One Foot In The Grave
(Pertemuan kembali)
Original Story
Novel One Foot In The Grave by Jeaniene Frost
Selamat membaca.
Api cinta menyala kembali.
Dengan diiringi selimut ketegangan saat seseorang mengincar nyawa Bek. Kris, yang menginginkan Bek menjadi miliknya. Ditambah rasa cemburu saat wanita vampir masa lalu Phoenix masuk dalam kehidupan mereka.
Setelah dengan lancang meninggalkan vampir itu. Apakah Phoenix masih tetap mencintai Bek? Apakah janji Phoenix masih berlaku untuknya?
.
.
BAB 4
.
.
Ketukan memborbardir pintuku, membuatku lompat dari tempat tidur. Sekarang baru pukul sembilan pagi. Tidak ada yang datang sepagi ini, mereka semua mengetahui kebiasaan tidurku. Bahkan Jisoo, yang sekarang sudah sebulan berkencan denganku, tahu itu dan tidak akan menelepon atau datang ke rumahku pada waktu sepagi ini.
Aku langsung turun ke lantai bawah, kebiasaan membuatku memasukkan belati perak ke saku jubahku, dan mengintip dari lubang pintu.
Ternyata Taewoo yang ada dibalik pintu, dan kelihatannya ia juga baru saja dibangunkan.
"Ada apa?" tanyaku saat membuka pintu.
"Kita harus segera berkumpul. Gongyoo menunggu kita... dia juga menelepon Donghae dan Heechul."
Aku membiarkan pintu terbuka dan naik kembali ke kamarku di atas untuk berganti pakaian. Tidak mungkin aku datang dengan mengenakan piyama bergambar burung tweety, itu akan membuat anak buahku tidak menghargaiku.
Setelah berganti pakaian dan menyikat gigi dengan cepat, aku naik ke mobil Taewoo dan mengerjapkan mata karena sinar matahari pagi yang menyilaukan.
"Apa kau tahu kenapa kita dikumpulkan? Kenapa Gongyoo tidak langsung meneleponku?"
Taewoo menggerutu. "Dia ingin menanyakan pendapatku tentang situasinya sebelum bicara denganmu. Semalam ada beberapa pembunuhan yang terjadi di Ohio. Dilakukan secara terbuka, si pelaku tidak berusaha menyembunyikan korbannya. Bahkan, mayat-mayat itu dipamerkan."
"Memangnya apa yang tidak biasa? Aku akui memang mengerikan, tapi tidak diluar kebiasaan."
Aku bingung. Tidak biasanya kami mendatangi tempat kejadian perkara, dan kami memang tidak akan mampu mendatangai semuanya. Taewoo pasti tidak menyampaikan seluruh informasinya kepadaku.
"Kita hampir sampai. Biar Gongyoo yang menceritakan padamu selengkapnya. Tugasku hanyalah menjemputmu."
Sebelum bergabung dengan Gongyoo, Taewoo adalah seorang sersan di pasukan khusus, dan tahun-tahun yang dijalaninya di militer terlihat jelas sekarang. Ikuti peraturan, jangan pertanyakan perintah komandan. Itulah yang paling disukai Gongyoo dari Taewoo-dan kenapa aku membuat bosku sangat frustasi, karena sepertinya kepatuhanku bertolak belakang dengan Taewoo.
Dalam waktu dua puluh menit, kami semua sudah berkumpul. Seperti biasa, penjaga gedung melambaikan tangan saat kami lewat. Aku dan Taewoo sudah sering sekali datang, sehingga kami tidak perlu lagi menunjukkan kartu identitas. Kami sudah tahu semua penjaga dari nama, pangkat, sampai nomor lencana mereka.
Gongyoo berada dikantornya, berjalan mondar-mandir di depan meja, dan alisku langusng naik saat melihatnya. Biasanya bosku itu selalu terlihat tenang dan terkendali. Sejak ia merekrutku, ini kali kedua aku melihatnya berjalan mondar-mandir. Yang pertama saat Gongyoo mengetahui bahwa Kris, berhasil melarikan diri. Gongyoo mau aku menangkap Kris dan mengurungnya seperti binatang peliharaan, agar kami bisa meneliti darahnya untuk bisa membuat banyak Brams. Saat aku kembali tanpa membawa Kris, aku pikir Gongyoo akan mengamuk. Tapi yang dipikirkannya saat itu adalah kondisiku yang terluka akibat tikaman belati. Menurut pendapatku, Gongyoo tidak bisa menentukan prioritas.
Di atas meja Gongyoo tampak foto-foto hasil print. Saat kami masuk, Gongyoo menunjuk ke arah sana.
"Aku punya teman di kantor polisi Franklin Country, yang memindai foto-foto itu dua jam yang lalu dan mengirimkannya padaku. Dia sudah menyisir area itu dan mengosongkan tempat kejadian perkara dari polisi ataupun petugas medis. Kalian akan pergi ke sana begitu tim sudah berkumpul semua. Pilih anggota terbaikmu, karena kau akan membutuhkannya. Kami akan menyiapkan personel tambahan yang menunggu perintahmu di markas. Ini harus diselesaikan segera."
Franklin Country. Kampung halamanku. "Jangan berbelit-belit, Gongyoo. Kau sudah mendapatkan perhatianku seluruhnya."
Sebagai jawaban, Gongyoo menyerahkan salah satu foto tersebut. Foto itu menggambarkan sebuah ruangan kecil, dengan potongan tubuh berceceran di atas karpet. Aku langsung mengenalinya, karena itu adalah kamar tidurku yang ada di rumah kakek-nenekku. Tulisan yang terdapat di dinding membuatku membeku, dan aku langsung tahu kenapa Gongyoo terlihat secemas itu.
Sini, Bee, Bee
Itu tidak bagus. Sama sekali tidak bagus. Fakta bahwa pertunjukkan itu secara langsung diarahkan padaku, dan berlokasi di rumah tempat aku dibesarkan, menunjukkan dua hal yang mengerikan. Seseorang tahu nama samaranku-dan nama asliku.
"Di mana ibuku?" pikiran pertamaku adalah ibuku. Mungkin mereka hanya tahu Byun Baekhyun. Atau mereka juga tahu tentang Baekhee Ningratan.
Gongyoo mengangkat tangannya. "Kami sudah mengirimkan orang ke rumah ibumu dengan perintah untuk membawanya ke sini. Kami melakukannya sebagia tindakan pencegahan, karena aku pikir jika sekarang mereka sudah tahu siapa dirimu yang sebenarnya dan di mana kau berada, mereka tidak mungkin mengobrak-abrik tempat kelahiranmu."
Iya, itu memang benar. Aku sangat cemas sehingga tidak bisa berpikir jernih. Itu harus dihentikan, karena tidak ada waktu untuk bersikap bodoh.
"Apa kau punya perkiraan siapa yang melakukan ini, Bek?"
"Tentu saja tidak! Bagaimana aku bisa tahu?"
Gongyoo menatapku sejenak sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Sangat kebetulan sekarang kau mengencani Jisoo selama sebulan ini, dan tiba-tiba ada seseorang yang mengetahui identitas aslimu. Apa kau mengatakan pada Jisoo siapa kau seebenarnya? Apa yang kau lakukan?"
Aku memelototi Gongyoo dengan sorot marah. "Kau langsung memeriksa latar belakang Jisoo saat kau tahu aku berkencan dengannya? Tanpa seizinku, jika boleh kutambahkan. Tidak, Jisoo sama sekali tidak tahu apa-apa tentang vampir, apa yang kulakukan, dan siapa aku sebenarnya. Sebaiknya ini terakhir kalinya aku harus meyakinkanmu tentang hal itu."
Gongyoo mengangguk mengerti, kemudian mulai berspekulasi lagi. "Apa menerutmu yang melakukannya adalah Tuan. Wu? Apa kau mengatakan sesuatu padanya yang digunakan untuk bisa melacakmu?"
Hawa dingin menyelimutiku. Memang, Kris memiliki hubungan dengan masa laluku. Melalui Phoenix. Phoenix tahu alamat rumah keluargaku, nama asliku, dan hanya Phoenix yang selalu memanggilku Bee. Apakah mungkin Phoenix yang melakukannya? Apakah Phoenix akan melakukan hal seekstrem ini untuk membuatku keluar dari persembunyian? Setelah lebih dari empat tahun, apakah Phoenix masih memikirkanku?
"Tidak, aku tidak mengatakan apa-apa pada Wu. Aku tidak yakin dia ada kaitannya dengan hal ini."
Kebohongan meluncur begitu saja dari mulutku. jika memang Phoenix terkait dengan masalah ini, baik secara langsung maupun tidak langsung, aku akan menghadapinya sendirian. Gongyoo dan Taewoo berpikir mayat Phoenix sudah dimasukkan ke kotak es dan disimpan di ruang bawah tanah yang dilengkapi dengan freezer. Aku tidak akan mengubah hal itu.
Heechul dan Donghae tiba. Mereka berdua juga terlihat seperti baru saja dibangunkan. Secara singkat, Gongyoo menceritakan kepada mereka situasi yang kami hadapi dan apa implikasinya.
"Aku akan menugaskan kalian berempat untuk mengatasinya," ujar Gongyoo. "Bek, pilih anggota timmu dan lakukan tugasmu. Pesawat sudah disiapkan untuk membawa kalian kapan pun kau mau. Dan kali ini tidak perlu membawakan mayat vampir untukku. Singkirkan saja siapa pun yang mengetahui masa lalumu."
Dengan murung aku mengangguk, dan berdoa semoga kecurigaanku salah.
.
.
.
"Apa kau pernah ke kampung halamanmu setelah kau memimpin Pasukan Kematian dari Neraka ini? Apa ada orang yang mungkin akan mengenalimu?"
Donghae terus mengoceh sepanjang perjalanan sebelum kami mendarat di tempat tujuan.
"Tidak, aku tidak pernah kembali ke sana sejak kakek-nenekku meninggal. Aku hanya punya satu teman"-dan yang pasti aku tidak merujuk pada teman hantu tertentu-"tapi dia sudah lulus kuliah dan pergi ke Santa Monica sejak bertahun-tahun yang lalu."
Yang kumaksudkan adalah Taehyung, tetangga lamaku. Dari yang terakhir kuperiksa, Taehyung menjadi reporter untuk majalah independen yang mengupas tentang 'the truth is out there... kebenaran ada di luar sana.' Jenis majalah yang sesekali memuat tentang cerita faktual yang menggemparkan, kemudian membuat Gongyoo kalang kabut karena harus mencari cara untuk menyangkalnya. Taehyung percaya bahwa aku sudah tewas dalam adu tembak dengan polisi setelah membunuh kakek-nenekku, beberapa orang petugas polisi, dan gubernur. Sungguh kisah yang menggemparkan. Gongyoo memalsukan identitasku dan membuat aku menghilang. Bahkan ada batu nisan yang bertuliskan namaku dan laporan autopsi palsu.
"Lagi pula..." Aku mengenyahkan masa laluku. "Dengan memotong pendek rambutku dan mengecatnya menjadi warna cokelat, aku terlihat sangat berbeda. Sekarang tidak ada seorang pun yang bisa mengenaliku."
Kecuali Chanyeol. Phoenix bisa mengenaliku hanya dengan mencium bauku. Pikiran akan bertemu dengan Phoenix lagi, sekalipun dalam situasi pembunuhan yang sangat misterius, membuat jantungku berdetak cepat. Sejauh apa aku akan hancur.
"Kau yakin dengan keputusanmu membawa Seok?"
Donghae menyikutku sambil menoleh ke bagian belakang pesawat. Sedangkan kami berempat menempati bagian depan pesawat. Tempat istimewa untuk orang-orang yang istimewa, iya kan?
"Aku tahu baru dua bulan sejak aku merekrut Seok, tapi dia cerdas, cepat, dan kejam. Pengalamannya selam bertahun-tahun menjadi bandar narkotika bawah tanah mungkin bisa membantu. Dia menunjukkan prestasi yang bagus dalam operasi pelatihan, jadi sekaranglah waktunya dia membuktikan kemampuannya di medan yang sesungguhnya."
Donghae mengerutkan kening. "Dia tidak menyukaimu, Bek. Dia pikir suatu hari nanti kau akan mengubah kami semua menjadi vampir, karena kau sendiri setengah vampir. Aku pikir dia harus dicekoki jus dan ingatannya selama dua bulan terakhir ini harus dihapuskan."
Istilah "dicekoki jus" yang dimaksudkan oleh Donghae adalah teknik cuci otak yang telah disempurnakan oleh Gongyoo tahun lalu. Taring vampir tawanan kami diperah seperti sapi. Tetesan halusigenik yang terdapat di dalamnya disuling dan dilipatgandakan. Jika digabungkan dengan metode pencucian otak yang biasa dilakukan oleh militer, maka orang yangg kami cuci otaknya sama sekali tidak akan menyadari operasi kami. Melalui cara itulah kami melakukan prekrutan dan tidak perlu merasa khawatir akan ada yang membocorkan informasi tentang kekuatan superku. Yang mereka ingat hanyalah hari-hari saat menjalani pelatihan yang berat.
"Seok tidak harus menyukaiku... dia hanya perlu mematuhi aturan. Jika dia tidak bisa melakukannya, maka dia harus keluar. Atau mati, jika dia terbunuh lebih dulu. Sekarang ini, bukan dia yang harus kita khawatirkan."
Roda pesawat akhirnya menyentuh landasan. Donghae tersenyum padaku.
"Selamat datang kembali di kampung halamanmu, Bek."
Tbc.
Updetnya lama banget. Maapkan daku.
