.::: YOU AND I :::.
.::: D & E :::.
Dimasa remajanya, Donghae memang banyak bersenang- senang dengan bermacam- macam tipe wanita dan laki- laki saat masih di London. Sejak dulu ia memiliki prinsip, diwaktu bersenang- senang maka ia akan menghabiskannya untuk bersenang- senang. Tapi ketika nanti ia telah menikah dan memiliki keluarga, maka ia akan serius untuk setia kepada keluarganya. Seperti yang dilakukan oleh ayahnya yang sangat mencintai ibunya, meski ibunya telah meninggal berpuluh- puluh tahun lamanya, tapi ayahnya tidak pernah berniat untuk menikah lagi. Ayahnya memiliki prinsip bahwa pernikahan hanyalah satu kali seumur hidup. Dan Donghae juga memegang teguh prinsip itu. Dia akan setia pada pasangannya sampai nafasnya berhenti.
Dengan catatan, orang yang akan menjadi pasangannya nanti harus satu tipe dengan ibunya. Maka Donghae akan dengan senang hati melamar orang itu untuk menjadi pendampingnya.
Tapi hari ini, Donghae bagai tertimpa beton seberat berton- ton tepat di kepalanya. Ia terkejut bukan kepalang. Dia... Lee Donghae! Dilamar seseorang!
Perlu diulangi?
Dilamar!
Sekali lagi!
Dilamar!
Ya Tuhan, apa kiamat sudah dekat?!
"Kau sedang mabuk? Salah makan? Atau kau sedang hamil anak seseorang dan orang itu tidak mau bertanggung jawab?"
Donghae menatap Hyukjae dengan pandangan tidak percaya, sementara Hyukjae hanya menggeleng pelan.
"Tidak. Aku serius. Aku memintamu menikah denganku karena kurasa inilah jalan satu- satunya untuk menyelamatkan kita dari masalah yang kita hadapi saat ini."
"Memangnya kau tahu apa tentang masalah- masalahku?"
"Tentu saja aku tahu. Bukankah aku penyebab masalah yang kau hadapi sekarang?"
Memangnya siapa lagi?!
Donghae mendengus. Apa- apaan? Dengan menikah dengannya, Hyukjae kira semua masalah yang dia timbulkan akan selesai begitu saja.
"Kenapa kau harus repot- repot mengurusi masalahku? Atau jangan- jangan kau merasa frustasi karena sampai sekarang kau belum mendapatkan pasangan hidup? Tapi maaf Hyukjae- ssi, kau sama sekali bukan tipeku, walaupun kuakui wajahmu sangat manis. Lagipula aku yakin kalau aku tidak akan sanggup menghadapi mulut pedasmu itu."
Hyukjae merasa terpukul dengan ucapan Donghae, sekaligus malu. Dengan segenap keberanian yang masih dimilikinya, Hyukjae berdiri dan menatap Donghae dengan marah dan kecewa.
"Jika bukan karena suatu hal yang mendesak, aku juga tidak akan sudi merendahkan harga diriku di depanmu seperti ini, Donghae- ssi. Harusnya dari awal aku tahu kalau aku salah orang! Dan kuucapkan selamat menikmati masalah- masalahmu yang pasti sebentar lagi akan semakin mengganggumu."
Setelahnya Hyukjae langsung pergi meninggalkan Donghae yang masih sibuk mencerna kata- katanya sambil membanting pintu dengan sangat keras.
"Dasar sinting! Belum kuterima saja dia sudah berani bertindak seperti itu!"
Apalagi kalau Donghae menerima lamarannya tadi. Bisa- bisa ia akan menerima tindakan kekerasan dalam rumah tangga setiap saat.
Donghae masih mengerjap takjub, tapi kemudian Donghae teringat sesuatu dan memutuskan menghubungi seseorang.
"Kyu, aku butuh bantuan orang- orang kepercayaanmu untuk menyelidiki sesuatu."
..
..
Seminggu telah berlalu setelah kejadian lamaran itu dan apa yang dikatakan Hyukjae menjadi kenyataan. Berita- berita miring tentang Donghae seputar kehidupan masa lalunya semakin terekspos habis- habisan, seluruh media rasanya tidak bosan mengorek masa lalunya demi mendapatkan informasi. Kalau di fikir- fikir ketenaran Donghae sekarang melebihi artis papan atas sekalipun. Dan itu justru berdampak buruk bagi karir dan perusahaannya. Karena sepertinya para pemegang saham diperusahaannya mulai meragukan kinerjanya akibat pemberitaan tersebut.
Donghae semakin dibuat geram karena para wartawan kini mulai ramai di depan rumahnya dan mengikuti kemanapun Donghae pergi. Benar 'kan, ia sekarang jauh lebih terkenal dari pada artis papan atas.
Belum lagi ayahnya yang bersikeras memaksa dirinya untuk segera menyelesaikan masalah ini secepatnya. Dengan jalan keluar yang luar biasa membuat Donghae sakit kepala. Kalau tahu akan seperti ini jadinya, lebih baik ia menerima lamaran Hyukjae saja kemarin. Toh tidak ada ruginya jika ia menikah dengan Hyukjae. Dari penyelidikan yang ia lakukan, Donghae baru tahu jika Hyukjae adalah salah satu putra dari pengusaha sukses dan terkenal yang menjadi idolanya selama ini. Bukankah jika ia menikah dengan Hyukjae maka karirnya yang sudah cemerlang akan semakin melesat naik melalui nama besar ayah mertuanya. Dan satu lagi, dia akan lepas dari semua masalah yang menghimpitnya. Karena gosip- gosip tentangnya pasti akan mereda dengan sendirinya jika ia telah menikah. Lagipula Hyukjae tidak buruk untuk dijadikan pasangan. Wajahnya sangat manis dengan bibir tebal yang merah alami, walaupun berbanding terbalik dengan sikapnya yang tidak ada manis- manisnya sama sekali. Dan walaupun bokongnya rata tapi Hyukjae memikili pesona yang Donghae akui luar biasa. Hyukjae pasti bisa sangat memuaskannya diatas ranjang.
"Shitt!"
Donghae mengumpati dirinya sendiri yang dengan mudahnya terangsang dengan imajinasinya sendiri. Bagaimana bisa hanya dengan membayangkan bibir dan bokong rata Hyukjae sudah bisa membuatnya menegang. Kalau sudah begini, mau tidak mau Donghae harus menyelesaikan masalah yang satu ini sendirian.
Sialan Hyukjae!
.::: YOU AND I :::.
.::: D & E :::.
Donghae sengaja mengosongkan semua jadwalnya hari ini hanya untuk menemui Hyukjae dikantornya. Tapi sekretarisnya mengatakan jika Hyukaje sudah satu minggu tidak masuk kerja. Dan Donghae langsung meluncur kesini setelah mendapatkan alamat Hyukjae dari sekretarisnya.
Donghae menghembuskan nafas lega begitu menemukan alamat rumah Hyukjae. Apalagi ayah Hyukjae menerimanya dengan ramah saat Donghae memperkenalkan dirinya sebagai kekasih Hyukjae. Berbeda dengan Hyukjae yang bersikap seolah- olah laki- laki pirang itu tidak mengenalnya.
"Kenapa kau diam saja? Cepat buatkan minuman untuk kekasihmu, Hyuk"
"Dia bukan kekasihku. Usir saja!"
Suara Hyukjae terdengar ketus, bahkan dia tidak mau memandang Donghae sama sekali.
Ayah Hyukjae hanya mengembuskan nafas pelan melihat tingkah keras dan kekanakan anak bungsunya.
"Dia memang kekanakan."
"Hyukjae sangat cemburu dengan gosip- gosip yang merebak belakangan ini. Ditambah pekerjaanku yang sangat padat dan sangat menyita waktu membuatku tidak bisa meluangkan waktu untuknya. Dia pasti sangat kesal. Membuatku merasa gagal menjadi seorang kekasih yang baik."
Hyukjae mengerjap, benar- benar tidak percaya dengan apa yang Donghae katakan. Apa tadi katanya? Kekasih yang baik? Kekasih kepalamu! Dasar menyebalkan, kemarin menolak ajakannya menikah dengan sadis, sekarang seenaknya saja Donghae mengaku- ngaku sebagai kekasihnya. Orang ini minta di hajar atau bagaimana? Membuat Hyukjae senewen saja.
Sementara melihat raut wajah Hyukjae yang kaget bercampur kesal dan juga bingung, Donghae langsung merapatkan posisi duduknya dengan Hyukjae dan tanpa canggung melingkarkan sebelah lengannya dipinggang Hyukjae.
"Hyukjae tidak pernah bercerita tentang hubungan kalian sebelumnya, tapi aku senang kalau kalian benar- benar menjalin hubungan."
Walaupun awalnya terkejut saat Donghae memperkenalkan diri sebagai kekasih anaknya, tapi ayah Hyukjae tidak bisa menyembunyikan raut bahagianya saat tahu ia akan memiliki calon menantu seperti harapannya. Seorang pengusaha muda yang sukses.
"Mungkin Hyukjae masih malu."
Hyukjae yang dari tadi hanya diam menjadi pemerhati percakapan antara dua orang dihadapannya hanya bisa diam seribu bahasa. Entah kenapa lidahnya tesara kelu walau hanya untuk mengatakan sepatah kata.
..
..
"Mengenai permintaanmu seminggu yang lalu, aku terima. Aku bersedia menikah denganmu."
Didalam Mustang- nya, Donghae melirik Hyukjae yang masih saja diam seribu bahasa. Dia sengaja membawa Hyukjae keluar rumah untuk membicarakan hal ini tanpa harus diketahui orang lain yang berada dirumah Hyukjae.
"Itu sudah tidak berlaku! Jelas- jelas aku khilaf saat mengatakan hal gila itu."
"Aku minta maaf jika kemarin aku bersikap kasar padamu. Aku sedikit stress, jadi aku tidak memikirkannya dengan matang."
"Aku juga, saat mengatakannya tidak memikirkannya dengan matang, jadi aku tarik lagi ucapanku waktu itu."
"Tapi sayangnya, Lee Donghae tidak pernah menarik kata- katanya. Kita akan menikah. Titik!"
"Apa kau sudah gila?!"
"Bukankah kau yang memulai kegilaan ini, Lee Hyukjae- ssi?"
Donghae menepikan mobilnya. Lalu menatap Hyukjae yang juga tengah menatapnya. Wajahnya memerah dan nafasnya memburu.
"Aku mau turun!"
"Kenapa kau cepat sekali emosi?"
Donghae menatap Hyukjae dengan sorot mata tajam. Lalu mencondongkan tubuhnya kearah Hyukjae yang tengah kesusahan membuka sabuk pengamannya.
Sementara tubuh Hyukjae seketika membeku saat menyadari jaraknya dan Donghae yang terlalu dekat, sampai- sampai hembusan nafas Donghae sampai terasa hangat di kulit lehernya.
Donghae menolehkan wajahnya, menatap mata sipit Hyukjae yang terlapisi kacamata berbingkai hitam itu. Entah apa yang membawa tangannya bergerak untuk melepaskan benda itu dari wajah Hyukjae. Saat Hyukjae berusaha berontak, Donghae semakin menghimpit tubuh kurus Hyukjae sehingga merapat pada pintu mobil dan tidak bisa berkutik.
"Apa yang kau lakukan?"
"Aku tidak menyukai benda ini, karena akan menggangguku untuk melakukan ini."
Donghae menutup ucapannya dengan sebuah kecupan tepat di bibir tebal Hyukjae. Donghae mencium Hyukjae dengan sangat lembut, seolah menikmati rasa manis dari setiap bagian bibir Hyukjae.
Hyukjae tertegun dengan sentuhan yang diberikan Donghae pada bibirnya. Berusaha mati- matian menahan hasratnya untuk membalas ciuman Donghae.
Detik pun berubah menjadi menit. Entah berapa lama sudah Donghae menciumnya hingga Hyukjae tidak sanggup lagi menolak ciuman Donghae yang semakin lama terasa semakin dalam dan menuntut. Hyukjae pun membalas ciuman Donghae dengan lebih liar. Dan Donghae dengan senang hati membiarkan Hyukjae mendominasi. Tangan Hyukjae yang awalnya mati- matian mendorong tubuh Donghae menjauh, kini justru melingkar dengan erat dileher Donghae.
Merasa perbuatan mereka akan bisa lebih dari sekedar ciuman jika tidak segera dihentikan, walaupun Donghae teramat sangat tidak keberatan. Tapi tempat dan waktunya yang amat sangat tidak memungkinkan. Dengan sangat terpaksa Donghae melepaskan ciumannya terlebih dahulu dan tersenyum menatap Hyukjae.
"See? Kurasa pernikahan kita akan berhasil, kita memiliki ketertarikan satu sama lain."
Wajah Hyukjae merona, demi apapun dia malu sekali, dia pasti sudah gila! Bisa- bisanya ia menikmati saat Donghae menciumnya tadi bahkan membalas ciuman pria mesum itu. Dan satu tamparan yang sangat keras sukses Hyukjae berikan pada pipi Donghae.
"Kau! Kau menjijikan!"
"Aku rela disebut menjijikan jika itu bisa membuatku mendapatkan kesempatan seperti tadi lagi. Ngomong- ngomong kau mau ku cium lagi, Hyukjae? Kenapa bibirmu seperti itu?"
"Stop! Jangan mendekat atau aku akan memukulmu lagi!"
Donghae tertawa terbahak- bahak, Hyukjae dihadapannya kali ini sangat lucu dan menggemaskan. Lihat bibirnya yang sangat merah yang bengkak dan mengerucut itu. Berbeda sekali dengan Hyukjae yang ia temui pertama kali. Arogan dan bermulut pedas.
"Jadi, kau mau menikah denganku?"
"Dengan senang hati."
"Kenapa kau mau melakukannya?"
"Kenapa kau memilihku untuk menikah denganmu?"
Kenapa? Entahlah, Hyukjae juga tidak tahu apa alasan yang membuatnya nekat mendatangi Donghae dan memintanya untuk menikahinya. Saat ayahnya mengatakan bahwa menginginkannya memiliki pendamping seorang pengusaha sama seperti ayahnya, nama Donghae tiba- tiba terlintas begitu saja dibenaknya.
"Anggap saja ini sebuah kesepakatan diantara kita. Lagipula tidak ada yang dirugikan dalam pernikahan ini 'kan? Kau bisa memenuhi keinginan ibumu, dan aku bisa membersihkan nama baikku yang tercemar karena ulahmu."
Hyukjae menghembuskan nafasnya sangat panjang dan kencang sekali. Seolah baru saja mendapatkan sebuah kesialan terparah dalam hidupnya yang membuat beban hidupnya bertambah beribu- ribu kilogram. Dalam hati Hyukjae membenarkan ucapan Donghae. Jika ia menikah dengan Donghae, maka ia bisa memenuhi keinginan ibunya untuk menikah sekaligus harapan ayahnya yang menginginkan menantu seorang pengusaha. Walaupun usianya dan Donghae terpaut sepuluh tahun, itu lebih baik dari pada tidak sama sekali.
"Baiklah, kita menikah."
"Tapi aku punya satu syarat. Walaupun pernikahan kita hanyalah berdasarkan sebuah kesepakatan, aku ingin pernikahan kita seperti pernikahan pada umumnya"
"Maksudmu?"
"Kau sangat mengerti maksud dari kata- kataku, Lee Hyukjae- ssi"
Mendadak wajah Hyukjae terasa panas. Tentu saja ia mengerti apa yang Donghae maksud dengan pernikahan pada umumnya. Yang berarti ia dan Donghae akan...
"Baiklah, tapi aku juga punya satu syarat. Aku ingin kau setia pada pernikahan kita."
"Tentu saja. Aku akan setia padamu dan pernikahan kita."
Hyukjae menghela nafasnya pelan. Sudah diputuskan dan ia tidak bisa mundur lagi.
Sementara Donghae masih menatap wajah Hyukjae lembut dengan senyum tipis.
.::: YOU AND I :::.
.::: D & E :::.
Hari pernikahan tinggal tiga minggu lagi. Tapi Hyukjae masih direpotkan dengan urusan ini dan itu mengenai pernikahan. Tapi dibalik itu semua Hyukjae bersyukur karena kondisi ibunya yang perlahan mulai membaik walaupun masih harus duduk di kursi roda. Begitu pula dengan gosip yang beredar tentang masa lalu Donghae yang sudah mulai mereda. Ya, setidaknya mereka berhasil menyelamatkan nasib karir dan perusahaan Donghae.
Hanya satu hal yang masih dicemaskan oleh Hyukjae sampai detik ini.
Donghae.
Pria itu sangat sibuk, saking sibuknya Donghae sampai dua kali membatalkan janji bertemu dengannya. Dan hari ini Donghae lagi- lagi membatalakan janjinya. Membuat Hyukjae yang merasa selama ini sudah sangat bersabar dengan segala kesibukan Donghae, akhirnya kesabarannya mencapai batas limit. Lelah karena harus menyiapakan segala keperluan pernikahan sendirian, sedangkan Donghae hanya tahu beresnya saja.
"Sebenarnya kau itu niat tidak menikah denganku? Memang kau fikir hanya kau saja yang sibuk? Lihat perkerjaanku yang menggunung karena aku terlalu sibuk mengurusi segala keperluan pernikahan sendirian."
Hyukjae berteriak dari sambungan telepon, hampir ingin menelan gagang telepon itu saking kesalnya.
"Dewasalah sedikit, Hyukjae. Aku itu bekerja bukannya bermain atau bersenang- senang. Kau hanya tahu memarahiku saja."
"Kau! Kau belum jadi kepala keluarga saja sudah banyak ingkar janji, entah apa yang akan terjadi nanti setelah kita menikah. Apa ibumu tidak pernah mengajarkan-
Hyukjae yang tadinya menggebu- gebu tiba- tiba terdiam karena sadar telah salah bicara. Ia tak bermaksud menyinggung sesuatu yang begitu sensitif bagi Donghae, Hyukjae hanya sedang emosi dan sangat kesal tadi.
"Lanjutkan. Kenapa diam? Sudah selesai melampiaskan emosimu? Begini saja, aku akan menghubungi pihak EO untuk membatalkan semua bookingan. Kau tahu Hyukjae, aku sudah kenyang mendengar semua makianmu itu."
Hyukjae tersentak saat Donghae memutuskan sambungan teleponnya. Mereka memang terkadang sering ribut karena hal- hal sepele dan Hyukjae akui sebagian besar pertengkaran mereka, dirinyalah yang selalu memulainya karena ia merasa Donghae tidak peduli sedikitpun dengan pernikahan mereka. Tapi biasanya tidak pernah berakhir separah ini. Dan apa Donghae bilang tadi? Membatalkan semua bookingan? Apa itu berarti Donghae berubah pikiran dan tidak jadi menikah dengannya?
Hyukjae mengigit bibirnya, tiba- tiba merasa gelisah.
..
..
Hari pernikhan mereka tinggal menghitung hari, namun masih tidak ada sekalipun Donghae dan Hyukjae bisa berkomunikasi dengan baik. Masing- masing saling bersikap acuh dan sibuk dengan pekerjaan. Pernah beberapa kali Hyukjae berusaha menghubungi Donghae dan berusaha meminta maaf tapi tidak mendapat respon baik dari Donghae dan berakhir dengan mereka yang kembali bertengkar. Tapi Hyukjae bisa bernafas dengan lega karena ternyata Donghae tidak membatalkan pernikahan mereka.
Hyukjae menatap hampa meja kerjanya. Sebagian hati kecilnya merasa merindukan Donghae. Tapi disisi lain ia meragukan keseriusan Donghae untuk menikah dengannya. Karena jika dilihat dari sikap pria itu, Donghae terlihat sangat tidak peduli dengan pernikahan mereka.
"Kau sudah siap, Hyung?"
Chansung, salah satu kameraman di kantornya menghampiri Hyukjae. Mereka memang berencana keluar untuk makan malam.
"Tunggu aku di lobby, aku akan siap dalam sepuluh menit."
Sebenarnya Hyukjae tidak terlalu tertarik dengan ajakan Chansung, tapi karena Chansung yang begitu gigih merayunya, akhirnya Hyukjae menerima ajakan pria jangkung itu. Hitung- hitung merefreskan fikirannya.
Setelah tiga puluh menit menempuh perjalanan akhirnya mereka sampai di restaurant tujuan. Hyukjae hanya menurut saat Chansung menggiringnya ke sebuah meja di sudut ruangan. Hyukjae menghela nafasnya, restaurant ini terlihat sangat ekslusif. Sebenarnya Hyukjae jarang datang ketempat mewah seperti ini, ia lebih merasa nyaman makan di kedai kecil pinggir jalan.
"Kalau aku tidak salah, bukankah itu calon suamimu?"
Hyukjae menoleh kearah yang ditunjuk Chansung dan betapa terkejutnya ia saat melihat Donghae tengah bersama seorang wanita yang duduk disampingnya. Hyukjae cemburu! Ia tidak mengelak kenyataan itu, terlebih lagi jika melihat penampilan wanita itu dengan rok super pendeknya, membuat mata Hyukjae iritasi.
"Entahlah, aku lupa apa aku mengenalnya. By the way, nafsu makanku tiba- tiba lenyap bisakah kita pulang saja?"
Belum sempat Chansung menyahut, Hyukjae sudah lebih dulu beranjak dari kursinya dan berjalan cepat menuju pintu keluar. Melengggang dengan langkah besar- besar melewati meja Donghae dengan wanita itu.
"Hyukjae"
Hyukjae terus saja berlalu meski ia mendengar suara Donghae memanggilnya. Sialan! Selama berhari- hari ia kesusahan menghubungi Donghae dan calon suaminya itu sekarang justru tengah makan malam romantis dengan seorang wanita cantik nan seksi di depan hidungnya. Yang benar saja? Mempermainkannya sama saja cari mati. Lihat saja apa yang bisa Hyukjae lakukan nanti.
"Lepaskan!"
"Sedang apa kau disini?"
"Bukan urusanmu!"
Tanpa basa- basi Donghae segera menarik Hyukjae pergi dari sana. Karena berbicara dengan Hyukjae disini hanya akan mengundang perhatian orang banyak. Terlebih lagi Hyukjae terlihat sangat emosi saat ini.
..
Donghae mengemudikan Mustang- nya dengan tenang, meski ekspresi wajahnya menunjukkan sebaliknya. Sementara Hyukjae disebelahnya juga duduk dengan dengan menahan marah. Lelaki pirang itu langsung melompat keluar dari mobil begitu mereka tiba di apartementnya.
"Jangan mengikutiku!"
Hyukjae melempar Donghae menggunakan tasnya, melampiaskan amarahnya yang hampir mencapai ubun- ubun.
"Kenapa kau suka sekali marah- marah?"
Donghae mengusap wajahnya kasar. Calon istrinya ini benar- benar bringas dan susah dikendalikan. Lihat saja, sejak tadi Hyukjae tidak henti- hentinya melemparnya dengan apa saja yang di bisa dapatnya. Bahkan hampir saja kepala Donghae menjadi landasan sebuah vas bunga jika saja ia tidak sigap menahan lengan kurus Hyukjae.
"Selama berhari- hari aku kesulitan menghubungimu, sialan! Ternyata kau sedang sibuk berkencan dengan seorang wanita!"
Sebenarnya Donghae ingin menjelaskan jika wanita itu adalah anak dari rekan bisnisnya. Tapi melihat Hyukjae yang masih dikuasai amarah semua penjelasannya pasti akan di tolak mentah- mentah. Wajah Hyukjae terlihat memerah dengan nafas yang memburu, bahkan kacamata berbingkai hitam yang Hyukjae pakai terlihat berembun membuat Donghae merasa sedikit bersalah karena telah mengabaikan Hyukjae beberapa hari ini.
Dengan pelan Donghae melangkahkan kakinya mendekati Hyukjae dan berusaha memeluknya. Tapi Hyukjae menolak dan kembali memakinya membuat Donghae jadi gemas sendiri.
"Ya Tuhan, Hyukjae... kau cemburu?"
"Dalam mimpimu, Donghae- ssi!"
"Kau cemburu, sayang"
Donghae menyeringai senang, jelas sekali jika calon istrinya ini tengah cemburu. Hanya saja gengsi Hyukjae terlalu tinggi untuk mengakuinya.
"Iya aku cemburu, brengsek! Bagian mana yang membuatku tidak cemburu melihat calon suamiku tengah makan malam berdua dengan seorang wanita antah berantah?!"
"Lalu apa maumu?"
"Kiss me."
"What?!"
"I ask you to kiss me."
Wow... Tadi marah- marah, memaki dan mengamuk tidak jelas, lalu sekarang minta di cium. Sebenarnya Hyukjae ini manusia jenis apa? Donghae jelas mau- mau saja mencium Hyukjae, kebetulan sudah lama sekali ia tidak merasakan sensasi manis dari bibir calon istrinya itu.
"Agresif Hyukjae, hm? i love it"
Dengan perlahan Donghae mendekat dan tanpa basa- basi langsung melumat bibir plum Hyukjae tanpa ampun membuat lelaki pirang itu terengah. Salah sendiri memancing seorang Lee Donghae.
"Jangan gunakan ini lagi, sangat mengganggu."
Donghae melepaskan kacamata Hyukjae dan melemparkannya ke sofa. Lalu kembali memberikan kecupan singkat pada bibir Hyukjae.
"Ciumanku bisa menjinakkan seorang Lee Hyukjae ternyata."
"Kau berhutang banyak permintaan maaf padaku, brengsek!"
"Mulutmu itu kasar sekali. Memang apa kesalahanku? Lalu kau sendiri, bagaimana dengan makan malam bersama seorang pria muda di belakangku?"
"Jadi kau mau bilang kalau aku juga salah, begitu? Jelas- jelas kau yang-
"Ok, maafkan aku!"
Mengalah. Lebih baik ia mengalah dan meminta maaf pada Hyukjae. Karena jika tidak sudah dipastikan mereka akan kembali berdebat dan ia akan kembali mendapatkan segala makian dan umpatan dari Hyukjae.
"Tapi ingat, aku tidak suka kau disentuh siapapun. Yang berhak atas kau hanya aku. Ingat itu, Hyukjae."
Hyukjae hanya mengangguk dengan pipi merona merah. Apa- apaan, belum menikah saja Donghae sudah mengklaim dirinya. Bagaimana setelah menikah nanti, bisa- bisa Hyukjae dirantai dikamar dan tidak boleh pergi kemanapun. Membayangkannya saja sudah membuatnya merinding.
"Ngomong- ngomong aku lapar."
Donghae melenggang memasuki dapur, membongkar lemari es dan mengacak- ngacak isinya.
"Duduklah, aku akan siapkan makanan untuk kita."
Dengan patuh Donghae duduk di kursi meja makan sambil memperhatikan Hyukjae yang mulai sibuk dengan peralatan dapur dan bahan masakannya.
Satu jam kemudian, Donghae menatap takjub masakan yang terhidang di hadapannya. Hyukjae memasaknya sendiri dan itu cukup membuat Donghae terkejut karena ia pikir lelaki berparas manis tapi bermulut kasar seperti Hyukjae hanya bisa marah- marah dan memaki, tapi ternyata calon istrinya ini juga jago memasak.
"Enak tidak?"
"Mashita!"
Mendengar Donghae memuji masakannya membuat wajah Hyukjae berbinar dan tanpa sadar tersenyum manis.
"Kau sangat manis saat tersenyum, tapi sayang kau mudah sekali marah dan kata- katamu kasar sekali."
Hyukjae melotot angker dengan mulut penuh makanan, siap memaki Donghae lagi tapi tidak jadi karena calon suaminya itu terlihat terus menjejalkan potongan daging asap kedalam mulutnya. Donghae makan dengan sangat lahap, sepertinya dia benar- benar kelaparan.
"Cepat habiskan makananmu dan pergilah dari sini!"
..
..
Tepat pukul satu Donghae meninggalkan apartement Hyukjae. Sebenarnya Donghae masih ingin berlama- lama di apartement Hyukjae atau menginap kalau bisa, tapi Hyukjae dengan kejam malah mengusirnya.
Selama dalam perjalanan pulang, Donghae kembali merenung. Seseorang yang akan dinikahinya adalah tipe orang yang tidak mudah untuk dikendalikan. Tidak seperti kekasihnya Donghae yang sebelum- sebelumnya yang rata- rata sangat menuruti semua kehendaknya. Dalam hati Donghae ingin sekali mengenal Hyukjae lebih dalam. Wajah Hyukjae terlihat sangat manis dan penuh dengan kelembutan tapi sikapnya sangat bertolak belakang, tidak ada manis- manisnya sama sekali. Hyukjae bisa menjadi sosok yang sangat menyebalkan sekaligus manis dalam waktu yang bersamaan. Usia Hyukjae yang lebih tua sepuluh tahun darinya ternyata tidak membuat Hyukjae cukup lebih dewasa. Hyukjae hampir tidak bisa mengontrol emosinya, dia terlalu ekspresif. Wajar saja jika Hyukjae sering gagal dalam urusan cinta, karena memang tidak akan ada orang yang mampu mengimbangi sifat keras seorang Lee Hyukjae.
Donghae memijat pangkal hidungnya. Dia tidak pusing tapi kepalanya tiba- tiba serasa berdenyut. Dia tidak akan mundur dari keputusannya menikah dengan Hyukjae. Donghae yakin, dengan perlahan ia pasti bisa mengambil hati lelaki pirang yang keras kepala dan teregois yang pernah dikenalnya itu. Jangan menyebutnya Lee Donghae, jika hanya untuk menaklukan seorang Lee Hyukjae saja ia tidak bisa.
..
..
..
TBC
..
..
..
Hollaaaaaaaaa...hayoyoyoyooooo saya kambeeeeekk...#tiupterompet
Sebenernya saya mau pidato banyak tp saya lupa lagi mo ngomong apa wkwkwkkk... intinya mah, jangan lupa ripiu aja gitu hahahahaaaaaaa...
.
.
.
_DeSTORIA_
