-Mystic Twin-
Story © TaySky1998
Naruto © Masashi Kishimoto
.
.
.
Chapter Empat
*The Past*
-Bagian Empat-
Tokyo, 2010
Tokyo International Junior School
Sakura POV
Aku menikmati hari yang tenang selama dua hari terakhir. Memikirkan tidak ada orang yang akan menganggu ku seperti sebelumnya membuat ku dapat menikmati hari-hari seperti anak sekolah pada umum nya.
Duduk tenang dengan buku yang terbuka dan beberapa cemilan diatas meja perpustakaan sekolah, ini merupakan hal yang menyenangkan.
Suara gemercing lonceng yang berada diatas pintu masuk perpustakaan, membuat ku mendongak ke atas melihat siapa yang baru saja datang.
Sasuke?
Seseorang itu cukup membuat ku kebingungan dengan kedatangan nya. Sejauh yang ku tau, Sasuke tidak cukup suka berada di perpustakaan. Dia memang menyukai tempat yang tenang, tapi tidak dengan perpustakaan. Dan yang lebih aneh lagi, ada seorang anak perempuan yang mengikuti Sasuke dibelakang nya. Posisi mereka tepat duduk didepan ku, jika dua meja kosong ditengah kami tidak dihitung.
Sasuke juga menjadi alasan dengan hari tenang ku belakangan ini. Tidak seperti biasanya, dia tidak pernah menggangu ku sedikit pun. Aku tentu saja senang dengan itu, hari-hari sekolah ku menjadi menyenangkan.
Aku kembali membaca buku ku, sejarah peradaban Jepang. Awal-awalnya suasana begitu tenang, tapi entah kenapa semakin lama semakin berisik. Suara tawa pelan anak perempuan yang bersama Sasuke tadi cukup menganggu ku.
Aku memerhatikan mereka. Mereka memang tertawa. Anak itu dan Sasuke. Aku memandang aneh kepada mereka, atau lebih tepatnya kepada Sasuke.
Selama ini, setidaknya selama aku mengenal Sasuke, aku tidak pernah melihat dia tertawa begitu tenang dengan seorang gadis. Tidak pernah. Dan hari adalah hari pertama aku melihatnya seperti itu. Seandainya saja dia berprilaku seperti itu padaku, mungkin aku cukup bisa menganggap dirinya baik.
Tapi, mengubah hal itu untuk sekarang, tentu saja tidak mungkin. Aku sudah terlanjur membencinya dan kami saat ini sudah mengambil langkah yang baik. Dengan saling menjauh satu sama lain.
"Sakura-san?"
"Ya?"
Aku mengalihkan perhatian ku kembali, lalu menatap anak laki-laki yang berdiri disamping meja ku.
Anak itu hanya tersenyum, lalu mengambil bangku untuk duduk didepan ku. Dia mengeluarkan setangkai bunga, menyerahkan kepadaku, dan tersenyum lagi.
"Bunga itu untuk mu, Sakura-san." ucapnya sambil menunjuk bunga yang berada tangan ku. "Aku menyukai mu." Ucapnya lagi tiba-tiba yang membuat ku terkejut.
Aku tidak menyenal anak ini, dan pernyataan suka nya pada diriku membuat ku sedikit pusing. Bagaimana cara menolak anak ini?
Aku hanya menatap bunga itu dengan pandangan kosong. Ntah kenapa aku tiba-tiba mengingat seseorang, seseorang yang selalu menggalkan rencana setiap anak laki-laki yang mendekati ku. Dan entah kenapa itu sedikit membuat ku tersenyum.
Aku tidak menatap bunga itu lagi, melainkan menatap Sasuke yang tidak beberapa jauh dariku. Mata kami saling bertemu, tapi sesaat kemudian dia memalingkan wajah nya dan tersenyum kepada anak perempuan yang ada disampingnya. Perlakuan Sasuke itu, membuat ku sedikit merasakan perasaan aneh yang sulit digambarkan, rasanya sedikit sakit.
Aku menggeleng, dan segera menatap anak laki-laki yang memberi bunga tadi. "Maaf, tapi aku tidak bisa."
Dia tersenyum maklum, "Aa, aku mengerti. Tidak apa-apa, Sakura-san." Melihat nya tersenyum membuat ku sedikit merasa bersalah, tapi jujur, aku tidak ingin mempunyai suatu hubungan saat ini.
Aku bangkit dari kursi lalu membereskan barang-barang ku yang berada diatas tidak bisa lama-lama berada disini.
"Aku permisi."
"Tunggu, Sakura-san. Biarkan aku mengantar mu ke kelas, bagaimana?"
Aku langsung memandang anak itu, dengan tangan nya memegang perngelangan tangan ku dan tatapan berharap darinya, membuat ku mengangguk.
Kami keluar bersama dari perpustakaan sambil bercerita ringan. Aku sempat melirik Sasuke, tapi sepertinya dia memang sudah tidak peduli lagi.
Dan mungkin, aku juga akan seperti itu.
"Itachi-nii!"
Aku memanggil Itachi-nii yang bersandar pada mobil mewahnya diparkiran sekolah. Dia tersenyum sambil melambai ke arah ku.
"Apa yang Nii-san lakukan disini?"
"Menjemput Sasuke, Sakura-chan."
"Aa, begitu." Aku mengangguk paham. Mendengar nama Sasuke membuat ku mengingat kejadian tadi seketika.
"Itu Sakuke, Sasuke!" aku hanya diam sambil mengikuti arah pandang Itachi-nii. Menemukan Sasuke yang berjalan pelan ke arah kami. Dia sempat melirik ku, tapi sesaat kemudian berpaling, lagi.
Normal POV
Itachi memandang aneh Sasuke dan Sakura dari kaca spion nya. Dari tadi mereka hanya diam, yang biasanya ini tidak pernah terjadi diantara mereka.
Sebenarnya, tujuan Itachi mengajak Sakura pulang bersama untuk bisa membuat waktu Sasuke dan Sakura lebih lama. Karena, ini merupakan hari terakhir mereka bisa bertemu atau lebih tepatnya, ini adalah hari terakhir keluarga Uchiha berada di Jepang.
Dalam pikiran pria itu, seharusnya Sasuke memanfaat kan keadaan ini dengan berbicara lebih banyak pada Sakura. Tapi, sang adik yang dari parkiran sampai saat ini pun masih tetap diam.
Sakura juga, sepertinya dia tidak tertarik untuk memulai percakapan dengan Sasuke. Jangan kan berbicara, menatap saja sepertinya Sakura enggan. Dan Itachi benar-benar merasa ada yang tidak beres dengan mereka berdua. Dia harus melakukan sesuatu.
Dia memutar arah stir nya menuju Istana. Dia harus berpamitan kepada keluarga kerajaan dan memberi sedikit lagi waktu untuk Sasuke dan Sakura agar dapat menyelesaikan permasalahan mereka.
"Bukankah ini jalan menuju Istana, Itachi-nii?" ucap Sakura sambil memerhatikan jalanan yang mereka lalui.
"Benar Sakura-chan, aku ada keperluan disana. Hanya sebentar saja, tak masalah kan?" Itachi menatap Sakura dari balik kaca spion nya lagi.
"Baiklah," Sakura berucap pelan.
Sejujurnya, dia tidak dapat berada didekat Sasuke lagi. Dia tidak nyaman, benar-benar tidak nyaman dengan sikap Sasuke yang mendiami dirinya, seperti Sakura seolah-olah adalah patung. Dari tadi sampai sekarang pun Sasuke tak banyak berbicara, salah, bahkan tidak berbicara sedikit pun.
Suasana ini membuat nya canggung jika didekat Sasuke. Sakura memang meminta Sasuke menjauh, tapi tidak keterlaluan seperti ini juga. Tapi, bukankah menjauh memang seperti ini? Sakura menggeleng.
Sekarang dia tidak mengerti dengan apa yang di inginkan oleh hatinya.
The Imperial Palace Park
Mereka masih asik memandang kolam ikan ditaman Istana dan sampai saat ini, Sakura maupun Sasuke masih tetap diam.
Masih ingat dengan jelas didalam benak Sasuke dengan kejadian tadi. Kejadian dimana Sakura menerima bunga dan berjalan bersama dengan seseorang yang bermana Rei Gaara. Pria itu memang baik untuk Sakura. Rei Gaara adalah salah satu siswa teladan disekolah mereka dan mempunyai prestasi yang bagus. Walaupun dia juga mempunyai prestasi yang bagus, tapi sikap mereka berbeda.
Rei Gaara dapat bersikap baik dihadapan Sakura, tapi dia tidak. Keberadaan mereka bersama selalu saja dihiasi dengan pertengkaran. Maka dari itu Sasuke tidak mau membuat masalah lagi dengan Sakura, dan caranya ya mendiami Sakura seperti ini.
Dia tidak ingin, saat dirinya tidak ada, Sakura hanya dapat mengingat perbuatan buruknya saja.
"Apakah tidak ada sesuatu yang akan kau katakan padaku?"
"Apa?" Sasuke berbalik menatap Sakura yang sudah lebih dulu menatap dirinya.
Sakura memutar bola matanya jengah, "Aku sudah bersusah payah menghilangkan keadaan canggung ini, tapi kau? Hanya menjawab dengan 'Apa?'. Setidaknya hargai sedikit usaha ku Sasuke."
Sasuke terkekeh, "Lucu Sakura, bukankah kau ingin meminta ku untuk menjauhi mu? Aku sedang melakukan nya sekarang."
"Baik, aku hargai usaha mu itu." Ucap Sakura dingin. Dia kembali menatap kolam itu, tidak mau berlama-lama dengan melanjutkan percakapan yang absurd ini.
"Selamat untuk mu, Rei Gaara adalah orang yang baik." Sasuke kembali menatap ke arah kolam.
"Aku tidak mengerti."
"Aku melihat kalian bersama diperpustakaan tadi." Ucap Sasuke sambil mengingat kembali kejadian tadi.
"Ah itu, terima kasih." Sakura tidak menjelaskan apa yang terjadi tadi, malah membenarkan hal yang dilihat Sasuke. Dia juga tidak peduli, lagipula dijelaskan pun tidak ada sangkut-paut nya dengan Sasuke.
"Hn, Rei Gaara cocok dengan mu. Dia berani, tidak pengecut seperti seseorang yang sampai saat ini tetap diam."
Sungguh, semua perkataan Sasuke membuat Sakura berpikir keras. Dia tidak mengerti apa yang dibicarakan pemuda itu.
"Berani? Apa maksud mu?"
Sasuke menggeleng, "Tidak, lupakan."
"Baiklah."
Sakura bersikap terlalu tidak peduli pada apa yang Sasuke katakan. Dia lebih memilih menghentikan pembicaraan ini, daripada semkin aneh nantinya.
"Sakura, Sasuke ayo!"
Mendengar Itachi memanggilnya, membuat Sakura langsung berbalik dan meninggalkan Sasuke. Masih pengaruh yang sama, dia tidak ingin berada didekat Sasuke. Berada didekat Sasuke sangat tidak baik bagi dirinya.
Sedangkan Sasuke?
Dia hanya memandang Sakura sendu dari belakang. Dengan sikap Sakura padanya tadi, membuat Sasuke berpikir bahwa benar-benar tidak ada rasa peduli Haruno Sakura pada dirinya. Dan lebih yang mengecewakan adalah perasaanya pada Sakura yang tidak kunjung hilang, malah semakin besar.
Sakura memang berada didepan nya, tapi entah kenapa Sasuke merasa bahwa Sakura bermil-mil jauh dari dirinya. Sakura tidak dapat dijangkau oleh Uchiha Sasuke.
Edo, 1623
Kediaman Keluarga Haruno
"A-apa?"
Sakura tidak percaya dengan apa yang didengar nya ini. Dia memang sudah mendengar tentang pemilihan itu, bahkan Sang Putra Mahkota sendiri yang meminta dirinya untuk ikut. Tapi sekarang, Baginda Kaisar juga?
"Benar Sakura, tapi kalau kau tidak mau. Tou-san bisa menjelaskan ini kepada Baginda Ka-"
"Tidak Tou-san, aku tidak menolak nya." Gadis Haruno itu menatap sang ayah dengan serius. Membuat sang ayah yang menatap dirinya terkejut, tentu saja Kizashi tidak menyangka bahwa putri nya akan menerima permintaan itu.
Melihat Kizashi hanya diam, Sakura tau kalau sang ayah kaget dengan keputusan nya. Dia menggenggam tangan sang ayah.
"Kita tidak dapat menolak permintaan Baginda Kaisar ayah, menolak permintaan nya sama saja dengan menentang Baginda. Aku tidak ingin ayah seperti itu." Dia memberikan senyum terbaiknya, berharap itu dapat menghilangkan kegelisahan Kizashi.
Kizashi mengangguk, "Tentu, tentu saja." Dia memeluk anak gadisnya itu, "Saat berada disana, jaga selalu dirimu." Ucapnya lagi sambil mengelus punggung anaknya.
"Pasti ayah, aku akan selalu mengingat apa yang ayah ajarkan."
Pasar Tradisional Masyarakat Edo
Sakura sedang berjalan menyusuri pasar bersama Karin. Memilih-milih sesuatu yang bagus yang akan diberikan nya kepada Bibi-nya, Tsunade.
Dia akan mengunjungi sang bibi, jadi alangkah lebih baik dia membawa buah tangan.
Mengunjungi sang bibi juga salah satu permintaan ibunya. Sang ibu sangat menentang keputusanya kemaren malam, tentang pemilihan itu.
Ibunya takut akan terjadi apa-apa dengan Sakura dan jika kalau anaknya terpilih nanti, mereka akan berpisah. Sakura dan Kizashi bahkan sudah mencoba meyakinkan Mebuki perihal ini, tetapi Mebuki akan setuju apabila mereka telah membicarakan ini dengan Kakak-nya, Tsunade, karena Tsunade dapat melihat masa depan Sakura.
Bibi-nya adalah seorang cenayang yang terkenal di masyarakat. Dulu sekali, Tsunade pernah bekerja untuk Istana. Tapi, sekarang tidak lagi. Dia hanya ingin merehatkan diri.
"Apa yang akan kita berikan, nona?"
Sakura menggeleng, mencoba menghilangkan permasalahan kemarin dalam kepala nya dan menatap Karin . "Entahlah Karin, ibu sudah menitipkan beberapa makanan. Jadi, kurasa kita tidak perlu membelikan makanan lagi."
"Benar juga," Karin melihat pada apa yang dibawa nya. Ditangan nya terdapat makanan yang dititipkan nyonya untuk kakak nya, Nyonya Tsunade.
Karin kembali memerhatikan sekitar nya, mencari sesuatu yang dapat mereka bawakan. Dan seketika dia melihat sapu tangan yang dipajang oleh penjual disalah satu gerai disana. Sapu tangan itu memiliki sulaman yang sangat bagus, sulaman dengan benang berwarna emas yang berbentuk matahari dan bulan.
"Nona, bukankah itu sangat bagus?" tunjuk nya pada Sakura ke arah sapu tangan itu.
Sakura menatap kepada sapu tangan itu, dan Karin benar. Sapu tangan itu sangat cantik.
Mereka berdua sama-sama tersenyum dan mengangguk, berjalan agak cepat ke arah gerai tersebut.
"Aku mau itu." / "Aku mau itu."
Pada saat yang bersamaan, Sakura juga mendengar seseorang mengingkan sapu tangan itu. Dia segera menghadap seseorang yang tepat berdiri disamping nya, dan mereka berdua sama. Sama-sama dari keluarga bangwasan.
Sang pemilik gerai pun bingung, harus memberikan kepada siapa, sapu tangan yang model itu hanya tinggal satu.
"Maaf nona-nona, sapu tangan seperti ini hanya ada satu."
Menyadari itu Sakura hanya tersenyum, dia menatap gadis yang berada disamping nya itu. "Kalau begitu, berikan saja kepada nona itu."
"Tapi nona Sakura, hadiah untuk nyonya Tsunade bagaimana?" Karin langsung menyela begitu saja. Mereka sudah bersusah payah untuk mencari sesuatu yang cocok diberikan kepada Tsunade.
"Tak apa, kita bisa mencari yang lain lagi Karin."
Mereka hendak pergi, tapi gadis yang tadi sempat mencegah mereka.
"Tidak, ini untuk anda saja. Ambilah,"
Sakura menatap gadis itu bingung, "Tapi-"
"Saya dengar kalian akan memberikanya kepada seseorang, itu lebih penting. Lagipula, saya banyak memiliki ini dirumah," dia menyerahkan sapu tangan itu. "Perkenalkan, namaku Shimura Matsuri."
Matsuri ber-ojigi dengan sopan kepada Sakura, "Haruno Sakura, salam kenal." Balas Sakura pada gadis itu.
Mereka saling menatap sambil tersenyum, dan itu tidak luput dari pandangan Tsunade.
Tsunde sebenarnya sedang berjalan-jalan dipasar. Lalu, beberapa saat yang lalu dia melihat keponakan nya. Dia berniat untuk menjumpai Sakura.
Tapi dia terhenti setelah melihat keponakan nya sedang berdiri dengan tersenyum bersama seorang gadis, dan seketika sekelibat banyangan masa depan kedua gadis itu melayang dalam pandangan nya. Dia terdiam, kedua gadis itu memiliki masa depan yang saling bersangkutan.
Dia menggeleng, 'Yin dan yang? Walaupun hitam dan putih itu saling melengkapi, tapi mereka tidak. Salah satu dari mereka harus menghilang.'
Sekarang, sebuah kekhawatiran muncul dalam diri Tsunade. Dan itu menyangkut masa depan keponakan nya, Haruno Sakura.
.
.
.
.
.
*To Be Continue*
A/N:
Happy reading^^
Balasan review:
Saku Haruchi: wahh terima kasih^^ ini udah lanjut :)
ALSKY: terimakasih^^ ini udah update dan maaf upnya ngaret :')
wowwoh geegee: maaf update nya ngaret^^ iyaa nihh :')
guest: arigatou^^ iyaa gapapa dan ini udah update^^
Enigmalios Lotus: ini udah up juga lohh^^ tapi maaf upnya lama banget :')
ceexia: ini udah lanjut walaupun ngaret :') gomennasai^^
Balasan review selesai^^
Finally update^^ setelah sekian lama terjangkit WB akut akhirnya saya bisa melanjutkan chapter berikutnya. Tampa banyak bicara, terima kasih untuk RnR dan Favn Follow, dan teruntuk yang sudah mau meninggalkan jejak review^^ maafkan jika typo nya masih bermunculan :)
At last, review please^^
Ps:
Soundtrack Of Today
Yuk Jidam Ft. Wndy: Return (OST Who Are You: School 2015)
Sign, TaySky1998
