Disclaimer:
Saint Seiya © Kurumada Masami
OCs © Author Sia Leysritt
Summary
"Para Half Bloods masih hidup. Mereka masih berkeliaran di sekitar kita seperti para Saint, prajurit Athena. Mereka bersembunyi, tidak memberikan identitas kepada siapapun karena tidak ada yang bisa dipercaya. Namun saat para Titan mulai bangun, mereka sadar bahwa mereka kini tidak bisa bertindak sendirian saja. Mereka butuh bantuan. Dan hanya Dewi Athena dan prajuritnya yang bisa memberi mereka bantuan itu."
Other Author OCs:
Shizen Areleous: Shimmer Caca
Ara Thea: Neo Tsukirin Matsushima29
Ringo: Neo Tsukirin Matsushima29
Angelion Arcciel: AmuletWin777
Sia Leysritt Present:
Halfbloods: Titan's War
Bellum – VII
Calm Before The Storm
"...and when the tension receded there was calm, the calm that is called before the storm, but is in reality the foundation of a human life, waiting there for us between the steps of our march to our mortality, when we are compelled to pause and not act but be."
― Mohsin Hamid, Exit West
Marina sudah hidup cukup lama untuk tahu bahwa ia adalah sosok yang paling dibenci di sekolah Demigod. Karenanya, ia sudah biasa dijauhi layaknya wabah mematikan oleh para Demigod lain. Untuk alasan yang hanya diketahui olehnya dan para Demigod lain, ia sama sekali tidak memprotes perlakuan mereka padanya. Toh, dia memang pantas mendapatkannya.
Karena tidak memiliki siapapun yang bisa ia anggap teman atau orang terdekat, selain adik kembarnya Maria, Marina selalu menghargai setiap orang yang cukup berbaik hati untuk berbicara pada alien (dia menyebut dirinya seperti itu karena tidak dianggap oleh yang lain) seperti dirinya.
Salah satu contohnya adalah gadis kecil berambut biru dengan sepasang mata heterochromia yang akhir-akhir ini sering mengikutinya kemanapun dia pergi.
Marina tidak yakin Nasha tahu kenapa dirinya dijauhi oleh Demigod lain tapi dia setidaknya yakin Ingvalt dan Irina sudah diberitahu, namun tampaknya mereka tidak terlalu ambil pusing karena keempat bersaudara ini tidak menjauhinya layaknya wabah penyakit seperti yang lainnya.
"… Lalu Ingvalt ikut-ikutan menceramahiku, padahal aku sudah minta maaf." Gadis bermata belang itu menggembungkan kedua pipinya yang membuat Marina tertawa kecil.
"Mereka kakakmu. Keluargamu. Mereka hanya khawatir."
"Aku tahu… Aku 'kan sudah minta maaf…"
"Dan kuyakin mereka memaafkanmu. Mereka hanya mau menegaskan saja agar kau tidak keluyuran hingga lupa waktu lagi."
"Aku tidak keluyuran."
Marina tertawa lagi. Perdebatan remeh dan kecil seperti ini adalah sesuatu yang dibutuhkan oleh gadis berambut hitam itu untuk menjauhkan pikirannya dari peperangan yang akan menghantam mereka dan Sanctuary. Kalau mau jujur, jarang-jarang Marina mendapatkan kesempatan untuk bersantai sebelum perang. Mungkin karena persiapan perang telah dilakukan dari jauh-jauh hari, sehingga kini yang diperlukan oleh para Demigod adalah membangun kerja sama dengan para Saint Athena (yang omong-omong dilakukan dengan cara melakukan patroli bersama).
"Tentu, tentu. Oh ya, kudengar mereka setuju untuk tidak membiarkanmu untuk ikut perang?"
Nasha mengangguk dan Marina lega mendengarnya. Orang waras dari planet manapun tidak akan membiarkan anak kecil berumur enam tahun untuk ikut perang, tidak perduli bahwa dirinya adalah seorang Demigod yang punya kekuatan super sekalipun.
"Baguslah. Membiarkan seorang anak berumur enam tahun berperang itu melanggar hukum alam yang berlaku."
Namun Nasha malah terlihat sedikit sedih.
"Tapi bukankah tidak adil aku sendiri yang tidak ikut serta?"
"Adil atau tidak, kau masih terlalu kecil untuk ini. Aku berada di medan perang pertamaku saat aku berumur dua belas tahun. Yang paling muda waktu itu berumur sembilan tahun dan itu adalah batas minimal seorang Demigod untuk ikut perang. Lebih muda dari itu tidak diperbolehkan untuk ikut perang."
"Begitu…"
Kekhawatiran masih terlihat jelas dari dua bongkah manik berwarna belang itu. Gadis berambut biru itu pasti mengkhawatirkan kakak-kakaknya. Itu wajar, gadis kecil itu sudah kehilangan seorang ibu, ia tidak mungkin siap kehilangan satu-satunya keluarga yang ia miliki sekarang. Marina menepuk pelan kepala anak itu.
"Tenanglah Nasha, kami tidak akan membiarkan apapun terjadi pada keluargamu."
"Ah iya, aku tahu… Aku percaya padamu dan teman-teman yang lain, hanya saja…" Nasha menatap Marina takut-takut.
"Hmm? Apa?"
Nasha menatap Marina. Ada sesuatu yang harus ia beritahu pada gadis bersurai hitam ini. Sesuatu yang harusnya dia sudah beritahu sejak dua hari yang lalu, tapi ia mengurungkan niatnya karena hal yang akan ia beritahukan pada Marina ini, dilihat dari sudut pandang logika manapun, tidak masuk akal dan segala ucapannya akan terdengar salah.
Tapi dia sudah bertekad untuk setidaknya mencoba mengatakannya hari ini.
Harus.
"Eh, sebenarnya—"
"Marina!"
Keduanya menoleh dan melihat adik kembar Marina, Maria, melambai pada mereka dan memanggil Marina.
"Oh, aku harus pergi. Sampai jumpa nanti Nasha." Kata Marina sambil berlari meninggalkan Nasha.
Dan seperti itu Nasha gagal menyampaikan apa yang harus ia sampaikan pada Marina.
Walau Demigod lain bebas berkeliaran dan bersantai pada masa-masa sebelum perang datang, hal yang sama tidak bisa dikatakan untuk anak-anak Hephaestus. Walau tidak banyak yang ahli dalam medan pertempuran dan medan lempar senjata, mereka punya peran penting untuk memastikan bahwa senjata-senjata yang digunakan oleh para Demigod siap dan ampuh digunakan pada saat berperang.
Mereka juga harus memastikan beberapa jimat dan baju pelindung yang akan dikenakan oleh mereka yang berperang telah diberkati, disihir, dan dimodifikasi agar kebal terhadap jampi-jampi, serangan musuh, dan (semoga) bisa menahan serangan kuat seperti serangan seorang Dewa sekalipun. Harapannya sih, begitu.
Fana menghela napas panjang setelah memanaskan beberapa perunggu langit yang akan digunakannya untuk membetulkan beberapa senjata. Keringat bercucuran dari kening ke pelipisnya dan turun ke lehernya. Ia sudah duduk di hadapan tungku panas sejak fajar menyingsing. Tangan kecilnya tidak mulus layaknya tangan seorang perempuan muda (walau aslinya, umurnya tidak muda lagi). Tangannya penuh lecet dan bilur-bilur, juga beberapa luka bakar kecil (yang nanti bisa diurus oleh anak-anak Apollo) dan wajahnya kotor karena bersosialisasi dengan arang dari tadi pagi. Rambutnya yang sewarna bunga sakura musim semi diikat asal sehingga lebih mirip sekumpulan rumput yang diikat ketimbang buntut kuda. Baju putihnya sudah berubah warna menjadi abu akibat arang, dan celananya juga sudah robek sana-sini dan sepatu yang ia kenakan berbeda warna di kaki satu dan kaki lainnya.
Ini bukan pemandangan langka bagi Demigod lain, Fana memang selalu berpenampilan kumal walau ia tidak sedang bekerja di bengkel pandai besi dan dia bukanlah gadis yang paling rapih di seluruh dunia. Kerapihan bukanlah prioritas utama dalam daftarnya. Prioritas utamanya adalah memastikan bahwa senjata-senjata yang dibuat olehnya dan saudara-saudarinya aman digunakan oleh rekan-rekannya.
"Fana, aku membawa beberapa perunggu langit yang kau minta dari anak-anak Hermes."
Fana berbalik dan ia membeku. Oke, bukannya Fana adalah tipe gadis yang sering tersipu melihat kaum adam yang lalu-lalang di sini. Dia bukan putri Aphrodite yang hobi meneriaki setiap kaum adam (atau hawa, tapi anak laki-laki asrama Aphrodite punya cara sendiri untuk menyoraki gadis cantik) yang kebetulan lewat di hadapan mereka. Dia Putri Hephaestus, satu-satunya perempuan pula di asramanya jadi menginisiasi percakapan atau bersosialisasi dengan mahkluk bernama laki-laki adalah hal yang sudah sering kali ia lakukan.
Tapi saat yang berhadapan denganmu adalah Ingvalt Einhart Ermengild, segala sistem pertahanan perempuan manapun akan runtuh. Baiklah, bukannya Ingvalt adalah pria paling tampan di kalangan para Demigod, kalau berbicara soal tampang, David jauh lebih tampan daripada Ingvalt (bahkan Fana pun mengakui ini). Tetapi Ingvalt punya cara sendiri untuk meluluhkan hati kaum hawa. Kalau dibahasakan menurut bahasa Venus asrama Aphrodite, rambut panjang Ingvalt itu dideskripsikan sebagai sexy dalam kamus mereka dan sifat dingin dan pendiamnya itu dideskripsikan sebagai cool.
Ingvalt pendiam, tapi ia tidak cuek tingkat Zeus seperti Patroklos, dan setidaknya Ingvalt tidak galak. Ia dingin dan frontal. Ia tidak pernah berbohong dan tidak mengenal apa artinya "menjaga perasaan" seseorang. Tapi ia selalu membantu bila diminta. Walaupun dia tidak pernah senyum, namun bagi anak-anak Aphrodite, tatapannya sudah mampu membuat kaum hawa manapun luluh.
Dan dia baru dua belas tahun.
Bagi Fana itu tidak jauh beda. Susah rasanya untuk tidak naksir pada Ingvalt. Dan fakta bahwa mereka sekarang sudah cukup dekat sama sekali tidak membantu.
"Oh… Erm.. Ya." Jawab Fana terbata-bata.
Ingvalt menaikkan sebelah alis.
"Kenapa kau? Terlalu lelah bekerja di depan tungku?"
Dan untuk pertama kalinya Fana berterima kasih pada panasnya tungku di hadapannya sehingga ia bisa dengan mudah mencari-cari alasan yang bisa ia berikan pada Ingvalt, tapi masalahnya, lidahnya kelu di saat yang tidak pas.
Dan Fana melakukan satu-satunya hal yang terlintas di benaknya saat ini.
Lari dari hadapan bocah yang umurnya berbeda beberapa abad darinya.
Sementara itu Ingvalt hanya menatap kepergian Fana dengan penuh tanda tanya.
"Hah?"
Gagal paham. Ingvalt benar-benar gagal paham. Oh, kaum hawa, mengapa kalian selalu sukses memetakan teka-teki di benak para kaum adam dengan sikap kalian yang susah diterjemahkan itu?
"Oi, Ingvalt."
Ingvalt menoleh, melihat Rio, anak Apollo, berjalan ke arahnya.
"Achim memanggilmu. Sepertinya dia sudah selesai membuat senjata untukmu."
Ingvalt mengangguk.
"Kenapa kau bengong di sini sendirian?" Tanya Rio.
Ingvalt terdiam lalu membuka mulutnya. "Bahasa planet Venus itu sulit diterjemahkan."
"Hah?"
Selain Fana, Achim adalah salah satu anak Hephaestus yang pandai dalam menciptakan senjata. Ia dan Fana adalah dua orang yang paling diandalkan dalam bidang pandai besi. Bukannya anak-anak Hephaestus lain tidak ahli, kalau mau dibilang ahli, semua anak Hephaestus adalah ahlinya pandai besi namun tidak ada yang sekreatif dan serajin Fana dan Achim.
Achim tengah berada di bengkelnya sendiri. Bengkel cadangan selama mereka di sini tentu saja. Bengkel mereka di sekolah utama mereka lebih nyaman. Bengkel mereka di sekolah berupa rumah-rumah karavan yang ditumpuk di atas satu sama lain, kamar-kamar asrama mereka pun dibentuk sedemikian rupa.
Achim menyingkirkan keringat dari keningnya. Sepasang manik Onix miliknya terasa perih akibat abu dan keringat membasahi bajunya yang sudah kotor. Tapi rasa lelah ini tidak ada apa-apanya dibandingkan apa yang akan mereka hadapi pada saat perang nanti, karenanya ia harus memastikan bahwa senjata yang ia dan saudara-saudarinya buat layak digunakan saat perang.
"Achim."
Achim menoleh, mendapati Ingvalt berdiri di pintu bengkelnya. Remaja berusia dua belas tahun itu masuk saat Achim mengangguk, mempersilahkannya masuk.
"Rio bilang kau memanggilku."
"Ah ya. Ini senjata buatmu."
Achim mengangkat senjata yang sudah selesai ia tempa tadi. Sebuah pedang tipis runcing. Di ujung pedangnya digantungkan sebuah tali dengan ujung tali itu terdapat semacam pengait. Pengait yang tajam dan runcing.
"Apa ini perlu?" Tanya Ingvalt sambil mengangkat pengait tersebut.
"Perlu. Untuk serangan diam-diam saat terdesak."
Achim memberi Ingvalt sebuah senyum misterius dan Ingvalt hanya menatapnya dengan tatapan datar dan tidak berekspresi.
Putra Hephaestus ini tidak sembarangan mebuatkan senjata untuk seseorang. Ia harus tahu terlebih dahulu gaya bertarung seseorang untuk dapat menciptakan senjata yang pas untuk mereka. Ingvalt adalah tipe petarung yang mengandalkan kecepatan dan serangan mendadak. Terkadang saat keadaan mendesaknya, Ingvalt dapat dengan mudah memikirkan serangan tiba-tiba dalam waktu singkat. Maka senjata yang ringan dan mudah digunakan dan dapat digunakan untuk jarak jauh maupun dekat adalah senjata yang cocok untuk Ingvalt.
"Baiklah, biar kucari tahu sendiri apa maksudmu."
"Kau akan menyukai senjata itu. Percayalah."
Ingvalt hanya mengangguk dan mengucapkan terima kasih pada Achim sebelum meninggalkan pemuda bermanik serupa Onix itu sendirian.
Milo sedang sial. Tidak, dia yakin dia tidak pernah beruntung. Awalnya paginya bisa dideskripsikan sebagai indah dan sempurna karena tidak ada tugas patroli baginya hari ini. Aiolia dan DeathMask lah yang kedapatan tugas melelahkan tersebut dan untuk sementara tidak ada misi keluar kota atau negara bagai para Saint karena semua Saint diharuskan untuk fokus pada perang yang ada di depan mata dan mengutamakan keselamatan para warga sipil di Yunani, Athena.
Dia benar-benar mengira ia bisa duduk santai di kuilnya sambil beristirahat, tapi tentu saja sebuah (atau mungkin lebih tepatnya seorang) balok es harus selalu mengganggu harinya yang sangat sempurna ini.
"Camus… Aku bersumpah, kalau kita bukan sahabat aku akan mencekikmu dan membuangmu ke gunung berapi terdekat."
Milo memelototi Camus dari balik kertas-kertas dokumen yang dipegangnya. Saint Aquarius yang diancam tenang-tenang saja mendengar ancaman kosong dari Milo dan terus mengecek dokumennya. Keluhan Milo sudah seperti makanan sehari-hari baginya dan dia sudah belajar untuk pura-pura tuli setiap kali teman akrabnya itu mengoceh tanpa henti seperti sekarang.
"Lagipula, ini dokumen dari mana, sih? Kenapa semuanya dari orang yang sama?"
Camus berhenti membaca dan mendongak, menaikkan sebelah alis seraya menatap Milo.
"Apa?" Tanya Milo kesal.
"Di luar dugaan, kau baca juga dokumen-dokumen itu baik-baik."
Milo memelototinya. "Sialan kau. Aku bisa serius saat aku benar-benar berniat mengerjakan sesuatu. Lagipula, Kido Mitsumasa ini siapa sih? Orang tua macam apa yang mengirimkan seratus anak untuk menjadi Saint?"
Milo mengangkat salah satu kertas dan membacanya. Ia dan Camus adalah Saint Emas yang bertugas untuk mengecek calon-calon Saint yang akan dikirim ke tempat pelatihan mereka masing-masing. Biasanya, tidak banyak dokumen yang masuk ke seksi mereka karena tidak semua orang ingin menjadi Saint, kecuali mereka punya tekad yang kuat dan tahan banting (Malah biasanya Aldebaran dan Shura yang kebagian tugas untuk mencari orang-orang yang berminat jadi Saint harus berkelana dari satu negara ke negara lain hanya untuk mencari kandidat) dan biasanya dokumen yang didapatkan Milo dan Camus tidak sebanyak ini.
Sejak beberapa bulan yang lalu, dokumen-dokumen yang diterima Camus dan Milo bertambah banyak dan semua datang dari orang yang sama. Kido Mitsumasa. Camus menebak, orang ini berasal dari Jepang jika dilihat dari namanya. Ia mengirimkan data yang memuat seratus anak yang akan dikirimkan untuk berlatih. Entah Milo sadar atau tidak, tapi bagi Camus ini sedikit mencurigakan. Saint selalu merahasiakan identitas mereka bila dikirim untuk menjalankan misi di luar negri atau kota dan sebisa mungkin tidak melibatkan warga sipil dalam misi mereka. Jadi, bagaimana orang bernama Kido Mitsumasa ini bisa mengetahui tentang Saint? Itu adalah pertanyaan yang sedaritadi Camus pikirkan seraya ia mengecek dokumen-dokumen di tangannya.
"Ck. Kita punya perang besar yang menanti di depan mata, lalu ini. Kenapa akhir-akhir ini banyak mahkluk yang membuatku sakit kepala?" keluh Milo sambil menggaruk-garuk kepalanya.
"Kalau kau ada waktu untuk mengeluh, lebih baik kau kerja." Kata Camus tenang, matanya masih terpaku pada kertas dalam genggamannya.
"Berisik. Aku bukan workaholic sepertimu. Serius, Camus, kertas-kertas keparat ini tidak berfaedah. Lebih baik kugunakan waktuku untuk hal yang lebih produktif."
"'Contohnya?"
"Mengunjungi anak-anak itu. Sudah lama aku tidak bertemu mereka dan aku ingin mengecek keadaan mereka." Kata Milo sambil menatap dokumen-dokumen di tangannya tanpa membaca tulisan-tulisan pada kertas itu.
"Kau baru bertemu Ingvalt dan Nasha kemarin." Kata Camus.
"Aku tidak perduli. Mengunjungi mereka lebih penting daripada dokumen ini. Aku khawatir, kau tahu? Menurutmu orang yang mengadopsi mereka memperlakukan mereka dengan baik?"
Seandainya Milo bisa, dia pasti akan membawa keempat anak itu untuk tinggal bersamanya, masalahnya adalah dia sendiri belum cukup umur untuk bisa membesarkan empat anak yang sudah tidak punya orang tua. Dia masih tiga belas tahun dan umurnya belum cukup untuk menjadi wali asuh yang legal dan sejujurnya, dia sendiri sudah cukup sibuk dengan tugas-tugasnya sebagai Saint Emas sehingga dia sendiri tidak yakin ia bisa meluangkan waktu untuk mereka berempat jika mereka tinggal dengannya.
"Kecuali kau melihat tanda-tanda kekerasan terhadap anak, menurutku mereka diperlakukan dengan baik."
"Kau cuek sekali. Kurasa kau lebih perduli dengan para penguin dan beruang kutub peliharaanmu di Siberia sana." Kata Milo.
"Diam kau."
Milo memutar bola matanya dan kembali membaca dokumen yang dipegangnya.
"Semoga si Kepiting Rebus itu tidak memulai pertengkaran dengan Demigod yang ditugaskan patroli dengannya."
"Hei, kalian berdua diam sekali daritadi. Tidak bisa bicara?"
Owen berharap dia bisa jadi secuek Atlanta. Entah sudah berapa jam dia mendengar segala macam ocehan dari Saint Cancer di sebelahnya ini. Leo Aiolia sedaritadi tidak mengusik dirinya sama sekali. Ia bicara tapi hanya membicarakan hal-hal penting semata, hal yang menurutnya memang layak untuk dibahas, sementara Cancer DeathMask hanya mengoceh tidak jelas dan sang Putra Hermes tersebut bertanya-tanya apakah DeathMask tengah berbicara dengan bahasa alien.
Owen adalah seorang pemuda dengan tubuh tinggi dan jangkung. Jubah coklat yang dikenakannya menyembunyikan wajahnya yang dipenuhi bintik disekitar hidungnya. Hidungnya mancung dan matanya berwarna coklat gelap. Untuk ukuran anak Hermes, Owen tidak banyak bicara dan tidak se-hiperaktif saudara-saudaranya. Dia lebih banyak diam dan menyendiri dan ia tidak menyukai suasana ramai atau orang yang banyak bicara.
Karena itulah sedaritadi ia menghitung hingga lima puluh untuk menahan dirinya agar tidak menonjok Saint Cancer yang berada di sebelah kirinya saat ini dan berharap Atlanta setidaknya menegur si pria berjubah emas dengan sarkasmenya yang kelewat menusuk itu tapi nyatanya si gadis tampak tidak perduli dan terus berjalan.
"Dengan segala rasa hormat, Cancer DeathMask-san, tidak ada hal yang perlu kita bicarakan." Kata Owen dengan nada final.
DeathMask mendecih. "Cih, dasar membosankan."
Aiolia baru saja akan menegur DeathMask karena sikapnya yang tidak sopan, namun Atlanta sudah membuka mulut terlebih dahulu.
"Kalau menurut Anda kami begitu membosankan… Bagaimana kalau Anda… Yang membuka topik?"
Walau caranya berbicara terkesan lambat dan kedengaran seperti suara orang mengantuk, tapi nadanya yang terkesan tajam itu membuat DeathMask bungkam. Bukannya dia takut, bukan, tapi ada sesuatu pada aura gadis itu yang membuatnya berpikir lebih baik dia menutup mulutnya.
Aiolia menghela napas, lega setidaknya DeathMask tidak lagi membuka mulutnya yang kelewat tidak sopan itu. Walau sejak tadi hanya membuka mulutnya sesekali, Aiolia harus mengakui bahwa suasana sunyi di antara mereka berempat membuatnya merasa sedikit tidak nyaman. Tapi dia tidak bisa meminta banyak. Para Demigod bukanlah teman-teman Saint seperjuangannya, bukan teman-teman Saint Emasnya yang bisa ia ajak bicara dengan mudah, bagi mereka, Aiolia dan para Saint adalah orang asing, begitu juga sebaliknya. Ada beberapa yang menurut Aiolia lumayan bersahabat – seperti Maximus dan Felix – Tapi ada juga yang tidak bisa ia ajak bicara dengan mudah – seperti Markos dan Morrigan – tapi toh, mereka baru bertemu selama beberapa minggu, segalanya butuh proses.
"Permisi…"
Aiolia menoleh, melihat Demigod berjubah cokelat yang bersuara barusan. Kalau tidak salah ia memperkenalkan dirinya sebagai Fred.
"Bagaimana hasil patroli individu kalian akhir-akhir ini?"
Ah ya.
Selain berpatroli dengan Demigod, para Saint juga ditugaskan untuk menjalankan patroli individu. Biasanya yang dikirim adalah Saint Perak dan Perunggu, tapi karena situasi telah menjadi semakin berbahaya, Saint Emas yang tidak ditugaskan untuk berpatroli bersama para Demigod ditugaskan untuk menjalankan patroli individu untuk meningkatkan keamanan di sekitar desa.
"Akhir-akhir ini para Saint yang ditugaskan berpatroli jadi makin sering menemukan sarang monster." Jelas Aiolia. "Beberapa hari yang lalu, salah satu Saint Perak kami, Crow Jamian menemukan sarang Harpi yang menyerang desa Rodorio waktu itu."
Dan tentu saja Jamian tidak pulang dengan keadaan utuh tanpa luka. Saint Perak itu mengalami luka di beberapa tempat, namun menurut laporannya harpi-harpi yang ia temukan di sarang itu jumlahnya tidak banyak, tidak sebanyak gerombolan yang menyerang desa hari itu.
"Mungkin itu hanya salah satu sarang mereka. Kemungkinan besar masih ada beberapa sarang yang lain entah di mana. Beberapa hari yang lalu ada Demigod yang menemukan sarang di tempat lain."
Bukan hanya para Saint yang melakukan misi individual para Demigod pun punya inisiatif untuk melakukan misi perorangan, bedanya adalah tujuan utama misi mereka bukan hanya memastikan keselamatan para orang awam, namun memastikan bahwa tidak ada tanda-tanda serangan dadakan, memastikan tidak ada musuh bersembunyi dan siap menyerang mereka secara tiba-tiba.
'Memiliki ahli strategis yang adalah perfeksionis memang merepotkan…' Pikir Owen—atau lebih baik kita panggil Fred saja. Ahli strategis para Demigod adalah pria yang terlalu paranoid dan selalu punya rencana cadangan tiap kali salah satu rencananya gagal dan selalu memiliki tingkat kewaspadaan tinggi, seperti mengirimkan beberapa orang untuk mengawasi kalau-kalau ada musuh yang merencanakan serangan mendadak. Itu bagus, sangat malahan, jadi mereka punya persiapan untuk segala macam bentuk serangan, tapi masalahnya adalah semua itu merepotkan. Dan Fred benci hal-hal merepotkan.
"Ah jadi kalian juga melaksanakan patroli individu?" Tanya Aiolia.
Fred mengangguk. "Untuk berjaga-jaga kalau-kalau musuh kita menyerang saat kita lengah." Jelasnya.
"Kalian paranoid sekali." Kata DeathMask.
"Itu bukan paranoid. Itu namanya berjaga-jaga…" Kata Morrigan. "Kecuali kalau kau mau terluka duluan sebelum perangnya benar-benar dimulai, yah…"
DeathMask mendelik pada gadis itu.
"Kau tahu, aku tidak suka cara bicaramu." Kata Saint Cancer itu dengan nada tidak senang.
"Oh? Kebetulan aku juga muak dengan ocehanmu." Kata Morrigan santai.
"Kau-!" Baru saja DeathMask ingin melayangkan tinjunya pada gadis berubuh kurus itu, Aiolia segera menahannya.
"DeathMask, hentikan! Kita ini rekan sekarang jadi jangan memulai perkelahian!" Tegur Aiolia dengan nada lelah sambil berusaha menahan pria bersurai biru itu untuk tidak melayangkan tinjunya pada seorang gadis.
"Lepaskan! Dia mencari gara-gara denganku!" Bentak DeathMask.
Fred menatap DeathMask dengan malas. Dia tidak repot-repot untuk menahan Morrigan atau semacamnya karena yang bersangkutan juga hanya menatap DeathMask dengan pandangan datar khasnya dan tampak tidak tertarik untuk memulai perkelahian.
"Maaf, dia tidak bermaksud mencari gara-gara. Morrigan memang… Blak-blakkan." Kata Fred tanpa sedikitpun nada penyesalan dari mulutnya.
"Tidak apa-apa, saya mengerti." Kata Aiolia, masih berusaha menjauhkan DeathMask dari dua Demigod itu.
Di mana Aphrodite saat kau butuh dia?
Dan di saat yang sama Aphrodite yang sedang membicarakan beberapa dokumen dengan Camus bersin.
Nasha pusing. Sejujurnya ia tidak tahu harus berbuat apa. Dia pusing tujuh keliling hingga ia berpikir berapapun nektar yang dia minum tidak akan bisa menyembuhkan sakit kepalanya.
Sejujurnya, banyak hal yang membuatnya pusing hari ini tapi ada satu hal yang benar-benar tak bisa ia singkirkan dari otaknya. Hal itu adalah mimpinya.
Kallisto sering bilang bahwa Demigod biasanya punya kekuatan khusus pemberian orang tua Dewata mereka, seperti Kallisto yang mempunyai keahlian pemanah dan tangan penyembuh yang hebat seperti ayahnya, Apollo. Nasha yakin bahwa memimpikan mimpi aneh yang tampak nyata sama sekali tidak termasuk dalam daftar kekuatan anak-anak Poseidon.
Bukannya Nasha sudah yakin bahwa ia dan saudara-saudaranya adalah anak Poseidon, mereka toh, belum di klaim oleh ayah mereka, tetapi untuk beberapa keanehan yang pernah dilakukan kakak-kakaknya (yang segalanya berhubungan dengan air) sudah cukup untuk menunjukkan bahwa mereka anak Poseidon, beberbeda dengan Nasha.
Nasha tak pernah meledakkan pipa air, tak bisa bernafas dalam air (ia bahkan tak bisa berenang). Ia selalu basah saat terkena air hujan dan sebrapapun ia menyukai air, ia tidak yakin air juga menyukainya (jika air punya perasaan). Masalah lainnya adalah akhir-akhir ini ia sering bermimpi aneh dan itu membuat kepalanya sakit.
Achim bilang itu hal wajar bagi Demigod, kadang ia mereka memimpikan sesuatu yang bahkan mereka sendiri tidak tahu artinya apa dan kadang bisa jadi mimpi itu menunjukkan apa yang sedang terjadi atau apa yang akan terjadi walau tidak terlalu sering.
Mungkin Nasha harus bertanya apakah memimpikan hal yang sama selama beberapa minggu masuk dalam hitungan mimpi normal untuk kaum Demigod.
Mimpinya adalah hal yang ingin ia sampaikan pada Marina pagi ini. Beberapa minggu ini mimpinya selalu berputar tentang Marina dan Maria, dan mimpinya itu bukanlah mimpi yang indah dan menenangkan. Ia ingin memberitahu Maria dan Marina untuk berhati-hati, namun ia tidak begitu dekat dengan Maria jadi dia memutuskan untuk bicara dengan Marina tapi tentu saja, ia gagal menyampaikannya.
Dan, di sinilah dia, berada di hadapan dua belas kuil Sanctuary. Ia tidak tahu apa yang harus ia perbuat sekarang, semua teman-teman dan kakak-kakaknya sedang sibuk mempersiapkan perang dan karena dia tidak akan ikut ambil bagian, tidak ada yang bisa dia lakukan di Markas Besar. Dia juga tidak mau mengganggu semua orang yang sedang melakukan persiapan, jadi di sinilah iya, di depan kuil pertama dua belas kuil Sanctuary.
Nasha dan kakak-kakaknya tidak memiliki masalah izin untuk memasuki dua belas kuil. Ibunya dulu bekerja di sini dan seingatnya saat kecil dia sering kesini jadi ia tidak perlu takut akan ditendang keluar oleh penjaga-penjaga yang berjaga di sekitar Sanctuary.
Namun ternyata Nasha tidak harus naik ke atas untuk bertemu dengan Saint Emas yang ingin ditemuinya.
"Lho? Nasha?"
Nasha mendongak dan tersenyum cerah saat melihat Scorpio Milo menuruni kuil Aries. Dalam hati ia lega karena tidak harus melewati dua belas kuil untuk bertemu Milo. Menaiki tangga untuk mencapai kuil Scorpio itu sangat melelahkan dan sejujurnya ia tidak ingin lelah duluan sebelum perang besarnya benar-benar dimulai.
"Milo~" Nasha melambaikan tangannya dan berlari kecil ke arah pria bersurai biru-ungu itu.
"Hei. Kenapa kemari? Kesepian?" Canda Milo sambil mengacak-acak rambutnya.
Nasha cemberut.
"Jangan acak-acak rambutku." Gerutunya. "Rambutku sudah cukup berantakan tanpa kau mengacak-acaknya."
Milo tertawa. "Maaf, maaf. Hanya saja rambutmu itu lembut sekali. Aku merasa seperti baru saja menyentuh permen kapas."
"Aku tidak merasa senang dengan pujianmu, tapi terima kasih." Kata Nasha sambil mencoba membetulkan kembali rambutnya yang sudah acak-acakan berkat Milo. "Dan untuk menjawab pertanyaanmu, yah kurang lebih begitu. Lana dan Kai sibuk sementara Ingvalt dipaksa Lana untuk istirahat."
Apa yang dikatakan Nasha tidak sepenuhnya bohong. Lana dan Kai memang sibuk membantu Demigod lain mempersiapkan perang sementara Ingvalt memang dipaksa istirahat oleh Lana (bagaimana Lana memaksa Ingvalt, Nasha tidak mau tahu).
"Aku tidak mau tahu bagaimana Lana memaksanya untuk istirahat."
"Aku juga tidak mau tahu karena itu aku tidak bertanya. Milo mau keluar?" Tanya Nasha penasaran.
"Oh tidak, aku ada keperluan dengan Mu sebentar."
Nasha memiringkan kepala. "Keperluan apa?"
"Ah aku butuh informasi tentang berapa banyak cloth yang rusak." Jelas Milo.
Nasha makin bingung. "Kalau begitu kenapa keperluannya denganku? Aku tidak mengerti tentang cloth Saint…"
"Hah?" Kini Milo yang bingung.
"Tadi Milo bilang ada keperluan denganku bukan?"
"Hah? Aku tidak bilang—" Milo terdiam. "Oh ya astaga." Sadarlah dia bahwa Nasha mengira tadi maksud perkataannya adalah ia ada keperluan "denganmu" yang Nasha artikan sebagai; Aku ada keperluan denganmu – yang berarti Milo ada keperluan dengan Nasha. Milo berusaha menahan tawa. Memang nama temannya yang satu itu bisa mengundang banyak kesalahpahaman.
"Oh, bukan begitu. Maksudku aku ada keperluan dengan Saint Aries. Saint Aries itu namanya Mu." Jelas Milo.
"Ah… Kakak yang berambut ungu itu yah?" Tanya Nasha.
"Begitulah."
"Namanya aneh."
"Hahaha, dulu aku juga berpikit begitu. Jadi sekarang apa yang mau kita lakukan? Mau kubelikan apel?"
"Mmm… Tidak… Aku cuman datang untuk… Menghabiskan waktu saja. Lagipula aku tidak lapar."
Milo menatap gadis kecil dihadapannya. Instingnya mengatakan ada sesuatu menganggu gadis kecil itu. Ia tidak perlu bertanya. Ekspresi Nasha sudah cukup menjadi jawaban. Setiap kali ada yang menganggunya, ia pasti selalu memasang wajah cemberut dengan dahi mengkerut (yang omong-omong tampak lucu sekali menurut Milo).
"Baiklah. Ayo kita ke kuilku." Kata Milo. Ia lalu menggendong Nasha. Gadis bersurai biru itu masih saja ringan. Milo curiga berat badannya tidak naik-naik walaupun porsi makannya banyak—setidaknya menurut Nasha porsi makannya sudah banyak – tapi Milo bersyukur walaupun kurus, Nasha tidak terlihat seperti anak yang kurang gizi.
"Mmm… Kau tidak perlu menggendongku," Kata Nasha. "Aku bisa jalan sendiri."
"Aku tahu, tapi naik tangga itu melelahkan. Lagipula staminamu itu kecil, nona muda. Aku tidak mau kau pingsan di tengah jalan. Apalagi jika kau melihat kuil Cancer." Kata Milo dan ia merinding membayangkan kuil Cancer. Seberapapun seringnya dia melewati kuil satu itu, Milo tidak akan pernah terbiasa dengan segala kengerian yang disediakan kuil itu.
"Memang kenapa dengan kuil Cancer?" Tanya Nasha penasaran.
Oh iya dia tidak pernah melewati dua belas kuil yah?
"… Nanti kau lihat sendiri—Ralat, tidak akan kubiarkan kau melihat apapun yang ada di dalam sana." Kata Milo.
Nasha hanya memiringkan kepala dengan bingung.
"Wah, wah, pemandangan yang tidak biasa." Kata Mu saat melihat Milo kembali memasuki kuilnya dengan menggendong seorang anak gadis.
"Apa maksudmu tidak biasa?" Kata Milo.
"Ah maaf. Tidak setiap hari aku bisa melihat seorang Scorpio Milo menggendong seorang anak kecil, bukan? Setahuku, kau tidak terlalu sering bermain dengan anak-anak seperti Aldebaran."
Milo mendengus. Di antara semua rekan Saint Emasnya, Mu adalah orang yang paling mengenal semua sifat teman-temannya. Milo memang tidak begitu menyukai anak kecil, karena terkadang anak kecil itu rewel dan merepotkan. Tapi Nasha dan Kai pengecualian (walau Kai memang terlalu jahil, kadang Milo mempertanyakan genderanak perempuan itu). Mereka tidak rewel dan tidak bertingkah aneh-aneh seperti anak kecil pada umumnya dan mereka lucu.
"Oh ayolah. Tidak sering bermain dengan anak-anak bukan berarti aku tidak suka anak-anak." Katanya dengan nada defensif. "Lagipula, aku sudah kenal Nasha sejak dia masih bayi. Kau ingat bukan? Anak Athalia?"
"Tentu aku ingat." Mu tersenyum ramah. "Tapi terakhir aku melihatnya, dia masih bayi. Dia sudah tumbuh menjadi nona kecil yang cantik rupanya."
Nasha tersipu malu. Tidak pernah ada yang mengatainya cantik sebelumnya, dan Saint Aries ini adalah salah satu Saint Emas yang belum pernah ia temui. Ia gugup. Tidak tahu bagaimana harus membalas pujiannya selain mengucapkan kata terima kasih dengan suara lirih.
"Te-terima kasih…"
Aries Mu tersenyum hangat. "Sama-sama."
"Menurutku, sih, dia lebih ke imut." Milo kembali mengacak-acak rambut Nasha. "Ah, boleh kami lewat?"
"Tentu." Mu menyingkir dan membairkan mereka lewat.
"Sa-sampai jumpa lagi, Tuan Aries…" Kata Nasha terbata-bata.
"Sampai jumpa lagi, Nasha. Semoga harimu dan Milo menyenangkan."
"Semangatlah mengerjakan cloth-cloth rusak itu, Mu. Shaka menunggu laporanmu setelah itu." Kata Milo.
"Tentu saja Milo. Nikmati harimu."
Milo berjalan meninggalkan kuil Aries dan menuju ke kuil Taurus.
"Milo, Milo."
"Hmm? Apa?"
"Apa jika ada cloth rusak kalian harus membuat laporan juga?" Tanya Nasha penasaran.
"Ya, begitulah." Kata Milo. "Setiap data cloth yang rusak harus Mu laporkan pada Shaka. Kau kenal Shaka, bukan?" Tanya Milo.
"Aku kenal… Saint Virgo kan?" Tanya Nasha. Milo mengangguk. "Aku takut padanya…" Kata Nasha.
"Aku juga takut padanya Nasha. Percayalah, dia orang terakhir di muka bumi ini yang ingin kupancing emosinya." Kata Milo sambil bergidik. Memancing emosi Shaka sama artinya dengan menghilangkan kelima indramu sendiri. Saat Saint Virgo yang kelewat tenang itu mengeluarkan amarahnya, tidak akan ada yang selamat dari jurus mematikannya.
"Yah pokoknya, Shaka dan Aiolia itu bertugas untuk mendata setiap cloth yang rusak dan sudah diperbaiki, juga mendata setiap cloth yang sudah ditinggalkan pemiliknya agar mereka bisa mempersiapkan cloth tersebut untuk kandidat-kandidat Saint berikutnya." Jelas Milo. Ia merasa tidak ada salahnya menjelaskan hal ini pada Nasha. Nasha toh, bukannya mata-mata atau semacamnya dan tidak mungkin juga dia akan menceritakan informasi macam ini ke orang yang mencurigakan. Lagipula, ibunya dulu juga bekerja di Sanctuary sebelum meninggal, jadi bisa dibilang gadis ini adalah bagian dari Sanctuary.
Lagipula, Nasha adalah tipe anak yang penasaran. Dia akan terus bertanya hingga ia mendapatkan jawaban yang memuaskannya.
"Oh? Hal-hal rumit seperti itu juga dikerjakan oleh Sain Emas…? Kupikir pekerjaan para Saint hanya bertempur…" Kata Nasha.
"Seandainya itu kenyataannya aku akan berterima kasih pada segala Dewa yang memerintah bumi ini." Kata Milo. "Tidak, tidak. Saint Emas juga bertanggung jawab atas segala macam hal-hal penting di Sanctuary seperti masalah cloth tadi. Hal penting lain contohnya adalah pengawasan tempat latihan para kandidat Saint."
Nasha semakin penasaran. "Tempat latihan juga perlu di awasi?"
"Begitulah. Ada beberapa tempat latihan yang aman seperti di Sanctuary dan Siberia, tapi ada juga yang tingkat bahayanya tinggi seperti Death Queen Island – Pulau Ratu Kematian dan Pulau Andromeda. Yah Pulau Andromeda masih ada memiliki kandidat Saint yang mau berlatih di situ sih, selain iklim yang terlalu ekstrim tidak ada hal lain yang mengancam nyawa di sana… Lain halnya dengan Death Queen Island."
Nasha memiringkan kepala. "Memangnya pulau itu kenapa?"
Milo baru mau menjawab tetapi seseorang sudah menjawabnya mendahului Milo.
"Karena selain tempat latihan yang tingkat kematiannya terlalu tinggi, Saint yang bertugas melatih kandidat Saint di sana juga bisa dikategorikan sebagai guru yang kejam."
Milo dan Nasha mendongak dan baru sadar mereka sudah sampai di kuil kedua, yaitu kuil Taurus. Aldebaran telah menanti mereka di depan pintu masuk.
"Halo Nasha, kau makin imut saja tiap harinya." Kata Saint Emas bertubuh raksasa itu sambil mengacak-acak rambut gadis bersurai biru pendek itu.
Lagi. Keluh gadis itu dalam hati.
"Yo Aldebaran." Sapa Milo ramah sambil memukul pelan lengan Aldebaran. "Sudah selesai patroli? Tumben kau tidak memarahiku karena baru saja menyampaikan informasi dalam pada orang luar." Katanya setengah bercanda.
Aldebaran tertawa, tawanya begitu menggelegar hingga Nasha merasa gendang telinganya bergetar dan lantai yang dipijak Milo juga gemetar (ia tidak tahu karena ia digendong Milo).
"Yah ini kan hanya Nasha. Lagipula aku ragu Nasha akan membocorkan informasi penting Sanctuary pada orang luar, bukan begitu Nasha?"
Nasha menggeleng. "Aku tidak akan memberitahu siapa-siapa."
Dan itu benar. Sebelum Nasha mendengar beberapa hal baru dari Milo barusan, dia sudah mendengar beberapa cerita tentang Sanctuary dari ibu dan kakaknya. Bisa dibilang, ia dan kakaknya punya banyak info tentang Sanctuary sendiri namun mereka sudah bersumpah tidak akan menyinggungnya, bahkan pada para Demigod sekalipun, sebesar apapun info yang mereka punya bisa membantu para Demigod, mereka berempat tidak akan mengkhianati kepercayaan Sanctuary.
Lagipula, Nasha yakin apra Dmeigod punya cara sendiri untuk mendapatkan informasi.
"Bagus, bagus." Kata Aldebaran. "Dia anak yang baik dan cerdas. Juga berani. Dia bisa jadi Saint yang hebat." Gurau Aldebaran.
"Aku tidak ingin dia jadi Saint." Kata Milo cepat. "Terlalu berbahaya."
Nasha cemberut. Tapi tak mengatakan apa-apa. Ia tidak mengerti kenapa semua orang tidak ingin dia jadi Saint. Dia toh, adalah seorang Demigod, jadi bahaya adala kata yang akan selalu melekat padanya kemanapun dia pergi. Jadi, tidak ada bedanya ia jadi Saint atau tidak, ia akan selalu berada dalam bahaya.
Namun karena tidak mau berdebat, Nasha memutuskan untuk diam.
Mendadak, Nasha merasakan sesuatu yang dingin jatuh ke pipinya. Ia mendongak. Langit mendadak gelap dan rintik air mulai turun dari langit.
"Hujan?" Gumam Milo.
"Sepertinya begitu. Aneh, padahal tadi masih cerah." Kata Aldebaran.
Nasha tidak suka ini. Ia suka hujan. Sangat suka. Tapi hujan ini memberinya perasaan yang tidak mengenakkan.
"Ya sudah ayo kalian masuk sebelum hujan bertambah deras." Kata Aldebaran. "Akan kubuatkan coklat panas."
"Oh asyik." Kata Milo. "Coklat buatan Aldebaran nomor satu." Kata Milo senang. Di antara semua Saint Emas, yang paling bisa memasak adalah Aldebaran dan hanya orang berselera buruk yang mau melewatkan apapun yang dibuatkan oleh Sang Saint Taurus.
Akan tetapi Nasha tidak begitu terfokus pada pembicaraaan mereka. Matanya masih menatap langit gelap dan hujan yang mulai turun.
Sesuatu akan terjadi begitu hujan berhenti.
Ia tahu itu.
To be continued
Pojok Author
Finally setelah sekian lama TAT Maaf atas keterlambatan update-nya yah. Author sibuk banget sama kuliah. Saking sibuknya sampai drop dan sakit. Lalu, kalau ada yang bingung, Author mengganti nama Sophie, Thalassa, dan Irina karena beberapa alasan. Kalau Sophie, karena dia Main OC, Author ingin namanya lebih bermakna dan ingin namanya menunjukkan Sophie itu seperti apa. Setelah mutar otak dan voting, terpilihlah nama Nasha yang berarti "Lahir di musim hujan". Kalau Thalassa namanya diganti menjadi Kairi. Author memilih nama yang unisex karena Thalassa itu karakter cewek ganteng. Jadi di fic nanti dia akan dipanggil Kai. Kalau Irina, Author ganti namanya karena nama Irina kurang terkesan gentle. Jadilah Author pilih nama yang kesannya lebih lembut dan feminin yaitu Lana. Kalau Ingvalt Author gak mau ubah namanya karena udah terlanjur kepincut /plak alias jatuh cinta /plak sama nama itu. Lalu, soal tugas-tugas Gold Saint itu author terinspirasi dari fanfic Saint Tenma karangan Author Fantasy-Magician, cuman tugas-tugas itu Author tweak sedikit.
Yang bertugas mengawasi tempat latihan Saint: Aldebaran, Shura, DeathMask dan Aiolos
Yang bertugas mendata Cloth: Mu, Shaka, dan Aiolia
Yang bertugas mendata kandidat Saint: Camus, Milo, dan Saga
Yang bertugas di bidang Medis (yang berarti mempersiapkan para tabib dan semacamnya saat keadaan darurat dan memperhatikan kesehatan para Saint dan Sri Paus): Aphrodite, dibantu oleh seorang Silver Saint perempuan (OC author juga, nanti akan muncul dan diperkenalkan).
Libra Dohko tidak ditugaskan dalam bidang manapun karena tak pernah kembali ke Sanctuary dalam waktu yang lama.
Oh dan Author ganti nama Username. Kenapa? Karena ingin aja :"v dan nanti perbaikan-perbaikan di chapter sebelumnya akan menyusul
Pojok Review
Review kosong *pundung di pojokan* jadi gak ada yang bisa di balas T^T
Cukup sampai di sini, sampai jumpa di chapter depan
Maaf jika ada kesalahan penulisan/typo yang mengganggu
