DISCLAIMER

VOCALOID MILIK PEMILIKNYA MASING-MASING

Story by MiyuTanuki

Dilarang keras meniru tanpa sepengetahuan

MiyuTanuki

Kesalahan penulisan, typo, dan lain-lain mohon dimaklum.

Kita masih belajar ^^

Untuk itu RnR


CHAPTER 5


Hari itu Meiko duduk di sofa milik Kaito. Sudah satu minggu ia tak pulang ke apartemennya sendiri. Ia terlalu gelisah dan cemas untuk kembali ke tempatnya berada. Beruntunglah beberapa pakaian Meiko berada di apartemen Kaito. Selama ini Meiko selalu menyiapkan makanan untuk Kaito. Dan untuk makan malam kali ini, beberapa menu sudah tersaji di meja makan. Hanya tinggal menunggu kehadiran pria itu.

Meiko memandang ponselnya secara seksama. Ponselnya berada di atas meja. Dan Meiko sudah melakukan hal ini selama berjam-jam. Bahkan Meiko tak menyadari bahwa Kaito sudah kembali.

"Mei-chan? Kau tahu.. Kau sudah melakukan hal seperti ini selama kurang lebih satu minggu." Suara Kaito dalam keheningan itu memecahkan konsentrasi Meiko.

Namun Meiko kembali menyamankan posisi duduknya. Ia memeluk kedua lututnya sembari menatap tajam kearah ponselnya. Dan bisa diakui bahwa kini bulu roma Kaito berdiri melihat tatapan Meiko. Tangan Meiko terangkat ke udara, membuat Kaito mundur beberapa langkah. Dan jari telunjuk Meiko terjatuh pada ponsel di hadapannya.

"Ini ada sesuatu yang salah. Sudah 1 minggu, dan aku tidak mendapat kabar apapun." Meiko tampak depresi.

Bagaimana tidak?

Sudah satu minggu terlewat begitu saja. Pembunuhan selanjutnya seharusnya terjadi 1 minggu yang lalu. Dan apa yang Meiko lakukan saat ini adalah menunggu informasi dari Kiyoteru atau Gakupo. Namun mereka pun tak mengetahui adanya pembunuhan lanjutan dari si Psycho itu. Meiko jengah. Ia melemparkan bantal di sampingnya ke arah ponselnya sendiri. Kaito tertawa kecil sebelum ia memasuki kamarnya.


"Dan bos ku sudah kembali pada mode atasannya. Ia membosankan." Kaito menggerutu sembari melahap ice cream mint dihadapannya.

Meiko tertawa, menyadari betapa kekanak-kanakkan kekasihnya. Ia meneguk sekaleng bir. Menikmati setiap tetesnya. Menikmati cairan itu mengalir di tenggorokannya, disertai sensasi hangat yang mengikutinya. Dan pandangannya kembali muram. Ini bukan karena ia kecewa mengapa tak ada laporan untuknya tentang korban si Psycho selanjutnya. Namun lebih menjurus pada pemikirannya tentang Miku.

Meiko tak memungkiri bahwa ia tak bisa melupakan apa yang telah dilakukan Miku. Bahwa memang ia mengkhawatirkan apa yang detektif baru itu lakukan. Dan berbagai macam spekulasi yang terus menerus mengganggunya.

"Apa kau masih memikirkan pembunuhan berantai itu?" Pertanyaan Kaito begitu mendadak.

Meiko tak segera menjawabnya. Ia menatap Kaito, namun tak benar-benar menatapnya. Sorot pandangan Meiko seakan berada di ujung tanduk keputus asaan. Ia merasa tak begitu berguna bagi kepolisian. Bagaimana pun ia adalah seorang inspektur ulung yang di hormati oleh orang banyak. Namun untuk kasus ini, sepertinya ia benar-benar dikalahkan telak oleh sang pelaku. Seperti sang pelaku memang benar-benar memiliki niat untuk menghancurkan reputasinya dimata orang-orang. Meiko menaruh kaleng bir nya yang sudah kosong.

"Kai, sepertinya terkadang aku hanya ingin menyerah menjadi anjing pelacak si Psycho itu." Benar-benar putus asa merupakan gambaran yang pas untuk Meiko saat ini.

"Aku tahu kau bisa Mei-chan. Aku akan selalu mendukungmu. Meskipun aku sendiri tak tahan untuk melihat foto-foto mengerikan itu." Kaito mengusap bahunya perlahan dengan tersenyum canggung.

Sensasi sentuhan Kaito begitu menenangkan. Ia nyaman berada di sekitar Kaito. Tanpa perlu berpura-pura untuk menjadi orang lain. Tanpa Meiko sadari ia tersenyum begitu saja. Seakan seluruh rasa keputus asaanya menguap dan menghilang di udara. Ia bisa merasakan buku-buku jemari Kaito menggoreskan setiap kenyamanan. Menyadari betapa besar dan lebarnya permukaan tangannya, seakan bisa melindunginya dalam kondisi apapun. Dan itu adalah hal yang benar. Ia merasa benar berada di dekat Kaito.

"Aku mungkin orang beruntung." Meiko tersenyum kecil.


"Hei! Itu milikku." Gakupo merebut donat yang Meiko sentuh begitu saja.

"Sejak kapan?! Aku membelinya!" Meiko berdiri, namun kembali terduduk.

Begitulah keributan yang diciptakan oleh Gakupo dan Meiko. Mereka tak akan berhenti sebelum Kiyoteru memberikan mereka tatapan dibalik kacamatanya. Dan beruntung sekali Kiyoteru datang tepat waktu, hingga mereka terdiam secara mendadak. Meiko kembali menggeluti laptop dihadapannya. Ia mengambil sebuah kursi dan terduduk disamping Meiko. Gakupo mendekatkan diri pada meja Meiko. Membuat ketiga psikopat itu berkumpul. Meiko dan Gakupo menatap Kiyoteru dengan pandangan yang penuh harapan.

"Hah.. Aku sampai saat ini belum menemukan titik terang adanya korban dari Psycho itu." Seketika Gakupo kembali ke meja kerjanya dan Meiko kembali menghadap laptopnya.

Kiyoteru mengerutkan kening menanggapi ekspresi bawahannya itu. Dengan begitu Kiyoteru pergi menuju meja kerjanya. Dengan diam-diam Meiko membuka kembali seluruh kasus pembunuhan berantai yang pernah ia tangani. Ia merasa bosan karena tak ada lagi korban yang ia temukan selama 2 minggu kebelakang.

"YAY!"

Teriakan mendadak dari Gakupo membuat Meiko melemparkan sekotak tisu di meja kerjanya. Itu berhasil mendarat tepat di kepala Gakupo, membuatnya terantuk kedepan. Gakupo memandangnya begitu saja. Sementara Meiko menatapnya secara intens.

"Aku baru menyadari sesuatu. Ternyata hidungmu itu bagus juga ya." Terdengar nada ejekan disana.

"Kau baru menyadari? Aku itu adalah malaikat berupa manusia." Sebuah gelak tawa terdengar.

"Kau? Yang benar saja! Malaikat dari neraka maksudmu?" Meiko melempar sebuah pulpen yang tepat mengenai dahi Gakupo.

"Kau!"

"Aku bahkan sampai berpikir mengapa Kaito menjadi kekasihmu. Ia bahkan terlalu polos untuk mu. Lagipula hidung kekasihku lebih bagus daripada kau." Kini Meiko melemparkan dua pensil, yang –lagi-lagi— mengenai tepat di dahi dan dadanya.

"Kekasihmu? Apa aku tidak salah dengar? Aku percaya jika Kiyoteru memiliki kekasih. Tapi kau? Yang dapat ku percayai adalah fakta bahwa kau adalah pria yang diragukan keasliannya yang tidak akan mendapatkan seorang kekasih." Meiko tertawa puas. Kali ini dialah pemenangnya.

Seperti yang diketahui, ini bukanlah hal yang tidak biasa bagi mereka. Bahkan saling menghina merupakan wujud keakraban mereka. Yang mana membuat sebagian orang di ruangan yang sama akan berdecih begitu menyadari bagaimana cara mereka mengakrabkan diri. Sebuah gebrakan membuat tawa Meiko terhenti. Ia menatap Kiyoteru yang kini mengembangkan senyum kemenangan.

"Bawalah hal yang kalian perlukan. Mari kita lakukan tugas kita." Kiyoteru berlalu dengan mantel yang berada di tangannya. Meiko tahu hal ini. Ia menarik lengan Gakupo begitu saja..


Angin berhembus kencang malam itu. Meiko bisa merasakan angin malam itu masuk, menelisik permukaan kulitnya dibalik mantel tebal yang ia kenakan. Banyak petugas yang berjaga disana. Tim D pun tengah mengada investigasi disana. Ini pantas. Karena ini adalah kasus besar yang sudah diketahui masyarakat bertahun-tahun. Membuat mereka berkoar-koar. Mengerahkan seluruh opini buruk tentang kepolisian.

Meiko berjalan dibelakang Kiyoteru. Ia nampak begitu tak sabar untuk melihat apa yang telah dilakukan si Psycho pada korbannya. Bahkan kini Meiko sedang menggunakan sarung tangan karetnya. Seorang petugas yang berjaga meminta ID mereka, dan mereka memberi hormat. Lalu petugas lain memberikan mereka sebuah masker. Meiko memegangnya, seakan itu adalah hal yang tidak berarti. Lagi pula untuk apa? Ia tak membutuhkan masker.

Namun Meiko menarik kembali kalimatnya. Ketika ia baru saja melangkahkan kaki jenjangnya kedalam apartemen yang cukup luas untuk ditinggali satu orang itu, indra penciumannya menangkap aroma menyengat. Aroma khas dari daging busuk. Meiko berjengit, kembali keluar, tertawa renyah di hadapan Gakupo, lalu mengenakan maskernya.

Meiko menatap seluruh isi ruangan sebelum ia melihat keadaan mayat. Karena hal inilah yang selalu ia lakukan. Meiko melihat tumpukan debu di atas meja hias. Ia kembali berkeliling, hingga akhirnya ia terpaku disana. Dihadapan mayat yang terduduk, bersandar di dinding biru cerah. Cipratan darah yang sudah menghitam begitu membekas. Jelas mayat ini sudah lama. Ia bisa melihat belatung di rongga mata gadis malang itu. Jika dilihat dari perawakannya, Meiko mengira gadis ini baru berusia 24 tahun.

Meiko tak bergerak sedikitpun. Ia hanya berdiri disamping dokter ahli forensik itu. Seorang dokter yang sudah lama ia kenal di dunia sadis ini. Dokter dengan tubuh tinggi, bermata gelap, penuh wibawa, namun misterius secara bersamaan. Kiyoteru berada di hadapan sang korban, melihat kemungkinan-kemungkinan apa saja yang telah terjadi. Lalat mengusiknya, berkumpul di bagian yang hilang dari gadis itu.

"Sepertinya terjadi 1 minggu lalu. Namun tak ada yang mengetahuinya." Dokter itu angkat bicara, membuat sebelah alis Meiko terangkat.

"Apa aku bisa melihatnya lebih dekat?"

"Tentu saja."

Saat itu juga Meiko memposisikan diri untuk bisa melihat apapun yang akan menjadi ringkasan dikepalanya. Kiyoteru sedikit bergeser, sementara Gakupo menanyakan beberapa pertanyaan kepada penghuni sekitar.

Meiko menyentuhkan ujung jemarinya pada pelipis gadis itu, membuat beberapa lalat berterbangan sebelum kembali ke permukaan kulit sang korban. Ia menimang-nimang beberapa spekulasi. Ia menundukkan kepala gadis malang itu, dan ia melihat ada luka kering yang menganga disana, bersamaan dengan hidupnya makhluk lain di kepalanya. Darah itu sudah menghitam, mengerak di balik rambut hitam kecoklatan. Beberapa lalat, dan juga belatung bersarang disana. Meiko bahkan tak tahan untuk tidak mengubah ekspresinya menjadi ekspresi sedikit menjijikan.

Meiko menelisik leher gadis itu. Jelas sekali tanda cekikan kuat terpampang di kulitnya yang sudah membiru. Tubuh gadis itu sudah terlampau kaku. Bahkan sewaktu ia mencoba menundukkan kepala gadis itu, ia merasa seperti akan mematahkan seluruh tulang-tulang gadis itu. Meiko melihat wajah yang sudah membiru itu dengan seksama. Melihat bibirnya yang sudah mengering. Melihat rongga matanya yang tertutup, namun ada belatung menggeliat disana secara mengerikan. Betapa mengenaskan.

Ketua dari tim D menghampiri, namun tak dapat berkata apapun ketika melihat Meiko yang meneliti mayat. Ia tahu bahwa mereka –anggota tim D— masih belum mengerti seperti apa itu anggota tim khusus.

Gakupo kembali, memanggil Kiyoteru untuk memberitahukan sesuatu. Sementara Meiko kini sedang memperhatikan kedua lengan gadis itu. Ia bahkan merasa sangat prihatin pada gadis itu. Lengannya seperti dicambuk. Ada luka yang tak terlalu dalam, hanya berupa goresan cukup panjang. Gadis itu hanya menggunakan kaus tak berlengan dengan rok mini. Namun ada yang mengganggu pikirannya, ia menatap jauh ke mulut gadis itu. Lalu menatap rongga mata gadis itu, lalu menatap lehernya.

Meiko mendekatkan pandangannya pada leher gadis itu. Matanya menangkap sesuatu yang mencurigakan. Ada sebuah jejak di leher gadis itu, jejak yang berwarna lebih gelap ketimbang warna kulitnya.

"Hei! Bukankah itu bisa jadi sidik jari si pelaku?" Ungkapan Meiko segera mengalihkan perhatian sang dokter. Ia mengeluarkan kacamata, lalu mengamati jejak itu.

"Sayang sekali, namun sepertinya Psycho –yang biasa kau panggil seperti itu— menggunakan sarung tangan." Helaan napas berat terdengar di penjuru ruangan.

Namun Meiko tak berhenti. Ia masih melakukan pengamatan. Tetap ada yang salah dari mayat ini. Meiko kembali memperhatikan wajah gadis yang sudah tak sempurna itu. Bahkan tanpa ia sadari, kini ia sedang menahan napasnya.

"Sudah berapa lama kau disini?" Meiko menoleh sekilas pada dokter itu.

"1 jam? Sepertinya." Jawaban singkat itu membuat Meiko tersenyum.

"Aku ingin memastikan sesuatu yang ganjil disini. Bisakah kalian menghadap kebelakang?" Suara lantang Meiko memerintahkan semua petugas yang berada di dalam ruangan untuk tak melihat apa yang akan Meiko lakukan.

Setelah dirasa tak ada yang memperhatikan, Meiko menyingkapkan rok gadis itu. Dan benar saja dugaan Meiko. Insting seorang wanita tak pernah salah. Meiko memerintahkan semua orang untuk kembali mengerjakan tugas mereka. Sementara dokter itu memandangnya penuh pertanyaan.

"Gadis ini diperkosa sebelum di bunuh." Ungkap Meiko mantap.

Kiyoteru berjalan cepat kearahnya diikuti dengan Gakupo. Dan tanpa mereka sadari, seluruh petugas bersama tim D pun ikut penasaran dengan hal itu. Ekor mata Meiko bisa melihat Miku sedang menguping.

"Aku yakin kalian pasti tahu bahwa belatung selalu membantu tim forensik untuk mencari waktu terjadinya pembunuhan, luka apa saja yang ada." Mereka mengangguk setuju. Sementara sang dokter tersenyum. Ia mengerti apa yang Meiko maksudkan.

"Dan sepertinya ini adalah titik terang kita. Kita akan mengetahui siapa pelaku dibalik semua ini." Meiko tersenyum bangga.

"Ia di perkosa sebelum di bunuh itu sudah pasti benar. Karena ada belatung di... yah aku tahu otak mesum kalian sedang berjalan. Dan belatung tidak akan memasuki tempat itu. Namun fakta lain menyebutkan bahwa belatung menyukai sperma. Maka mereka akan berada didalam sana, karena ada sperma. Dan sperma itu pasti milik si pelaku. Maka dari itu dokter, segera periksa belatung-belatung itu, dan carilah pelakunya." Meiko menjentikkan jari. Gakupo dan Kiyoteru menepuk bahu Meiko bersemangat.

Meiko menyerahkan sisa penyidikannya pada Gakupo dan Kiyoteru. Ia melangkah pergi dari ruang pengap itu. Baunya memuakkan. Terlalu menjemukkan berada di dalam sana. Angin kembali menerpa tubuh Meiko. Kini Meiko mendengarkan beberapa pertanyaan dari tim D kepada penghuni sekitar apartemen korban.

"Gadis itu selalu keluar malam hari. Ia baik, juga gadis yang manis. Kami selalu mengadakan acara di akhir pekan. Acara untuk mengakrabkan sesama penyewa apartemen milikku." Kakek tua itu nampak ringkih.

Meiko menghela napas. Kali ini pelaku terlalu ceroboh. Dan akhirnya waktu yang ditunggu oleh mereka tiba. Waktu dimana mereka berhasil menguak siapa pelaku itu. Siapa si Psycho itu.


Meiko membuka pintu apartemen tanpa ragu. Wajahnya terlihat begitu lesu. Ia segera beringsut ke kamar utama. Waktu sudah menunjukan dini hari, dan ia baru saja akan pergi tidur. Dengan mata yang semakin sulit untuk ia buka, Meiko menyadari bau tidak sedap menempel ditubuhnya. Bau mayat. Bau busuk itu. Dan Meiko tahu betul Kaito tak akan tahan berlama-lama dengannya pada saat seperti itu. Maka ia putuskan untuk memebersihkan diri.

Dan hal itu adalah kesalahan besar.

Karena kini Meiko tak dapat tertidur. Meiko hanya duduk di meja makan. Pikirannya berada jauh dari tubuhnya. Keheningan menemaninya, bersama suara napas Kaito di ruangan lain. Napas yang begitu stabil dengan dadanya yang naik turun secara teratur. Meiko masih belum berniat untuk kembali ke apartemennya. Dan saat ini ia terlalu ketakutan untuk tertidur. Bayangan itu. Mimpi itu. Mereka selalu menghantui Meiko. Dan tak akan membiarkan Meiko tenang selama jiwanya masih berada dalam raga miliknya.


Meiko merasa begitu lesu. Ia tak tidur semalaman dan hanya menatap keluar jendela besar itu. Matahari sudah cukup tinggi, dan Meiko tak berniat untuk pergi bekerja. Karena tugasnya hampir selesai. Pandangannya masih mengingat darah kering menghitam yang menempel di dinding biru muda. Begitu kontras. Pendengarannya masih mendengar jeritan dari ibu sang korban pada saat di TKP setelah sebelumnya salah satu petugas kami menghubunginya, memberitahunya tentang kondisi putrinya.

Ketika ia menjerit begitu histeris di hadapan orang banyak. Meiko mendengarnya, ia tak tuli, ia tak buta. Melihat betapa kentalnya rasa kehilangan dari seorang ibu. Beberapa petugas melarangnya masuk. Dan itu adalah perintahnya. Karena bagaimanapun, kondisi korban begitu mengenaskan untuk sang ibu. Namun tidak untuk orang-orang seperti mereka. Meiko merasa bersalah.

Namun rupanya ia masih bisa mengingat ketika wanita yang sudah berumur itu menerobos masuk. Ketika indra pengelihatannya menangkap sosok gadis kecilnya. Gadis kecilnya yang pergi meninggalkannya begitu saja. Dengan kondisi yang sudah membusuk. Dimana seluruh tubuhnya sudah kaku. Tangisnya pecah beserta jeritan histeris. Membuat Meiko melepaskan sarung tangan karet itu, melemparnya sembarang, dan menyeimbangkan tubuh wanita itu. Sebelum akhirnya wanita itu tak sadarkan diri.

Meiko memeluk dirinya. Ia pernah merasakan hal itu. Hal yang sama dengan ibu sang korban itu. Merasakan kehilangan orang yang sangat dicintai. Dan hal itu yang membuatnya sampai pada tempat ini. Sampai pada prestasi-prestasi yang sudah ia dapatkan. Namun ia mengukuhkan diri, ia tak ingin terikat begitu kencang dengan masa lalu. Ia tak ingin akhirnya ia tercekik dengan kenangan masa lalu. Kenangan yang masih begitu jernih untuk di ingat.

Telapak tangan yang begitu kokoh menyentuh bahu Meiko. Ia bahkan tak perlu menengok siapa yang menyentuhnya. Sudah pasti itu adalah Kaito. Meiko menyentuh tangan itu, meremasnya lembut. Senyuman ironis menguar begitu saja. Ia menatap Kaito.

Tak ada yang perlu mereka ucapkan. Pandangan mereka mengatakan segalanya. Mengatakan betapa terpuruknya Meiko saat ini. Mengatakan betapa berdukanya ia pada anggota keluarga dari korban di setiap kasus yang terjadi. Karena Kaito tahu. Masa lalu Meiko yang begitu suram. Begitu menyeramkan. Hingga tak akan pernah ada anak yang selamat dengan pemikiran jernih jika melewati kenangan yang seperti Meiko miliki. Kaito mendekapnya, rasa kantuk yang masih menghinggapinya pun menghilang begitu saja.

Meiko membutuhkannya. Membutuhkan Kaito untuk membuatnya tenang. Meiko tak menangis. Namun ia selalu mengalami hal ini. Dadanya akan terasa sesak, ia tak akan bernapas dengan normal. Dunia seakan berputar dihadapannya. Tangannya yang gemetar hebat dengan gigi yang bergemeletuk. Pening yang tak tertahankan. Detak jantungnya begitu cepat. Panic disorder. Dan Kaito harus kembali menenangkannya. Mengatakan bahwa semua sudah berlalu. Bahwa Meiko sudah melakukan yang terbaik untuknya, dan juga untuk setiap kasus yang ia kendalikan. Kaito mengusap punggungnya lembut, merasakan Meiko tenang dibawah perlindungannya.

Karena Kaito sadar ia tak bisa sepenuhnya melindungi Meiko. Dan inilah yang bisa ia lakukan untuk Meiko. Dengan selalu berada di sampingnya, meskipun terkadang ia cukup mual dengan kebiasaan Meiko yang menyimpan foto-foto itu secara sembarang.

Meiko sang wanita penuh percaya diri, memiliki satu kekurangan yang hanya Kaito yang mengetahuinya.

Masa lalu.


A/N

Ciee lama update cieee.

Gomen gomen/

File cerita ini di laptopku udah lumayan banyak.

Cuma satu halangannya... :3

Aku males update karena ga ada wifi *PLAK #MentalWifi.

Ucapan terimakasihku pada yang sudah follow dan fav cerita ini.

Tak lupa pada reviewers/? Setia.

Dan juga buat para pembaca yang tetep setia meski lama updatenya.

Sangat diapresiasi.

Ciaelah.. ya udah deh basa-basinya. RnR ya ^^

Matta ne!