One Foot In The Grave

(Pertemuan kembali)


Original Story

Novel One Foot In The Grave by Jeaniene Frost

Saya bukanlah pengarang aslinya. Saya minta maaf yang sebesar-besarnya jika ada yang tidak berkenan Novel ini saya jadikan versi chanbaek.

Selamat membaca.


Api cinta menyala kembali.

Dengan diiringi selimut ketegangan saat seseorang mengincar nyawa Bek. Kris, yang menginginkan Bek menjadi miliknya. Ditambah rasa cemburu saat wanita vampir masa lalu Phoenix masuk dalam kehidupan mereka.

Setelah dengan lancang meninggalkan vampir itu. Apakah Phoenix masih tetap mencintai Bek? Apakah janji Phoenix masih berlaku untuknya?

.

.

BAB 2

.

.

Rumahku adalah bangunan berlantai dua yang berada di jalan buntu. Interiornya nyaris kosong. Di lantai bawah hanya ada satu sofa, lemari buku, beberapa lampu, dan bar mini yang berisikan gin dan tonik. Jika liverku bukan setengah vampir, aku pasti sudah mati karena sirosis. Yang jelas Taewoo, Heechul, dan Donghae tidak pernah mengeluh tentang persediaan minuman kerasku. Persediaan minuman yang tidak pernah habis dan setumpuk kartu remi sudah cukup untuk membuat mereka datang lagi. Sayang sekali tidak ada satu pun dari mereka yang bermain poker dengan baik, bahkan dalam keadaan sadar. Buat mereka mabuk, dan kau akan tergelak menyaksikan kemampuan mereka bermain kartu langsung lenyap seketika.

Jadi, bagaimana bisa aku menjalani kehidupan mewah seperti ini? Gongyoo, menemukan aku saat berusia dua puluh dua tahun, ketika aku bermasalah dengan hukum. Kau tahu, kenakalan remaja-membunuh gubernur Ohio dan beberapa orang stafnya. Tapi mereka adalah budak zaman modern yang menjual wanita kepada makhluk abadi untuk dijadikan santapan dan alat bersenang-senang. Ya, mereka pantas mati, apalagi setelah aku bertemu dengan wanita yang hendak mereka jual. Aku dan pacar vampirku, Phoenix, menegakkan hukum kami sendiri pada mereka, yang membuat ada banyak sekali mayat yang bergelimpangan.

Setelah aku ditahan, laporan medisku mengatakan bahwa aku tidaklah sepenuhnya manusia normal. Gongyoo mengajakku untuk memimpin sebuah unit Homeland Security yang beroprasi secara rahasia, dengan memberiku penawaran klasik yang tidak mungkin kutolak. Atau lebih tepatnya, ancaman kematian. Aku mengambil pekerjaan itu. Memangnnya pilihan apa lagi yang aku punya?

Tapi meski punya banyak kekurangan, Gongyoo benar-benar peduli untuk membela mereka yang tidak bisa dilindungi oleh hukum normal. Aku juga memiliki kepedulian yang sama. Itu sebabnya aku sampai membahayakan nyawaku sendiri, karena aku merasa inilah alasan aku terlahir sebagai setengah vampir tapi terlihat seperti manusia. Aku bisa mennjadi umpan sekaligus kail untuk makhluk yang berkeliaran pada malam hari. Memang hasilnya tidak selalu membahagiakan, tapi setidaknya aku bisa memberikan hasil positif untuk sebagian orang.

Teleponku berbunyi saat aku berganti pakaian dengan piyama. Karena sekarang sudah hampir tengah malam, yang meneleponku pasti salah satu anak buahku atau Kyungsoo, karena ibuku tidak pernah terjaga selarut ini.

"Hai, Bek. Baru pulang?"

Kyungsoo tahu apa yang kulakukan, dan wanita itu juga tahu siapa aku sebenarnya. Suatu malam, saat aku sedang memikirkan masalahku sendiri, aku bertemu dengan vampir yang mencoba untuk menghisap darah Kyungsoo. Pada saat aku membunuh vampir itu, Kyungsoo melihat cukup banyak untuk tahu bahwa yang menyerangnya adalah vampir. Hebatnya Kyungsoo tidak mejerit, pingsan, atau melakukan hal-hal seperti orang normal pada umumnya. Kyungsoo hanya mengerjapkan mata dan berkata. "Wow. Setidaknya aku berhutang bir padamu."

"Iya," jawabku. "Aku baru saja pulang."

"Oh, hari yang buruk, ya?" tanyanya.

Tapi Kyungsoo tidak tahu aku menghabiskan sepanjang hari ini untuk mengobati luka tikaman belati yang kulakukan sendiri, dengan bantuan Brams dan kecerdikanku sendiri karena menggunakan belati yang terpapar darah vampir. Darah vampir itu saja bisa menyembuhkanku lebih cepat daripada pilnya Gongyoo. Tidak ada penyembuh yang paling ampuh daripada darah vampir.

"Hmm, biasa saja. Bagaimana denganmu? Bagaimana kencanmu?"

Kyungsoo tertawa. "Aku meneleponmu... menurutmu bagaimana? Bahkan aku baru saja hendak memakan keik keju. Kau mau datang?"

"Tentu saja, tapi aku sudah memakai piyama."

"Jangan lupa sandal bulumu." Aku hampir bisa melihat seringaian Kyungsoo. "Kau tidak akan terlihat pas tanpa sendal itu."

"Sampai ketemu."

Kami menutup telepon dan aku tersenyum. Kesepianku akan tertunda. Setidaknya sampai keik kejunya habis.

.

.

.

Di waktu selarut ini, sebagian besar jalanan Virginia kosong, tapi mataku terbuka lebar karena pada waktu seperti inilah biasanya vampir berkeliaran. Bisa dianggap waktu menikmati camilan untuk para vampir. Mereka memanfaatkan kekautan tatapan mereka dan efek halusinasi di taring mereka untuk minum dan pergi, meninggalkan santapan mereka dengan memori yang kacau dan kekurangan darah. Phoenix-lah yang mengungkapkan hal itu padaku. Phoenix mengajariku semua hal tentang vampir: kekuatan mereka (banyak!), kelemahan (beberapa-cahaya matahari, salib, dan tongkat kayu tidak termasuk), keyakinan mereka, dan bagaimana mereka hidup dengan hierarki seperti piramida, di mana vampir paling atas menguasai "anak-anak" yang mereka ciptakan. Phoenix yang mengajarkan padaku semua yang kutahu.

Dan kemudian aku meninggalkannya.

Aku berbelok dan menginjak rem saat seekor kucing terlindas ban mobilku. Kucing itu mencoba untuk kabur, tapi aku menangkapnya dan memeriksa keadaannya. Ada darah keluar dari hidung kucing itu, beberapa luka goresan, dan kucing itu mengeong saat aku menggerakkan kakinya. Tidak diragukan lagi, kakinya patah.

Sambil menggumamkan umpatan, aku mengeluarkan ponselku. "Aku baru saja menabrak kucing," ujarku pada Kyungsoo. "Apa kau bisa mencarikan dokter hewan untukku? Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja."

Kyungsoo mengeluarkan suara simpati dan pergi mengambil buku teleponnya. Tidak beberapa lama kemudian, ia kembali.

"Yang satu ini buka hingga malam dan tidak terlalu jauh dari tempatmu berada sekarang. Kabari aku bagaimana keadaan kucing itu, ya? Aku akan menyimpan kembali keik kejunya di freezer."

Aku menutup telepon, kemudian menelepon dokter hewan meminta petunjuk arah. Sepuluh menit kemudian, aku berhenti di Jisoo's Furry Ark.

Di atas piyama aku mengenakan mantel, tapi bukannya mengenakan sepatu bot, aku memakai sendal bulu berwarna biru. Mungkin aku terlihat seperti ibu rumah tangga dari neraka.

Pria yang ada di belakang meja tersenyum saat aku masuk. "Apa kau wanita yang baru saja menelepon? Yang membawa kucing?"

"Iya, benar."

"Dan kau Mrs...?"

"Miss Baekhee Ningratan." Itu adalah nama yang kupergunakan sekarang, satu lagi kenangan dari cintaku yang hilang, karena nama manusia Phoenix adalah Raden Mas Chanyeol Ningratan III. Kutukan sentimentalku akan kubawa sampai mati.

Senyuman ramah itu melebar. "Aku Dr. Jisoo Park."

Jisoo. Itu menjelaskan nama tempat ini yang aneh. Dr. Jisoo Park mengambil kucing itu untuk di rontgen dan kembali setelah beberapa menit kemudian.

"Satu kaki patah, beberapa luka goresan ringan, dan kekurangan gizi. Dia akan kembali sehat dalam waktu beberapa minggu. Dia kucing yang tersesat?"

"Sejauh yang kutahu begitu Dr. Park."

"Please, panggil aku Jisoo. Kitten yang lucu... apa kau akan merawatnya?"

"Iya."

Mata kucing itu membelalak menatapku, seolah ia tahu nasibnya sudah ditentukan. Dengan kaki kecilnya diperban dan salep menutupi luka goresnya, kucing itu benar-benar terlihat menyedihkan.

"Dengan makan dan istirahat, anak kucing ini akan pulih seperti sedia kala."

'Bagus sekali. Berapa biayanya?"

Jisoo tersenyum lebar. "Tidak ada biaya. Kau melakukan hal yang mulia. Dua minggu lagi kau harus membawanya padaku untuk membuka perbannya. Kapan kau punya waktu?"

"Kapan pun asalkan malam. Aku, emm... jam kerjaku sedikit aneh."

"Malam pun tidak masalah."

Sekali lagi Jisoo tersenyum malu-malu, dan aku punya firasat dia tidak selalu seramah ini pada semua kliennya. Meskipun begitu, Jisoo terlihat tidak berbahaya. Itu adalah hal yang jarang kutemukan pada pria yang kutamui.

"Bagaimana jika hari kamis dua minggu lagi, pukul delapan?"

"Baiklah."

"Terima kasih atas bantuanmu, Jisoo. Aku berutang budi padamu." Dengan kucing berada dalam gendonganku, aku mulai berjalan menuju pintu.

"Tunggu!" Jisoo memutari meja dan berhenti. "Ini sama sekali tidak ada hubungannnya dnegna pekerjaanku, tapi jika kau berpikir kau berhutang padaku, tentu saja bukan berarti kau memang berhutang, tapi... aku masih baru di kota ini, dan... yah, aku tidak mengenal banyak orang. Sebagian besar dari klienku sudah tua atau sudah menikah dan... yang hendak kukatakan adalah..."

Aku menaikkan sebelah alisku medengar ucapan Jisoo, dan wajah pria itu benar-benar merona. 'Lupakanlah. Jika kau tidak datang untuk pemeriksaan selanjutnya, aku mengerti. Aku minta maaf."

Pria malang itu sangat baik. Aku mengamati Jisoo dengan cepat, jauh dari penilaian tajam seperti yang aku lakukan saat masuk tadi. Jisoo bertubuh tinggi, berkulit gelap, dan memilki ketampanan yang kekanakan. Mungkin aku bisa menjodohkannya dengan Kyungsoo-Kyungsoo baru saja mengatakan bahwa kencan terakhirnya tidak mengesankan.

"Baiklah, Jisoo. Jawabannya adalah iya. Bahkan, aku dan temanku Kyungsoo akan makan malam bersama senin malam. Kau bisa ikut bergabung dengan kami."

Jisoo menghela napas. "Senin aku ada waktu luang. Aku akan meneleponmu hari minggu untuk konfirmasi. Biasanya aku tidak melakukan hal semacam ini. Astaga, itu terdengar klise. Boleh aku minta nomer teleponmu, sebelum ocehanku membuatmu berubah pikiran?"

Sambil tersenyum aku menuliskan nomor teleponku. Jika Jisoo dan Kyungsoo ternyata cocok, aku akan pergi diam-diam sebelum hidangan penutup disajikan. Jika ternyata Jisoo berengsek, maka aku akan memastikan ia tidak akan lagi mengusik Kyungsoo. Itulah gunanya teman.

"Kumohon jangan berubah pikiran," ujar Jisoo saat aku menyerahkan nomer teleponku.

Bukannya merespons, aku hanya melambaikan tangan sebagai ucapan selamat tinggal."

tbc...


Terima kasih banyak buat follow, favorite, dan reviewnya:)

Delightfull61/ChanBMine/rizypau16/lee da