DISCLAIMER

VOCALOID MILIK PEMILIKNYA MASING-MASING

Story by MiyuTanuki

Dilarang keras meniru tanpa sepengetahuan

MiyuTanuki

Kesalahan penulisan, typo, dan lain-lain mohon dimaklum.

Kita masih belajar ^^

Untuk itu RnR


CHAPTER 6


Ketika harta menghancurkan segalanya.

Bahkan seorang gadis kecil harus mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

Meiko menunduk di sofa mahal itu. Mendengarkan perdebatan antar saudara. Hal itu sudah pasti mengenai harta. Semuanya begitu klise. Seperti opera sabun yang selalu dinikmati oleh ibunya. Meiko mengingat itu semua. Dan kini Meiko harus melihat kembali kejadian itu. Meiko kecil membungkus dirinya dengan selimut pemberian ibunya. Duduk di sana seakan ia akan ditelan oleh sofa empuk itu.

Ia melarikan diri dari kenyataan. Menangis begitu saja. Dan hal itu wajar. Ia masih terlalu kecil untuk mendengar teriakan saudaranya. Mendengar gelas-gelas mewah yang terlempar kedinding, membuatnya hancur berkeping-keping. Meiko bisa melihat Meito di sana. Ia tersenyum samar kearahnya. Meiko mencoba menggapai kakaknya, dan saat itu juga ia tahu..

Kakaknya sudah tiada.


Meiko terbangun begitu saja. Ia menatap punggung Kaito yang berada di hadapannya. Rasa mual dan perih bercampur begitu saja. Membuat Meiko sedikit berlari ke toilet. Ia memuntahkan segala yang ia konsumsi di sana. Sejak siang hari, ia meminum begitu banyak botol sake. Menegak semua alkohol-alkohol itu. Mencoba untuk membuatnya tenang sejenak. Hanya sejenak. Memang bukanlah hal yang baik. Bahkan Kaito sudah berjuang untuk menjauhkan botol-botol sake yang tersisa.

Akhir-akhir ini, semua mimpi buruk itu berdatangan silih berganti. Tiap kali mimpi itu datang, Meiko selalu merasa mual dan sesak. Keringat membuat piyama yang ia kenakan basah. Ia seperti seekor anjing yang disiram air oleh majikannya. Meiko mendengus pelan. Ia lelah. Ia hanya membutuhkan istirahat yang cukup. Dan lagi-lagi semua itu terganggu oleh mimpi buruknya. Sudah beberapa kali ia terbangun malam ini.

Ingatannya terlihat samar-samar. Meiko menatap cermin dihadapannya. Ia merasa mual tak terhentikan. Namun tak ada apapun yang keluar dari mulutnya. Karena perutnya kosong. Ia terlalu malas untuk berjalan ke dapur, hingga pilihannya adalah berbaring kembali di ranjang hangat itu. Menutup dirinya dengan selimut, dan berharap tak akan ada mimpi buruk yang menyerangnya.


Meiko telah membersihkan apartemen yang sudah cukup lama ia tinggalkan. Ia tak punya pilihan lain. Karena ia ingin membersihkan pikirannya di tempat sunyi. Dan di sinilah Meiko, terduduk di sofa dengan memandang kota di balik kaca itu. Seperti bosan, namun banyak sekali yang sedang ia pikirkan.

Meiko membuka notes-notes yang ia tulis. Karena bagaimanapun ia tak akan percaya bahwa si Psycho itu dengan cerobohnya meninggalkan jejak yang begitu jelas. Presepsi Meiko kembali melayang. Ia tak ingin berpikiran negatif. Korban terakhir kehilangan telapak kaki. Membuatnya kehabisan darah. Namun setidaknya Gadis itu dibunuh sebelum pergelangan kakinya dipotong begitu saja. Karena jika ia masih dalam kesadaran penuh, pasti akan menyakitkan.

Dan untuk tanda di leher gadis itu, tak mungkin jika ia diperkosa pada saat ia sudah meninggal. Cekikan itu jelas di lakukan untuk membunuhnya, namun kenapa ada tanda lain? Ia dicekik menggunakan kawat, namun ada tanda jari yang tertera disana. Insting Meiko mengatakan bahwa pembunuh ini berbeda. Meiko membuka kardus yang di simpannya. Membuka acak berkas-berkas disana. Membawa note yang berisikan ringkasan berkas itu.

3 atau 1 bulan?

Kenapa pembunuh itu memajukan waktu sasarannya? Kenapa hanya gadis yang dibunuhnya? Meiko kembali menatap foto korban. Semua penyebab kematian mereka sama. Cekikan dengan kawat. Meiko mengernyitkan keningnya. Ia menatap ponsel yang kini tergeletak secara sembarang di atas meja. Ia baru menyadari bahwa Kiyoteru tak memberi tahu mengenai orang-orang yang hidup di sekeliling korban. Ia kembali mencuri pandang pada ponselnya. Dan pikiran Meiko lebih kacau. Hari ini adalah sabtu. Apa yang seharusnya Meiko lakukan ketika hari sabtu? Ia sendiri bingung mengapa ia memikirkan hal itu.

Kala itu matahari belum sepenuhnya tenggelam. Menunjukan warna oranye yang cukup indah. Meiko berdiri dan menarik mantel dari sofa di sampingnya, mengenakannya secara elegan, dan berjalan ke arah pintu. Ia berbalik sebentar, memastikan tak ada yang tertinggal, dan kembali berlalu.

"Ah! Mei-chan." Meiko tersentak ketika tiba-tiba saja Kaito ada di depan pintunya.

"Kai! Kau membuat jantungku berpindah tempat." Meiko mengusap dadanya perlahan.

Disana Kaito tersenyum bodoh. Meiko menatap penampilan Kaito. Ia tentu saja mengenakan pakaian formal. Mungkin ia baru saja pulang dari kantor? Meiko mengerjapkan matanya beberapa kali. Bertanya-tanya apa yang Kaito lakukan di depan apartemennya. Belum sempat Meiko bertanya pada Kaito, Kaito segera memberikan sebuah kotak yang dilapisi dengan kertas berwarna merah dengan pita emas. Juga sebuket bunga mawar merah. Meiko terpaku di sana.

"A-apa ini?" Meiko tergagap? Kaito kau berhasil membuatnya seperti ini.

"Tentu saja ini bunga, dan ini adalah hadiah." Senyuman bodoh itu tetap terhias di wajah Kaito.

"Terimakasih?" Meiko menerima semua pemberian Kaito dengan raut wajah tak percaya. Untuk apa Kaito memberikan semua ini? Meiko tak habis pikir.

"Jangan-jangan Mei-chan lupa." Ujar Kaito murung, menambah rasa kebingungan Meiko.

"Apa yang aku lupakan? Apa kau naik jabatan? Karena aku tak naik jabatan." Kembali Meiko menatap barang pemberian Kaito. Mereka bahkan melupakan fakta bahwa mereka masih berada di depan pintu apartemen Meiko.

"Ini hari jadi kita ke 3 tahun."

Meiko kembali terkejut. Selama itu kah mereka berhubungan? Meiko masih tak bisa percaya dengan hal ini. Mereka di pertemukan secara tidak sengaja di suatu tempat di Kyoto –yang bahkan kini Meiko tak tau secara pasti berada di daerah mana—pada saat Meiko sedang menangani kasus pertama dari pembunuhan berantai itu.

Namun Meiko mengingat secara pasti bagaimana mereka bertemu. Kala itu Meiko sedang berada di lokasi pembunuhan. Seperti biasa banyak sekali warga yang berkerumun. Meiko tak menghiraukan para warga yang melihatnya dengan tatapan mengintimidasi. Memang benar penampilannya saat itu sangat mencurigakan. Penuh dengan aura hitam di sekelilingnya. Meiko mengakhiri sesi investigasinya, memberikan sisa tanggung jawabnya pada Kiyoteru dan juga Gakupo.

Tak sengaja ia menangkap sosok Kaito dari sudut bola matanya. Lelaki itu terlihat begitu menderita. Meiko sendiri tak tahu secara pasti apa yang saat itu Kaito rasakan. Namun Meiko mengetahui bahwa sang korban adalah teman baiknya. Kaito menghampiri Meiko, menanyakan sesuatu tentang gadis yang menjadi korban itu. Meiko menjawab sekenanya karena sebenarnya Meiko ingin segera mengistirahatkan tubuhnya itu.

Dan sejak saat itu, Meiko sering sekali berpapasan dengan Kaito. Mungkin itu yang dinamakan takdir. Hingga akhirnya Meiko berani membuka diri pada Kaito. Dan jadilah mereka seperti saat ini.

"Benarkah? Sudah selama itu?" Hanya kata itu yang bisa dikeluarkan olehnya. Kaito mengangguk pasti.

"Kali ini aku menjemputmu untuk makan malam. Bagaimana?" Meiko mengerjapkan kembali matanya.

Sejak kapan Kai menjadi romantis seperti ini?

"Kemana?"

"Kemana saja." Gelak tawa Kaito meledak begitu saja. Ia menarik lengan Meiko lembut.


"Apartemenmu? Kai.." Meiko menatap tajam ke arah Kaito. Sementara orang yang di tuju hanya tersenyum senang.

Kaito membukakan pintu untuk Meiko, mempersilahkannya masuk. Cahaya di seluruh ruangan mati. Meiko tahu hanya ruang tengah lah yang bercahaya. Cahaya redup itu. Meiko menggelengkan kepalanya. Ia berusaha untuk menekan rasa paniknya.

Aku bersama Kaito.

Kaito berjalan disampingnya. Dan Meiko menatap ruangan yang sudah di atur sedemikian rupa. Begitu romantis. Meiko terperangah dengan semua itu. Ia menatap Kaito tak percaya. Di waktu-waktu lalu, Kaito hanya memberikannya satu kotak penuh dengan ice cream cokelat. Dan sekarang? Kaito bersusah payah untuk membuat semua ini. Tak pernah terbesit di benaknya jika Kaito akan seromantis ini. Ia bahkan tak tahu apa yang harus ia katakan atau lakukan.

Bagaimana jika mencicipi bibir lembut Kaito yang terlihat manis itu?

Meiko tersedak. Pemikirannya kacau. Kaito menarik kursi agar Meiko bisa duduk disana. Beruntunglah ruangan ini redup. Kaito tak akan bisa melihat wajah Meiko yang kini bersemu merah karena pemikirannya tadi. Namun yang benar saja? Bahkan hingga saat ini kedua bola mata Meiko masih tertuju pada bibir Kaito yang tengah berbicara.

Dihadapannya sudah tersedia beef bourguignon, segelas wine, juga sebagai makanan penutup Meiko mengetahui ada creme brulee. Semua ini...

Begitu spesial.

"Kau menghabiskan banyak uang untuk hal seperti ini?"

"Hm? Tidak. Kaiko membantuku untuk membuat ini. Kau tahu jika ia pandai memasak bukan?" Jawab Kaito dengan senyuman yang masih melekat diwajahnya.

"Terimakasih. Maaf aku melupakan hari ini." Kalimat yang Meiko keluarkan hampir berupa bisikan. Mereka bahkan terlihat seperti remaja labil yang baru saja merasakan cinta. Hal itu membuat Kaito menatapnya seakan ia tak mengerti apa maksud Meiko.

"Aku bilang aku berterimakasih Bakaito!" Sungguh hal itu menghancurkan suasana romantis mereka.

Keduanya terdiam sesaat. Menyadari bahwa kelakuan mereka sudah seperti saat pertama mereka memulai hubungan. Canggung.

"Hahaha" Tawa mereka bersamaan melelehkan suasana. Kaito tertawa hingga terlihat air mata di sudut matanya. Sementara Meiko mati-matian untuk menahan tawanya yang kencang.

Malam itu mereka menyadari bahwa mereka saling membutuhkan satu sama lain. Meiko mengingat begitu banyak kenangan indah bersama Kaito. Kaito selalu menyelamatkannya. Bukankah ia harus bersyukur dengan di utusnya Kaito menjadi seseorang yang selalu ada di sampingnya?

Ia sangat bersyukur, jangan tanyakan dan jangan ragukan lagi hal itu.


A/N:

Ha'i Ha'i

Ini mungkin chapter yang pendek tapi maaf yap.

Chapter 7 lebih panjang dari ini kok ^^

Jadi tenang aja.

Oh iya aku mau promosi nih xD *ciee promosi*

Baca cerita aku yang lain di Wattpad. /Siapa yang punya wattpad?!

Unamenya sama MiyuTanuki

Ada romance, ada tentang zombie juga disana o,o

Intinya baca aja xD

Buat Panda Dayo makasih ya udah sering review. Jujur aku sering ketawa liat review kamu. Dan maksud kami catcher di diamond no ace itu abang Miyuki Kazuya? Maaf dia husbandoku wkwkwk xD

Buat Onimaru Miki juga makasih banget. Sering review. Asik lah pman sama kamu xD semoga aja kita bisa saling bantu plot. /Ini anak maksudnya pengen minta sop iler cerita kamu/ *plak* bohong!

Buat Akumarine makasih kritikannya. Tapi dari chap mana ya dia jadi ga riview lagi o,o aku jadi sedih toh T^T

Dan aku ga bisa lagi bales yang lainnya. Pokoknya kalian udah make my day banget lah. SAIKO!/?

Kalian bisa dengan bebas PM aku asalakan tak mengandung SARA dan lain-lain/?

Aku bingung sendiri. Aku pusing. Aku mau nerusin lagi cerita di wattpad xD yang ini ga akan terabaikan kok. Tunggu lagi chapter selanjutnya. Dan mungkin mulai saat ini aku mau disiplin update cerita. 1 minggu 1 kali antara jumat sabtu atau minggu ya. Jadi di tunggu aja.

MATTA NE! ^,^)/