.::: YOU & I :::.
.::: D & E :::.
.
.
.
.
Hari ini adalah hari yang sangat melelahkan untuk Donghae. Setelah seharian terjebak didalam kantornya bersama segunung pekerjaan, tiba dirumah bukannya mendapat sambutan manis untuk melepaskan segala kepenatannya, Donghae justru mendapatkan kejutan yang membuatnya kaget setengah mati. Dimulai dari Hyukjae yang meminta bercerai darinya, lalu pertengkaran mereka sehingga membuat Jeno yang berhenti menangis, hingga ia yang kalang kabut membawa Hyukjae kerumah sakit karena pria berambut pirang itu tiba- tiba jatuh pingsan didalam kamarnya.
"Katakan apa yang harus aku lakukan agar kau mau makan?"
Tanya Donghae dengan raut wajah memelas. Tidak tahukah Hyukjae jika Donghae sudah hampir mencapai batasnya. Dia mengantuk, dia lapar, kepalanya sakit berdenyut- denyut dan sifat keras kepala Hyukjae memperparah segalanya. Bisa saja sebentar lagi giliran Donghae yang pingsan.
"Ceraikan aku."
Itu lagi.
Donghae mengusap wajahnya kasar. Kenapa Hyukjae ingin sekali bercerai darinya? Apa dirinya sama sekali tidak pantas untuk mendapatkan kesempatan bersama Hyukjae? Atau dirinya sejenis makhluk terkutuk yang terlarang untuk di dekati?
"Please, Hyukjae. Aku rasa kita sudah selesai dengan masalah yang satu itu."
Donghae mendesah frustasi, mulai mengacak- acak rambutnya. Kedua mata sendunya menatap Hyukjae dengan lelah.
"Sampai matipun aku tidak akan menceraikanmu."
"Kau gila!"
"Ya, dan orang gila ini begitu tergila- gila padamu."
Donghae membuka kantung plastik berisi kotak makanan yang tadi ia bawa dan mulai memakan isinya. Berdebat dengan Hyukjae membuat perutnya yang memang sudah kelaparan menjadi semakin keroncongan. Jadi, sebelum dirinya berakhir dengan memalukan karena jatuh pingsan disebabkan karena kelaparan, Donghae memutuskan untuk segera menyantap makanannya. Donghae makan seperti orang kalap, tidak memperdulikan Hyukjae yang terus menatapnya sengit. Biar saja, kalau sudah benar- benar kelaparan nanti juga istrinya itu akan makan.
"Hai Lee Hyukjae-ku yang semakin seksi, bagaimana keadaanmu?"
Seseorang bertubuh tinggi tegap dengan jas putih yang membalut pas tubuhnya tiba- tiba memasuki ruangan rawat Hyukjae. Yang langsung disambut dengan senyuman manis oleh pria berambut pirang itu.
Nafsu makan Donghae hilang sudah. Apa- apaan itu? Donghae yang susah payah merayu sampai jungkir balik saja tidak pernah diberi senyum semanis itu, tapi orang ini hanya dengan berkata seperti itu saja Hyukjae sudah tersenyum sangat lebar. Donghae jadi ingin marah.
Dan apa katanya tadi? Lee Hyukjae-ku? Orang ini minta dihajar atau bagaimana?
"Buruk."
Hyukjae mendelik sengit pada Donghae yang masih duduk disofa.
"Ada keluhan?"
"Kau tahu Siwon, aku akan segera sembuh jika kau mengijinkanku keluar dari sini."
Siwon tersenyum sambil terus memeriksa kondisi Hyukjae. Sementara Donghae melotot tidak terima pada bagian dimana Siwon dengan seenaknya membuka kancing baju pasien Hyukjae hingga dada dan perut putih prianya itu terekspos dengan bebasnya.
"Perhatikan makanmu, Hyukjae."
Dari hasil diagnosa, Hyukjae dinyatakan menderita gangguan lambung akut dan juga anemia. Sehingga menyebabkan pria itu jatuh pingsan kemarin.
"Atau kau sengaja membuat dirimu sakit agar bisa bertemu denganku lagi, hm?"
"Whatever."
Donghae berdehem dengan keras. Rupanya dokter itu mengajaknya berkelahi. Berani- beraninya Siwon menggoda Hyukjae di depannya.
Sementara, Siwon terlihat terkejut atas keberadaan Donghae yang tengah duduk disofa sambil melipat tangan didadanya.
"Oh maaf, aku tidak melihatmu duduk disitu, Tuan Lee."
What the fucking hell !
Donghae rasanya ingin mengamuk saja. Apa dirinya tiba- tiba menjadi makhluk transparan sehingga Siwon tidak melihat dirinya tengah duduk sambil melotot padanya dan Hyukjae sedari tadi. Kurang ajar!
"Tanganmu tolong dikondisikan, Uisa-nim."
Siwon yang masih memeriksa Hyukjae tampak sedikit salah tingkah. Ia hanya tersenyum menanggapi sikap Donghae yang jelas sekali menunjukkan ketidak sukaan terhadapnya.
Well, Siwon dan Hyukjae adalah teman lama. Mereka cukup dekat saat kuliah. Sebenarnya Siwon menyukai Hyukjae sejak dulu, tapi pria manis itu tidak pernah serius menanggapi perasaannya dan hanya menganggap Siwon sebagai seorang sahabat saja. Dan kabar mengenai pernikahan Hyukjae dan Donghae membuat Siwon cukup terkejut, pasalnya ia tidak pernah mengetahui jika Hyukjae tengah berhubungan dengan seseorang.
"Habiskan makananmu, maka aku akan mengijinkanmu pulang besok."
Hyukjae mendengus tapi tidak mengucapkan sepatah katapun, bahkan saat Siwon keluar dari kamar rawatnya, setelah sebelumnya mendapatkan tatapan super tajam dari Donghae, Hyukjae tetap menutup mulutnya.
"Siapa dia?"
Hyukjae bergeming, menutup mata dan berpura- pura tidur.
"Siapa dia? Jawab aku! Aku tahu kau tidak tidur, Hyukjae!"
"Dia dokter yang merawatku."
"Apa hubunganmu dengannya?"
"Dia mantan kekasihku."
Sialan.
Ingin rasanya Donghae membanting Hyukjae keatas ranjang lalu menindihnya. Jadi sejak tadi dirinya bagaikan seekor lalat malang yang menjadi saksi sebuah acara nostalgia sepasang mantan kekasih.
"Jangan bertemu lagi dengannya."
"Kau mengaturku? Kau pikir kau siapa?"
"Aku masih suamimu yang sah, Lee Hyukjae-ssi."
Hyukjae diam. Tapi mata sipitnya menatap tajam pada Donghae. Andai saja sebuah tatapan bisa membunuh, bisa dipastikan Donghae sudah terkapar tak bernyawa dilantai dingin rumah sakit.
"Kau tidak perlu repot- repot mengingatkan apa posisimu karena aku sama sekali tidak perduli. Jadi pergilah, tinggalkan aku. Aku akan baik- baik saja tanpa dirimu. Maafkan aku karena telah menyeretmu terlalu jauh dalam hal ini, tidak seharusnya aku menjadikanmu alat untuk memenuhi semua keinginan mendiang kedua orang tuaku."
Donghae mencelos. Sadis sekali Hyukjae mengatakan bahwa dirinya hanya dijadikan sebuah alat untuk meluluskan keinginannya dan kedua orang tuanya. Padahal dirinya sudah benar- benar mencintai Hyukjae dengan tulus.
Untuk beberapa saat hanya keheningan yang tercipta diantara mereka. Hingga Donghae menghampiri Hyukjae lalu kemudian mengelus pucuk kepala berambut pirang itu dengan lembut.
"Sepertinya kau butuh waktu untuk sendiri. Aku pergi dulu tapi aku akan kembali lagi, kau istirahatlah."
Bahkan nyawa pun akan kuberikan untukmu walaupun pada kenyataannya kau hanya memanfaatkanku...
..
..
Karangan bunga mawar merah super besar lagi- lagi bertengger manis di depan kamar rawat Hyukjae, lengkap dengan selembar kartu ucapan berwarna merah jambu yang membuat Hyukjae sakit mata.
Hyukjae menghela nafas, lalu membawa karangan bunga tersebut ke pojok ruangan. Ini adalah ketiga kalinya Donghae memberikan karangan bunga super girly seperti ini padanya, tapi anehnya orang itu tidak pernah lagi datang setelah pertengkaran mereka tiga hari yang lalu.
"Kau sudah siap?"
Tiba- tiba suara berat seseorang menarik Hyukjae dari lamunannya dan sosok Kyuhyun muncul dari balik pintu.
Hyukjae mengernyit. Untuk apa Kyuhyun datang kesini? Siap? Siap untuk apa?
"Aku utusan Donghae yang ditugaskan untuk menjemputmu. Atau dalam kasus ini, Donghae memaksaku untuk menjemputmu, Hyukjae Hyung."
Ohh, ternyata Donghae yang mengutus Kyuhyun untuk menjemputnya. Tch! Memangnya Donghae kira dirinya anak kecil yang harus dijemput dan diantar kesana kemari? Hello...dia adalah pria dewasa yang bisa membawa dan menjaga diri. Lagipula kenapa Donghae malah mengutus titisan iblis ini? Seharusnya bocah sialan itu yang datang sendiri untuk menjemputnya, bukannya malah menghilang selama tiga hari dan hanya mengiriminya bouquet mawar super besar yang sama sekali tidak berguna, lalu kemudian mengutus antek- anteknya kesini.
Tch, brengsek!
"Kuharap kau tidak mempersulitku kali ini."
Sialan! Donghae dan antek- anteknya memang sekumpulan bocah barbar tidak berguna. Apa maksudnya dengan mempersulit? Memang apa yang Hyukjae lakukan? Sepertinya dirinya memang harus segera menjauh dari mereka atau Hyukjae akan segera menjadi sinting. Bukan! bukan sepertinya! Tapi ia memang harus segera menjauh.
"Ah, kau sudah siap- siap untuk pulang?"
Tadi Kyuhyun, sekarang Siwon. Kenapa dipagi hari yang cerah ini Hyukjae selalu dikagetkan oleh orang- orang tidak penting seperti mereka.
"Hnn."
Hyukjae memakai jacketnya, lalu bersiap menenteng tasnya. Hari ini ia diizinkan keluar dari rumah sakit setelah melalui perdebatan panjang dengan Siwon. Ia sangat merindukan Jeno, semenjak dirawat dirumah sakit ia tidak bertemu dengan bayi laki- laki itu.
"Oh, ada temanmu? Perkenalkan, aku Siwon Choi... Dokter yang merawat Hyukjae."
"Oh."
Singkat, padat dan tidak jelas. Kibum sekali. Tapi yang ini Kyuhyun.
"Oh? Hanya oh?"
"Lalu?"
Siwon mengerjap. Pria didepannya ini sangat berbeda. Jika biasanya saat Siwon mengucapkan namanya disertai dengan senyum sejuta watt andalannya, siapa pun akan dengan senang hati menyerahkan diri padanya. Tapi Kyuhyun hanya menanggapinya dengan satu kata 'Oh'. Luar biasa.
"Siapa namamu, manis?"
"Manis kepalamu."
Siwon melongo. Kyuhyun benar- benar luar biasa. Sifat ketus dan kata- kata pedas yang keluar dari mulutnya membuatnya penasaran dan merasa tertantang.
Sementara Hyukjae sudah medengus geli sedari tadi melihat Siwon yang mencoba menarik perhatian Kyuhyun.
"Berhenti dengan sifat flamboyanmu yang menjijikan itu karena dia tidak akan mudah termakan bualanmu, Dokter Choi."
"Ah My Hyukjae, kau meragukan pesonaku?"
Hyukjae mendengus, "Terserahmu saja."
Berdebat dengan Siwon tidak akan memberikan keuntungan apapun untuknya. Sama halnya seperti berdebat dengan Donghae. Sama- sama membuatnya sakit kepala.
"Cepat, Hyung. Dan kau berhenti menatapku dengan ekspresi cabulmu itu, Uisa-nim!"
..
..
Hyukjae mengernyit saat Kyuhyun malah membawanya ke sebuah daerah perumahan dikawasan elit, bukannya ke apatement Donghae. Kemana Kyuhyun akan membawanya?
"Kita akan kemana?"
"Kau akan tahu setelah sampai."
Dan tidak lama kemudian, mobil yang dikendarai Kyuhyun memasuki halaman sebuah rumah besar dan mewah. Kyuhyun keluar lebih dulu, lalu mengeluarkan barang- barang bawaan Hyukjae dari dalam bagasi.
"Rumah siapa ini?"
"Masuk saja sana. Nanti juga kau tahu."
Meski ragu, Hyukjae mulai membawa langkahnya mendekati pintu besar rumah tersebut.
"Jangan lupa kopermu, Hyukjae."
"Bawakan."
Oh sial sekali.
Kyuhyun mengumpat panjang pendek. Tadi pagi Donghae yang dengan tidak tahu dirinya telah mengganggu tidur berharganya hanya untuk menyuruhnya menjemput Hyukjae dirumah sakit. Membuatnya harus berurusan dengan seorang Dokter yang tidak berhenti menatapnya dengan ekspresi cabulnya. Lalu sekarang Hyukjae, dengan tidak berperasaan menyuruhnya membawa tas dan koper pria cantik itu. Kalau saja Donghae bukan sahabatnya, Kyuhyun tidak akan sudi menjadi pesuruh seperti ini.
"Selamat dataaaang~~"
Hyukjae berjengit kaget. Begitu pintu besar itu terbuka, dirinya langsung disambut dengan suara nyaring terompet dan tebaran konfenti berwarna warni. Donghae berdiri dihadapannya sambil menggendong Jeno. Yunho ada disisi kanannya dan Kibum disisi kirinya.
"Kekanakan. Umurnya saja yang tua, tapi kelakuannya masih seperti bocah."
Kyuhyun mengguman. Tampaknya ia masih tidak terima dirinya diperlalukan semena- mena seperti ini.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Hyukjae setelah selesai dengan keterkejutannya.
"Pesta penyambutan, tentu saja."
Donghae tersenyum lebar sekali. Yang entah kenapa terlihat begitu menyebalkan dimata Hyukjae. Pesta penyambutan katanya? Memangnya Hyukjae habis dari mana sampai harus disambut seperti ini? Dirinya hanya dirawat dirumah sakit tidak lebih dari satu minggu, tapi Donghae menyiapkan pesta seperti akan menyambut kedatangan seorang Presiden. Dengan berbagai macam makanan dan minuman yang bertumpuk diatas meja, juga hiasan- hiasan pesta kekanakan yang menggelantung di dinding, dan ah...jangan lupakan ratusan tangkai bunga mawar merah yang menghiasi di setiap sudut ruangan. Donghae seperti berniat memindahkan sebuah kebun bunga kerumah ini.
"Berikan Jeno padaku."
Hyukjae memindahkan Jeno dalam kedalam gendongannya, lalu menciumi setiap inchi wajah menggemaskannya. Hyukjae sangat merindukannya, hampir satu minggu ia tidak bertemu dengan balita menggemaskan itu.
"Dimana kamarku?"
"Akan kuatar."
"Tidak perlu, aku bisa sendiri. Katakan saja dimana letak kamarnya."
Donghae menghela nafas. Hyukjae masih saja bersikap dingin padanya.
"Setelah tangga belok ke kanan, kamar pertama."
Lalu Hyukjae meninggalkan Donghae dan yang lainnya tanpa berkata apa- apa dengan membawa serta Jeno bersamanya.
"Dia butuh waktu, bung."
Donghae kembali menghela nafasnya saat Kibum merangkul bahunya. Dalam hati membenarkan apa yang dikatakan sahabatnya itu. Hyukjae butuh waktu untuk bisa memaafkan dan menerimanya kembali. Dan Donghae akan menunggu Hyukjae dengan segenap kesabarannya.
Ambil waktu sebanyak yang kau mau Hyukjae...
Dan aku akan selalu menunggumu disini...
.::: YOU & I :::.
.::: D & E :::.
Jadi, mulai dari beberapa hari yang lalu, pagi yang damai, aman dan tentram sudah tidak ada lagi dirumah besar Donghae. Pada pukul empat pagi, saat matahari pun masih belum menampakan wujudnya, tangisan keras Jeno menjadi alarm pertama. Balita berusia tujuh bulan itu menangis meraung- raung. Hingga suara tangisannya menggema kesegala penjuru rumah yang sepi.
"Ok sayang, aku datang."
Dengan mata masih sangat mengantuk Hyukjae bangkit dari tempat tidurnya, menyingkirkan selimutnya dengan asal lalu berjalan ke box tempat tidur Jeno. Balita itu menangis terisak- isak dan kakinya menendang- nendang dengan liar.
"Oh ya Tuhanku."
Hyukjae sangat mengantuk. Jeno rewel semalaman. Ia berkali- kali bolak- balik menggendong Jeno, berusaha menenangkan bayi laki- laki itu dengan berbagai cara. Tapi baru sekejap bayi itu tertidur kemudian Hyukjae menaruhnya di box bayinya, bayi itu sudah kembali menangis.
"Kenapa sayang? Kau mau susu? Popokmu basah? Atau jangan- jangan kau mimpi buruk?"
Hyukjae berbicara dengan Jeno seolah bayi itu akan bisa menjawab pertanyaannya. Kemudian Hyukjae menggendongnya sambil menepuk- nepuk punggungnya pelan, tapi tetap saja segala usahanya kali ini tidak bisa meredakan tangisan Jeno. Bayi itu masih terus saja menangis, membuat Hyukjae jadi ingin ikut menangis juga. Sejujurnya Hyukjae sangat tidak ahli dalam hal mengurus bayi. Justru Donghae yang lebih luwes dalam hal mengurus Jeno. Sebenarnya Hyukjae bisa saja menyerahkan Jeno pada kakek dan neneknya yaitu orang tua dari Saeun, istri Sungmin. Tapi Hyukjae tidak melakukannya, karena baginya Jeno adalah satu- satunya kenangan yang tersisa dari mendiang kakaknya. Satu- satunya keluarga dekat yang ia miliki.
"Hyukjae, ada apa? Jeno kenapa? Buka pintunya!"
Donghae masuk dengan wajah khawatir setelah Hyukjae membukakan pintu kamarnya. Pria tampan itu masih mengenakan pakaian kerjanya. Donghae baru saja tiba dari luar kota setelah beberapa hari untuk mengurus masalah disalah satu kantor cabang perusahaannya dan langsung disambut dengan suara tangisan Jeno yang terdengar sampai ke pintu depan.
"Biar kugendong."
Donghae menawarkan bantuan tapi Hyukjae mengacuhkannya. Hyukjae malah keluar kamar lalu tidak lama kemudian kembali lagi dengan membawa sebotol susu, akan tetapi Jeno menolak untuk meminum susunya dan masih saja menangis. Menit demi menitpun berlalu dan Jeno masih saja menangis, hingga pipi gembilnya memerah dan basah dengan air mata.
Donghae gemas, memaksa meraih Jeno kedalam gendongannya, lalu menimang- nimangnya. Mengacuhkan Hyukjae yang sudah melotot keji kepadanya.
"Hai jagoan. Kenapa menangis? Kau merindukan Daddy, hm?"
Lihat bagaimana Jeno langsung tenang dalam gendongan Donghae. Bayi itu langsung berhenti menangis dan menatap Donghae dengan kedua mata bulatnya yang berair. Hyukjae merasa jengkel, dirinya semalam menggendong Jeno sampai punggungnya terasa hampir patah, namun Jeno terus saja menangis. Tapi baru sekejap Donghae menimangnya, balita menggemaskan itu langsung berhenti dari acara menangisnya.
Hyukjae memperhatikan mereka dari ujung tempat tidur, lalu tersenyum diam- diam. Rasa jengkel dan lelahnya menguap entah kemana saat melihat bagaimana Donghae begitu luwes menggendong Jeno. Ia akan berterima kasih pada Donghae kapan- kapan. Ia tahu Donghae baru pulang. Bahkan pria itu belum mengganti pakaiannya, masih lengkap dengan dasi yang sudah dilonggarkan dan lengan kemeja yang sudah digulung sampai siku. Wajah Donghae juga terlihat sangat lelah dan mengantuk.
"Putraku Jeno akan menjadi anak yang sanagt tampan. Dan Daddy-mu yang tampan ini akan mengajarkanmu banyak hal agar kelak suatu hari nanti kau akan menjadi laki- laki yang hebat."
Donghae terus mengoceh, mengajak Jeno berbicara seolah bayi itu paham dengan apa yang diucapkannya. Hingga bayi berusia tujuh bulan itu kembali tertidur dengan nyaman dalam gendongannya.
"Memang apa yang akan kau ajarkan padanya?"
"Aku akan mengajarkannya agar tidak menjadi laki- laki sepertiku?"
"Memangnya kau laki- laki seperti apa?"
Laki- laki brengsek
Donghae hanya bisa terdiam kaku, menatap dengan hampa sepasang mata Hyukjae yang entah memancarkan apa.
Hening.
Baik Donghae maupun Hyukjae tidak ada yang bersuara. Donghae masih tetap menimang- nimang Jeno dalam gendongannya. Bayi itu sudah tertidur dengan sangat lelap dalam dekapan hangat Donghae. Sementara Hyukjae masih berusaha berkonsentrasi agar tetap bersikap tenang, walaupun di dalam hatinya ada gemuruh seperti badai yang siap memporak porandakan tatanan hati yang sudah susah payah ia susun kembali.
"Kenapa menidurkannya disini, taruh di box bayinya."
"Dia tidur disana sendirian, pasti dia akan kesepian."
Donghae ikut berbaring disamping Jeno, membelai pipi gembil pangeran kecilnya dengan lembut.
"Tidurlah anakku, daddy menyayangimu."
"Dia anakku!"
"Kita pasangan menikah kalau kau lupa. Jadi, kalau Jeno anakmu secara otomatis dia juga menjadi anakku, Hyukjae sayang."
Dengan gerakan secepat angin, Donghae menarik Hyukjae hingga pria berambut pirang itu jatuh tertelungkup diatasnya tanpa sempat memberikan perlawanan.
"Sialan!"
"Aku mengantuk, biarkan aku tidur sebentar saja."
"Lepaskan aku! Keluar dari kamarku dan tidurlah dikamarmu sendiri."
"Ini kamar Jeno."
Semenjak kembali dan Donghae memboyongnya dan Jeno kerumah ini, Hyukjae memang menolak untuk tidur satu kamar dengan Donghae. Dia memilih tidur dikamar tamu yang letaknya berada dilantai bawah. Kemudian Donghae merenovasi kamar yang Hyukjae tempati, membobol salah satu dindingnya untuk dijadikan sebuah pintu yang bisa langsung terhubung dengan kamar yang ia jadikan kamar Jeno. Bahkan Donghae menyulap kamar Jeno menjadi sebuah kamar yang khas anak- anak sekali. Itulah alasannya kenapa Donghae tidak menampakan dirinya selama tiga hari saat Hyukjae dirumah sakit.
"Aku rindu padamu. Rindu sekali."
Hyukjae tidak bergeming. Meski sekarang posisinya tidak lagi tertelungkup diatas tubuh Donghae, melainkan berbaring membelakangi Donghae dengan Donghae yang memeluk pinggangnya erat.
"Berapa lama?"
Donghae menumpukan keningnya pada pucuk kepala Hyukjae, menghidu aroma rambut Hyukjae sepuas hatinya, seolah hanya kali inilah kesempatannya.
"Apa?"
"Berapa lama waktu yang kau butuhkan untuk bisa memaafkan dan menerimaku kembali?"
Sepanjang sejarah kisah percintaannya, Donghae tidak pernah merasa semenyedihkan ini. Bahkan ketika dulu Jaekyung mengkhianatinya dengan kejam pun Donghae tidak merasa semenderita ini. Tapi kali ini hanya karena Hyukjae, seorang laki- laki yang berusia sepuluh tahun lebih tua darinya yang dengan sangat percaya diri mengajaknya menikah. Dunia Donghae seperti di jungkir balikan. Kini Donghae harus mengiba dan mengemis- ngemis maaf dan cinta Hyukjae. Membuang jauh- jauh harga diri yang selama ini Donghae junjung tinggi- tinggi. Demi Tuhan, ini hanya karena seorang Lee Hyukjae.
"Beri aku satu kesempatan untuk menyembuhkan lukamu."
Hyukjae memejamkan matanya.
Berapa lama?
Hyukjae juga tidak tahu. Luka yang Donghae torehkan memang menyakitkan karena telah melukai perasaan dan kepercayaannya. Sehingga Hyukjae merasa tidak akan pernah bisa memaafkan Donghae. Tapi perlakuan Donghae selama ini membuat hatinya sedikit goyah. Terlebih lagi pria itu begitu menyayangi Jeno, seolah Jeno adalah anak kandungnya.
Hyukjae menarik nafas berat. Ia sukses dilanda dilema.
Jika ia memberi Donghae kesempatan lagi, dirinya hanya terlalu takut Donghae akan melukainya lagi suatu saat nanti. Tapi jika ia menolak memberi Donghae kesempatan lagi, pasti akan sangat terasa tidak adil. Mengingat apa yang telah Donghae berikan padanya dan Jeno.
"Baiklah."
"Terima kasih."
..
..
"Ayo sayang. Sedikit lagi! Jangan menyerah!"
Suara Donghae memecahkan kedamaian di siang hari yang cerah di rumah besarnya. Hyukjae yang sedang menonton televisi hanya bisa mendengus sebal. Sejak tadi pagi Donghae memang menjadi super berisik dan itu sangat mengganggu ketentramannya.
"Ya benar. Benar begitu, sayang. Sedikit lagi! Sedikit lagi! Aw...aw...aw...Yeaahhh!"
Bahkan kali ini Donghae sudah berteriak dan berguling dilantai seperti orang gila.
"Benar sekali, sayang. Seperti itu. Aww...kau memuatku bangga, jagoan!"
Donghae mendadak menjadi gila dan berisik hanya demi untuk mengajari Jeno bagaimana caranya merangkak. Diusianya yang hampir menginjak delapan bulan, perkembangan bayi montok itu memang sedikit terlambat. Makanya sejak tadi pagi, Donghae dengan semangat menggebu melatih putra kesayangannya itu untuk merangkak.
Hyukjae diam- diam tersenyum. Melihat Donghae yang sudah melakukan begitu banyak hal untuknya dan Jeno membuat hatinya terasa menghangat tiba- tiba. Donghae tidak pernah segan- segan untuk bangun hanya demi membuatkan susu untuk Jeno yang kelaparan tengah malam, atau menggantikan popoknya yang basah. Padahal pada saat itu Hyukjae hanya tertidur pulas bergelung selimut hangat diatas ranjangnya. Donghae juga rela meninggalkan seluruh pekerjaannya hanya demi membantu dirinya merawat Jeno yang rewel karena demam.
"Hyukjae, ayo kita kencan."
Kini Donghae sudah berbaring diatas karpet bulu dengan Jeno yang ia dudukan diatas perutnya.
Hyukjae mengentikan kunyahan pocky didalam mulutnya lalu menatap Donghae yang masih asik menciumi hidung dan pipi gembil Jeno sampai wajahnya memerah. Tapi balita itu sama sekali tidak menangis justru tersenyum dengan lebarnya hingga menampakan gusi merah mudanya yang belum ditumbuhi gigi. Bahkan balita itu seolah tertawa saat air liurnya kini membasahi wajah Donghae.
"Kau bilang akan mencoba memberiku kesempatan dan kurasa kencan adalah salah satu cara untuk mendekatkan diri."
"Tidak."
"Kenapa tidak?"
" Aku banyak pekerjaan, lagipula aku tidak bisa meninggalkan Jeno sendirian."
"Ayolah, Hyuk... Kau sama sekali tidak sibuk dan jangan khawatir soal Jeno, aku yang akan mengurus semuanya."
Donghae tersenyum manis, tapi justru terlihat sangat menyebalkan dimata Hyukjae. Hari ini dia sedang tidak ingin melakukan apapun selain bermain seharian dengan Jeno dan juga tidur. Untuk mengganti tidurnya tadi malam yang terganggu karena Jeno yang menangis semalaman. Dan yang terpenting, dirinya tidak butuh kencan. Yang benar saja, dihari yang cerah nan indah ini kenapa ia harus pergi berkencan dengan Donghae. Buang- buang waktu saja.
"Tidak-
"Aku punya dua tiket konser musik. Super Junior, kau mengidolakan mereka 'kan?"
"Aku-
"Setelah itu kita bisa makan malam romantis. Ah, aku akan pesan tempat direstorant favorit kita."
"Ti-
"Atau kau ingin berbelanja? Kau-
"Demi setan, Lee fucking Donghae! Berhenti memotong ucapanku!"
Hyukjae menggebrak meja. Donghae menutup mulutnya dalam sekejap. Wow, Hyukjae seperti macam betina yang terinjak ekornya. Galak dan mengerikan. Ini Donghae baru mengajaknya kencan, apalagi jika Donghae mengajaknya kencan diranjang? Donghae pasti sudah babak belur.
"Kau mau kencan? Sungguh? Baiklah, kita akan berkencan... Persiapkan dirimu."
Dan demi setan yang tadi disebut- sebut Hyukjae, apa Donghae baru saja melihat Hyukjae menyeringai?
Ini pertanda buruk
.
.
Damn!
Kali ini Donghae rasanya ingin sekali mengumpat dan bersumpah serapah. Demi Kyuhyun si bocah titisan iblis, ini sama sekali tidak lucu!
Jadi kencan dalam versi Hyukjae adalah yang seperti ini? Oh, Tuhan...jika Donghae tahu dirinya akan berakhir disini, lebih baik tadi ia tidak memaksa Hyukjae untuk berkencan dengannya. Ini lebih buruk dari pada dirinya yang harus mengganti popok Jeno saat balita itu buang air besar. Demi Tuhan, dia adalah seorang pria dewasa yang berkharisma tinggi dan Hyukjae membawanya kencan ke tempat seperti ini? Taman bermain? Yang benar saja?!
"Roller coaster."
Donghae menoleh pada Hyukjae dengan gerakan leher patah- patah. Kalau ia tidak salah dengar tadi Hyukjae bilang apa? Roller coaster? Kenapa Donghae tiba- tiba merinding?
"A-apa?"
"Kau lihat itu? Ayo kita naik Roller coaster."
Hyukjae tersenyum sambil menunjuk wahana naga besi yang tengah meliuk- liuk, tapi senyum manis itu tiba- tiba terlihat sangat mengerikan dimata Donghae.
"Kau takut."
"Iya- ah, maksudku tidak. Mana mungkin aku takut hanya dengan benda itu."
"Kalau begitu tunggu apalagi? Ayo kita berkencan disana."
Oh tidak...
.::: YOU & I :::.
.::: D & E :::.
Donghae menatap ketiga sahabatnya yang duduk berjejer di sofa panjang ruang kerjanya dengan bosan. Mereka datang kesini beberapa menit yang lalu dengan beberapa kantong berisi makanan. Ingin mengajak Donghae makan siang bersama katanya. Tapi Donghae sedang tidak nafsu makan. Kepalanya pusing dan perutnya juga masih terasa mual. Efek yang tersisa dari acara kencannya dengan Hyukjae kemarin yang gagal total. Donghae nekat menaiki Roller coaster untuk demi menjaga wibawanya di depan Hyukjae. Padahal sudah jelas- jelas ia takut ketinggian. Namun pada akhirnya Donghae harus rela saat Hyukjae mentertawakannya habis- habisan karena ia yang tidak bisa berhenti berteriak saat Roller Coaster itu meliuk-liuk diatas lintasannya. Dan yang lebih memalukannya lagi, Donghae turun dari wahana permainan itu dengan kaki gemetar dan hampir pingsan.
"Kau tidak makan makananmu? Buatku saja ya?"
Yunho menyambar sekotak daging asap milik Donghae bahkan sebelum Donghae mengijinkannya. Beruang Jung itu makan dengan sangat lahap seperti seekor beruang sungguhan yang tidak makan selama berminggu- minggu. Bahkan pria tinggi itu tidak peduli dengan mulutnya yang belepotan remah- remah makanan.
"Apa Jaekyung masih menghubungimu?"
Tanya Kibum, setelah selesai dengan makanannya. Hanya dia yang terlihat makan dengan wajar, tidak seperti dua orang yang sampai sekarang masih saja heboh memperebutkan sepotong daging asap.
Donghae mengehela napas pelan sambil mengendurkan simpul dasinya. "Tidak. Dia bilang akan kembali ke Amerika."
"Kau percaya?"
"Entahlah."
Donghae menggedikan kedua bahunya dengan acuh, lalu membawa punggungnya bersandar pada sandaran kursi. Dia tidak perduli apa yang Jaekyung mau kemana dan apa yang akan wanita itu lakukan. Donghae malas memikirkannya dan tidak mau peduli. Memikirkan nasib rumah tangganya dengan Hyukjae saja sudah membuatnya pusing tujuh keliling. Apalagi harus memikirkan hal lain, yang ada Donghae akan terkena kram otak lalu kemudian mati. Eww mengerikan.
"Oh iya, lusa kau akan ke Amerika?"
Tanya Yunho setelah memasukan sepotong melon ke dalam mulutnya. Yang di jawab Donghae hanya dengan gumaman pelan.
"Untuk apa? Menyusul Jaekyung?"
Donghae berdecih, "Mati saja sana kau, setan!"
Yang benar saja?! Dalam mimpi pun Donghae tidak pernah punya niatan untuk menyusul wanita itu. Dirinya hanya memfokuskan diri untuk mengejar Hyukjae dan memperbaiki hubungan pernikahan mereka yang berada di ujung tanduk. Ah, bicara tentang Hyukjae, Donghae jadi ingat kalau ia belum memberi tahu Hyukjae bahwa lusa ia akan ke Amerika untuk urusan pekerjaan.. Pria cantik itu selalu sibuk dengan Jeno sampai- sampai mengabaikan eksistensi suami tampannya. Hubungannya dengan Hyukjae memang sudah tidak setegang sebelumnya, walaupun terkadang pria cantik itu masih suka bersikap dingin dan acuh padanya.
"Kau akan mengajak Hyukjae Hyung?" tanya Kyuhyun sambil membereskan kotak- kotak makanan yang kini telah kosong.
Donghae baru saja memikirkannya. Mengajak Hyukjae ke Amerika? Untuk berbulan madu dengan dalih pekerjaan? Sepertinya bukan ide yang buruk. Hitung- hitung untuk mengganti acara bulan madu mereka yang batal karena dirinya yang jatuh sakit. Tapi masalahnya, apa Hyukjae akan setuju pergi dengannya? Ke Amerika? Di ajak pergi kencan saja, Donghae hampir pingsan dibuatnya. Apalagi jika Donghae mengajaknya ke Amerika dengan tujuan berbulan madu, mungkin umurnya akan terpangkas separuhnya ditangan Hyukjae. Oh sial! Kenapa Donghae jadi merasa kalau dirinya adalah suami yang takut pada istrinya.
"Tentu saja."
Dia lah sang dominan disini. Jadi, bagaimanapun caranya Hyukjae harus mau ikut dengannya ke Amerika. Titik.
..
..
"Aku tidak mau."
Tapi nyatanya, Hyukjae langsung menolak mentah- mentah ajakannya, bahkan sebelum Donghae menyelesaikan kalimatnya.
"Kenapa tidak?"
"Kenapa aku harus?"
"Ayolah, Hyuk...kali ini saja."
Donghae mengusak rambutnya dengan gemas. Sudah kehabisan akal untuk membujuk Hyukjae agar berkata iya. Sementara Hyukjae hanya menanggapinya dengan acuh. Pria cantik hanya sibuk bermain dengan Jeno diatas karpet berbulu, bayi berpipi gembil itu tengah menggigiti mainan bebek karetnya hingga air liurnya meleber kemana- mana. Donghae jadi gemas sendiri. Maka dari itu, dengan gerakan secepat kilat meyambar, Donghae menerjang Hyukjae, mengukung pria cantik itu dibawah tubuh kekarnya.
Hyukjae melongo saking terkejutnya, lalu meringis karena kepala bagian belakangnya sempat terantuk mainan mobil- mobilan Jeno.
"Nappeun ssaeki! Aku bisa gegar otak!"
Donghae tidak peduli meskipun Hyukjae sudah melotot padanya.
"Ikut aku ke Amerika."
"Aku bilang tidak ya tidak. Kau ini...
Hyukjae tidak sempat menyelesaikan kalimatnya karena Donghae sudah lebih dulu menyambar bibirnya. Menggigit dan menghisapnya dengan rakus.
"Kau memilih ikut atau aku akan terus menciumu seperti ini tanpa henti."
Jangankan untuk melawan, untuk mengambil nafas saja Hyukjae kerepotan. Donghae kembali memangsa habis bibirnya. Maka tidak ada yang bisa Hyukjae lakukan selain mengalungkan lengannya dileher Donghae lalu membalas ciuman Donghae yang semakin lama semakin menuntut. Dalam hati Hyukjae mengumpati dirinya sendiri yang bisa kalah dengan mudah hanya karena ciuman Donghae.
"Hentikan." Pinta Hyukjae disela- sela gerakan bibir Donghae dibibirnya. Hyukjae merasa harus menghentikan ini sebelum dirinya berakhir terkapar tanpa pakaian diatas karpet.
"So?"
"Baik, aku ikut." jeda sebentar saat Donghae mengecup ringan bibirnya yang bengkak dan basah. "Asalkan kita membawa Jeno."
"Tentu saja jagoan kecil kita akan ikut."
"Bagus. Sekarang menyingkirlah, kau berat."
Donghae melepaskan Hyukjae dengan tidak rela. Setelah sekian lama menahan diri, akhirnya ia bisa menyentuh bibir Hyukjae yang begitu memabukkan itu lagi. Tidak bisakah mereka melanjutkan yang tadi itu. Demi Jeno yang sekarang tengah sibuk dengan mainan bebek karetnya, celana Donghae sudah terasa sangat sempit. Sesuatu di dalamnya seperti berontak minta dibebaskan.
"Bantu aku, Hyuk. Celanaku jadi sesak."
"Urus sendiri."
Dan Hyukjae dengan santai pergi dari sana bersama Jeno dalam gendongannya. Tanpa peduli dengan keadaan Donghae dan sesuatu didalam celananya yang semakin meronta- ronta minta dibebaskan.
Sial sekali
.
.
.
.
TBC
.
.
.
Alohaa~~
Hamdalah...Setelah sekian taon, akhirnya ff abal ini up juga... Maafkeun saya yg sudah dengan kejamnya menelantarkan ff ini, bukan maksud hati buat ngegantungin, cuma yaa...gitu deh...sedih dah kalo diceritain mah...
Btw, saya mau bilang makasih buat teman- teman yg udah dengan kejamnya meneror saya supaya cepat up sampe akhirnya terciptalah chap yg super gaje ini wkwk kalean memang terbaeeeekk !
Chap ini full Haehyuk ya, mudah- mudahan ga ada yg gumoh saking ngebosenin jalan ceritanya...dan buat yg kangen sama konflik, tungguin...saya lagi mikir mau dikasih konflik kaya gimana rumah tangga mereka wkwkwkwkk
Udah gitu aja...
Makasih buat yg udah baca...semoga akhir pekan kalian menyenangkan...lafyu gaiss
Daaaaaaan jangan lupa tinggalin jejak wkwkwk
.
.
_DeSTORIA_
.
.
Ps : Yg kemarin nenor saya, wajib review!...Kalo ga, saya do'ain kalean kremian berjamaah ngahahahaaaa
