DISCLAIMER

VOCALOID MILIK PEMILIKNYA MASING-MASING

Story by MiyuTanuki

Dilarang keras meniru tanpa sepengetahuan

MiyuTanuki

Kesalahan penulisan, typo, dan lain-lain mohon dimaklum.

Kita masih belajar ^^

Untuk itu RnR


CHAPTER 9


Mau tak mau ia harus memperhatikan setiap gelagat dari Ichinose yang sedang melakukan reka adegan. Tak sudi jika dirinya harus melangkah lebih dekat pada lokasi itu karena kini yang ada di pikirannya hanya satu; kertas yang saat itu diambil oleh salah satu anggota Tim D, Miku Hatsune. Walau sebenarnya Kiyoteru sendiri belum menyadari ada kertas yang hilang, tapi ia merasa bersalah karena memberikan dokumen tidak lengkap pada atasannya.

Lagipula ia tak bisa berteriak di depan semua orang dan mendeklarasikan bahwa Miku sepertinya bekerja sama dengan si Psycho tanpa ada bukti yang pasti.

Pemikiran itu saja sudah cukup membuat kepalanya pening apalagi jika ditambah dengan gumpalan lemak yang kini sedang berada di atas ranjang, berusaha melakukan reka adegan dengan tingkat kegugupan setinggi langit.

Meiko mendecih kemudian menyilangkan kedua tangan di depan dada dan bersandar di dinding luar. Memperhatikan tiap manusia yang berusaha untuk bersabar di balik police line, beberapa diantara mereka ada yang sedang membersihkan lensa kamera, sementara perempuan-perempuan yang mencoba menggunakan pakaian kasual namun gagal itu tampak bersolek, sibuk dengan alat make up mereka masing-masing.

Pemandangan umum itu nantinya akan menjadi sebuah kekacauan ketika ia hendak kembali ke kantor kepolisian. Setidaknya di balik police line ia bisa bernapas dengan tenang tanpa dorongan-dorongan dari para reporter menyebalkan itu.

Jadi ia kembali memikirkan kertas apa yang sudah di bawa oleh Miku dan bagaimana caranya ia bisa membuka kejahatan terselubung dari wajah polos yang mengatakan bahwa dirinya tak kuat melihat mayat lalu muntah cukup lama hingga tak ada makanan yang tersisa di perutnya. Faktanya di balik pintu tertutup itu ia pernah menguping pembicaraan Miku dengan seseorang.

Jangan pernah terkejut ketika di dalam kepolisian pun terdapat banyak sekali oknum-oknum yang bersembunyi di balik topeng kepolosan untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya bagi diri mereka sendiri.

Dan jika Miku adalah manusia yang serendah itu, ia akan dengan senang hati menguak seluruh keburukan gadis manis itu.

No offense.

Gadis itu memang manis.

Ia mendecih sekali lagi ketika ponselnya bergetar, menunjukkan Kiyoteru sedang memanggilnya.

"Ada apa?"

"Aku membutuhkanmu di sini, Gakupo sudah berada di perjalanan untuk menggantikanmu."

Tanpa menunggu hal lain, Meiko segera pergi untuk melakukan apapun yang Kiyoteru perintahkan padanya.


Dengan wajah yang ditekuk, ia membuka pintu rapat dengan bahunya secara gontai. Ia tak menyangka jika Kiyoteru akan memerintahkannya untuk membawa seluruh foto koleksi miliknya. Cukup sebal karena harus membawa koleksiannya ke kantor, ia meletakan kardus berisikan foto dan data pembunuhan pribadi miliknya dengan hentakan yang cukup kuat. Kiyoteru sendiri hanya mengangkat pandangannya tanpa menggerakan kepala sedikitpun. Ia menghela napas panjang dan kembali membaca dokumen apapun yang ada di tangannya.

"Bagus, megane-kun. Kau memberikan instruksi untuk membawa data milikku dan ini yang kau lakukan? Setidaknya kau harus membayarku dengan tiga botol sake."

Kiyoteru hanya merespon dengan mengangkat bahunya seakan tak peduli sementara Meiko memutar bola matanya jengkel.

"Hanya ini yang kumiliki."

Satu persatu Meiko keluarkan foto pembunuhan dan dokumen yang sudah ia buat dengan susah payah demi kepuasannya. Ia menjajarkan seluruhnya di atas meja hingga akhirnya Kiyoteru berminat untuk berdiri dan menatap semua hal yang sudah Meiko dapatkan secara susah payah.

Matanya memicing di balik lensa kacamata yang sesekali ia benarkan. Ia menopang tubuhnya dengan kedua tangan di atas meja. Secara teliti ia menelisik foto-foto dan dokumen yang berserakan di sana.

"Ini sebuah enigma. Data di pusat sedang diolah kembali karena pembunuhan yang serupa bukanlah pembunuhan yang sedang kita selidiki. Pelakunya sudah dipastikan berbeda."

Meiko menatap Kiyoteru dari ujung matanya dan mengangguk. Memang data yang Meiko miliki hanyalah data yang sebenarnya, data dari setiap pembunuhan yang dilakukan oleh si Psycho itu.

"Tenang saja, aku tidak akan mengatakan bahwa kau sudah melanggar banyak peraturan karena mengambil foto di tempat kejadian dan menggunakannya sebagai kepuasan semata."

Itu yang ingin ia dengar maka ia tersenyum lebar memaksa dan sekali lagi mengangguk.

"Tapi aku belum mengerti apa yang menjadi dasar dari pembunuhan ini." Ujar Meiko sembari menggaruk sisi kepalanya.

Ia berjalan kearah board untuk menempelkan kertas-kertas yang ia rasa penting dan patut untuk dilihat berkali-kali. Matanya menelusuri kembali kertas-kertas tersebut dan mengerutkan keningnya. Sejujurnya itu adalah kertas yang sering sekali ia lihat di apartemennya. Kertas yang berisikan data diri dari tiap korban yang berjatuhan namun tak ada satupun kesamaan dari semua itu.

Tidak ada pattern membuat mereka buta.

"Profesi tidak sama, usia pun berbeda, tingkat kesuksesan pun tidak serupa. Tak ada scenario dimana salah satu dari mereka kehilangan uang berjumlah banyak di rekening yang berarti bukanlah sebuah penipuan. Jadi si Psycho memang bukanlah seorang penipu."

Ia berhenti berbicara pada diri sendiri ketika Kiyoteru melakukan hal yang serupa di sampingnya.

"Tempat tinggal mereka pun berjauhan. Dia sangat hati-hati rupanya."

"Untuk memilih korbannya? Luar biasa." Ujarnya sarkastik pada Kiyoteru dan kembali menatap board.

"Tapi tentu saja yang sama hanyalah adanya bagian tubuh korban yang dipotong setelah korban mati dengan mengenaskan. Ow, liat luka-luka itu." Meiko menunjuk pada foto-foto di atas meja.

"Apakah dia memilih korban secara acak?"

"Kau bercanda?" Sanggahnya.

"Hampir semua korban pernah merasa diikuti selama seminggu dan kau mengatakan bahwa ia memilih secara acak? Jika aku yang menjadi si Psycho dan mengatakan 'hei, aku akan membunuhmu karena aku memilihmu secara acak dari tujuh miliar manusia di dunia ini' maka aku akan membunuhnya saat itu juga."

"Kau benar."

"Tentu saja."

Mereka kembali merenung dan Kiyoteru lebih memilih untuk membuka dokumen yang berada di atas meja sementara Meiko tetap mematung di tempatnya. Ruangan tersebut terlalu besar untuk mereka, terkesan dingin dan menusuk. Hanya suara tiap gesekan kertas yang diciptakan karena ulah Kiyoteru yang mulai membaca isi dokumen tersebut. Suaranya menggema bersamaan dengan suara mereka bernapas. Tak ada satupun pemikiran yang terbesit dikepalanya membuatnya merasa sangat kosong dan hampa seakan ia tak pernah hidup.

Si Psycho jelas ingin membuat dirinya merasa lemah secara intelektualitas.

Itu membuatnya jengah dan kini ia menggerutu.

"Oi, Meiko."

Wanita itu membalikan tubuhnya dan menatap Kiyoteru yang kini sedang memiringkan kepalanya. Seakan sedang menimang sesuatu di dalam otaknya yang encer itu.

"Bagaimana jika pelakunya adalah orang disekitar kita?"


A/N

Eng ing eng~

Gomen not gomen aku kembali update cerita ini HAHAHAHAHA

Setelah bertahun tahun yash/?

AKU AKAN MENAMATKAN CERITA INI! KARENA AKU GEMAS DENGAN KURANGNYA FF KAIMEI YANG GREGET.

See you next time pals.