Chanbaek Story by Yasaenghwa

Proundly Present:

The Devil's Spawn

Teufelsbrut

Birth of Demon

WARNING:

Chanbaek, YAOI, Boyslove, Supranatural/horror/Angst/MPREG, NC-21, Typo(es)

Disclaimer:

this fic is mine,

FANFIC REMAKE DARI FIC KYUMIN "THE DEVIL'S SPAWN"

Terimakasih untuk tidak plagiat, Bash dan flame..

.

.

.

don't like, just click close (X)

Happy reading and enjoy..

Main cast:

Park Chanyeol

Byun Baehyun

Support cast:

Oh Sehun

Kim Jongin

Xi Luhan

Do Kyungsoo

Kim Junmyun

Do Yeolngsoo

Bae Joo-Hyun (Irene/RV)

Park Chae Young (Rose/BP)

Dan akan bertambah sesuai kebutuhan cerita

Summary:

Baekhyun seorang mahasiswa arkeologi yang menemukan perkamen dalam hutan terkutuk mendapatkan kejadian mengerikan di dalam hidupnya, ia di perkosa oleh 'iblis' yang menanamkan benih dalam perutnya. Apakah dia akan mati? Bisakah ia lepas dari 'iblis' itu? apa yang terjadi dengan Chanyeol sahabatnya?


Previous chapter

Oh Sehun…

'Orang ini? Benar, dia orang itu. Wajah mereka sama persis. Bagaimana bisa dia tahu tentangku? Bagaimana bisa dia tahu tentang perkamen itu?'

'Lalu, bagaimana ia memiliki mata yang dimiliki oleh makhluk itu. Bahkan saat ia menggeram suara itu sangat mirip dengan makhluk yang sudah—'

"AARGGG.. Aku tidak ingin mengingatnya!"

"Apa mungkin iblis dalam perkamen itu masuk kedalam tubuh pemuda ini? atau Diakah iblis itu?"

Jika di fikir secara logika semua menjadi berhubungan...

.

.

Teufelsbrut

The Devil's Spawn

.

.

Chapther 5

Kedua namja itu tenggelam dalam kesibukannya masing – masing di sebuah ruangan yang berisikan jejeran rak – rak kayu dengan berbagai macam buku tertata rapi. Ditengahnya terdapat sofa beludru coklat yang sekarang diduduki oleh kedua namja tersebut dan sebuah meja kayu yang berada di depannya. Salah seorang namja yang membawa beberapa lembar kertas di tangannya terlihat serius meneliti setiap kata yang tercetak dalam kertas itu. Sedangkan namja lainnya terlihat tenggelam dalam pikirannya sendiri. Namja mungil itu hanya menyenderkan tubuhnya pada sandaran sofa sembari menerawang ke atas langit-langit, menunggu namja yang duduk tidak jauh darinya menyelesaikan bacaannya.

Beberapa menit ruangan hanya di dominasi oleh suara detik jam sampai salah seorang namja yang tadi sibuk akan bacaaannya membuka suara.

"Jadi—kau berfikir bahwa namja Oh Sehun ini iblis dari perkamen itu?"

"Nde,, lebih tepatnya kurasa iblis itu masuk ke dalam tubuh namja itu Yeol." ujar lirih namja yang kini mengalihkan pandangannya kepada namja yang dipanggil Yeol dengan tidak mengubah posisi tubuhnya.

"Bagaimana kau bisa yakin? Bisa kau jelaskan alasannya Bae?" tanya Chanyeol yang masih belum mencerna dengan benar alasan Baekhyun menuduh mahasiswa kesenian bernama Oh Sehun adalah seorang iblis.

Hey, jelas saja Chanyeol masih bingung jika secara tiba-tiba dia mendapat telfon dari Baekhyun untuk datang ke mansionnya dengan alasan ingin membicarakan hal penting namun saat dia baru tiba di mension milik keluarga Byun itu dengan tidak elitnya ia diseret ke dalam ruang baca untuk mendengarkan pengumuman konyol jika mahasiswa anak dari keluarga konglomerat ternama bernama Oh Sehun adalah seorang iblis. Bahkan Baekhyun sudah mencari tahu seluk beluk tentang Oh Sehun yang baru beberapa menit yang lalu Chanyeol baca.

"Dia pernah menemuiku dan meminta perkamen itu Chanyeol-ah.. kau ingat kejadian saat kau menemukanku ketakutan di depan gerbang malam kemarin?" kini Baekhyun duduk dengan benar tanpa bersender dan menghadapkan dirinya ke arah Chanyeol,

"Ah... ya, aku masih ingat. Lalu?" tanya Chanyeol dengan meletakkan kertas – kertas ditangannya keatas paha.

"Saat itu namja ini (tunjuk Baekhyun pada gambar namja putih pucat itu) berubah menjadi mengerikan. Wujudnya sama seperti makhluk yang sudah— mempekosaku." jawab Baekhyun dengan nada pelan di akhir. Ia menutup matanya mencoba membangun pertahanan sebagai namja untuk tidak meneteskan air mata.

Chanyeol menghembuskan nafas kasar. Dia alihkan pandangannya kembali ke gambar diri namja Oh Sehun yang ia letakkan diatas pahanya.

"Aneh, kenapa harus namja ini? Apa hubungan perkamen itu dengan namja ini? lalu, apa hubungannya denganmu?" tanya Chanyeol entah kepada dirinya atau Baekhyun. Namun, masih mendapat respon dari Baekhyun.

"Entahlah, aku juga belum menemukan jawabannya." Gumam Baekhyun lesu.

Ruangan tersebut kembali hening. Baik Chanyeol maupun Baekhyun masih enggan untuk bersuara dan lebih memilih tenggelam dalam pikirannya masing-masing.

Namun keheningan itu disambut oleh pekikan dari Baekhyun.

"Ah benar!"

"Yaaa.. bisakah kau tidak tiba-tiba berteriak seperti itu Baek!" sungut Chanyeol yang sempat berjengit kaget mendengar teriakan Baekhyun.

"Tunggu, aku pernah membaca di sebuah buku jika sosok ruh, jiwa atau apapun itu bisa merasuk kedalam tubuh reinkarnasinya? Atau keturunan dari darahnya, apa itu benar Yeol?"

"Eoh, itu—kurasa juga begitu, lalu apa menurutmu Oh Sehun ini reinkarnasi dari iblis yang keluar dari perkamen itu?" tanya Chanyeol mencoba menebak isi pikiran Baekhyun.

"Nde, majja— jikapun bukan dia reinkarnasinya, pasti ada garis keturunan yang berkaitan dengan perkamen itu." jawab Baekhyun mantap dengan mata berbinar.

Ctak..

"Yak appo! Kenapa kau menyentilku dobby?!" protes Baekhyun reflek mengusap dahinya setelah sebuah sentilan sukses membuat dahi tertutup poni itu memerah.

"Pabbo,,, jelas-jelas disini dia keturunan asli Grossenbrug bukan Westseven. Disini juga di tuliskan nenek moyangnya berasal dari Grossenburg. Bukankah kau sendiri tahu peradaban Grossenburg lebih sedikit modern dan maju dari pada Westseven? Mana mungkin mereka repot-repot membuat perkamen seperti itu." jelas Chanyeol enteng tanpa merasa bersalah.

"Haish—jika begitu saja tidak perlu menyentilku! Ini sakit bodoh! Jika bukan karena keturunan berarti dia adalah reinkarnasi dari iblis itu, Aniya?" gerutu Baekhyun yang masih mempoutkan bibirnya 5 cm karena kesal.

Grep..

Tiba – tiba tangan kiri Chanyeol menghentikan gerakan tangan Baekhyun yang masih setia mengelus jidatnya dan tangan kanannya bersiap untuk menyentil dahi itu lagi. Reflek mata Baekhyun terpejam, 'Sepertinya aku salah lagi?' batinnya was-was.

Namun beberapa detik ia tidak merasakan apapun sampai—

Chu

Sebuah benda kenyal menempel sempurna di dahinya, tepat dimana rasa sakit itu muncul. Penasaran dengan apa yang terjadi, Baekhyun perlahan membuka mata. Ia melotot syok, pikirannya entah berlari kemana 'Moong'..

'Apa ini? Chanyeol—'

"Apa masih terasa sakit?" suara baerat Chanyeol belum menyadarkan Baekhyun spenuhnya dari keterkejutannya sampai ia tidak sadar jika Chanyeol sudah melepaskan ciuman di dahinya beberapa saat yang lalu.

Baekhyun masih bergeming, pandangan matanya beradu dengan mata Chanyeol yang jernih. Baekhyun begitu terhanyut sampai—

Dug..

"Arrgg... Yak wae?!" Chanyeol berjengit memegangi tulang keringnya yang di sepak oleh Baekhyun.

"Kau tanya kenapa?! Seharusnya aku yang bertanya Park sialan! Apa yang baru saja kau lakukan?! Kenapa kau dengan seenaknya menciumku!" protes Baekhyun dengan nafas yang memburu, antara kesal dan merona.

"Aish, hanya didahi.. apa masalahnya?" Chanyeol tidak kalah kesal dengan perlakuan Baekhyun yang menendang tulang keringnya. Jangan salah, biarpun manis begitu, Baekhyun mendapat gelar sabuk hitam dalam bela diri hapkido.

"Kau buta! Aku ini namja dan kau juga namja! Jinjja, apa kepalamu terbentur sesuatu, Eoh?" pekik Baekhyun masih dengan nada tingginya.

"Siapa yang bilang kau seorang yeoja Bae?" tanggap Chanyeol enteng.

"Haish, aku punya harga diri sebagai namja NORMAL Park, N-O-R-M-A-L! Apa kau tidak tahan merindukan yeoja-yeojamu diluar sana sehingga kau sampai melampiaskannya kepadaku!" Sungut Baekhyun semakin menjadi dan entah kenapa hatinya mencelos mengatakan kata-kata itu.

"Ne.. ne.. arraso, arraso!"ujar Chanyeol sambil menyedekapkan kedua tangannya di depan dada.

'Aigoo—anak ini benar-benar..., apa dia tidak merasa bersalah menciumku? Apa dia tidak ada niatan untuk minta maaf? Kenapa tiba-tiba dia menciumku? Apa benar sebagai pelampiasan? Shit! Ada apa lagi dengan jantungku tuhan! Kenapa rasanya seperti tidak rela.'

"Wae? Kenapa kau memandangku seperti itu?" tanya Chanyeol yang heran dengan Baekhyun yang tiba-tiba menatapnya lama. Baekhyun segera kembali dari lamunannya dan mengalihkan pandangan.

"Mianhae.." ujar Chanyeol pelan

"Sudahlah, lupakan." Entahlah, hanya kalimat itu saja yang dapat keluar dari bibir tipis milik Baekhyun.

"Baiklah, apa renacanamu selanjutnya Bae?" tanya Chanyeol mengalihkan pembicaraan.

"Eoh, itu aku juga belum tahu Yeol.. rencananya hari ini aku ingin menemui Xi Luhan, sepupu Kyungsoo itu. Siapa tahu dia bisa membantu, bukankah Kyungsoo bilang dia memiliki indra keenam yang lebih tahu tentang hal magis?" jelas Baekhyun dengan emosi yang sudah terkendali.

"Hmm, baiklah aku ikut denganmu. Bagaimana jika kita cari alamatnya sekarang?" ujar Chanyeol memberi saran.

"Oke.. lebih cepat, lebih baik.. Kajja!"

Baekhyun beranjak dari duduknya di ikuti dengan Chanyeol untuk kemudian keluar dari ruangan tersebut dan besiap mencari alamat yang tertera dalam kartu nama yang diberikan oleh Kyungsoo satu hari yang lalu.

.

.

"Kau yakin ini alamatnya Bae?" tanya namja tinggi yang berdiri mensejajari namja mungil didepan sebuah pintu sebuah rumah dengan aksen hitam bergaya Jerman kuno tanpa adanya pagar pembatas. Chanyeol sedikit tidak yakin karena tempat rumah itu berdiri di kawasan terpencil. Terlihat masih banyak pohon tinggi hampir menyerupai hutan.

Namja kecil yang merupakan Baekhyun itu meneliti kembali alamat yang tertera di kartu nama dengan tulisan disisi kiri pintu tersebut.

"Nde, sepertinya ini rumahnya Chanyeol-ah." ujar Baekhyun sembari mencari bel yang digunakan sebagai penanda adanya tamu.

"Eoh, tidak ada bel rumah. Apa diketuk saja?" gumam Baekhyun entah kepada siapa, karena Chanyeol masih memperhatikan sekitar.

Tok.. tok.. tokk

"Permisi!"

Tok.. tok..tok..

Berkali-kali Baekhyun mengetuk dan berteriak namun tidak ada satu orangpun yang keluar.

Chanyeol yang tadi sempat memperhatikan pemandangan sekitarpun saat ini ikut membantu Baekhyun.

Tok..tok..tok..

"Permisi! Apa ada orang! Xi Luhan-ssi!" teriak Chanyeol berulang namun hasilnya tetap sama.

"Aish, apa mereka yang didalam tidak mendengar jika ada tamu? Atau rumah ini kosong?" gerutu Baekhyun yang ditanggapi oleh Chanyeol dengan mengangkat kedua bahunya tanda ia juga tidak tahu.

Namun ketika Chanyeol mengedarkan pandangan kesekitar rumah tersebut ia menangkap benda serupa lonceng tergantung disisi kanan sebuah jendela disamping pintu tersebut.

"Apa mungkin menggunakan ini?" tanya Chanyeol kepada Baekhyun sembari menunjukkan lonceng berbahan kuningan yang baru saja ia ambil dari tempatnya.

Baekhyun mengalihkan pandangannya kepada Chanyeol, ia dengan seksama memperhatikan benda tersebut sebelum akhirnya ia berkata 'Coba saja Yeol'.

Chanyeol mencoba membunyikan lonceng tersebut sebanyak 3 kali. Tidak sampai satu menit lonceng itu berhenti berbunyi, seseorang dengan dandanan nyentrik, rambut pendek bercat ungu terkuncir pada bagian poni dan paras yang cenderung cantik keluar dari rumah tersebut. Sekilas pandangan mata Chanyeol menatap wajah orang tersebut. Walaupun tidak begitu jelas pupil mata kelam itu sempat melebar beberapa detik sebelum kembali ke bentuk semula. Kemudian Chanyeol menutup matanya sekilas dan membuka mata itu lagi.

"Ah,, anyeonghasseyo agashi, apa kami bisa bertemu dengan Xi Luhan ssi?" ujar Baekhyun yang terkejut akan kemunculan sosok yang membuka pintu di depannya sembari membukkukan badan 90 derajat untuk menjaga kesopanan. Chanyeol hanya membungkukkan sedikit badannya tanpa berkata apapun.

"Nugusaeyo?" jawab orang tersebut dengan suara bukan khas yeoja, apa mungkin—

"Apa anda namja?" tanya Baekhyun spontan. Orang tersebut hanya berrolling eyes sembari meneliti dua orang asing yang berdiri di depannya.

"Ah,, maafkan saya, saya tidak tahu jika anda seorang namja." ujar Baekhyun merasa tidak enak.

"Aigoo—aku bertanya siapa kalian dan apa mau kalian!" orang tersebut meninggikan suaranya, terkesan tidak suka berbasa-basi.

"Emm,, perkenalkan saya Byun Baekhyun dan ini (menunjuk Chanyeo) teman saya Park Chanyeol, kami ingin bertemu dengan Xi Luhan ssi, apakah ada?" tanya Baekhyun lebih berhati-hati dan sabar.

"Kalian sudah bertemu dengan orang yang kalian cari, lalu apa mau kalian?!" orang tersebut masih betah dengan nada bicaranya yang terkesan ketus.

"Eoh, anda Xi Luhan ssi itu?" Baekhyun meneliti dari ujung kaki sampai rambut. Sedangkan Chanyeol hanya memperhatikan interaksi antara Baekhyun dan orang yang mengaku sebagai Xi Luhan tersebut.

"Apa tujuan kalian kesini hanya untuk memandangiku?! Membuang-buang waktu saja." Luhan yang merasa risih dipandangi oleh kedua orang asing didepannya mulai jengah.

"Ah,, tidak, tidak... kami datang kesini untuk meminta bantuanmu Xi Luhan ssi, kemarin Kyungie—ah aniya, Do Kyungsoo ssi telah—" kalimat Baekhyun terpotong dengan pekikan lantang dari Luhan.

"Haish.. bocah itu! Tunggu disini sebentar."

Luhan tiba-tiba masuk kembali kedalam rumah setelah memekik dan menghentakkan kakinya meninggalkan Baekhyun dan Chanyeol yang melongo menatap kepergiannya jauh kedalam rumah yang masih tebuka sebagian.

"Orang yang aneh sekaligus unik."gumam Baekhyun tanpa sadar.

"Begitu pula rumahnya." tambah Chanyeol.

.

.

Orang bernama Luhan itu kembali ketempat dimana Baekhyun dan Chanyeol menunggu diluar pintu. Baekhyun dan Chanyeol sempat mendengar nada tinggi khas orang sedang murka kepada seseorang, dan Baekhyun sempat menangkap kalimat 'YAA Bocah penguin mata burung hantu, jika kau kembali mengirim orang-orang asing kemari untuk mengganggu waktuku, Kau akan ku cincang! Ini yang terakhir kalinya! Kau mengerti, Do Kyungsoo?!' dari arah dalam rumah Luhan. Sepertinya ia sedang berbicara melalui telfon dengan Kyungsoo. Tetapi kenapa marah-marah seperti itu? Entahlah..

"Masuklah." ujar Luhan kepada Baekhyun dan Chanyeol sembari membuka lebar akses masuk rumah tersebut.

Baekhyun dan Chanyeol bergantian masuk diikuti Luhan di belakangnya. Luhan sempat melirik kearah pohon maple yang berada sekitar 3 m dari rumahnya. Ia memicingkan penglihatannya sebelum akhirnya ia masuk dan menutup pintu. Sesosok makhluk ternyata sedang berdiri dibalik pohon maple tersebut dengan tatapannya yang tidak lepas dari pintu dimana ketiga namja yang masing – masing adalah Baekhyun, Chanyeol dan Luhan masuk.

.

.

Ketiga namja itu kini duduk dengan posisi Luhan duduk menghadap Chanyeol dan Baekhyun yang duduk bersebelahan. Sofa dengan ukiran dari kayu mahoni itu terkesan klasik dan unik, semua barang yang terlihat diruangan tersebut bernuansa hitam, perak dan gold dengan desain interior menganut gaya Jerman Selatan.

"Sebenarnya aku tidak mau berurusan dan ikut campur dalam masalah orang lain, tapi karena bocah Owl itu memohon agar aku membantu kalian ya sudah. Jadi, kalian ingin meminta bantuan apa kepadaku? Apa kalian diganggu oleh hantu? Atau kalian ingin aku mengusir hantu?" berondong Luhan langsung pada intinya.

"Eoh, begini Xi Luhan ssi—"Baekhyun mulai beucap namun segera dipotong oleh Luhan.

"Panggil saja aku Luhan, aku tidak suka dengan kesan formal." potongnya santai yang membuat Baekhyun sedikit dongkol namun ia masih bisa cukup bersabar.

"Hmm, sebenarnya disini aku yang mengalami hal ganjil itu Luhan ssi, aku mengalami hal mengerikan setelah—" lagi-lagi kalimat Baekhyun terpotong.

"Kau sedang diikuti, bukankah kau merasa begitu?" tebak Luhan dengan menyilangkan kedua kakinya dan menaruh kedua tangannya diatas lutut.

Baekhyun memiringkan kepalanya, sedikit terkejut. Sebenarnya bukan itu yang akan ia sampaikan namun tidak di pungkiri bahwa ia juga sering merasakan seperti ada yang mengikuti. Apa Luhan ini mengetahui sesuatu?

"N-Nde, bagaimana kau bisa tahu? Kadang aku merasa seperti diikuti dan diperhatikan oleh orang lain. Tapi tidak ada siapapun disekitarku saat itu." jawab Baekhyun sedikit gugup.

"Kau diikuti seseorang? Tapi kenapa kau tidak pernah menceritakannya padaku Bae?" ujar Chanyeol yang sedikit mengeluarkan tatapan protesnya. Baekhyun hanya bisa merunduk maaf dan tersenyum kikuk.

"Ehem.. dia mengikutimu sampai kesini tadi, namun sepertinya ia sudah pergi. Lagi pula itu bukan orang, kurasa makhluk itu cukup mempunyai energi negatif yang tinggi. Apa kau pernah menyakiti orang? Atau membunuh orang?" tebak Luhan asal.

"A-aniya,, sebenarnya aku mengalami kejadian menyeramkan seperti itu setelah aku menemukan sebuah perkamen Luhan ssi." jelas Baekhyun lantang.

"Perkamen?" Luhan mengernyit. Tatapan itu seolah meminta penjelasan lebih rinci dari ucapan Baekhyun. Chanyeol yang bosan dengan pembicaraan bertele-tele ini segera mengambil perkamen yang berada didalam tas ransel yang diletakkan dipangkuan Baekhyun.

"Perkamen ini."

Luhan menerima perkamen yang disodorkan oleh Chanyeol dan membukanya. Seketika kedua pupil mata itu melebar. Ekspesi wajah itu menampakkan keterkejutan yang luar biasa. Wajah kelewat cantik untuk namja itu berubah menjadi pucat pasi.

"D-Dimana k-kau menemukan ini Baekhyun-ah?" tanya Luhan dengan nada suara yang bergetar.

"Aku menemukannya di Hutan Bloody Wood, Westseven." jawab Baekhyun

Luhan berusaha mengatur nafasnya yang tiba-tiba memburu. Ia menarik nafas dalam untuk rangkaian kalimat berikutnya.

"K-kau belum membacanya kan, Baekhyun-ah?" sungguh Luhan tidak ingin prediksi buruk yang berada dalam benaknya menjadi jawaban atas pertanyaan tadi, namun—

"Aku yang membacanya Luhan ssi." terdengar suara Chanyeollah yang menjawab pertanyaan itu.

"Kau—" Luhan tercekat, demi apapun jantungnya seakan di pompa dua kali lebih cepat. Peluh semakin membanjiri keningnya. Ia mengerat genggamannya pada perkamen, kemudian mencoba mengatur deru emosinya dengan menutup mata dan menghirup udara sebanyak-banyaknya.

Baekhyun yang melihat respon dari Luhan setelah melihat perkamen terebut sedikit merasa khawatir.

"Kau baik-baik saja Luhan ssi?" namun Luhan tetap tidak bergeming.

Ia perlahan membuka matanya dan meletakkan perkamen itu pada meja di depannya dengan tangan yang gemetar. Chanyeol yang melihat itu segera mengambil perkamen itu dan menyimpannya kembali pada tas ransel Baekhyun.

"Apa yang sudah kalian alami setelah bocah bodoh ini (tunjuknya pada Chanyeol) membaca perkamen itu, Baekhyun-ah?" tanya Luhan sedikit memicingkan matanya kepada Chanyeol seolah menyalahkannya. Chanyeol sedikit mendengus dan tidak suka dengan panggilan 'Bocah bodoh' dan lagi tatapan menjengkelkan itu.

Baekhyun menceritakan semua kejadian mengerikan yang ia alami dan itu sukses membuat wajah pucat Luhan semakin kentara. Banyak nafas yang Luhan hembuskan dengan kasar ketika mendengar penuturan Baekhyun.

"Tunggulah sebentar." Luhan beranjak dari duduknya setelah Baekhyun mengakhiri ceritanya.

.

Setelah beberapa saat Luhan muncul dengan buku tua berukuran tanggung yang sudah lusuh ditangannya. Sampul buku itu sudah cukup pudar dan entah apa tulisan yang tercetak di depannya. Hanya gambar ukiran bunga mawar berwarna hitam yang masih tampak dikeempat sisi buku tersebut.

"Ini adalah catatan leluhurku. Ia bernama Edith— aku belum sepenuhnya mempelajari catatan ini, tapi jika dari apa yang kau ceritakan berarti iblis itu sudah berhasil melakukan ritual yang pertama Baekhyun-ah.. Selanjutnya ia akan melakukan ritual yang kedua. Aku tahu ini akan berat, namun jika kau ingin selamat maka kita harus mencegah ritual kedua itu terjadi." tutur Luhan

"Lalu Bagaimana cara mencegah ritual kedua itu Luhan ssi?" tanya Baekhyun mulai putus asa.

Luhan perlahan menunduk, membolak balik buku tersebut sampai halaman tengah. Ia sedikit ragu.

"Kau harus membaca mantra yang akan aku berikan ketika iblis itu muncul Baekhyun-ah, maka iblis itu tidak akan bisa menjamahmu, kau terlindungi dan tidak akan terpengaruh. Karena sebelum diadakan ritual kedua kau harus mengucapkan mantra dibawah pengaruh iblis itu sebagai jalan pembuka ritual kedua. Jika iblis itu tidak berhasil mempengaruhimu dan kau tidak mengucapkan mantra itu maka ritual kedua tidak akan terjadi, sehingga pada saat itu juga iblis itu akan lenyap dengan sendirinya dan kau akan selamat." Papar Luhan sedikit menyunggingkan senyum.

"Kapan ritual kedua itu dilakukan Luhan ssi?" tanya Baekhyun mulai menemukan semangat hidupnya.

"Tepat ketika bulan separuh ke 397 yaitu setelah purnama ke 396, 7 hari setelah ritual pertama dilakukan. Kau harus membaca mantra ini apapun yang terjadi Baekhyun-ah, kau hanya bisa mengandalkan dirimu sendiri."

Luhan kemudian merobek satu lembar dari halaman kosong di buku tersebut. Entah apa yang terjadi yang jelas sebelum merobek lembar dalam buku itu, ia menutup mata dan mengucapkan seperti mantra dan — sret, dari robekan tersebut keluar percikan cahaya.

Ia kemudian meletakkan kertas tersebut diatas meja. Luhan kembali memposisikan tangannya diatas kertas tersebut, mulutnya menggumam sesuatu dan perlahan jarinya seperti menulis sesuatu. Tidak ada satu hurufpun yang tercetak diatas kertas tersebut. 'Orang gila mana yang mengharapkan adanya rangkaian huruf jika kau tidak menulis menggunakan tinta atupun alat tulis yang meninggalkan bekas diatas kertas.' namun pemikiran itu salah ketika Luhan menarik tangan Baekhyun.

"Aku membutuhkan darahmu." ujarnya sembari menggigit ujung jari Baekhyun dengan giginya.

"Akh.." Baekhyun meringis ngilu. Darah segar keluar dari ujung jarinya kemudian menetes diatas kertas tadi dan seketika matanya terbelalak menyaksikan darahnya menyusut seolah terhisap oleh kertas dan perlahan digantikan dengan tulisan latin berwarna merah seperti darahnya.

Setelah tulisan itu timbul Luhan memberikannya kepada Baekhyun.

"Ingat Baekhyun-ah, kau tidak boleh menghilangkan tulisan mantra ini atau jatuh ketangan iblis itu. Jika kau gagal, orang-orang yang terkait dengan pekamen itu akan mati." peringat Luhan.

Baekhyun menelan ludah dengan susah payah. Ia kemudian mengangguk mengerti. Tulisan mantra yang saat ini di genggamnya adalah penentu hidup dan mati dirinya dan orang lain.

.

.

Baekhyun dan Chanyeol permisi pulang setelah Luhan memberikan tulisan mantra itu. Mereka berjalan menuju tempat dimana mobil mereka terparkir. Namun salah seorang dari kedua namja tersebut menghentikan langkahnya dan membiakan namja lain berjalan menghampiri mobil mereka, ketika ia menangkap dari ekor matanya jika pintu mahoni itu telah tertutup dan sang empunya rumah telah masuk kedalamnya. Seringaian tercetak jelas pada sudut bibir namja tersebut.

'Tak ku sangka kita akan bertemu secepat ini Edith, atau lebih tepatnya— apa ku sebut saja dengan reinkarnasimu?' ujar namja tersebut dalam hati.

"Chanyeol-ah.. apa yang kau lakukan? Sampai kapan kau akan terus berdiri di situ! Ayo kita pulang, palliwa!" teriak Baekhyun dari dalam jendela mobil yang terbuka.

"Eoh,, Ne!" Chanyeol segera menghampiri mobilnya yang terparkir.

"Kau ini lamban sekali, Cepatlah!" cecar Baekhyun saat Chanyeol sudah sampai didalam mobil duduk dibangku kemudi.

"Ya..ya... dasar cerewet!" gerutu Chanyeol sembari memasang seatbeltnya. Namun ia teringat sesuatu.

"Ah Bae, tentang tulisan mantra itu aku khawatir jika kau yang menyimpannya. Bukankah Luhan mengatakan saat ini kau sedang di ikuti?" tanya Chanyeol sedikit tesirat nada khawatir disana.

"Aish, benar juga. Bagaimana ini? Emm.. bagaimana jika kau saja yang menyimpannya Yeol?" usul Baekhyun melancarkan jurus puppy eyesnya.

"Eoh,, aku?"tunjuk Chanyeol kepada dirinya sendiri.

"Nde.. hanya kau yang aku percaya disini Chanyeol-ah. Apa kau tidak mau?!" Baekhyun sedikit mengeluarkan nada ancaman dan tatapan siap membunuh. Chanyeol yang mengerti itu menghembuskan nafas berat.

"Aigoo,, baiklah, baiklah. Jangan menatapku seperti itu, aku akan menyimpannya. Apapun akan ku lakukan untukmu. Kau puas?" cibir Chanyeol yang di sambut oleh senyum manis Baekhyun dengan pipi yang merona. Chanyeol kemudian melajukan mobilnya untuk kembali pulang ke mansion.

.

.

Matahari mulai lelah dan kini digantikan oleh pekatnya malam tanpa adanya penghias di atas sana. Seorang namja mungil dengan wajah cantiknya sedang menikmati sejuknya angin malam. Ia berdiri didepan gazebo yang berada di belakang rumah dengan bentangan danau berwarna hijau lumut di depannya.

Mata itu terpejam, namun telinganya masih bisa menangkap suara angin yang menyapu helaian rambut lurusnya.

Wush—angin itu berhembus tak biasa, bau ini begitu familiar di hidungnya. Wangi bunga krisan putih.

"Kau datang?" ucap namja yang masih betah menutup matanya kepada sosok namja yang muncul di belakangnya.

"Lama tak berjumpa Edith" Sahut namja yang tengah berdiri menghadap punggung sempit namja yang ia sapa dengan 'Edith'. Dari nada bicaranya seperti sepasang kawan yang sudah berpisah lama.

Perlahan namja bernama 'Edith' itu membuka mata, menarik nafas dalam dan memutar tubuhnya untuk menyambut namja yang ada di belakangnya.

"Aku bukan Edith tapi kim Luhan." ujar datar namja yang ternyata adalah Luhan itu tak suka.

"Well, baik kau adalah Xi Luhan maupun Edith, bagiku kalian berdua tatap saja sama." tutur namja yang perlahan mulai mendekat kearah Luhan berdiri.

"Ck, jangan samakan aku dengannya. Aku lebih suka dengan diriku sendiri!" ucap Luhan santai sedikit arogan sembari menyedekapkan kedua tangannya di depan dada.

"Hahaha.. bahkan sikap aroganmu saja sama persis dengan dirinya. Mana mungkin aku tidak menyebutmu Edith? Lagipula aku menyukai nama itu."

"Sudahlah, apa kau kesini hanya untuk memperdebatkan sebuah panggilan, Eoh?" Luhan mulai merasa kesal dengan namja yang dengan seenaknya menertawakannya tadi.

"Tentu saja tidak, aku datang kemari hanya sekedar mengunjungi dan menyapa mantan kekasih lama. Apa kau tidak merindukanku? Edith."

Luhan hanya bisa memutar bola mata jengah mendengar panggilan itu melalui lubang telinganya.

"Jangan bertele-tele, katakan dengan jelas! Apa kau yakin kemari hanya ingin menyapaku tanpa berkeinginan untuk membicarakan iblis perkamen itu?" tanya Luhan dengan seringaian diujung bibirnya.

"Ah,, itu juga termasuk salah satu alasan mengapa aku kemari." ucap namja yang kini sudah berada di samping danau, memandang hamparan kelam genangan air di depannya.

Luhan ikut memposisikan dirinya menghadap danau sama seperti namja di sampingnya. Ia menghela nafas sejenak sebelum berujar.

"Empat hari lagi ritual kedua akan dilakukan oleh iblis itu. kau harus menghalanginya, karena dengan hanya mantra pelindung yang sudah ku berikan saja kurasa tidak akan cukup. Aku belum tahu seberapa besar kekuatan iblis itu, dan lagi—" Luhan berhenti sejenak untuk memandang namja disampingnya.

"Aku sulit menangkap keberadaan iblis itu. Jadi, jika Kau bisa menggunakan kekuatanmu untuk memperkuat pertahanan mantra yang telah aku berikan kepada Baekhyun maka semua akan baik-baik saja." sambung Luhan kembali.

"Begitukah?" taggapan datar di berikan oleh namja tersebut.

"Iya, setidaknya itu yang aku rencanakan. Namun, Ini akan menjadi pertempuran yang berat jika kita tidak berhasil menggagalkan ritual yang kedua. Kita berdua dalam bahaya dan— pada akhirnya kita akan mati mengenaskan." ujar Luhan dengan kalimat terakhir yang ia bisikkan tepat pada lubang telinga namja yang berdiri disampingnya.

.

.

Namja mungil itu terlihat resah dan terus mengeliat. Peluh membanjiri dahi dan ujung rambutnya. Sebenarnya apa yang namja mungil bernama Baekhyun ini alami?

Baekhyun melihat dengan jelas melalui kedua matanya sosok yang ia kenali sebagai Chanyeol dengan tubuh penuh memear dan luka sedang berusaha melepaskan diri dari cekalan 2 orang yang wajahnya terlihat begitu samar. Ingin rasanya Baekhyun membantu, berteriak memanggil Chanyeol dan menghajar kedua lelaki bertubuh tanggung itu dengan Hapkidonya. Namun entah mengapa tubuh Baekhyun sulit untuk di gerakkan seakan ia hanya disetting untuk menjadi penonton disana.

Belum Baekhyun mengerti dengan kondisi tubuhnya yang seperti batu, ia di kejutkan dengan munculnya sosok namja lain menggenggam sebuah belati berwarna perak perlahan mendekat kearah Chanyeol yang masih memberontak melepaskan diri. Baekhyun melebarkan matanya, ia panik melihat namja dengan belati ditangannya tersebut semakin dekat kearah Chanyeol dan mengangkat belati itu tinggi-tinggi. Jantung Baekhyun memburu, ia ingin menyelamatkan Chanyeol namun sungguh demi apapun tubuhnya begitu sulit untuk digerakkan, hingga—

Jlep—krass, belati itu tepat menghujam dada sebelah kiri Chanyeol, Baekhyun tercekat. Mulutnya sempat terkunci, ia melihat dengan jelas bagaimana wajah orang yang menusuk jantung Chanyeol menyeringai bagaikan iblis. Ia belum mengidap kepikunan sehingga ia masih ingat dengan jelas wajah rupawan yang sedang menusukkan lebih dalam belati itu ke dada Chanyeol. Oh Sehun—

Baekhyun berteriak histeris saat Chanyeol terbatuk memuntahkan darah dan sekarat.

"Andwe.. CHANYEOL! CHANYEOL-AH! TIDAK.. CHANYEOL!"

.

.

"CHANYEOLLL! Hah,,,hah..hh" Baekhyun terbangun dan reflek mendudukkan tubuhnya dengan nafas yang memburu dan keringat dingin menetes memenuhi wajah pucatnya. Jantungnya terpacu berkali – kali lipat lebih cepat saat ini. Tanpa sadar air matanya sudah mengalir tanpa di perintah sehingga menimbulkan isakan kecil yang membuat dirinya kian sulit untuk bernafas. Baekhyun mengerat selimut yang menutupi sebagian tubuh gemetarnya. Ia berusaha untuk meredakan isakan begitu pula dengan jantungnya. Baekhyun mengambil nafas panjang, berusaha untuk menghirup udara dengan baik dan mengeluarkannya pelan-pelan. Baekhyun menutup matanya sejenak, ia mulai sadar jika ia baru saja bermimpi. Mimpi yang begitu buruk. Namun, apa maksud mimpinya tadi? Mengapa namja yang ia tahu bernama Oh Sehun itu menusuk Chanyeol? Bukankah Oh Sehun itu namja yang ia curigai sebagai—'Iblis'? 'Oh tidak, mungkinkah akan terjadi sesuatu yang buruk dengan Chanyeol? Jangan-jangan Chanyeol akan—' wajah Baekhyun kembali pucat pasi dengan kedua mata yang memancarkan sorot ketakutan.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

I'm Back.. sesuai janji aku update malem jum'at seminggu sekali.. Hehehe..

Note: Yang penasaran terus mau baca versi Kyuminnya Ciee nyari spoiler ya? Kekekeke…

Thanks ya yang udah Review, Love u all..

See you soon on the next chapter…

Thankyuuu…

Salam 614 & 137…