Pagi yang indah di hari yang indah.

Ini sudah 2 minggu sejak kepindahan Chuuya ke kosan di Jakarta. Banyak hal yang merepotkan yang harus dilewati. Tapi kalau mau sabar dan tabah, semua itu gampang diatasi.

Chuuya baru saja selesai mandi. Ia memakai handuk di bagian bawah dan membiarkan tubuh bagian atas kedinginan karena udara pagi. Rambutnya basah karena keramas. Pagi ini ia punya kelas yang harus diikuti. Terlambat sedikit, nilainya anjlok. Mau bagaimana pun ia harus memberikan kesan baik di depan dosen.

Baru saja ia melepas handuk dan mau memakai daleman, pintu kamar kostnya sudah didobrak oleh pihak yang tidak bertanggungjawab.

BRAK!

"CHUUYA AKU MINTA SAMPO!"

"KAMPRET! KETUK DULU PE'A BARU MASUK!"

"YUKICHI! ANAK KOS PADA BERISIK LAGI PAGI-PAGI!"

.

Bah!

Chapter 3 : Pandangan Pertama Awal Aku Berjumpa~

.

"Nih, sampo sasetan serante. Gak usah minta-minta lagi abis ini!" kata Chuuya ketus. Ia sudah pakai boxer, jadi aman. Dengan kesal, ia memberikan satu pak sampo sachet yang awalnya mau ia gunakan kalau sampo versi botolnya sudah habis.

Ya udah. Entar juga bisa beli lagi. Murah ini, kok.

"Duh, Chuuya. Baik hati banget, deh. Jadi makin suka!" Ini kata Dazai, yang ditengah-tengah mandi malah keluar buat minta sampo ke Chuuya. Ia baru ingat kalau ia gak punya sampo.

Sebenarnya bukan gak punya. Samponya ia jadikan bahan eksperimen bunuh diri, dicampur ke air semacam teh atau kopi. Pernah diminum, ujungnya malah masuk rumah sakit karena keracunan. Seminggu kemudian, bukannya mati malah sembuh. Imun Dazai kuat sekali kalau soal beginian.

Pernah juga ia pakai sampo dengan wangi lemon dicampur ke teh. Saat diminum, ia ngedumel seperti ini : "Cih, ternyata rasanya gak kayak lemon tea yang dijual di kaki lima."

Abaikan, Dazai cuma orang pintar yang entah kenapa bego kalau bahas beginian.

"Gak sudi gue ditaksir sama orang macem elo! Udah sana mandi lagi! Itu busanya dibilas, entar lantainya licin!" titah Chuuya.

Iya, jadi ceritanya Dazai di kamar mandi lagi pakai sabun. Saat mau sampoan, ia baru ingat kalau ia tidak punya sampo. Bukannya busanya dibilas dulu, Dazai langsung pakai handuk dan lari ke kamar Chuuya buat minta sampo.

"Gak bakal jatuh, kok. Ngomong-ngomong, Cuy. Badannya bagus banget. Ramping, mulus lagi."

"Gak usah komen badan gue!"

"Ah, yang nonjol di dada juga warnanya pink. Kelihatan enak. Bagus banget itu."

"Jijik! Udah sana mandi lagi!"

"Tapi aku mau mandi bareng Chuuya~"

"Mandi sendiri atau gue tendang langsung ke kamar mandi?"

"Iya iya, bawel."

Dazai kembali menuju ke kamar mandi dengan bibir manyun. Chuuya hanya menghela napas panjang lega setelah akhirnya ia bisa lepas dari masalah ini lagi. Plis, selama ia di sini ia tidak pernah bisa hidup tenang. Yang namanya Dazai itu selalu mengganggunya. Bahaya kalau misalnya ia diganggu terus sampai ia terlambat kuliah...

Oh, iya. Ia harus siap-siap.

Chuuya baru saja akan menutup pintu kamarnya lagi ketika Dazai berbalik badan dan menatap ke arahnya.

"Oh iya, Chuuya. 'Punya'mu ternyata gak besar-besar banget, ya."

Dan kepala Dazai dihadiahi sepatu N*ke KW yang melayang dari Chuuya.


Akutagawa mengendarai mobilnya menuju ke bangunan sekolah. Ia hari ini ingin mengantar adiknya, Gin, ke sekolah sementara ia tidak punya banyak kelas untuk diikuti. Mobil itu melaju dengan kecepatan normal, biasa saja. Toh masih pagi, masih jam setengah 7 lewat 5 menit. Ia masih punya banyak waktu untuk bersiap-siap kuliah nanti siang. Selain itu, jalanan tidak terlalu macet. Masih aman dibanding kalau sudah siang.

Mobil berhenti di depan gerbang sebuah bangunan SMA. Akutagawa membuka kunci mobilnya, dan membiarkan Gin keluar dari mobil. Dengan seragam SMA yang cocok dengan tubuhnya dan rambut yang panjang lurus, wajar kalau Gin lumayan populer di angkatannya. Karena cantik luar biasa, keluar dari mobil pun dikira artis yang pindah ke sekolah ini.

"Aku berangkat dulu, Kak." Gin pamit pada kakaknya sambil mencium tangan kakaknya. Adik yang sangat baik hati.

"Hati-hati di sana." Akutagawa tersenyum. Sebentar lagi Gin akan lulus. Ia tidak sabar melihatnya tumbuh dewasa.

Bukan, Akutagawa bukan siscon. Serius.

Gin pun berbalik badan. Ia mendekati sekelompok siswa SMA yang baru saja akan lewat gerbang. Mungkin teman-temannya, pikir Akutagawa. Tapi jika dilihat lagi...ah, ia mengenal salah satunya.

Lebih tepatnya, ia baru bertemu anak itu sekitar seminggu yang lalu.


Flashback...

Sesuai janji dengan adiknya, Akutagawa menjemput Gin yang baru selesai pesta ulang tahun di rumah salah satu temannya. Dengan mengendarai mobil Ferrari andalannya, ia melaju ke kompleks perumahan yang cukup jauh dari rumahnya. Gin sudah memberi tahu alamatnya, jadi tidak perlu khawatir tersesat. Walaupun ini pertama kalinya ia ke kompleks perumahan seperti ini, tapi Akutagawa bisa sampai di tempat tujuan. Rumah itu agak sedikit berbeda karena balon dan hiasan di depan rumah, jadi gampang menemukannya.

"Makasih sudah datang kemari! Dan pestanya juga, makasih banyak!" suara itu dari dalam rumah. Apa? Pestanya sudah selesai?

Yang benar saja, beberapa orang keluar dari rumah itu dengan wajah gembira. Anak laki-laki yang paling belakang itu pasti yang berulang tahun, yang mengantar mereka sampai depan rumah dan melambaikan tangan perpisahan dengan wajah ceria.

Gin, dengan pakaian kasual seperti rok panjang hitam polos dan sweater biru tua, berbincang-bincang dengan anak laki-laki itu dan seseorang dengan rambut merah dikepang dua. Mereka tertawa dengan sangat riang.

Akutagawa memutuskan keluar dari mobil dan menunggu.

Cukup lama mereka mengobrol dan Akutagawa masih tidak mengerti apa yang mereka bicarakan—lebih tepatnya ia tidak mendengarnya. Kemudian yang berambut merah pamit duluan. Kelihatannya ia sudah dijemput oleh keluarganya. Tamu dari pesta itu hanya tersisa Gin saja.

Gin melirik ke arah Akutagawa yang bersandar di mobil. "Ah, kakakku sudah menjemput." kata Gin.

"Mana?" Tanya anak laki-laki itu. Ia menoleh ke sana ke mari. "Oh, yang itu?" Dan kelihatannya ia sudah menemukan orang yang dimaksud.

Gin mendekati kakaknya, disusul oleh anak laki-laki itu.

Apa ini? Si bocah itu bukan minta restu pacaran sama Gin, kan?

"Kakak udah datang, ya?" kata Gin. "Kenalin, ini Atsushi yang lagi ulang tahun sekarang." Ternyata ia cuma memperkenalkan anak laki-laki itu pada Akutagawa.

"Salam kenal, Mas. Nama saya Nakajima Atsushi. Gin selalu baik sama teman-temannya, loh." Yang bernama Atsushi itu tersenyum manis pada dirinya.

Sesaat hati Akutagawa berdebar. Bukan karena pujian untuk adiknya, melainkan ia dipanggil dengan panggilan "Mas" untuk pertama kalinya itulah yang membuatnya terdiam sejenak.

"Hm, begitu." Akutagawa sok cuek.

"Ya udah. Aku pulang dulu, ya. Sampai ketemu di hari Senin," pamit Gin. Karena pamitan dari Gin, Akutagawa langsung masuk ke dalam mobil.

Mesin mobil dijalankan. Bocah bernama Atsushi itu tersenyum layaknya putri keraton sambil melambaikan tangan ke arah mobil. Gin yang ada di dalam mobil membalas, tapi tidak untuk Akutagawa. Walaupun ia nyaris memerah mukanya karena diberi senyuman manis, bukan berarti lambaian tangan itu untuknya. Ya, pasti cuma buat adiknya yang notabene adalah temannya. Benar, pasti...

"Dadah, Gin! Dadah juga, Mas Akutagawa!" seru Atsushi dari luar mobil.

Seketika Akutagawa tancap gas.


Mengingat itu lagi, Akutagawa ingin mencari lubang untuk ditempati. Serius, entah kenapa ia malu. Karena tiba-tiba tancap gas itu, Gin sampai protes. Entah mengapa, ia tidak mau melihat wajah Atsushi.

Kenapa? Apa mungkin karena Atsushi itu cantik? Jujur, Atsushi terlalu cantik untuk kategori laki-laki. Atau ia tidak suka dengan Atsushi dekat-dekat dengan adiknya? Atau mungkin karena Atsushi itu polos? Gak mungkin, lagipula darimana ia tahu kalau Atsushi itu polos?

Merasa pemikiran ini hal yang sia-sia, Akutagawa segera menarik tuas. Ia juga harus bersiap untuk berangkat kuliah. Seketika matanya menatap ke luar jendela, bertemu dengan mata Atsushi yang kebetulan lewat. Entah ia tahu itu Akutagawa atau bukan, yang pasti Atsushi tersenyum ramah pada orang yang ada di balik mobil Ferarri itu lalu melewati gerbang sekolah.

Hari ini bisa nitip absen gak ya? Pengen istirahat.

.

.

Jam 4.15 sore...

Atsushi pergi ke halte dengan jalan kaki. Tidak seperti temannya kebanyakan yang naik motor pribadi ataupun dijemput, ia memutuskan untuk menyehatkan kakinya dengan jalan kaki. Sering-sering bergerak itu menurutnya bagus. Otot kaki jadi lentur, tidak kaku. Bagus buat tubuh.

Kata orang tuanya sih, gitu.

Ia adalah siswa SMA biasa yang hanya berbeda sedikit dengan yang lain. Iya, warna rambutnya seperti uban. Agak abu-abu begitu. Berbeda dengan adiknya yang biru gelap. Atsushi mempunyai pigmen warna yang berbeda. Kata ayahnya, ibunya pernah ngidam kakek-kakek yang mirip banget sama Presiden Rusia, Putin, naik harimau putih. Beda jelas dengan pangeran yang naik kuda putih, memang. Tapi berkat itu, jadilah Atsushi, anak laki-laki dengan rambut putih seperti harimau dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan kakek-kakek.

Selain itu, rambutnya terlihat panjang sebelah di bagian depan. Banyak yang mengira ia dikerjai dan dibully oleh teman-temannya. Padahal itu salah. Yang benar adalah karena saat rambutnya panjang dulu, Atsushi mencoba potong rambut sendiri. Hasilnya jelek, panjang sebelah. Tapi ia suka dengan hasilnya, edgy gitu. Jadilah rambut aneh yang dimiliki Atsushi sekarang.

Ia sudah berumur 18 tahun sekarang. Yang mana ia akan tumbuh dewasa dan akan memasuki wilayah perkuliahan. Masa-masa yang akan menjadi awal untuk dunia selanjutnya. Masa-masa ia menjadi lebih mandiri. Masa-masa sebelum kerja. Masa-masa sebelum nikah.

Itu kata Mas Chuuya. Iya, katanya sih begitu.

Atsushi terus berjalan kaki. Ia ingin sampai di rumah tepat waktu. Kata adiknya, Kyouka, Mas Chuuya mau datang ke rumah buat jenguk saudara. Itu berarti ia bisa bareng dengan Mas Chuuya lagi. Bisa mengobrol banyak hal dan lain-lain. Baginya, Chuuya sudah dianggap seperti kakak sendiri.

Tiba-tiba saat ia berjalan, sebuah mobil Ferrari mendekatinya.

"Mas Akutagawa?" tanya Atsushi saat kaca mobil itu dibuka.

"Mau kuantar pulang?" tanya Akutagawa.

"E-eh gak usah, Mas. Bisa naik bus kok. Gak apa-apa," tolak Atsushi secara halus.

"Jangan nolak tawaran yang lebih tua! Udah naik!" paksa Akutagawa.

"I-iya deh."

Atsushi membuka pintu mobil, masuk di bagian penumpang. Ia duduk dengan kaku. Kemudian mobil kembali melaju dengan tenang.

.

.

"Jadi, gimana sekolahnya?"

Akutagawa bertanya saat lampu merah menyala. Dari kaca spion belakang, ia bisa melihat Atsushi masih ragu-ragu diantar olehnya. "B-biasa aja," Atsushi menjawab. Sesekali ia melihat ke arah kaca mobil, tidak ingin ditatap oleh Akutagawa secara langsung. Dalam dirinya, ia merasakan sesuatu yang bahaya dari kakaknya Gin ini.

"Oh." Iya, cuma itu tanggapan Akutagawa.

Atsushi merasa sesuatu yang lebih buruk akan terjadi.

"Lalu, apa hubunganmu dengan adikku?"

Tuh, kan!

"B-bukan apa-apa. Cuma teman, kok."

Lampu merah berhenti, berganti dengan lampu hijau.

Hii! Jerit Atsushi dalam hati. Dari kaca spion belakang, Akutagawa sudah mengirimnya tatapan paling tajam sedunia.

A-apa? Apa ini berarti ia tidak bisa berteman dengan Gin lagi? Padahal Gin adalah teman yang baik. Gin adalah teman dekat yang akrab dengan siapa saja. Teman seperti itu siapa yang mau melepaskannya?!

Sementara di dalam hati Akutagawa, ia lega karena Atsushi dan Gin cuma sebatas teman.

Makanya ia kaget ketika Atsushi tiba-tiba berkata seperti ini,

"Be-benar! Kami cuma teman! Tidak kurang tidak lebih! Gin adalah anak yang baik, jadi kami menyukainya. Anaknya sopan, ramah, pokoknya berbeda dengan orang lain. Tapi, walaupun aku menyukainya, itu cuma sebatas teman! Aku juga tidak ada niatan ingin pacaran dengan Gin! Gin pasti juga begitu! Jadi, tolong biarkan aku dan teman-temanku berteman dengan adiknya Mas!"

Rasanya ada suatu kesalahpahaman di sini.

Atsushi mengira dirinya dan teman-temannya yang lain itu tidak cocok dengan Gin dan mencoba mengusir mereka semua. Seperti makhluk kalangan bawah yang meminta untuk berteman dengan wanita bangsawan.

"Tidak ada yang melarangmu berteman dengan adikku," kata Akutagawa. Atsushi kaget dan menundukkan kepalanya karena malu.

Mobil itu terus melaju sampai di sebuah perumahan. Akutagawa masih ingat bagaimana rumah Atsushi, jadi ia langsung mengantarnya ke depan rumah.

"Makasih, Mas." Kata Atsushi saat sampai di rumah. Ia dengan sopan mengungkapkan rasa bersyukurnya pada seseorang yang lagi 'ngebet' sama Atsushi ini. "Oh, iya. Mau masuk dulu? Sekalian bertamu."

"Gak usah. Mau langsung pulang aja," kata Akutagawa. Padahal sebenarnya ia sudah ingin terjun dari gedung Meikarta saking senangnya.

"Iya, ya. Mas Akutagawa kan udah kuliah, udah mulai sibuk ama tugas dari dosen."

Gak, Atsushi. Sama sekali gak. Akutagawa sama sekali gak sibuk. Tadi di kelas dosennya saja gak ada.

"Enak, ya. Jadi anak kuliahan. Kayak hidupnya selalu bebas tapi sebenarnya banyak tugas. Lagipula udah mulai dewasa, berpikir secara rasional, apalagi soal percintaan lebih matang. Ah... aku pengen segera lulus, terus pilih jurusan yang disukai dan segera kuliah."

Akutagawa keringat dingin. Dek Atsushi, kehidupan kuliah itu gak seindah kelihatannya.

Contohnya? Lihat Dazai.

"Ya udah. Aku pulang dulu." Akutagawa pamit. Ia gak bisa lama-lama di sini.

"Iya, Mas. Hati-hati di jalan."

Akutagawa menjalankan mobilnya. Terlihat dari kaca spion Atsushi melambai-lambai, lalu masuk ke rumah. Hatinya dag dig dug ser setelah bersama Atsushi selama perjalanan. Pengen bisa bareng lagi, tapi gengsi. Cih, harusnya dia menerima tawaran masuk ke rumah tadi.

Akutagawa menghidupkan radio. Sebuah stasiun radio menyiarkan acara musik yang lumayan disukai orang-orang.

Hai, selamat sore! Kita kembali lagi dalam acara Musik Goyang di Remaja12 FM. Hari ini kita dapat request lagu dari yang namanya Ayang. 'Kak, aku request lagu xxx dong. Lagu ini buat orang yang cintai, sampai sekarang aku masih cinta dia karena selalu ada di sisiku.' Oke, Ayang. Duh, kayak ngomong ama pacar. Baik Ayang, terima kasih atas request-annya. Jadi, selamat menikmati lagu yang kami persembahkan untuk Ayang dan orang dicintainya. Eaaa. Yap, musik dimulai!

Musik dangdut bersenandung di dalam mobil Akutagawa. Lagu yang sangat membuatnya nostalgia karena saat SD ia pernah mendengar lagu ini saat keluarganya karaokean di rumah.

Pandangan pertama awal aku berjumpa~

Seolah-olah hanya impian yang berlalu~

Sungguh tak kusangka dan rasa tak percaya~

Bahkan dunia tahu kalau Akutagawa sedang jatuh cinta. Asem.

.

.

.

Bersambung...


A/N: Kemana aja ini jarang apdet? sumimasen, akhir2 ini kebanyakan ngegrind buat event, terus ada fandom baru yang menggiurkan hati saia. kalo misalnya saia apdet ff baru dari fandom lain, itulah fandom yang saia maksud.

Btw, ini sudah bagian AkuAtsu ya. Yeeey! mungkin kapan2 kumasukin Om Shibusawa kalo perlukorban Dead Apple. O iya, masih ingat dimana Chuuya manggil dirinya sendiri 'Kang' pas nelpon Atsushi sebelumnya? itu karena dia memang udah kebiasaan manggil Akang, beda sama Atsushi yang manggil Chuuya 'Mas'.

Akhir kata, sampai jumpa di chap depan (uwu)/