One Foot In The Grave

(Pertemuan kembali)


Original Story

Novel One Foot In The Grave by Jeaniene Frost

Saya bukanlah pengarang aslinya. Saya minta maaf yang sebesar-besarnya jika ada yang tidak berkenan Novel ini saya jadikan versi chanbaek.

Selamat membaca.


Api cinta menyala kembali.

Dengan diiringi selimut ketegangan saat seseorang mengincar nyawa Bek. Kris, yang menginginkan Bek menjadi miliknya. Ditambah rasa cemburu saat wanita vampir masa lalu Phoenix masuk dalam kehidupan mereka.

Setelah dengan lancang meninggalkan vampir itu. Apakah Phoenix masih tetap mencintai Bek? Apakah janji Phoenix masih berlaku untuknya?

.

.

BAB 3

.

.

Pada pukul sepuluh hari Senin berikutnya, ponselku berbunyi. Aku melihat nomor itu dan mengerutkan kening. Kenapa Kyungsoo meneleponku dari rumah? Seharusnya Kyungsoo sudah sampai ke sini lima belas menit yang lalu.

"Ada apa?" jawabku. "Kau terlambat."

Kedengaranya Kyungsoo menarik napas panjang. "Bek, jangan marah padaku, tapi... aku tidak akan datang."

"Apa kau sakit?" tanyaku khawatir.

Terdengar suara tarikan napas panjang lagi. "Tidak, aku tidak datang karena aku ingin kau yang berkencan dengan Jisoo. Berdua saja. Kau bilang kelihatannya dia seorang pria yang baik."

"Tapi aku tidak mau berkencan!" protesku. "Aku mengatur pertemuan ini agar kau bisa berkenalan dengannya, tapi jika ternyata dia bukan tipemu, kau pasti bisa mencari cara baik-baik untuk menjauhinya."

"Demi Tuhan, Bek, aku tidak membutuhkan kencan lagi, tapi kau yang membutuhkannya. Maksudku, bahkan nenekku lebih sering beraksi daripada kau. Dengar, aku tahu kau tidak pernah membicarakan mantan kekasihmu, siapa pun dia, tapi kita sudah berteman selama lebih dari tiga tahun, dan kau harus memulai hidupmu yang baru. Pikat Jisoo dengan kemampuan minummu, panaskan telinganya dengan rayuanmu, cobalah untuk bersenang-senang dengan pria yang tidak hendak kau bunuh pada penghujung malam. Setiddaknya sekali saja. Mungkin dengan begitu kau tidak akan murung terus-menerus."

Perkataan Kyungsoo ada benarnya. Meskipun aku tidak pernah menceritakan secara spesifik tentang Phoenix, apalagi fakta bahwa Phoenix adalah vampir, tapi Kyungsoo tahu aku mencintai seseorang dan kehilangan orang tersebut. Dan Kyungsoo juga tahu betapa kesepiannya diriku, lebih daripada yang berani kuakui.

Aku menghela napas. "Aku pikir itu bukan ide yang bagus..."

"Aku berpikir sebaliknya," Kyungsoo langsung memotong perkataanku. "Kau bukan orang mati, jadi berhentilah bertingkah seolah kau sudah mati. Ini hanya makan malam, nukan kawin kilat di Vegas. Tidak ada v bilang kau harus bertemu lagi dengan Jisoo setelah ini. Tapi unutk sekali ini saja, berkencanlah dengannya. Ayolah."

Aku mentap kucingku yang baru. Kucing itu mengerjapkan mata, yang aku anggap sebagai jawaban iya.

"Baiklah. Jisoo akan datang ke sini lima menit lagi. Aku akan mengikuti saranmu, tapi aku akan mengatakan sesuatu yang tidak pantas dan sudah pulang ke rumah lagi dalam waktu satu jam."

Kyungsoo tertawa. "Tidak masalah... setidaknya kau sudah mencoba. Telepon aku begitu kau pulang ke rumah."

Aku menggucapkan selamat tinggal dan menutup telepon. Tampaknya aku memang harus pergi berkencan. Siap atau tidak.

Saat aku melewati cermin, aku memeriksa ulang penampilanku. Rambutku yang kini berwarna cokelat dipotong sebahu dan terlihat asing, tapi itulah tujuannya, sekedar untuk berjaga-jaga jika Kris memutuskan untuk menyebarkan rumor tentang penampilanku. Aku tidak mau semua vampir atau ghoul memelototiku hanya karena warna rambutku. Pirang mungkin menyenangkan, tapi aku menginginkan sesuatu yang tidak terlalu mencolok. Red Reaper sudah dipensiunkan. Selamat datang, Brunette Reaper!

Saat Jisoo mengetuk pintu, aku sudah sepenuhnya siap. Senyumannya membeku saat ia melihatku.

"Sebelumnya kau berambut merah, iya kan? Aku tidak hanya membayangkannya karena kegugupanku, kan?"

Aku menaikkan sebelah alisku, yang tidak lagi merah tapi berwarna madu. "Aku ingin perubahan. Seumur hidupku aku selalu berambut merah, dan aku merasa ingin membuat perubahan."

Seketika itu juga Jisoo mundur untuk menatapku. "Yah, warna itu cocok untukmu. Kau cantik. Maksudku, kau memang sudah cantik sebelumnya dan kau masih tetap cantik sekarang. Ayolah, sebelum kau berubah pikiran."

Aku sudah berubah pikiran, tapi itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan Jisoo. Meskipun aku benci mengakuinya, tapi Kyungsoo memang benar. Aku bisa menghabiskan satu malam lagi dengan menyiksa diriku sendiri karena seseorang yang tidak pernah bisa kumiliki, atau aku bisa pergi keluar dan mencoba menikmati malam ini untuk membuat perubahan dalam hidup.

"Kabar buruk," ujarku pada Jisoo. "Temanku, hmm... ada halagan dan dia tidak bisa ikut. Maaf. Jika kau mau membatalkannya, aku bisa mengerti."

"Tidak akan," jawab Jisoo engan cepat, sambil tersenyum. "Aku lapar. Ayo, kita makan."

Ini hanya kencan, tegasku mengingatkan diri sendiri saat aku berjalan ke mobil Jisoo. Memang apa salahnya?

.

.

.

Aku dan Jisoo pergi ke Renardo's, sebuah bistro Italia. Di luar kebiasaan, aku hanya minum wine merah, karena aku tidak mau mengungkapkan minuman kesukaanku adalah gin dan tonik.

"Apa pekerjaanmu, Baekhee?" tanya Jisoo.

"Bagian penelitian lapangan dan perekrutan di FBI."

Itu tidak sepenuhnya kebohongan, jika kau menganggap berburu makhluk malam sebagai penelitian. Atau berkeliaran ke seluruh penjuru negeriunutk mengumpulkan orang-orang terbaik dari militer, kepolisian, FBI, atau bahkan mantan narapidana bisa dianggap sebagai prekrutan. Hei, kami tidak ingin melakukan diskriminasi terhadap orang ang kami pekerjakan untuk membunuh vampir. Sebagian anggota terbaik tim kami pernah memakai seragam narapidana. Heechul adalah seorang mantan narapidana yang setelah mendekam di balik jeruji selama dua puluh tahun dan setelah bebas memutuskan untuk bekerja pada Gongyoo. Unit campuran kami mungkin bukanlah hasil perekrutan yang umum dilakukan, tapi jelas sekali sangat mematikan.

Mata Jisoo membelalak. "FBI? Kau seorang agen FBI?"

"Tidak secara teknis. Unit kami lebih tepat dikatakan sebagai cabang dari Homeland Security."

"Oh, jadi kau termasuk orang-orang yang bisa mengatakan tentang apa pekerjaanmu padaku, tapi kemudian kau harus membunuhku?" goda Jisoo.

Aku hampir tersedak wine-ku. Tebakanmu tepat, Sobat. "Oh, tidak semenarik itu. Hanya perekrutan dan penelitian. Tapi aku harus selalu stand by setiap saat dan bekerja di waktu yang tidak biasa. Itulah sebabnya Kyungsoo adalah orang yang lebih baik daripada aku untuk mengenalkan kota Richmond ini padamu."

Aku mengatakannya secara langsung agar tidak membuat Jisoo berharap. Jisoo memang baik, tapi tidak mungkin kami memiliki hubungan yang lebih jauh.

"Aku memahami pekerjaan yang dilakukan di jam yang tidak biasa dan harus selalu stand by. Aku dipanggil pada jam berapa pun jika ada kasus darurat. Meskipun tidak seserius pekerjaanmu. Bahkan hal palng kecil dalam hidup pantas dipehatikan. Aku selalu merasa kau terlalu merendah dan tidak mengungkapkan dirimu yang sebenarnya."

Wah, wah. Jisoo baru saja membuatku menaikkan posisinya dalam anggapanku. "Maaf, Kyungsoo tidak bisa datang," kataku, mungkin untuk yang kelima kalinya. "Aku yakin kau pasti akan menyukainya."

Jisoo mencondongkan tubuh ke depan. "Aku yakin aku akan menyukainya, tapi aku tidak menyesal dia tidak bisa datang. Saat aku mengatakan ingin mengenal kota ini lebih dekat, sebenarnya itu hanyalah alasan untuk mengajakmu berkencan. Aku benar-benar hanya ingin berkencan denganmu. Pasti sandal bulumu yang membuatku tertarik padamu."

Aku tertawa, itu membuatku terkejut. Sejujurnya, aku pikir kencan ini akan membuatku sengsara, tapi ini... menyenangkan.

"Aku akan ingat itu."

Aku mengamati Jisoo melalui tepi gelas wine-ku. Jisoo mengenakan kemeja abu-abu dan sweter olahraga, dengan celana hitam. Rambut hitamnya baru dicukur, tapi satu ikalnya dibiarkan menggantung di kening. Jelas sekali Jisoo adalah teman kencan yang tidak tercela. Bahkan sekalipun kulitnya tidak memiliki kilau krstal yang bersinar jika terkena cahaya bulan...

Aku menggelengkan kepalaku. Sial, aku harus berhenti menghantui diriku sendiri dengan membayangkan Phoenix! Tidak ada harapan untuk kami berdua. Bahkan sekalipun kami bisa mengatasi halangan yang tidak ada habisnya berkaitan dengan pekerjaanku yang membunuhi vampir, atau kebencian besar ibuku terhadap semua makhluk yang bertaring, hubungan kami tetap tidak akan berhasil. Phoenix adalah vampir. Selamanya Phoenix akan tetap muda, sementara aku tidak bisa mengelak dari takdir yang membuatku mennjadi tua dan mati. Satu-satunya cara untuk menjadikan aku abadi adalah dengan mengubahku mennjadi vampir, tapi aku menolak melakukannya. Tidak peduli bagaimana sakitnya hatiku, aku membuat satu-satunya keputusan yang bisa kubuat dengan meninggalkan Phoenix. Sial, Phoenix mungkin sudah melanjutkan hidupnya tanpa aku, sudah lebih empat tahun sejak terakhir kali kami bertemu. Mungkin sekaranglah waktunya bagiku untuk melanjutkan hidupku juga.

"Apa kau mau melewatkan hidangan penutup dan pergi berjalan-jalan?" tanyaku tiba-tiba.

Jisoo tidak ragu sedikitpun. "Dengan senang hati."

Kami berkendara selama empat puluh menit untuk sampai ke pantai. Meskipun sekarang sudah masuk bulan Maret, tapi udara masih terasa dingin, dan aku merapatkan mantelku untuk mengatasi embut angin laut yang dingin. Jisoo berjalan di dekatku, tangannya dimasukkan ke saku.

"Aku sangat menyukai laut. Itu sebabnya aku pindah dari Pittsburgh ke Virginia. Sejak pertama kali aku melihatnya, aku tahu aku ingin tinggal di dekat laut. Ada sesuatu tentang laut yang membuatku merasa kecil, tapi seolah aku masih menjadi bagian dalam gambaran yang lebih besar. Memang terdengar seperti omong kosong, tapi itu benar."

Aku tersenyum dengan tulus. "Itu bukan omong kosong. Aku juga merasakan hal yang sama terhadap pegunungan. Aku masih suka ke gunung setiap kali aku punya kesempatan..."

Perkataanku menggantung karena aku teringat bersama dengan siapa aku pertama kali melihat pegunungan. Ini harus dihentikan.

Dengan dorongan kuat untuk bisa melupakan Phoenix, aku menarik Jisoo dan nyaris menjambak rambutnya untuk mendekatkan wajahnya ke wajahku. Jisoo ragu-ragu selama sepersekian detik, tapi lalu merespons, melingkarkan lengannya di seputar tubuhku, nadinya berdenyut kencang saat aku menciumnya.

Aku mengakhiri ciuman itu dengan sama mendadaknya seperti saat aku memulainya. "Aku minta maaf. Aku kasar sekali."

Jisoo tergelak parau. "Itu jenis kekasaran yang aku harapkan. Tadinya aku berniat melakukan manuver halus dengan mengajakmu duduk, mungkin melingkarkan lenganku di seputar bahumu... tapi aku lebih menyukai caramu."

Oh Tuhan, bibit Jisoo berdarah. Bodoh sekali aku karena lupa untuk mengendalikan kekuatanku. Tampaknya Jisoo yang malang terlalu rentan untuk disakiti. Setidaknya aku tidak membuat giginya rontok, mungkin Jisoo akan keberatan jika dicium lebih kuat dari itu.

Jisoo meremas bahuku, dan kali ini ia menunduk di atas wajahku atas inisiatif sendiri. aku menahan kekuatanku yang biasa dan membiarkan lidah Jisoo membelai bibirku. Jantung Jisoo berdetak lebih kencang dan darahnya mengalir ke bawah. Lucu sekali saat mendengar reaksi tubuh Jisoo.

Aku mendorong Jisoo menjauh. "Hanya itu yang bersedia kuberikan."

"Aku sudah sangat senang dengan itu, Baekhee. Hal lain yang aku inginkan adalah bertemu denganmu lagi. aku benar-benar ingin bertemu denganmu lagi."

Wajah Jisoo terlihat tulus dan sangat jujur. Sama sekali tidak seperti diriku yang banyak menyimpan rahasia.

Aku menghela napas lagi. "Jisoo aku menjalani hidup yang... sangat aneh. Pekerjaanku menuntut untuk sering sekali berpergian, pergi tanpa pemberitahuan, dan harus membatalkan sebagian rencana yang sudah kubuat. Apa itu terdengar seperti kehidupan yang membuatmu ingin terlibat di dalamnya?"

Jisoo mengangguk. "Kedengarannya hebat, karena itu hidup-mu. Aku akan dengan senang hati terlibat di dalamnya."

Bagian yang masuk akal di otakku mengirimkan peringatan tegas. Jangan lakukan. Kesepianku mengalahkannya.

"Kalau begitu, aku juga ingin bertemu lagi denganmu."

tbc...


Terima kasih banyak buat follow, favorite, dan reviewnya:)

Delightfull61/ChanBMine/rizypau16/lee da /Loyh/ oh ansya/ parkobyunxo/ byunbaekkieee/ chanxlatifaxbaek/ Park Ashel/ baekhee2811/ Park Beichan/ qwerlws/ light195

Maaf lama banget updatenya ya T.T