One Foot In The Grave
(Pertemuan kembali)
Original Story
Novel One Foot In The Grave by Jeaniene Frost
Selamat membaca.
Api cinta menyala kembali.
Dengan diiringi selimut ketegangan saat seseorang mengincar nyawa Bek. Kris, yang menginginkan Bek menjadi miliknya. Ditambah rasa cemburu saat wanita vampir masa lalu Phoenix masuk dalam kehidupan mereka.
Setelah dengan lancang meninggalkan vampir itu. Apakah Phoenix masih tetap mencintai Bek? Apakah janji Phoenix masih berlaku untuknya?
.
.
BAB 5
.
.
Rumah tempat aku dibesarkan terletak di sebuah perkebunan ceri, yang kelihatannya tidak terurus selama bertahun-tahun. Mungkin sejak kakek-nenekku terbunuh. Liking Falls, Ohio, adalah tempat yang kupikir tidak akan pernah kulihat lagi, dan hal yang mengerikan adalah waktu seolah berhenti berputar di kota kecil ini. Oh Tuhan, rumah ini pasti dianggap sebagai rumah berhantu. Ada empat orang yang terbunuh di balik keempat dindingnya. Dua di ataranya diduga dibunuh oleh cucu mereka sendiri, yang telah melakukan pembunuhan sadis di berbagai tempat lain, dan sekarang ada pasangan suami-istri yang ditemukan tewas terbunuh di sana.
Sungguh ironis bahwa terakhir kali aku melewati beranda depannya, itu juga disebabkan oleh terjadinya pembunuhan ganda. Rasa sakit menerpaku akibat ingatan tentang kakekku yang terkulai di lantai dapur dan jejak tangan berdarah nenekku di tangga, tempat nenekku mencoba untuk melarikan diri dengan merangkak.
Aku dan Donghae memutari dapur, sangat berhati-hati agar tidak mengusik apa pun lebih dari yang diperlukan.
"Apa jasadnya sudah diperiksa? Apa ada sesuatu yang ditemukan?"
Taewoo terbatuk. "Jasadnya masih di sini, Bek. Gongyoo meminta jasad mereka tidak dipindahkan sampai kau melihatnya. Belum ada satu pun barang yang disita."
Bagus sekali. Gongyoo kadang terlalu cerdas. "Apa jasad mereka sudah difoto?
Didokumentasikan? Kita bisa mengorek jasad mereka melalui foto."
Heechul meringis mendengar pilihan kataku, tapi Taewoo mengangguk. Rumah
ini juga sudah dikelilingi oleh pasukan yang berjaga, kalau-kalau ini hanyalalah jebakan. Vampir tidak suka bangun pagi. Tidak, aku sengaja diminta datang ke sini, dan aku berani bertaruh siapa pun yang melakukan semua ini pasti sekarang sedang tertidur pulas.
"Baiklah kalau begitu. Ayo, kita mulai."
Satu jam kemudian, Seok tidak lagi bisa menahan diri.
"Sepertinya aku akan muntah."
Aku menatap sisa-sisa mayat yang dulunya merupakan pasangan suami-istri
yang bahagia. Ya, wajah Seok sudah pucat pasi.
"Jika kau muntah, maka kau harus memakan lagi muntahanmu dari lantai,
Prajurit."
Seok mengumpat, dan kembali mengamati potongan perut yang ada di depanku. Sesekali aku mendengar perut Seok bergolak, tapi ia menelan lagi muntahannya yang sudah naik dan terus bekerja. Aku masih menyimpan harapan terhadap kemampuannya.
Tanganku menemukan sesuatu yang aneh di bagian dada si istri. Sesuatu yang keras tapi bukan tulang. Dengan hati-hati aku mengeluarkannya, mengabaikan suara patahan yang terdengar saat aku menariknya.
Taewoo dan Donghae menunduk di atasku dengan ekspresi serius. "Kelihatannya seperti bongkahan batu," ujar Taewoo
"Apa sebenarnya itu?" tanya Donghae dengan heran.
Hatiku terasa sekeras batu di tanganku. Dalam hati aku menjerit.
"Ini bukan sembarang batu. Ini potongan batu kapur. Dari sebuah gua."
.
.
.
"Mundur sekitar delapan kilometer dari semua sisinya. Jika kalian berada lebih dekat daripada itu, mereka bisa mendengar detak jantung kalian. Tidak boleh ada pasukan yang menggunakan helikopter, tidak boleh ada radio. Yang dipergunakan hanyalah sinyal tangan, kita tidak mau ada anggota yang tewas. Aku akan masuk melalui mulut gua, dan kalian harus memberiku waktu tiga puluh menit. Jika aku tidak keluar juga, kalian bisa menggunakan roket untuk meledakkannya. Kemudian lakukan penyisiran ke sekeliling dan pertahankan terus kewaspadaan. Apa pun yang keluar dari gua, kecuali aku, harus kalian tembak sampai kalian merasa yakin dia telah mati. Kemudian kalian tembak lagi."
Dengan marah Taewoo memutariku. "Ini rencana yang konyol! Roket bisa membunuhmu, tapi vampir hanya perlu menggali keluar dari sisa reruntuhan. Jika kau tidak keluar, kami yang akan masuk mencarimu. Titik."
"Taewoo benar. Kami tidak akan menembakkan roket kepadamu, sebelum aku memiliki kesempatan untuk menunjukkan sosisku padamu." Donghae bahkan terdengar khawatir. Leluconnya tadi diucapkan dengan setengah hati.
"Tidak akan, Bek." Sambung Taewoo. "Kau terlalu sering menyelamatkan nyawaku, hingga tidak mungkin aku menekan tombol roket."
"Ini bukan demokrasi." Kata-kataku terdengar dingin. "Aku yang membuat keputusan. Kalian harus mematuhinya. Apa kalian belum mengerti? Jika aku tidak keluar dalam waktu tiga puluh menit, maka aku pasti sudah mati."
Kami berbicara di dalam helikopter yang berputar-putar untuk mencegah ada vampir yang menguping. Sikap paranoidku sudah sampai ke tahap yang fantastis, setelah aku menemukan batu itu. Aku tidak mau memercayai dugaanku, tapi aku tidak bisa membayangkan siapa yang meninggalkan batu di sana kecuali Phoenix. Kenangan dari gua itu terlalu personal untuk dilakukan oleh Kris. Hanya Phoenix satu-satunya orang yang mengetahui gua itu. Membayangkan Phoenix mengoyak perut korbannya untuk meninggalkan batu di sana membuatku merasa mual. Apakah mungkin kejadian selama empat tahun belakangan ini telah sangat mengubah Phoenix, sehingga ia sampai melakukan hal sekejam ini? Itu sebabnya aku hanya butuh waktu tiga puluh menit. Tidak peduli apakah aku yang akan membunuhnya atau ia yang akan membunuhku, hal itu pasti dilakukan dengan cepat. Phoenix selalu bertindak langsung tanpa basa-basi, dan Phoenix juga tidak akan mengharapkan reuni romantis. Apalagi jika mempertimbangkan fakta bahwa ia baru saja mengirimkan buket potongan tubuh padaku.
Helikopter mendarat tiga puluh kilometer dari gua. Kami akan berkendara selama lima belas menit dan aku akan berjalan kaki selama lima menit sisanya. Mereka bertiga mendebatku sepanjang waktu, tapi aku mengabaikannya. Pikiranku mati rasa. Aku sangat ingin bisa bertemu dengan Phoenix lagi, tapi aku tidak pernah membayangkan situasinya akan seperti ini. Kenapa? Aku bertanya-tanya lagi. Kenapa Phoenix sampai melakukan hal sesadis itu, seekstrem itu, setelah bertahun-tahun kami tidak pernah bertemu?
"Jangan lakukan, Bek."
Taewoo masih berusaha membujukku, saat aku mengenakan jaket. Di baliknya terdapat sejumlah senjata perak, yang jauh lebih berguna daripada sekadar memberikan kehangatan. Tahun ini musim dingin berlangsung lebih lama. Taewoo mencengkeram tanganku tapi aku menepisnya.
"Jika aku tewas, gantikan aku memimpin tim ini. Jaga mereka agar tetap hidup. Itu tugasmu. Itu tugasku."
Sebelum Taewoo bisa menjawab, aku sudah berlari sekencang mungkin.
.
.
.
Saat menempuh satu kilometer terakhir aku memperlambat langkahku dengan berjalan, bersiap-siap untuk menghadapi konfrontasi. Aku menajamkan telingaku untuk mendengarkan suara sekecil apa pun, tapi tanpa alasan gua itu menjadi tempat persembunyian yang sempurna. Ketinggian dan kedalamannya mampu meredam suara. Aku tidak bisa mendengar apa-apa. Yang mengejutkan, saat berjalan mendekat, aku justru mendengar suara detak jantung, tapi mungkin itu detak jantungku sendiri. Saat aku sampai di bagian luar mulut gua, aku merasakan energi dari dalam. Kekuatan vampir, bergetar di udara. Oh, Tuhan.
Tepat sebelum aku menunduk di ambang mulut gua, aku menekan tombol di jam tanganku. Hitungan mundur, tepat tiga puluh menit, sudah dimulai.
Kedua tanganku menggenggam belati perak yang terlihat sangat tajam, dan masih ada belati lempar. Aku bahkan membawa pistol berisi peluru perak, yang kusembunyikan di balik celanaku. Dalam membunuh, aku harus membuat persiapan secara maksimal.
Mataku menyesuaikan diri terhadap ruangan yang hampir sepenuhnya gelap gulita. Dari celah bebatuan secercah cahaya masuk dan menjadi satu-satunya penerang. Sejauh ini, di jalan masuk tidak ada siapa pun. Terdengar suara-suara ribut di bagian lebih dalam, dan pertanyaan yang tidak pernah mau kupikirkan kini terlintas di dalam benakku. Apakah aku mampu membunuh Phoenix? Apa aku mampu melihat mata cokelatnya, atau mata hijaunya, dan melancarkan serangan? Aku tidak tahu, tapi aku sudah menyiapkan roket sebagai rencana cadangan. Jika aku gagal, roket itu tidak mungkin gagal. Roket akan terbukti ampuh jika aku ternyata lemah. Atau jika aku ternyata mati, tidak peduli yang mana yang datang lebih dulu.
"Datanglah mendekat," terdengar sebuah suara.
Suara itu bergema. Detak jantungku bertambah cepat, dan aku berjalan semakin jauh ke dalam gua.
Ada beberapa perubahan sejak terakhir kali aku melihat gua ini. Area yang dulunya dijadikan ruang tamu kini telah hancur. Sofa berada di satu sisi, tapi sekarang sudah tidak lagi berbentuk. Ada tumpukan salju yang menutupinya, televisi remuk, dan lampunya sudah berkarat karena lama sekali tidak pernah dinyalakan. Sekat yang dulu kugunakan untuk berganti pakaian sudah terbelah-belah dan tercecer di beberapa tempat. Jelas sekali ada seseorang yang menghancurkan tempat ini dalam keadaan marah besar. Sejujurnya, aku takut melihat ke kamar tidur, tapi tetap saja aku mengintip ke dalamnya, dan jantungku langsung berhenti berdetak.
Tempat tidur sudah berupa cacahan batu. Kayu ranjang dan per kasurnya tersebar di mana-mana dan tertancap di tanah. Dinding batunya retak dan tercongkel di sana-sini akibat hantaman tinju yang keras atau dilempar dengan benda berat. Kesedihan mendalam menyelimutiku. Akulah yang menyebabkan semua ini, seolah aku melakukannya dengan tanganku sendiri.
Embusan angin dingin terasa di belakangku. Aku berputar dengan belati berada dalam posisi siaga. Yang menatapku dengan mata hijau berkilau adalah sesosok vampir. Di belakangnya, masih ada enam vampir lain. Energi mereka begitu terasa di udara sekitar kami, tapi tersebar secara merata, jika boleh dikatakan begitu. Masing-masing mereka memiliki energi yang kuat, tapi wajah mereka terasa begitu asing bagiku.
"Siapa sebenarnya kalian semua?"
"Kau datang. Ternyata pacar lamamu tidak bohong. Tadinya kami tidak yakin apakah kami bisa memercayainya."
Pernyataan itu datang dari vampir yang berdiri paling depan, yang memiliki rambut ikal berwarna cokelat. Ia terlihat berusia sekitar dua puluh lima tahun, dalam hitungan manusia. Dari kekuatan yang terpancar dari tubuh vampir itu aku menilai mungkin ia sudah berusia lima ratus tahun dalam hitungan vampir atau bisa dikategorikan sebagai Master muda. Di antara ketujuh vampir itu, yang satu itulah yang paling berbahaya, dan kata-kata yang dilontarkannya membuatku ketakutan setengah mati. Pacar lamamu. Dari sanalah mereka mengenalku. Demi Tuhan, ternyata bukan Phoenix yang membunuh orang-orang itu, tapi vampir-vampir ini. Apa yang telah mereka lakukan untuk membuat Phoenix buka mulut membuatku mual sekaligus ketakutan.
"Di mana dia?"
Hanya itu satu-satunya pertanyaan yang penting. Jika mereka membunuh Phoenix, aku akan mengoyak tubuh mereka seperti ceceran kasur yang ada di belakangku. Hingga tidak bisa dibedakan antara partikel yang satu dengan yang lain.
"Dia ada di sini. Masih hidup. Jika kau ingin dia tetap hidup, kau harus
melakukan apa yang kuperintahkan."
Vampir yang lain mulai menyebar di sekelilingku, memerangkapku hingga satu-satunya jalan keluar hanyalah kamar tidur. Karena itu adalah wilayah yang tertutup, tidak mungkin aku bisa meminta bantuan.
"Biarkan aku melihatnya."
Si vampir berambut ikal tersenyum. "Tidak ada tuntutan, Girl. Apa kau pikir belati itu bisa melindungimu?"
Ketika kakek-nenekku terbunuh dan aku menabrakkan mobil ke dalam rumah untuk menyelamatkan ibuku, aku pikir aku tidak bisa merasa lebih marah lagi. Ternyata aku salah. Api amarah yang terkobar di dalam diriku membuatku gemetar. Para vampir itu mengira aku gemetar karena takut, dan senyuman mereka melebar. Si rambut ikal melangkah maju.
Dua bilah belati sudah terlempar dari tanganku sebelum aku bisa menyampaikan perintah pada otakku. Belati-belati itu tertancap di jantung vampir yang ada di sebelah kiriku, yang sedang menjilat bibirnya. Vampir itu terjerembab ke depan sebelum lidahnya selesai menjilat. Ada lebih banyak belati yang mengisi tempat yang ditinggalkan dua belati tadi, dan dalam sekejap kedua tanganku sudah penuh.
"Sekarang aku akan bertanya lagi, dan jangan buat aku marah. Aku menghabiskan pagi ini dengan perasaan cemas, dan sekarang kesabaranku sudah sangat menipis. Belati berikutnya akan kuarahkan kepadamu, Rambut Cokelat, kecuali jika kau menunjukkan padaku apa yang ingin aku lihat. Anak buahmu mungkin akan langsung menyergapku, tapi tidak masalah, karena kau sudah mati saat itu."
Mataku menatap si rambut ikal dengan tajam, dan aku membiarkannya melihat betapa seriusnya aku. Ia menyentakkan kepala kepada dua orang anak buahnya yang terperangah. Sekali lagi mereka menoleh ke arah teman mereka, yang dengan perlahan mencoba bangkit tapi kembali terhuyung lalu terkapar sepenuhnya. Satu belati yang tidak terpelintir mungkin tidak akan membunuh vampir. Tapi dua belati sekaligus bisa menyebabkan luka serius pada jantungnya. Di latar belakang, aku mendengar suara besi yang beradu, dari sanalah aku tahu di mana mereka menyekap Phoenix. Sial, aku sendiri pernah dirantai di sana. Sekarang aku yakin aku mendengar detak jantung. Apakah ada manusia yang ditugasi menjaga Phoenix?
Si vampir berambut ikal menatapku dengan sorot tidak peduli.
"Kaulah yang telah membunuhi kaum kami selama beberapa tahun terakhir ini. Seorang manusia fana dengan kekuatan makhluk abadi, yang dikenal dengan julukan Red Reaper. Apa kau tahu berapa besar harga kepalamu?"
Berengsek, nah itu baru ironis. Vampir itu adalah seorang pemburu hadiah, dan aku adalah targetnya. Yah, aku rasa hanya tinggal masalah waktu. Kau tidak dapat berharap bisa membunuh ratusan vampir tanpa membuat kerabat salah satunya marah padamu.
"Aku harap cukup besar. Aku tidak suka jadi barang obralan."
Vampir itu mengerutkan kening. "Kau mengolok-olokku. Aku Lazarus, dan kau seharusnya takut padaku. Ingat, nyawa pria yang kau cintai ada di tanganku. Yang mana yang lebih berarti untukmu... nyawanya, atau nyawamu?"
Apa aku cukup mencintai Phoenix untuk rela mati demi dirinya? Tentu saja. Karena merasa lega bukan Phoenix yang ada di balik semua pembunuhan sadis itu, aku nyaris tidak memedulikan nyawaku sendiri. Lain kali aku lebih baik mati daripada mencurigai Phoenix melakukan perbuatan sesadis itu.
Suara isakan membuat perhatianku teralih lagi ke situasi yang sedang kuhadapi. Apa yang terjadi? Jam tanganku menunjukkan bahwa tinggal lima belas menit lagi sebelum roket ditembakkan ke gua ini. Phoenix harus dikeluarkan secepat mungkin. Sementara Lazarus tidak akan hidup untuk bisa menikmati uang hasil perburuannya. Mungkin aku akan mengatakan itu sebelum waktunya habis.
Sesuatu yang berbentuk seperti manusia dan mengeluarkan suara isakan dilemparkan ke dekat kakiku. Aku menatap bingung sebelum beralih ke Lazarus.
"Berhentilah bermain-main. Aku tidak perlu melihat salah satu mainanmu yang sudah rusak untuk percaya betapa kejamnya dirimu. Cepat, kesabaranku sudah hampir habis. Di mana Phoenix?"
"Phoenix?" cetus Lazarus, matanya menoleh ke sekeliling. "Di mana dia?"
Di waktu yang hampir bersamaan, ada dua hal yang terlintas di dalam pikiranku. Satu, dari ekspresi wajah Lazarus, ia sama sekali tidak tahu di mana Phoenix berada. Kedua, wajah yang bersimbah air mata di dekat kakiku ternyata milik bajingan keparat yang telah merayu dan mencampakkanku saat aku berusia enam belas tahun.
Tbc.
Saya kembali~
