.:::YOU & I:::.

.:::D & E:::.


.

.

Kibum membantu Donghae memasang dasinya. Sedangkan Yunho dan Kyuhyun secara bergantian meledek Donghae habis- habisan karena masih tidak menyangka diantara mereka berempat Donghae lah yang akan melepas masa lajang terlebih dahulu, terlebih lagi usianya baru dua puluh lima tahun.

"Jangan hiraukan dua orang idiot itu."

"Sekali lagi dua orang gila itu tertawa, akan kulemparkan mereka dari lantai paling atas gedung ini."

Donghae menatap sengit dua sahabatnya yang masih saja sibuk tertawa terbahak- bahak. Bahkan Yunho sampai berguling dilantai. Donghae heran, apa yang mereka tertawakan, memang apa yang lucu dengan menikah? Lihat saja, Donghae do' akan agar dua orang gila itu menjadi perjaka tua.

..

Hari ini adalah hari pernikahannya dengan Hyukjae dan Donghae merasa gugup setengah hidup. Saat ini Donghae sudah berdiri di altar, dengan setelan jas pernikahan yang membuatnya terlihat luar biasa tampan. Donghae berdiri kaku di depan Seorang pastur yang sudah siap menikahkannya dengan Hyukjae. Saat ia menolehkan kepalanya kebelakang, terlihat ayahnya yang tersenyum hangat kepadanya seolah memberi kekuatan agar Donghae mampu melewati fase ini. Biar bagaimanapun ini adalah keputusannya dan ia tidak bisa mundur lagi. Dia hanya perlu mengikuti kata- kata sang pastur, dan selesai. Semudah itu, lalu dia akan lepas dari semua tekanan masalahnya. Terdengar sangan singkat dan mudah. Tapi saat Hyukjae memasuki gereja kemudian berdiri tepat disampingnya, dan sepasang manik sekelam malam yang tidak terlapisi kacamata itu menatap lurus kearahnya, membuat darahnya berdesir dan jantungnya mendadak menggila. Entahlah, Donghae merasa ragu, apakah pernikahan ini benar- benar hanya kesepakatannya dengan Hyukjae semata atau...Ah, sudahlah. Memikirkannya membuat kedua lutut Donghae terasa kebas. Hanya jalani saja semuanya seperti air mengalir, 'toh niat mereka menikah adalah baik. Dan Donghae yakin jika segala sesuatu yang berawal dengan baik pasti akan berakhir dengan baik juga.

"Lee Donghae, bersediakah kau menerima Lee Hyukjae menjadi pendamping hidupmu dalam bahagia ataupun sedih, dalam sehat ataupun sakit, dalam susah ataupun senang. Dan berjanji setia kepadanya sampai maut memisahkan?"


.

.

Donghae menatap sebuah cincin yang tersemat di jarinya. Dalam hati kecilnya, Donghae masih tidak percaya jika saat ini ia telah terikat dalam sebuah hubungan yang bernama pernikahan.

Hyukjae berdiri disampingnya, wajahnya terlihat berseri- seri. Apakah si pirang itu merasa bahagia dengan pernikahan ini? Bahkan sekarang Hyukjae dengan lembut mengapit lengannya sambil terus tersenyum lebar sambil menyapa para tamu. Apa pipinya tidak pegal terus- terusan tersenyum selebar itu?

Jam demi jam pun berlalu, akhirnya pesta resepsi pernikahan pun selesai. Dan demi Tuhan, Donghae merasa lutut dan betisnya serasa hampir copot saking lelahnya. Bahkan Donghae sudah terkapar diatas tempat tidur dan hampir tidak sanggup hanya untuk sekedar membuka kedua matanya. Berbeda dengan Hyukjae yang masih terlihat bersemangat menata pakaian di lemari kamar mereka.

"Apa kau menyesali pernikahan ini?"

Donghae baru saja hampir jatuh terlelap saat tiba- tiba suara lembut Hyukjae menembus gendang telinganya. Sejak kapan dia duduk disitu? Dan apa- apaan itu, kenapa Hyukjae hanya memakai jubah mandi yang talinya diikat secara asal sehingga mempertontonkan dadanya yang putih bersih. Seingat Donghae, tadi Hyukjae masih memakai kemaja dan celananya. Dan lihat itu! Apa- apaan dengan rambut pirangnya yang basah dengan air menetes- netes itu? Ah, Hyukjae!

"Kenapa kau berdandan seperti itu, Hyukjae?"

"Seperti apa?"

"Seperti~seperti~Yaa... Seperti itu!"

Hyukjae mengerjap beberapa kali dengan polos.

Sial!

Kenapa terlihat sangat menggemaskan? Apa benar laki- laki ini berusia tiga puluh lima tahun? Kenapa Donghae merasa justru menikahi seorang bocah laki - laki dibawah umur?

"Katakan."

"Apa?"

"Apa kau menyesali pernikahan ini?"

Hyukjae mengulangi pertanyaannya, kali ini dengan nada yang terdengar lebih serius. Donghae hanya menggelengkan kepalanya pelan, Hyukjae sangat mudah menarik kesimpulan dan sering berfikiran negatif tentangnya.

See? Usia memang tidak menunjukkan karakter seseorang.

Walaupun baru dua bulan mengenal Hyukjae, Donghae sudah mulai mengenal karakter istrinya itu.

"Kemarilah."

Donghae meraih pinggang Hyukjae, sehingga istrinya itu bergeser dan duduk merapat padanya.

Sementara Hyukjae memilih diam saat Donghae mengecup pucuk kepalanya, memeluknya kemudian menyandarakan kepalanya di dada bidang suaminya itu. Perlahan ia mulai merasakan betapa nyamannya mendapatkan perlakuan lembut Donghae seperti ini, membuatnya terbuai dan ingin tidur. Melupakan jika Donghae belum menjawab pertanyaannya, tapi suara bel apartement membuatnya tersentak kaget. Bahkan Donghae sampai mengumpat saking kagetnya. Dengan dahi berkerut antara kaget dan kesal Donghae membuka pintu apartementnya. Siapa gerangan orang yang kurang kerjaan datang bertamu ditengah malam seperti ini, terlebih ini adalah malam pertamanya dengan Hyukjae.

"SURPRISEEEE... PENGANTIN BARUUUUU!"

"GAH!"

Donghae menatap dengan mata melotot tiga makhluk terkutuk yang berdiri dengan manisnya didepan pintu apartementnya dengan terompet dan topi kerucut yang super konyol.

"Apa yang kalian lakukan disini?"

"Mereka memaksaku untuk datang kesini. Kau tahu dengan tubuh dan tenagaku mana mungkin aku sanggup melawan dua bocah barbar gila ini."

Kibum menjelaskan dengan wajah memelas, membuat Donghae hanya bisa menghela nafas pelan dan mengangguk mengerti.

"Come on 'bro, jangan cemberut seperti itu, kami hanya ingin berbagi kebahagiaan denganmu."

Yunho tersenyum lebar sambil membuka botol wine yang ia bawa sejak tadi.

"Hai, Hyukjae. Perkenalkan aku Kyuhyun, yang bodoh itu Yunho dan yang kaku dan berwajah rata itu Kibum. Donghae memang pelit karena tidak pernah mengenalkanmu pada kami, mungkin dia takut salah satu dari kami akan merayumu."

Kyuhyun membungkuk dan dengan kurang ajarnya meraih tangan Hyukjae kemudian menciumnya.

"Dasar setan tengik!"

Hyukjae tidak tahu harus merespon apa dan bagaimana. Ini memang bukan pertama kali ia bertemu dengan ketiganya, pernah beberapa kali ia bertemu dengan mereka, tapi baru kali ini ia berinteraksi langsung dengan tiga barbar yang sekarang tengah tersenyum padanya.

"Hyukjae, kau tidak apa- apa? Kau bisa istirahat duluan dan tidak perlu meladeni orang- orang gila ini."

Donghae mengelus puncak kepala Hyukjae lembut setelah sebelumnya memberikannya segelas wine.

"Tidak apa- apa, lagipula aku tidak bisa menolak segelas wine ini."


.

.

Hyukjae mengerjapkan matanya saat menyadari hari telah pagi. Ia melihat sisi tempat tidurnya yang kosong. Itu berarti Donghae tidak kembali kekamar setelah semalaman berkumpul dengan ketiga sahabatnya. Tadi malam ia memang sempat ikut minum- minum dengan mereka, tapi setelah menghabiskan tiga gelas wine Hyukjae memutuskan untuk beristirahat duluan, sedangkan Donghae masih menemani ketiga sahabatnya.

Pemandangan cukup mengerikan menjadi penyambut di pagi hari yang cerah ini. Dimana Donghae dan yang lainnya terlihat terkapar mabuk dan tidak berdaya di ruang tamu. Bau alkohol dan asap rokok memenuhi setiap sudut ruangan, sampah makanan ringan berserakan dimana- mana, bantal- bantal sofa berjatuhan dan tergeletak begitu saja dilantai. Hyukjae mendadak sakit kepala melihat keadaan ruang tamu apartementnya yang mendadak seperti habis terjadi huru- hara.

Hyukjae menepuk- nepuk pipi Donghae dengan pelan, berusaha membangunkannya. Donghae terlonjak kaget saat melihat wajah Hyukjae yang sangat dekat dengan wajahnya begitu ia membuka mata.

"Maaf, aku ketiduran dan lupa pindah ke kamar." Donghae tergagap sambil meremas kepalanya yang pusing akibat wine semalam."

"Lupakan soal itu, sekarang bagaimana caranya membangunkan orang- orang ini? Mereka tidur seperti orang mati."

Hyukjae memandang takjub pada Yunho yang tidur diatas sofa dengan kepala menjuntai kebawah dan mulut yang terbuka lebar.

"Aku yang akan mengurus mereka, kau kembali saja kekamar."

Tidak sampai lima belas menit, Donghae sudah masuk kekamar. Hyukjae baru selesai mandi, istrinya itu masih menggunakan bathrobe dan sekarang sedang menyiapkan keperluan untuk bulan madu mereka ke New Zealand. Donghae memang merencanakan perjalanan bulan madu, walaupun awalnya Hyukjae menolak keras rencananya tapi Donghae dengan segala bujuk rayu dan kekeras kepalaannya berhasil membuat Hyukjae menyetujui rencananya.

Donghae segera memeluk Hyukjae dari belakang membuat istrinya itu tersentak kaget.

"Jangan mengagetkanku!"

"Mereka mengacaukan malam pertama kita."

"Mereka sudah pulang?"

"Hnn, hanya tinggal kita berdua."

Donghae berbisik mesra ditelinga Hyukjae, menenggelamkan wajahnya diperpotongan leher Hyukjae dan mencium leher putih itu berkali- kali. Saat itulah Hyukjae merasakan lehernya terasa hangat karena hembusan nafas Donghae yang panas. Hyukjae membalikkan badannya lalu menatap Donghae dengan cemas.

"Kau demam?"

"Ini hanya efek mabuk saja, setelah mandi pasti akan lebih segar."

"Dasar bodoh! Ini demam! Kau sakit, Donghae."

Hyukjae meletakan telapak tangannya di leher Donghae yang berkeringat, kemudian tangannya yang dingin. Bahkan wajah Donghae sudah sangat pucat hampir menyerupai vampir. Apanya yang tidak sakit?

"Ini bukan mabuk, kau sudah tidak mabuk. Ini demam, kau sakit! Kau sakit, Donghae!"

"Iya...iya aku sakit. Sekarang peluk aku."

Bukannya mengabulkan keinginan Donghae, Hyukjae justru tak segan- segan menyeret Donghae ketempat tidur, lalu memaksanya untuk berbaring dan menyelimutinya dengan selimut tebal. Donghae cemberut, namun tetap menurut saat Hyukjae menyuruhnya diam tanpa melawan.

"Aku mau mandi."

"Nanti kalau kau sudah sembuh."

"Bulan madu kita jadi 'kan?"

"Ya, kalau kau sudah sembuh."

Hyukjae keluar kamar, tidak lama kemudian segera kembali dengan membawa sebuah wadah berisi air. Ia duduk ditepian tempat tidur dan mulai mengompres Donghae dengan telaten.

"Kita harus tetap pergi bulan madu, aku tidak peduli walaupun aku belum sembuh. Kau harus tetap menyiapkan semuanya, Hyukjae. Pesawat kita take off jam dua, jadi kau harus membangunkanku sebelum jam dua, ingat! Pokoknya kita harus pergi bulan madu. Titik!"

"Kau itu cerewet sekali. Sudah cepat tidur atau kita tidak akan pergi kemana- mana. Titik!"

Hyukjae membalas dengan lebih galak. Yang benar saja, untuk bangun dari tempat tidur saja Hyukjae yakin Donghae tidak akan mampu. Tapi masih saja ngotot ingin pergi berbulan madu. Dasar keras kepala! Yang ada nanti bukannya bulan madu romantis tapi malah merawat orang sakit. Enak saja, itu namanya merepotkan.

"Cium aku dulu."

"Apa yang ada di dalam kepalamu hanya hal- hal semacam itu?"

"Agar aku cepat sembuh."

"Mana ada yang seperti itu?"

"Tsk! Cepatlah, Hyukjae."

Hyukjae yang tidak tahan dengan sifat keras kepala Donghae pun akhirnya memutuskan untuk mengalah. Hyukjae kemudian mencium bibir Donghae sekilas.

"Kurang lama, Hyuk."


.

.

Donghae mengerang hebat saat Hyukjae membalas ciumannya dan dengan cekatan Donghae membuka seluruh pakaian Hyukjae sampai tidak ada penghalang lagi diantara mereka. Suasana terasa semakin panas, hanya tinggal satu langkah lagi dan semuanya akan sempurna. Saat tubuh mereka menyatu, maka Hyukjae akan benar- benar sepenuhnya menjadi miliknya.

Tubuh Donghae berguncang hebat, merasakan kenikmatan yang tidak pernah dirasakan sebelumnya. Keringatnya menetes menandakan percintaan mereka semakin panas. Donghae merasakan dirinya akan mencapai puncak kenikmatannya saat lagi- lagi tubuhnya terasa berguncang lagi, lagi dan lagi.

Samar- samar terdengar suara Hyukjae memanggil namanya. Tapi suaranya bukan suara desahan penuh kenikmatan melainkan jeritan penuh ketakutan. Dengan enggan Donghae membuka matanya dan obyek pertama yang ditemukannya adalah wajah panik Hyukjae.

"Kau tidak apa- apa? Apa yang terjadi? Kau mimpi buruk? Atau apa? Donghae, kau kenapa?"

Donghae menarik nafas dengan kasar, ternyata tadi hanya bagian dari mimpinya saja. Ia nyaris gila karena membayangkan malam pertama yang sempurna dengan Hyukjae yang belum sempat menjadi nyata karena dirinya yang jatuh sakit.

"Tadi aku mimpi indah." Donghae tersenyum malu, ia pasti terlihat seperti orang bodoh tadi. "Dimana kita sekarang? Apa sudah sampai di New Zealand?"

"Kita masih dirumah dan sekedar informasi, sekarang sudah jam 7 malam."

"APA?! Jam 7 malam?! Lalu pesawat kita? Bulan madu kita? Kenapa kau tidak membangunkanku, Hyukjae?"

Donghae berteriak keras dan nyaring seolah dia sehat, padahal wajahnya saja masih sangat pucat.

"Demammu semakin parah, aku tidak mungkin membangunkanmu."

"Tapi bagaimana dengan bulan madu kita, apa itu tidak penting bagimu? Aku akan memesan tiket untuk penerbangan berikutnya."

Donghae bagun dari tempat tidurnya, berjalan terhuyung- huyung seperti zombie menuju meja disudut kamar tempatnya menyimpan ponselnya. Tapi Hyukjae menggagalkan usahanya, tubuhnya mendadak kaku saat Hyukjae memeluknya dari belakang.

"Tentu saja penting, tapi kau jauh lebih penting. Aku mohon turuti perkataanku, kali ini jangan ajak aku berdebat. Kau harus istirahat."

Donghae cukup tersentuh saat Hyukjae mengatakan bahwa dirinya penting bagi istrinya itu. Hatinya terasa hangat, hingga Donghae memutuskan berbalik badan dan balas memeluk Hyukjae. Baiklah, kali ini ia tidak akan mengajak Hyukjae berdebat. Mungkin memang benar kata Hyukjae bahwa dia harus beristirahat, karena sekarang Donghae merasakan kakinya lemas sekali, seperti agar- agar. Jangankan untuk berdebat, untuk berdiri saja Donghae sudah tidak kuat kalau saja tidak bersandar pada Hyukjae. Tapi ngomong- ngomong bukannya yang selalu mengajak berdebat itu Hyukjae? Kenapa sekarang justru dirinyalah yang dijadikan pihak yang bersalah? Ah sudahlah, lupakan.

"Apa kau tidak terganggu dengan bau badanku? Aku belum mandi sejak kemarin."

"Tentu saja, bau tubuhmu seperti kambing."

"GAH!"

Hyukjae menahan tawanya saat melihat Donghae memasang wajah segalak mungkin.

"Diam dan tunggu saja disini, aku akan siapkan air hangat untuk kau mandi."

"Sekalian kau mandikan aku ya."

Donghae bertingkah seperti anak kecil dengan berguling- guling dikasur. Kali ini Hyukjae tidak bisa menahan tawanya lagi, ia tertawa terbahak- bahak. Dan segera masuk kekamar mandi untuk mengisi bathtub dengan air hangat.

"Ayo kita mandi."

Donghae tersenyum senang, dengan segala rencana mesum yang tersusun di dalam otaknya. Tidak dapat Donghae pungkiri bahwa dirinya sangat menginginkan Hyukjae saat ini. Walaupun fisiknya sedang sakit, tapi anggota tubuhnya yang lain sangat sehat dan dapat bereaksi dengan normal.

Donghae mulai melepas pakaiannya satu persatu hingga tubuhnya benar- benar polos, dengan sebuah senyum aneh yang tidak pernah hilang dari bibir tipisnya.

Tanpa ekspresi Hyukjae menyuruh Donghae masuk kedalam bathtub yang telah terisi air hangat. Dari luar bathtub Hyukjae mulai memandikan Donghae, mulai dari mencuci rambutnya sampai menyabuni seluruh tubuhnya.

Donghae memperhatikan setiap gerak gerik yang dilakukan Hyukjae. Dan mau tidak mau membuatnya mengerang pelan, saat Hyukjae menyentuhnya ditempat- tempat yang sensitif. Donghae merasa heran dengan Hyukjae, istrinya itu seperti telah terbiasa dengan kegiatan seperti ini. Padahal jika orang lain berada diposisi Hyukjae, orang tersebut biasanya langsung tidak tahan dan segera menyerangnya tanpa ampun. Tapi Hyukjae, istrinya sendiri malah terlihat biasa saja. Sementara Donghae sejak tadi sudah mati- matian menahan hasratnya untuk menyerang Hyukjae. Membuat Donghae sedikit kehilangan kepercayaan dirinya. Apa karena sekarang ia sedang sakit menjadikannya sudah tidak menarik lagi?

Donghae mengamati tubuhnya sendiri, perut six pack yang begitu di jaganya, otot- otot tubuhnya yang membuatnya terlihat gagah dan sexy, dan jangan lupakan sebuah mahakarya pusat gairahnya yang selalu menjadi kebanggaannya karena selalu berhasil memuaskan siapa saja yang pernah bercinta dengannya dulu.

Berbagai macam spekulasi berputar- putar di dalam kepalanya, membuatnya pusing.

"Hyukjae"

Kini Donghae sudah benar- benar tidak bisa menguasai dirinya yang sudah menahan diri sejak tadi. Ia menarik tangan Hyukjae, hingga tubuh istrinya itu ikut tercebur kedalam bathtub membuat Hyukjae memekik kaget.

"Hei! Apa yang kau lakukan, bodoh?!"

"Persetan! Aku sudah tidak tahan."

Hyukjae mengerang saat tiba- tiba Donghae menciumnya. Ciuman Donghae sangat cepat dan menuntut, memaksa Hyukjae agar membalas ciumannya. Menit demi menit berlalu, Donghae melepas pangutannya saat merasa Hyukjae terengah dalam dekapannya.

"Apa kau tidak merasakan sesuatu saat melihat aku telanjang di depanmu?"

Hyukjae mengernyit, mencoba menebak- nebak kemana arah pembiacaraan Donghae.

"Apa kau sering melakukan kegiatan seperti ini? Maksudku, apa kau sering memandikan orang?"

"Begitulah."

"Benarkah?"

Sorot mata Donghae yang semula tajam berubah kecewa. Entahlah, ia hanya merasa...cemburu mungkin.

"Aku dulu pernah sekolah keperawatan selama dua tahun, jadi aku terbiasa melakukan kegiatan semacam ini apalagi melihat orang telanjang. Tapi tenang saja, kau adalah yang terseksi dianatara semua orang telanjang yang pernah kulihat, membuatku nyaris kehilangan konsentarasi." Hyukjae mengerling nakal, berusaha menggoda Donghae yang memasang wajah kesal.

"Kau membuatku seperti orang bodoh, Hyukjae. Mulai saat ini ada satu orang yang boleh kau mandikan dan kau lihat saat telanjang, aku! Hanya aku!"

Walaupun pernikahan mereka hanyalah sebuah kesepakatan, tapi Hyukjae tetaplah istrinya. Dan istrinya tidak boleh melihat orang lain selain dirinya.

Posesif Hubby

Setelahnya Donghae kembali mencium Hyukjae dengan bringas, beserta tangannya yang tidak tidak bisa diam.

"Harusnya aku menggarapmu saat ini, tapi tiba- tiba kepalaku pusing dan perutku sangat mual."

"Itu artinya kau harus segera kembali ke tempat tidur, Tuan Lee."


.::: YOU & I :::.

.::: D & E :::.


Sudah empat hari aktifitas Donghae hanya disekitaran kamarnya saja, membuatnya benar- benar merasa akan mati karena bosan. Hanya satu hal yang membuatnya tidak bosan, yaitu saat Hyukjae merawatnya. Seperti saat Hyukjae menyuapinya makan, memandikannya dan menidurkannya seperti bayi. Yah walaupun sampai detik ini Donghae memang belum pernah resmi menyempurnakan pernikahan mereka, ingat dalam kesepakatannya dengan Hyukjae...mereka akan menjalani pernikahan ini selayaknya pernikahan pada umumnya. Mereka hanya sesekali bermesraan, bermain- main dibagian atas, dan tengah saja. Karena Hyukjae memang selalu menolaknya. Bagaimana tidak menolak, kondisi Donghae memang cukup mencemaskan. Donghae bisa tiba- tiba pusing mendadak sehingga kegiatan ini itu mereka lagi- lagi terhenti.

Tapi tidak untuk hari ini, saat Donghae sudah merasa dirinya sehat bugar. Wajahnya tidak lagi pucat dan kepalanya sudah tidak pusing. Bahkan ia sudah bisa berolahraga ringan dengan berlari- lari kecil di dalam kamarnya dan sudah bisa melakukan sesuatu sendiri kecuali mandi. Entah kenapa Donghae masih merasa tidak bisa mandi sendiri dan masih memaksa Hyukjae untuk memandikannya. Donghae tersenyum- senyum sendiri di depan cermin besar di kamarnya. Ia baru selasai dimandikan dan sekarang Hyukjae pasti sedang berada di dapur untuk menyiapkan makan malam.

"Bercinta di dapur sepertinya akan sangat menyenangkan."

Donghae menyeringai mesum lalu melangkahkan kakinya keluar kamar.

Tepat sesuai dugaannya, Hyukjae sedang sibuk berkutat dengan kegiatan memasaknya. Donghae mengamati Hyukjae lekat- lekat dan otak cerdasnya mulai berfantasi yang tidak- tidak. Tanpa mau menunggu lagi, Donghae memeluk Hyukjae dari belakang dan langsung menyerangnya dengan ciuman bertubi- tubi di leher, bahu, sampai ke belakang telinga.

"Hentikan atau kau akan tersiram minyak panas ini."

"Aku hanya ingin melakukan apa yang tertunda berhari- hari yang lalu."

Donghae membalikan tubuh Hyukjae sehingga menghadap kearahnya agar ia bisa lebih leluasa lagi mencumbu Hyukjae dibagian manapun yang ia inginkan.

"Tapi aku sedang masak, bodoh!"

"Apa peduliku?"

Donghae terus menciumnya dengan bringas, hingga Hyukjae akhirnya menyerah tidak berdaya dengan sentuhan Donghae. Tidak ada perlawanan yang bisa Hyukjae lakukan, bahkan mulutnya terus saja mengerang dan mendesahkan nama Donghae.

Donghae mendudukan Hyukjae di meja makan dan dengan tergesa- gesa melepaskan kemeja yang Hyukjae kenakan kemudian dengan penuh hasrat memberikan kecupan- kecupan yang meninggalkan bekas merah di dada dan perut Hyukjae. Ketika desahan dan erangan mereka saling bersahutan, disaat itulah tiba- tiba saja bel apartement berbunyi dengan heboh.

"Donghae, belnya."

"Biarkan saja."

Donghae masih sibuk dengan kegiatan melumat dada Hyukjae sepenuh hasratnya tanpa peduli dengan tamu yang menunggu di bukakan pintu di depan apartementnya. Siapa yang peduli, kalau memang mengenai urusan penting pasti tamu itu akan menunggu tapi Donghae, ia tidak bisa menunggu lagi. Sesuatu yang dibawah sana sudah berdenyut heboh dan minta segera dikeluarkan dari dalam celana.

Tapi semua tidak sesuai keinginannya, karena sepertinya tamu mereka adalah tipe tamu yang tidak sabaran. Suara bel terdengar semakin lama semakin gaduh dan membuat Donghae kehilangan konsentrasinya mencumbu tubuh Hyukjae.

"Tamu sialan!"

"Biar aku yang buka pintunya."

"Tidak! Pakai bajumu dan tunggu aku dikamar."

Mana mungkin Donghae mengizinkan Hyukjae membuka pintu dan membiarkan orang lain melihat keadaan Hyukjae yang saat ini terlihat begitu asdfghjkl. No way! Hyukjae miliknya dan hanya dirinya yang berhak melihat Hyukjae dalam keadaan seasdfghjkl itu.

Dengan langkah panjang- panjang dan mood yang merosot ke titik paling bawah, Donghae membuka pintu dan...

"SURPRISEEEEEE... KAMI DATAAANGGG!"

Yunho, Kyuhyun dan Kibum berteriak dengan kompak, membuat Donghae gelap mata dan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Kyuhyun dengan sekaranjang besar buah- buahan dalam genggamannya. Yunho dengan sekotak aneka roti di tangannya. Dan Kibum yang berdiri paling belakang hanya tersenyum datar.

Ini adalah kedua kalinya ketiga sahabatnya itu datang disaat yang teramat sangat sangat tidak tepat.

"Kaliaaann! Saat aku sudah benar- benar sembuh nanti, ingatkan aku untuk membunuh kalian satu per satu!"

"Hey tenang, sobat! Kedatangan kami untuk tujuan yang mulia."

Yunho menyodorkan sekotak roti yang ada di tangannya disertai dengan cengiran lebarnya.

"Hyukjae bilang kau sakit, makanya kami datang untuk menghiburmu agar kau tidak bosan."

Donghae berdecih mendengar ucapan Yunho dan Kyuhyun barusan. Tujuan mulia? Mulia kepalamu! Kedatangan mereka justru teramat sangat menggangunya yang sedang menunaikan tugas mulia. Lalu apa kata Kyuhyun tadi, menghibur agar ia tidak bosan? Bukannya menghibur, yang ada justru mereka akan menghancur leburkan apartementnya.

"Aku sudah berusaha melarang mereka kesini, tapi mereka malah menyeretku untuk ikut kesini. Kau tahu 'kan aku tidak berdaya melawan dua barbar sinting ini."

Kibum memelas walaupun ekspresi wajahnya tetap saja datar. Dasar muka rata.

Sambil menghembuskan nafas menahan kesal, Donghae mau tidak mau mempersilahkan ketiga sahabat gilanya masuk. Dan seperti biasa, ketiga sahabatnya itu terkadang memang tidak tahu diri, bukannya duduk dengan sopan diruang tamu, mereka malah masuk ke dalam seenaknya seperti apartement itu tidak ada pemiliknya. Bahkan Yunho sudah melesat ke dapur.

"Sepi sekali, mana Hyukjae Hyung? Aku merindukan senyumnya yang manis."

Donghae melotot. Sialan Kyuhyun, ingin sekali Donghae menendang wajahnya yang menjengkelkan itu.

"Apa yang terjadi dengan dapurmu? Berantakan sekali seperti habis terjadi perampokan."

Yunho terkejut dengan keadaan dapur yang sangat berantakan. Bahan- bahan makanan berserakan di meja dan di lantai.

Ucapan Yunho cukup membuat Kyuhyun dan Kibum tertarik lalu segara menuju dapur. Di susul dengan Donghae yang mati- matian menahan kesal.

"Apa yang kalian lakukan? Cepat keluar dari dapurku!"

Ok, Donghae mulai murka. Sementara bukannya takut, ketiga sahabatnya itu justru saling lirik dan berpandangan satu sama lain, seolah tanpa harus berbicara, isi kepala mereka bertiga sama.

Yunho mendengus, "Lihat si pendek ini, padahal katanya dia sedang sakit tapi masih sempat- sempatnya berfikiran untuk melakukan tindakan mesum."

"Aku juga tidak yakin si keparat ini bisa sakit." Kyuhyun dengan segala kata- kata setannya ikut mengejek Donghae yang wajahnya sudah memerah hingga ke ujung telinga.

"Hyukjae yang malang, pasti dia sedang masak saat Donghae tiba- tiba menyerangnya." Kibum tersenyum, jarang- jarang ia bisa menggoda Donghae.

"KELUAR KALIAN DARI DAPURKU, SIALANNN!"

"BWAHAHAHAHAHAAAA."


.::: YOU & I :::.

.::: D & E :::.


Hyukjae baru saja selesai mandi, setelah beberapa waktu lalu selesai menyiapkan makan malam. Donghae sudah tertidur pulas, padahal waktu baru menunjukan pukul 7 malam. Mungkin suaminya itu masih merasa kurang enak badan sehingga mudah sekali tertidur.

Mulai besok ia dan Donghae sudah harus kembali bekerja karena masa cuti mereka sudah selesai. Ya walaupun untuk Donghae tidak jadi masalah meski ia tidak datang ke kantor selama apapun. Memang siapa yang akan memecat pemilik perusahaan.

Hyukjae ikut berbaring di sebelah Donghae, ingin membangunkannya untuk makan tapi tidak tega, tidur Donghae terlihat lelap sekali. Jadi Huukjae memutuskan untuk ikut tidur saja.

Menit demi menit berlalu tapi Hyukjae belum juga bisa memejamkan matanya. Masih asik memandangi wajah Donghae yang tertidur nyenyak menghadap kearahnya. Dengan telunjuknya Hyukjae mulai menelusuri sepanjang garis wajah tampan Donghae. Mulai dari dahinya, kemudian turun kehidung mancungnya dan berakhir di bibir tipis Donghae. Hyukjae menarik nafas sejenak, bibir Donghae memang terlihat sangat sensual dimatanya.

Hyukjae menghembuskan nafas frustasi. Ia tidak bisa tidur, sementara Donghae dengan segala ketampanannya, juga bibir tipisnya yang menggoda itu tidak membatu sama sekali. Jadi, Hyukjae harus apa? Memandangi Donghae saja sepanjang malam sampai matanya kering? Oh tidak, itu mubazir. Hyukjae menghembuskan nafas frustasi sekali lagi. Baiklah, ia hanya akan mencium bibir Donghae yang mengganggu itu sedikit tanpa harus membuat suaminya itu terbangun. Setelah itu Hyukjae yakin, ia akan tidur dengan nyenyak hingga pagi esok.

Mula- mula, Hyukjae memajukan tubuhnya, mempersempit jarak diantara mereka. Lalu Hyukjae mendekatkan wajahnya dengan wajah Donghae, sehingga nafas hangat Donghae mengenai wajahnya membuatnya merinding, Hyukjae menjadi gugup sendiri.Ok, ini memang bukan ciuman pertamanya dengan Donghae, tapi tetap saja ini adalah pertama kalinya dirinyalah yang memulai.

Hyukjae menahan nafasnya, lalu mencium bibir Donghae kilat. Namun saat Hyukjae akan menjauhkan wajahnya, sebuah lengan kokoh menahan kepalanya hingga ia tidak bisa bergerak. Dengan perlahan Donghae membalas ciuman Hyukjae dengan lembut walaupun matanya masih terpejam.

"Memandangi dan mencuri ciuman saat aku sedang tidur itu sangat tidak gentleman."

Hyukjae merona karena tertangkap basah. Demi apapun, dia malu sekali.

"Baiklah, karena kau sudah membuatku dan sesuatu yang dibawah sana terbangun maka kau harus bertanggung jawab, Hyukjae-ssi."

Dengan satu gerakan Donghae berguling hingga kini ia sudah berada diatas Hyukjae. Bibir tipisnya terangkat sebelah, menyeringai.

"Kau mau langsung atau pemanasan dulu."

"Whatever."

"Kau memasrahkan dirimu, hn? Ok, let's get the party started."

Anggap saja seperti itu. Tidak ada salahya juga memasrahkan diri pada orang yang telah menikahi kita 'kan? Lagipula Hyukjae sudah kepalang tanggung, akan sangat tidak manusiawi jika mereka berhenti disini.

Donghae mulai mencumbu Hyukjae disepanjang leher jenjangnya, sementara kedua tangan mereka yang sama- sama tidak bisa diam mulai saling menelanjangi satu sama lain dengan tidak sabaran.

Bibir mereka saling bertaut. Saling memagut terus- menerus seolah tidak akan ada lagi hari esok.

Hyukjae tidak kuasa menolak, segala bentuk sentuhan Donghae ditubuhnya membuatnya terbuai hingga ia merasa melayang di awang- awang. Semua terlalu nikmat untuk ia tolak. Lagipula ia memang tidak berniat untuk menolak.

Apalagi saat mata seperti bulan sabitnya melihat tubuh telanjang Donghae yang terpampang di depan matanya. Perut six pack-nya, dada dan lengan berototnya yang berkeringat.

He's freakin' sexy...

Hyukjae memekik saat Donghae memasukinya tanpa peringatan. Ini yang pertama baginya dan tentu saja rasanya sakit sekali.

"NAPPEUN SSAEKI!"

"Upss, maaf. Aku kira kau sudah terbiasa, makanya aku langsung masuk saja."

"Bocah sialan! Apa menurutmu aku orang seperti itu?"

"Ya. Ah, maksudku mungkin kau pernah melakukannya dengan kekasih- kekasihmu dulu."

"Kau yang pertama."

Donghae merasa tersanjung. Ternyata dialah orang pertama yang telah menyentuh Hyukjae. Dalam hati rasanya Donghae ingin menarik kembali ucapannya tadi. Rasanya ia tidak akan rela membayangkan jika Hyukjae perna disentuh orang lain selain dirinya.

"Terima kasih." Donghae mencium kening Hyukjae yang berkeringat dengan lembut. "Can i?"

Hyukjae tersenyum tipis, kemudian mencium bibir tipis Donghae, melumatnya atas bawah.

Donghae tersenyum senang ditengah ciuman Hyukjae yang berantakan. Dengan senang hati ia membiarkan Hyukjae berbuat sesuka hati dengan bibirnya.

Donghae mengerang saat Hyukjae mengigit bibirnya entah sengaja atau tidak.

"Kau mengigit bibirku, sekarang terima hukumanmu."

Donghae bergerak cepat. Tangannya terus bergerilya menjamah setiap lekuk tubuh Hyukjae yang bisa dijamahnya, sementara bagian bawahnya terus mengerjai lubang Hyukjae tanpa ampun. Hyukjae mendesah keras- keras saat Donghae terus menghujam titik terdalamnya lagi, lagi dan lagi.

"Ngh-Ahh!"

"Shit! Aku sudah tidak tahan!"

Mereka mencapai puncaknya dalam waktu yang hampir bersamaan. Nafas mereka sama- sama terengah dengan peluh yang bercampur menjadi satu.

Donghae berguling untuk berbaring disamping Hyukjae, meraih pinggang istrinya itu lalu memeluknya dari belakang dengan posesif, menghujani bahu putih Hyukjae dengan kecupan- kecupan ringan.

"Thank you, my lady."

"I'am a man, stupid!"


.

.

"Kau tidak bekerja?"

Donghae memakai kemejanya, hari ini ia akan pergi ke kantor setelah cuti satu minggu. Sementara Hyukjae masih bergelung di atas tempat tidur dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Hanya menampilkan wajah dan tangannya yang sedang asik mengutak- atik ponselnya.

"Aku cuti satu hari lagi."

"Kenapa? Apa aku juga harus mengambil cuti lagi?"

"Tidak, kau pergi saja."

Setelah selesai dengan jasnya, Donghae mendekati Hyukjae dan duduk di sisi tempat tidur. Mengamati wajah Hyukjae yang terlihat memerah entah karena apa. Membuat Donghae mau tidak mau tersenyum mengingat kembali kegiatan panas mereka semalam dan tadi pagi. Padahal mereka sudah bercinta sepanjang malam tapi Donghae seolah tidak pernah puas dan kembali melakukannya tadi pagi- pagi sekali.

"Kau tidak bisa jalan ya?"

Donghae mengerling dan tanpa aba- aba langsung menarik selimut tebal yang membungkus tubuh Hyukjae. Hyukjae yang kalah cepat dan tentu saja kalah tenaga hanya bisa tergolek pasrah saat Donghae melompat dan menunggangi tubuhnya yang telanjang sambil tersenyum aneh.

"Kurasa aku juga akan mengambil cuti lagi hari ini."

Donghae turun dari atas tubuh Hyukjae, kemudian melepas dua kancing teratas kemejanya, sehingga mempertontonkan dadanya yang bidang. Membuat Hyukjae meneguk ludahnya dan kembali merona.

"Kau mau apa? Turunkan aku!"

Hyukjae meronta dalam gendongan Donghae.

"Tenang, Hyuk. Aku hanya ingin menebus rasa bersalahku karena telah membuatmu tidak bisa berjalan. Aku akan merawatmu hari ini dan hal pertama yang akan aku lakukan adalah memandikan istriku tersayang."

"Tapi kau menggendongku seperti karung beras, bodoh."


.::: YOU & I :::.

.::: D & E :::.


Siang ini Kyuhyun mengumpulkan ketiga sahabatnya untuk makan siang bersama. De' Amour cafe siang itu terlihat sangat ramai pengunjung. Tapi keempat pria berwajah tampan dengan setelan jas mahal mereka tetap terlihat mencolok diantara banyaknya pengunjung yang ada.

"Ada apa dengan wajahmu itu, Lee?"

Donghae tidak menggubris pertanyaan Yunho, ia tetap serius mengutak- atik ponselnya dengan dahi berkerut.

"Mungkin dia sedang merindukan istri tercintanya. Kalian tahu, aku harus dengan susah payah membujuknya agar mau ikut makan siang bersama kita."

Kyuhyun melemparkan kentang goreng yang sudah digigitnya ke arah Donghae, menghasilkan pelototan garang dari Donghae. Memang tadi dia menolak ajakan Kyuhyun makan siang. Pekerjaannya yang menggunung di kantor benar- benar tidak bisa ditinggalkan, setumpuk dokumen diatas meja kerjanya sedang menunggu untuk ditanda tangani. Tapi Kyuhyun dengan begitu gigih terus menerus memaksanya untuk ikut, sehingga mau tidak mau ia ikut acara makan siang ini.

"Tutup mulutmu, Cho."

"Santailah sedikit, wajahmu akan semakin boros kalau kau marah- marah seperti itu."

Memang tidak akan menang jika adu mulut melawan Cho Kyuhyun, lidahnya sangat lincah dalam berkata- kata, apalagi dalam urisan menyindir orang dengan kata- kata pedasnya, Cho Kyuhyun lah jagonya. Jadi dari pada dirinya terus- menerus menjadi bulan- bulanan iblis itu lebih baik Donghae menikmati makan siangnya, lalu segara kembali ke kantor agar semua pekerjaannya cepat selesai dan ia bisa cepat pulang kerumah. Donghae merasa sudah sangat merindukan Hyukjae, padahal baru beberapa jam saja ia tidak bertemu dengan istrinya itu. Tepatnya merindukan bokong rata Hyukjae.

"Ngomong- ngomong, beberapa hari yang lalu aku bertemu dengan Jaekyung. Dia menanyakanmu, apa kau tidak memberitahunya tentang pernikahanmu?"

Pertanyaan yang keluar dari mulut Kibum membuat rahang Donghae mengeras. Ada segurat luka yang masih mengaga di dalam hatinya dan seolah luka itu terkoyak kembali saat mendengar nama wanita itu disebut.

Jaekyung...

Bagaimana bisa aku melupakannya?

.

.

.

.

.TBC

.

.

.

.

.


Hayy Hoooooooo...

Maafkan saya yg lama apdetnya, tp ini udah saya usahain paling cepet loooo..

Hayolooooohh ada mbak Jaekyung, ngapain dia...hahahaa

Ini buru- buru, maklumin aja klo chap ini gaje ya...apalah daya saya yang kemampuannya cuma segini- gini aja u,u

Semoga berkenan ya ceman- cemaaaann...^^

.

.

.

_DeSTORIA_