DISCLAIMER
VOCALOID MILIK PEMILIKNYA MASING-MASING
Story by MiyuTanuki
Dilarang keras meniru tanpa sepengetahuan
MiyuTanuki
Kesalahan penulisan, typo, dan lain-lain mohon dimaklum.
Kita masih belajar ^^
Untuk itu RnR
CHAPTER 8
Tetesan air jatuh ke lantai dengan cara yang paling dramatis. Meiko mengeringkan rambutnya dengan hair dryer dengan tenang. Ia dengan ekspresi yang begitu datar memandang ke sekitar kamar miliknya yang masih cukup bersih. Beruntunglah ia memiliki hobi lain selain menatap dengan jeli foto pembunuhan, yang tak lain dan tak bukan adalah membersihkan apartemennya. Ia tak perlu repot-repot untuk membersihkan debu yang menumpuk secara berlebihan.
Keningnya kembali berkerut ketika secara tak sengaja ia menyisir rambutnya kuat-kuat. Terlalu berpikir mengenai pembunuh itu. Secara firasat, ia mengetahui bahwa si Psycho itu tak akan berbuat sesuatu dengan ceroboh dan sesembrono itu. Ia tahu Psycho macamnya tak akan meninggalkan barang bukti. Dan itu adalah sebuah peralihan, membuat kepolisian senang, memamerkan kepada nitizen bahwa mereka sudah menemukan petunjuk yang akan benar-benar mengarah pada si pelaku gadungan, sebelum munculnya korban lain. Psycho selalu memikirkan hal paling menyenangkan untuk mempermalukan lembaga kepolisian dan menyenangkan diri sendiri.
Lalu, masih dengan pemikiran yang mendalam, ponselnya berdering.
"ha'i.. Sakine desu."
"Kita sudah menemukan pelakunya."
"Aku pergi sekarang."
Ia menutup teleponnya begitu saja. Meiko mengusir pemikiran yang membuat kepalanya pening itu. Membawa barang-barang yang ia perlukan dan segera berangkat.
"Itu si Psycho?" Meiko menunjuk lelaki di balik kaca 1 arah.
"Aku lebih berpikir bahwa dia hanya lelaki hidung belang." Gakupo memandang lelaki itu ngeri.
"Banyak sekali wanita yang melaporkan lelaki ini. Namun ia selalu berhasil kabur. Kebanyakan karena sexual harassement." Kiyoteru memberikan selembar kertas pada Gakupo dan Meiko.
"Ichinose? Ah! Aku ingat lelaki ini. Ada seorang wanita yang memberitahu ku bahwa ia mengintip wanita itu di toilet. Bukan kah itu menjijikan?" Ujar Gakupo.
Meiko menampilkan pandangan tak nyaman ketika melihat Ichinose. Ia membayangkan jika lelaki itu mengintipnya dengan ekspresi yang.. yah begitulah.
"Tapi aku meragukan bahwa ia adalah si Psycho itu."
"Bagaimana kalau kita yang menginterogasinya? Ketua tim D itu tidak kompeten." Gakupo melipat lengan kemeja yang ia kenakan. Ia sudah sangat siap untuk melemparkan pertanyaan.
Kiyoteru hanya menghela napas berat dan mengizinkan mereka.
Gakupo cepat-cepat memerintahkan polisi penjaga, meminta ketua tim D untuk segera keluar. Mereka tak akan mendapat apa-apa jika interogasinya se-jemu itu. Begitu membosankan dan tak menyenangkan. Lelaki yang dicurigai sebagai Psycho itu tentunya akan santai mengatakan bahwa ia bukan pelakunya, bahwa ia tak tahu apa-apa mengenai hal itu dengan mengeluarkan aroma bawang yang begitu bau dari mulutnya. Wajahnya yang berminyak secara berlebihan begitu memuakkan dan sekali lagi, menjijikan. Meiko memutar bola matanya. Ia tahu bahwa ini tak akan segera berakhir.
Dengan umpatan-umpatan yang di buat sepelan mungkin, ketua tim D menyerah dan keluar begitu saja. Selewat memberikan tatapan sinis pada Gakupo dan Meiko juga Kiyoteru. Lalu trio psikopat itu memasuki ruangan dengan Kiyoteru yang akan mengintrogasi. Sementara Gakupo dan Meiko akan memberikan sebuah suasana mencekam layaknya film horor. Dimana bisa saja Meiko berubah dan menggorok leher lelaki bertubuh gempal itu.
"Jadi, kau tidak akan mengaku bahwa kau adalah pelaku pembunuhan dari gadis ini?" Kiyoteru menunjukkan foto gadis yang mati secara tragis itu.
"Sudah berapa banyak ku katakan bahwa aku tak membunuhnya!" Dengan kuat, lelaki bernama Ichinose itu menghentakkan kakinya. Menimbulkan suara berdebam yang cukup hebat.
"Lalu tolong jelaskan mengapa sperma mu ada di tubuh mayat gadis ini?" Kiyoteru menggunakan posisi tubuh mengintimidasi, ia memajukan posisi tubuhnya. Pandangan yang selalu ia gunakan ketika ia benar-benar kesal ditunjukkan pada lelaki itu.
"Aku sudah mengatakan bahwa aku dibayar oleh seseorang untuk memperkosanya!" Ada guratan ketakutan dipandangannya. Meiko maju satu langkah untuk kembali mengamati secara seksama ekspresi yang ditunjukkan olehnya.
"Dibayar kau bilang?!" Kiyoteru meninggikan nada bicaranya.
"Kau tahu, jika lelaki ini mengeluarkan emosinya, ia bisa menggorok lehermu hingga hampir terlepas dari tubuhmu. Menyucurkan darah yang begitu mengerikan yang akan meletup-letup dari lehermu." Gakupo angkat bicara dengan tatapan tak peduli miliknya. Lalu Meiko mengetahui bahwa lelaki itu ketakutan.
"A—Aku dibayar oleh seseorang." Ujarnya mencicit.
"Apa kau melihatnya?" Meiko dengan tak sabar menyampaikan pertanyaannya, sementara Kiyoteru duduk bersandar dengan tenang sembari melipat tangan di dadanya.
"Ia datang di belakangku, menodongku dengan sebuah pistol. Mengatakan bahwa aku harus memerkosa gadis itu..." Kalimatnya begitu menggantung, Meiko kembali memicingkan matanya. Secara tak langsung meminta lelaki itu meneruskan apa yang sudah ia katakan.
"I-Itu, dia, lelaki itu menggunakan pakaian serba hitam." Alis lelaki itu bergerak, ia sedang ketakutan. Ia diberi sebuah ancaman yang cukup mengerikan.
"Lalu, dengan berkata seperti itu, ia menyelipkan foto gadis itu beserta segulung uang yang begitu menggoda ke dalam saku mantelku."
Lelaki ini!
Meiko menepuk keningnya. Lelaki ini terangsang ketika mengingat si Psycho yang sesungguhnya menyelipkan foto gadis itu. Pupil matanya melebar begitu saja. Menandakan ia terangsang. Lelaki macam ini harus sesegera mungkin di kebiri.
"Bagaimana dengan tinggi badannya." Meiko berdiri di samping Ichinose. Tak ada ekspresi keramah-tamahan yang ditunjukkan olehnya.
Ichinose cukup gelisah dengan tatapan dari ketiga orang yang menatapnya penuh rasa curiga dan sedikit kebencian. Terlebih Meiko yang benar-benar menunjukkan bahwa ia membenci Ichinose. Bagaimana tidak? Meiko sudah berpikir bahwa ia menemukan sang Psycho itu, namun ternyata ia masuk dalam jaring yang diciptakan oleh si Psycho.
Matanya menatap ke-3 orang itu, lalu Ichinose menunjuk Gakupo yang tetap berdiri di sudut ruangan.
"Tingginya mungkin setinggi lelaki berambut aneh itu." Kiyoteru secara tidak sadar menepuk keningnya.
"Aku?" Gakupo yang tak percaya hanya dapat menunjuk dirinya sendiri.
"Mm.. mungkin lebih tinggi sedikit."
"Apa kau benar-benar tak melihatnya? Tak melihat ciri khas lain dari lelaki itu?" Meiko berjalan menjauhi Ichinose dan berdiri di belakang Kiyoteru.
Ichinose hanya menggeleng untuk menjawab pertanyaan Meiko tadi. Ada sebuah geraman dan usapan wajah yang begitu lelah dari Kiyoteru. Meiko tahu bahwa ini saatnya mereka kembali untuk mengejar si Psycho.
"Mengenai kondisi saat ia memerkosa gadis itu, tim D sudah mendapatkan jawaban dari si Jahanam ini. Kita akan mengadakan reka ulang kejadian." Kiyoteru berdiri, sementara Meiko menunjukkan ekspresi ketidakpuasan.
Gakupo membukakan pintu untuk Kiyoteru yang sudah terlihat lelah dan menua. Meiko mengikuti mereka di belakang. Ia sempat mencuri informasi dari tim D bahwa Ichinose hanya melakukan pemerkosaan pada gadis itu pukul 8 atau 9 malam. Lalu ia keluar dari apartemen sewaan gadis itu melewati jendela belakang, tak melalui pintu depan. Mungkin jika tidak salah, ia mendengar pukul 11. Membiarkan gadis itu dalam kondisi yang mengkhawatirkan dan akan benar-benar merasa nista. Ichinose hanya bisa mengatakan itu saja.
Mungkin saja pada saat yang sama juga, si Psycho memasuki apartemen sewaan itu. Karena gadis itu mati sekitar pukul 12 malam. Butuh waktu yang cukup lama untuk menyiksa gadis itu dan merasakan kepuasan sebelum akhirnya gadis itu dibunuh. Juga, Ichinose tidak membuntuti gadis itu. Yang mengartikan bahwa gadis itu memang sejak awal diikuti oleh si Psycho yang Ichinose katakan bahwa tinggi badannya mungkin lebih tinggi sedikit dari Gakupo.
Semua ini begitu membingungkan. Si Psycho yang terlampau cerdik dan hati-hati. Meiko yakin bahwa si Psycho sedang menertawakannya dimanapun ia berada.
Mereka sampai di ruang kerja. Meiko mendudukan diri di kursi miliknya dan secara tak sadar ia menggigiti kukunya karena begitu cemas dan berpikir begitu keras mengenai motif-motif lain si Psycho yang sudah mengangkat namanya sekaligus menjatuhkan namanya.
A/N
Hello!
Setelah lama tak update ff ini, akhirnya aku merasa bersalah /apanak?
Well, not gomen untuk short chapter yang satu ini (/v/)
See ya!
