Disclaimer:

Saint Seiya © Kurumada Masami

OCs © Author Sia Leysritt


Summary

"Para Half Bloods masih hidup. Mereka masih berkeliaran di sekitar kita seperti para Saint, prajurit Athena. Mereka bersembunyi, tidak memberikan identitas kepada siapapun karena tidak ada yang bisa dipercaya. Namun saat para Titan mulai bangun, mereka sadar bahwa mereka kini tidak bisa bertindak sendirian saja. Mereka butuh bantuan. Dan hanya Dewi Athena dan prajuritnya yang bisa memberi mereka bantuan itu."


Other Author OCs:

Shizen Areleous: Shimmer Caca

Ara Thea: Neo Tsukirin Matsushima29

Ringo: Neo Tsukirin Matsushima29

Angelion Arcciel: AmuletWin777


Sia Leysritt Present:

Halfbloods: Titan's War

Bellum – VIII

Red Alert


"One cannot answer for his courage when he has never been in danger."

François de La Rochefoucauld, Maxims


Hujan segera berubah deras hanya dalam hitungan menit. Untungnya Milo, Aldebaran dan Nasha telah berada di dalam kuil Taurus. Walau bangunan itu tak bisa dibilang hangat, setidaknya Aldebaran membuatkan mereka secangkir coklat hangat untuk menghangatkan badan dan ia juga memberikan Nasha sebuah selimut agar ia tidak kedinginan.

"Ada apa dengan cuaca hari ini?" Gerutu Milo. Ia tidak pernah suka hujan.

"Entahlah." Kata Aldebaran sambil menyesap coklat panas miliknya. "Dan biasanya hujan tidak sedingin ini."

Itu benar. Bagi Nasha yang suka sekali dengan hujan dan selalu menikmati hawa dingin dan bau air hujan yang turun, hujan kali ini terasa dingin dan tidak menyenangkan. Jujur saja, ini hujan pertama yang membuatnya merasa was-was dan itu berarti sesuatu. Firasatnya telah berubah buruk sejak tetes pertama menyentuh pipinya. Ia menyesap coklat panasnya sedikit-sedikit sambil sesekali memandang ke arah hujan yang masih turun.

"Omong-omong, kau tampak sibuk sekali dengan Camus dari pagi." Kata Aldebaran membuka pembicaraan. "Memang apa yang kalian kerjakan?"

"Dokumen." Kata Milo dengan nada tidak senang. "Kira-kira beberapa ratus dokumen yang dibawa oleh balok es itu dan semua dokumen berasal dari orang yang sama." Gerutunya.

"Seratus dokumen dari orang yang sama?" Tanya Aldebaran, terlihat makin tertarik. "Apa isinya?"

"Data seratus anak dari Jepang yang akan dikirim untuk dilatih menjadi Saint." Kata Milo, merasa tidak perlu menyimpan masalah tentang anak-anak itu sendiri. Toh, nanti setelah perang ini berakhir, ia dan Camus berencana membicarakannya dengan rekan-rekan Saint Emas mereka yang lain, sekedar untuk minta pendapat.

"Banyak sekali. Dan mereka semua dikirim oleh orang yang sama?"

"Begitulah." Jawab Milo ogah-ogahan.

"Bukankah itu mencurigakan…?"

Milo dan Aldebaran berbalik ke arah Nasha yang membuka mulutnya dan ikut masuk dalam pembicaraan mereka.

"Mencurigakan?"

"Maksudku…" Nasha terdiam sesaat. "Keberadaan para Saint seharusnya rahasia bukan? Bukankah seharusnya tidak ada yang tahu prosedur penerimaan calon-calon Saint? Dan bukankah biasanya Shura-san dan Aldebaran -san bertugas untuk mencari mereka ketimbang menunggu seseorang mengirimkan dokumen berisi data anak-anak yang ingin jadi calon Saint?"

Perkataan Nasha sedikit berputar dan tidak to the point, tapi kedua Saint emas tersebut sedikit banyak paham apa maksud anak itu. Memang benar seringnya, calon-calon Saint itu dicari sendiri oleh para Saint Emas dikarenakan keberadaan Saint yang memang dirahasiakan dan karena akan lebih baik jika kualitas orang-orang yang akan menjadi Saint dilihat langsung oleh Saint Emas (yang notabenenya lebih berpengalaman dari Saint Perunggu dan Perak) agar pelatihan menjadi Saint memakan sedikit korban (karena tidak sedikit orang yang meninggal karena brutalnya latihan para Saint). Jadi masuk akal jika Nasha berkata bahwa ada orang yang mengirim seratus anak untuk jadi Saint itu termasuk hal yang mencurigakan.

"T-Tapi itu hanya asumsiku." Kata Nasha panik, berpikir bahwa mungkin ia telah salah bicara. "Jaman sekarang kan banyak cara untuk mendapatkan informasi. Mungkin pria ini punya banyak koneksi atau semacamnya."

"Kau tidak salah bicara, Nasha. Jangan panik begitu." Kata Milo yang paham kenapa gadis itu panik. "Perkataanmu itu masuk akal dan aku merasa bodoh baru memikirkan fakta itu sekarang."

"Dan kalaupun pria itu punya banyak koneksi," Lanjut Aldebaran. "Kalaupun misalnya, dia menggunakan teknologi-teknologi untuk mendapatkan informasi seperti Internet—"

"Internet itu apa?" Tanya Nasha penasaran.

Aldebaran dan Milo menatapnya. Tidak mengherankan Nasha tidak tahu apa itu internet, selama ini dia hanya tinggal di Desa Rodorio dan tidak pernah keluar desa seperti mereka para Saint yang terkadang melakukan misi di luar negeri. Tapi saat menyadari betapa minimnya pengetahuan anak ini akan dunia luar, mau tidak mau Milo merinding.

'Bagaimana jadinya anak ini bila dibiarkan merantau di dunia luar?'

Tapi itu bukan masalah utama mereka sekarang.

"Itu… sebuah teknologi yang menghubungkan seluruh jaringan komputer… atau semacam itulah. Dan orang-orang jaman sekarang menggunakannya untuk mencari infromasi, oke, contohnya untuk tempat pelatihan kita, jika dia menggunakan internet untuk mencari tahu, beberapa tempat pelatihan itu cukup tersembunyi, malah tidak ada di peta dunia manapun dan ada juga yang dilindungi oleh pelindung jadi jika Kido Mitsumasa—siapapun dia – hanya mengandalkan internet, aku ragu dia bisa mendapatkan informasi sampai sejauh… Yang tertera pada dokumen yang dikirimnya."

Yang paling mencurigakan – Milo baru sadar – adalah fakta bahwa pria ini tahu dimana letak Pulau Andromeda dan Pulau Ratu Kematian. Dua pulau itu tidak ada di peta dan dilindungi oleh pelindung karena dua pulau itu adalah dua dari sedikit tempat yang paling berbahaya di antara semua tempat pelatihan Saint. Jadi fakta bahwa Kido Mitsumasa ini tahu—

"Yah hal ini bisa kita bicarakan nanti." Kata Aldebaran, tiba-tiba mengganti topik. "Kita punya masalah lain selain yang satu ini bukan? Lagipula aku tidak mau membicarakan topik berat seperti ini di depan anak berumur enam tahun."

Milo berbalik dan melihat Nasha yang tertawa gugup. Kelihatan sekali gadis kecil ini sudah kehilangan arah topik pembicaraan mereka berdua daritadi.

"Ups, maaf Nasha."

"Tidak, tidak apa-apa. Tapi aku kaget Milo ternyata serius dalam bekerja."

Dan satu pernyataan polos itu sukses membuat Milo tersinggung.

"Apa maksudnya itu, Nasha?" Tanya Milo sambil menggembungkan sebelah pipinya.

"Maksudku, selama ini Milo termasuk orang yang suka bersantai. Jadi saat Milo tiba-tiba menjadi serius seperti tadi, itu pemandangan baru buatku." Kata Nasha jujur.

Milo berbalik pada Aldebaran "Apakah aku terlihat semalas itu?"

Aldebaran mengangkat bahu "Jika disandingkan dengan Camus, sih, iya."

"Jangan dibandingkan dengan Camus! Dia itu workaholic!"

"Worka—apa?" Nasha memiringkan kepala dengan bingung.

"Workaholic. Orang yang gila kerja." Jelas Milo.

"Oh."

Dan akhirnya mereka melewati pagi berhujan itu dengan membicarakan topik yang lebih ringan. Milo menanyakan bagaimana kabar Nasha akhir-akhir ini dan apakah dia dan saudara-saudaranya diperlakukan dengan baik oleh keluarga asuh mereka, Aldebaran juga membuatkan pai apel untuk mereka untuk dimakan saat jam makan siang tiba. Untuk sesaat, Nasha melupakan segala kegugupannya dan rasa mual yang ia rasakan karena terlalu khawatir dan gugup tadi pagi, lenyap sudah.

Mereka sedang menikmati pai apel buatan Aldebaran saat Camus memasuki kuil Taurus.

"Di sini kau, rupanya Milo."

Milo berbalik dan dia cemberut melihat Camus. "Oh hebat, si Es Balok sudah datang untuk menarikku kembali ke dokumen-dokumen tak berfaedah itu." Keluhnya.

"Aku datang untuk menarikmu dan Aldebaran." Kata Camus datar. "Dan bukan dokumen yang menunggumu, melainkan hal… Lain yang lebih mendesak." Kata Camus sambil melirik Nasha. Milo menangkap lirikan Camus tersebut dan ia langsung tahu sesuatu telah terjadi. Sesuatu yang benar-benar salah.

"Maaf mengganggu pembicaraan kalian, Nasha, tapi aku perlu Milo dan Aldebaran." Kata Camus. Perasaan Milo saja atau nada bicaranya terdengar lebih lembut?

"Oh. Iya, tidak apa-apa. Kalau begitu aku akan pulang sekarang." Gadis kecil itu menghabiskan cokelat panasnya dan turun dari kursinya.

"Sampai jumpa Milo, Aldebaran, Camus." Kata Nasha.

"Sampai jumpa Nasha, lain kali datang main lagi yah." Kata Aldebaran sambil mengacak-acak rambutnya.

"Hati-hati di jalan dan jaga dirimu." Pesan Milo.

Nasha mengangguk dan berjalan keluar kuil. Setelah memastikan Nasha sudah jauh dari pandangan, Camus menatap dua Saint Emas di hadapannya dengan tatapan serius.

"Musuh sudah masuk ke wilayah kita."

Dan Milo tidak butuh kalimat tambahan untuk tahu bahwa mereka dalam masalah besar.


Marina benci rumah sakit. Tidak, dia tidak sedang di rumah sakit, tentu saja. Ia berada dalam ruang perawatan di Markas Besar. Ruangan itu sama saja dengan rumah sakit. Putih polos tanpa warna-warni sana-sini dan hanya ada tempat tidur, meja kecil di samping masing-masing tempat tidur, dan juga lemari obat. Ada juga meja panjang tempat Kallisto biasanya duduk. Singkat kata, Kallisto itu dokter di tempat ini.

Tapi gadis berambut hitam itu tidak menyukai tempat ini. Bukan karena tempat ini polos atau hal-hal remeh seperti itu, bukan. Tetapi karena dia seudah terlalu sering menghabiskan waktu di ruangan seperti ini. Entah itu ruang perawatan sekolahnya, Markas Besar, atau ruangan di Rumah Sakit betulan, ia tidak menyukainya.

Namun harus ia akui bahwa ia perlu berada di sini. Ini adalah sesuatu yang sudah diketahui para Demigod, Marina, walaupun setengah Dewa, mempunyai darah Dewa yang mengalir di tubuhnya, tidak luput dari penyakit berbahaya.

Osteogenesis Imperfecta. Sebutan medis untuk seseorang yang menderita kelainan tulang rapuh dan mudah patah. Marina ingat saat ia pertama kali mengetahui kelainan pada dirinya. Ia sedang bermain bersama Maria. Bermain petak umpet. Permainan normal yang sama sekali tidak membahayakan nyawa. Saat itu, ia setannya dan ia harus mencari Maria. Ia harus cepat karena langit sudah mulai gelap. Saat ia mendapati Maria bersembunyi di balik dedaunan, ia menjadi girang dan ia berlari untuk menangkap saudarinya. Namun saat itu, ia lupa jalan sedang licin akibat hujan yang turun tadi siang. Dan Ia jatuh. Bukannya Marina tidak pernah jatuh sebelumnya. Tapi ia tidak pernah jatuh terjerembap seperti sekarang. Begitu ia jatuh terduduk, ia merasakan rasa sakit yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan dan ia merasa badannya remuk lalu ia menangis.

Ia ingat ibunya menghampirinya dan ia panik sekali, histeris malah. Maria juga begitu, berusah mencari-cari penyebab kenapa Marina menangis sekencang itu. Tapi saat itu istilah Osteogenesis Imperfecta belum ditemukan karena itulah keluarganya memutuskan bahwa ia memiliki tulang yang sangat rapuh. Marina sudah tak bisa lagi menghitung berapa kali ia patah tulang sehingga hampir setiap hari dia harus dilarikan entah ke tabib, dokter, atau kepada anak-anak Apollo. Untungnya, ada seorang anak Apollo di sini yang merangkap sebagai dokter dan orang itu kini duduk di hadapannya.

"Normalnya, aku tidak akan mengijinkan pasien ikut berperang. Apalagi pasien dengan kelainan tulang parah yang tidak ada obatnya." Kata Kallisto yang jelas-jelas memandang Marina dengan tatapan tidak setuju.

"Tapi kan punyaku Tipe I. Itu tidak parah, setidaknya bukan tipe III yang—"

"Marina, kau sudah mematahkan seratus lebih tulang selama kau hidup hingga detik ini." Kata Kallisto tegas.

"Karena itu aku ada di sini bukan? Mendiskusikan cara denganmu yang seorang dokter agar aku bisa ikut perang tanpa merepotkan orang lain." Kata Marina.

"Kita sudah membahas ini ulang-ulang." Jelas Kallisto, jelas-jelas lelah saat Marina menyinggung topik ini. "Penyakitmu ini penyakit langka. Kalaupun ingin disembuhkan dengan sihir kita butuh orang yang ahli soal tulang karena penyebab penyakitmu ini adalah kelainan genetik pada kolagen tipe 1 atau karena mutasi spontan. Kolagen merupakan struktur utama pembentuk jaringan ikat, termasuk pada tulang." Jelas Kallisto.

"Akuk sudah dengar itu berulang-ulang. Jadi masalahnya apa?"

"Masalahnya adalah, nona muda, kelainan Kolagen bukan sesuatu yang bisa kau sembuhkan dengan penyembuhan sihir yang asal-asalan. Sihir penyembuhan yang kita praktikan hanya bisa mengobati luka luar. Kelainan tulang, otak dan penyakit dalam lain sudah di luar kategori luka yang bisa diobati oleh sihir kita. Mungkin sihir kita bisa digunakan untuk memperbaiki tulangmu yang patah tapi tidak untuk menyembuhkan penyakitmu."

Marina menghela napas berat. Ia sama sekali tidak mengerti kenapa sihir harus dihubungkan dengan sains. Tapi toh untuk beberapa pengguna praktisi sihir lain, sihir dan sains adalah satu hal yang sama tapi itu merepotkan. Tapi yah tidak semua hal bisa diselesaikan dengan sihir dan Marina tahu fakta itu dari dulu. Ia hanya berharap ia bisa disembuhkan dari penyakitnya agar dia tidak merepotkan orang lain.

"Oke, oke. Baiklah. Tapi aku ingin ikut perang ini."

Kallisto menghela napas. Ia bertanya-tanya kenapa ia tidak bisa mendapatkan pasien yang normal. Baru-baru ini dia harus menangani dua orang anak Hermes yang merasa bahwa membubuki diri mereka dengan bedak gaib yang bisa membuat tubuh gatal adalah ide yang bagus dan pada akhirnya tubuh mereka gatal seharian penuh dan Kallisto harus membuatkan ramuan penawar bagi mereka dan menyita segala jenis bedak gaib buatan anak-anak Hermes – yang mereka buat untuk menjahili orang lain – agar tidak ada lagi pasien yang datang padanya karena alasan konyol.

Lalu sekarang ada anak gadis ini. Kallisto sudah cukup lama mengenal anak gadis ini. Dulu karena belum banyak tabib yang bisa menangani kasusnya, ia menawarkan diri untuk menjadi dokter pribadinya dan kedua orang tuanya menyetujuinya. Sejak itu Kallisto terus mengawasinya seperti elang. Terus-menerus memperhatikannya dan memastikan ia tidak meletakkan dirinya dalam bahaya. Tapi tentu saja, semua pasiennya harus menyulitkannya termasuk yang satu ini. Berapa kalipun Kallisto memintanya untuk tidak berpartisipasi dalam perang manapun, Marina tidak mau mendengar. Ia merasa jika teman-temannya yang lain dan adiknya membahayakan diri di medan perang dan mengorbankan diri mereka dia juga harus berusaha sekeras mereka dan dia tidak seharusnya duduk santai dan mendapat perawatan intensif – yang menurut Kallisto benar-benar ia butuhkan sekarang – dan Kallisto sudah berulang-ulang mengatakan ia tidak akan berguna untuk siapapun jika dia mati tapi apa dia mendengar? Tidak. Dia tetap keras kepala dan maju ke medan perang bermodalkan obat penguat tulang dan penumbuh tulang patah yang sudah Kallisto buatkan khusus untuknya.

"Kau tahu, aku sudah bosan mengatakan ini, tapi kau tak akan berguna bagi siapapun kalau kau mati." Kata Kallisto lagi.

"Aku sudah dengar berulang-ulang. Aku juga tidak punya niat untuk mati." Jawab Marina.

"Tentu tidak. Tapi apa yang akan kau lakukan jika tubuhmu menyerah?"

"Aku akan menyingkir dari medan perang secepat mungkin?" Tawar Marina walau ia terdengar tidak yakin. Kallisto menggeleng-gelengkan kepala. Sejujurnya kalau bisa ia akan mengikat gadis ini dengan rantai agar dia berdiam diri di sini tapi tentu saja itu tidak mungkin dilakukannya. Dia tidak punya hak untuk melarang gadis ini melakukan apa yang ia mau (dan gadis ini toh akan tetap melakukan apapun yang dikehendakinya walaupun itu akan membahayakan dirinya) dia bukan orang tua atau keluarganya, dia hanya dokter. Akhirnya dengan berat hati ia mengambil dua botol besar obat. Keduanya berisi ramuan berwarna putih seperti susu. Marina mengernyit jijik "Eeew."

"Kau yang mau ke medan perang nona muda. Kalau kau memang mau ke medan perang kusarankan kau membawa dan meminum dua obat ini tiap tulangmu patah, karena aku tidak akan selalu ada di sampingmu untuk mengobatimu setiap saat."


"Hei, dia ini bukannya manusia?"

Dua belas Saint Emas, bersama dengan tujuh Sage dengan Lilith dan satu orang tambahan, berkumpul di ruangan yang disebut Golden Hall – Aula Emas, tempat para Saint Emas biasa melakukan Golden Round. Golden Hall adalah ruangan yang menakjubkan, dengan langit-langit yang dilukis dengan jam sirkular dua belas zodiak yang terbuat dari emas. Ruangan itu berbentuk lingkaran dan ketimbang tembok, ruangan itu di sangga dengan banyak kolom, dan di tengah-tengah ada dua belas kolom yang di bagian atasnya adalah bentuk astral dari dua belas zodiak Yunani yang terbakar oleh api emas. Di tengah-tengah ruangan ada replika sistem solar yang luar biasa yang dibuat oleh emas dan bermacam-macam batu dengan warna yang sama dengan warna planet.

Mereka semua mengelilingi mata-mata yang ditangkap oleh para Demigod adalah seorang remaja pria. Ia tampak seperti remaja berumur 17-an dengan rambut putih seperti salju dan mata merah seperti darah. Badannya kekar tapi tidak begitu berotot seperti badan para Saint Emas. Ia mengenakan jubah berwarna hitam yang menutupi seluruh badannya. Di dahi sebelah kiri hingga bawah mata kirinya ada semacam tanda berwarna hitam.

"Bukan, dia bukan manusia." Kata Markos yang menginspeksi pria itu dari atas sampai bawah. "Aku tidak tahu dia apa, tapi dia Half-Bloods – Blasteran. Bukan setengah dewa, tentunya."

Si pemuda yang ditangkap tidak mengatakan apa-apa. Dia malah tak terlihat terintimidasi sama sekali walau ditatap oleh banyak orang yang jauh lebih besasr daripada dirinya.

"Bagaimana bisa tahu?" Tanya Aldebaran.

"Kami yang sama-sama Blasteran biasanya bisa tahu jika ada blasteran lain, entah dia Demigod atau bukan." Jelas Felix. "Sialnya adalah kami tidak tahu dia ini setengah apa."

"Dan lebih sialnya lagi ia tidak mau buka mulut." Kata Lilith kesal.

Lilith, alias Ixy, yang kebagian tugas individu bersama Felix alias Rio untuk berpatroli di sekitar Sanctuary dan kota Athena sendiri. Sebenarnya menurut Ixy tidak perlu ada patroli tambahan tapi tentu saja, ahli strategis mereka yang kelewat paranoid harus memaksa mereka untuk melakukan patroli tambahan dan Ixy benci mengakui bahwa terkadang sidft paranoid pria itu patut diacungi jempol. Seperti yang dikatakan Felix, sesama Blasteran mempunyai semacam radar tak kasat mata untuk tahu jika ada Blasteran lain yang berkeliaran dan biasanya mereka akan tahu Blasteran itu setengah Dewa atau bukan. Pria yang mereka tangkap ini, jelas-jelas bukan setengah Dewa. Dari tinggi badannya dia juga tidak mungkin setengah Kurcaci atau setengah Elf—Peri. Ia tahu ini karena biasanya Blasteran kurcaci badannya pasti kerdil dan wajahnya tak bersahabat, sementara Blasteran Elf punya telinga runcing dan kulit pucat. Penampilan pria di hadapan mereka ini benar tampak seperti manusia namun mereka tidak menemukan tanda-tanda bahwa dia Demigod.

"Kalian yakin dia bukan Demigod?" Tanya DeathMask yang tentu saja mencari celah untuk membuat kerusuhan. Aphrodite yang kesal sudah mempersiapkan sebuket bunga mawar di sampingnya untuk di sumpalkan ke mulut DeathMask kalau-kalau dia mulai memprovokasi para Demigod. Lagi.

"Yakin." Jawab Morrigan. "Biasanya Demigod mempunyai tanda lahir pada tubuh mereka yang bisa langsung memberitahu kami bahwa ia Demigod. Kecuali tanda aneh pada wajahnya aku tidak menemukan tanda lain."

"Pada tubuh mereka berarti kalian tadi…" Mendengar asumsi Milo, semua Saint Emas menatap Lilith dan Felix yang tadi menangkap pria ini karena mereka tahu apa yang hendak Milo sampaikan. Beda dengan Lilith yang tampak sangat tidak nyaman dengan asumsi itu, Felix mengangkat bahu dengan santai.

"Hei, aku dan dia sama-sama pria, jadi tidak ada salahnya membuka paksa bajunya untuk mencari barang bukti bukan?"

Si pria yang ditangkap hanya bisa menunduk malu dan ia jelas tidak senang dengan apa yang dilakukan Felix padanya.

"Vulgar sekali." Komentar Camus dengan suara sepelan bisikan.

"Sudah, jangan bahas hal yang tidak ada artinya." Kata Markos. "Jadi dia tidak mau mengatakan apa-apa?" Tanya Markos.

"Kalau kurang meyakinkan, aku tadi menginterogasinya dengan cara-cara yang, yah… Bisa kau bayangkan sendiri." Imbuh Felix.

Dari cara bicaranya dengan seringai menyeramkan itu, para Saint Emas tidak yakin mereka ingin tahu apa maksudnya.

"Berarti satu-satunya cara adalah dengan mengintip langsung ke dalam otaknya, bukan?"

Markos mendelik pada orang yang barusan berbicara tersebut. Ia adalah anggota tambahan yang di bawa oleh Tujuh Sage. Ia di bawa jika kejadian seperti ini terjadi dan sudah mempersiapkan diri jikalau pria yang mereka tangkap ini. Pria ini mereka tangkap karena ia mendadak menyerang Ixy dan Felix tanpa peringatan dengan membawa serta dua monster bersamanya. Untungnya mereka tidak bertarung di area dengan banyak orang dan Ixy juga Felix berhasil mengalahkan dua monsternya dan menangkap pria ini. Namun banyak hal yang patut Markos pertanyakan. Kenapa pria ini menyerang secara terang-terangan seperti itu? Tidak mungkin para titan mengirimkan orang sembrono yang asal-asalan menyerang seperti pria ini, kecuali... Kecuali dia sengaja membiarkan dirinya ditangkap untuk maksud lain. Markos melirik anggota tambahannya. Kekuatan telepatiknya mungkin bisa berguna di saat seperti ini.

"… Kau mau menginterogasinya?" Tanya Markos pelan.

Anggotanya (yang jelas-jelas adalah seorang perempuan) mengangguk bersemangat. Markos mengehal napas dan memandang Sri Paus dengan matanya yang tersembunyi di balik tudungnya.

"Salah satu anggota yang kami bawa memiliki kekuatan untuk membaca pikiran." Jelasnya. "Jadi, jika Anda sekalian berkenan…"

Tidak ada yang tampak keberatan dengan usul Markos, maka Demigod perempuan bertudung hitam itu dengan bersemangat berjalan ke arah si pemuda yang mereka tangkap dan memberikan seringai mengerikan.

"Aku akan bersenang-senang mencari tahu apa isi kepalamu."


Marina sudah sering menginterogasi banyak orang. Keahliannya untuk memanipulasi dan membaca pikiran orang membuatnya sering diminta untuk menginterogasi orang-orang yang cukup keras kepala untuk memberikan informasi. Terkadang, walau hanya dengan membaca, ia tidak mendapatkan informasi yang ia butuhkan, di sinilah ia terpaksa harus memanipulasi atau bahkan merusak mental targetnya agar mereka memberikan informasi yang ia dan teman-temannya butuhkan.

Mind Reading – Teknik Membaca Pikiran yang ia punya adalah Visual Mind Reading – Membaca pikiran secara visual. Maka yang bisa ia lakukan bukan hanya membaca pikiran semata namun juga melihat pikiran tersebut seakan dia adalah bagian dari pikiran yang dibacanya. Tapi tentu saja kekuatannya ini dibatasi, ia hanya bisa melihat secara visual pikiran orang yang ia sentuh. Saat ia tidak menyentuh mereka ia hanya bisa mendengar apa yang mereka pikirkan saja.

Marina menutup matanya setelah ia memegang kepala pria itu, mencoba melihat apa yang ada dalam pikirannya. Gelap. Pikiran pria itu gelap dan kosong.

Ia menutup pikirannya.

Namun Marina tetap berusaha mencari secercah tahu dari awal ini bukan tipe orang yang mudah dibongkar pikirannya, sedari tadi ia tidak dapat membaca pikiran orang ini seakan orang ini tak berpikir apa-apa. Mungkin ia harus mengajaknya ngobrol?

"Kau pikun atau semacamnya? Aku tidak bisa menjelajahi ingatan atau pikiranmu."

Baiklah, itu bukanlah pilihan kata yang keren menurut Marina tapi jika dia hanya menggunakan kalimat biasa seperti aku tidak bisa membaca pikiranmu atau semacamnya, itu kurang kreatif.

Hening.

Atau setidaknya, itulah yang terjadi selama beberapa menit pertama. Sebelum suara yang menggelegar dari kejauhan menginterupsi keheningan yang mencekam itu.

"Sudah kuduga kau yang akan kutemui di sini, Putri Chronos."

Marina mengerjapkan mata dengan bingung. Suara yang didengarnya terdengar lebih dalam dan lebih tua dari yang ia duga. Pria yang sedang ia interogasi ini, menurut pengamatannya, tidak lebih dari dua puluhan tahun. Suara yang dia dengar ini berat dan terkesan terlalu seperti suara pria yang sudah tua. Atau apa dia salah dengar? Atau memang suara pria ini memang seperti ini?

"Eh, kau tahu siapa aku?" Tanya Marina dengan hati-hati. "Karena kurasa ini pertama kalinya kita bertemu."

Suara itu mendengus. "Tentu aku tahu dirimu. Kami semua tahu tentang dirimu."

"Kami?"

"Tidak penting." Keheningan yang tidak menyenangkan kembali mengisi ruang kosong yang gelap itu dan Marina yakin sesuatu yang salah tengah terjadi.

"Kau… Tentu tidak berpikir kami akan membiarkan salah satu anggota kami tertangkap oleh kalian bukan?" Walau Marina tak dapat melihat wajahnya, ia yakin siapapun itu yang sedang berbicara dengannya sedang tersenyum keji padanya dimanapun ia berada.

"Jadi ini jebakan?" Marina berusaha terdengar tidak takut. Kalau ini jebakan berarti besar kemungkinan ia tidak akan keluar dari dalam kepala pemuda ini tanpa sedikit luka, tapi jika ia menunjukkan rasa takut itu sama saja menunjukkan bahwa ia sudah kalah duluan sebelum bertarung.

"Tenang saja, aku tidak akan merusak sebuah mainan dalam hitungan detik." Kata suara itu.

"Kau menganggapku mainan?" Marina mengangkat sebelah alis. Ia tidak bisa tidak berpikir kalau orang tua yang sedang berbicara dengannya ini sedang bersikap sok keren.

"Kau dan teman-temanmu hanyalah sekedar mainan dan pion dalam bidak caturku, gadis kecil." Kata suara itu dengan pongah.

Mendadak, Marina merasa tengkuknya dibelai oleh semilir angin yang dingin. Seolah sesuatu tak kasat mata tengah menghembuskan udara dingin musim dingin langsung ke lehernya.

"Bersiaplah."


Marina tidak tahu mana yang lebih mengerikan. Fakta bahwa ia, tanpa pemberitahuan apapun, baru saja terlempar keluar dari isi pikiran seseorang atau fakta bahwa pria yang tadi ia interogasi kini telah raib menjadi pasir. Seisi ruang mendadak menjadi lebih tegang daripada sebelumnya. Marina bisa melihat semua Saint Emas tengah mempersiapkan jurus mereka dan menatap tumpukan pasir di hadapannya, tempat di mana pria barusan harusnya berada.

Tidak ada yang bicara, semua mata mengarah pada tumpukan pasir di lantai.

"Yang barusan itu…" Kata Aiolia.

"Jebakan. Atau pengirim pesan…" Markos menatap Marina untuk meminta konfirmasi.

"Pengirim pesan." Kata Marina. "Dan kita dalam masalah."


Nasha tidak pernah berpikir bahwa hari dimana ia akan ditinggalkan seorang diri dalam markas besar akan dating secepat ini. Beberapa jam setelah ia kembali dari Sanctuary, semua orang dalam markas tampak terburu-buru. Anak-anak Hephaestus berlarian kesana kemari mengangkut senjata-senjata cadangan yang bisa mereka angkut ke medan perang. Anaka-anak Demeter komat-kamit menghafal mantra-mantra yang bisa menumbuhkan tumbuhan berbau busuk yang tampaknya bisa membuat monster pingsan. Anak-anak Ares tampak sedang mengasah tombak dan pedang mereka yang sebenarnya tak perlu diasah lagi. Bahkan dari jauh Nasha sendiri sudah ngeri melihat betapa tajamnya senjata mereka.

Semua orang sibuk dan Nasha sendiri tampak tidak tenang. Padahal bukan dia yang akan maju dan menghunuskan senjata di medan perang. Tugasnya hanyalah berdiam diri di markas besar dan tidak terkena masalah. Namun ia tidak tenang. Ia tidak tenang karena kakak-kakaknya dan teman-temannya akan berada di medan perang. Mereka akan bertempur. Berperang. Di medan perang yang dipenuhi monster setinggi gedung pencakar langit dan monster dengan perut lapar yang mungkin menginginkan beberapa daging Demigod dalam menu makan malam mereka.

"Apa kalian benar-benar harus pergi?" Nasha memandang Ingvalt dan Kai yang tengah mengenakan jubah mereka.

"Begitulah. Kami kan sudah cukup umur." Kata Kai sambil menyingkirkan helai-helai rambut dari wajahnya "Aku benci rambut panjang." Gerutunya.

"Potong saja nanti." Usul Ingvalt

"Akan kulakukan."

"Kau mau potong rambut?" Tanya Nasha penasaran sambil memperhatikan kakak-kakaknya yang sibuk memakai jubah perang mereka.

"Iya. Rambut panjang begini bikin gerah." Kata Kai.

"… Tapi Kai, rambutmu tidak sepanjang itu… Rambutmu masih bisa dibilang pendek." Kata Nasha.

Itu memang benar. Rambut Kai tidak sepanjang Lana yang rambutnya sudah melewati bahu dan telah mencapai dada. Rambut Kai bahkan lebih pendek dari rambut Nasha yang sudah melewati leher.

"Tapi leherku panas dan gatal karena rambut keparat ini, Nasha—"

"Kai, jaga bahasamu di depan Nasha." Potong Ingvalt.

"—Lagipula rambut pendek ideal buatku itu yah seperti potongan rambut anak laki-laki." Jelas Kai, menyelesaikan kalimatnya yang barusan dipotong Ingvalt.

"Jadi maksudmu kau mau merubah jenis kelaminmu?" Tanya Lana.

"Tidak. Aku cuman mau potong rambut. Tidak salah kan?"

"Tidak, tidak. Kau tahu aku cuman bercanda." Kata Lana sambil tertawa geli.

"Candaanmu tak pernah lucu, Lana." Gerutu Kai.

Nasha terdiam sesaat melihat kakak-kakaknya masih bisa bercanda sebelum mereka menyongsong peperangan yang kemungkinan menangnya belum jelas. Pasukan titan bisa apa saja termasuk monster, tapi tentu saja tidak menutup kemungkinan ada mahkluk berbahaya lain selain monster-monster yang sering Nasha lihat di buku bergambar. Apakah aka nada naga atau semacamnya? Kadal raksasa? Minotaurus? Banyak mahkluk mengerikan yang melintas di kepala Nasha dan setiap membayangkan satu, rasa takutnya untuk kakak-kakaknya makin bertambah.

"Nasha, kau terlihat seakan-akan kami bertiga tidak akan kembali hidup-hidup."

Nasha mendongak, melihat Lana menatapnya dengan sorot mata geli sekaligus prihatin. Tidak mungkin Lana tidak prihatin. Nasha akan tinggal sendirian di Markas Besar selagi mereka akan berperang, mengetahui sifat Nasha yang terlalu baik dan terlalu mudah khawatiran, Lana bisa membayangkan betapa tidak tenangnya dan khawatirnya Nasha saat mereka pergi nanti.

"Maaf. Aku hanya khawatir."

Lana tersenyum lembut dan berlutut di dekatnya. "Kami pasti akan kembali. Kami tidak akan mati dan meninggalkanmu sendirian."

Nasha masih tidak yakin. "…Ibu berjanji begitu. Tapi ia tidak pernah kembali." Lana terdiam. Sejak ibu mereka meninggal, mereka berempat memang tidak pernah membahas tentangnya lagi. Entah mereka hanya tidak mau membahasnya atau karena kenangan tentang ibu mereka terlalu menyakitkan untuk diingat, Lana tidak tahu. Tapi benar kata Nasha. Ibu mereka selalu berkata ia akan pulang, seberbahaya apapun tugas yang ia emban tapi nyatanya malam itu ia tidak pulang. Tidak pernah pulang hingga detik ini. Tidak akan pernah pulang untuk selamanya. Nasha mungkin masih sangat kecil saat itu. Ia bahkan tidak ingat wajah ibu mereka tapi mental Nasha sudah cukup dewasa untuk tahu bahwa ibunya tidak akan pernah kembali dan bahwa Nasha tidak akan pernah mengenal ibunya.

Lana memandang Nasha "Itu benar, tapi kali ini lain. Kami pasti kembali."

"Kau terdengar sangat yakin."

Lana tertawa kecil. "Tentu saja aku yakin. Memang kapan aku pernah berbohong padamu?" Lana mengedipkan sebelah mata.

Nasha tersenyum geli. "…Baiklah kalau kau bilang begitu. Tapi kau harus benar-benar berjanji kau akan kembali." Kata Nasha dengan sorot mata serius.

"Tentu saja. Seperti yang sudah kubilang kami tak akan meninggalkanmu sendirian."

"Kau sangat meragukan kami, ternyata." Kata Ingvalt yang mendengar pembicaraan mereka dan tanpa menoleh kea rah Nasha dan Lana, ikut nimbrung dalam pembicaraan mereka sambil memasukkan beberapa benda – yang tampak asing buat Nasha – ke dalam tasnya.

"Ugh… bukan begitu maksudku." Kata Nasha sambil menggembungkan pipi.

"Dia hanya kelewat khawatir." Kai mendekat dan mengacak-acak rambut Nasha.

Nasha menggembungkan pipinya lagi. "Jangan rambutku."

Kai tertawa. "Ya, ya, terserah adik kecil. Kau tidak perlu khawatir. Kakak-kakakmu ini kuat-kuat kok."

Nasha hanya bisa berharap bahwa mereka benar.


Nasha masih tidak tenang. Sangat tidak tenang. Berdiam diri di Markas Besar tidak terasa menyenangkan lagi apalagi melihat semua Demigod sedang berberes-beres untuk mengikuti perang dan Nasah tidak bisa membantu jadi dia memutuskan untuk berjalan-jalan di desa untuk sementara sebelum Patroklos memperkuat kekkai di sekitar markas agar tidak ada orang yang bisa keluar masuk tanpa mantra untuk membuka kekkainya. Ini berarti begitu mereka berangkat nanti Nasha hanya akan berdiam diri dalam markas sampai mereka pulang.

Suasana desa ramai seperti biasa. Tidak ada yang sadar bahwa peperangan akan segera berlangsung di Sanctuary (atau mungkin di seluruh Yunani. Menurut Patroklos ada beberapa orang yang ditugaskan untuk pergi ke kamp di kota lain di Yunani). Nasha sendiri tidak focus pada hiruk pikuk desa karena ia sedang konsentrasi ke hal lain, seperti mimpinya semalam.

Nasha tidak tahu apakah dia mulai gila atau memang dia sudah gila. Tapi ia selalu dihantui oleh mimpi yang sama sejak beberapa minggu yang lalu dan semakin lama mimpi itu terlihat semakin nyata hingga Nasha takut menutup matanya untuk tidur tiap malam (pantas saja ada lingkaran hitam di bawah matanya). Jalan-jalan tanpa arah biasanya bisa membantunya untuk lepas dari segala pemikiran yang membuatnya stress ini, tapi entah kenapa mimpi itu selalu menghantuinya.

"Hanya mimpi… Pasti hanya mimpi… Hahaha…"

Seandainya benar itu hanya mimpi semata.


Lelaki itu manatap pemandangan di hadapannya. Ia mendengus melihat warga desa Rodorio dengan santainya beraktifitas seperti biasa. Tidak mengetahui bahwa dalam jangka waktu beberapa menit, ia dan saudara-saudaranya akan menghancurkan desa kecil tak berharga itu, termasuk semua warga yang tinggal di sana.

Ia tidak perduli dengan nyawa-nyawa kecil mereka. Ia seorang dewa. Seorang Titan. Nyawa mahkluk tak berharga seperti manusia tidaklah penting baginya.

"Kakak, persiapan kita sudah selesai."

Ia berbalik dan menatap wanita yang memanggilnya kakak. Wanita itu bersurai biru bagaikan laut dan rambutnya panjang. Rambutnya dihiasi dengan hiasan kepala yang terbuat dari mutiara-mutiara laut yang dapat terlihat dari mahkota kepalanya hingga di kepangan rambutnya yang panjang. Ia mengenakan tunik Yunani panjang yang megah yang menyembunyikan kedua kakinya di balik kai sutra itu.

"Kerja bagus Tethys." Sekali lagi sang lelaki menatap ke arah desa sebelum tersenyum keji.

"Let the war begin."


To be Continue


Pojok Author

Setelah mager selama beberapa bulan (atau minggu) udah lupa aku :"v anyway makasih buat para pembaca yang udah mau bersabar menunggu update author malas ini (nggak ada yang nungguin juga kale :'v ). Author udah mulai kuliah lagi jadi udah sibuk lagi makanya lama baru update. Mana ide cerita juga gak ada pula. Kenapa pas lagi butuh ide malah gak muncul yah idenya :"v derita penulis tuh gini yah :"v semoga para pembaca sekalian suka sama chapter baru ini. Maaf kalau endingnya rada abrupt yah. Ini udah berusaha biar chapternya panjang dan bagus :") terima kasih sudah bersabar. Selamat membaca.


Pojok Reply

BelleNyx

Shura: Kenapa malah cari saya kalau hujan?
Ingvalt: Kenapa dia mesti malu-malu? Memangnya apa yang kulakukan?
Ya astaga… Nih orang ganteng-ganteng gak peka :""
Milo: Yaaahhh jangan gitu dong -3-
DM: Lho? Aku kan gak salah
Milo: Yah gue gak mau yang pedas lah The -3-
Terima kasih sudah me-review~

AmuletWin777

Nasha: Oh… Mitsu-chan dan Noelle-oneechan mau ikut?
Ingvalt: Tidak. Jangan. Bahaya.
Situ sadar nggak situ umur berapa pas ikut perang? :"v
Nasha: Ange-san perhatian sekali OwO
Itu lebih ke strict sih daripada perhatian :"v anyway, sama2 aku juga senang bisa masukin Ange ke fanficku XD dan terima kasih sudah mereview~


Cukup sampai di sini, sampai jumpa di chapter depan

Maaf jika ada kesalahan penulisan/typo yang mengganggu