Bah!

Chapter 02 : Antara Akang dan Sayur Asem

.

Nakahara Chuuya namanya. Remaja perantau dari Medan ke Jakarta untuk menuntut ilmu. Ia dengar kota ini memiliki banyak fasilitas yang mencukupi untuk membutuhi keperluan dirinya. Seperti belajar misalnya. Plis, walau gaya preman seperti ini Chuuya adalah anak yang rajin.

Ia dulu diasuh oleh Tante Kouyou, tante yang baik hati. Saking baik hatinya, ia nyaris dimanja. Tapi Chuuya anak yang baik, ia malah ingin jadi anak mandiri di usia muda. Kemudian Tante Kouyou mengajarkan Chuuya apa saja. Termasuk memasak, membersihkan rumah, dan semacamnya. Karena itulah Chuuya bisa menjadi orang yang diandalkan di setiap kos.

Well, siapa yang tidak akan bahagia jika salah satu teman kosanmu pandai memasak sementara kau sendiri masak Ind*mie saja masih overcook?

Chuuya itu anak yang baik. Mungkin karena aslinya ia keturunan Sunda. Serius. Dalam silsilah keluarga, ia memiliki darah Sunda dari ayah, Batak dari ibu. Seharusnya ia bisa berbahasa Sunda, sikap yang dimiliknya sangat harus kemayu dan anggun. Harusnya sih begitu, tapi...

Kenapa Chuuya malah bersikap seperti ibunya?

Usut punya usut, ternyata Chuuya memang ingin menguasainya. Ia lelah bersikap manis. Jadilah ia meniru ibunya yang katanya kasar. Katanya sih. Itu juga dia dapat informasi dari Tante Kouyou. Toh, Tante Kouyou juga saudara dari ibunya.

Mencicipi sedikit demi sedikit, lalu mengangguk percaya diri. Ia mematikan kompor, pelan-pelan menaruh kuah sayur asem yang ia buat sendiri ke dalam beberapa mangkuk. Rencananya adalah ia akan memberi makanan buatannya sendiri ke anak-anak kos di sini. Mumpung ia masih baru, berarti harus mencoba bersikap baik pada orang yang lebih tua atau orang yang sudah lama tinggal di sini. Pertama ia akan memberikannya pada orang yang memiliki kosan ini. Siapa lagi kalau bukan Pak'de tercinta Fukuzawa?

Mangkuk masih panas, harus berhati-hati. Chuuya dengan segala kesabarannya membawa mangkuk sayur asem ke sebuah ruangan di mana terhalang oleh pintu yang membatasinya antara kosan dengan rumah bapak kos itu sendiri. Ia mengetuk pintu, kemudian menunggu sang bapak kos membukanya. Tak lama, pintu terbuka. Tapi bukan bapak kos, melainkan seseorang yang 20 tahunan lebih muda darinya.

"Ya, ada apa? Kalau mau bayar uang kos, tunggu Yukichi selesai nyiram lidah buaya dulu." Begitulah kata orang itu. Orang itu berpakaian piyama biru muda dengan corak polkadot putih. Rambutnya berantakan karena baru bangun tidur dan... Ia hanya memakai boxer.

Chuuya merasa ia mencium sesuatu bau yang aneh.

"Ah, bukan. Saya cuma mau ngasih ini," kata Chuuya sambil menyodorkan mangkuk sayur asem buatannya.

Si orang bermata sipit itu melihat mangkuk dengan seksama. "Oh, makasih. Tunggu bentar, saya taruh di mangkuk lain dulu. Jadi kau bisa ambil lagi mangkok ini."

Chuuya mengangguk, bersamaan dengan Si Mata Sipit yang masuk kembali ke dalam ruangan untuk memindahkan makanannya di dapur. Chuuya menunggu di luar, sesekali memainkan ponsel pintar Android yang ia punya. Hasil dari uangnya sendiri, tentu saja. Tidak, itu salah. Lebih tepatnya sebagian dari uangnya dan sebagian lagi pakai uang Tante Kouyou. Tapi yang penting dari uangnya juga, kan?

Dan sebuah panggilan tidak terjawab terpampang di layar. Dengan nama kontak "Atsushi".

Chuuya akan telepon balik nanti.

"Oh, kamu masih ada di sini." Si Mata Sipit kembali lagi. "Nih, mangkuknya."

"Terima kasih." Chuuya menerimanya.

"Kalau begitu saya permisi."

"Hm, ya udah. Balik lagi ke sini kalau mau bayar uang kos."

Chuuya mengangguk. Walau ia masih merasa aneh, baru kemarin pindah udah ditagih bayar kosan.

Lalu selanjutnya, di kamar no.5.

Sebenarnya, penghuni kosan ini baru ada 3. Dirinya, si Playboy kurang ajar yang kemarin, dan satu lagi anak kuliahan yang masih muda alias masih semester 1. Pak'de Fukuzawa pernah cerita sedikit soal dia. Kalau gak salah namanya...

Tok! Tok! Tok! Ketukan pintu berbunyi.

Seseorang dengan perban di hidung muncul dari balik pintu. "Ya, siapa?"

Agak gengsi sekaligus geli, tapi mau bagaimana lagi demi jati diri. Chuuya sudah diajari kesopanan tingkat tinggi. Masa iya mau balik jadi preman lagi?

"Punten, kalau gak salah namanya Tachihara ya?" tanya Chuuya.

"Oh, iya. Saya Tachihara. Ada perlu apa, ya?"

Senyum sejuta watt diluncurkan Chuuya. Ia menyodorkan mangkuk sayur itu pada Tachihara. Tachihara dengan gelagapan menerima dengan segala hati.

"Makasih, anu..."

"Chuuya. Nakahara Chuuya."

"I-iya, Chuuya. Sekali lagi terima kasih."

"Gak apa-apa. Makan yang banyak. Kalau mau minta tambah, masih ada lagi. Aku gak sengaja bikin banyak."

Kini di mata Tachihara, Nakahara Chuuya adalah malaikat yang diturunkan untuk mengatur kelanjutan kehidupan kostnya.

Baik banget, njir!

"I-iya. Makasih banyak." Semu merah muda di pipi Tachihara menandakan ia gugup luar biasa. Tolonglah, siapapun tolong kondisikan keberadaan malaikat murni ini.

"Sama-sama, Akang Tachihara." Chuuya kembali melancarkan senyumannya.

Malaikat cinta bersayap meluncurkan panah asmaranya. Menusuk tepat di jantung Tachihara.

Anu, ada yang bawa kacamata hitam? Kayaknya di sini silau banget, deh.

..Bah..

Sruput, sruput sruput

.

Dazai dengan gaya santainya meminum soda melon dari sedotan. Matanya jelalatan ke sana ke mari, memperhatikan manusia-manusia jaman now berlalu-lalang di sekitarnya. Cih, bahkan di sini pun tidak ada yang membuatnya tertarik. Lihat, mereka semua terlihat sama saja. Sia-sia sudah ia nitip absen sama Ango dengan niat cari angin. Tahu begini, ia mendingan ikut kelasnya Pak Dosen Kunikida saja.

Ah, tapi ia rada males juga kesana. Soalnya Pak Kunikida itu sensitif kayak cewek PMS. Salah dikit aja, proyektor bisa melayang ke arah kepalanya.

Pengen pulang ke kostan, tapi Akutagawa sudah mengajaknya ke Mall Cikampek buat ketemu Om Mori. Sekalian beli barang-barang buat adiknya juga. Adiknya mau bikin pesta kejutan buat temannya yang mau ulang tahun nanti. Rencana mau bikin pesta kejutan kecil-kecilan di rumah yang berulang tahun dengan banyak balon dan kue.

Kayak anak kecil banget, sih. Masih pake acara tiup lilin, nyanyi-nyanyi lagu ulang tahun dan pecahin balon terus kena tepung. Tapi itu masih lebih baik dibanding dikerjain, dicuekin, diikat di tiang dan dilempari telur dan tepung, yang ujungnya malah minta pajak ulang tahun dan traktiran.

Gak usah miris, Dazai sering kayak gitu kok.

Pada akhirnya, ia menunggu di sini. Menunggu Akutagawa di tempat ini. Begitu lama seperti menunggu kepastian dari seorang cewek.

Padahal kalau ia pulang sekarang, ia bisa saja menggoda lagi anak baru di kosannya itu. Namanya siapa? Cu... Cucu? Cuka? Cungkring?

Oh iya. Namanya Chuuya. Nama kok susah banget sih.

Tapi, mungkin saja si Chuuya masih kuliah. Walaupun ia gak tahu menahu Chuuya kuliah di mana, tapi ini masih jam kerja. Otomatis ia tahu kalau Chuuya masih berada di kampus.

Bosan. Bosan. Boooosaaaannn...

Bersabar sedikit lagi, Dazai memutuskan untuk tetap di sini lebih lama.

Barangkali ia dapat uang jajan dari Om Mori saat mengunjunginya nanti.

..Bah..

"Dek Atsushi gimana kabarnya? Hm? Iya, udah nyampe nih. Dari kemarin, malah. Masih sekolah? ...Lagi istirahat? Oh, bagus kalau gitu. Jangan dipake di pelajaran. Boleh bawa hape ke sekolah, tapi jangan dimainin dalam kelas. Nanti ganggu pelajaran. Oh, bentar lagi ulang tahun? Selamat ya! Hehe. Ya, Akang doain cepat gede dan cepat pinter, dah. Kapan-kapan Akang mau kesitu gak apa-apa? Biasa, buat ketemu sama keluarga juga. Hu'um. ...ya udah. Sana belajar. Kirim salam buat Kyouka, ya. Iya. Dah..."

Cklek.

Percakapan satu arah itu terhenti semenjak Chuuya memutuskan panggilannya. Ia menaruh handphonenya di atas kasur, lalu berleha-leha sambil menikmati semilir angin dari kipas listrik yang dipasang di dalam kamar kostnya.

Bagi kalian yang bertanya-tanya siapa yang di telepon Chuuya barusan, jangan berpikir negatif. Ia hanya menelpon anak dari seorang saudaranya saja. Anak itu pernah mengunjungi Chuuya saat Chuuya masih di kampung. Anak yang baik hati, manis dan polos bersama dengan adiknya yang malah terlihat protektif dengan kakaknya.

Setelah capek membereskan seluruh barangnya, ia berinisiatif tiduran di atas kasur. Bosan melanda dirinya, membuatnya memutuskan untuk mencari hiburan di handphonenya. Beruntunglah kuota internet masih tersisa banyak. Ia masih bisa pakai sampai sebulan.

Tapi begitu terbuang 5 menit, Chuuya melepaskan tangannya dari alat canggih itu. Ya kali, semuanya tentang politik dan diare. Dikit-dikit politik, dikit-dikit diare. Bahkan shit posts dan Mim sama sekali tidak menghiburnya. Niat ingin main game, tapi bosan itu-itu aja. Ingat, Chuuya gak ada niatan main game ber-gacha atau apapun itu. Titik.

Hari ini ia tidak ada jadwal kuliah. Sebagian dari waktunya sudah di pakai buat bersih-bersih kamar. Ingin tidur, sepintas pikiran yang aneh membayanginya.

Apa ia harus beli kulkas baru?

Gak, kulkas kecil ini saja udah lebih dari cukup.

Bagaimana dengan televisi? Kalau bisa yang LCD dengan layar yang lebar...

Kirain apaan coba? Laptop juga sudah lebih dari cukup.

Beras? Daging? Buah dan sayur? Susu kotakan? Galon air? Dan semua bahan-bahan masak dan persediaan makanan?

Semua sudah ada, tinggal menunggu akhir bulan buat beli lagi kalau mau habis.

Persediaan mandi? Baju?

Banyak. Tante Kouyou ngasih baju kebanyakan memang. Ya wong pengusaha butik gitu.

Pe Es?

Nambah-nambahin tagihan listrik, gak deh.

Benar-benar tidak ada yang bisa dilakukan, akhirnya Chuuya memutuskan untuk tidur.

Dan ketukan pintu kupret mengganggunya.

"Ya, bentar!" Seru Chuuya. Ia melangkah dengan malas menuju pintu. Pintu terbuka, dan dibalik pintu terlihat sosok seseorang yang baru beberapa menit yang lalu ia temui.

"Kang Tachihara?" tanya Chuuya. Serius, sebenarnya ia geli dengan panggilan itu.

"Ah, maaf mengganggu. Ini, cuma pengen ngasih ini doang," kata Tachihara. Ia menyerahkan plastik berwarna putih yang ia bawa.

Apaan nih?

"Ayam penyet? Serius?"

"Cuma sebagai tanda terima kasih soal sayurnya tadi pagi."

"Yah, sayur asem mah gak ada apa-apanya dibanding ayam penyet."

"Tapi sayurnya enak kok. Makasih banyak, Kak Chuuya."

"Iya...eh? Kau tahu kalau aku lebih tua dari situ?"

"Iya tahu. Kak Chuuya ngomong gitu di koridor sama yang namanya Dazai, kan."

"Bener juga sih."

Tapi tetap saja. Seumur-umur ia baru kali ini dikasih ayam bakar penyet... Gak. Sebenarnya pernah sekali sama Tante Kouyou. Cuma sekali, setelah itu tidak pernah lagi. Soalnya Chuuya sudah bisa masak makanan enak sendiri, jadi tidak perlu beli macam-macam.

Ndeso. Memang. Biarlah, memang seperti itu orangnya. Toh ia masih bisa fashionable juga.

"Ma-makasih..." Chuuya tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Makanan mahal, loh. Makanan yang tidak pernah ada di akhir bulan dalam kehidupan kostan. Harusnya ngasihnya di akhir bulan saja.

"Udah, ya. Mau masuk ke kamar dulu," pamit Tachihara.

"Eh? Gak mau masuk dulu? Minum gitu?" Gak usah tanya ini Chuuya kenapa. Ia udah kebiasaan.

"Ha? Eh...gak usah. Gak apa-apa," tolak Tachihara halus, walau sebenarnya gak tega.

"Ya udah atuh. Makasih lagi buat ayam penyetnya, Akang."

Satu hal yang tidak diketahui Chuuya adalah Tachihara yang sudah terbang tinggi ke langit saking bahagianya dipanggil "Akang".

Dan satu hal yang tidak diketahui Tachihara adalah Chuuya yang pengen muntah pelangi gara-gara panggilan "Akang" itu.

Tachihara pun pergi ke kamarnya. Ia masuk ke dalam dan setelah itu tidak terlihat lagi oleh penglihatan Chuuya. Mungkin Chuuya tidak tahu, bahwa Tachihara sudah fanboy-ingan di atas kasur.

Baru saja Chuuya ingin masuk lagi ke kamar, matanya menangkap sosok di pojok sana yang sudah melihat kejadian tadi.

Chuuya buru-buru masuk kamar.

Dazai menahannya.

"Apaan sih?!" tanya Chuuya jutek.

"Kok cuma dia yang di panggil 'Akang' sementara aku gak?" protes Dazai. Ia baru saja pulang dari Mall diantar Akutagawa.

"Berisik! Kau gak cocok dipanggil 'Akang'!"

"Terus sayur asem tadi apa maksudnya? Kamu bikin sendiri? Kok gak ngasih ke aku? Padahal aku capek habis dari Mall tadi."

"Kalo kau baru habis ke Mall, berarti kau juga makan di sana! Lagian sayurnya udah habis! Aku juga gak rela ngasihnya ke kau!"

"Sayang jahat, ih! Aku kan juga pengen makan makanan buatan sayangku juga~"

"Udah kubilang namaku Chuuya, bukan 'sayang'! Pe'a bener jadi orang!"

"Nama lu susah, Say. Jadinya panggil sayang aja, yah."

"Jijay tau!"

"Pokoknya aku mau sayur asem buatannya sayangku ini~! Bikinin lagi, gih!"

Kesal, tahu urat kesabarannya mulai putus, Chuuya segera masuk kamar dan menguncinya pintu. Ia menaruh plastik isi ayam penyet itu asal di lantai sementara dirinya mencoba tidur dengan menenggelamkan wajahnya di dalam bantal. Ketukan pintu dari si Playboy kampret itu terdengar nyaring, namun dibiarkan. Ketukan itu terus terdengar hingga suara Pak'de Fukuzawa tertangkap di indera pendengarannya.

Akhirnya, ia bisa tidur dengan tenang.

Atau mungkin tidak.

..Bah..

Akutagawa RyuuUdah ngantuk, kak?

Pesan dari aplikasi Garis itu cukup mengganggunya. Jadi ia tidak membalasnya. Yah, sebenarnya Dazai cukup ngantuk karena harus bergadang menyelesaikan tugas dari dosen malam-malam begini. Dosennya aneh, mungkin kebanyakan baca novel misteri. Di pundaknya selalu ada rakun, yang katanya itu sahabat sejati hidup dan matinya. Dari luar keliatannya serem, tapi aslinya baik. Meski tugas yang diberikan tidak baik sama sekali.

Dazai itu pintar, IPK tinggi, ia bisa saja lulus sarjana duluan. Tapi ia punya virus membahayakan yang siapapun pasti akan tertular. Iya, ia malasnya minta ampun.

Kali ini Dazai berusaha mengerjakan tugasnya, banyak dan padat. Biasanya dalam 5 menit ia sudah selesai. Tapi karena perut keroncongan, ia tidak bisa menyelesaikan dengan baik.

Ya kali kelaparan. Di Mall udah ditraktir sama Om Mori pecel lele, mau pulang mampir dulu ke K*C, sama makan sushi dan steak. Di perjalanan pulang makan bakso jumbo. Minumnya es jeruk sama teh botol. Masa iya makan lagi?

Kalau bukan Akutagawa yang nawarin, sebenarnya ia gak bakalan mau. Tahu gini, mending baksonya dibungkus aja.

Oh, mungkin gara-gara Chuuya bilang dia masak sayur asem tadi.

Bukannya kenapa-kenapa, tapi Dazai suka sekali dengan sayur asem. Apalagi ada tambahan Ajin*m*to sebungkus. Pasti enak.

Dasar teen jaman micin.

Ketukan pintu terdengar. Oh, siapapun yang mengganggunya menyelesaikan tugas harus ditampol. Serius nih. Dazai lagi serius-seriusnya malah diganggu.

Dazai membuka pintu, ternyata Chuuya mendatangi kamarnya dengan membawa plastik. Malam-malam begini ngapain ke sini?

"Nih, nasi goreng." Chuuya menyodorkan plastik hitam. "Aku beli tadi barusan."

Dazai menerima dengan senang hati. "Makasih. Betewe, buat apaan ngasih ginian? Tau kalo gue lagi laper, ya?" goda Dazai.

"Kagak! Itu cuma pengganti karena sayur asemnya habis! Soalnya... sayurnya udah dihabisin sama Pak'de Fukuzawa."

Dazai tahu, yang menghabiskan sayur itu bukan 100% sang Pak'de tercinta. Pasti Mas Ranpo, orang yang sekarang tinggal bareng sama Pak'de.

"Aku belinya di perempatan jalan sebelah kiri jauh dari kost. Lumayan mahal, tapi ya mau gimana lagi. Gak adil kalo kau aja yang gak dapet makanan."

Dazai diam saja, palingan cuma mengangguk dan bergumam. Hening seketika. Merasa diabaikan, Chuuya protes.

"Bilang makasih, kek! Apa, kek!" katanya.

Sesaat, cengiran licik menghiasi wajah Dazai.

"Panggil dulu 'Akang Dazai' baru aku mau bilang makasih!" titahnya.

"Ha?!"

"Kalo gak, ini nasi goreng gue balikin ke elo."

"Jijay! Geli tau!"

"Ya udah, nih gue balikin."

"Aku udah capek-capek jalan kaki buat beli itu, tau!"

"Ya, panggil dulu 'Akang Dazai' baru aku terima ini nasi goreng."

Chuuya menggeram.

"Mau gak?"

Berusaha mengabaikan harga dirinya, pelan-pelan Chuuya memanggilnya dengan wajah memerah karena malu.

"A-Akang Dazai..."

Malaikat cinta bersayap kali ini meluncurkan panah asmaranya tepat ke jantung Dazai.

Ada yang bawa bendera putih gak, sih? Dazai nyerah, nih!

"Iya, makasih. Dedek Chuuya."

0,5 detik kemudian, Dazai merasakan perutnya sakit karena ditinju oleh sesuatu yang sangat keras dan kasar.

Dazai merintih nyeri, sementara Chuuya langsung kabur menuju kamar. Pintu kamarnya dibanting kasar. Mas Ranpo ngomel-ngomel dari kejauhan.

Dazai tertawa, lalu ia masuk ke dalam kamar. Ia menatap plastik hitam yang katanya isinya nasi goreng yang dibeli di perempatan jalan sebelah kiri yang jauh dari kost. Ia membuka plastik itu. Bukan nasi goreng yang biasanya dibungkus dengan kertas minyak, melainkan nasi goreng yang ditaruh di kotak bekal dari plastik ukuran besar. Isinya lengkap, seperti nasi goreng dari restoran. Telur setengah matang, telur dadar yang dicincang, daging ayam dan bakso yang dipotong suwir. Sayur semacam tomat, timun dan selada ada di situ. Juga sambal goreng sebagai pelengkap. Ada sendok plastik walaupun Dazai sudah punya sendok sendiri.

Dan semua itu ditata rapi dalam satu kotak bekal besar. Juga masih panas, yang artinya fresh from the kompor. Baru selesai dimasak.

Dazai tersenyum penuh arti. Toh, ia sudah tahu sejak awal.

Karena di perempatan jalan sebelah kiri yang jauh dari kost itu tidak ada yang jual nasi goreng.

Bersambung lagi coeg.

Halo, ketemu lagi sama author sableng!

Yah, ceritanya emang agak aneh yah.ada gitu orang yang mau masakin sayur asem buat satu kostan? Namanya juga fanfiction apapun bisa terjadi. /Lol

Untuk AkuAtsu bisa chap depan. Khusus chapter ini, nikmati saja Soukoku sableng bikinan saya.

Sampai jumpa chapter depan~