HEALING CHAPTER 2

.

.

.

.

MEANIE

.

.

.

KIM MINGYU X JEON WONWOO

.

.

.

.

HEALING

Wonwoo menghabiskan tiga puluh menit mandinya dengan sangat puas. Seakan itu adalah kamar mandi pribadinya. Bahkan tanpa merasa sungkan ia pun mengambil bathrobe milik namja yang belum ia ketahui namanya itu dan memakainya. Sejenak ia mematut diri didepan cermin kamar mandi itu dan menggasak rambut basahnya.

Wonwoo pun tak merasa bersalah saat memakai lotion milik namja itu.

Wonwoo benar-benar takjub dengan perawatan badan yang namja itu miliki.

"Tak kusangka pria menyebalkan itu sepeduli itu dengan kulitnya, bukankah aku lebih putih darinya?". Wonwoo mencoba membandingkan warna kulitnya yang putih mulus bak seorang ratu kecantikan dengan namja kekar yang err… sebetulnya mempunyai aura seksi itu.

Wonwoo bahkan hampir saja memakai pengering rambut namja itu jika ia tak ingat bahwa ia harus makan malam. Perutnya sudah berteriak ingin diisi sesuatu dan kebetulan saja kepalanya mulai pening.

Wonwoo keluar kamar mandi dengan ceria. Aura segar dan rileks terpancar dari diri Wonwoo. Wonwoo merasa suasana hatinya lebih baik setelah mandi. Apa lagi menggunakan mandi kamar namja itu. Ughh… sangat nyaman dengan bathtube yang sempat ia pakai untuk berendam juga. Dan baru Wonwoo sadari ternyata kamar namja itu lebih mewah darinya. Wonwoo menduga kamar namja itu berbeda tipe darinya. Mungkin saja kamar itu tipe suite. Apa lah kamar Wonwoo yang hanya tipe superior. Pantas saja bentuk pintu saja sudah berbeda. Ternyata kamar namja itu luar biasa, dengan dapur pribadi dan sofa lengkap layaknya ruang tamu apartemen.

Wonwoo menyipitkan mata kala melihat namja itu duduk bersandar di ranjangnya dengan laptop dipangkuannya.

Namja itu fokus ntah pada apa yang terpampang di layar laptopnya. Rambut coklat belah tengah namja itu turun saat ia menunduk untuk melihat laptopnya lebih jelas. Sepertinya ia sedang membuat sebuah laporan atau mengecek dokumen.

"Kukira kau ketiduran dikamar mandiku". Ucap namja itu dengan masih memperhatikan laptopnya.

Wonwoo mendengus, ia berjalan mendekat kearah namja itu.

"Hampir saja jika tak ingat itu kamar mandi milik namja menyebalkan sepertimu". Wonwoo melipat tangannya di dada dan berdiri disamping ranjang namja itu.

Namja yang sejak tadi fokus pada laptopnya mendongakkan kepalanya dan menatap Wonwoo.

Ia menatap Wonwoo dari atas hingga bawah. Sekuat tenaga namja itu menahan diri untuk tak berkata cantik atau manis dan sejenisnya yang memancing kucing mengamuk.

Oke, rambut basah menambah kesan segar dan manis dari Wonwoo.

Bathrobe? Aroma ini?

Namja itu meletakkan laptopnya di ranjang dan mengendus aroma Wonwoo seakan-akan ia adalah anjing peliharaan yang sedang mengenali majikannya.

"Kau benar-benar tak tahu diri, kau memakai bathrobeku tanpa ijin dan apa ini? Bukankah ini aroma lotion milikku?". Namja itu berdiri dan berkacak pinggang di depan Wonwoo.

Wonwoo memundurkan badannya lantaran namja itu terlalu dekat padanya. Wonwoo reflek meremas bathrobenya.

"Bukankah kau sendirian dan bathrobe ini tak ada yang memakai bukan? Kau ingin aku keluar kamar mandi dengan telanjang? Yang benar saja!". Wonwoo tak mau kalah.

Namja itu mendekatkan wajahnya pada wajah Wonwoo.

"Lalu bau ini? Kau benar memakai lotion milikku bukan? Atau jangan-jangan kau juga memakai parfumku?". Selidik namja itu.

Wonwoo berjalan mundur, Wonwoo merasa dirinya seperti maling ayam yang tengah terpergok aparat.

Namja itu semakin maju, Wonwoo semakin berjalan mundur dan finish. Wonwoo tak bisa lari. Punggungnya kini terpojok di antara tembok dan lemari pakaian. Wonwoo sepertinya salah dalam memilih jalan keluar. Seharusnya jangan mundur kearah situ.

"Kau mau apa mengikutiku mundur? I-Ini… aku memakai sedikit. Hahaha…. Aku tahu kau tak pelit bukan?". Wonwoo meracau tak jelas dan disertai ketawa canggungnya.

Namja itu semakin mendekat dan mengurung Wonwoo dengan kedua tangannya.

Fix Wonwoo tak dapat kabur, dari jarak sedekat ini bisa Wonwoo rasakan aroma parfum yang sempat ia coba di kamar mandi tadi. Wonwoo menundukkan kepalanya, ia tahu saat ini namja itu tengah menatapnya secara tajam dan err… Wonwoo yakin itu adalah tatapan antara penasaran dan mesum. Wonwoo berfikir keras bagaimana caranya kabur dari kamar itu dan kembali ke kamarnya. Bahkan ia belum menikmati kamar indahnya.

Terlebih Wonwoo mulai gelisah, takut jika namja itu menarik bathrobenya dan arkhhh Wonwoo tak mau kembali ke kamarnya dengan telanjang bukan?.

Namja itu menarik dagu Wonwoo secara perlahan, Wonwoo sediit terkejut namun ia mengikutinya.

"Kau punya empat hutang padaku. Kapan kau akan membayarnya?". Ucap namja itu masih dengan tatapannya yang saat ini berubah menjadi tatapan yang emm bagaimana ya Wonwoo mengatakannya. Ini benar-benar mempesona. Wonwoo tak pernah menyadari jika namja di hadapannya bisa membuatnya tersihir seperti ini. Bukankah saat di lorong tadi ia sangat kekanakan dan menyebalkan. Mengapa sekarang bisa sangat mempesona begini?.

"Hai jawab aku, kau sedang apa?". Namja itu membuat lamunan abstrak Wonwoo sirna.

Wonwoo sedikit salah tingkah, " Aku…. Apa tadi kau bilang?". Sungguh Wonwoo sedang hilang fokus.

"Ya! Kau sedang berfikir mesum kan? Atau jangan-jangan kau kagum pada ketampananku?". Namja di depan Wonwoo tersenyum licik dan penuh kesombongan.

Apa tampan? Wonwoo menatap namja dihadapannya secara datar. Narsis sekali orang ini, pikir Wonwoo.

"Ya! Aku mendengarnya. Apa? Hutang? Yang benar saja.". Wonwoo mendorong dada namja itu supaya menjauh darinya. Wonwoo tak bisa berlama-lama di kungkung oleh namja itu atau jantungnya bisa berhenti. Aura seksi namja itu sangat menguar dengan ganas di depan Wonwoo. Oke anggap saja Wonwoo gila karena sepertinya ia mulai tertarik dengan namja dihadapannya itu.

Wonwoo bernafas lega setelah namja itu sedikit memundurkan badannya. Ntah bagaimana Wonwoo merasa udara sangat pengap saat ini. Padahal ia tahu kamar Mingyu sangat dingin ditambah lagi ia habis mandi.

Namja itu tertawa melihat sedikit kepanikan Wonwoo.

'Tak salah orang ini memang menggemaskan'. Pikir namja itu.

"Ngomong-ngomong kau tak takut padaku? Bukankah kita baru bertemu? Dan kau berani masuk kamarku dan meminjam kamar mandiku". Namja itu melipat tangannya di dada. Wonwoo lantas mendongak. Menatap Namja dihadapanya.

Benar juga, mengapa Wonwoo tak takut sama sekali.

"Dan lagi kau berhutang banyak padaku, jadi kau bisa membayar kapan?". Wonwoo mengedipkan matanya. Kalau dipikir-pikir Wonwoo memang sudah meminta banyak hal pada namja itu.

Oke ini adalah pikiran tergila Wonwoo, Wonwoo menduga namja dihadapannya menginginkan sesuatu darinya. Semisal tubuhnya mungkin.

Oh may God! No!. Pikiran Wonwoo berkecamuk tak jelas.

CTAK!

"Aduh!". Wonwoo menggosok keningnya, ternyata namja dihadapannya menyentil keningnya. Wonwoo tentu saja langsung cemberut dan sangat kesal.

"Kau pasti berfikir aneh-aneh bukan? Dasar". Namja itu berbalik dan duduk kembali di ranjangnya sambil matanya kembali menatap Wonwoo.

Wonwoo menggosok pelan keningnya yang sudah berangsur tak sakit.

"Hutang pertama akan lunas kalau kau menyebutkan namamu". Namja tan itu menaikkan kakinya dan duduk bersila. Menatap Wonwoo yang tengah terbengong.

"Jeon Wonwoo". Jawab Wonwoo singkat.

"Sinis sekali hahaha….". Namja dihadapannya tertawa nakal melihat Wonwoo yang sangat kesal padanya.

"Ayolah jangan mempersulitku dengan hutang konyol itu, katakan selanjutnya apa. Lalu aku akan kembali ke kamarku. Aku sangat lapar. Sungguh". Wonwoo sudah ingin kabur dari tempat itu. Tapi namja dihadapannya sepertinya sengaja menahannya lebih lama.

"Aku Kim Mingyu". Ucar namja itu.

Oh… Namanya Kim Mingyu. Oke. Pikir Wonwoo.

"Aku tak bertanya". Wonwoo mengalihkan pandangannya pada jendela kaca dan menatap pemandangan kota dari sana.

Mingyu tertawa melihat sikap Wonwoo yang menggemaskan.

"Katanya lapar mengapa galak sekali, jika sudah kenyang kau tak akan galak kan?". Mingyu berdiri dari duduknya dan berjalan menuju jendela kamar yang luas itu sambil bersandar dan menatap Wonwoo.

"Minggirlah aku sedang melihat itu". Wonwoo berjalan mendekat ke jendela dan menatap pemandangan lebih jelas. Bukankah jendela kaca yang merangkap menjadi pintu geser itu bisa dibuka namun saat Wonwoo mencoba membuka ternyata dikunci.

"Kau lapar apa ingin ke balkon?". Mingyu berjalan ke nakas disebelah kasurnya dan meraih kunci.

"Keduanya…..". Wonwoo memandang senang kearah Mingyu yang sepertinya akan membuka pintu geser itu. Wonwoo senang pemandangan kota dari ketinggian. Kerlip lampu perkotaan terlihat seperti kunang-kunang, begitu menurut Wonwoo.

"Hutang keduamu akan lunas jika kau mau makan malam dibalkon bersamaku". Namja itu membuka pintu dan menatap Wonwoo sambil menaikkan alisnya sebelah.

Setelah pintu terbuka Wonwoo berjalan cepat menuju balkon. Menghirup udara malam Bali dan menikati semilir angina yang menerpa wajah putihnya.

Bisa Wonwoo lihat ada dua kursi dan satu meja di balkon itu ditemani pemandangan Bali di malam hari yang indah.

Sepertinya tak buruk menolak ajakan Mingyu, Pikir Wonwoo.

Toh Wonwoo juga sebetulnya malas sekali keluar hotel karena ia sangat lelah. Ditambah ia kesulitan membeli makanan dan sejujurnya tak tahu akan mencari makan dimana.

Hitung-hitung bayar hutang sekaligus pasti Mingyu yang membayar tagihan makan malamnya bukan?

Wonwoo berencana memesan makanan yang paling mahal. Hahaha…. Otak evil Wonwoo keluar.

Wonwoo menolehkan kepalanya pada Mingyu.

"Baiklah, tapi aku yang memilih menunya".

"Tentu saja tuan putri". Mingyu menyerahkan buku menu yang ada dikamar itu.

"Aduh!". Teriakan kesakitan Mingyu terdengar setelah ia menyebut Wonwoo tuan putri.

Mingyu menggosok kaki kirinya yang ditendang Wonwoo.

Aishhh kucing galak, Pikir Mingyu.

.

.

.

HEALING

.

.

.

Mingyu menatap tak percaya pada meja yang ada dihadapannya.

Mingyu tak bisa menduga antara Wonwoo sangat lapar atau kelaparan akut.

Wonwoo memesan lima porsi makanan Indonesia yang berbeda-beda. Intinya semua di dominasi oleh daging. Ada daging ayam, daging sapi dan yang terdapat di piring paling ujung pasti daging babi.

Apa Wonwoo sangat menyukai daging?

Jangan-jangan makluk dihadapannya adalah makhluk karnivora.

"Kau pemakan daging?". Mingyu tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.

Wonwoo mencari-cari sumpit disela-sela piringnya dan setelah tak menemukan ia terpaksa menarik sendoknya.

"Aku tak bisa memakan seafood". Wonwoo tersenyum manis dan mulai menyendokkan sup daging ke dalam mulutnya.

Mingyu mengangguk paham, Mingyu melihat cara makan Wonwoo yang luar biasa dan tersenyum maklum, maklum pria cantik sedang lapar, begitulah pikiran Mingyu. Namun bahaya jika diucapkan bisa-bisa sendok yang dipegang Wonwoo akan melayang kearah kepala Mingyu.

"Emm mashisseo…..". Wonwoo menikmati makan malamnya dengan damai.

Mingyu menatap Wonwoo dengan senyum lembutnya. Sepertinya Wonwoo benar-benar kelaparan. Melihat tubuh kurus Wonwoo, Mingyu sedikit berfikir jangan-jangan Wonwoo kurang gizi.

Mingyu lantas mengambil sendoknya dan memilih untuk menikmati salad buah dihadapannya.

"Jadi, Kau kemari untuk liburan?". Mingyu membuka pembicaraan.

Makan berdua dalam hening sedikit membuat Mingyu tak nyaman.

Wonwoo memandang Mingyu dan mengangguk. Mulutnya penuh makanan dan setelah ia menelannya Wonwoo baru bisa berucap.

"Ne, ini pertama kalinya aku ke Bali dan jujur saja aku tak ada rencana mau kemana-mana".

"Kau hanya pindah tidur atau bagaimana?". Mingyu menatap Wonwoo tak percaya.

Hallo.. ini Bali, banyak tempat indah untuk di kunjungi. Memangnya ia tak browsing dahulu sebelum kemari?. Mingyu tak mengerti.

Wonwoo menghentikan makannya. Wonwoo meletakkan sendoknya di piring dan menatap Mingyu.

"Memangnya aku harus punya alasan? Kau sendiri mengapa kemari? Urusan pekerjaan? Kulihat kau serius sekali didepan laptopmu?". Wonwoo mengambil kembali sendoknya dan mengambil menu lainnya.

Wonwoo menikmati ayam betutunya dengan tenang menunggu Mingyu menjawab pertanyaannya.

Masakan Indonesia enak juga, Pikir Wonwoo.

"Aku pembisnis….". Ucap Mingyu.

Wonwoo tak menghiraukan. Ia sibuk menikmati daging ayam yang empuk itu. Bahkan Wonwoo melupakan sendoknya dan memakan dengan tangannya langsung.

Tak salah jika acara mukbang yang ia lihat merekomendasikan menu ini saat berkunjung ke Bali. Wonwoo menghisap jarinya untuk membersihkan bumbu yang menempel. Sungguh ini sangat enak.

"Aku bandar narkoba dan bisnis human trafficking baru-baru ini". Ucap Mingyu tenang sambil memakan buah semangka yang tersaji dihadapannya. Memakannya deangan santai seakan-akan ia tengah piknik di pantai.

UHUK!

Wonwoo sukses tersedak, untung saja bukan tersedak tulang ayam. Ia hanya tersedak daging ayam. Wonwoo buru-buru meminum air putih dan langsung menghabiskannya sekali teguk.

"MWO!". Wonwoo berteriak terkejut.

Bandar? Perdagangan manusia?

Mendadak Wonwoo mulas, ia membayangkan dirinya dijual Mingyu keluar negeri dan dijadikan pelacur disana.

Wonwoo menegang. Mata sipitnya melebar.

"HAHAHAHA…..". Mingyu tak dapat menahan tawanya lagi. Tawa itu meledak.

Mingyu memegangi perutnya, "Lihat wajahmu.. hahaha". Mingyu masih tertawa keras.

"Ya! Ya! Hentikan tawamu". Wonwoo kesal. Dilemparnya daun selada kearah Mingyu.

Mingyu menangkap daun selada yang dilempar Wonwoo sambil meneruskan tertawanya.

Astaga pria ini gampang sekali ku kerjain, Pikir Mingyu.

Tawa Mingyu mereda, "Baiklah, baiklah. Aku seorang fotografer majalah fashion, sebetulnya aku kemari karena ada proyek pemotretan di Omnia". Mingyu menyandarkan punggungnya di kursi dan menikmati wine yang ia pesan.

"Omnia?". Wonwoo mengerutkan keningnya. Wonwoo mulai kenyang dan menatap tak minat pada babi guling dihadapanya.

"Kau tak tahu? Omnia itu dayclub yang saat ini terkenal di Bali. Belum lama ini mereka melaunching tempat itu dan ya, langsung menjadi hits dikalangan wisatawan." Wonwoo mengangguk mendengar penjelasan Mingyu. Jujur saja Wonwoo tak banyak tahu soal club, pub, bar, lounge dan kawan-kawannya.

Sebetulnya Wonwoo bukanlah jenis manusia yang selalu update mendatangi tempat-tempat itu, Wonwoo benar-benar manusia lurus yang hanya tahu tempat kerja, jalan pulang dan tempat belanja kebutuhan. Bisa dikatakan hidup Wonwoo sangat membosankan di Korea. Akhir-akhir ini saja Wonwoo merasa ingin melakukan perjalanan sedikit jauh dan keluar negara untuk menikmati suasana meskipun Wonwoo tahu ia tak akan pergi jauh dari hotelnya.

Dan apa yang dikatakan Mingyu sepertinya benar, Wonwoo sepertinya hanya pindah tidur saja.

"Apa bagusnya tempat itu". Wonwoo tak mengerti mengapa orang suka sekali mendatangi club. Wonwoo merasa tempat-tempat seperti itu sangatlah berisik. Dan Wonwoo suka ketenangan.

Wonwoo menarik tissue dihadapannya dan membersihkan jari-jarinya dari sisa-sisa bumbu yang menempel.

Mingyu meletakkan gelas wine nya dimaja dan menatap Wonwoo.

"Kau ini benar-benar tak tahu?".

Wonwoo menggelangkan kepalanya.

Aish,, memang aneh? Pikir Wonwoo sebal.

"Kalau kau ikut denganku hutang ketigamu akan lunas, bagaimana?". Tawar Mingyu. Gemas rasanya melihat Wonwoo.

Mingyu merasa Wonwoo hanya nekad saja kemari. Dan Mingyu yakin sembilan puluh sembilan persen Wonwoo akan tersesat jika dibiarkan berkeliaran sendirian.

"Ke Omnia? Aishh aku tak suka club-club begitu". Wonwoo mengibaskan tangannya .

"Percaya padaku kau akan suka, dan tenang saja disana ada lounge yang bisa membuatmu santai dan tak terlalu ramai. Rata-rata pengunjung akan tiduran di sun bed atau bersantai di cube bar". Mingyu berfikir sepertinya Wonwoo perlu diajak melihat dunia.

"Baiklah baiklah, jika tak nyaman aku akan pergi".

"Dijamin kau akan suka". Mingyu tersenyum penuh arti.

Wonwoo mengangguk, ia sangat kekenyangan saat ini.

"Sudah?". Tanya Mingyu.

"Aku tak sanggup menghabiskannya". Wonwoo mengelus perutnya.

"Sudah kuduga". Mingyu menarik piring sisa makanan Wonwoo dan menyantapnya.

Wonwoo memandang Mingyu, dan sebetulnya ia merasa berbunga karena Mingyu tak marah atau menyuruhnya membayar, tapi Wonwoo pura-pura tak acuh saja.

"Kau tinggal berapa lama?" Tanya Mingyu disela-sala makannya.

"Seminggu, kau? Sudah berada di Bali berapa lama?". Wonwoo mengambil potongan semangka dan memakannya.

"Kurasa sudah sepuluh hari aku disini".

"Lama juga, kau keliling Bali?". Wonwoo mendadak menjadi makhluk paling penasaran malam ini.

"Aniya, lima hari aku habiskan untuk pemotretan dengan model dan fotografer lain, lima hari setelahnya ku pakai untuk bersantai dan mengedit foto dan besok sampai satu minggu kedepan hanya jalan-jalan dan bekerja beberapa jam saja". Mingyu melanjutkan makannya. Dan Wonwoo? Tentu saja ia merasa Mingyu ini sangat keren. Enak sekali pekerjaannya. Wonwoo sedikit iri sebetulnya.

"Kau? Bekerja atau kuliah?". Mingyu balik bertanya. Wonwoo terlihat seperti mahasiswa sebetulnya.

"Aku…..". Wonwoo ingin menjawab namun ia ragu. Wonwoo menggaruk kepalanya yang tak gatal.

"Hm? Aku?". Mingyu mengulang perkataan Wonwoo. Mingyu jadi orang kedua yang penasaran malam ini.

"Aku guru di SMK swasta di Seoul". Wonwoo menyengir, ia merasa pekerjaannya sangat membosankan, Wonwoo hanya akan menghabiskan sebagian harinya di dalam kelas saja, berbeda dengan Mingyu yang bertemu banyak hal.

"Kau guru? Guru semanis ini? Maaf… maksudku kau tak terlihat seperti guru. Ku pikir kau ini masih mahasiswa". Mingyu buru-buru berkata maaf, ia takut jika garpu yang dipegang Wonwoo untuk menusuk semangka akan melayang ke kening Mingyu.

Wonwoo melotot kesal, Mingyu menutup mulutnya.

Sungguh Mingyu mengira namja manis dihadapannya seorang mahasiswa, dari sikapnya yang super imut ini Mingyu tak menyangka jika Wonwoo adalah guru.

"Berapa usiamu?". Mingyu menduga usianya masih awal dua puluhan atau mungkin seusia Mingyu.

"Dua puluh lima dan jangan bahas usia lagi, aku sangat sensitive dengan usia". Ujar Wonwoo sambil mengacungkan garpu ke hadapan Mingyu.

Sontak Mingyu menutup dadanya, oh Mingyu sangat takut garpu itu menusuknya.

Wonwoo tertawa melihat Mingyu yang ketakutan dengan garpunya.

"Oke oke, letakkan benda itu, aku tak akan memancing. Kau lebih tua setahun dariku ternyata". Mingyu menatap Wonwoo yang meletakkan garpunya.

Wonwoo lantas menatap Mingyu dan berkedip, Wonwoo malah sebetulnya merasa namja itu lebih tua darinya karena badan Mingyu lebih besar darinya

"Yes, aku lebih tua dan kau harus memanggilku hyung, wajib!". Wonwoo menekan kata wajib sambil mengacungkan kembali garpunya. Wonwoo senang bila ia lebih tua, jadi ia bisa semena-mena pada Mingyu, begitu pikirnya.

"Oh Hyung please garpumu menakutiku". Mingyu sepertinya akan memiliki trauma pada garpu setelah ini.

.

.

.

.

HEALING

.

.

.

.

Mingyu membukakan pintu kamarnya dan mengantar Wonwoo sampai didepan kamarnya.

"Kau berlebihan sekali, aku bisa kembali ke kamarku sendiri. Kamar kita hanya berseberangan Mingyu-ya. Dan…. Terimakasih makan malamnya". Wonwoo mengucapkan terima kasih sambil menatap kearah lain.

Mingyu mengulum senyum, menggemaskan memang namja berponi dihadapannya ini. Mingyu memberanikan diri mengangkat tangannya dan membelai belakang kepala Wonwoo. Ntah itu hanya reflek saja. Mingyu sangat tertarik dengan hyung manis dihadapannya yang hanya memakai bathrobe sejak tadi. Dada putih Wonwoo sejak tadi terlihat disela-sela collar bathrobenya dan jujur saja Mingyu curi-curi pandang sejak Wonwoo keluar dari kamar mandinya.

Seperti kucing yang menikmati belaian majikannya, itulah yang dirasakan Wonwoo. Ini terlalu cepat memang tapi Wonwoo sungguh nyaman mendapatkan perlakuan ini dari namja tampan dihadapannya. Pikiran akan dijual ke luar negeri yang sempat melintas di pikirannya mendadak sirna. Perasaan takut akan diperkosa-ini sangat tak masuk akal- juga mendadak hilang. Wonwoo mendongak menatap namja dihadapannya.

"Aku bukan kucingmu". Upss… ini diluar kendali Wonwoo, kalimat itu keluar begitu saja dengan nada dingin dan menusuk khas Wonwoo.

"Maaf…. Hyung". Mingyu menurunkan tangannya. Dan sedikit kesusahan jika harus memanggil kucing ups bukan, tapi Wonwoo dengan sebutan hyung. Sungguh Wonwoo ini menggemaskan seperti seekor kucing. Mingyu masih tak terima jika ia lebih muda dari Wonwoo.

Wonwoo merutuki kalimatnya dalam hati namun wajahnya tetap datar.

Bodoh kau Wonwoo, belaian tadi sangat nyaman bukan?, Pikir Wonwoo.

Sebelum semakin menggila, Wonwoo buru-buru masuk kedalam kamarnya dan menguncinya. Ia menyandarkan punggungnya pada pintu kamarnya dan menepuk-nepuk mulutnya.

"Pabo… pabo". Rutuk Wonwoo.

"Besok ku jemput pukul sepuluh pagi". Teriak Mingyu yang masih bisa didengar samar-samar oleh Wonwoo.

Wonwoo tersenyum, tangannya memainkan tali bathrobe yang ia pakai.

"Tak semenyebalkan yang ku kira ternyata…". Wonwoo berjalan mendekati kopernya dan bersiap membongkarnya.

Tak lupa senyumnya selalu muncul di bibir pink alaminya.

.

.

.

TBC

.

.

.

HEALING

.

.

.

.

NB :

Halo semua, aku datang lebih cepat karena imajinasi masih hangat di otakku. Hehehe…

Ahh terimakasih buat yang sudah mereview… dan yang memfollow terima kasih juga. Aku janji akan update cepat.

Ngomong-ngomong tentang club di Bali aku sempat mampir ke night club khusus gay saat aku main ke Bali. Aku sempat bertemu dengan beberapa Host (atau entertainer mungkin sebutanya) yang sungguh mereka sangat cantik-cantik padahal aslinya namja. Nanti akan ku selipkan di dalam cerita ini. Tunggu saja oke.

Btw, saat aku main ke Bali, ingin sekali mampir ke Omnia namun harga masuknya mahalllll…. Aku hanya bisa menatap saja dari luar tempat itu dan main ke tempat lain.

Oh Iya maaf kalau ada reader yang merasa penceritaan tentang Bali dalam FF ini kurang tepat, Jujur saja aku hampir mirip dengan karakter Wonwoo yang hanya pindah tidur saja, aku sedikit malas untuk main jauh-jauh, tapi temanku menyeretku untuk ikut dan jadilah aku mampir ke beberapa tempat tapi sungguh aku sedikit lupa nama daerahnya tapi aku masih ingat nama tempat wisatanya.

Di chapter mendatang bagaimana jika ada adegan rate M nya? Rasanya gak sah jika meanie moment tak ada adegan HOTnya. Atau kalian ingin reques apa? Nanti aku selipkan jika memungkinkan.

Sekali lagi Gomawoyo.

Love u All….