Chanbaek Story by Yasaenghwa

Proundly Present:

The Devil's Spawn

Teufelsbrut

Birth of Demon

WARNING:

Chanbaek, YAOI, Boyslove, Supranatural/horror/Angst/MPREG, NC-21, Typo(es)

Disclaimer:

this fic is mine,

FANFIC REMAKE DARI FIC KYUMIN "THE DEVIL'S SPAWN"

Terimakasih untuk tidak plagiat, Bash dan flame..

.

.

.

don't like, just click close (X)

Happy reading and enjoy..

.

.

Main cast:

Park Chanyeol

Byun Baehyun

Support cast:

Oh Sehun

Kim Jongin

Xi Luhan

Do Kyungsoo

Kim Junmyun

Do Yeolngsoo

Bae Joo-Hyun (Irene/RV)

Park Chae Young (Rose/BP)

Dan akan bertambah sesuai kebutuhan cerita

Summary:

Baekhyun seorang mahasiswa arkeologi yang menemukan perkamen dalam hutan terkutuk mendapatkan kejadian mengerikan di dalam hidupnya, ia di perkosa oleh 'iblis' yang menanamkan benih dalam perutnya. Apakah dia akan mati? Bisakah ia lepas dari 'iblis' itu? apa yang terjadi dengan Chanyeol sahabatnya?


Previous chapter

"CHANYEOLLL! Hah,,,hah..hh"

Baekhyun terbangun dan reflek mendudukkan tubuhnya dengan nafas yang memburu dan keringat dingin menetes memenuhi wajah pucatnya. Jantungnya terpacu berkali – kali lipat lebih cepat saat ini. Tanpa sadar air matanya sudah mengalir tanpa di perintah sehingga menimbulkan isakan kecil yang membuat dirinya kian sulit untuk bernafas. Baekhyun mengerat selimut yang menutupi sebagian tubuh gemetarnya. Ia berusaha untuk meredakan isakan begitu pula dengan jantungnya. Baekhyun mengambil nafas panjang, berusaha untuk menghirup udara dengan baik dan mengeluarkannya pelan-pelan. Baekhyun menutup matanya sejenak, ia mulai sadar jika ia baru saja bermimpi. Mimpi yang begitu buruk. Namun, apa maksud mimpinya tadi? Mengapa namja yang ia tahu bernama Oh Sehun itu menusuk Chanyeol? Bukankah Oh Sehun itu namja yang ia curigai sebagai—'Iblis'? 'Oh tidak, mungkinkah akan terjadi sesuatu yang buruk dengan Chanyeol? Jangan-jangan Chanyeol akan—' wajah Baekhyun kembali pucat pasi dengan kedua mata yang memancarkan sorot ketakutan.

.

.

Teufelsbrut

The Devil's Spawn

.

.

Chapther 6

Namja berperawakan mungil itu sekali lagi menarik nafas panjang. Ia berusaha menetralkan nafas yang sempat menderu tadi. Dialihkan pandangannya pada jam weeker yang terpajang diatas nakas samping tempat tidurnya. '02.15' itulah angka yang tertera pada jam tersebut.

Huft—

Ia mencoba kembali berbaring untuk tidur, namun pikirannya masih melayang ke mimpi buruk yang baru ia alami tadi sehingga namja pemilik nama Baekhyun itu masih betah untuk terjaga. Tidak lama ia kembali terduduk dan mengacak rambut hitamnya dengan gusar. Baekhyun merasa tidak tenang. Ia harus memastikan kondisi Chanyeol sekarang.

Pemuda penyuka strawberry itu kemudian menyambar smartphone hitam yang tergeletak diatas nakas tempat tidurnya. Ia mendial nomor yang sudah di hafalkannya di luar kepala.

Nada sambunglah yang terdengar pertama kali menyapa telinga Baekhyun.

Cukup lama sehingga membuat namja manis ini semakin gusar, 'Ayolah Chanyeol.. angkat.. jebal.. angkatlah!'

"Yeobossaeyo—yak nuguya?! Apa kau tidak punya otak! Ini jam berapa, Eoh?!" teriak suara di seberang sana membuat Baekhyun berjengit kaget.

"C-Chanyeol-ah,, ini aku— apa aku membangunkanmu?" cicit Baekhyun. Hening beberapa saat. Sepertinya Chanyeol sedang mengumpulkan kesadarannya di seberang sana.

"Hmm, kau Bae.Wae?" tanya suara yang terdengar parau khas orang yang kesal di bangunkan dari tidur secara paksa itu.

"Mian, Apa kau baik-baik saja?" Baekhyun bertanya lirih.

"Tentu saja aku baik-baik saja. Memangnya ada apa, eoh? Sesuatu terjadi padamu?" terdengar nada kecemasan pada suara Chanyeol.

"Aniya, tidak terjadi sesuatu padaku. Aku hanya ingin memastikan kondisimu." Jawab Baekhyun dengan kelegaan dihatinya.

Suara helaan nafas Chanyeol terdengar begitu jelas dari seberang sana. Sebelum —

"Yak! Kau membangunkanku tengah malam begini hanya untuk bertanya kondisiku?! Aish yang benar saja—" sentak Chanyeol yang membuat Baekhyun kembali menjauhkan ponselnya.

"Aigoo... sepertinya kau memang baik-baik saja. Ya sudah, aku tutup saja. Annyeong!"

Tutt...

Baekhyunpun memutus panggilan telfonnya tanpa mendengar jawaban dari Chanyeol. Ia sungguh tidak ingin mendengar omelan Chanyeol saat ini, sangat berisik dan hampir membuat telinganya tuli. Persetan jika besok Chanyeol akan bersungut kesal padanya, yang pasti sekarang ia merasa lega jika Chanyeol dalam keadaan baik-baik saja. Kini Baekhyun bisa kembali tidur dan berdoa agar mimpi mengerikan tadi tidak mampir kembali dalam tidur indahnya. Yah… Semoga.

.

.

.

Chanyeol tak habis fikir, mengapa sabahat tersayangnya bermarga Byun itu sepagi ini sudah menghasutnya untuk berkunjung ke perpustakaan kampus padahal mereka sedang tidak ada kelas atau tugas. Oh tuhan! Apa Baekhyun memiliki hobi baru untuk mengganggu libur tenangnya sekarang? Setelah semalam dengan tidak elitnya sang pemilik mata puppy itu membangunkan tidur indahnya pada jam-jam lewat tengah malam. Dan sekarang lihatlah, anak itu seperti depresi berat dengan mata sayu dan kantung mata tebal.

Baekhyun kembali menghela nafas, ia masih betah untuk tidak bergeming disalah satu bilik baca yang disediakan perpustakaan dengan beberapa buku sejarah memenuhi mejanya. Sementara Chanyeol yang duduk disebelah Baekhyun menjatuhkan kepalannya dengan malas diatas kedua tangan yang ia sedekapkan diatas meja. Jujur saja mata Chanyeol masih terasa mengantuk dan perpustakaan bukanlah tempat yang tepat untuknya saat ini. Seharusnya hari ini ia habiskan untuk tidur dan bermain game sepuasnya. Ishh…

Chanyeol yang merasa bosan akhirnya mengangkat kepalanya untuk melirik Baekhyun dan bertanya, "Kau kenapa Bae? Apa ada sesuatu yang menggangumu? Ku perhatikan dari tadi kau hanya diam tanpa membaca satupun buku dihadapanmu." Chanyeol menunjuk buku-buku yang tergeletak tidak berguna didepan Baekhyun menggunakan dagu.

"Huft— Entahlah, Pikiranku terasa semakin kacau. Aku ingin semuanya cepat berakhir Yeol, dan—" Baekhyun menghela nafas kembali. Pandangannya tampak meredup dan Chanyeol bersumpah dari kedua manik kelam itu Baekhyun seperti orang sedang tertekan.

"Dan aku tidak ingin sampai ada korban." sambungnya lirih sembari memejamkan mata. Baekhyun kembali teringat sekelebat mimpi buruknya semalam.

"Terjadi korban? Maksudmu?" tanya Chanyeol mengerutkan dahi, Ia memicing dengan wajah sebelah alis terangkat, 'Sepertinya memang ada yang tidak beres.'

Baekhyun membuka mata dan mengalihkan pandangannya pada Chanyeol. Pandangan itu begitu sayu dan penuh keputusasaan.

"Semalam, aku bermimpi tentangmu Yeol. Iblis itu—ah tidak, maksudku namja bernama Oh Sehun itu menusukmu dengan belati perak. Kau berteriak, meronta, namun— namun aku tak bisa berbuat apa-apa saat dia semakin menusukkan belatinya ke jantungmu, Chanyeol-ah. Kau— kau terlihat sekarat. Kau kesakitan dan memuntahkan darah tapi aku tak bisa menolongmu. Aku, aku—" Baekhyun meracau hebat dan memucat. Ia kalut. Mata bening itu berkaca-kaca, namun tidak sampai menumpahkan air mata. Ia sudah tidak ingin membuang air matanya lagi hanya untuk takut pada iblis itu. Baekhyun ingin melawan namun ia juga bingung bagaimana caranya.

"Hey,, lihat aku, bukankah aku baik-baik saja? Sudahlah Bae, tidak akan terjadi hal seperti yang dimimpimu itu. Mimpi itu hanya bunga tidur, kau hanya takut dan ketakutanmu itu terbawa ke alam mimpi, jadi jangan pikirkan mimpi itu. Okey?" Chanyeol hanya menanggapi enteng, ia mencoba membuat Baekhyun merasa relaks.

"Yah— semoga saja kau benar. Aku hanya ingin semua ini berakhir Yeol, aku ingin cepat mengakhirinya! Apapun akan kulakukan asal semua ini berakhir!" Baekhyun berujar dengan lantang untuk menguatkan hati. Nafasnya memburu, terlihat dimata itu tekad yang begitu kuat untuk melawan dan bertahan. Baekhyun merasa tidak tahan dan muak dengan ketakutan yang selalu menghantuinya. Ia ingin bebas dan kembali menjalani hidup normal.

"Woow, wow, tenang Bae, tenang. Ah—tunggu sebentar." Chanyeol hampir saja terlupa akan sesuatu yang kemarin ia temukan diruang perpustakaan buku sejarah milik keluarganya. Ia kemudian merogoh tas hitam yang ia sampirkan pada tempat duduk miliknya untuk mengambil sesuatu yang sudah ia siapkan. Rencananya ia akan menunjukkan ini kepada Baekhyun saat mereka bertemu dan kebetulan sekali Baekhyun mengajaknya kemari jadi ia bisa menunjukkannya sekarang.

"Apa yang sedang kau cari Yeol?" Baekhyun bertanya penasaran sembari mengintip kedalam tas Chanyeol diatas panguan pemuda tinggi itu.

"Sebentar Bae, aku sedangꟷ"

Sret!

"Assa!" Chanyeol berhasil menarik keluar sebuah buku yang tampak cukup tebal dari dalam tasnya. Chanyeol segera menyingkirkan tasnya untuk kemudian meletakkan buku tersebut diatas meja. Sebelah alis mata Baekhyun terangkat, 'Eh? Lagi-lagi sebuah buku kuno?'. Yeah,,, Kali ini berwarna hitam pekat tanpa sampul(?).

"Bacalah." Chanyeol menggeser buku itu tepat didepan Baekhyun yang sempat tertegun dan mengerutkan dahi melihat buku aneh itu.

Baekhyun kemudian menerimanya dan membuka satu persatu isi buku tersebut untuk dibaca.

.

.

Beberapa menit setelah Baekhyun meneliti dan membaca isinya, matanya terbelalak. Baekhyun menolehkan pandangannya kepada Chanyeol yang duduk santai menatap antusias ke arahnya.

"Kau yakin dengan ini—" Baekhyun tercekat dan kembali membaca ulang buku tersebut. Buku itu ternyata berisikan tentang upacara atau ritual untuk memusnahkan iblis atau mengunci iblis kembali pada kegelapan. Itu yang bisa Baekhyun simpulkan dari buku di tangannya.

Chanyeol mengedikkan bahu sesaat, "Akupun tak tahu. Tapi tidak ada salahnya jika kita mencoba mengikuti apa yang ada di buku itu bukan?"

"I-iya, tapi─"

"Dengar Bae─" Chanyeol merangkul pundak Baekhyun dan kembali menyambung ucapannya, "Bukankah kau ingin semuanya berakhir?" tanya Chanyeol sarkastik.

"Emm, tentu saja, Yeol. Tapi, dimana kau mendapatkan buku ini?" tanya Baekhyun menyelidik.

"Buku itu aku temukan kemarin di perpustakaan sejarah ayah. Ku pikir buku itu akan berguna." jawab Chanyeol seadanya setelah melepaskan rangkulannya dan bersedekap.

Baekhyun hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Chanyeol tanpa beralih dari tulisan latin Jerman khas dari daerah Jerman Selatan yang tercetak pada buku itu.

"Hmm.. Ku rasa kau benar. Sepertinya buku ini akan berguna jika aku melafalkan mantra yang kemarin Luhan berikan. Bukankah mantra itu akan melindungiku dari iblis itu Yeol?" tanya Baekhyun memastikan.

"Bingo! Tepat seperti apa yang kupikirkan. Kau bisa melindungi dirimu dengan mantra dari Xi Luhan itu sementara kita akan melakukan ritual yang ada di buku tersebut. Mulanya sore ini aku akan ke mansionmu untuk memperlihatkan buku ini, tapi ternyata kau sudah menyeretku kemari sepagi ini. Beruntung sekali bukan? Hehe.." jelas Chanyeol sembari terkekeh entah apa yang membuatnya lucu. Baekhyun hanya terdiam seolah berfikir beberapa saat.

"Tapi bagaimana denganmu Chanyeol-ah? Jika sesuatu terjadi padamu, kau akan—" Baekhyun memandang intens Chanyeol.

"Tidak akan, tenanglah. Selama kau membaca mantra yang di berikan Luhan, lalu kita bisa menyelesaikan ritual ini, Kita akan baik-baik saja dan iblis itu akan musnah." ujar Chanyeol begitu tenang.

"Kau yakin? Bukankah Luhan mengatakan aku hanya perlu membaca mantra yang ia berikan agar iblis itu tidak mempengaruhiku dan tidak bisa melakukan ritual kedua, selanjutnya iblis itu akan musnah dengan sendirinya?" tutur Baekhyun yang merasa ritual di buku itu hanya akan mendatangkan bahaya pada Chanyeol.

Namun Chanyeol segera mengambil alih buku itu dari tangan Baekhyun dan membukanya pada bagian mendekati akhir.

"Baca bagian yang ini." tunjuknya pada tulisan bercetak merah tebal pada buku tersebut.

Baekhyun mengalihkan pandangannya pada tulisan yag ditunjuk oleh Chanyeol. Membaca dengan teliti rangkaian kata dan kalimat yang terdapat pada paragraf tersebut.

Seketika matanya melebar, ia menutup mulutnya yang menganga dengan tangan kanannya. Pandangannya ia alihkan kepada Chanyeol, mencoba mencari kepastian.

"Tidak mungkin, benarkah ini? Tunggu—" Baekhyun mulai menghitung dengan jarinya. Dan ia tercekat "Malam ini?" gumam Baekhyun sulit percaya.

Chanyeol kemudian menggangguk. Ia menghela nafas dan memegang pundak Baekhyun yang masih syok.

"Malam ini kemungkinan iblis itu akan melakukan ritual pembuka sebelum ritual kedua itu Bae. Memang yang dikatakan Luhan benar, tapi kita tidak tahu seberapa kuat iblis itu dan seberapa lama mantra Luhan akan melindungimu. Jadi, sebelum dia melakukan ritual pembuka itu, kita harus memusnahkannya terlebih dahulu dengan cara yang ada dalam buku ini." tunjuk Chanyeol pada buku yang berada di pangkuan Baekhyun.

Baekhyun meneguk ludah susah payah. Ia bingung. Pikirannya berkecamuk. Terlalu berbahaya dan beresiko untuk Chanyeol jika mereka─ dia dan Chanyeol─ melakukan ritual seperti yang ada di buku tersebut. Namun kata-kata Chanyeol ada benarnya, tidak ada yang bisa menjamin seberapa kuat iblis itu dan seberapa hebat mantra Luhan menjaganya dari iblis itu. Jika seperti itu, tidak ada salahnya untuk mencoba bukan? tapi—

"Kau tidak perlu mencemaskanku Bae, percayalah aku akan baik-baik saja selama kau mengikuti apa yang ku katakan, hmm?" seolah mengerti perang batin dalam diri Baekhyun, Chanyeol mencoba untuk meyakinkan.

"C-Chan—" Baekhyun semakin kalut dan bimbang.

"Ssstt... cukup pikirkan semua ini akan berakhir. Aku melakukan semua ini hanya untuk melindungimu." Chanyeol berujar penuh arti.

Baekhyun menutup mata, mencoba memantapkan hatinya. Semoga pilihannya ini tidak akan membuatnya menyesal dan menimbulkan korban. Baekhyun perlahan membuka mata dan dengan sekali tarikan nafas ia mengangguk untuk melakukan ritual yang ada pada buku tersebut. Entah apa nama buku itu.

.

.

.

Baekhyun saat ini berada di ruang tengah mansionnya yang disulap menjadi lapang. Kursi-kursi sengaja di singkirkan untuk menaruh lilin-lilin yang tersusun membentuk sebuah pentagram. Ritual yang akan mereka lakukan sengaja di mansion milik Baekhyun karena di mansion itulah semuanya di mulai.

Chanyeol sedang meletakkan lilin terakhir untuk menyempurnakan bentuk pentagram yang ia buat. Ia kemudian melirik jam yang ada di tangannya. Pukul 23.25, yang berarti 35 menit lagi menuju tengah malam. Terlihat diluar sana malam semakin gelap. Suara binatang malam semakin jelas di telinga. Udara dinginpun semakin terasa menusuk kulit.

Chanyeol mengedarkan pandangannya pada Baekhyun yang berdiri tak jauh darinya. Sedari tadi Baekhyun hanya mengawasi setiap gerakan Chanyeol mempersiapkan ritual yang dulu sempat ia anggap konyol ini. 'Ck, Baekhyun seperti menjilat ludahnya sendiri.'

Chanyeol melangkah mendekati Baekhyun dan memegang pundak sempit itu. Ada sedikit remasan disana untuk menyalurkan kekuatan pada mental Baekhyun.

"Kau siap?" tanya Chanyeol seolah memberi aba-aba Baekhyun sebelum ia memulai ritual. Baekhyun hanya merespon dengan anggukan.

"Baiklah, dari buku ini kau harus berdiri di tengah pentagram itu dan membaca pada baris ke 5 sampai ke 7. Lalu, jangan lupa kau harus membaca mantra di kertas ini Bae." Chanyeol memberikan buku yang berada di tangannya berikut kertas mantra yang diberikan oleh Luhan kepada Baekhyun.

Baekhyun menerima ke dua benda itu dengan tangan gemetar. 'Oh Tuhan! Tolong kami, selamatkan kami malam ini.' pintanya dalam hati.

Chanyeol yang melihat tangan gemetar Baekhyun reflek menggenggam tangan itu dan meremasnya lembut. Ia seperti menyalurkan kekuatan untuk 'sahabat' tercintanya tersebut.

"Gwenchana, kita akan baik-baik saja. Hanya ikuti saja kata-kataku apapun yang terjadi, arra?"Chanyeol berbisik lembut ditelinga Baekhyun. Kata-kata itu membuat Baekhyun berdesir dan mendapatkan sedikit banyak tambahan energi.

Baekhyun menatap manik bening nan kelam itu untuk kemudian mengangguk pasti.

"Aku akan melakukannya dengan baik." setelah mengatakan itu Baekhyun bersiap di posisinya. Ia berdiri ditengah-tengah lilin pentagram. Sedangkan Chanyeol berada disebelah kanan Baekhyun kemudian melirik kembali jam yang ada di pergelangan tangannya. '10 menit lagi' batinnya.

Kemudian Chanyeol memberi aba-aba kepada Baekhyun jika ritual ini akan ia mulai. Baekhyun menganggukkan kepalanya sekali, pertanda ia siap. Melihat itu, Chanyeol mulai memejamkan mata dan merapalkan beberapa mantra yang mungkin sudah ia hapalkan dari buku yang kini berada di tangan Baekhyun.

Baekhyun mulai mempersiapkan diri. Tidak dipungkiri kini jantungnya terpacu lebih cepat dari biasanya. Namun ia mencoba tenang dan berkonsentrasi. Cukup membaca buku itu, membaca mantra dari Luhan, ritual selesai dan semuanya akan kembali normal. Ya, ia harus bisa menyelesaikan ini. Harus!

Beberapa menit setelah Chanyeol melakukan tugasnya, tiba-tiba—

Wush—

Angin entah datang darimana menyerbu kesegala arah. Semuanya bergemuruh, persis seperti kejadian saat perkamen itu di baca. Lilin-lilin yang tersusun menjadi pentagram bergoyang dengan brutal, namun anehnya lilin tersebut tidak mati maupun tumbang. Chanyeol dan Baekhyun masih tidak bergeming pada tempatnya masing-masing.

Suasana semakin mencekam saat lampu mulai tak beraturan menyala dan mati. Baekhyun melihat semuanya, bagaimana bayangan itu menyusup diantara deru angin dan berputar bagaikan angin beliung berwarna hitam yang siap menghantam apapun di depannya.

Baekhyun tercekat. Ketakutan itu mulai melingkupi dirinya sampai ia tidak sadar jika Chanyeol berteriak—

"BAEKHYUN, BACA BUKU DAN MANTRANYA SEKARANG! BACA BAEKHYUN-AH!" teriak Chanyeol yang menghalau angin ribut dengan lengannya menutupi wajah, sementara tubuhnya mulai terhuyung tak stabil.

Baekhyun kembali pada kesadarannya saat mendengar teriakan Chanyeol dari arah samping kanannya. Ia segera membaca dengan suara gemetar bait per bait yang diawali bait ke 5 dan di akhiri bait ke 7.

.

Rückkehr der Dämon Seele in der Ewigkeit. in einem schwarzen Loch terdasar Kruste gefangen, kommen mit einer neuen reinen Seele. der Knechtschaft des Teufels in der Hölle. zerstört !

Kembalikan jiwa iblis dalam keabadian. terkurung dalam kerak lubang hitam terdasar, munculkan jiwa murni yang baru. belenggu iblis di dalam neraka.

Musnah!

.

Angin semakin gemuruh tak terkendali. Benda-benda yang ada di ruangan tersebut berhamburan dan terbanting. Suara pecahan vas, jam dinding dan kaca jendela menambah suasa menjadi begitu mencekam. Namun anehnya angin itu tak menyentuh Baekhyun sama sekali didalam lingkaran pentagram.

Bahkan Chanyeolpun tak luput dari amukan angin itu. Ia terbanting keatas meja yang terbalik. Debumam keras terdengar kala tubuh tinggi itu menghamtam begitu kuat meja yang berada 5 meter darinya.

Bruugkk— BRAAKK!

"AKKHHH.." Chanyeol memekik nyaring, membuat Baekhyun mengalihkan pandangannya ke arah Chanyeol dan menghentikan rapalannya untuk memanggil nama namja itu.

"CHANYEOL!"

"J-JANGAN BERHENTIHH..hh! LANJUTKAN! BACA MANTRANYA BAEKHYUN-AH! AAKKHH..HHh!" Teriak Chanyeol diantara deru nafas dan ringisan kesakitannya.

Baekhyun tercekat dikala angin puting hitam itu menyusut dan berubah menjadi bentuk sosok makhluk seperti bayangan hitam bermata merah menampakkan urat-urat muka yang menonjol. Makhluk itu berbentuk manusia dengan tubuh tegap atletis dan wajah yang familiar. Bersyukurlah dengan mata Baekhyun yang masih melihat dengan jelas rupa makhluk itu walaupun lampu diruangan itu seperti lampu diskotik.

Baekhyun melebarkan matanya saat makhluk itu menggeram dan perlahan mendekati dirinya saat ini. Jantungnya memburu, tubuhnya kelu untuk di gerakkan. Ia begitu gemetar. Seperti kaset yang diputar berulang-ulang di kepalanya, kejadian saat malam persetubuhan itu kembali terngiang di pikiran Baekhyun saat ini.

Sementara itu, Chanyeol menatap kalut kearah makhluk yang mendekati Baekhyun. Ia berusaha berdiri dan berteriak untuk menghampiri Baekhyun diantara terpaan angin yang menyulitkan gerakannya.

"BYUN BAEKHYUN! BACA MANTRANYA!" lagi-lagi pekikan Chanyeol menyadarkan Baekhyun dari kekakuan.

Ia dengan kalap membuka kertas mantra yang di berikan oleh Luhan dan membacanya tanpa tahu isi mantra tersebut. Manusia mana yang bisa berfikir jernih saat sedang panik!

Brechen jeden Fluch, in eine reine Seele wie die neuesten Angebote Teufel vereint. die reine Seele, die aus Rache eingeschlossen ist zurück. Reine Seele gesperrt offen !

Reine Seele gesperrt offen !

Sosok itu dengan membabi buta ingin mencengkeram tubuh Baekhyun. Ia berniat membanting tubuh Baekhyun agar keluar dari pentagram tersebut tepat saat Baekhyun membaca mantra dari kertas yang berada ditangannya. Sosok itu seolah-olah ingin menghentikan Baekhyun membaca mantra tersebut. Namun nahas, hal itu justru dihalangi oleh Chanyeol dan alhasil tubuh Chanyeollah yang terpelanting cukup jauh menghantam dinding saat akan menjadi tameng.

Brugggkkk

"ARRRGG! Uhukk... uhkk." pekikan kesakitan keluar dari bibir Chanyeol yang terbatuk mengeluarkan darah.

Chanyeol memegangi dadanya karena begitu keras menghantam dinding. Sakit menjalar pada punggungnya.

Seketika lampu diruangan tersebut mati dan lilin yang membentuk pentagram itupun mati.

Deepp—

Semuanya gelap total. Baekhyun yang masih merapalkan mantra tersentak dan panik. Tiba – tiba suasana menjadi hening.

"C-Chan.."cicit Baekhyun lirih.

"CHANYEOL..!" panggil Baekhyun lagi dengan suara agak meninggi, namun tidak ada jawaban. Kini pikiran Baekhyun mulai panik dan takut.

"CHANYEOL DIMANA KAU!" Baekhyun berteriak kalap, namun belum beranjak dari tempatnya.

"AARRRGGGGGG!"

Baekhyun mendengar suara teriakan seseorang dari arah belakangnya.

"CHAN─!" Baekhyun berniat akan beranjak menghampiri suara teriakan tersebut namun—

"J-JANGAN KE- ARGG- K-KEMARIHH! T-TETAP D-DI TEM- ARRGKK- TEMPATMU B-BAEK!" Suara yang terdengar seperti suara Chanyeol itu berujar susah payah.

"TAPI CHAN—" Baekhyun tidak bisa berfikir apapun.

"KU BILANG TETAP DI TEMPAT DAN BACA MANTRANYA! Hhh..hhh" Chanyeol terengah dengan suara memburu dan deru nafas berat.

Baekhyun tidak tahu apa yang sedang terjadi dengan Chanyeol dan makhluk itu. Semuanya sangat gelap dan Baekhyun tidak bisa melihat apapun. Ia hanya bisa mendengar debuman keras beberapa kali disertai geraman milik makhluk itu dan sahutan teriakan milik Chanyeol.

Baekhyun tidak bisa membaca mantra itu. Ia hampir gila dan frustasi karena semuanya gelap. Namun Baekhyun mencoba mengingat dalam kepanikan. Ia mencoba berkonsentrasi, namun konsentrasinya terpecah karena pekikan seseorang yang ia percaya sebagai Chanyeol kembali terdengar.

"AARRGGGKKK...KKhh"

'Shit..ayolah Byun Baekhyun, ingatlah! Ayolah..' pintanya dalam hati. Sungguh Baekhyun ingin menangis dan meraung saat ini. Ia tidak ingin terjadi sesuatu pada Chanyeol. 'Tuhan, Chanyeol tidak boleh mati.' rapalnya dalam hati sambil menutup mata sampai—

Brechen jeden Fluch—in eine reine Seele wie die neuesten Angebote Teufel vereint—die reine Seele—die aus Rache eingeschlossen ist zurück—Reine Seele gesperrt offen !

Reine Seele gesperrt offen !

Baekhyun mengikuti suara yang menuntunnya merapalkan mantra tersebut. Itu seperti suara Chanyeol.

Brechen jeden Fluch—in eine reine Seele wie die neuesten Angebote Teufel vereint—die reine Seele—die aus Rache eingeschlossen ist zurück—Reine Seele gesperrt offen !

Reine Seele gesperrt offen !

Seakan mendapatkan sebuah penopang ditengah badai, Baekhyun dengan tak terkontrol mengucapkan mantra tersebut secara berulang-ulang. Ia seolah mendapatkan kembali jiwanya.

Lama kelamaan debuman itu tak terdengar di gantikan dengan riuhnya angin berhembus seperti puting beliung. Kembali ruangan tersebut gemuruh, sebelum akhirnya—

Reine Seele gesperrt offen !

Reine Seele gesperrt offen !

Reine Seele gesperrt offen !

Baekhyun melafalkan lantang mantra terakhir bersama dengan suara Chanyeol yang ikut mengucapkan mantra tersebut pada kalimat terakhir.

Byarrr...

Seluruh ruangan menjadi terang.

Hening—

Baekhyun perlahan membuka mata dengan nafas yang memburu. Ia edarkan pandangannya kesekitar.

Matanya menatap horor pemandangan yang ada di depannya. Makhluk itu menggeram dan tunggu, dia berubah—

"AARRGGGGG!" namja yang bertelanjang dada tersebut berteriak menjambak rambutnya. Ia kemudian berlutut dan terbatuk.

"Uuhhukk.. hkkk.." Dari dalam mulutnya keluar darah berwarna hitam kemerahan sangat kontras dengan kulit pucatnya.

Namja itu kemudian mengalihkan pandangan pada objek di depan sana yang menatapnya syok. Ia ingin menggapai namja mungil tersebut, Namun—

Deg—

Entah apa yang terjadi tiba-tiba tubuh namja tersebut meluruh berubah menjadi butian-butiran pasir hitam seiring dengan pekikakan yang menyayat hati.

"AAARRRRGGGKKKK!"

Wush— dan angin puting beliung menyapu butiran pasir hitam itu serta membuat semuanya kembali seperti semua.

Baekhyun tertegun. Namja tadi yang ada di depannya, benarkah dia adalah Oh Sehun? Wajah itu, Baekhyun tidak mungkin salah. Tapi mengapa mata itu seperti menyiratkan kepedihan dan penyesalan?

"Uhuk.. uhuk.." suara batuk dari arah samping kanan Baekhyun menyentak lamunannya. Ia kemudian mengedarkan pandangannya ke asal suara. Disana terlihat Chanyeol tengah terduduk mengelepar sembari memegang dadanya. Darah basah masih terlihat jelas di sudut bibir dan hidungnya. Baekhyun terbelalak melihat kondisi Chanyeol yaang mengenaskan.

"CHANYEOL!" ia memekik dan segera menghampiri Chanyeol.

Grep—

Baekhyun menghambur memeluk Chanyeol. Tangis Baekhyun pecah seketika memenuhi ruangan itu.

"Hiks..C-Chan, A-akuu, k-kita, hkks.." Baekhyun tidak mampu meneruskan kata-katanya. Ia begitu lega, Ah, tidak..tidak! Dia sangat lega. Chanyeol membalas pelukan Baekhyun lemah. Ia mencoba mengatur deru tarikan nafasnya.

"K-kita berhasil Baek, kita berhasil melakukannya..hhh..hh.." ujar Chanyeol diantara suaranya yang memburu satu-satu.

Baekhyun mengangguk beberapa kali, ia semakin mengeratkan pelukannya pada Chanyeol.

"N-ne, kita berhasil melakukannya Chanyeol-ah, hiks.."

.

.

.

.

JJDUARRR...

Suara jendela terdobrak secara paksa dari sebuah kamar disebuah rumah yang berada di wilayah terpencil. Disusul dengan masuknya angin dan pecahnya vas bunga mawar merah di kamar tersebut.

"WILLIAMMM!" Pekik seorang namja perparas cantik dengan rambut sewarna lavender yang terbangun duduk dari tidurnya. Peluh bercucuran membanjiri pelipisnya, nafasnya memburu tak beraturan. Ia menggeleng kalut, tenggorokannya terasa tercekik. Dadanyapun panas seperti terbakar.

Sesuatu seolah menghantamnya secara tak kasat mata tepat didada namja yang tak lain adalah Xi Luhan itu.

Jduuagg—

"AAHHKKK!" Luhan membungkuk memegangi dadanya yang nyeri tidak kepalang, sebelum kemudian—

"Uhukk.. huekk.." darah ia muncratkan dari mulutnya membasahi baju, selimut dan seprai berwarna putih miliknya.

"Hhh...hhhh.." Luhan mengatur tarikan nafasnya yang putus-putus. Tangan kanannya masih memegangi dadanya yang terasa nyeri, sedangkan tangan kirinya mengusap darah yang keluar dari mulut.

Ia membelalakkan mata. Tangannya bergetar, sebelum kemudian tangan itu mengepal hingga buku-bukunya memutih.

"Sial,, apa mungkin William telah—"

Deg..

"Tidak mungkin, Tidak... ini tidak mungkin" Luhan menggeleng panik, ia meracau bak orang kesetanan.

"TIDAK..!"

.

.

.

.

Chanyeol balas mengeratkan pelukannya pada Baekhyun dan menaruh dagunya pada pundak nyaman itu. Dirinya sangat menikmati aroma tubuh orang yang sejak dahulu sampai sekarang ia cintai. Selamanya dan sampai kapanpun ia akan selalu ingat wangi tubuh ini.

Tanpa Baekhyun tahu dan sadari sudut bibir itu terangkat, menyeringai bak seorang iblis di balik bahunya. Mata itupun berubah menjadi merah semerah darah.

'Ya Kau berhasil Baekhyun,,, Kita berhasil melakukannya.. Kita berhasil melakukan ritual pembuka dari ritual kedua.'

.

Brechen jeden Fluch—in eine reine Seele wie die neuesten Angebote Teufel vereint—die reine Seele—die aus Rache eingeschlossen ist zurück—Reine Seele gesperrt offen !

Reine Seele gesperrt offen !

Patahkan segala kutukan, satukan kedalam jiwa murni sebagai persembahan terakhir iblis. Kembalikanjiwa murni yang terkurung dalam dendam.

Bukalah jiwa murni yang terkunci!

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

Jujur ini kali keduannya gue baca part ini dan gue gak percaya dulu gue bisa buat ginian! NYAAAAAA… CHANYEOLLLL….!

Let's See apa chapter depan bakalan sama? Gue suka main-main sama kalian… HEHEHEHE..

Thanks yang udah REVIEW… Kalian memang orang-orang dengan respect tinggi bukan cuma sekedar baca dari 3.762 readers yang baca. Applause! This is for you guys!

Note PENTING!:

PLEASE ERINA VOTE EXO ON SOBA! AT LEAST WE MUST GET INKISANG GUYS! BESOK TERAKHIR! tgl 24/8/18

Caranya gimana?

Cari aplikasi Soripada Apk di google, klik itu terus download, habis itu instal terus buka = Buat akun baru= masuk lewat facebook atau kakaotalk = vote dengan stik bintang sebanyak 5 kali buat satu kali vote = tar ada konfirmasi ke email tinggal klick konfirm = done! ( Oke, kalo masih bingung kalian bisa cari tutorialnya di YT atau Tweeter)...

Gue mau tanya ada yang tau gimana caranya buat ganti category cerita ke exo next door gak? Soalnya udah gue utak-utik gak ada pilihan buat exo next door. Kalo ada yang tau tolong kasih tau di kotak review yaa.. Makasih sebelumnyaa..

Sampai Jumpa di chapter selanjutnya…

Thankyuuu…

Salam 614 & 137…