"Sudah merasa lebih baik?" Deidara menyodorkan secangkir coklat hangat pada Kyuubi.
"Hm."
"Minumlah, kau akan lebih relaks setelah meminumnya." Kyuubi menuruti perintah Deidara. Ia menyeruput coklat hangat itu dan membuang nafas panjang.
Setelah Itu keheningan mulai timbul, mereka berdua larut dalam pikirannya masing-masing. Deidara menatap khawatir pada sang sepupu. Mereka berdua -Deidara lebih tepatnya- memutuskan untuk pulang dari kantor lebih cepat dengan membawa Kyuubi serta. Sungguh, melihat Kyuubi dalam keadaan yang menyedihkan baru ia alami tadi. Akhirnya Deidara langsung membawa pulang Kyuubi ke apartemen wanita bersurai merah itu.
.
Ting, tong,
.
"Ah, sepertinya pesanan kita sudah datang." Deidara beranjak dari tempatnya dan berlalu meninggalkan Kyuubi yang masih diam tak beranjak dari tempatnya sejak tadi.
Kata-kata Itachi terus terngiang di benaknya. Seperti kaset rusak yang terus menerus menyuarakan kata-kata yang sama. Tak terasa cairan bening itu kembali turun.
"Makanan sudah da-" Deidara terdiam melihat Kyuubi kembali terisak.
"Kyuu" panggilan pelan dari Deidara mengembalikan kesadaran Kyuubi.
"Ah, makanannya sudah datang ya." Kyuubi berusaha menghapus air mata dan mengembalikan ekspresinya seperti biasa namun gagal tentu saja. Suara yang keluar terdengar serak khas orang setelah menangis.
"Kenapa berdiri saja? Ayo kita makan. Aku sudah lapar."
"Heeemm, sepertinya enak. Kau pesan dimana?" Kyuubi terus berceloteh tentang makanan yang dibawa Deidara.
Deidara tahu, Kyuubi melakukan itu semua agar dirinya tidak khawatir. Namun hal itu justru membuat Deidara lebih khawatir. Dengan senyum yang sedikit dipaksakan Deidara mengambil tempat duduk di depan Kyuubi.
Deidara menatap Kyuubi yang masih terus berceloteh dan mengaduk-aduk makanannya.
"Kenapa menatapku seperti itu? Makanlah, nanti makanannya dingin."
'Justru aku yang harusnya mengatakan itu. Kau hanya mengaduk-aduk makananmu tanpa ada niatan memasukkannya dalam mulutmu yang asik mengoceh'
..
..
..
_A Naruto Fiction_
Disclaimer by Mr. Masashi Kishimoto
This fict belong to me Dan (Daniel. Sandra aka Daniela Alexsandra)
"Unsuccessful plan"
Main Pair : Uchiha Itachi x Namikaze Kyuubi (female)
Rating : T
Genre : Romance
Warning: As always human and female Kyuubi, GS of course.'
Penganut aliran mainstream, so ide cerita tentu saja mainstream maksimal. Typo bikin sakit mata plus EYD yang nggak tau kapan sempurnanya. OOC jangan tanya. But hope you like.
..
..
..
..
Kyuubi menatap pantulan dirinya di cermin. Rambut berantakan, wajah yang pucat, mata sembab dengan kantung mata yang membengkak. Mendesah panjang, Kyuubi meraih ikat rambut dan mengikat rambut merah panjangnya. Kemudian menyalakan kran air dan mulai mencuci mukanya. Berharap wajah berantakannya bisa sedikit lebih segar.
Kembali, Kyuubi mengamati wajahnya setelah dia bilas. Desahan panjang kembali terdengar dari bibir pucatnya. Wajahnya tak banyak berubah, meskipun matanya tak sesembab tadi tapi kantung matanya masih tidak menyusut.
"Sepertinya aku bolos saja hari ini." setelah mengeringkan wajahnya dengan handuk, Kyuubi keluar dari kamar mandi dan menghampiri nakas di dekat tempat tidurnya. Tangannya terulur meraih ponselnya.
'Tidak ada satu pesan pun darinya.' batin Kyuubi
"Ck, bodoh. Apa yang barusan ku pikirkan?" dengus Kyuubi.
Kemudian dengan lincah tangannya mencari kontak Deidara dan menelfonnya.
"Halo, Dei. Sepertinya hari ini aku tidak bisa ke kantor."
"Tidak, aku baik-baik saja. Aku hanya sedikit tidak enak badan."
"Iya, aku hanya butuh istirahat sebentar. Jadi kau tak usah khawatir."
"Hn, aku akan makan bubur nanti."
"Iya bawel, aku akan pesan buburnya sekarang." Kyuubi langsung mematikan telponnya, malas mendengar omelan Deidara.
Kyuubi kembali merebahkan diri, saat ini dia malas melakukan apa pun. Ia kembali meraih ponselnya dan mengutak-atiknya. Mulai dari aplikasi dengan icon telpon, muncul berbagai deret nama panggilan masuk dan keluar. Hampir sebagian besar panggilan masuk, baik yang terjawab maupun tidak adalah nama seseorang yang selalu mengganggu hari-harinya, 'Keriput Mesum Gila' adalah nama kontak dari si penelfon. Kyuubi menatap lama, melihat tanggal terakhir si penelfon adalah dua hari yang lalu jam sepuluh malam, panggilan yang belum sempat -enggan- ia jawab. Kyuubi mengulas senyum getir, terselip penyesalan kanapa dirinya tidak menjawab panggilan dari sulung Uchiha itu. Meskipun Kyuubi tau yang akan di katakan Itachi adalah hal-hal yang tidak berguna dan selalu membuatnya kesal. Kyuubi bahkan hafal apa saja pertanyaan yang akan di lontarkan Itachi padanya saat Kyuubi menjawab panggilannya. Seperti saat Itachi menghubunginya beberapa hari yang lalu, Kyuubi ingat apa yang Itachi katakan 'sudah pulang? Aku merindukanmu. Sudah makan? aku kangen. Jangan lupa mandi air hangat dan minum coklat hangat supaya tidurmu nyenyak. Kapan kau bersedia jadi nyonya Uchiha, Kyuu.' Pertanyaan terakhir Itachi berakhir dengan Kyuubi mematikan panggilan dan melempar ponselnya dengan sumpah serapah yang ditujukan pada Itachi.
Setelah puas dengan melihat deret panggilan, Kyuubi beralih pada galeri di ponselnya. Kyuubi memang bukan tipikal orang yang suka ber-swafoto, jadi hanya ada beberapa foto dirinya bersama keluarga, kebanyakan bersama sang adik, Namikaze Naruto. Lalu beberapa foto bersama teman-teman dan rekan kerja serta beberapa kolega bisnis. Kyuubi terus men-scroll hingga tangannya terhenti pada salah satu foto seorang pemuda yang sedang topless tengah tersenyum ke kamera. Tanpa sadar Kyuubi mengulum senyum kecil melihatnya. Dirinya ingat kapan dia mendapatkan foto ini. Itachi, si pemuda yang menjadi objek foto itu sendiri yang mengirimkan foto itu padanya saat sedang gym di rumah kediaman Uchiha. Kyuubi juga ingat kata-kata yang menyertai foto itu. 'Tidakkah kau tergiur? Aku jamin jika kau bersedia menjadi nyonya Uchiha, aku akan pastikan ranjangmu akan tetap membara hingga lima puluh tahun lagi' di sertai emotikon 'love, kiss dan hug'. Kyuubi seketika langsung melemparkan ponselnya dan memaki, mengumpat pada si pengirim.
"Hah, kenapa jadi seperti ini."
"Bukankah seharusnya aku senang rencanaku berhasil!"
"Bukankah seharusnya aku senang akhirnya keriput gila mesum itu sudah tidak menggangguku lagi!"
"Kenapa malah terasa hampa disini? Kenapa rasanya sesak sekali?" Kyuubi menyentuh dadanya. Air matanya mulai menggenang di pelupuk mata.
.
Ting tong.
.
Bunyi bel terdengar, awalnya Kyuubi tidak memperdulikannya. Hingga bel apartemennya itu berbunyi berkali-kali. Menggeram pelan, akhirnya Kyuubi beranjak dari tempat tidurnya. Kyuubi sedikit terhuyung saat rasa pening mendera. Untung saja dia dengan segera berpegangan pada meja nakas di sebelahnya. "Akh, kepalaku. Kenapa tiba-tiba pusing." Kyuubi memaki dirinya sendiri, tentu saja tubuhnya lemas, seharian kemarin dirinya tidak makan dan dengan bodohnya meratapi rencananya yang sukses -tapi gagal?-
Bel apartemen itu terus saja berbunyi. Dengan sedikit menyeret kakinya dan berjalan dengan bersandar pada dinding ruangan Kyuubi melangkah menuju pintu. "Tunggu sebentar!" seru Kyuubi suaranya terdengar parau walau pun cukup keras, berharap orang yang menekan bel itu berhenti memainkan bel apartemennya. Saat sudah akan mencapai pintu, Kyuubi sudah tidak kuasa lagi menahan tubuhnya. Bunyi debuman cukup keras terdengar, Kyuubi sudah terjatuh di lantai. Samar-samar Kyuubi mendengar pintunya di gedor dengan keras, dia juga mendengar suara yang familiar memanggil namanya. Sebelum kesadarannya hilang, Kyuubi melihat pintu apartemennya terbuka.
..
..
..
..
Desahan panjang terdengar beberapa kali yang keluar dari sulung Uchiha. Berkas-berkas yanh segarusnya ia baca terbengkalai begitu saja di atas meja kerjanya. Pikirannya berkelana mengingat kejadian kemarin, saat dirinya bertengkar dengan Kyuubi.
"Apa aku sudah keterlaluan pada Kyuubi?"
"Kenapa pula dia harus berpenampilan seperti itu?"
"Apa dia tidak sadar kalau penampilannya terlalu seksi?"
"Kalau hanya di depanku saja tidak masalah, aku pasti tidak akan menolak."
"Tapi kenapa dia mendadak berpakaian seperti itu?"
"Apa dia benar-benar tidak menyukaiku?"
"Apa aku yang terlalu berharap padanya?"
"Apa aku sudah terlalu memaksakan kehendakku padanya?"
"Haruskah aku melepasnya?"
"Hah, aku tak mungkin sanggup. Aku sudah jatuh terlalu dalam pada pesonanya."
"Kau sudah seperti orang gila yang berbicara sendiri, Itachi-kun."
"Dei!" Itachi terkejut melihat Deidara yang sudah duduk di sofa ruangannya.
"Kau membuatku terkejut." Itachi berjalan menuju sofa, "Kapan kau datang? Kenapa aku tidak tau kau masuk?"
"Sekitar lima menit yang lalu saat kau asik berbicara sendiri."
"Hn. Ada apa kau kesini?"
"Aku ingin bertanya sesuatu."
"Apa?"
"Ini tentang Kyuubi."
"Ada apa dengan Kyuubi?" Deidara bisa melihat perubahan ekspresi di wajah Itachi.
"Kalian kemarin bertengkar?" Itachi terdiam dan Deidara mengasumsikan diamnya sebagai pembenaran.
Deidara menghela nafas panjang, sebelum berbicara, "Aku tidak tau apa yang kalian ributkan, tapi setelah pertengkaran kalian kemarin Kyuubi terlihat menyedihkan."
"Maksudmu?"
"Aku tidak pernah melihat Kyuubi seperti itu seumur hidupku."
"Seperti apa maksudmu? Bicaralah yang jelas Dei! Jangan membuatku bingung."
"Kyuubi menangis."
.
Deg.
.
Itachi tidak pernah sekalipun membayangkan bagaimana Kyuubi menangis. Dia tidak mau dan tidak ingin, apalagi penyebabnya adalah dirinya sendiri. Tapi perkataan Deidara barusan, seakan menamparnya. Dirinya telah membuat Kyuubi menangis.
'Sepertinya aku memang sudah keterlaluan.'
"Aku sebenarnya tidak ingin ikut campur urusan kalian berdua. Kalian sudah dewasa dalam menentukan atau mengambil keputusan. Tapi sayangnya sifat tsundere Kyuubi malah semakin membuatnya terpuruk. Dia menyukaimu. Itu yang aku tau dan mungkin perlu kau tau."
Hati Itachi berdesir, Kyuubi menyukainya. Berarti benar, selama ini cintanya bersambut. Dirinya tidaklah bertepuk sebelah tangan.
"Kau serius?"
"Tidak ada untungnya berbohong bagiku. Aku sudah mengenal Kyuubi sejak kami berdua masih memakai popok. Aku tau betul bagaimana dirinya, begitu pun sebaliknya."
"Jadi kau disini untuk membantuku?" Itachi melihat Deidara menggelengkan kepalanya.
"Aku disini untuk sepupuku."
"Hari ini dia tidak masuk." perasaan Itachi mulai tidak enak.
"Dia sakit."
"APA?"
"Di,dia sakit apa?" itachi tidak bisa menutupi rasa khawatirnya.
"Aku sendiri kurang tau pasti. Pagi tadi dia menelfon dan bilang tidak bisa masuk karena kurang enak badan."
Itachi langsung beranjak dari sofa, ia kembali ke meja kerjanya. Mengobrak-abik isi meja.
.
Dapat.
.
Itachi menggenggam kunci mobilnya dan langsung berjalan cepat keluar ruangan tanpa memperdulikan Deidara yang masih berada di ruangannya.
"Ku sarankan kau membeli bubur. Aku yakin dia belum makan dari kemarin." tepat saat itu pintu ruangan Itachi tertutup, meninggalkan Deidara yang masih duduk di sofa ruangan Itachi.
..
..
..
..
Kyuubi mengerjapkan matanya, menyesuaikan cahaya yang masuk ke mata. Dirinya melenguh pelan, merasakan sakit di sekujur tubuh. Tangannya meraba dahinya yang terasa dingin.
'Handuk?'
Kyuubi menatap lama handuk kecil basah yang dia temukan tertempel di dahinya. Kepalanya menengok kesamping dan mendapati baskom kecil yang berisi air.
"Siapa yang datang?" Kyuubi berusaha mengingat apa yang dia alami. Tapi dia masih belum tau siapa yang sudah datang merawatnya. Dengan perlahan Kyuubi bangun dari posisi tidurnya.
"Argh" Kyuubi memegangi kepalanya yang berdenyut sakit.
"Hei, Kau sudah bangun? Apa ada yang sakit?"
"Ke,kepalaku sakit."
"Sebaiknya kau berbaring saja, jangan duduk dulu." menurut, Kyuubi kembali merebahkan tubuhnya. Matanya masih terpejam menahan sakit yang mendera.
Sedangkan Itachi membantu Kyuubi membenarkan selimut dan menyelimuti Kyuubi hingga batas dada.
"Sudah lebih baik?" Kyuubi hanya mengangguk sebagai jawaban.
Itachi meletakkan telapak tangannya di dahi Kyuubi, "Kau masih demam."
Kyuubi mendengar gemericik air di sebelahnya. Dia mulai membuka matanya saat sakit di kepalanya sudah sedikit berkurang.
.
Deg.
.
"Itachi."
Itachi menoleh saat namanya disebut begitu lirih.
"Ya, apa kau membutuhkan sesuatu?" Itachi mendudukkan dirinya di tepi ranjang Kyuubi. Dengan telaten Itachi meletakkan handuk basah untuk mengompres Kyuubi yang masih demam.
Kyuubi masih memandang tidak percaya pada apa yang dia lihat. 'Bukannya dia marah padaku? Kenapa bisa dia ada disini?'
"Apa kau sudah sarapan?" Itachi kembali bertanya dan Kyuubi hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Apa semalam kau makan sesuatu?" kembali gelengan di dapatkan Itachi.
"Kapan kau terakhir makan?"
"Kemarin malam" jawab Kyuubi pelan.
"Yaa Tuhan, Kyuu. Jadi kau seharian kemarin tidak makan apa pun? Baiklah, sekarang kau harus makan dulu, tadi aku sempat membeli bubur sebelum kesini. Tunggu sebentar."
"Ka,kau mau kemana?" Kyuubi menahan tangan Itachi yang hendak berdiri.
"Aku akan mengambilkan bubur untukmu di dapur. Tapi sepertinya harus dipanaskan lagi. Tunggulah sebentar aku tidak akan lama." sebelum beranjak Itachi mencium puncak kepala Kyuubi.
Ada rasa hangat yang menjalar di hati Kyuubi. Rasa hangat yang membuat dirinya merasa nyaman dan dicintai. Dirinya merasakan ketulusan Itachi. Perasaan cinta yang tulus Itachi berikan padanya. Bukan sekedar main-main belaka seperti yang dia kira selama ini.
'Mengapa aku baru menyadarinya?'
'Maafkan aku, Chi.'
.
Tes.
.
"Kyuu!" Itachi berseru panik dan bergegas menghampiri Kyuubi yang sedang terisak. Ia meletakkan nampan berisi teh madu yang dia bawa untuk Kyuubi.
"Ada apa? Apa ada yang sakit?"
"Hiks, hiks,"
"Astaga, kumohon bilang sesuatu. Apa perlu ku panggilkan dokter lagi? Atau kita kerumah sakit saja."
"Hiks, hiks,"
"Sebaiknya kita-"
.
Grep.
.
"Hiks, Chi, hiks." Kyuubi membenamkan wajahnya pada dada Itachi. Kyuubi memeluk Itachi erat.
Sedangkan Itachi terdiam saat Kyuubi tiba-tiba memeluknya dan menangis dalam dekapannya. Setelah tersadar, Itachi membalas pelukan Kyuubi dan mengelus rambut dan mencium puncak kepalanya.
"Ada apa, hemm?" Itachi mulai bertanya setelah dirasa Kyuubi sudah sedikit tenang.
"Kau ingin bercerita?"
"Maafkan aku." lirih Kyuubi.
"Er, kau bilang apa?"
"Maafkan aku, Chi."
"Kenapa minta maaf? Seharusnya aku yang meminta maaf padamu. Seharusnya kemarin aku tidak memarahimu. Maafkan aku." Itachi merasakan Kyuubi menggelengkan kepala di dalam dekapannya.
"Tidak, kau tidak salah. Semuanya salahku, hiks,"
"Sssttttt, sudah. Kita lupakan saja yang sudah terjadi, hem!"
"Ka,kau tidak marah lagi padaku?" Kyuubi melepaskan pelukannya dan menengadah menatap Itachi. Dengan lembut Itachi menghapus lelehan air mata di pipi Kyuubi.
"Kenapa aku harus marah? Dengar Kyuu, aku tidak bisa marah padamu."
"Ke,kenapa?"
"Itachi tersenyum lembut, dia menangkup kedua pipi Kyuubi dan menempelkan dahi keduanya, "Karena hanya kaulah satu-satunya wanita yang mampu membuatku rela melakukan apa pun di dunia ini, selain ibuku tentunya." Kyuubi tersenyum geli mendengar kalimat terakhir Itachi.
"Ku harap kau tak akan pernah bosan pada kata-kataku, aku sungguh mencintaimu, Namikaze Kyuubi." Kyuubi merona, pipinya yang semula pucat mulai di selimuti semburat merah. Dengan perlahan Itachi semakin mendekatkan dirinya, mendekap dan meremas pinggang Kyuubi. Keduanya hanyut dalam suasana romantis yang tercipta. Kyuubi mulai memejamkan matanya saat hangat nafas Itachi semakin dekat menerpa wajahnya. Saat jarak sudah hampir terkikis habis,
"Astaga, buburnya!." Itachi seketika melepaskan pelukannya dan berlari menuju dapur saat dia mencium bau gosong, meninggalkan Kyuubi yang menatap Itachi bingung.
Tak lama berselang Itachi kembali dengan membawa mangkuk sambil tertunduk lesu.
"Ada apa Chi?"
"Buburnya gosong, aku tadi lupa belum mematikan kompornya sebelum mengantarkan teh madu untukmu." Itachi mendesah nafas panjang.
"Tidak apa-apa, kita pesan saja lagi."
"Akan lama Kyuu. Aku saja yang buatkan bubur untukmu, bagaimana?"
"Er, kau bisa masak?"
"Tentu saja, ku jamin kau akan suka." ujar Itachi dengan percaya diri.
..
..
..
..
"Yakin, tidak perlu bantuanku?"
"Kau sudah menanyakannya lebih dari lima kali Kyuu dan jawabanku pun masih sama. Aku bisa mengatasi ini." Itachi masih sibuk berkutat dengan masakannya.
"Dari pada terus bertanya, lebih baik kau kembali ke kamar dan beristirahat." Kyuubi menatap punggung tegap Itachi, dia melihat Itachi yang cukup cekatan saat mengiris beberapa sayuran dan mencampurnya ke dalam bubur.
"Baiklah, tapi panggil aku jika kau butuh bantuan." Itachi mengulum senyum geli dan berbalik menghadap Kyuubi.
"Hn, tentu. Kau istirahatlah, sebentar lagi aku menyusulmu ke kamar." Kyuubi pun berlalu dari dapur menuju kamarnya.
Kyuubi sungguh tidak percaya yang dia alami hari ini. Perasaannya mulai menghangat saat mengingat semua tingkah laku Itachi padanya.
'Ternyata lebih melegakan jika bisa jujur dengan perasaan sendiri.'
Bukan salah Kyuubi sepenuhnya jika dia bertingkah seperti beberapa hari yang lalu. Sebenarnya, Kyuubi sudah mengagumi sosok Itachi sejak lama. Itachi adalah salah satu pebisnis muda nomor satu di Jepang. Di usianya yang masih dua puluh tahun dia sudah mewakili ayahnya memenangkan beberapa tander besar. Namanya sudah beberapa kali di muat di majalah 'Times'. Tapi sangat di sayangkan, Itachi dulunya adalah seorang players. Playboy kelas kakap yang kerap kali gonta-ganti pasangan. Kegeraman Kyuubi semakin meningkat saat dirinya mengetahui Itachi telah mengencani salah satu sahabat baiknya semasa kuliah dulu dan mencampakannya begitu saja. Tapi anehnya, sang sahabat hanya menangisinya selama dua malam dan sudah merelakannya pada hari ketiga. Kyuubi masih ingat apa yang dikatakan oleh sahabatnya saat itu.
"Aku memang kecewa padanya, tapi aku merasa cukup beruntung bisa menghabiskan beberapa hari dengannya. Kau tau, banyak sekali perempuan-perempuan di luar sana yang bermimpi ada di posisiku."
"Kau tahu Kyuu, di luar sana banyak wanita yang bahkan dengan suka rela membukakan pahanya lebar-lebar untuk menggaet Itachi dalam dekapan hangatnya. Tapi Itachi biasanya tidak akan sembarangan memilih wanitanya."
Sejak saat itu hancur sudah sosok pria idaman Kyuubi. Dirinya sungguh tidak berharap dan tidak ingin bertemu dengan pria playboy seperti Itachi. Tapi selang beberapa bulan, sang ayah memintanya mengelola perusahanan gabungan antara perusahaan Namikaze dan Uchiha.
"Apa yang kau pikirkan, hem?"
"Ah, tidak. Bukan apa-apa." jawab Kyuubi yang cukup terkejut karena Itachi sudah duduk di ranjangnya. "Ada apa? Apa kau butuh bantuan."
Dengan gemas, Itachi mengacak rambut Kyuubi. "Hn, aku perlu bantuanmu untuk mencicipinya." Itachi kemudian mengambil nampan yang berisi semangkuk bubur buatannya.
"Eh, aku bisa memakannya sendiri."
"Ayolah, aku ingin menyuapimu. Ayo, bilang aaaa!" dengan perlahan Kyuubi membuka mulutnya menerima suapan dari Itachi.
"Bagaimana?"
"Enak." Kyuubi manggukkan kepalanya, "Aku tidak tau kau bisa masak."
"Tentu saja, aku kan calon suami idaman." kelakar Itachi. "Aku akan pastikan, kau tidak akan menyesal jika kau bersedia jadi nyonya Uchiha."
"Hemmm, oke. Tidak terlalu buruk juga."
"Hahahhaha, sudah makan dul-" Kembali Itachi akan menyuapi Kyuubi sebelum dirinya menyadari apa maksud dari perkataan Kyuubi.
"Eh? Tadi kau bilang apa?"
"Aku bilang tidak terlalu buruk." jawab Kyuubi setelah menelan bubur yang di suapkan Itachi.
"Ah, kau ini. Bukankah tadi kau bilang bubur ini enak. Kenapa sekarang kau bilang tidak terlalu buruk."
"Menjadi nyonya Uchiha."
"Hah?"
"Uchiha Kyuubi. Bukankah tidak terlalu bur- mmmppphh"
Kyuubi terkejut saat tiba-tiba Itachi menciumnya tapi kemudian dia mulai membalas ciuman lembut Itachi.
"Terima kasih." Itachi mengadu kedua kening mereka, nafas keduanya menderu tidak beraturan karena hampir 5 menit saling melumat.
"Hm, sama-sama. Terima kasih juga sudah begitu pengertian padaku selama ini." Kyuubi meletakkan kepalanya pada dada Itachi dan memeluknya.
"Jadi, kapan kau akan bertemu ibu dan ayahku?"
"Hn, sepertinya ada yang sudah tidak sabar untuk menjadi nyonya Uchiha." Itachi tersenyum bahagia.
"Setelah kau sembuh, aku akan membawa orang tuaku menemui orang tuamu segera."
"Baiklah."
"Terima kasih Kyuu, aku sungguh sangat mencintaimu." Itachi mencium kening Kyuubi sebelum kembali melumat bibir Kyuubi dengan penuh cinta.
...
...
...
...
Fin.
...
..
..
Ada yg butuh sequel?
Oh, oke kalau gak ada
See u
#Jurus kabur no jutsu.
Booom.
