DISCLAIMER
VOCALOID MILIK PEMILIKNYA MASING-MASING
Story by MiyuTanuki
Dilarang keras meniru tanpa sepengetahuan MiyuTanuki
Kesalahan penulisan, typo, dan lain-lain mohon dimaklum.
Untuk itu dimohon untuk RnR.
Kita masih belajar ^^
CHAPTER 3
Ruangan itu redup. Menciptakan suasana suram dengan penuh misteri. Dinding di penuhi sobekan-sobekan kertas. Benang merah secara acak menyambungkan berbagai sobekan kertas di dinding. Menunjukan adanya saling keterkaitan antara sobekan satu dengan lainnya. Meiko terdiam di tengah ruangan itu. Memandang keseluruhan ruangannya. Beberapa foto terpampang disana, menunjukan percikan darah. Meiko masih bisa mengingat aroma kematian dari ke-12 mayat itu. Bau amis yang menyeruak di indra penciumannya, membuat beberapa inspektur bersi keras untuk menahan muntahan mereka.
Meiko beberapa saat terdiam ketika ia memperhatikan korban yang baru saja ia tangani. Gadis bermata sapphire itu. Gadis yang berhasil membuatnya iri pada bola mata indah itu sudah tiada. Meninggalkan sebuah misteri yang sampai saat ini belum terkuak. Meiko menyentuh foto itu, membiarkan bola matanya menelisik apakah ada yang salah dengan mayat gadis manis itu. Ia ingin tau penyebab dari terbunuhnya gadis ini selain fakta bahwa gadis ini memiliki rambut yang indah.
Dan Meiko ragu untuk meminta pertolongan pada Kiyoteru. Ia sungguh terlihat lelah selama beberapa minggu terakhir ini. Bagaimanapun Meiko tak tega melihat ketuanya seperti itu. Ia meraih ponselnya.
"Gakupo. Aku butuh bantuanmu."
"Maafkan saya telah mengganggu waktumu tuan." Meiko duduk di hadapan seorang lelaki, yang ia percayai sebagai kekasih dari gadis itu.
"Tidak masalah bagi saya." Ia tersenyum ramah, namun tetap terlihat secercah kesedihan disana.
"Sebelumnya, saya turut berduka atas kepergian kekasih anda. Namun disini saya ingin bertanya beberapa hal. Apakah itu tidak masalah?" Meiko kembali memastikan bahwa lelaki dihadapannya ini nyaman dengan apa yang akan Meiko tanyakan.
Lelaki itu mengangguk. Meiko menanyakan hal-hal sederhana, berharap sebelum ia menanyakan hal yang lebih dalam, pria itu tak akan terlalu kaget. Cukup lama untuk membuat lelaki ini tenang, yang membuat Meiko gusar. Karena sejujurnya ia bukanlah orang yang sabar untuk menghadapi interogasi seperti ini.
"Mari kita langsung pada intinya. Apakah ada hal-hal aneh sebelum ia meninggal?" Meiko memicingkan matanya pada lelaki itu.
"Em.. Ia pernah merasa bahwa ia diikuti oleh seseorang." Meiko akhirnya menemukan titik terang.
"Baiklah. Kapan ia mengeluh bahwa ia merasa di ikuti seseorang?"
"Seminggu yang lalu." Lelaki itu mengeluarkan ponselnya, menunjukan e-mail yang ia terima dari kekasihnya. Tepat seminggu yang lalu.
Aku merasa di ikuti seseorang.
Meiko bisa merasakan bagaimana terkejutnya gadis itu ketika ia merasa di ikuti oleh seseorang. Kini Meiko menatap pada Gakupo yang berdiri di sudut ruangan. Ia terdiam dan menatap pada Meiko, seolah ia memerintahkan Meiko untuk kembali menguak kebenaran di balik kematian gadis itu.
"Ku dengar sebelum gadis itu meninggal, kau datang ke apartemennya. Apa benar begitu?" Pertanyaan singkat itu dijawab cepat dengan anggukan.
"Ada orang yang menjadi saksi bahwa ia bukan pelakunya. Beberapa tetangga gadis itu membantu dia untuk masuk ke apartemen gadis itu. Kalau aku tak salah, kekasihmu tak membukakan pintu?" Lelaki itu kembali mengangguk.
"Ia memberitahukan bahwa seseorang itu mengikutinya hingga ke depan apatemennya. Dan ia memintaku untuk menemaninya disana." Meiko mendengus pelan. Ia masih belum memiliki ide siapa sebenarnya sang psycho ini.
"Apa kekasih mu pernah memberitahukan ciri-cirinya?" Gakupo angkat bicara.
"Ia hanya mengetahui bahwa yang mengikutinya adalah pria." Jawabnya dengan mantap. Membuat Meiko menatapnya tajam. Seakan tak percaya dengan semua itu.
"Bukankah itu menjijikan? Seorang stalker. Pria. Dan akhirnya membunuh? Apa ada manusia seperti itu? Apakah dia hentai atau semacam pedopil?" Mendengar hal itu saja Meiko sudah seperti ternodai.
"Seminggu yang lalu, aku pernah melihat kalian di TKP. Apakah itu benar?" Lelaki itu kembali mengangguk.
"Dan sejak kami pulang dari tempat kejadian itu, kekasihku merasa diikuti."
Pernyataan lelaki itu membuat Meiko terdiam. Ia berpikir keras tentang apa yang di katakan lelaki di hadapannya ini. Suasana kelam itu sontak membuat Meiko berdiri. Ia menundukan kepala, tanda ia berterima kasih pada lelaki itu. Meiko berbisik pada Gakupo untuk melanjutkan interogasi itu dan melangkah keluar.
Meiko berkali-kali mengetuk apartemen Kiyoteru. Sudah lebih dari 5 menit ia berdiri didepan pintu itu. Memang pada kenyataannya bahwa Meiko bukanlah seorang yang sabar. Bahkan menurutnya 5 menit saja terasa seperti berabad-abad. Pintu terbuka perlahan, menunjukan sosok Kiyoteru yang mengenakan piyama. Meiko melirik pada jam tangannya. Bahkan ini sudah terlampau sore untuk mengenakan piyama.
"Ada apa? Aku sedang cuti. Aku sedang beristirahat." Ekspresinya jelas-jelas sangat merasa terganggu. Meiko masuk begitu saja, meninggalkan Kiyoteru yang kini mengerlingkan matanya.
"Dugaanku benar! Megane-kun! Pembunuh itu ada disana!" Mieko berteriak di tengah apartemen.
Kiyoteru hanya menggelengkan kepalanya. Ia terlalu penat untuk memikirkan pembunuh itu. Terlebih lagi ia masih membutuhkan hibernasi yang panjang untuk memulihkan kondisinya. Kantung matanya sudah cukup terlihat jelas meskipun ia mengenakan kacamata. Namun seperti biasa, teman sebangsanya itu bahkan tak memperdulikan kondisi ini. Ya, Kiyoteru hanya bisa bersabar. Bagaimana pun terkadang Meiko membantu tugas yang ia emban.
"Jadi menurutmu pembunuh itu ada disana?"
"Ini adalah fakta. Kekasihnya mengatakan bahwa gadis itu merasa di ikuti selama seminggu sebelum akhirnya ia meninggal." Meiko memainkan pulpen yang kini ia genggam. Memutarnya bagaikan stik drum.
"Jangan katakan bahwa kalian melakukan interogasi tanpa sepengetahuanku." Kiyoteru menaruh secangkir kopi untuk Meiko. Ia menjatuhkan pandangannya pada Meiko dengan ngeri.
"Sayangnya kami melakukannya." Reaksi pertama yang di keluarkan Kiyoteru adalah mengusap wajahnya.
Meiko dengan pandangan tak berdosa dengan Kiyoteru dihadapannya sedang frustasi. Namun Kiyoteru hanya mengacak rambutnya secara kasar dan kembali membenahi letak kacamatanya. Ia kini menampilkan kemampuan pokerface nya.
"Itu yang kita dapatkan. Sudah dapat dipastikan bahwa pembunuhnya ada di TKP saat itu."
"Tapi mengapa gadis itu?" Kiyoteru jelas menginginkan penjelasan lebih mengenai terbunuhnya gadis yang bahkan terlampau ceria menurut kesaksian teman-temannya.
"Jika ku ingat kembali, aku juga memperhatikan gadis itu bersama Kaito."
Meiko kembali memutar ingatannya saat ia menatap gadis itu. Menatap surai nya yang berkilau dibawah cahaya lampu di pinggir jalan itu. Matanya sarat akan rasa penasaran. Gadis itu berada di tengah keramaian bersama kekasihnya. Meiko mengingat ia sempat menatap pada kerumunan lain. Namun tak dipungkiri bahwa matanya tetap tertuju pada gadis yang mengeratkan genggamannya pada sang kekasih ketika jasad korban di bawa ke ambulans. Meiko membulatkan mata. Mata caramel itu menatap kekosongan. Ia menemukan jawabannya.
"Gadis itu memiliki daya tarik tersendiri. Rambutnya yang membawa malapetaka. Meskipun pandangan ku teralih di kerumunan, namun gadis itu tetap disana. Aku tetap dapat melihat pesonanya."
Kiyoteru seakan mengerti dengan intuisi Meiko. Pandangan Meiko tak pernah salah. Ia selalu dapat berpikir seperti ia adalah pembunuhnya. Meskipun pada kenyataanya Meiko bukanlah sang pelaku.
"Aku akan menemui mu esok pagi. Hari ini aku harus ke pusat. Aku akan mencari berkas pembunuhan ini." Meiko bergegas, tapi ia menghentikan langkahnya.
Meiko berbalik kembali pada Kiyoteru. Ia mengambil cangkir berisikan kopi itu, meneguknya hingga habis, lalu tersenyum riang. Ia kembali berlari keluar. Kiyoteru hanya menampilkan ekspresi lelahnya, dan kembali berbaring di sofa kesayangannya itu.
Meiko terlihat berbincang-bincang dengan salah satu pegawai di kantor kepolisian pusat. Beberapa kali ia tertawa bersama lawan bicaranya. Di awali dengan satu orang yang mengikuti obrolan mereka, kini sudah beberapa orang mengerumuni Meiko. Berbincang dengannya, tertawa bersamanya. Bagi Meiko, kantor kepolisian tak terlalu membosankan. Ia memiliki banyak kenalan untuk diajak berbincang. Seperti halnya Luka, gadis dihadapannya ini terlalu asik untuk diajak berbincang. Ia adalah gadis unik penyuka gurita. Rambutnya yang panjang sangat cocok dengan kesannya yang feminim.
"Ah ya. Aku lupa tujuanku kesini untuk membawa berkas pembunuhan berantai itu." Meiko mengacak-acak isi tas yang ia bawa.
"Pembunuhan yang kini marak di perbincangkan?"
"Ya tentu saja yang itu. Aku salah satu dari mereka yang mengurusi pembunuh biadab itu. Nah untukmu. Jja Minna! Terimakasih waktunya." Meiko melambai pergi dari kerumunan itu.
Meiko sesekali melemparkan senyuman ringan pada orang yang melewatinya. Ia berada di depan pintu kumpulan berkas. Ia membukanya, menampakan seorang wanita dan juga pria yang bertugas menjadi penjaga seluruh berkas di ruangan ini. Mereka tersenyum, Meiko memberitahu alasan dia ke tempat tertutup itu. Gadis itu kembali tersenyum dan memberitahukan letak berkas-berkas yang Meiko cari. Kembali Meiko tersenyum kecil, dan berlalu.
"Rak 15.. 15.. 15.." Meiko bersenandung.
Meiko sudah berada di rak 14. Satu langkah lagi ia mencapai rak 15, namun langkahnya terhenti ketika mendengar suara mencurigakan di balik rak 15. Ia mengintip pada rak 15 dan menemukan Miku mencoba meraih kardus yang berisikan berkas yang akan Meiko ambil. Meiko sendiri tidak tahu atas dasar apa Miku mencoba untuk mencari tahu kasus itu. Ia hanyalah seorang detektif junior yang seharusnya belum diperbolehkan memasuki kasus ini.
Meiko tak bergerak se inchi pun. Ia memperhatikan gerak gerik Miku yang nampak cemas. Itu memperkuat adanya niatan buruk dari Miku. Miku seperti mencari satu berkas di tumpukan itu. Meiko mencoba untuk terlihat biasa saja. Ia mengatur keadaan ekspresinya, agar ia tak dicurigai oleh Miku.
"Ah Miku!" Sontak itu membuat Miku hampir melemparkan seluruh berkas yang ada di hadapannya. Miku terlihat panik.
"E-Eto. Sakine-san, ada keperluan apa di sini?" Jelas sekali Miku menampilkan senyum terpaksa. Membuat kecurigaan Meiko bertambah.
"Kebetulan sekali aku akan mengambil seluruh berkas yang kau buka tadi." Meiko tersenyum kecil pada bawahannya itu. Miku berdiri perlahan, lalu sedikit menyingkirkan dirinya dari hadapan Meiko.
"Kalau begitu sampai nanti Sakine-san." Miku menunduk cepat dan segera berjalan. Berusaha untuk tidak terburu-buru namun tetap saja gagal.
Meiko terduduk dihadapan kardus itu. Demi apapun ia melihat Miku membawa selembar kertas yang ia sembunyikan di balik tubuhnya. Ia tak bisa dibodohi begitu saja. Apa keperluannya hingga ia berani mengambil selembar berkas yang sangat di butuhkan oleh Meiko.
Dan Meiko tak mengingikan dirinya berpikir lebih jauh tentang hal itu. Meiko membawa kardus itu dan berniat memeriksa keseluruhan fakta pembunuhan berantai itu.
Meiko duduk bersantai dengan kedua kaki berada di atas meja. Beberapa orang menganggapnya tidak sopan, namun hal itu tak dapat menghentikan Meiko untuk melakukan sesuatu yang ia suka. Kini Meiko sedang membaca berkas-berkas yang berhubungan dengan fakta pembunuhan berantai itu. Sebuah pensil terselip di atas telinganya, kacamata pun bertengger di wajahnya. Memang aneh melihat Meiko mengenakan kacamata, faktanya ia hanya menggunakan kacamata ketika ia benar-benar konsentrasi. Dan seluruh divisi mengetahui bahaya dari mengganggu Meiko yang tengah mengenakan kacamata. Kecuali kedua teman sejawatnya.
Berkali-kali Meiko membuka setiap halaman dan menatapnya secara teliti. Ia juga berkali-kali menjentikkan jari, menandakan ia sedang dalam kondisi sangat konsentrasi. Beberapa inspektur muda disana terlihat menahan napas. Mereka berpikir napas mereka saja akan mengganggu Meiko dan membangkitkan amukan mautnya. Bahkan para pengantar dokumen terlihat berjalan perlahan ketika berada di sekitaran meja Meiko.
Konsentrasi penuh Meiko pecah ketika Gakupo secara sengaja mendorong tubuhnya. Membuat tubuh Meiko tersungkur pada meja di hadapannya. Semua orang di ruangan menatap mereka dengan horor. Baiklah, mereka menyadari bahwa Gakupo yang akan terkena imbasnya.
Gakupo hanya tertawa dan meninggalkan Meiko yang kini jelas sekali menggerutu. Namun tak lama Meiko kembali fokus pada dokumen dihadapannya.
"Meiko. Ku harap kau bisa membimbing tim D pada kasus di Ikebukuro sekarang." Panggilan mendadak petinggi itu membuat Meiko mengendikkan bahu dan bersiap untuk pergi ke TKP.
Ia tahu bahwa kasus yang dihadapinya kali ini tetap sama. Pembunuhan. Namun tak seperti dugaan Meiko, korban dari pembunuhan ini tidak bisa disebut biasa saja untuk kasus sederhana. Korban diberikan racun racikan khusus yang Meiko percayai racun racikan sang pembunuh. Mata sang korban terbuka lebar. Pandangan kelam itu secara tak langsung menatap Meiko. Jujur saja Meiko merasa tak nyaman dengan keadaan mayat yang secara tak langsung menatapnya seperti itu. Mulutnya terbuka lebar. Separuh wajahnya terluka. Luka terbuka terlihat di bagian belakang kepalanya.
Posisi sang mayat pun tak sebegitu menyenangkan. Meiko berjalan mengelilingi Mayat itu. Kaki hingga perutnya berada di atas meja, dan sisanya berada dilantai. Terbaring disana dengan mengerikan. Meiko menatap korban itu dalam. Sesekali Meiko menjentikkan kembali jemarinya. Ia mendapati tangan sang korban memiliki bekas ikatan kuat, begitu juga dengan pergelangan kakinya. Meiko mengusap dagunya. Korban berusia 25 tahun, seorang wanita. Cukup muda dan juga cukup tua untuk memiliki seorang musuh. Atau paling tidak Meiko bisa menyimpulkan pelakunya adalah orang terdekat wanita ini.
Korban mengenakan jas lab. Yang memperkuat bukti bahwa memang orang terdekatnya lah yang membunuh wanita ini. Karena ia pasti memiliki relasi yang dapat meracik zat-zat kimia. Meiko berdiri ketika mengetahui tim D sudah datang –dengan waktu yang cukup telat—.
Tim D mulai melakukan penyidikan di setiap sudut ruangan. Mata Meiko tak pernah melepaskan pandangan dari Miku. Ia sudah menyimpan rasa kecurigaan pada Miku sejak kejadian selembar-berkas-yang-hilang.
Saat Miku memandang kondisi mayat, wajahnya memucat. Ia berlari keluar untuk mencari toilet, menutup mulutnya dengan kedua tangan. Meiko mengikuti Miku, ia memang berniat untuk menanyakan selembar kertas yang Miku sembunyikan. Seperti yang diketahui bahwa Meiko membenci bau muntahan manusia, membuat Meiko lebih memilih menunggu Miku di luar toilet. Perlahan Meiko menempatkan diri di dekat pintu toilet.
"—khirnya tak ada yang mengetahui." Meiko menatap dinding dihadapannya dengan sebelah alis yang terangkat. Tak terdengar suara muntahan di dalam sana. Namun suara Miku yang sedang berbincang.
"Untung saja aku menemukannya sebelum orang lain mengetahuinya."
'Menemukannya?' Meiko kembali memandang dinding dengan ekspresi penuh dengan pertanyaan. Seakan dinding tersebut dapat menjawab seluruh pertanyaan dibenaknya.
"Berkas itu sudah aman. Aku aman. Kita aman." Jelas sekali Miku sedang menghubungi seseorang didalam sana.
Intuisi Meiko menyatakan bahwa Miku memang patut untuk dicurigai. Meiko pergi dari tempat itu. Persetan dengan perintah para petinggi itu. Yang Meiko perlukan kali ini adalah menyelidiki lebih jauh seluk beluk Miku.
"Ah!" Kaito berteriak dan hampir saja handuk yang tersampir di pinggangnya terlepas.
Kaito menatap horor Meiko yang kini sedang duduk dengan tenang di ranjangnya dengan laptop yang berada di pangkuannya. Ia bahkan tak pernah mengingat Meiko datang ketempatnya. Senyuman kecil Meiko muncul ketika ia memandang cepat Kaito yang membeku disana.
"Konbanwa Kai. Jangan membeku disana atau handukmu itu akan segera lepas dari tempatnya." Hal itu membuat Kaito berlari terbirit-birit ke ruang ganti.
Meiko tertawa puas dan kembali melihat file mengenai Miku. Berterimakasihlah pada Kiyoteru yang memberikannya akses untuk melihat seluk beluk Miku. Ia masih tak habis pikir apa hubungan Miku dengan kasus yang sudah ia tangani selama 3 tahun. Suara pintu mengganggu aksi Meiko. Ia menatap tubuh tegap Kaito dibalut piyama biru –warna yang selalu Kaito suka—.
"Mei-chan, sejak kapan kau berada di apartemenku?" pertanyaan itu hanya di jawab tawaan oleh Meiko.
"Aku terlalu lelah. Aku malas pulang ke apartemenku. Terlalu jauh." Meiko menyambar ice cream vanilla yang berada di tangan Kaito. Membuat Kaito dengan pandangan tak rela nya menghela napas.
"Akhirnya aku mengerti mengapa kau menyimpan piyama dan beberapa baju mu di closet ku." Kekehan suara bariton itu membuat Meiko tertawa.
"Tak ada sake?" Selalu pertanyaan itu yang keluar dari mulut Meiko ketika ia mengunjungi apartemen Kaito.
"Kau menghabiskan 4 botol terakhir dua hari yang lalu." Meiko menganggukan kepalanya dan tetap menikmati ice cream milik Kaito.
"Tak apa. Lagipula aku memiliki urusan yang lebih penting dari sake." Meiko memberikan sesendok ice cream ke mulut Kaito. Yang membuat Kaito menerimanya dengan semburat merah di wajahnya.
Kaito kini duduk berdekatan dengan Meiko di ranjangnya. Ia bisa melihat pekerjaan apa yang Meiko lakukan. Kaito menatap foto yang terpampang di laptop Meiko. Gadis bersurai hijau ke biru-biruan. Kembali Meiko menyuapi Kaito sesendok ice cream.
"Terkadang aku ingin bekerja seperti mu. Kau hanya bekerja di kantor." Meiko menyandarkan badannya di tumpukan bantal.
"Namun itu tetap hal sulit." Kaito merebut ice cream miliknya. Ia tersenyum atas kemenangannya.
"Apakah kau keberatan jika aku beristirahat ditempat nyaman ini? Untuk malam ini?" Meiko menatap Kaito dalam. Mencari jawaban yang ia inginkan dari kekasihnya itu.
"Apa ada pilihan lain selain menjawab ya? Kurasa tidak ada. Mengingat kau sudah mengenakan piyamamu." Kaito tertawa, meninggalkan Meiko yang tersenyum. Ia melangkah pergi ke dapur.
Pandangan Meiko kembali pada layar laptopnya. Ia tahu ada sesuatu yang mencurigakan dari gadis baru itu. Dan jika Meiko menemukan bukti apa yang di bawa Miku saat itu, ia akan melakukan interogasi pada Miku. Kini ia hanya akan beristirat dengan tenang di tempat ternyaman di dunia ini. Memanjakan dirinya dengan obrolan-obrolan ringan dengan Kaito. Dan sejenak melupakan betapa penatnya dirinya.
TBC
A/N
yohoooo! MiyuTanuki here
Ha'i ha'i makasih review kalian. Sangat di hargai T^T
Nah jadi sekarang menurut kalian siapa pelakunya?
Di liat dari review banyak yang perkiraannya Kaito ya xD
Kalau begitu siapa sebenarnya si psycho itu?
Jujur aja ff ini pasti bakal panjang. Jadi tetep stay tune di nature of psychopaths.
Perkirakan pelakunya. Nikmatin ceritanya ^^
