-Mystic Twin-

Story © TaySky1998

Naruto © Masashi Kishimoto

.

.

.

Chapter Dua

*The Past*

-Bagian Dua-

Tokyo, 2010

Haruno Mansion

Sakura menikmati waktu sendiri nya seperti ini, duduk di tepi kolam renang dengan kaki yang berada didalam kolam sambil membaca sebuah buku.

"Biologi?"

"Itachi-nii? Sejak kapan Itachi-nii ada di Jepang?"

Sakura tentu saja mengenali suara itu, suara seseorang yang telah dianggap nya sebagai kakak kandung nya sendiri. Selama ini dia cukup merindukan Itachi, perginya Itachi keluar negeri demi menuntut ilmu membuat Sakura cukup lama kehilangan sosok kakak baginya. Yang sedangkan dirinya sendiri anak tertua dalam keluarga.

"Bukannya menjawab pertanyaan ku, kau malah bertanya padaku. Kau tidak berubah ya, Sakura-chan." Itachi mengacak pelan rambut Sakura. Dia berjalan mendekat kearah Sakura, dan duduk disamping gadis itu.

Sasuke dan Sakura itu sama bagi Itachi, sama-sama adik nya yang menggemaskan.

"Tampa ku jawab pun, kau pasti tau dengan sendirinya Itachi-nii. Dan, jangan mengacak rambut ku! Kau membuatnya berantakan!" kesal Sakura sambil merapikan rambut nya.

Itachi hanya menggeleng dan terkekeh kecil mendengar nya.

"Ara ara, Sakura-chan. Apa kau tidak pernah berubah? Laki-laki mana yang mau mendekati mu jika kau bersikap seperti ini? tapi, kalau ada laki-laki yang mendekati mu, Sasuke pasti sudah mengurusi nya. Aku benar kan?" tawa Itachi semakin keras, dan itu membuat Sakura jengkel dua kali lipat. Karena menertawai dirinya dan menyebut nama Sasuke.

"Ck! Jangan menyebut namanya jika di dekat ku Itachi-nii, itu membuat diriku kesal dua kali lipat!" Sakura mengangkat bukunya persis didepan wajahnya, menyembunyikan wajah kesal nya dari Itachi.

Itachi tersenyum tipis mendengarnya, kebiasaan satu ini juga belum berubah sepertinya. Kebiasaan Sakura yang terlalu membenci Sasuke. Kebiasaan yang sudah terjadi selama 5 tahun belakangan ini, dan dimulai saat orang tua mereka memperkenalkan anak mereka masing-masing. Dan selama itu juga lah perasaan Sasuke berubah yang awalnya kagum, rasa ingin berteman, ingin dekat, sampai pada tahap menyukai. Tapi sayangnya, yang dilakukan Sasuke sampai saat ini masih tindakan yang tidak benar. Itu termasuk salah satu hal yang tidak berubah.

"Apa reaksi mu akan tetap terus begini, jika Sasuke tiba-tiba meninggalkan mu? Sakura-chan?"

"Apa maksud mu Itachi-nii?"

Itachi terkekeh pelan dan menggeleng.

"Jawab saja Sakura-chan."

"Tentu saja tetap akan begitu! Sasuke membenci ku dan aku pun juga membencinya, jadi tidak ada yang akan berubah Itachi-nii."

Melihat Sakura yang tersenyum penuh semangat membuat Itachi mengacak rambut nya lagi sambil tersenyum.

"Kotak pandora, Sakura-chan. Walaupun diluar nya terlihat biasa, tapi kita tidak tau apa yang ada didalam nya. Mulai sekarang, berpikirlah seperti itu." Dia tersenyum sekali lagi dan meninggalkan Sakura begitu saja setelah bingung dengan perkataan nya.

'sepertinya, sifat aneh Itachi-nii tidak berubah ya?' pikir nya dengan melanjutkan membaca bacaan nya.


Gadis itu masih tetap melanjutkan kegiatan membacanya di tepi kolam, tidak peduli pada seseorang yang memerhatikan nya sejak tadi. Ya, tentu saja dia bisa merasakan seseorang selalu memerhatikan nya sejak tadi, dan dia juga bisa merasakan siapa seseorang itu.

"Keluar lah Sasuke, apa tidak lelah berdiam diri selama itu?"

Ya, dia Uchiha Sasuke. Sakura juga tidak mengerti kenapa dia punya keahlian yang bisa merasakan kalau Sasuke berada di dekat nya.

"Hn."

Sasuke keluar dari persembunyian nya, dan berdiri sambil menyandarkan tubuh nya pada dinding dekat pintu yang membatasi area kolam dengan ruang tengah. Tentu dengan gaya nya, style in his pocket.

"Kali ini apa? Mencoba menguping pembicaraan ku dengan Itachi-nii? Atau apa?"

'hanya ingin menemui mu, Sakura' pikirnya dengan tidak menjawab pertanyaan Sasuke, tapi tentu saja dia tidak akan menjawab seperti itu.

Sasuke hanya memandang Sakura dalam, sejujurnya, didalam hati kecil Sasuke sendiri, dia sudah lelah bersikap seperti ini pada Sakura. Tapi, ntah kenapa hati dan tindakan nya selalu tidak bisa berkompromi.

Tidak mendengar jawaban Sasuke membuat Sakura mendongak dan menatap Sasuke yang sudah berdiri disamping nya. Dan yang terjadi adalah kedua pasang mata itu saling menatap. Seolah-olah waktu berhenti saat itu, tatapan Sasuke juga tidak seperti biasa, dan tatapan itu mampu membuat jantung Sakura sendiri berdetak tak karuan. 'kenapa jantung ku berdetak seperti ini?' Dia dengan segera mengalihkan perhatian ke atas, menatap langit yang bertaburan bintang, menghindari nya dari serangan jantung mendadak jika terus menatap Sasuke.

"Hn, langit hari ini indah. Aku suka memandang bintang."

"Apa yang kau bicarakan? Sekarang sudah malam Sasuke, kembalilah kerumah mu." Menghela napas sebentar, Sakura melanjutkan kembali membaca bukunya.

"Apa yang kau bicarakan dengan Nii-san itu benar? Apa tidak masalah bagimu jika aku meninggalkan mu?"

Sakura terdiam mendengar pertanyaan Sasuke. Sebetulnya, dia juga tidak tau pasti akan bereaksi apa jika benar Sasuke meninggalkan nya. Dia mungkin akan cukup senang jika itu terjadi, tapi disisi lain, dihati kecilnya, rasanya dia tidak ingin Sasuke jauh.

"Tentu saja itu benar, lagi pula jika kau meninggalkan ku, itu tidak berpengaruh sama sekali kepada ku Sasuke." Dia bangkit, menutup bukunya, dan berjalan pelan untuk keluar dari area kolam renang.

Tap!

Dia akan mencapai pintu itu, jika saja pemuda tidak menahan pergelangan tangan nya.

"Benar ternyata, itu tidak berpengaruh pada mu."

Deg!

Kenapa hatinya merasakan sedikit rasa sakit saat mendengar nada menusuk dari pemuda di sampingnya ini? kenapa perkataan pemuda itu terdengar sangat kecewa? Dan kenapa pula dia dapat merasakan semua itu?

"Benar, jadi silahkan pergi Sasuke. Mungkin aku akan senang jika kau tidak di dekat ku lagi. Jadi, pergilah."

Sasuke tidak bisa berbuat apa-apa, dia tidak bisa membuat Sakura bertahan sebentar saja disini. Kata-kata yang Sakura ucapkan tadi begitu nyaring di telinga nya, seolah kata-kata itu meneriaki posisi dirinya pada hati Sakura.

Dia tentu tidak bisa menyalahkan Sakura begitu saja, ini jelas bukan salah Sakura. Ini adalah kesalahan nya sendiri yang menciptakan Sakura bersikap seperti itu padanya. Dia memang merasakan sakit dan kecewa, tapi dia tidak tau harus kecewa kepada siapa. Kecewa pada Sakura karena menolak nya atau kecewa pada dirinya sendiri yang membuat Sakura menjadi seperti itu. Tapi yang jelas dari semua ini, ini adalah kesalahan nya. Kesalahan yang dibuat oleh Uchiha Sasuke yang dia sendiri tidak tau bagaimana cara untuk memperbaiki nya.


Sasuke berjalan gontai memasuki rumah nya, selama dalam perjalanan tadi, dia tidak dapat berpikir jernih sedikit pun, yang ada di pikirannya adalah Sakura menyuruh nya pergi, Sakura menolak nya. Tentu saja itu yang membuat Sasuke tidak bersemangat seperti ini.

Dia memasuki ruang tengah, yang mana disana terdapat ayah, ibu, dan kakak nya.

"Sasuke-kun, duduk disini nak. Ada yang akan kami bicarakan dengan mu," ucap Mikoto melihat anak bungsu nya di ujung tangga yang akan menuju kamar nya di ruang atas.

Sesuai permintaan ibunya, Sasuke mendekat ke arah mereka dan duduk disamping Itachi yang menghadap ke arah orang tua mereka.

"Bicaralah Tou-san, bukankah Sasuke sudah berada disini?" Sasuke menatap Itachi, sesuatu yang akan dibicarakan orang tua nya pasti Itachi sudah tau lebih dulu.

"Baiklah, kita semua akan pindah Sasuke. Ke Sidney, perusahaan disana membutuhkan Tou-san."

"Benar Sasuke-kun, Tou-san tentu membutuhkan Kaa-san untuk mendampinginya, tapi Kaa-san juga tidak bisa membiarkan mu di Tokyo sendirian. Mau ya, Sasuke-kun? Ikut dengan Kaa-san dan Tou-san?" Mikoto memberikan tatapan memohon pada anak bungsu.

Mikoto berpikiran bahwa bisa saja Sasuke menolak ajakan nya, karena jika dia meninggalkan Jepang, otomatis dia juga akan meninggalkan Sakura-nya.

Sebagai seorang ibu, tentu saja Mikoto mengetahui kalau sebenarnya anak bungsu nya ini menyukai anak gadis sahabat nya itu. Bahkan, mungkin semua anggota keluarga sudah mengetahui nya. Tapi, dia tidak habis pikir kenapa sampai saat ini pun Sakura tidak mengetahui itu. Malah, saat mereka bersama, mereka selalu saja bertengkar.

Sedangkan Sasuke sendiri sedang berpikir keras bagaimana agar dia dapat memilih pilihan yang terbaik. Sebenarnya, dia ingin disini bersama Sakura. Tapi, Sakura sendiri tidak menginginkan kehadiran nya. Jadi, apakah dia harus pergi? Sesuai dengan keinginan Sakura?

'sepertinya Sakura sendiri senang jika aku tidak di dekat nya, jadi pilihan untuk pindah mungkin yang terbaik. Setidaknya, aku bisa membuat Sakura senang walau sekali saja.'

"Baiklah, aku setuju. Aku akan ikut Tou-san dan Kaa-san ke Sidney."

Itu adalah keputusan final yang tepat bagi Sasuke. Apalagi melihat ibu dan ayah nya tersenyum. Tapi, tidak bagi Itachi. Dia memandang adik nya lama. Dia berpikir Sasuke akan menolak, tapi yang terjadi malah sebaliknya. Sepertinya, hubungan Sasuke dan Sakura akan merenggang jika begini. Tapi, apa yang bisa dia perbuat? Sasuke sudah mengambil tindakan nya sendiri.


Edo, 1623

Sesampai nya di istana, para pengawal langsung membawa putra mahkota itu untuk menemui Baginda, dan itu tentu perintah dari baginda sendiri jika mereka telah menemukan putra mahkota itu.

Dan sini lah Sasuke, berada di kediaman pribadi baginda sambil memandang punggung ayahnya.

"Kau tau apa yang kau perbuat?! Kau bahkan merepotkan semua-"

"Aku menerimanya, Tou-sama. Titah dari Tou-sama, aku menerima nya."

Fugaku terdiam menatap Sasuke, kenapa bisa anak nya berubah pikiran seperti itu dengan secepat ini. Pasti ada yang terjadi sebelumnya. Sasuke adalah anak yang egois dengan penuh ambisi. Tapi, kenapa anak nya berubah pikiran yang hanya dalam hitungan jam?

"Bagus lah kau menyetujui nya."

"Tapi dengan satu syarat Tou-sama."

Nah, satu lagi sifat Sasuke yang Fugaku tau. Dia adalah anak yang akan melakukan apapun jika itu membuatnya beruntung.

"Apa?" dia menatap anaknya, mencoba menyelidik apa yang diinginkan Sasuke sebenarnya.

"Aku ingin Tou-sama memastikan sesuatu." Dia menatap Sasuke tajam, sambil menunggu apa yang akan diucapkan anaknya itu.

"Pastikan Haruno Sakura mengikuti pemilihan Putri Mahkota Tou-sama, dan aku ingin Tou-sama sendiri yang harus memilih putri mahkota itu."

Fugaku tambah menatap Sasuke tajam, dari mana anak itu mendapat keberanian seperti ini. Tapi, ini memang Sasuke. Dia akan melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang menjadi milik nya. Tapi, Haruno Sakura? Kapan anak bungsu nya ini bertemu atau setidaknya mengenal seorang Haruno Sakura?

Ini benar-benar menunjukkan kalau memang terjadi sesuatu tadi. Mungkin setelah ini, dia akan menanyakan pengawal yang membawa Sasuke tadi.

"Jika aku menolak?"

Sasuke menatap ayah nya sambil tersenyum tipis.

"Tou-sama tentu tau apa yang akan terjadi selanjutnya bukan?"

Sudah, dia juga pasti tau akan begini. Dia memang tidak bisa melawan anak nya sendiri. Dan ntah dari mana Sasuke mendapatkan ajaran politik seperti itu.

Fugaku menarik napas pelan, dia memang sudah tidak bisa lagi membantah keinginan anaknya, "Baiklah, aku setuju."

Dan senyum Sasuke semakin mengembang saat mendengar pernyataan ayah nya sendiri.'aku tidak tau apa yang terjadi padaku Sakura, tapi melihat kau menjauh, rasanya itu tidak benar.'


Sedari tadi yang dilakukan Karin hanya mondar mandir, untung saja seluruh penghuni rumah belum pulang, kalau sampai penghuni rumah tau bahwa nona nya dibawa kabur pemuda asing, pasti nya dia yang akan mendapat hukuman.

Bahkan, mulutnya sejak tadi sibuk berkomat-kamit memanjatkan doa agar nona nya baik saja-saja. Dan sungguh! Jika dia bertemu pemuda itu lagi, dia berjanji akan menghajar pemuda itu. Tapi, ada satu pertanyaan yang mengganjal di hatinya, kenapa para pengawal tadi memanggil pemuda itu dengan sebutan yang mulia? Atau jangan-jangan... 'Ya ampun! Jangan bilang kalau pemuda tadi adalah Yang Mulia Putra Mahkota?! Aku bisa mati jika itu benar terjadi!'

Memang, selama perjalanan nya menuju rumah tadi, Karin mendengar kalau Putra Mahkota kabur dari istana karena Baginda mengeluarkan titah larangan menikah untuk nya. Pengumuman larangan menikah bagi gadis bangsawan yang berumur sebelas sampai enam belas tahun sudah ditempel dimana-mana. Mungkin, karena itulah pasar terasa lebih ramai dari biasanya. Tapi, Karin juga tidak menyangka jika putra mahkota bersikap senekad itu. Lagi pula, memang siapa yang mau dinikahkan dengan paksa dan mendadak.

"Arigatou sudah mengantar ku."

"Nona Sakura!"

Setelah melihat pengawal tersebut mengangguk pada Sakura, Karin langsung berlari kecil menyusul nona-nya itu. Dia memutar-mutar tubuh Sakura, meneliti apakah nona nya terluka sedikit pun atau tidak.

"Sudahlah Karin, aku baik-baik saja." Sakura tersenyum menatap Karin, kekhawatiran yang berlebihan nya muncul lagi.

"Bagaimana aku bisa tenang? Pemuda itu membawa dirimu lari nona."

Sakura tersenyum sekali lagi. Pemuda itu memang membawa nya pergi, tapi dia tidak terluka atau mengalami masalah sedikit pun tadi.

Dia membawa Sakura untuk duduk di teras rumah, dan memberi segelas ocha hangat padanya. Cuaca sekarang tampak nya sudah mulai memasuki musim dingin.

"Tapi nona, aku merasa aneh dengan sesuatu."

Sakura meletakkan gelas ocha nya menatap Karin ingin tau.

"Apa?"

"Saat pemuda itu membawa dirimu pergi, aku mendengar para pengawal tadi memanggil nya dengan sebutan yang mulia." Sakura terhenti meminum ocha nya saat Karin menyebut berita itu. Apakah Karin tidak salah dengar? Seseorang menyebut Yang Mulia hanya pada keluarga kerajaan saja. Jadi, pemuda itu...

"Lalu?"

Karin mendudukkan dirinya disamping Sakura, bercerita tentang semua yang dia ketahui seharian ini. "Pendengaran ku tidak bermasalah nona, aku yakin pengawal itu menyebut kata yang mulia. Oh satu lagi, Putra Mahkota kabur dari istana nona."

"Kenapa? Apa yang terjadi?" Sakura cukup terkejut mendengar Karin yang menyebutkan bahwa putra mahkota kabur, dia tidak menyangka bahwa seorang putra mahkota melakukan hal seperti itu. Dan ini mengingatkan nya pada pemuda yang ditemui nya tadi.

"Baginda Raja mengeluarkan titah larangan menikah nona, aku rasa, Putra Mahkota tidak menyetujui nya dan melarikan diri."

'sebuah titah? Melarikan diri? Rasanya aku cukup kenal dengan masalah ini' dia masih berpikir, membiarkan Karin menikmati Ocha-nya.

Rasanya, dia tidak aneh dengan masalah ini. kedua kata itu, titah dan melarikan diri. Bukankah masalah ini sama dengan yang pemuda itu hadapi?

"Baiklah, akan aku ceritakan. Ayahku yang memerintah orang-orang itu untuk menangkap ku, karena aku tidak mau menjalan kan titahnya."

Benar, sama persis dengan yang orang itu alami. Tapi kenapa dia merasa ini masalah yang sama? Lalu, ada apa dengan sebutan yang mulia itu?

"Saat pemuda itu membawa dirimu pergi, aku mendengar para pengawal tadi memanggil nya dengan sebutan yang mulia."

Sakura menutup mulut nya saat pikiran nya menyadari sesuatu. Semua nya terasa saling berhubungan. Putra Mahkota yang kabur, seorang pemuda bangsawan yang dikejar-kejar pengawal, dan bukankah pakaian pengawal itu sama persis dengan pengawal istana, bukan dari Biro Kepolisian, lagi Karin juga mendengar bahwa pengawal itu memanggil pemuda tersebut dengan sebutan yang mulia? Ini... yang artinya... pemuda itu adalah...

'oh tidak! Apa yang ku lakukan?! Kenapa aku tidak berpikir seperti ini?! dia pasti marah besar padaku!'

Karin hanya memandang Sakura aneh, Sakura seperti merutuki sesuatu dan memukul-mukul kepala nya sendiri. Ada apa dengan nya?

"Nona, apa yang kau lakukan?"

Sakura menatap Karin dengan tatapan ketakutan, putra mahkota itu pasti akan membunuh nya. "Aku pantas mati Karin," ucapnya penuh penyesalan.

"Apa yang kau pikirkan? Apa maksud mu?"

Sakura menghela napas panjang, menatap Karin dengan mata yang memerah. Mungkin, sebentar lagi ia akan menangis. "Pemuda itu, yang membawa ku tadi. Dia... Putra Mahkota."

"APA?!"

Dan, teriakan dari Karin sendiri menggema di rumah itu.


Istana, kediaman pribadi Baginda Raja.

"Yang mulia memanggil saya?"

"Ya, duduk lah Kizashi."

Kizashi berjalan pelan ke arah Fagaku, dan duduk didepan baginda itu.

Selama perjalanan menuju kesini, dia masih berpikir, kenapa yang mulia raja menyuruh nya untuk bertemu dengan nya? Apa yang akan dibicarakan? Dia juga tidak merasa melakukan hal yang salah selama ini.

"Jadi, apa yang akan yang mulia bicarakan dengan saya? Apakah saya melakukan suatu kesalahan yang mulia?"

Fugaku tersenyum mendengar perkataan Kizashi, jelas sekali kalau bawahan nya itu tidak melakukan kesalahan apapun. Bahkan, Kizashi selalu bekerja dengan sempurna. Maka dari, dia mengangkat Kizashi sebagai orang kepercayaan nya.

Fugaku masih berpikir, mendengar Sasuke meminta permintaan itu, membuat dirinya cukup senang. Dia sendiri merasa, Sasuke melakukan hal yang benar dengan memilih putri Haruno itu. Keluarga Haruno, sejak turun temurun memang memiliki sikap yang baik, jujur, dan terpelajar. Maka dari itu dia senang mendapatkan seorang menantu dari keluarga Haruno.

Bahkan, dengan hitungan jam saja Sasuke dapat menyetujui nya titah nya karena Haruno Sakura. Memang benar, Fugaku sudah menyelidiki semua nya. Puta bungsu nya itu membawa kabur nona Haruno, juga pengawal itu mengatakan bahwa Haruno Sakura lah yang membuat anak nya setuju.

Sasuke bahkan menyuruh pengawal nya mengantar Haruno Sakura dengan selamat. Sudah dipastikan, anak nya memiliki ketertarikan khusus pada nona Haruno. Dan sepertinya, memang Haruno Sakura lah yang cocok untuk anak nya yang keras kepala itu. Ahhh... rasanya dia tidak sabar untuk bertemu dengan calon menantu nya itu secara langsung.

"Tidak, pekerjaan yang kau tangani selalu sempurna Kizashi. Hanya saja, aku ingin membicarakan hal yang lain."

Hal yang lain? Kizashi masih menatap baginda raja itu sedikit menyelidik, hal lain apa itu? Jadi, ini tidak tentang pekerjaan? "Hal yang lain? Apa maksud Baginda?"

"Aku meminta mu secara pribadi, untuk mengikut sertakan Haruno Sakura dalam pemilihan Putri Mahkota."

Dia terdiam, tidak menyangka bahwa baginda raja akan meminta itu padanya.


Kizashi berjalan gontai keluar dari ruangan baginda raja. Dia masih tidak percaya jika baginda meminta itu padanya. Hatinya masih tidak tenang, apakah dia akan membiarkan putri kecil nya untuk memasuki kawasan mematikan ini? Apakah putri nya sanggup menjalani kehidupan di sini?

"Kizashi-san."

Dia mengangkat kepala nya, menatap Menteri Aparatur Negara yang berdiri dihadapan nya.

"Hm, Danzo-san."

Danzo menatap Kizashi, apa yang dilakukan nya di kediaman raja. Tentu saja Danzo tau, melihat dari mana Kizashi berjalan, dia tau pasti itu kediaman raja. Tapi apa yang mereka bicarakan?

"Saya mengira, anda sudah di kediaman anda, Kizashi-san."

"Saya memang akan pulang sekarang, Danzo-san."

"Baiklah, kalau begitu nikmati hari mu Kizashi-san."

"Ya, terima kasih."

Kizashi masih menatap punggung Danzo yang berjalan menjauhinya, ntah kenapa dia selalu mempunyai firasat buruk akan Danzo. Gerak-gerik yang Danzo lakukan cukup aneh baginya, seperti dia mempunyai rencana khusus.

Dia mengehela napas, itulah politik. Kalau tidak dimakan, berarti harus memakan. Begitulah cara orang-orang bertahan di istana ini. Dan karena sebab itu jugalah, dia berat melepas putri nya memasuki istana. Dia tidak mau, jika putri nya hanya menjadi korban dari politik tersebut. Yang pasti, dia tidak mau nyawa putri nya sampai terancam.

.

.

.

.

.

*To Be Continue*


A/N: Haii salam semua^^

Kali ini saya balik lagi dengan MT new chapter^^

Balasan review:

Dian rschan: ini udah lanjut and me and him udah up lohh, silahkan dibaca^^ review again^^

hanazono yuri: ini udah lanjut, review again^^

henshin7: ini udah lanjut, silahkan dibaca yaa, review again^^

comet cherry: kedua pemikiran mu akan terjawab seiring waktu berjalan yaa XD ini udah lanjut review again^^

dewisetyawati411: mungkin dari chap 2 ini udah mulai ngerti yaa, dan wahhh aku gak tau kalau kamu alami sama persis dengan Sakura :D review again^^

michi-chan: ini udah lanjut michi-chan^^ review again^^

ElzaMarquez: haii, salam kenal jugaa^^ terima kasih atas kata menariknya :) mudah-mudahan chap ini typo nya udah berkurang^^ review again^^

Khoerun904: hmmm iya atau enggak ya? pastinya ikutin terus cerita ini :D review again^^

Uchiha Cerry 286: mudah-mudahan chap 2 udah mulai ketebak ya alur nya :) ini udah next^^ review again^^

Nurulita as Lita-san: sasu kan gak bisa nolak pesona saku XD ini udah lanjut^^ review again^^

Arisha Kyou: waaa arigatou gozaimasu sudah bilang fic ini keren^^ mudah-mudahan typo pada chap ini udah berkurang yaa^^ review again^^

Taeoh: bisa dibilang begitu sihh^^ ini udah lanjut review again^^

Hoshi Riri: ya yang ituu ;D #gaje #abaikan ini udah lanjut^^ review again^^

DeShadyLady: ini udah lanjuttt, happy reading yaa^^ review again^^

AuroraVender: terima kasih udah menyukai fic ini :D ini udah lanjuttt^^ review again^^

Guest: ini udah lanjut^^

saskey saki: ini udah lanjutt^^ review again^^

Yosh! balasan review nya selesai. saya sangat terharu karena banyak pembaca yang ingin fic ini dilanjutkan, selalu mengikuti fic ini yaaa^^ big thanks to yang udah RnR and Fav n Foll, dan maafkan saya jika typo masih bermunculan^^

Happy reading guys^^ RnR please^^

Sign, TaySky1998

Ps:

Soundtrack Of Today

Chen, Baekhyun, Xiumin (EXO) - For You (OST Moon Lovers: Scarlet Heart Ryeo)