasa aura cahayanya tampak mirip dengan yang biasa ia lihat pada para Saint. Sinar yang tegas dan kuat tapi pada wanita ini, cahaya itu juga tampak indah.
Tunggu, ini bukan waktunya untuk itu.
Nasha menatap Lana dan wanita asing itu. Astaga, apa malam telah selarut itu hingga Lana datang mencarinya?
"… Apa dia adikmu?" Tanya si wanita pada kakaknya, namun matanya mengarah ke Nasha, seakan memastikan kalau itu benar dia.
"Ya, dia adikku." Kata Lana. Baru saja Lana ingin mendekati Nasha untuk memastika ia baik-baik saja (atau menceramahinya karena pulang malam. Atau keduanya). Si pemuda dengan aura menyeramkan (Nasha memutuskan untuk menyebutnya itu karenaia tak tahu namanya) menariknya sedikit ke belakang.
"Tunggu, tunggu. Nona kecil, mereka keluargamu?" Tanya pemuda itu.
Nasha menatap pria itu dengan bingung. "… Yah… Lana kakakku," Kata Nasha sambil melirik ke arah Lana. "… Tapi aku tidak kenal kakak yang satunya…" Katanya sambil menatap wanita asing yang bersama kakaknya. Mungkin saja ia menawarkan bantuan pada kakaknya untuk mencarinya. Wanita baik. Tidak banyak orang baik yang Nasha temui, setidaknya, tidak banyak orang dewasa yang mau meluangkan wakut untuk membantu anak kecil (Ingvalt sering bilang ia dan Lana bukan anak kecil lagi, tapi bagi Nasha mereka juga belum bisa dikatakan dewasa).
"Oh… Hey, jangan sampai kakak berwajah galak itu penculik yang mau menculikmu dan kakakmu." Kata pemuda itu.
"Hah?"
Nasha memandang pemuda itu dengan penuh tanda tanya. Nasha tidak pernah melihat kasus penculikan sebelumnya (atau mungkin sudah tapi dia tidak ingat). Tapi, ia yakin sekali penculik manapun tidak akan terlihat seperti wanita asing di depannya ini. Wanita ini cantik, dan tampaknya dia kalem dan baik hati. Lalu kenapa pemuda ini bisa menyangka ia penculik? Lalu, kenapa Nasha bisa merasakan ada… Secercah kejahilan dalam nada bicara pemuda itu?
Wanita baik itu (Nasha memutuskan untukk memanggilnya itu saja untuk sementara) tidak memberikan reaksi apa-apa. Kalaupun tersinggung ia menyembunyikannya dengan sangat baik. Ia menatap tajam pada pemuda dengan aura menyeramkan di belakang Nasha.
"Aku tidak mau mendengar itu dari seorang pria dewasa mencurigakan yang mendekati anak kecil malam-malam begini." Kata si wanita baik dengan nada tajam.
"Setidaknya, nona, aku tidak berwajah galak dan jahat."
"Setidaknya, tuan, aku tidak bertampang mencurigakan sepertimu."
Nasha memandang keduanya dengan tatapan bingung. Ya astaga, apa dirinya baru saja menciptakan kesalahpahaman antara dua orang yang tidak saling kenal? Ia menatap Lana. Kakaknya itu juga balas menatapnya dengan tatapan bingung yang sama. Keduanya tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Sebelum kesalahpahaman ini bertambah panjang, pikir Nasha, aku harus memberikan penjelasan.
"Se-sebentar, umm, kak?" Takut-takut, Nasha mengeraskan suara dan menatap si wanita baik. "Maaf, tapi kakak ini," Ia menunjuk pada pemuda di belakangnya, "Tidak punya niat untuk menculikku. Ia berniat mengantarku pulang karena hari sudah gelap." Nasha lalu berbalik pada pemuda di belakangnya.
"… Dan kakak, tolong jangan sembarangan menuduh orang… Kakak ini pasti tidak ada niat untuk menculikku kalau dia datang ke sini bersama kakakku."
Mendengar penjelasan anak berumur enam tahun itu, si wanita baik menatap si pemuda sekali lagi sebelum beralih pada gadis kecil bermata belang itu. "Apakah kamu yakin?"
Nasha mengangguk. Namun, bukannya menyudahi masalah, si pemuda sepertinya berniat memperpanjang masalah dengan menambahkan, "Yakin? Wanita galak bertampang jahat begini… Kau yakin ia tidak ada niat untuk menculikmu dan kakakmu?"
Dan sekali lagi Nasha dapat mendeteksi kejahilan dari pemuda itu (walau Nasha tidak tahu bagaimana ia bisa mendeteksi hal semacam itu).
Wanita itu tampak tenang dan tidak terpengaruh sama sekali pada kata-kata si pemuda. "Sebaiknya, kamu berhati-hati nona muda. Di dunia ini banyak pria-pria bedebah dan menjijikkan yang menyukai gadis cilik." Pandangan tajanya tertuju pada si pemuda.
Si pemuda mendengus dan menjauhkan tangannya dari kedua pundak Nasha, membiarkan gadis berumur enam tahun itu kembali pada kakaknya. "Maaf saja, aku bukan pedofil." Kata si pemuda. Lalu entah mengapa, ia tersenyum. Nasha tidak yakin ia menyukai senyuman pria itu. "Aku hanya mau nona muda itu berhati-hati dan jangan keluyuran di malam hari. Karena," senyumannya makin melebar dan entah kenapa Nasha merasa sedikit lebih lebar lagi dan mulut pria itu akan robek. "Malam-malam biasanya jam keliaran para M-O-N-S-T-E-R." Dan ia berkedip pada Nasha.
Saat itu juga, Nasha merasa seluruh sistem pertahanan tubuhnya (kalau sistem itu memang ada) dan alarm-alarm yang terpasang di tubuhnya (sekali lagi, kalau memang ada alarm dalam badannya) berteriak keras-keras bahwa pria ini berbahaya. Dari nada bicaranya ia yakin bahwa pria itu bukan dimaksudkan sebagai kiasan, namun monster sungguhan. Tidak ada bukti. Tidak ada penjelasan. Nasha tahu bahwa pria di hadapannya ini sekarang berbahaya. Ia langsung menyembunyikan tubuh kecilnya di belakang si wanita baik. Dan tampaknya bukan hanya Nasha saja yang berpendapat demikian. Lana juga tampak kaget dan ia melakukan hal yang sama. Bersembunyi di belakang si wanita baik. Wanita baik itu sendiri segera berdiri di depan mereka berdua, seakan ingin melindungi mereka dari pemuda di hadapan mereka (atau memang itu kenyataannya).
Si pemuda hanya terkekeh dan mengangkat kedua tangannya. "Aku hanya memberi peringatan. Kalian tahu sendiri akhir-akhir ini banyak berita orang-orang hilang, nah," si pemuda berbalik, hendak pergi. Namun sebelum melangkah ia sempat melirik kembali ke arah mereka bertiga. "Membuat kalian bertanya-tanya apa yang menyebabkan mereka menghilang bukan?" Dengan satu seringaian terakhir, pemuda iu melangkah pergi.
Jangan lupa
"Hah…?"
Nasha mengedipkan mata. Bingung. Ia yakin ia baru saja mendengar suara. Suara si pemuda. Namun suara itu lebih terdengar seperti bisikan. Yang lebih mengherankan lagi adalah tampaknya Lana dan si wanita baik tidak mendengarnya. Si pemuda sudah menghilang, meninggalkan mereka bertiga. Nasha masih memandang arah kepergian si pemuda dengan waswas. Siapa dia? Apa dia tahu tentang para Halfbloods? Lalu apa maksudnya dengan "Jangan Lupa"?
"Apa kamu baik-baik saja?"
Nasha mendongak dan melihat si wanita baik berlutut, membuat tingginya sejajar dengan Nasha. Gadis kecil bersurai biru itu menatap si wanita baik dengan takut-takut.
"Tidak apa-apa… Mungkin ekspresiku galak dan jahat tapi aku tidak mempunyai niat buruk, aku janji." Kata wanita itu dengan nada menenangkan. "Kakakmu mencari-carimu, kau tahu?"
Lana mengangguk, mengiyakan perkataan wanita itu.
"Ah… Ma-maafkan aku…" Kata Nasha. "Dan bukannya aku takut pada kakak…" Perkataannya terputus dan gadis kecil bermata belang itu menatap ke arah pemuda tadi menghilang.
Si wanita mengikuti arah pandangnya. "Pria tadi…?"
Nasha terdiam. Mungkin lebih baik ia tidak mengkhawatikan hal ini dulu, lagipula, dia sekarang bersama orang asing dan dia tidak boleh melibatkan orang awam dalam masalah Demigod. Namun, benarkah wanita di hadapannya ini orang awam? Mungkin karena insting, atau mungkin juga karena benang-benang aneh yang Nasha lihat, ia merasa wanita di hadapannya tidak asing dengan monster dan semacamnya. Mungkin dia Saint? Tapi tetap saja, Nasha berpikir lebih baik kali ini, dia diam.
"Tidak… Bukan apa-apa kok… Terima kasih sudah menolongku, kak."
Wanita itu terdiam sejenak sebelum mengelus kepala Nasha. "Ayo kakak antar kalian pulang." Kata wanita itu padanya dan Lana.
Nasha mengangguk pelan, begitu juga dengan Lana. Lalu tiba-tiba, Nasha teringat ia belum tahu nama wanita yang sudah menolongnya dan kakaknya.
"Maaf, nama kakak siapa? Namaku Nasha dan dia kakakku—"
"Lana."
"Ah… Ange. Panggil saja begitu." Ange. Nama yang cantik. Pikir Nasha. Nama yang sesuai dengan pemilik namanya. Wanita itu—Ange, mengulurkan tangannya pada Nasha dan Lana. "Sebaiknya kita kembali. Keluarga kalian pasti khawatir."
Nasha dan Lana diam-diam bertukar pandang. Tidak mungkin mereka akan membiarkan Ange mengantar mereka sampai ke Markas Besar. Mengatakan bahwa itu rumah mereka akan terdengar salah. Segala penjelasan mereka akan terdengar salah. Tapi Nasha belum yakin apakah Ange ini orang awam atau bukan. Ange memberikan kesan seakan ia orang biasa, namun Nasha mendapatkan firasat Ange bukan orang awam, bahwa Ange tidak asing dengan dunia Demigod dan para monster atau sejenisnya. Tapi itu hanya sekedar firasat dan tak mungkin ia beritahukan pada Lana. Orang waras mana yang percaya pada firasat dan insting anak berumur enam tahun?
"Baiklah, Kak Ange. Anu… Boleh saya tanya sesuatu?" Nasha memutuskan untuk bertanya begitu ia menggandeng tangan Ange.
"Ya? Apa?"
"… Kakak ini… Seorang Saint yah?"
Ange hanya menjawab dengan senyum ambigu.
Kalau Ixy harus menyebutkan jutaan hal yang tidak ia sukai, hal pertama yang akan ia taruh dalam daftar adalah rapat. Rapat itu membosankan. Ixy sudah lupa berapa jam yang telah berlalu sejak ia tiba dan berdiri seperti patung sambil menunggu rapat selesai. Sebenarnya, ia bisa ikut berkumpul bersama rekan-rekannya dan para Saint yang sedang membicarakan penemuan baru mereka. Namun ia tidak melakukannya.
Bukan penemuan yang begitu berarti menurut Ixy. Kemarin, saat beberapa anak Apollo dan Hermes berpatroli di perbatasan desa Rodorio, mereka melaporkan sejumlah monster yang sudah mulai berkeliaran di hutan. Menurut Ixy sendiri, itu hal yang lazim mengingat hampir semua Demigod berkumpul di satu desa yang sama. Para monster pasti langsung mendekat begitu mendeteksi bau mereka (yang mungkin tercium seperti bau stik panggang dan makaroni). Namun harus Ixy akui, sejumlah monster yang berkeliaran di hutan dan dekat dengan perbatasan desa memang patut dicurigai.
"Beberapa Empusa dan Telekhine." Jelas Adam. "Mereka bukan lawan yang begitu kuat. Namun harus kuakui, rasanya sedikit mencurigakan melihat monster berkeliaran dalam jumlah banyak. Setidaknya jumlah monster yang kami lihat tidak sebanyak kemarin sejak kami pertama kali tiba di sini."
"Kalian berbicara seolah kalian sudah memata-matai tempat ini lama sekali." Gerutu DeathMask.
"Mengawasi." Jelas Markos dengan nada tajam. "Kami tidak punya niat memata-matai tempat ini."
"Iya, iya. Terserah." Gerutu DeathMask lagi, menyebabkan Aphrodite menjadi kesal dan berusaha menahan diri untuk tidak menyumpal mulut DeathMask dengan satu buket bunga mawar beracun.
"Tapi apa yang dikatakan Adam benar." Sambung Aldebaran. "Kami para Saint Emas juga tidak jarang menerima perintah untuk memburu monster yang membahayakan keselamatan penduduk desa Rodorio dan masyarakat awam, namun selama ini jumlahnya tidak sebanyak yang kalian laporkan barusan."
Itu tidak salah. Tidak semua monster bisa datang begitu saja ke dunia manusia. Kalaupun bisa, menurut Ixy itu hanya karena mereka beruntung atau karena mereka kelewat keras kepala (atau kelewat lapar). Jumlah monster yang berkeliaran selama ini bisa Ixy hitung dengan sepuluh jarinya tapi akhir-akhir ini Ixy memang merasa jumlah monster yang berkeliaran semakin banyak. Ia sendiri kaget saat kemarin melihat Nasha dikejar tiga Cyclops sekaligus.
"Biasanya jumlah monster yang berkeliaran tidak banyak." Jelas Markos. "Perbatasan antara Dunia Monster dan Dunia kita tersegel. Beberapa monster yang bisa datang ke sini mungkin kelewat keras kepala atau kelewat lapar."
Ah. Dia menyuarakan apa yang kupikirkan.
"Lapar?" Tanya Milo.
"Bagi monster, kami ini santapan lezat." Jelas Belle singkat.
"Hah?"
"Bagi monster, bau manusia dan bau demigod itu beda. Monster lebih suka memangsa demigod daripada manusia fana." Jelas Adam.
"Hee… Jadi jika seandainya monster menyerang berarti meraka pasti akan memprioritaskan kalian dahulu?" Tanya DeathMask dengan cengiran menyebalkan.
"Iya. Jika monsternya rakus dan dungu…" Kata Morrigan dengan suara mengantuk.
Dia selalu mengantuk. Pikir Ixy.
"Pokoknya," Samoel mengalihkan pembicaraan kembali ke topik utama. "Jika jumlah monster yang sudah keliaran sudah semakin banyak, berarti ada yang membukakan jalan bagi mereka. Dan siapapun itu pasti punya kekuatan yang setara dengan dewa atau mungkin dia memang dewa."
"Jika saya boleh berbicara…" Camus mengangkat tangannya. Markos mengangguk, mempersilahkan Saint Aquarius itu berbicara. "Setahu saya Perbatasan antara dunia ini dan dunia para monster berada di Brauron dan Perbatasan itu masih tersegel."
Untuk sesaat para Demigod terdiam. Jujur saja, Perbatasan dunia manusia dan dunia monster bukanlah sesuatu yang ingin dibahas oleh Demigod manapun yang terlibat perang beberapa dekade yang lalu. Tidak ada yang mau membahas apa yang terjadi di Perbatasan yang satunya.
"… Ada satu Perbatasan lagi. Perbatasan yang hanya diketahui oleh kami para Demigod." Jelas Felix. Bahkan Felix yang paling bersemangat di antara para sage pun tampak tidak senang menyebutkan kata Perbatasan.
"Bisa jadi siapapun yang mengeluarkan para monster membuka jalan lewat Perbatasan itu." Lanjut Felix. Ekspresi wajahnya tak bisa ditebak oleh para Saint, tapi dari nada suaranya, mereka bisa menebak bahwa raut wajahnya pastilah tidak bagus.
"Kalau kalian tahu itu, kenapa tidak mengirim patroli di sana untuk jaga-jaga?" Tanya Aiolia.
Itu saran yang masuk akal. Saran yang benar-benar masuk akal. Orang waras manapun pasti akan menyuruh setidaknya satu orang untuk menjaga segel di tempat itu atau setidaknya berjaga agar bisa memberitahukan jika ada sesuatu yang salah dengan Perbatasan di sana. Namun tidak ada yang mau. Satupun Demigod tidak ada yang mau menginjakkan kaki di tempat itu. Bukan karena takut. Bukan. Apa yang terjadi di sana menorehkan sebuah luka. Sebuah luka yang tak akan bisa mereka tutupi. Bahkan mengingatnya saja membuat dada Ixy nyeri.
"… Apa yang terjadi di Perbatasan itu… Tidak penting…" Morrigan angkat bicara dan Ixy mengucapkan sejuta rasa syukur dalam hatinya. "Yang jelas sekarang… kita tahu ada yang membukakan jalan bagi para monster… Seseorang atau sejumlah orang yang… Sekuat dewa atau bahkan lebih kuat… Hanya ada satu hal yang datang ke otak kita bukan…?"
"Para Titan." Kata Mu dengan wajah serius.
Markos mengangguk. Tampaknya ia tidak begitu terpengaruh dengan pembicaraan kami akan Perbatasan. "Mereka sudah mulai bergerak. Kurasa beberapa dari mereka sudah lepas dari segel mereka."
"Apa kalian tahu kira-kira di mana mereka mendirikan markas?" Tanya Milo. Adam menatapnya (atau kira-kira begitulah yang Milo pikir karena seluruh wajahnya tersembunyi di balik tudung).
"Tidak. Kami sudah mengirim patroli ke hampir seluruh area di sekitar sini dan tidak ada tanda-tanda."
Pekerjaan yang tidak membuahkan hasil, menurut Ixy. Mereka sudah mencari markas besar para Titan sejak ramalan diucapkan oleh Areli tapi tak pernah menemukannya. Memang, pastinya tidak mudah menemukan markas musuh begitu saja tapi tak ada salahnya dicoba bukan?
"Sayang sekali. Padahal kukira kita bisa langsung menerobos ke markas musuh." Kata Milo.
Markos mendengus. "Hanya orang bodoh yang mau langsung masuk ke kandang singa tanpa persiapan."
Milo menggerutu pelan. Hebat. Kenapa bisa ada dua orang Camus di sini?
Ixy menghembuskan nafas panjang. Tiba-tiba ia merasa lelah sendiri walaupun tidak angkat bicara daritadi.
Apa mereka bisa bekerja sama jika tak saling percaya seperti ini?
Elias berani bersumpah ia belum setua itu. Menempuh perjalanan dari Livadeia ke Athena bukanlah perjalanan jauh. Mungkin jauh untuk orang-orang normal, tapi buat manusia setengah sinting (Ya, dia mengakui dirinya sudah sinting) sepertinya, jarak Livadeia ke Athena bukanlah jarak yang begitu jauh, setidaknya bukan jarak yang jauh baginya. Namun kini perjalanan itu terasa amat melelahkan. Tulang punggungnya sakit dan betisnya meronta ingin beristirahat.
"Aku sudah tua." Gerutunya. Umurnya sudah lebih dari seabad. Dia memang sudah sepantasnya di sebut tua. Tapi wajahnya tidak berkata demikian. Wajah tampannya masih mulus tanpa keriput. Mata abu-abunya menatap tajam ke sekelilingya, ia bagaikan orang paranoid yang mengawasi kalau-kalau ada sesuatu yang akan muncul dan menerkamnya. Setelah memastikan tidak ada apa-apa, ia kembali melanjutkan perjalanannya.
Perjalanan yang di tempuhnya tidak begitu panjang. Ia hanya perlu melewati desa Rodorio lalu lanjut ke arah dua belas kuil. Kalau boleh memilih, ia lebih ingin pulang langsung ke rumahnya di mana secangkir teh melati dan kue kering tengah menunggunya, namun itu tak bisa dilakukannya. Ia punya dua anak yang harus ia urus.
Terkutuklah Sagittarius yang menunjukku menjadi ibu asuh mereka.
Prajurit yang menjaga membiarkannya masuk begitu saja. Itu wajar, toh dia anggota keluarga salah satu Saint Emas di sini (walau tidak resmi dan barangkali namanya tidak ada dalam kartu keluarga mereka) dan dia selalu mengunjungi kedua anak asuhnya itu walaupun menurutnya ia tidak punya bakat jadi ibu.
Lagipula, aku seorang pria. Kaum Adam. Bukannya seharusnya aku jadi ayah?
Ia sampai ke kuil Leo tidak lama kemudian. Kuil lainnya kosong dan itu tidak mengherankannya. Ia tahu persis kemana semua Saint Emas berada. Ya, tentu dia tahu. Karena dia juga akan terlibat dengan perang besar ini. Ia berjalan masuk ke kuil Leo dan melihat sekelilingnya. Lalu menggerutu. Kuil itu pengap seperti biasa dan berdebu. Ia betanya-tanya apakah pemilik kuil itu tidak punya waktu luang hanya untuk sekedar menyapu atau mengepel, padahal, ia sudah berulang-ulang meminta si empunya kuil untuk membersihkan kuilnya.
"Elias?"
Elias berbalik. Yang memanggilnya adalah seorang gadis. Gadis itu cukup tinggi untuk ukuran gadis berumur sepuluh tahun. Rambut merahnya ia ikat asal-asalan dan tampak berantakan. Mata heterochromia nya nampak berbinar-binar melihat kedatangan sang pemuda bermata abu. Ia berlari-lari kecil ke arah Elias dan langsung memeluknya.
"Ternyata kau pulang hari ini. Aku rindu sekali padamu!"
Elias terkekeh dan mengelus kepala si gadis.
"Ya, ya. Aku juga rindu padamu Aika."
Si gadis—Aika, tersenyum cerah dan melepaskan pelukannya. Sepuluh tahun yang lalu, Sagittarius Aiolos menemukan seorang bayi ditinggalkan begitu saja di depan pintu rumahnya. Tanpa berpikir panjang, tentu saja ia langsung mengadopsinya. Elias ingat saat itu ia menggerutu panjang lebar pada Aiolos tentang betapa merepotkannya para bayi itu dan mengingatkannya bahwa dia masih punya satu balita untuk diurus. Tapi tentu saja Aiolos tidak mendengarkan dan merasa lucu melihat Elias menggerutu seperti ibu-ibu hamil.
"Kupikir siapa, ternyata "ibu" sudah kembali dari perjalanan panjangnya."
Elias merasa ada semacam perempatan mundul di urat lehernya. Ia berbalik dan mendapati Aiolia, sang Saint Leo berdiri di belakangnya dengan cengiran jahil.
"Kalau kau tidak belajar pelajaran biologi dengan betul, Leo Aiolia, aku ini laki-laki." Gerutu Elias.
"Fisiknya memang laki-laki," Kata Aiolia, "Tapi dalamnya seorang ibu sejati." Ia terkekeh.
"Lucu sekali." Gerutunya. "Omong-omong, apa saja yang kau lakukan selama aku pergi? Kuilmu berdebu seakan kau misi beberapa bulan tanpa pulang dan menginjakkan kaki di kuilmu. Atau memang begitukah kenyataannya? Lalu aku juga yakin kamarmu sangat berantakan dan tidak karuan. Selain itu, selama ini apa saja yang kau makan? Kau makan teratur bukan? Aika, kau memasakkannya makanan, kan?"
Aiolia menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah laku Elias. Walau selalu menggerutu bahwa mengurus Aika dan Aiolia itu merepotkan ia selalu perduli dan bahkan memperhatikan hal sekecil apapun yang mengganggu ketenangan hidup mereka berdua.
"Kalau kau berhenti untuk khawatir layaknya induk ayam, Elias, aku tidak akan memanggilmu "ibu". Dan untuk informasimu, akhir-akhir ini aku sibuk dan tidak ada waktu untuk membereskan kuilku. Aku juga menolak tawaran Aika untuk membersihkan kuilku. Dia berumur sepuluh tahun, tidak mungkin aku memintanya membersihkan seluruh kuil ini. Dan ya, aku makan teratur dan kadang Aika memasakkanku makan malam." Kata Aiolia.
"Setidaknya kau masih mengingat hal-hal mendasar untuk hidup, bocah."
"Jangan memanggilku bocah, ibu."
"Aku akan berhenti memanggilmu bocah kalau kau berhenti memanggilku ibu."
"Ya, itu tidak akan terjadi."
"Sepertinya memang begitu."
Aika menggeleng-gelengkan kepala. Ia sudah mengenal Elias seumur hidupnya dan buat Aika, ia mememang sosok seorang ibu. Ia membesarkan dirinya dan Aiolia sejak Aiolos meninggal tanpa banyak komentar (walau terkadang ia mengeluh bahwa dirinya dan kakaknya itu merepotkan). Ia sudah terbiasa dengan adu mulut kecil antara Elias dan Aiolia, sejujurnya ia malah khawatir kalau satu hari saja mereka tidak bertengkar.
"Omong-omong, memangnya kau sibuk apa, sih? Sepertinya kalian baru selesai rapat besar." Kata Elias sambil memandangi para Saint emas yang baru memasuki kuil Leo, berniat kembali ke kuil mereka masing-masing. "Bahkan Mu juga ada di sini. Lama tidak jumpa, Aries Mu."
"Lama tidak bersua, Elias." Kata Mu dengan senyum sopan. "Dan seperti yang kau katakan kami memang baru selesai rapat di bersama Sri Paus dan para tamunya."
"Tamu?"
"Ya. Tamu. Para Demigod. Omong-omong, senang melihatmu lagi Elias." Kata Aldebaran.
"Hah? Tunggu Demigod apa? Kenapa aku tidak diberitahu apa-apa?" Elias memelototi Aiolia. "Dan kenapa kau tidak mengirimiku pesan?"
"Dengan segala rasa hormat, ibuku tersayang, kejadian ini terlalu tiba-tiba. Lagipula, kau toh, tidak akan ikut serta dalam perang bukan?" Aiolia berbicara sambil memutar bola matanya.
Elias memelototinya dengan tatapan galak "Aku perlu tahu kalau ada perang besar di sekitar sini, tuan muda. Agar aku bisa melindungi Aika."
"Kau berkata seolah-olah aku tidak bisa melindungi adik kecilku."
"Aku ragu kau bisa terus ada di dekatnya jika kau nanti di luar sana dan memberantas pasukan musuh yang datang."
Yang Aiolia tidak tahu adalah, bahwa wali asuhnya sudah mengetahui apa yang terjadi. Ia tidak tahu bahwa nanti Elias akan ikut serta dalam perang itu. Sejujurnya, itu bukanlah hal yang harus diketahui Aiolia. Setidaknya tidak menurut Elias. Sesayang apapun ia pada Aika dan Aiolia, ada hal-hal tertentu yang tak bisa ia katakan bukan?
Lagipula, ia tidak ingin menyeret Aiolia ke dalam masalah rumit para Demigod.
"Hei, aku mengalahkan musuh untuk melindunginya." Kata Aiolia dengan nada defensif. Seketika itu juga, delapan figur menuruni tangga dan memasuki kuil Leo. Elias memperhatikan mereka dengan pandangan penuh tanda tanya. Pandangan penuh tanda tanya yang sangat menipu. Tanpa perlu Aiolia menjelaskan, Elias tahu bahwa mereka adalah Demigod yang tadi telah disebut-sebut oleh Aldebaran dan mereka bukan sembarang Demigod, mereka adalah tujuh Sage. Semacam petinggi para Demigod yang biasanya ditunjuk untuk melakukan sebuah misi penting… Atau setidaknya itu yang Elias dengar.
Elias mendekati Aiolia. "Apa mereka Demigod yang kalian bicarakan?" Aiolia mengagguk. Mengiyakan perkataan Elias. Elias tidak suka melihat Tujuh Sage di sini. Bukan karena ia membenci mereka, tidak. Elias tidak suka karena setiap kali para Sage bergerak itu berarti sesuatu yang serius tengah terjadi dan fakta mereka bahkan mendatangi para Saint yang notabenenya adalah para Ksatria Athena, Ksatria seorang dewi, menandakan masalahnya begitu serius hingga mereka harus meminta bantuan pada mahkluk imortal yang paling mereka benci.
Elias mengangguk pelan pada para Sage. Para Saint barangkali melihatnya sebagai cara Elias untuk mennyapa tanpa harus membuka mulut, namun para Sage tahu makna tersembunyi di balik anggukannya.
Bagaimanapun juga, perjalanan Elias ke Livadeia bukanlah perjalanan tanpa tujuan.
"Anu… Kak Ange, kurasa sampai setengah jalan saja cukup…" Kata Lana. Mereka telah berjalan selama beberapa jam dan sudah hampir setengah jalan menuju ke markas besar Demigod. Namun, Lana dan Nasha bingung bagaimana caranya agar Ange tidak perlu membawa mereka sampai ke Markas Besar. Markas itu dilindungi oleh pelindung dan akan terlihat seperti reruntuhan tua. Tidak mungkin mereka membawa Ange ke sana. Jika mereka mengatakan itu rumah mereka, itu akan terdengar salah.
"Ini sudah gelap. Tidak aman bagi anak-anak untuk berjalan-jalan sendiri. Banyak bahaya mengancam… Terutama pada waktu seperti ini…" kata Ange dengan nada tegas.
Lana dan Nasha saling berpandangan. Keduanya bingung. Apa yang dikatakan Ange memang masuk akal. Orang waras manapun tak akan membiarkan dua anak kecil keluyuran malam-malam begini, namun di saat yang sama mereka tidak bisa memberitahukan Ange di mana mereka tinggal. Membawa mereka ke rumah lama mereka pun bukanlah pilihan karena rumah mereka sudah hancur karena kebakaran. Saat mereka tengah memutar otak untuk menyelamatkan diri dari situasi ini, seseorang berlari ke arah mereka.
"Nasha! Lana!"
Nasha dan Lana mendongak dan seketika itu juga mengucapkan ribuan rasa syukur kepada langit di atas. Kallisto mendekati mereka, ia tampak lega karena sudah menemukan mereka.
"Kallisto!"
"Aku mencari-cari kalian dari tadi… Ah, selamat malam." Kallisto mengarahkan pandangannya pada Ange dan memberikan seulas senyum sopan.
"Selamat malam. Apakah anda keluarga mereka?" Tanya Ange.
"Wali asuh. Mungkin lebih tepat. Terima kasih karena sudah mengantar mereka." Kata Kallisto. "Biar saya membawa mereka pulang."
Ange melihat Lana dan Nasha. Lana sudah berlari ke arah Kallisto dan tersenyum kecil padanya, sementara Nasha masih menatap Ange, seakan-akan Nasha perlu ijin darinya untuk kembali ke wali asuhnya. Ange mengangguk dan tersenyum lembut. Nasha tersenyum lebar dan langsung berlari ke arah Kallisto.
"Terima kasih sudah mau mengantar kami, Kak Ange…" Kata Nasha dengan suara kecil dan senyum malu-malu.
"Iya. Terima kasih, kak." Kata Lana.
"Sama-sama. Berhati-hatilah dan jangan keluar malam-malam lagi." Kata Ange sebelum beranjak pergi.
Setelah Ange hilang dari pandangan, Kallisto menatap mereka berdua dengan tatapan tegas. Tatapannya mengingatkan Nasha akan tatapan yang biasa ibunya berikan saat ia melakukan sesuatu yang membuat ibunya khawatir setengah mati. Tatapannya membuat dirinya dan Lana merasa bersalah.
"Kenapa kalian keluar malam-malam begini? Kalian tahu bukan, saat ini desa ini—Tidak, seluruh tempat ini tidak aman?" Kata Kallisto dengan nada tegas tapi tak terdengar menyeramkan.
"Maaf… Ini salahku. Aku tadi ke perpustakaan sebentar." Kata Nasha, merasa bersalah.
Kallisto menghembuskan nafas. Ia tahu bahwa gadis kecil bermata belang ini suka membaca dan ia memang tidak menyalahkan Nasha jika dia tak bisa membaca buku di perpustakaan markas. Buku itu terlalu berat dan terlalu susah dimengerti oleh gadis kecil sepertinya, bahkan orang dewasa seperti Kallisto saja sedikit kesusahan membaca buku itu. Kallisto hanya menatap kedua gadis kecil itu. Dia memang tak bisa marah pada anak-anak.
"Aku tidak menyalahkanmu Nasha. Kau punya hak untuk jalan-jalan keluar, tapi kau harus ingat situasi sekarang ini tidaklah aman dan aku tidak mau ada monster yang menangkap atau memangsa kalian," Kata gadis bermata sewarna lavender itu. "Apakah perkataanku sudah jelas?"
Lana dan Nasha mengangguk.
"Apa… Situasinya memang sudah seberbahaya itu…?" Tanya Nasha pelan.
Kallisto mengangguk. Wajahnya terlihat tidak senang.
Lana menjadi agak gugup. Baiklah, kalau mau jujur dia memang… Sudah berlatih untuk berperang. Ia – setidaknya menurut Kallisto – Cukup pandai dalam menggunakan busur dan panah tapi tetap saja ia belum sehebat Kallisto. Namun, bukan itu sebenarnya yang dia khawatirkan… Ia lebih khawatir dengan fakta bahwa saat perang nanti dia harus membunuh orang. Memikirkan itu membuatnya mual dan kepalanya pening. Ia dapat merasakan keringat berjatuhan dari pelipis ke pipinya karena takut. Ia tidak pernah membayangkan akan membunuh orang sebelumnya atau ikut dalam perang. Ia tidak yakin ia bahkan bisa melukai manusia seujung jaripun.
"Lana? Apa kau mendengarkanku?"
Lana tersentak dari lamunannya dan menoleh untuk melihat Nasha yang tengah menatapnya dengan pandangan penasaran dan cemas.
"Maaf… Aku… Sedang melamun… Kau bilang apa tadi?" Tanya Lana.
"Aku bilang, aku masih yakin Kak Ange itu Saint."
"Oh. Aku tidak yakin Nasha. Dia tidak membawa Cloth dan tidak pakai topeng. Semua Saint perempuan memakai topeng." Kata Lana.
Nasha menggembungkan sebelah pipinya. "Aku masih tidak mengerti kenapa yang perempuan harus pakai topeng."
Kallisto tertawa geli melihat ekspresi Nasha. "Apanya yang tidak kau mengerti?"
"Semuanya. Kenapa ada peraturan bodoh seperti itu? Kan tidak ada bedanya. Perempuan atau laki-laki mereka kan sama-sama Saint."
Kallisto tertawa kecil. Ia tidak bisa menyalahkan Nasha. Gadis bersurai biru itu masih kecil. Cara berpikirnya masih simpel.
"Jenis kelaminnya beda." Kata Lana sambil menahan tawa.
"Aku tahu itu. Tapi mereka kan tetap sama-sama Saint." Kata Nasha masih keras kepala.
"Iya, iya." Kata Lana pada akhirnya. "Aku juga tidak mengerti Nasha. Aku tidak pernah mau tahu dan tidak pernah bertanya detailnya pada Milo-san atau Saint Emas lainnya tentang hal seperti itu. Aku kan tidak pernah punya keinginan menjadi Saint." Kata Lana. "Kau masih mau jadi Saint?"
Nasha menatap Lana dengan takut-takut. "Tidak boleh yah…?"
Lana menghembuskan nafas. "Nasha, kita sudah membahasa ini. Kehidupan kita sebagai Demigod sudah cukup bahaya. Aku tidak mau kau menambah bahaya pada diri sendiri dengan menjadi Saint."
Nasha mengangguk dengan ekspresi kecewa. Kalau mau jujur ia rasa menjadi Saint adalah hal keren. Ia selalu terpesona melihat para Saint Emas beraksi. Kekagumannya bertambah sejak diselamatkan oleh Milo dan Aiolia dulu dari suatu insiden. Insiden apa dia tidak ingat sepenuhnya karena saat itu ia masih kecil dan ingatannya belum terlalu kuat. Namun ia masih ingat bagaimana Milo dan Aiolia bertarung dengan gagah berani. Saat itu ia berpikir;
Aku ingin bisa seperti mereka.
Tapi seperti kata Lana tadi, kehidupan mereka sudah cukup berbahaya sebagai Demigod, Nasha tidak yakin ia mau hidupnya menjadi lebih berbahaya daripada sekarang (Ia sudah cukup takut dikejar tiga Cyclops sekaligus).
"Bagaimana kalau pemikiran itu dikesampingkan dulu?" Kata Kallisto lembut. "Kalian berdua masih sangat belia. Kalian masih punya banyak waktu untuk memikirkan masa depan kalian."
Lana dan Nasha mengangguk pelan.
"Kallisto…" Lana menatap Kallisto.
"Ya?"
"… Saat perang di mulai nanti… Apakah… Apakah kita harus… Kau tahu… Membunuh?"
Kallisto terdiam.
"Tentu. Normalnya memang begitu."
"Ooh…"
"… Lana, kau takut?"
Lana menggigit bibirnya. Terkadang ia agak kesal karena Kallisto bisa membacanya (dan juga orang lain) seperti ia membaca buku.
"… Tidak ada yang salah dengan merasa takut." Kata gadis bermata lavender itu. "Aku malah akan khawatir kalau kau tidak merasa takut sedikitpun."
Lana terdiam. "Tapi takut tidak takut aku harus siap bukan…?"
"… Begini, Lana…" Kallisto berlutut di depan Lana dan Nasha. "Tidak ada salahnya merasa takut. Dan memang benar suka atau tidak. Takut atau tidak. Siap atau tidak. Kita harus memaksa diri kita untuk siap. Tapi merasa takut pada perang pertamamu itu normal. Kau belum pernah melukai siapapun. Belum pernah membunuh. Belum tahu horornya perang."
Kallisto tersenyum lembut pada kedua gadis itu.
"Akupun merasa takut pada saat pertamaku memasuki medan perang. Aku tidak siap untuk mengayunkan pedang. Belum siap menggunakan busur. Belum siap menembakkan panah. Aku sama takutnya dengan kalian berdua. Namun ingatlah bahwa kita bertarung bukan untuk membunuh. Juga bukan untuk mencari kehormatan. Kita semua bertarung untuk melindungi apa yang berhaga bagi kita."
To be continued.
Pojok Rant
And finally this lazy author managed to finish this chapter ;v; Setelah berkutat beberapa lama dan hanya segini. Masih dalam masa calm before the storm dan belum pengenalan ke para antagonisnya yah *garuk pipi* Tapi yah segalanya butuh proses /alesan /plak Dan soal deskripsi Nasha akan Cosmo, itu murni dari pemikiran Author sendiri waktu pertama nonton Saint Seiya. Waktu pertama nonton kebetulan pas Episode Shun vs Aphrodite /Plak dan mungkin gara-gara jurus Nebula Stream nya itu yang bikin author (entah mengapa) kepikiran ama bintang-bintang di langit /woy eniwei semoa para pembaca suka dengan chapter ini. Belum ada adegan action sih TvT musti nunggu lagi TvT hic… Dan soal Brauron, itu konsep milik author AmuletWin777 :3
Pojok Reply
#AmuletWin777
?: Tapi anak gadis ini kan mirip kucing. Gak apa dong~
Ngapain kamu menyembunyikan namamu? Kayaknya mereka yang baca fic ini udah pada tahu deh kamu siapa
?: Nggak apa kan author. Kali aja ada pembaca baru. Atau mungkin saking tidak serunya fic ini sepi penggemar.
#JLEB Anyway, I honestly think Ishizu is like an angel…
Ixy: There somethings that is better left unsaid.
Thank you for your review and support imouto~
#Neo Tsukirin Matsushima29
Milo: Ini udah kubersihin kamar gue :"v
Camus: *perempatan* Kau yang membersihkan atau saya dan Nasha?
Nasha: Ahaha… *tertawa gugup*
Milo: Dan nggak. Gue gak sudi dicium Shura. Jijay
Shura: WOY
Snape: Nggak. Bukan saya yang buat.
Kok situ nyasar kesini? Salah fandom om. Anyway terima kasih atas review dan supportnya Nisa-san~
Cukup sampai di sini, sampai jumpa di chapter depan
Maaf jika ada kesalahan penulisan/typo yang mengganggu
