DISCLAIMER

VOCALOID MILIK PEMILIKNYA MASING-MASING

Story by MiyuTanuki

Dilarang keras meniru tanpa sepengetahuan

MiyuTanuki

Kesalahan penulisan, typo, dan lain-lain mohon dimaklum.

Kita masih belajar ^^

Untuk itu RnR


CHAPTER 7


'Aku bilang bawa saja seluruh harta ayah. Aku hanya membutuhkan uang untuk sekolah'

Meiko tahu bahwa di balik ekspresi sedih itu pasti tersimpan rasa senang yang membuncah.

Tak perlu diragukan lagi.

Meiko tak memerlukan uang berlebih.

Ia tak berniat untuk meneruskan usaha ayahnya.

Ia trauma. Itu sangat tragis. Ia tak ingin menjadi buronan.

Karena ia ingin menjadi seseorang yang menangkap kejahatan.


Di saat Meiko mendapatkan cuti yang cukup panjang, ia bahkan tak tahu apa yang harus ia lakukan. Saat ini ia bahkan hanya duduk malas di sofa. Merasa akan tertelan oleh sofa di tengah apartemennya itu. Jelas sekali raut kekesalan di wajah Meiko. Ia tak pernah menyukai cuti. Itu membuatnya merasa tidak berguna. Kerutan kembali terlihat di dahinya. Menampilkan ekspresi tegang ketika Meiko kembali menatap note yang tersimpan di meja.

Beberapa kali Meiko menatap note tersebut, lalu mengalihkan pandangannya. Namun rasa penasaran terangkat ke permukaan. Yang akhirnya membuat Meiko mengambil tindakan dengan mengambil note tersebut. Lalu ia memainkan note itu di tangannya. Hanya memainkan.

Sebuah suara muncul di kepalanya.

"Gadis itu selalu keluar malam hari. Ia baik, juga gadis yang manis. Kami selalu mengadakan acara di akhir pekan. Acara untuk mengakrabkan sesama penyewa apartemen milikku."

Kakek itu. Kakek pemilik apartemen.

Meiko berdiri secara tiba-tiba. Mencari-cari ponselnya, lalu menekan beberapa tombol.

"Kai, apa kau sibuk sekarang?"


"Mei-chan.. Untuk apa kita disini?" Kaito bertanya ragu-ragu ketika ia mengetahui bahwa wajah Meiko menegang.

"Aku akan bertanya sesuatu pada pemilik apartemen ini."

"Ini sudah sore."

"Dan ini akhir pekan. Selalu ada acara yang dilakukan di apartemen ini."

Meiko melepaskan seatbelt nya. Lalu berlari untuk memasuki wilayah apartemen itu. Sementara Kaito berjalan mengekorinya. Merasa tak nyaman dengan lokasi pembunuhan yang akan ia lihat. Meiko hanya tersenyum miring ketika mendapati Kaito gugup seperti itu.

"Selamat sore." Meiko tersenyum ramah ketika mendapati kakek tua itu membuka pintu untuknya.

"Ah. Inspektur?" Nenek muncul di baliknya.

"Ya. Saya Meiko Sakine. Anggota kepolisian yang mengurus kasus pembunuhan waktu itu." Ujarnya seraya menunjukkan tanda pengenal.

"Aku dengar di sini selalu ada acara perkumpulan antara penyewa dan pemilik. Apa itu benar?"

Kakek dan nenek itu tersenyum lalu menganggukan kepala mereka bersamaan. Dengan lembut, sang nenek mengajak Meiko juga Kaito untuk ikut bergabung di acara makan malam yang selalu di adakan pada akhir pekan.

Meiko tersenyum ketika ia sudah berada di ruangan yang cukup besar. Sudah banyak penyewa yang berkumpul sekedar berbincang atau bertukar pikiran. Ada dapur di ujung ruangan, dimana para wanita berkumpul silih membantu untuk memasak. Sementara pria berbincang atau bermain game. Pandangan Meiko menangkap sosok yang begitu familiar di matanya.

"Lily?"

Wanita berambut pirang itu mengangkat wajahnya. Mengalihkan perhatian dari sayuran yang sedang ia potong. Raut wajahnya kebingungan ketika melihat Meiko kini berdiri di tengah-tengah ruangan para penyewa.

"Meiko-san?"

"Anda kenal dengan Lily? Ia salah satu penyewa baru kami." Ujar Kakek yang kini berdiri di samping Meiko.

Meiko hanya mengangguk dan menatap penuh rasa penasaran pada semua penyewa yang sedang berada di ruangan ini. Mereka semua terlihat normal. Dari sudut pandang Meiko, mereka bukanlah tipe pembunuh. Karena jika salah satu dari mereka memiliki aura seperti itu, Meiko akan segera mengetahuinya.

Makan malam yang begitu banyak tersaji di meja makan luas itu. Meiko dan Kaito pun turut serta mengikuti jadwal mingguan mereka. Canda tawa begitu terasa, seakan mereka itu adalah keluarga yang utuh. Membuat Meiko sedikit meringis. Ironi yang harus Meiko terima adalah ia tak pernah –atau jarang— makan malam bersama seperti ini.

"Bagaimana Sakine-san? Makanan buatan kami lezat bukan?" Ungkap salah satu gadis yang kini begitu menginginkan tanggapan dari Meiko.

Meiko sendiri hanya tersenyum lembut pada gadis yang mungkin sekitar 19 tahun. Mungkin saja ia berasal dari luar kota dan gadis itu kuliah di tokyo dan menyewa apartemen di tempat ini. Lain halnya dengan para lelaki yang saling bercanda ketika acara makan malam ini hingga nenek pemilik apartemen menaikkan nada bicaranya –kalian tahu bagaimana suara wanita tua ketika marah— dan lelaki muda hanya menunjukan gigi mereka. Meiko semakin penasaran dengan korban saat itu. Apakah ia bersosial dengan baik di lingkungan ini, atau ia tipe wanita tertutup? Yaah semua itu masih samar-samar bagi Meiko.

Saat makan malam selesai, penyewa akan menghabiskan malam mereka bersama. Untuk bermain dan lain-lain. Sementara Meiko, Kaito, kakek, dan nenek kembali ke ruangan tengah. Di mana Meiko akan bertanya seputar wanita yang telah menjadi korban itu.

"Gadis itu, apakah ia dekat dengan penyewa lain?" Ujar Meiko dengan ekspresi datarnya. Lalu ia menyesap teh yang sudah disediakan oleh nenek itu.

"Gadis itu baik. Ia dekat dengan seluruh penyewa. Masakan buatannya pun sungguh lezat." Nenek itu memejamkan matanya seakan ia sedang mengenang sesuatu.

Meiko menganggukan kepalanya. Sementara Kaito terlihat begitu tak nyaman. Pasalnya ia tak nyaman dengan lokasi pembunuhan di apartemen ini.

"Penyewa apartemen di sampingnya cukup dekat dengan gadis itu."

"Apakah anda bisa memanggilkannya untukku?"

Cukup lama memang Meiko menunggu seseorang yang dikatakan cukup dekat dengan sang korban. Beberapa kali keluhan Kaito terdengar yang membuat Meiko menjanjikan akan membelikannya semangkuk ice cream vanilla. Lalu akhirnya Kaito memilih untuk menutup mulutnya, membiarkan Meiko bergelut dengan pemikirannya sendiri.

"Permisi, apa anda memanggil saya?" Sosok lelaki perawakan tinggi kini berhadapan dengan Meiko.

"Ya? Silahkan duduk, ada beberapa hal yang ingin ku tanyakan. Panggil saja Sakine. Kau dekat dengan korban?" Meiko memperlihatkan lencana miliknya. Terlihat ekspresi wajah lelaki itu berubah menjadi sendu.

"Ya, aku cukup dekat dengannya. Ada masalah apa?" Tanyanya begitu to the point.

"Apa sang korban cukup bersosialisasi di tempat ini?" Ungkap Meiko penuh selidik.

"Ya. Dia gadis yang baik, kami semua dekat dengannya. Dia selalu bekerja keras." Meiko menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

"Apa selama satu minggu terakhir sebelum ia tak pernah terlihat, ia pernah berkata macam-macam?" Lelaki itu sejenak berpikir.

"Sebelum ia tak pernah terlihat, ia pernah berbicara padaku bahwa ia merasa di ikuti."

Meiko membulatkan matanya. Rasa mual membuncah begitu saja. Pernyataan yang terungkap oleh lelaki dihadapannya ini membuat matanya terbuka begitu jelas. Ia mengingat gadis bermata sapphire itu. ia mengingat gadis yang berhasil membuatnya iri pada bola mata indahnya. Bola mata yang hilang hingga sekarang. Dengan cepat Meiko mengeluarkan note kecil miliknya.

"Apa ia memberitahu ciri-ciri lelaki yang mengikutinya?"

"Ke-kenapa anda tahu bahwa yang mengikutinya itu adalah lelaki?" Lelaki yang berada di hadapan Meiko menjauhkan tubuhnya dari Meiko.

"Karena aku yang sudah menangani kasus ini. Tolong bantu kami." Meiko lagi-lagi meminta tolong pada lelaki itu.

"Aku.. Aku hanya diberi tahu olehnya bahwa lelaki itu cukup tinggi mungkin kurang lebih 180 cm. Dan temanku itu hanya memberitahu bahwa yang mengikutinya itu menggunakan pakaian serba hitam."

Meiko mendesah kecewa. Ia tak di berikan petunjuk yang mengarah langsung pada pelakunya.

"Apa hanya itu?"

"Ya."

"Kalau begitu terima kasih atas kerjasamanya." Meiko menjabat tangan sang lelaki. Meskipun begitu Meiko cukup berterima kasih padanya.

"Kakek, nenek. Terima kasih untuk makan malam hari ini. Informasi yang kalian berikan begitu membantu. Aku tidak tahu harus membayar dengan apa." Meiko tertawa bersamaan dengan pasangan tua itu.

"Sering-sering lah datang kemari. Kami senang jika kalian datang kemari." Meiko hanya mengangguk dan melangkah pergi meninggalkan mereka.

Meiko berjalan berdampingan dengan Kaito. Mereka terdiam canggung. Meiko yang terlalu sibuk dengan pemikirannya sementara Kaito yang terlalu sibuk berpikir ingin segera pulang. Tiba-tiba saja Meiko menggenggam erat tangan Kaito. Menautkan jari mereka tanpa ada niatan untuk melepaskan dari Meiko. Kaito sendiri hanya tersenyum bodoh ketika mendapati kenyataan itu. Ia tahu bahwa Meiko membutuhkannya untuk menjadi tempat sandaran.

"Pelakunya pasti bukan pemilik sperma itu." Ujar Meiko berbisik dengan tatapannya yang semakin menajam.


A/N

Apa banget dengan semua ini.

Aku writeblock sendiri waktu nulis ini.

Jahanam memang, jadi maafkan untuk update yang benar-benar telat ini.

Memangnya ada yang baca?

Ga ada kali, orang slow update.

Tapi semoga yang masih baca tetep betah ya.

Bener ga?

Jangan lupa review cerita ini, juga favs atau follow gitu.

Mungkin aku semangat lanjutin cerita abstrak yang idenya ga tau dapet dari mana ini.

Jja! Matta ne!