.::: YOU & I :::.
.::: D & E :::.
..
..
..
Suasana hiruk pikuk sangat terasa saat Donghae dan Hyukjae, serta beberapa staf dari perusaan tiba di bandara. Hyukjae langsung berlari dengan tergopoh- gopoh mencari toilet yang akan ia gunakan untuk mengeluarkan semua isi perutnya yang sudah ia tahan sejak tadi. Donghae mengikuti dibelakangnya. Sampai Hyukjae masuk kedalam salah satu bilik toilet, Donghae masih setia mengekorinya.
"Kau baik- baik saja?"
"Tidak! Sudah kubilang aku tidak mau ikut, tapi kau tetap memaksa."
Hyukjae menggerutu diantara nafasnya yang tidak beraturan. Inginnya marah- marah, tapi keadaannya sedang tidak memungkinkan. Badannya lemas dan kepalanya terasa berputar- putar. Rasa- rasanya Hyukjae mau pingsan saja.
"Mana aku tahu kalau kau akan mabuk begini."
Donghae membantu memijat tengkuk Hyukjae, agar istrinya yang galak itu bisa merasa sedikit lebih baik. Donghae sama sekali tidak menyangka kalau Hyukjae akan mengalami mabuk udara.
Sementara itu Hyukjae masih saja mengeluarkan semua isi perutnya, tapi tangannya tetap sibuk menghalangi tangan Donghae yang berusaha untuk memijat tengkuknya. Meski sejak tadi yang ia keluarkan hanyalah berupa cairan kuning yang terasa sangat pait. Asam lambungnya.
"Jangan menyentuhku! Jauh- jauh sana!"
"Kau ini, sudah hampir pingsan begitu masih saja galak."
Hyukjae berdecih tapi tidak membalas lagi. Kepalanya akan semakin berputar kalau ia terus berdebat dengan Donghae. Akan sangat memalukan kalau dirinya sampai benar- benar jatuh pingsan ditempat seramai ini.
Lalu Hyukjae keluar dari dalam bilik toilet setelah puas muntah- muntah dan kini ia tengah berdiri menatap pantulan wajahnya pada sebuah cermin besar. Keadaannya saat ini jauh dari kata baik. Wajahnya pucat dan berkeringat dingin. Juga helaian rambutnya yang kini berwarna coklat dan sedikit lebih panjang itu terlihat sudah kusut masai.
"Ini memalukan."
Gumam Hyukjae sambil membasuh wajahnya dengan air dari wastafel.
"Kau mengatakan sesuatu?"
"Tidak. Dan menyingkirlah, aku mau keluar."
Donghae bergeser dua langkah kesamping guna memberikan akses bagi Hyukjae, kemudian ia ikut beranjak dari sana mengekori Hyukjae-lagi. Pria tampan itu bergerak cepat merangkul bahu sempit Hyukjae saat istrinya itu terlihat berjalan dengan sempoyongan.
"Kau akan jatuh atau menabrak tembok dengan cara jalanmu yang seperti itu, Hyukjae."
Hyukjae tidak membantah ataupun melawan. Tanaganya benar- benar sudah terkuras habis untuk muntah- muntah. Tapi setidaknya ia sudah merasa lebih baik dibandingkan saat pertama kali turun dari pesawat tadi.
Hyukjae mendengus dalam hati. Ini benar- benar memalukan. Biasanya ia tidak pernah mengalami mabuk udara saat naik pesawat, tapi mungkin karena jarak dari Korea menuju Amerika yang memakan waktu yang sangat lamalah yang mengakibatkannya harus mengalamai kejadian yang sangat memalukan ini. Dirinya jadi terlihat seperti orang desa yang baru datang ke kota besar. Norak.
"Dimana Jeno?"
"Aku meminta Sangjin membawanya ke hotel lebih dulu."
Ketika hendak mengejar Hyukjae ke toilet, Donghae memang menitipkan Jeno beserta semua barang bawaanya pada asistennya itu. Donghae berpesan agar Sangjin membawa Jeno ke hotel lebih dulu, karena balita itu juga terlihat kelelahan setelah menempuh perjalanan jauh. Baru setelah itu ia dan Hyukjae akan menyusul setelah keadaan Hyukjae sudah lebih baik.
"Dia terlihat kelelahan."
"Ya dan semua karena kesalahanmu, bodoh!"
Hyukjae masih menggerutu perihal betapa bodohnya seorang Lee Donghae saat perutnya mulai mengeluarkan bunyi- bunyi aneh.
"Ayo kita cari tempat untuk makan."
"Tidak. Aku mau langsung kehotel saja."
"Kau yakin?"
Hyukjae baru akan membuka mulutnya saat suara- suara memalukan itu terdengar lagi, bahkan kini terdengar kian nyaring.
Astaga memalukan sekali.
"Baiklah. Aku mau dua Burger King dan seloyang pizza."
"Itu makanan sampah, Hyuk. Yang lain saja."
"Iya atau tidak."
"Tidak."
Hyukjae berdecih, lalu menghempaskan tangan Donghae dari bahunya.
"Pergi kau sana."
..
..
..
Tidak sampai satu jam kemudian, Donghae dan Hyukjae tiba dihotel tempat mereka menginap. Setelah melalui perdebatan panjang yang hampir tidak ada ujungnya, akhirnya Donghae mengalah dan membiarkan Hyukjae membeli makanan apapun yang pria cantik itu inginkan. Tapi dengan syarat, setelah tiba di hotel Hyukjae harus mau memakan makanan apapun yang ia pilihkan. Makanan sehat ala Lee Donghae tentu saja.
"Kau mandilah dulu, aku akan mengambil Jeno dikamar Sangjin."
Hyukjae langsung menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang sesaat setelah Donghae menutup pintu kamar. Rasanya tubuhnya lelah sekali, sampai- sampai untuk mandipun rasanya Hyukjae jadi segan kalau saja ia tidak ingat bahwa dirinya belum mandi semenjak berangkat dari Korea kemarin. Tapi rasa kantuk dan lelahnya benar- benar tidak bisa diajak kompromi.
"Kau belum mandi?"
Hyukjae sudah hampir jatuh tertidur saat Donghae tiba- tiba muncul dari balik pintu bersama Jeno yang tertidur lelap dibahunya dan Sangjin yang mengekor dibelakangnya sambil membawa sebuah box bayi berukuran besar. Asisten Donghae itu segera keluar sesaat setelah menempatkan box bayi untuk Jeno di sisi kiri tempat tidur utama yang ada dikamar itu. Kemudian Donghae membaringkan Jeno didalam box bayinya agar balita itu bisa tidur dengan lebih nyaman. Rupanya Donghae benar- benar sudah mempersiapkan semuanya untuk perjalanan ini, sampai Box bayi untuk Jeno pun tidak luput dari perhatiannya.
"Kau duluan saja."
"Aku ada sedikit urusan jadi aku akan keluar sebentar. Kalau kau membutuhkan sesuatu kau tinggal mengatakannya pasa Sangjin. Ok?"
Hyukjae berdecih. "Kau pikir aku anak kecil."
Donghae hanya mengedikan bahu, lalu menghampiri Jeno yang tengah tertidur lelap. Kemudian mencium bibir mungil bayi itu dengan lembut.
"Daddy pergi dulu. Kau jagalah Mommy-mu dengan baik. Ok, jagoan?"
Hyukjae seketika mendelik tidak terima.
Mommy katanya? Mommy pantatmu!
Hyukjae menggerutu di dalam hati. Mana ada orang setampan dirinya di panggil Mommy.
"Memangnya kau mau kemana?"
"Ada sesuatu yang harus kuselesaikan. Jangan khawatir, aku akan segera kembali."
"Menemui dia?"
"Siapa?"
Hyukjae berdecih, "Kau tahu siapa yang kumaksud, Lee Donghae."
"Jangan berfikiran macam- macam."
Setelah berkata demikian Donghae menghampiri Hyukjae yang masih berbaring diatas tempat tidur, berniat melakukan hal yang sama juga pada istrinya itu. Namun Hyukjae menolak dengan cara memalingkan wajah.
Donghae menghela nafasnya lalu beranjak keluar kamar, meninggalkan Hyukjae yang sudah menutup matanya, entah tertidur atau hanya pura- pura tidur. Penolakan dari Hyukjae sudah menjadi makanannya sehari- hari.
..
..
..
Saat Hyukjae terbangun dari tidurnya hari sudah lewat tengah malam. Jam di dinding menunjukkan sudah pukul setengah dua dini hari. Jeno masih tertidur pulas di dalam box bayinya. Dari arah kamar mandi Hyukjae bisa mendengar suara air mengucur dari shower. Lalu tidak beberapa lama kemudian Donghae keluar dari kamar mandi hanya menggunakan selembar handuk putih yang menutupi daerah pinggang hingga lututnya. Sisa- sia air mandi masih menetes- netes dari rambut hitamnya, membuat Donghae tampak berkali- kali lipat lebih seksi dan juga menggairahkan dari biasanya.
Hyukjae memukul kepalanya sendiri. Berupaya mengumpulkan akal sehatnya. Jangan sampai ia terjerat oleh pesona Donghae lagi untuk yang kesekian kalinya. Apalagi hanya karena melihat rambut Donghae yang basah sehabis mandi.
Namun pesona Donghae memang tidak bisa ditampik begitu saja. Karena nyatanya sampai saat ini Hyukjae masih memperhatikan setiap pergerakan Donghae dengan seksama. Bagaimana Donghae tanpa rasa canggung melepas handuknya, lalu memakai celana dalamnya, kemudian mengenakan celana pendek selutut berwarna hitam. Gerak- gerik Donghae mendadak terlihat sangat sensual dimata Hyukjae, layaknya seorang penari striptis.
Tatapan Hyukjae tidak lepas sedikitpun hingga kini Donghae duduk dengan gagah diatas sofa tanpa memakai bajunya, memamerkan dadanya yang bidang dan otot- otot lengannya yang keras.
Hyukjae lagi- lagi menggeleng keras lalu bergegas turun dari ranjang menuju kamar mandi. Imajinasinya akan semakin liar jika ia berlama- lama dalam keadaan seperti ini.
Setelah dua puluh menit kemudian Hyukjae selesai dengan acara mandinya. Dan Donghae masih disana, duduk dengan tenang dan elegan diatas sofa dan masih tanpa penutup pada tubuh atasnya. Si Tampan itu terlihat tengah serius membolak- balikan beberapa lembar kertas yang Hyukjae tidak tahu apa. Membuat pipi Hyukjae yang putih perlahan dijalari warna merah muda. Sudah lama semenjak terakhir kali ia melihat Donghae tanpa mengenakan pakaian. Jadi, ya...begitulah. Hyukjae jadi merasa seperti merindukan sesuatu.
Hyukjae berdehem. Tenggorokannya mendadak terasa gersang. "Apa yang kau baca?"
"Materi untuk rapat besok."
Setelahnya hening. Donghae sibuk dengan pekerjaannya dan Hyukjae sibuk menenangkan dirinya sendiri. Hyukjae sudah minum air putih dua gelas penuh dan ia juga sudah bolak- balik kamar mandi berkali- kali. Tapi gejolak di dalam dirinya bukannya mereda justru semakin membuatnya gelisah. Apalagi saat Donghae telah menyelesaikan pekerjaannya dan sekarang ikut berbaring diatas ranjang bersamanya.
"Apa yang kau lakukan?"
"Tidur. Apalagi memang?"
"Kenapa tidur disini? Kau tidur disofa sana!"
"Tidak mau. Besok aku ada pertemuan dengan client penting dan tidak baik kalau aku menghadiri rapat dalam keadaan sakit punggung."
Hyukjae mendengus. Meh! Alasan macam apa itu?
Karena geram, Hyukjae merubah posisi tidurnya hingga kini ia membelakangi Donghae.
Menit demi menit berlalu dan Hyukjae masih tidak bisa menutup matanya. Ingin sekali rasanya Hyukjae mengumpat saat ia menoleh kebelakang dan mendapati Donghae kini sudah tertidur pulas dengan mulut sedikit terbuka. Sial sekali. Dirinya disini tidak bisa tidur karena sibuk menghalau pesona Donghae yang terus menguar sampai ia merasa tercekik, tapi si tersangka penyebab semua ini justru sudah melalang buana ke alam mimpi.
Namun Hyukjae dibuat hampir memekik seperti anak gadis saat dengan tiba- tiba sebuah lengan melingkari perutnya. Donghae memeluknya.
"Ap-
"Sttt. Tidurlah, ini sudah sangat larut...oh bukan, ini sudah hampir pagi."
Donghae menggeser tubuhnya untuk lebih merapat pada Hyukjae, hingga kini dada telanjangnya menempel sempurna pada punggung istrinya itu.
"Aku semakin tidak bisa tidur kalau seperti ini."
Hyukjae berucap lirih, nyaris seperti bisikan. Tapi karena suasana kamar yang sepi membuat Donghae dapat mendengar ucapan Hyukjae yang terlampau pelan itu dengan sangat jelas.
"Ada yang mengganggu fikiranmu?"
"Tidak."
Hyukjae menjawab dengan tegas. Memang tidak ada yang menggangu fikirannya.. Karena satu- satunya yang mengganggunya hanyalah Donghae yang kini tengah menempelinya seperti lintah. Hyukjae jadi sulit untuk bernafas dengan benar.
"Atau kau membutuhkan sesuatu?"
Hyukjae menggeleng. "Bisakah kau tutup mulutmu?"
"Tidak bisa."
"Sialan."
Donghae terkekeh pelan. Lalu mencium bahu Hyukjae yang berbalut kaos putih.
"Bagaimana kalau kita bermain game?"
Hyukjae memutar mata. Yang benar saja? Ini sudah lewat tengah malam dan Donghae malah mengajaknya bermain game. Seperti orang kurang kerjaan saja. Lagipula game apa yang akan mereka mainkan ditengah malam seperti ini?
"Lebih baik kau tidur, kau bilang besok pagi ada rapat penting."
"Sebentar saja. Kau hanya perlu menjawab Ya atau tidak."
Baiklah, Hyukjae mengalah. Percuma juga ia menolak, karena Donghae tidak akan berhenti merengek seperti anak kecil kalau keinginannya belum terpenuhi. Hyukjae mengangguk sebagai tanda setuju.
"Baiklah. Pertanyaan pertama... Donghae tampan
?"
Hyukjae memutar mata lagi. "Narsis."
"Itu bukan jawaban, Hyukjae. Dan hei, aku tidak narsis."
"Terserah."
Hyukjae memejamkan mata, bersiap- siap tidur. Meladeni permainan konyol Donghae hanya akan membuang waktu tidurnya yang berharga saja.
"Jawab dulu, Hyuk."
Tapi sepertinya Donghae tidak akan membiarkannya tidur dengan mudah malam ini.
Hyukjae berdecak pelan lalu berkata "Ya." membuat Donghae tersenyum puas atas jawaban Hyukjae.
"Donghae keren?"
"Tidak."
"Kenapa tidak? Jelas- jelas aku keren! Kau-
"Jangan banyak bicara atau aku tinggal tidur!"
Donghae mendengus tapi tidak membantah.
"Pertanyaan selanjutnya. Donghae dimaafkan?"
Pertanyaan Donghae kali ini hanya dijawab oleh keheningan. Karena sepertinya Hyukjae tidak berniat menjawabnya.
"Baiklah, lupakan yang itu. Sekarang pertanyaan yang terakhir. Hyukjae merindukan Donghae?"
Lagi- lagi hanya keheningan yang Donghae dapatkan. Padahal Donghae yakin kalau Hyukjae belum tidur dan mendengar semua yang ia katakan. Namun istrinya itu lebih memilih diam tanpa sedikitpun niat untuk memberikan jawaban dari pertanyaannya.
"Hyukjae?"
"Berhenti menanyakan pertanyaan konyol seperti itu, Lee Donghae!"
"Hanya jawab saja dan itu tidak akan merugikanmu, Hyuk."
"Apa maumu?"
Donghae membelai sepanjang lengan Hyukjae dengan gerakan selembut kupu- kupu. DiMulai dari punggung tangannya lalu merambat ke lengan atasnya.
"Kejujuranmu."
Suasana kembali hening. Hanya terdengar suara rengekan pelan Jeno beberapa saat, lalu balita itu kembali tenang dan tidur lagi setelah menghisap ibu jarinya tangannya sendiri.
"Jawab aku, apa Hyukjae merindukan Donghae?"
"Tidak."
Donghae tersenyum mendengar jawaban Hyukjae.
Donghae memberikan sebuah kecupan selembut sutra pada daun telinga istrinya itu. Kemudian Donghae membalik tubuh Hyukjae dengan perlahan hingga kini posisi mereka menjadi berhadap- hadapan dengan lengan Donghae yang masih melingkar dengan pas dipinggang Hyukjae.
"Tatap mataku dan katakan kalau kau tidak merindukanku."
Kini sepasang sendu Donghae menatap Hyukjae tepat pada lingkar hitam retina Hyukjae.
"Tidak. Aku sama sekali tidak merindukanmu."
Donghae masih tetap tersenyum meski ada perasaan kecewa yang terbersit di dalam hatinya.
"Katakan lagi."
"Sudahlah. Lepaskan tanganmu, aku mau tidur."
Bukannya melepaskan, Donghae justru mengeratkan pelukannya saat Hyukjae mencoba melepaskan diri dari dekapan lengannya.
"Katakan lagi."
Donghae hanya ingin membuat Hyukjae mengaku dan mengungkapkan perasaannya. Karena Donghae yakin kalau Hyukjae juga merasakan perasaan rindu yang sama dengannya. Bukannya ia tengah membual atau terlalu percaya diri tapi ia memang yakin akan hal itu. Karena ia memperhatikan gerak- gerik Hyukjae sedari tadi dibalik berkas- berkas pekerjaannya yang ia jadikan sebuah kamuflase. Donghae berpura- pura serius pada lembaran dokumennya padahal tidak ada satu huruf pun yang Donghae baca dari lembaran tersebut.
"Dengar Donghae, aku sama sekali ti-
Tidak ada kesempatan bagi Hyukjae untuk melanjutkan ucapannya karena Donghae sudah lebih dulu membungkam bibirnya dengan sebuah ciuman yang dalam dan menuntut. Pada awalnya tentu saja Hyukjae menolak dan melawan habis- habisan. Namun kenyataan tidak seindah harapan. Hyukjae tidak pernah menang melawan Donghae dalam hal seperti ini. Dan untuk kesekian kalinya ia tidak bisa menolak atas apa yang Donghae lakukan. Setelah lelah mengelak dan bergelut dengan egonya, Pria cantik itu pun mulai membalas ciuman Donghae dengan ritme yang sama. Mereka terus saling memagut seolah tidak ada hari esok lagi untuk melakukannya. Dan ketika ciuman itu terlepas Hyukjae segera mengais udara sebanyak yang ia bisa untuk menyambung nafasnya yang putus- putus.
"Masih tidak mau mengaku, hm?"
"A-aku-
Hyukjae bersumpah serapah didalam hati. Tadi Donghae bertanya, tapi disaat ia akan menjawab pertanyaannya, Donghae malah menciumnya lagi disaat nafasnya belum kembali normal sepenuhnya. Bahkan kini Donghae sudah menindih tubuhnya dengan kedua tangannya yang tidak bisa diam. Salah satu tangannya sudah merambat naik keatas perutnya yang sensitif dan tangan yang satunya lagi sibuk meremas pinggangnya. Hingga Hyukjae tidak kuasa untuk menahan leguhannya, membuat Donghae menyeringai senang ditengah aksinya mencumbui leher Hyukjae.
"Mulut bisa berbohong, tapi mata dan tubuhmu tidak bisa berdusta, Hyukjae sayang. Kau juga merindukanku. Kau merindukan sentuhanku."
Hyukjae tidak mengucapkan apapun, karena ia masih sibuk mengatur nafasnya yang berantakan. Astaga, Hanya karena sebuah ciuman dan ia sudah dibuat tidak berkutik. Sialan!
"Lalu apa maumu?" Tanya Hyukjae ketika ia sudah bisa bernafas dengan benar lagi. Apa yang Domghae katakan memang benar adanya. Mulutnya bisa menolak tapi tubuhnya bereaksi sebaliknya. Tapi harga diri Hyukjae yang tingginya selangit itu menolak keras untuk mengakui kalau ia juga merindukan Donghae. Merindukan sentuhannya.
Donghae menyeringai, "Bagaimana kalau kita melepas rindu bersama?"
Dengan tergesa Donghae melepas satu persatu kain yang melekat ditubuh Hyukjae, kemudian melemparkannya entah kemana. Donghae sudah tidak bisa menahan hasratnya lagi. Sementara Hyukjae juga tidak bisa mencegah apapun yang Donghae lakukan padanya. Hyukjae hanya tidak tahu, kenapa ia tidak pernah bisa menolak sentuhan Donghae sekecil apapun itu. Dan malam itu akhirnya mereka pun menyatu ditengah kemelut pernikahan yang belum terselesaikan.
..
..
..
Pagi harinya, Donghae bangun lebih dulu. Bukan bangun sebenarnya, karena Donghae sama sekali tidak tidur setelah mereka bercinta. Dan sekarang ia tengah memandangi wajah Hyukjae yang masih tertidur lelap disampingnya. Donghae merasa sangat bahagia karena apa yang ia dan Hyukjae lakukan tadi malam, meski ia dan Hyukjae bercinta ditengah kemelut rumah tangga mereka yang belum tentu kemana ujungnya. Tapi setidaknya itu sudah cukup membuktikan kalau Hyukjae sudah mulai membuka hati untuknya lagi.
Donghae mendesah malas. Sebenarnya ia ingin sekali tidur lagi, seharian bergelung diatas kasur bersama dengan Hyukjae dan jagoan kecilnya yang saat ini masih tertidur dengan lelap di dalam box bayinya. Tapi pagi ini Donghae diwajibkan menghadiri pertemuan dengan client penting dan itu tidak bisa diwakilkan oleh siapapun.
Akhirnya dengan enggan Donghae melepaskan pelukannya lalu bergerak pelan menuruni tempat tidur, tetu saja setelah memberi kecupan- kecupan ringan dibahu telanjang Hyukjae yang penuh dengan mahakarya ciptaannya. Sambil bersenandung Donghae menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap- siap.
Dua puluh menit kemudian, Donghae sudah siap dengan pakaian kerjanya, tangannya sibuk menyimpulkan dasi masih sambil bersenandung lagu riang. Sebuah senyuman terukir dibibir tipisnya saat melihat Hyukjae yang sudah bangun namun masih duduk ditempat tidur dengan selimut yang membungkus tubuhnya hingga mencapai dada.
"Kau sudah bangun?"
Donghae menghampiri Hyukjae setelah selesai dengan urusan dasinya. Jemarinya yang panjang dan besar menggapai kepala berambut coklat Hyukjae. Mengusap pucuk kepalanya dan merapikan poninya yang acak- acakan. Ingin memberi sebuah kecupan pada bibir merah Hyukjae namun Hyukjae memalingkan wajahnya.
"Ada apa, Hyuk?"
Donghae menatap Hyukjae dengan kening berkerut.
"Yang tadi malam anggap saja tidak pernah terjadi."
"Apa maksudmu?"
Baru saja Donghae merasa sangat bahagia karena kegiatan bercinta mereka, tapi tiba- tiba dengan kejamnya Hyukjae berkata agar ia melupakannya seolah tidak pernah terjadi apa- apa diantara mereka tadi malam.
Ini namanya seperti Hyukjae yang melambungkannya terbang ke angkasa hingga menembus langit ke tujuh dan melihat indahnya seluruh alam semesta, tapi kemudian Hyukjae kembali menjatuhkannya hingga kedasar dan tersaruk- saruk menembus inti bumi dalam sekejap.
Sakit tapi tidak berdarah.
"Berhentilah berpura- pura, kau tahu pasti apa maksud perkataanku."
"Tapi kenapa? Tadi malam kita-
"Kita melakukannya hanya karena sebuah kebutuhan."
Donghae mencelos. Tatapannya menjadi sendu menatap Hyukjae yang masih enngan menatapnya.
"Tapi kau tahu alasanku melakukannya bukanlah hanya karena sebuah kebutuhan, Hyukjae."
Donghae meraih tangan Hyukjae. Menelusupkan jemari besarnya diantara celah jemari lentik Hyukjae lalu menggenggamnya erat. Hyukjae tidak membalasnya namun juga tidak menolaknya.
"Aku mencintaimu dan aku yakin kau juga mencintaiku Hyukjae. Kita bisa memulai semuanya dari awal, kau-
"Cinta bukan satu- satunya alasan. Dan maaf, aku sudah membuat keputusan, aku tetap ingin bercerai darimu."
Mendengar kata cerai kembali terucap dari mulut Hyukjae membuat Donghae terpancing emosi. Donghae melepaskan genggamannya pada tangan Hyukjae dengan kasar lalu berdiri dari duduknya dan menatap Hyukjae dengan nyalang. Donghae telah melakukan semua yang mampu ia lakukan demi bisa mendapatkan Hyukjae kembali. Namun Hyukjae tetap bergeming pada keputusannya untuk berpisah. Sungguh sangat menyakitkan.
"Kenapa kau keras kepala sekali, Lee Hyukjae?! Kau egois! Kau menyakitiku! Bahkan kau menyakiti dirimu sendiri! Ok, jika itu maumu. Aku akan melakukan apapun yang kau inginkan. Aku akan menceraikanmu. Kau puas sekarang, Lee Hyukjae?"
Donghae menatap Hyukjae dengan sorot mata sangat kecewa, lalu kemudian segera keluar kamar tanpa menoleh kebelakang lagi.
..
..
..
Seperti yang bisa dibayangkan, Donghae tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaannya. Ia terus memikirkan Hyukjae dan saat- saat yang telah mereka lewati bersama.
Donghae tahu Hyukjae memanglah sangat keras kepala dan sangat tidak mudah membuat Hyukjae merubah keputusannya. Meski begitu Donghae tetap berharap kalau Hyukjae mendadak berubah fikiran dan menarik gugatan cerainya. Donghae sungguh tidak sanggup melepaskan Hyukjae. Demi Tuhan, ia akan benar- benar menjadi sinting bila kehilangan pria yang telah berhasil menjungkir balikan dunianya itu.
Merasa tidak ada gunanya ia terus mengikuti rapat jika pada kenyataannya pikiran dan jiwanya tidak berada disini, Donghae memilih untuk meninggalkan rapat lebih dulu dengan alasan ia mendadak sakit kepala. Tidak sepenuhnya berbohong, karena Donghae memang sakit kepala sungguhan. Memikirkan Hyukjae membuat kepalanya terasa seperti hampir meledak.
Setibanya dikamar, Donghae langsung membuka pintunya dan sempat mengernyit ketika mendapati pintu tersebut tidak dikunci. Jarang- jarang Hyukjae bertindak ceroboh seperti ini. Karena sejauh yang ia tahu, Hyukjae adalah orang yang sangat teliti dan mementingkan keamanan. Sewaktu tinggal diapartment dulu Hyukjae tidak pernah meninggalkan apartment dalam keadaan tidak terkunci seperti sekarang.
Lalu dimana Hyukjae dan Jeno sekarang? Istrinya itu tidak ada disudut manapun didalam kamar hotel ini. Apa Hyukjae pergi keluar tanpa memberitahunya? Tapi jika mengingat kembali pertengkaran mereka tadi pagi, wajar saja jika Hyukjae keluar tanpa memberitahunya. Lagipula memangnya siapa dirinya sampai Hyukjae harus meminta izin padanya? Ia hanyalah seorang calon mantan suami bagi Hyukjae.
Hah~ Kalau mengingat hal itu Donghae jadi sakit hati. Donghae sedih sampai rasanya ingin menangis. Dan sekarang Donghae jadi sakit kepala sungguhan. Kepalanya jadi terasa berat dan berdenyut. Jadi, tanpa membuang waktu Donghae pun mencari obat- obatan yang selalu ia bawa jika bepergian. Lalu Donghae mengambil segelas air putih kemudian meminumnya dengan rakus bersamaan dengan sebutir obat sakit kepala. Mungkin setelah ini Donghae akan tidur sejenak sambil menunggu Hyukjae dan Jeno kembali.
Namun, jangankan untuk memejamkan mata, apalagi tidur. Kedua bola mata Donghae justru membulat sempurna saat mendapati adanya seseorang tidak dikenal didalam kamarnya.
Seorang wanita yang sepertinya berwajah asia dengan tubuh proporsional terlihat sangat memukau dibalik pakaiannya yang super minim dan tersenyum dengan sensual pada Donghae. Sejak kapan wanita itu berada disana? Kenapa Donghae sampai tidak menyadarinya sama sekali.
"Lee Donghae-ssi."
Sapa wanita tersebut dengan bahasa Korea yang fasih, lalu wanita itu mendekat pada Donghae. Donghae sendiri hanya terdiam ditempatnya dan tampaknya ia tengah berpikir keras. Apa ia mengenal wanita ini? Dimana kira- kira ia pernah melihatnya?
"Apa kau temannya Hyukjae?"
Wanita itu menggeleng sambil terus mendekat pada Donghae dan kini salah satu tangan wanita itu sudah bertengger diatas bahu kekar Donghae. Dan dengan nakalnya mulai mengusap- ngusapnya dengan gerakan sensual.
Donghae mulai mendelik waspada. Sepertinya ada sesuatu yang tidak beres akan segera terjadi. Dan kecurigaannya langsung terbukti saat wanita dihadapannya mulai membuka pakaiannya sendiri satu persatu dengan tidak tahu malunya. Hingga kini wanita tersebut berdiri dihadapannya dalam keadaan telanjang bulat. Membuat Donghae menelan ludah.
"Aku kesini untuk mencarimu."
Lalu tanpa bisa dicegah, wanita itu langsung mencium Donghae tepat dibibirnya. Donghae sampai tidak bergerak saking terkejutnya. Dan pada saat itulah pintu kamar kembali terbuka, dan tampaklah Hyukjae sambil menggendong Jeno yang tertidur pulas dibahu kirinya dan menenteng beberapa paper bag ditangan kanannya yang kini sudah berantakan dibawah kakinya.
Hyukjae melotot terkejut begitu melihat pemandangan yang tersaji dihadapannya. Kedua mata bulan sabitnya menatap Donghae dan wanita itu dengan sorot mata tajam namun penuh luka.
Disaat itulah Donghae seolah mendapatkan kembali kesadarannya lalu segera mendorong wanita yang masih melumat bibirnya itu dengan sedikit kasar.
"Hyukjae, aku bisa jelaskan."
Donghae meraih tangan Hyukjae, berupaya menahan Hyukjae agar tidak pergi dari sana.
Semetara Hyukjae terlihat tengah berfikir dengan wajahnya yang memerah. Nafasnya sedikit berantakan tapi ia tidak menangis. Kemudian tatapannya beralih pada si wanita yang tadi telanjang tapi sekarang sedang memakai kembali pakaiannya. Kemudian tatapan Hyukjae kembali pada Donghae yang juga tengah menatapnya dengan raut cemas luar biasa.
Dengan kasar Hyukjae melepaskan genggaman Donghae dilengannya lalu membaringkan Jeno diatas tempat tidur. Berharap agar balita itu tidak terganggu tidurnya karena ribut- ribut yang terjadi. Lalu Hyukjae merogoh saku jacketnya, mengambil dompetnya dan mengeluarkan seluruh lembaran uang yang ada didalamnya untuk kemudian ia lemparkan hingga mengenai wajah si wanita.
"Aku tidak tahu apa tujuanmu datang kesini dan menggoda suamiku. Tapi sayangnya usahamu itu tidak akan berhasil, nona. Meskipun kau membuka seluruh pakaianmu dan mengangkang didepannya, ia tidak akan tergoda olehmu, karena suamiku yang playboy dan brengsek ini sangat mencintaiku. Ambilah uang itu dan cepat pergi dari sini, anggap saja itu hadiah kenang- kenangan dariku."
Wanita itu terlihat terkejut dengan apa yang Hyukjae lakukan, wajahnya terlihat merah padam. Namun sedetik kemudian wanita itu kembali tersenyum sensual lalu memunguti uang yang Hyukjae lemparkan dan berserakan dibawah kakinya. Lalu beranjak dari sana tanpa berkata sepatah katapun namun sempat memberikan kedipan genit kearah Donghae.
Suasana mendadak hening setelah wanita itu pergi. Donghae melangkah dengan sangat pelan menghampiri Hyukjae yang masih terdiam ditempatnya.
"Hyukjae."
Lalu dengan gerakan cepat dan tiba- tiba, Donghae menggendong Hyukjae dilengannya seperti pengantin wanita.
"Kau sangat menakjubkan, Lee Hyukjae!" ucap Donghae, masih sambil menggendong Hyukjae, bahkan kini ia sudah berputar- putar seperti anak kecil.
"Heh berhenti! Turunkan aku! Aku jadi pusing, idiot!"
Donghae menurut. Ia berhenti berputar- putar lalu menurunkan Hyukjae dari gendongannya. Dan hanya sedetik berselang, sebuah pukulan yang sangat keras menghantam salah satu rahangnya sampai Donghae terhuyung- huyung. Tentu saja Hyukjaelah pelakunya.
"Aku menuntut penjelasanmu!"
Donghae menyeka darah yang merembes dari sudut bibirnya. Pukulan Hyukjae keras sekali. Saking kerasnya, Donghae merasa mungkin tulang rahangnya bergeser beberapa senti.
"Dengar Hyuk, aku sama sekali tidak mengenal wanita itu. Dia sudah ada disini saat aku kembali, dan tiba- tiba membuka pakaiannya lalu menciumku. Aku berani bersumpah kalau aku sungguh tidak mengenalnya. Percayalah padaku, Hyukjae."
"Haruskah aku percaya?"
Hyukjae berujar dengan wajah dan suaranya yang datar. Sangat sulit baginya untuk membangun kepercayaannya lagi pada Donghae. Bayangkan saja, mereka baru saja bercinta tadi malam tapi kemudian pada siang harinya ia mendapati Donghae tengah dicium oleh seorang wanita yang telanjang bulat didalam kamarnya.
Dicium atau berciuman? Persetan apapun itu, Hyukjae tidak mau peduli.
"Kau harus percaya."
"Kenapa aku harus?"
"Karena aku mencintaimu, Hyukjae."
"Kau terlalu sering mengumbar kata cinta dan itu membuatku muak. Sekali brengsek tetap saja brengsek. Lagipula sebentar lagi kita aka bercerai, dan kau bebas dengan apapun yang ingin kau lakukan."
Ucapan Hyukjae membuat Donghae mendesah pelan., tidak tahu harus berkata apalagi. Wajahnya berubah jadi pilu dengan senyuman yang perlahan memudar. Donghae kemudian beranjak menjauh, ia keluar kamar tanpa mengucapkan sepatah katapun pada Hyukjae.
..
..
..
Esok harinya mereka kembali ke Korea. Donghae mendadak memutuskan untuk segera pulang padahal sebelumnya mereka berencana berada disana selama satu minggu. Sepanjang perjalanan Donghae berubah menjadi pendiam. Meski ia tetap memperhatikan Hyukjae yang untungnya dalam perjalanan pulang kali ini tidak lagi mengalami mabuk. Dan Donghae juga memastikan segala kebutuhan Jeno terpenuhi dengan baik seperti biasanya.
Hyukjae pun menyadari suaminya yang mendadak menjadi tidak banyak bicara, namun ia berusaha mengacuhkan seolah tidak peduli. Sejujurnya Hyukjae masih sakit hati karena melihat Donghae berciuman dengan wanita lain didepan mata kepalanya.
Sesampainya dirumah, ternyata Young Woon sudah berada disana untuk menyambut kepulangan mereka. Dengan senyum merekah dan penuh kharisma, pria paruh baya itu menyongsong Hyukjae lalu memeluknya.
"Bagaimana keadaanmu?"
"Seperti yang ayah lihat, aku baik."
Donghae hanya diam tanpa melakukan atau mengatakan apapun saat menyaksikan adegan yang dipenuhi nuansa hangat antara sepasang ayah mertua dan menantunya.
"Cucuku semakin tampan saja. Mirip sepertiku."
Young Woon meraih Jeno dari gendongan Donghae. Tanpa melirik anak semata wayangnya itu sama sekali. Layaknya Donghae hanyalah sebuah guci pajangan yang berada disudut ruangan. Ada tetapi tidak dianggap. Membuat suasana hati Donghae yang memang sudah jelek sejak kemarin menjadi semakin tak tertolong. Donghae mendengus, lalu memutuskan untuk beranjak dari sana menuju kamarnya tanpa mengucapkan apa- apa lagi.
"Dia kenapa?" tanya Young Woon setengah heran saat melihat putranya berjalan menaiki tangga dengan langkah gontai. Yang dijawab Hyukjae hanya dengan sebuah gedikan bahu. Meski tatapan Hyukjae tidak beralih sedikitpun dari punggung Donghae yang semakin menjauh lalu kemudian mengilang ditelan jarak.
"Jadi bagaimana perjalananmu? Apa si idiot itu memperlakukanmu dengan baik?"
"Menyenangkan. Dan ya, dia memperlakukanku dengan sangat baik."
Sepasang Ayah mertua dan menantu itupun pada akhirnya terlibat sebuah obrolan panjang. Hyukjae pun menceritakan semua pengalamannya selama di Amerika, kecuali mengenai wanita telanjang yang mencium Donghae didalam kamar hotel mereka. Kalau ia menceritakannya pada Young Woon, mungkin saja sebentar lagi Donghae akan berakhir ditangan ayahnya sendiri dengan keadaan tulang hidung yang patah.
"Boleh aku bertanya sesuatu, Ayah?"
Young Woon yang tengah bercanda- canda dengan Jeno kini memusatkan perhatiannya pada Hyukjae saat mendapati raut wajah menantunya itu berubah serius.
"Apa yang ingin kau tanyakan?"
Hyukjae menarik nafasnya dalam- dalam lalu menghembuskannya dengan perlahan.
"Bagaimana jika aku memutuskan untuk tetap berpisah dari Donghae? Apa ayah masih akan menganggap aku ini anakmu?"
"Kenapa bertanya seperti itu? Tentu saja kau tetap anakku. Bahkan aku rela menukarkan Donghae asal kau yang menjadi anakku."
Hyukjae tertawa pelan mendengar perkataan ayah mertuanya itu. Berbanding terbalik dengan matanya yang justru kian lama terasa semakin panas dan sepertinya sekarang mulai berkeringat.
Semenjak kepergian kedua orang tuanya dan kakak laki- lakinya, Hyukjae menjadi sebatang kara. Dan kasih sayang yang Young Woon berikan padanya selama ini membuat Hyukjae merasa seperti memilki ayah kembali.
"Kau yakin dengan keputusanmu itu? Apa sudah kau fikirkan dengan masak- masak?" tanya Young Woon sambil menciumi pipi gembil Jeno yang kini ia dudukan diatas pangkuannya. Balita itu tengah asik bermain dengan kancing- kancing yang terdapat pada jas mahalnya.
"Aku tidak tahu. Seperti yang ayah tahu, pernikahan kami hanya karena sebuah kesepakatan-
"Apa sampai saat ini kesepakatan itu masih berlaku?"
Hyukjae terdiam ketika Young Woon memotong ucapannya. Ia tidak tahu apa yang harus ia katakan. Semenjak ia menyadari bahwa Donghae sudah berhasil menerobos masuk kedalam hatinya, Hyukjae tahu bahwa kesepakatan itu sudah tidak berlaku lagi. Namun ketakutannya akan sakit karena sebuah penghianatan membuat Hyukjae menjadi enggan untuk membuka lembaran baru lagi bersama Donghae. Meski pria yang menikahinya itu sudah berulang kali meminta maaf dan memohon untuk memberinya kesempatan lagi.
"Kulihat Donghae benar- benar mencintaimu. Dan aku tidak pernah melihatnya seserius ini sebelumnya dalam mencintai seseorang. Apa kau benar- benar sudah tidak mau mempertimbangkan keputusanmu sekali lagi?"
Kemudian hening.
Hyukjae sibuk dengan lamunannya sedangkan Young Woon sibuk menimang- nimang Jeno yang sepertinya akan jatuh tertidur sebentar lagi.
"Aku tidak akan memaksamu jika memang kau tidak bisa menerima putraku lagi. Tapi sekali saja, coba kau dengarkan kata hatimu, Nak. Jangan sampai kau salah mengambil keputusan yang akan membuatmu menyesal dikemudian hari."
Young Woon tersenyum hangat. Senyum yang justru membuat Hyukjae semakin dilanda dilema.
Jangan membuatku menjadi merasa bersalah, Ayah...
.::: YOU & I :::.
.::: D & E :::.
Hari ini adalah hari minggu. Dan Kyuhyun sudah membuat janji dengan dokter pribadinya untuk melakukan cek kesehatan rutin yang ia lakukan setiap satu bulan sekali. Namun sayangnya, dokter pribadinya itu kini tengah berada diluar negeri untuk suatu keperluan dan baru akan kembali dua minggu lagi. Jadi, dengan sangat terpaksa untuk kali ini akhirnya Kyuhyun membuat janji dengan seorang dokter lain yang direkomendasikan oleh oleh pribadinya.
Dengan ditemani oleh Kibum, pria jangkung itu melangkah dengan percaya dirinya dilorong rumah sakit. Aura maskulin menguar dengan kuat dari dua orang berparas bak pangeran dari negeri dongeng itu. Membuat beberapa perawat wanita yang berpapasan dengan dua pria tampan tersebut menahan jeritan kekaguman mereka dan disertai dengan pipi yang merona.
"Apa aku harus ikut masuk?" tanya Kibum pada Kyuhyun setelah seorang perawat wanita menujukkan ruangan dokter yang sudah membuat janji temu dengan Kyuhyun.
"Jangan banyak tanya." Kyuhyun menarik lengan Kibum untuk ikut dengannya masuk kedalam ruangan sang dokter, tidak peduli pada protesan Kibum yang mulai lelah karena terus saja diseret kesana kemari.
"Selamat pagi."
OH SHIT
Kyuhyun mengumpat dan bersumpah serapah dalam hati. Dari sekian banyak dokter dirumah sakit besar dan terkenal ini kenapa harus dokter berwajah mesum itu yang direkomendasikan oleh dokter pribadinya.
"Oh, Hai manis~"
Senyum menjengkelkan itu lagi. Mungkin bagi orang lain senyum yang mengembang diwajah Siwon akan terlihat sungguh menawan apalagi ditambah dengan kedua cekungan dikedua belah pipi kiri dan kanannya. Tapi bagi Kyuhyun senyum itu adalah senyum yang paling menjengkelkan sepanjang masa.
"Silahkan duduk, Kyuhyun-ssi. Atau kalau kau ingin langsung berbaring diatas ranjang juga boleh."
Kyuhyun mendengus. Ia tidak akan sudi diperiksa oleh dokter berwajah mesum seperti Siwon meski hanya tinggal Siwon lah satu- satunya dokter di dunia ini. Kyuhyun lebih rela tidak melakukan cek kesehatan rutinnya selama bertahun- tahun ketimbang harus membiarkan dokter berwajah mesum itu menyentuh tubuhnya. Lihat saja, Ia baru beberapa detik disini saja bicara Siwon sudah melenceng kemana- mana.
"Aku batalkan saja. Aku tidak jadi cek kesehatan."
"Kenapa?"
Siwon dan Kibum bertanya secara bersamaan. Membuat Kyuhyun mendengus untuk yang kedua kalinya. Lalu tanpa ba bi bu, pria jangkung itu langsung berbalik kearah pintu keluar, meninggalkan ruangan tersebut dengan langkah panjang- panjang.
"Kau mau pulang atau tetap disini lalu dimangsa oleh dokter cabul itu, Kim Kibum?"
Kibum masih sibuk memproses apa yang baru saja terjadi saat suara pintu ditutup dengan sedikit keras. Pria berkulit seputih salju itu tersenyum dengan canggung pada dokter muda dihadapannya lalu menyusul Kyuhyun dengan tergesa- gesa.
Kyuhyun masih sibuk mengumpat ketika Kibum berhasil menyusulnya. Wajahnya terlihat keruh dengan dahi berkerut- kerut.
"Sialan kau! Sudah seenaknya menyeretku kesana kemari lalu sekarang kau mau meninggalkanku begitu saja! Kemari kau, biar kupatahkan tulang lehermu, Cho."
"Lebih baik kau patahkan saja leher dokter mesum itu."
Kyuhyun menghalau tangan Kibum yang mencoba meraih lehernya. Ia masih sangat kesal karena bertemu dengan Siwon. Entah apa yang ia kesalkan.
"Kau terlihat kesal sekali. Memang apa yg telah dia lakukan padamu?"
Menyebutku manis
Tentu saja Kyuhyun mengatakannya hanya didalam hati saja. Kibum bisa mentertawakannya sampai jungkir balik jika Kyuhyun mengatakannya dengan lantang.
"Aku hanya tidak suka melihat wajah cabulnya itu."
"Konyol sekali."
Ya, terserah Kibum saja. Kyuhyun enggan berdebat. Yang jelas, semenjak pertama kali bertemu dengan Siwon di kamar perawatan Hyukjae tempo hari, dan dokter itu dengan seenak jidatnya memanggilnya dengan sebutan manis, sejak saat itu pula ia sudah tidak menyukai Siwon dengan segala sesuatu yang melekat pada dokter itu.
"Sudahlah, lupakan. Lihat ini, Yunho sudah mengirimiku pesan. Dia bilang sudah menunggu kita dirumahnya."
Kyuhyun menunjukan layar ponselnya yang menyala dan menampilkan deretan pesan yang dikirimkan Yunho padanya. Akan tetapi Kibum seolah tidak menanggapinya dan hanya diam termenung ditempatnya berdiri. Tatapan matanya terlihat kosong.
"Yah! Kim Kibum! Kau tidak mendengarkanku?"
Kibum terkesiap. Suara Kyuhyun yang berdenging ditelinganya berhasil menarik Kibum kembali dari lamunan sekejapnya.
"Kondisikan suaramu, Cho! Itu memalukan."
Kyuhyun masa bodo. Lalu dengan acuh pria jangkung itu beranjak dari tempatnya. Tanpa peduli orang- orang yang menatap dengan penuh keingin tahuan pada mereka. Bahkan ada beberapa perawat yang sudah berbisik dibelakang mereka dengan pipi yang merona merah. Kyuhyun ingin sekali memutar mata.
Seperti tidak pernah melihat manusia tampan saja
Namun baru dua langkah Kyuhyun bergeser dari tempatnya semula, ada seorang wanita yang baru saja keluar dari salah satu ruang pemeriksaan menabrak bahunya tanpa sengaja, hingga si wanita sedikit terhuyung namun tidak sampai terjatuh.
"Maaf."
Setelah menggumamkan kata maaf wanita tersebut lalu pergi dengan tergesa- gesa.
"Dia...
Kibum dan Kyuhyun mendongak secara bersamaan untuk melihat tulisan yang tertera pada papan kecil yang ada diatas pintu ruangan tersebut, lalu kedua pria tampan itu saling menatap dengan kening yang sama- sama berkerut.
Dia...
.
.
.
.
To be continued
.
.
.
Makin gaje? Iya!
Makin ngebosenin? Iya!
Typo? Banyaaaakk...
Maafkeuunn TTvTT
