.::: YOU & I :::.
.::: D & E :::.
.
.
"Sayang, lihatlah. Dasi ini mencekik leherku."
"Dasar bodoh! Aku heran, bagaimana orang bodoh seperti dirimu bisa menjadi seorang komisaris sebuah perusahaan besar."
"Itu tidak ada hubungannya, Hyukjae."
Hyukjae mendengus, tapi tangannya dengan terampil terus memakaikan dasi dileher Donghae. Selalu seperti itu, setiap pagi Donghae selalu merecokinya dengan hal- hal semacam ini dan Hyukjae dengan telaten mengurus segala keperluan Donghae, mulai dari pakaian kerjanya hingga sarapannya. Walaupun ia sendiri juga sibuk mengurus keperluannya sendiri.
"Terima kasih."
Tinggi mereka yang sejajar memudahkan Donghae untuk mencuri sebuah kecupan dibibir ranum Hyukjae.
"Aku berangkat."
"Bisa pulang lebih cepat? Aku punya dua tiket konser musik, mungkin kita bisa nonton bersama."
"Tentu."
Setelah Donghae menghilang dibalik pintu, Hyukjae diam- diam tersenyum. Kehidupan pernikahan mereka berjalan dengan baik sampai sekarang yang tanpa terasa telah memasuki bulan ketiga. Donghae adalah sosok pendamping yang sangat perhatian. Dia mulai hafal dengan sifat Hyukjae yang mudah meledak hanya karena hal sepele, dan juga sifat Hyukjae yang cemburuan dan kekanakan.
Sedikit banyak Hyukjae bersyukur, karena merasa beruntung memiliki Donghae sebagai pendampingnya.
Apakah Hyukjae mulai menikmati perannya sebagai istri seorang Lee Donghae? Apa pernikahan yang berdasarkan sebuah kesepakatan ini bisa dikatakan berhasil? Atau apakah ia mulai mencintai Donghae?
.::: YOU & I :::.
.::: D & E :::.
Donghae termenung diruang kerjanya. Semenjak mendengar cerita tentang Jaekyung dari Kibum, perasaannya tiba- tiba jadi tidak menentu. Bahkan semalam ia tidak seperti biasanya, ia tidak bercinta dengan Hyukjae karena didalam otaknya hanya berisi tentang Jaekyung. Padahal saat itu, Hyukjae terlihat sangat menggoda dengan kemeja putih kebesaran yang ia kenakan, yang entah didapatkan Hyukjae dari mana. Meski begitu, ia tetap memeluk Hyukjae sepanjang malam saat mereka tidur karena semenjak menikah, memeluk Hyukjae merupakan sebuah keharusan agar ia dapat tidur dengan nyenyak.
Jaekyung
Nama itu lagi- lagi muncul dalam benaknya. Jaekyung adalah cinta pertama sekaligus obsesinya semasa Donghae kuliah di London. Donghae mengenal Jaekyung saat Kibum mengenalkan gadis itu padanya, dan entah bagaimana caranya mereka menjadi sangat akrab bahkan dalam waktu yang singkat. Gadis itu memiliki pembawaan yang lembut dan sangat polos, berbeda dengan gadis yang dekat dengannya yang rata- rata bersifat agresif dan menantang. Membuat Donghae tertarik dan merasa ingin melindunginya karena kepolosannya. Hingga akhirnya Donghae menyatakan perasaannya dan Jaekyung menyambutnya. Saat itu Donghae dibuat tergila- gila sampai melupakan segalanya demi gadis itu. Kibum pernah memperingatkannya sebelum ia terjatuh semakin dalam karena perasaannya sendiri, karena Kibum merasa Jaekyung bukanlah gadis yang tepat untuk Donghae. Pernah beberapa kali Kibum melihat gadis itu tengah bersama beberapa pria yang berbeda disetiap kesempatan. Tapi Donghae tetaplah Donghae yang keras kepala, ia tidak mendengarkan apapun yang dikatakan Kibum. Sampai pada akhirnya dengan mata kepalanya sendiri Donghae melihat Jaekyung tengah bercumbu dengan seorang pria di kamar apartementnya. Donghae murka. Ia sangat marah dengan apa yang dilakukan kekasihnya itu. Tapi Donghae tetaplah Donghae yang naif, dengan mudahnya ia memaafkan kesalahan Jaekyung saat gadis itu menangis tersedu- sedu dihadapannya.
Setelahnya hubungan mereka berjalan seperti biasanya. Donghae kembali menjadi seorang yang dibuat gila karena cinta dan obsesinya. Sampai pada hari dimana kejadian itu kembali terulang. Kali ini dengan perasaan hancur Donghae pergi meninggalkan London, meski Jaekyung menangis meraung dan berjanji akan terus mengejarnya sampai kapanpun.
"Maaf Sajangnim, ada seseorang yang memaksa untuk menemui anda."
Suara sekretarisnya yang berasal dari arah pintu seketika membuyarkan lamunan Donghae.
"Siapa?"
Dan saat sekretarisnya menyebutkan nama orang itu, Donghae merasakan semuanya tidaklah akan baik- baik saja.
.
.
Donghae dan Jaekyung duduk berhadapan. Donghae tidak mengerti apa yang membuatnya menyetujui ajakan Jaekyung saat gadis itu berkata ingin berbicara dengannya. Donghae ssperti seekor kerbau yang dicocok dihidungnya dan mengikuti kemanapun Jaekyung membawanya. Dan disinilah mereka berada sekarang, di dalam sebuah cafe yang letaknya tidak begitu jauh dari kantornya.
"Jadi, apa yang membuatmu menemuiku?"
Tanya Donghae tanpa basa- basi. Dirinya sudah jengah, karena selama hampir setengah jam tidak ada yang mereka bicarakan selain Jaekyung yang terus menatapnya, seolah Donghae adalah mangsa lezat yang siap santap.
Jaekyung tersenyum, "Kau itu to the point sekali, setidaknya kau bisa menanyakan kabarku dulu."
Jaekyung kemudian beranjak pindah dari posisinya, sehingga kini gadis itu duduk tepat disamping Donghae. Melingkarkan tangannya dilengan Donghae dan mengecup singkat bibir tipis Donghae.
"Kau terlihat jauh lebih dewasa sejak terakhir kali kita bertemu."
"Jaekyung, aku sudah menikah."
Donghae menatap cincin yang melingkar dijarinya, dan tanpa sadar ia tersenyum.
"Aku tahu, lalu apa peduliku? Kau lupa, dulu kau sangat memuja dan mencintaiku."
"Itu dulu, Jaekyung-ssi. Sebelum kau merusak cinta dan kepercayaanku. Tapi biar bagaimanapun aku tetap berterima kasih padamu atas kebersamaan kita dulu. Berkat kau, aku jadi mengerti dengan apa yang kau sebut cinta itu. Dan juga... penghianatan."
Donghae melirik jam yang melingkar ditangannya, sudah hampir waktunya makan siang. Mungkin setelah ini ia akan pergi kekantor Hyukjae untuk mengajaknya makan siang. Itu lebih terdengar lebih menyenangkan dari pada tetap berada disini. Berada di dekat gadis ini lebih lama lagi membuatnya kembali merasakan denyutan rasa sakit karena luka dimasa lalu.
"Well, aku rasa tidak ada yang harus dibicarakan lagi karena jelas diantara kita sudah tidak ada hubungan apapun lagi."
Donghae segera berdiri dan berniat segera pergi dari tempat itu tapi suara Jaekyung yang terdengar pelan membuatnya berhenti seketika.
"Apa kau mencintainya? Apa kau mencintainya seperti dulu kau mencintaiku?"
Hati Donghae bergetar hebat. Ia sendiri pun tidak tahu akan perasaannya terhadap Hyukjae. Apakah pernikahannya dengan Hyukjae yang berdasarkan atas kesepakatan ini telah menumbuhkan cinta dihatinya.
Well, ia dan Hyukjae memang menjalani pernikahan ini seperti pernikahan pada umumnya. Donghae pun menyadari bahwa mereka saling melengkapi dan membutuhkan. Tapi kalau ditanya apakah saat ini ia mencintai Hyukjae, Donghae sungguh tidak tahu apa yang harus ia katakan.
"Aku akan mencintainya."
"Kau menikahinya hanya untuk menyelamatkan karirmu, dia bahkan jauh lebih tua darimu Lee Donghae."
Donghae tertohok. Apa yang Jaekyung katakan jelas benar adanya.
"Kau tidak mencintainya! Kau mencintaiku!"
"Aku tidak-
Tiba- tiba Jaekyung menangis, tubuhnya bergetar dan mulai memaki dirinya sendiri.
"Harusnya aku tahu aku akan kehilanganmu. Seandainya aku tidak melakukan kesalahan bodoh itu, pasti saat ini akulah yang akan menjadi istrimu bukan dia! Maafkan aku, aku sangat menyesal, Donghae. Kau tahu, aku mencarimu kemana- mana. Aku terus berusaha menghubungimu tapi semua usahaku sia- sia. Kau menghilang, kau benar- benar meninggalkanku. Aku tahu aku salah karena telah menghianatimu, tapi sungguh... Aku sangat menyesal."
Donghae tidak tahu harus berbuat apa dan bagaimana. Jaekyung terus saja menangis dan memaki dirinya sendiri. Jujur saja, Donghae paling tidak bisa melihat seorang wanita menangis. Tapi rasa sakit akibat penghianatan yang gadis itu lakukan bahkan masih terasa hingga saat ini. Membuat Donghae bingung antara harus pergi begitu saja meninggalkannya seperti dulu, atau berbalik dan memeluknya untuk menenangkannya.
"Aku masih mencintaimu. Rasanya aku hancur dua kali saat aku tahu kau telah menikah dengannya."
Cinta?
Jaekyung masih mencintainya. Lalu dirinya? Dan bagaimana dengan Hyukjae? Hyukjae pasti akan sangat marah jika mengetahui hal ini. Tapi rasa iba yang tiba- tiba muncul saat melihat Jaekyung menagis dan berkata masih mencintainya membuat Donghae tanpa sadar mendekatkan tubuhnya pada Jaekyung, merangkul bahu bergetar gadis itu lalu memeluknya.
.
.
Hyukjae melirik ponselnya untuk kesekian kalinya, berharap Donghae menghubunginya, tapi hal tersebut tidak juga terjadi. Seharian ini dirinya berusaha menghubungi Donghae, tapi dari sekian banyak panggilan dan pesan yang ia kirim tidak ada sekalipun yang dibalas oleh Donghae. Malah sekarang pria itu tidak bisa dihubungi, membuat Hyukjae sedikit cemas. Padahal Donghae berkata akan pulang lebih cepat hari ini untuk menonton konser musik bersamanya.
Biasanya jika akan lembur atau pulang terlambat Donghae pasti akan mengabarinya. Hyukjae jadi teringat sikap Donghae yang sedikit berubah beberapa hari ini. Donghae jadi sedikit lebih pendiam dari biasanya. Biasanya Donghae senang sekali menggodanya hingga membuatnya naik darah. Atau Donghae akan mengajaknya berdebat mengenai hal sepele, lalu mereka akan bertengkar dan pertengkaran itu akan berakhir diranjang. Tapi kali ini, jangankan bertengkar diatas ranjang, Donghae bahkan tidak mengabarinya padahal hari sudah larut malam.
Hyukjae meremas- remas tiket konser yang sejak tadi teronggok tak berdaya diatas meja hingga tak berbentuk. Dasar bocah sialan, membuat dirinya senewen saja.
"Awas kalau dia pulang nanti, akan kuhajar sampai giginya rontok."
.
.
Entah bagaimana caranya saat ini Donghae sudah berada di apartement Jaekyung. Awalnya Donghae hanya berniat memeluk dan menenangkan Jaekyung yang menangis. Tapi kemudian rasa iba dan kasihan itu berubah dengan cepat menjadi sebuah kebutuhan yang mendesak. Hingga kini berakhirlah ia disini, diatas ranjang dengan Jaekyung yang menduduki perutnya. Pakaian wanita itu sudah acak- acakan. Entah setan manalagi yang merasukinya hingga ia berbuat seperti ini.
"Aku tahu kau masih menginginkanku."
Sejenak Donghae merasa dirinya kembali kemasa dimana mereka saling mencintai dan memiliki. Tapi entah mengapa Donghae merasa ada keanehan yang mengisi relung hatinya. Mata yang ada dihadapannya kali ini berbeda dengan mata indah yang selalu mengisi setiap malam- malamnya. Dan tanpa sadar tatapan Donghae beralih pada tangannya yang masih menangkup wajah Jaekyung. Ada perasaan aneh saat melihat cincin pernikahannya dengan Hyukjae. Seperti ada sesuatu yang menghimpit dadanya sehingga membuatnya sesak.
Donghae segera berdiri kemudian memasang kancing kemejanya yang terbuka, tanpa menghiraukan raut wajah Jaekyung yang kebingungan.
"Jaekyung, aku minta maaf. Aku sudah menikah dan ini tidak seharusnya terjadi. Mengertilah, kita tidak akan pernah bisa bersama. Jadi aku mohon jangan pernah datang lagi dikehidupanku, berbahagialah dengan kehidupanmu sendiri."
.::: YOU & I :::.
.::: D & E :::.
Hyukjae sedang sibuk memuntahkan isi perutnya saat tiba- tiba bel apartementnya berbunyi. Pagi ini ia bangun dengan kepala pusing luar biasa dan perutnya juga sangat mual, hingga kini ia berakhir di dalam kamar mandi untuk memuntahkan seluruh isi perutnya sejak setengah jam yang lalu.
Hyukjae cukup terkejut saat mendapati Yunho dan Kibum berdiri didepan apartementnya.
"Kau sakit, Hyung? Wajahmu pucat sekali."
"Aku baik- baik saja. Ada apa kaLian tiba- tiba datang kesini?"
"Kau bertengkar dengan Donghae? Kyuhyun bilang, sudah tiga hari Donghae menginap di apartementnya."
Kibum adalah tipe orang yang selalu to the point. Bahkan Hyukjae belum mempersilahkannya duduk, tapi pria berwajah datar namun tampan itu langsung mengatakan maksud kedatangannya dan Yunho. Sementara Hyukjae tiba- tiba merasa lega karena Donghae yang sudah tiga hari ini tidak pulang ternyata berada di apartement Kyuhyun. Sia- sia Hyukjae menghawatirkannya selama tiga hari ini, kalau ternyata bocah itu ada ditempat yang membuatnya tidak kekurangan apapun.
"Kami baik- baik saja, hanya saja tiba- tiba dia menghilang dan tidak bisa dihubungi."
Kibum dan Yunho saling berpandangan, lalu menghela nafas pelan. Berharap semoga apa yang mereka takutkan tidak terjadi.
"Semoga ini tidak ada hubungannya dengan dia."
"Dia...siapa?"
Hyukjae menatap Yunho lekat, membuat Yunho mendadak terasa seperti tercekik.
"Kau yakin ingin tahu?"
Kibum mencoba memastikan, meski ini bukanlah hak mereka untuk ikut campur mengenai urusan rumah tangga Donghae dan Hyukjae tapi Kibum merasa Hyukjae harus tahu segala hal tentang Donghae, termasuk masa lalunya. Terlepas dari fakta bahwa pernikahan mereka hanyalah sekedar pernikahan bisnis. Hyukjae dan Donghae adalah pasangan menikah yang sah.
Hyukjae mengangguk pelan, mungkin dengan mendengar cerita Kibum ia bisa tahu ada apa dengan Donghae sehingga pria itu pergi tanpa berkata apa- apa.
Dan cerita itupun mengalir dari mulut Kibum begitu lancarnya seperti air mengalir. Hyukjae bingung harus bereaksi seperti apa mengetahui bahwa orang yang telah ia nikahi ternyata memiliki seseorang dari masa lalunya yang tidak bisa dilupakannya bahkan hingga saat ini. Seharusnya tidak apa- apa walau Donghae punya kekasih sungguhan sekalipun, toh pernikahan mereka hanya pura- pura. Tapi entah kenapa seperti ada jarum menembus dadanya hingga tembus kedalam jantungnya. Membuat dadanya berdenyut tidak mengenakan.
Wajah Hyukjae yang sudah pucat kini ssmakin pucat. Kepalanya berdenyut sakit dan perutnya bergejolak, bahkan kali ini lebih parah dari sebelum mendengar segala kebenaran itu.
"Kau yakin tidak apa- apa, Hyung?"
"Aku baik."
"Kau hampir pingsan, Hyukjae!"
Tepat saat Kibum menutup mulutnya, Hyukjae limbung lalu terhuyung jatuh tidak sadarkan diri. Hyukjae pingsan.
Yunho mendengus, "Apanya yang tidak apa- apa?! Bahkan sekarang dia jatuh pingsan dipangkuanku."
.
.
Hyukjae tiba di apartementnya hampir tengah malam. Seharusnya sejak sore tadi ia sudah diperbolehkan keluar dari rumah sakit, tapi Jung Yunho dengan segala arogansinya memaksa Hyukjae untuk tetap berbaring di ranjang rumah sakit. Atau Yunho mengancam akan menghubungi Donghae saat itu juga.
Dasar Jung sialan!
Bisa- bisanya Hyukjae kalah dari anak ingusan nan mesum itu. Pasti otaknya sudah bergeser dari tempatnya saat ini. Demi langit dan bumi, ia bahkan sepuluh tahun lebih tua dari bocah itu. Dan Kibum, manusia pecahan es kutub itu tidak membantu sama sekali dengan sikap terserahnya.
"Selamat malam, Hyukjae- ssi."
Hyukjae hampir melompat karena kaget dengan sapaan tiba- tiba itu. Seorang gadis berdiri didepan pintu apartementnya sambil tersenyum begitu lebarnya. Sejak kapan ia berada disitu? Kenapa Hyukjae tidak melihatnya tadi? Apa karena dirinya yang terlalu khusyuk melamun sampai tidak menyadari keberadaan gadis itu. Tapi ngomong- ngomong siapa dia? Hyukjae merasa tidak pernah mengenalnya.
"Aku Jaekyung."
Oh, jadi ini si gadis masa lalu Donghae itu. Cinta dimasa lalu yang konon katanya masih belum bisa Donghae lupakan itu.
Cuiih!
Cantik memang dan terlihat polos sekali. Tubuhnya proporsional, rambutnya panjang dan hitam tergerai, kulitnya juga putih mulus. Pantas Donghae tidak bisa melupakannya. Tapi...apa boleh Hyukjae menonjoknya sekarang?!
"Ada perlu apa denganku?"
Hyukjae bertanya dengan suara dan raut wajah yang sama datarnya. Sepertinya bergaul dengan Kibum membuat dirinya tertular sifat datar manusia jelmaan es kutub itu.
"Jadi begini-
"Bisa tolong lebih cepat, nona. Sudah larut malam dan aku sangat butuh istirahat saat ini."
Hyukjae berpura- pura menguap, berusaha menunjukkan bahwa dirinya sama sekali tidak tertarik dengan keberadaan gadis dihadapannya ini.
"Aku memang tidak akan berlama- lama, hanya ingin mengembalikan ini."
Jaekyung menyodorkan sebuah jas pada Hyukjae, dan Hyukjae sangat yakin jika itu adalah jas milik Donghae.
"Donghae meninggalkannya diapartementku tiga hari yang lalu. Tadi aku ke kantornya tapi dia tidak ada, jadi kufikir lebih baik kuantarkan saja kerumahnya.'
Hyukjae berusaha untuk bersikap biasa saja, walau sebenarnya didalam hatinya seperti ada yang menusuk- nusuknya.
"Terima kasih, Jaekyung-ssi. Akan kusampaikan pada Donghae saat ia pulang nanti."
"Bukan masalah, dan kudo'akan semoga Donghae pulang padamu malam ini."
Jaekyung tersenyum manis, namun terlihat sangat menyebalkan dimata Hyukjae. Membuatnya ingin mencakar wajah gadis sekarang juga.
Sialan!
.::: YOU & I :::.
.::: D & E :::.
Donghae mendengus sebal. Demi dewa matahari, jika memang ada. Ini hari libur dan ia ingin menghabiskan hari yang langka ini dengan kedamaian setelah satu minggu ini tubuh dan otaknya dipaksa untuk terus bekerja. Ditambah dengan masalahnya dengan Hyukjae membuat kerja otaknya menjadi berkali- kali lipat. Setidaknya sehari saja Donghae ingin merasakan yang namanya kedamaian di apartement Kyuhyun ini. Tapi dengan kehadiran Yunho dan Kibum membuat rencananya pupus sudah.
"Jangan bertindak bodoh lagi. Cepat sana pulang dan katakan pada Hyukjae Hyung bahwa kau mencintainya. Apa karena kaki yang pendek itu membuat otakmu juga menjadi sangat lamban? Apa perlu aku yang melakukannya untukmu, hah?! Tapi setelah itu jangan menyesal jika pada akhirnya Hyukjae Hyung malah jatuh kepelukanku."
"Diamlah, Jung!"
Bicara apa beruang mesum itu? Apanya yang Hyukjae akan jatuh kepelukannya? Dalam mimpi sekalipun itu tidak akan pernah terjadi. Hyukjae miliknya. Titik.
"Apa?! Memangnya kau mau selamanya bersembunyi disini? Menemani pria kesepian dan tidak laku seperti iblis ini."
"Dasar orang gila."
Kyuhyun melemparkan bantal sofa hingga tepat mengenai wajah menyebalkan Yunho. Kenapa dirinya dibawa- bawa? Dan enak saja Yunho mengatainya pria kesepian! Dirinya itu bukan kesepian apalagi tidak laku, ia hanya belum menemukan seseorang yang tepat saja.
"Aku telah melakukan kesalahan besar. Aku terlalu pengecut untuk bertemu dengan Hyukjae."
Donghae meneguk Whiskey dalam genggamannya. Entah sudah berapa botol Whiskey persediaan milik Kyuhyun yang ia habiskan.
"Kau memang brengsek! Hyukjae Hyung itu istrimu, tapi justru aku dan Kibum yang membawanya kerumah sakit saat ia pingsan tiga hari yang lalu. Dasar kau kaki pendek sialan!"
"Apa yang terjadi?"
Seketika Yunho menutup mulutnya menggunakan bantal sofa yang Kyuhyun lemparkan tadi. Merutuki mulutnya yang terkadang terlalu lancar berbicara tanpa bisa direm. Padahal Hyukjae sudah mewanti- wanti agar tidak mengatakan apapun pada Donghae perihal kejadian kemarin. Habislah dia.
"Dasar mulut kran."
"Katakan, ada apa dengan Hyukjae?"
"Dia hamil."
" APA?!"
Donghae mendadak pucat pasi, membuat Yunho tertawa terpingkal- pingkal.
"Kurasa kita harus membawanya kerumah sakit jiwa."
Kibum dan Kyuhyun hanya bisa memutar bola matanya dengan malas. Sedangkan Yunho masih saja tertawa, bahkan sekarang sudah berguling dilantai.
"Tiga hari yang lalu dia sakit. Kebetulan kami sedang mampir, jadi aku dan Yunho membawanya kerumah sakit, tapi kurasa kondisinya saat ini sudah membaik. Jadi lebih baik kau pulang secepatnya sebelum semuanya menjadi semakin buruk. Aku memang belum pernah jatuh cinta, tapi jika suatu hari nanti aku mengalaminya, aku tidak akan melepaskan cintaku begitu saja."
.
.
Donghae mengemudikan mobilnya dengan tergesa-gesa, tidak peduli dengan bahaya yang bisa ditimbulkan karena gaya menyetirnya yang ugal- ugalan. Yang ada dalam benaknya hanyalah Hyukjae, Hyukjae dan Hyukjae.
Benar kata Kibum, sekarang atau tidak sama sekali. Sebelum semuanya terlambat. Jadi, dengan segenap keberanian yang ia cicil selama bersembunyi diapartement Kyuhyun, Donghae memutuskan untuk menemui Hyukjae sekarang juga.
Pertama, Donghae ingin mengutarakan perasaannya. Dia akan mengakui bahwa dirinya mencintai Hyukjae. Setelah itu baru ia akan jujur tentang Jaekyung dan segala kekhilafannya. Baru setelah itu ia akan meminta maaf sampai Hyukjae mau memaafkannya. Bahkan jika Hyukjae memintanya berlutut dan mencium kakinya pun Donghae rela. Setelah ini Donghae akan mentertawakan dirinya sendiri. Dia sendiri yang berjanji akan menaklukan Hyukjae, tapi justru dirinyalah yang terjatuh dan tersungkur bahkan tiarap dikaki Hyukjae.
Tidak sampai setengah jam Donghae sudah sampai di apartementnya. Jantungnya berdebar sangat keras begitu berhasil membuka pintu apartemennya hanya untuk mendapati kegelapan yang menyambutnya.
Donghae terus mencari keberadaan Hyukjae kesegala penjuru apartement tapi bahkan tanda- tanda keberadaan Hyukjae pun tidak ada. Donghae mencoba berfikiran positif, mungkin Hyukjae belum pulang kerja atau sedang pergi ke minimarket untuk membeli sesuatu. Jadi Donghae putuskan untuk menunggunya di ruang tengah sambil menonton televisi.
Sejam, dua jam, hingga lima jam Donghae menunggu tapi Hyukjae tidak kunjung datang.
Donghae mengusap wajahnya kasar. Dia terlambat, Hyukjae telah pergi entah kemana. Tiba- tiba Donghae merasa hampa tanpa Hyukjae.
.::: YOU & I :::.
.::: D & E :::.
Satu bulan berlalu dan tidak ada satu hari pun yang Donghae lewatkan tanpa mencari Hyukjae. Donghae terus mencarinya kesana kemari tanpa henti. Donghae sudah mendatangi rumah orang tua Hyukjae tapi Hyukjae tidak disana. Bahkan Donghae juga sudah mendatangi kantor tempat Hyukjae bekerja hanya untuk mendapati kenyataan jika Hyukjae telah resmi mengundurkan diri. Kini Donghae benar- benar tidak tahu lagi harus mencari Hyukjae kemana.
Pekerjaannya banyak yang terbengkalai. Para pemegang saham diperusahaannya pun kini mulai meragukan kinerjanya yang terus menurun. Konsentrasi hidupnya terpecah- pecah. Kemana pun ia pergi, bayangan Hyukjae selalu menghantuinya, membuatnya semakin merindukan lelakinya itu. Merindukan tubuh kurus Hyukjae yang ia peluk saat tidur, merindukan senyum manis Hyukjae yang menyambutnya dipagi hari saat ia membuka mata. Bahkan Donghae sangat merindukan makian dan umpatan Hyukjae padanya.
Donghae tidak suka dengan keadaan ini. Hampa tanpa Hyukjae disisinya. Donghae baru menyadari bahwa dirinya telah benar- benar bergantung pada Hyukjae.
Sedikitpun ia tidak lagi memikirkan Jaekyung, bahkan Donghae tidak bergeming sedikitpun ketika gadis itu pamit untuk melanjutkan pendidikannya di Amerika dan meminta maaf atas kekacauan yang ditimbulkannya pada rumah tangganya. Donghae memaafkan Jaekyung, dan hanya sebatas itu.
Kini yang ada di dalam otak dan hatinya hanya Hyukjae, Hyukjae dan Hyukjae. Bagaimanapun caranya ia harus segera menemukan Hyukjae atau dirinya akan benar- benar menjadi gila.
"Belum ada kabar dari Hyukjae Hyung?"
Donghae menggeleng pelan. Rasa- rasanya ia hampir menyerah. Jika tahu ditinggalkan Hyukjae rasanya akan semenderita ini, Donghae menyesal kenapa tidak dari awal saja ia katakan jika dirinya mencintai Hyukjae.
Kibum menepuk bahunya pelan. Hari ini ia sengaja mampir ke kantor Donghae untuk melihat keadaan sahabatnya itu. Dan Kibum bisa tenang karena Donghae sampai saat ini masih hidup walaupun bisa dibilang Donghae lebih menyerupai zombie hidup.
"Lalu apa rencanamu?"
"Terus mencarinya."
Itu Kibum sudah tahu. Bahkan Kibum yakin, sampai kiamat pun Donghae akan terus mencari Hyukjae.
"Semoga kau beruntung, bung."
Entahlah, Donghae merasa dewi keberuntungan sedang marah dan tidak mau mendekat padanya.
.
.
Sepulang kerja, Donghae memutuskan untuk pulang kerumah ayahnya. Sudah lama sekali ia tidak mengunjungi ayahnya. Waktunya tersita hanya untuk mencari Hyukjae.
Donghae melangkah dengan lesu. Jika tidak sedang ada pekerjaan, Ayahnya pasti berada di teras belakang pada sore hari seperti ini, jadi Donghae langsung menuju ke teras belakang.
Dan pemandangan di depannya membuat Donghae mematung seketika. Matanya membulat, menatap tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Satu bulan dirinya mencari Hyukjae tanpa kenal lelah, tapi ternyata orang yang dicarinya hingga setengah gila itu berada sangat dekat dengannya. Apa selama satu bulan ini Hyukjae bersembunyi disini? Dirumah ayahnya?! Jika iya, lalu kenapa ayahnya tidak memberitahunya jika Hyukjae ada bersamanya, padahal ayahnya tahu betul bagaimana menderitanya Donghae saat Hyukjae meninggalkannya. Ini keterlaluan. Sangat keterlaluan.
"Hyukjae."
Ingin rasanya Donghae menerjang tubuh kurus Hyukjae dan memeluknya seerat yang ia bisa. Tapi sayangnya Hyukjae langsung pergi begitu saja menuju lantai atas tanpa menoleh lagi kearahnya, meski Donghae terus memanggilnya.
"Aku butuh penjelasan, Ayah."
"Apa yang harus kujelaskan?"
Young Woon menyesap kopinya dengan tenang. Sama sekali tidak merasa terkejut dengan kedatangan Donghae.
"Ayah tahu aku nyaris gila mencarinya."
"Ya, lalu?"
"Demi Tuhan! Ayah merahasiakan keberadaannya dariku."
"Setelah apa yang kau lakukan padanya, kau fikir aku sudi memberitahumu."
"Tapi dia istriku! Tidak seharusnya Ayah-
"Istri pura- pura."
"A-apa?"
Belum hilang rasa terkejut Donghae dengan ucapan ayahnya, kini Donghae kembali di kejutkan dengan keberadaan tiga orang berbadan besar yang kini memegangi tubuhnya dan mulai menyeretnya keluar dari rumah ayahnya.
Donghae memberontak marah. Tapi ia dipegangi oleh tiga orang berbadan besar seperti algojo, sia- sia saja usahanya untuk memberontak. Karena hanya dengan sekali tendangan saja Donghae sudah terpelanting dan tersungkur di depan rumah ayahnya.
Donghae bersumpah akan mengingat hari ini seumur hidupnya. Hari dimana ayahnya telah menjadikannya seperti seorang gelandangan.
"Pergilah atau aku sendiri yang akan menghajarmu."
"Aku bisa menjelaskan semuanya. Tapi aku tahu penjelasanku tidak akan ada artinya."
"Penjelasan untuk apa? Perbuatanmu pada Hyukjae atau kesepakatan pernikahan kalian?"
Donghae tertohok. Hyukjae pasti sudah menceritakan pada ayahnya mengenai kesepakatan pernikahan mereka.
"Sudah sana pergi, bocah tengik! Dan kau baru boleh datang lagi jika kau membawa surat cerai."
Surat cerai?
Apa semua harus berakhir hanya sampai disini saja?
Disaat dirinya bahkan belum sempat memulainya...
.::: YOU & I :::.
.::: D & E :::.
Sore ini terasa sangat berbeda. Awan gelap dan hujan yang turun tidak terlalu lebat bagai menjadi pengiring suasana hati Donghae yang kelabu.
Pagi tadi, saat matahari belum sepenuhnya menampakan sinarnya, Donghae dengan serampangan mengemudikan mobilnya menuju rumah orang tua Hyukjae di Incheon.
Kabar yang disampaikan ayahnya mengenai kecelakaan yang menimpa keluarga Hyukjae membuatnya tidak bisa berpikir apapun lagi selain secepatnya sampai disana untuk memeluk Hyukjae.
Hyukjae berdiri tegak didepannya dengan seorang bayi laki- laki dalam gendongannya. Hyukjae tidak menangis, tatapannya hanya lurus pada empat pusara di depannya. Ayah, Ibu, Sungmin dan kakak iparnya tewas dalam kecelakaan itu, meninggalkan Hyukjae dan Jeno-putra Sungmin-selamanya. Kabarnya mereka semua mengalami kecelakaan saat dalam perjalanan ke Seoul untuk menjenguk Hyukjae.
Hyukjae terlihat tegar. Ia berusaha terlihat kuat didepan orang lain walau sebenarnya Donghae yakin, Hyukjae sangat hancur.
Donghae menahan keinginan kuat dalam hatinya untuk menarik bahu Hyukjae untuk kemudian memeluk tubuh kurus itu.
Semuanya begitu tiba- tiba, Donghae tidak tahu apa yang akan terjadi padanya jika dirinya yang berada diposisi Hyukjae. Mungkin Donghae akan lebih memilih mengubur dirinya hidup- hidup.
"Dia bisa sakit kalau terus kehujanan seperti itu."
Donghae mendesah pelan. Hyukjae tidak bergeming, bahkan berkedip pun tidak. Tapi tidak menolak saat Donghae menggenggam tangannya dan membawanya meninggalkan area pemakaman.
"Kau butuh sesuatu?"
Hyukjae masih bergeming, sehingga Donghae harus menarik lengannya dan memaksa membenamkan kepala Hyukjae di dadanya.
"Menangislah, aku tahu kau butuh itu sekarang."
Dan pertahanan Hyukjae runtuh sudah. Air mata yang sejak tadi ia tahan tidak terbendung lagi. Pria berambut pirang itu menangis didada Donghae. Menunjukkan sisi lemah dan rapuhnya hanya dihadapan Donghae.
Setelah puas menangis Hyukjae akhirnya tertidur. Jeno, bayi kecil itu juga tertidur dipangkuan Hyukjae. Tubuh kecilnya sudah mulai demam karena kehujanan.
Donghae menginjak pedal gas dalam- dalam, berusaha secepat mungkin untuk sampai dirumahnya dan memanggil dokter, sebelum demam Jeno semakin tinggi.
Begitu sampai dirumahnya, Donghae menggendong Jeno lebih dulu, menidurkan bayi berumur enam bulan itu diatas tempat tidurnya. Lalu setelahnya Donghae kembali kemobil untuk membopong Hyukjae dan membaringkannya disamping Jeno yang tertidur pulas.
.::: YOU & I :::.
.::: D & E :::.
Sudah satu minggu sejak Donghae membawa Hyukjae kembali, tapi belum ada perubahan dengan sikap Hyukjae. Pria berambut pirang itu masih saja bersikap dingin dan mengacuhkan Donghae. Jangankan membuka mulutnya, melirik Donghae saja tidak.
Sepanjang hari Hyukjae hanya mengurung diri didalam kamar bersama Jeno. Dia baru akan keluar kamar saat Jeno menangis meminta susu atau lapar. Selebihnya Hyukjae akan kembali sibuk dengan dunianya sendiri.
Donghae juga jarang melihat Hyukjae makan atau minum, membuatnya khawatir kesehatan Hyukjae akan menurun dan berakhir jatuh sakit.
"Aku bawakan Chessecake untukmu."
Hyukjae tengah duduk bersandar diatas tempat tidur sambil memangku Jeno yang sibuk dengan botol susunya.
Donghae baru pulang kerja. Di jalan tadi ia mampir kesebuah toko kue, membelikan beberapa potong Chessecake dan juga Esspreso untuk Hyukjae. Tapi, jangankan senyum manis ataupun sekedar ucapan terima kasih yang Donghae dapatkan, Hyukjae bahkan tidak sedikitpun melirik kue malang itu.
Donghae merasa amat bersalah. Sedikitnya dirinya ikut ambil bagian dari penyebab perubahan sikap Hyukjae. Donghae ingin meminta maaf. Tapi jangankan maaf dari Hyukjae, Hyukjae bahkan tidak meliriknya sama sekali saat Donghae sudah berbicara sepanjang malam sampai mulutnya pegal. Donghae gemas sekali, seharusnya Hyukjae membagi bebannya dan tidak berlarut- larut dalam kesedihan seperti ini. Donghae sangat menghawatirkan Hyukjae. Ia lebih suka Hyukjae yang meledak- ledak untuk menunjukkan perasaannya. Ia lebih suka Hyukjae yang menangis dan memaki jika sedang marah atau sedih. Bukan Hyukjae yang seperti ini. Dingin dan tidak tersentuh.
"Makanlah. Atau kau butuh sesuatu."
Hyukjae tetap bergeming.
Donghae menarik nafas dalam dan menghembuskannya pelan. Baiklah, ia menyerah dulu. Lebih baik sekarang ia mandi dengan air dingin untuk mendinginkan kepalanya yang hampir berasap. Baru setelah itu ia pikirkan lagi bagaimana cara mencairkan gunung es yang bernama Hyukjae.
"Ceraikan aku."
Donghae baru akan membuka pintu saat suara pelan Hyukjae terdengar seperti petir di siang bolong.
Sudah satu minggu Hyukjae mengacuhkannya, menganggapnya seperti makhluk transparan yang tidak terlihat, dan sekalinya Hyukjae membuka mulutnya malah kata- kata yang sama sekali tidak ingin Donghae dengar keluar dari mulut Hyukjae bahkan di dalam mimpi sekalipun.
"Alasanku menikah denganmu adalah demi kebahagiaan kedua orang tuaku. Sekarang mereka sudah tiada, jadi tidak ada alasan lagi untuk kita melanjutkan kesepakatan pernikahan ini. Lagipula, karirmu juga akan baik- baik saja setelah kita bercerai. Saham yang ayahku investasikan di perusahaanmu sudah atas namaku. Tapi kau tenang saja, aku sama sekali tidak tertarik menjadi pesaingmu untuk memperebutkan kursi kepemimpinan. Dan satu lagi, kau juga bisa dengan leluasa kembali pada cinta masa lalumu itu. Jadi...ceraikan aku, Donghae-ssi."
"Tidak."
Donghae masih berdiri di depan pintu tanpa berbalik menghadap Hyukjae.
"Beri aku satu alasan yang tepat untuk tetap mempertahankan pernikahan pura- pura ini."
"Berhenti mengatakan pernikahan ini hanya pura- pura, Hyukjae!"
Kali ini Donghae berbalik menghadap Hyukjae. Matanya memerah dan nafasnya memburu. Sementara Hyukjae tetap dengan wajah datarnya yang terlihat pucat.
Hening cukup lama, hanya terdengar suara rengekan Jeno karena susu dalam botolnya telah kosong.
"Dengarkan aku. Lupakan kesepakatan bodoh itu. Aku memang bodoh karena terlambat menyadarinya, tapi setidaknya aku tetap ingin kau tahu. Aku mencintaimu, Hyukjae. Itu alasan yang kuat untuk tetap mempertahankan pernikahan ini. Karena... Aku... Mencintaimu."
Hyukjae tersenyum sinis.
Cinta.
Donghae bilang cinta padanya?
Cinta macam apa yang dimaksud Donghae disini. Melupakan janji yang ia buat sendiri untuk kemudian pergi bermalam bersama seorang wanita?
Jika seperti itu yang Donghae sebut cinta, lebih baik Hyukjae tidak usah mengenal cinta selamanya.
"Omong kosong."
"Hyukjae!"
"Cintamu hanya omong kosong!"
"Lee Hyukjae!"
Donghae mengerang menahan emosinya. Dirinya memang brengsek, Hyukjae memang terlalu sempurna untuk orang sepertinya. Tapi satu hal, cintanya pada Hyukjae bukanlah omong kosong.
"Cukup Hyukjae, kita selesai dengan ini. Aku memang berharap kau mau berbicara lagi denganku, tapi jika kau hanya mengatakan bahwa cintaku padamu hanyalah omong kosong, lebih baik selamanya kau tidak usah berbicara denganku."
Lebih baik Donghae pergi sekarang juga dari sini, sebelum amarah menguasainya dan berakhir dirinya yang akan menyakiti Hyukjae.
Donghae menghampiri Hyukjae, meraih Jeno yang menangis diatas tempat tidur lalu menggendongnya.
"Aku akan membencimu, Donghae."
Donghae menulikan pendengarannya dan terus berjalan keluar kamar. Dalam hati Donghae berjanji, meskipun dirinya harus merangkak dan berlutut dibawah kaki Hyukjae, akan ia lakukan demi mendapatkan cinta Hyukjae dan juga mempertahankan pernikahan ini.
Benci aku sesukamu... Tapi cintaku ini bukanlah omong kosong... Cintaku tulus dan sepenuh hati...
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
Udah apdetnya ngaret mulu, moment HaeHyuknya seuprit/? pula...apalah daya saya yg amatiran ini... Maafkanlahhh u,u
Segini dulu ya chap 4nya...semoga chap selanjutnya bisa lebih cpet dari ini *halaah paling juga ngaret lagi*
yooo...
See You next chap and happy nice weekend, gaeess...
.
.
.
_DeSTORIA_
