Chapter 3 : Bond

"Mikazuki-sama!" Suara lembut seperti nyanyian burung itu memanggilnya. Ia berbalik dan mencoba mencari sumber suara indah itu. Sumber suara itu adalah pedang lebih muda darinya, bersurai putih panjang, dan berwajah bagaikan peri di cerita dongeng. Bulu bangau darinya sudah membantu menggantikan bulu sayap peri di cerita itu.

Yang dipanggil hanya tersenyum ke arah sumber suara. Ia pun menyerahkan tangannya ke arah anak itu. Berharap anak itu dapat meraih tangannya.

"Mikazuki-sama! Bangun!" Mikazuki tertawa ketika mendengar teriakan Tsurumaru untuknya. Ia benci untuk menyadari kalau ini bukanlah kenyataan.Tapi Tsuru ya, aku sudah bangun—

.

.

Mikazuki benci kalau ia terbangun dari mimpi indahnya.

"Oi, Mikazuki! Ayo bangun!" Suara yang memanggilnya berhasil menghancurkan mimpi indah milik Mikazuki. Ingin sekali ia memarahi sang pengganggu namun tidak berhasil ketika kedua netra heterochrome bertemu dengan sepasang mata emas indah, tambah berkilauan mengalahkan mentari musim panas saat ini.

"Oya, Tsuru ya. Apakah aku ada di surga?"

Pukulan mendarat di kepala pedang tua itu. Erangan sakit darinya terdengar setelah itu. "Pagi-pagi jangan menggombal, pak tua!"

"Hahaha. Maaf. Kenapa kau datang ke ruangan pedang Sanjou? Rindu denganku?" Tanya nya dengan nada menggoda. Yang ditanya langsung mendaratkan pukulan sekali lagi namun ditahan oleh sasarannya sendiri. Tsurumaru menjadi kesal karena Mikazuki selalu bisa membaca gerakannya.

"Kau sudah tidak mengabariku sebelum kau pergi." Jawabnya seraya memalingkan wajahnya dari Mikazuki. Ia takut kalau wajahnya memerah itu ketahuan oleh Mikazuki.

"Maaf, Tsuru ya. Yamanbagiri yo tidak mau menyisakan waktunya untuk bertemu denganmu." Jelas Mikazuki seraya bangkit dari futon miliknya. Ia melihat sekelilingnya untuk memastikan ada pedang Sanjou lain di ruangannya. Hasil akhirnya, dia tidak menemukan mereka.

"Kau saja yang selalu telat pada saat briefing."

"Berpenampilan menarik adalah tugas utama, Tsurumaru ya." Ucap Mikazuki yang mencoba membela dirinya. Hela napas terdengar dari sang lawan bicara, ia menyerah untuk menyalahkan pedang tampan di hadapannya. "Lain kali, akan kubantu kau dengan pakaianmu yang mewah itu."

"Jangan lupa dengan ciuman berangkat nya." Ujar Mikazuki menambahkan. Sebuah tamparan dapat ditangkis kembali oleh Mikazuki. "Ngomong-ngomong, tadinya aku bertanya serius. Kenapa kau di sini, Tsurumaru ya?"

"Ah.. Aku mau memperkenalkanmu kepada Ichigo."

Ekspresi Mikazuki menjadi lebih datar, namun Tsurumaru tidak tahu kalau ekspresi itu menunjukkan bahwa orang yang ada di hadapannya tidak suka ia menyebutkan nama itu. "Aku sudah kenal. Kami pernah satu zaman yang sama."

"Ehh?! Berarti kau akrab dengannya?"

Mikazuki beranjak bangkit dari tempat tidurnya. Dia sudah merasa malas untuk membenarkan yukata nya. "Anggap saja itu masa lalu."

"Maksud—"

"Tsuru ya. Tolong benarkan yukata ku. Kau tidak ingin aku berpakaian seperti ini di depan Aruji'kan?" Sekali lagi, Tsurumaru tidak menyadari bahwa mood pedang Sanjou menjadi lebih buruk dari sebelumnya. Pada akhirnya, Tsurumaru membantu Mikazuki berpakaian dengan beribu pertanyaan muncul di kepala nya.

Di waktu sama, point of viewberpindah ke tiga buah pedang yang sedang duduk menikmati ocha seraya melihat beberapa tantoudan wakizashi bermain di halaman belakang.

"Namazuo! Jangan melempar pupuk tanaman ke adik-adikmu!" Terdengar teriakan dari pedang bersurai biru muda. Sepertinya ia tidak sedang menikmati pemandangan seperti pedanguchigatanadan tachi di sebelahnya.

"Tapi ini seru, Ichi-nii! Mereka saja yang tidak tahu itu!" Ichigo hanya menghela napas melihat sifat keras kepala dari adiknya.

"Walaupun dekil, Namazuo Toushirou dulunya harta kerajaan. Sedangkan aku hanya pedang duplikat—"

"Merendahkan diri itu tidak baik, Yamanbagiri. Tidak cocok untuk seorang kapten di Divisi terkuat." Belum sempat uchigatana bersurai pirang itu mengeluh, Uguisumaru langsung mengingatkannya.

"Aruji hanya kasihan kepada ku." Sahutnya lesu. Pandangannya pun beralih ke tachi yang duduk di antara Uguisumaru dan dirinya. "Ngomong-ngomong, kenapa kau mengajakku minum, Ichigo Hitofuri?" Tanya Yamanbagiri ke Ichigo.

"Begini—"

"Tunggu, biar kutebak. Pasti kau bertanya tentang pak tua itu, bukan?"

"Jangan berpikir begitu. Siapa tahu dia ingin bertanya tentang adiknya." Tegur Uguisumaru yang ingin mengingatkan sikap tidak sopannya Yamanbagiri. Yamanbagiri hanya diam dan menunggu jawaban dari Ichigo.

Ichigo meminum ocha nya terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan dari kapten Divisi Satu. "Soal Honebami, saya percaya kepadanya. Dan selamat, dugaan Anda benar, Yamanbagiri-dono."

"Wah sugoii. Hadiahnya apa, Ichigo?" Sahut Uguisumaru yang mencoba meramaikan suasana agar tidak terasa berat untuk pagi hari yang cerah seperti ini.

"Yamanbagiri-dono dapat dango dari saya. Anda juga mau, Uguisumaru-dono?"

Pedang yang ditanya tidak menjawab namun ia mengarahkan piring kecilnya ke Ichigo. Ichigo yang mengerti maksudnya pun menyerahkan dango miliknya.

"Percuma saja kau menanyakannya kepada ku. Tidak ada, bahkan Aruji, mengerti dirinya. Jika dia memang serius, aku akan menjaga Honebami darinya. Jadi, kau tenang saja."

"Hee.. baru kali ini aku melihat kau peduli dengan orang lain." Sahutan yang menggoda Yamanbagiri dari Uguisumaru selalu datang terus-menerus. Yang digoda merasa malu lalu menutup wajahnya dengan jubah lusuh nya.

"Aku.. hanya berterima kasih kepada dia karena sudah bekerja keras di divisi ku." Jelasnya dengan wajah memerah. Suasana pun kembali sunyi ditemani suara jangkrik menyambut musim panas Hokkaido.

Suara tegukan dari Uguisumaru terdengar sebelum menanggapi percakapan mereka. "Aku tidak tahu apa yang sebenarnya kalian bicarakan. Tapi bisa kutebak kalau Mikazuki mengatakan sesuatu yang buruk kepadamu ya, Ichigo?"

Ichigo mengangguk sekilas. "Maaf karena saya tidak membicarakannya kepada Anda."

"Tidak apa. Aku juga yang salah karena duduk dekat dengan kalian yang ingin berbicara serius." Uguisumaru menghabiskan ocha nya terlebih dahulu sebelum melanjutkan ucapannya. "Ku ingatkan saja, Mikazuki memang terlihat pedang tanpa cacat satu pun. Akan tetapi, terkadang ia lupa mengoreksi ucapan dia terlebih dahulu. Jangan terlalu serius untuk menanggapinya.

"Yah.. walaupun begitu, aku juga tidak pernah bisa membedakannya. Jadi, waspada saja jika ia memang berniat buruk."

.

.

.

Sementara itu, di ruangan Saniwa.

Sebuah pedang dari keluarga Sanjou sedang mengajak minum bersama Tuannya dan membawa camilan buatan saudara nya. Seperti biasa, jika pedang di hadapannya membawakan sesuatu yang enak, berarti ada sesuatu yang diinginkan darinya.

"Jadi, apa mau Anda, Mikazuki-san?"

Yang ditanya tidak terkejut bila perbuatan baik yang ada maksud itu sudah diketahui oleh Saniwa. Hal ini akan membuat keinginannya lebih cepat terkabulkan oleh sang Tuan.

"Aku ingin Tsurumaru menjadi anggota Divisi Satu."

"Anda bukan lagi kapten, Mikazuki Munechika."

Seringai kecut terlukis di wajah Mikazuki ketika mendengar tanggapan Tuannya yang cukup terbilang lebih dingin dibandingkan biasanya. "Tidak biasanya Anda berbicara seperti itu."

Hela napas terdengar dari Saniwa setelah menegak air teh yang menyenangkan baginya. Tatapan dari sepasang netra emas gelap itu menusuk tajam ke arah pedang terkuat di honmaru nya. "Saya sudah lelah dengan nafsu manusia Anda dengan Tsurumaru-san. Saya juga sudah tahu alasan Anda untuk memindahkan pedang itu ke Divisi Satu."

Tawa sinis terdengar setelah penjelasan Saniwa berakhir. Ekspresi Mikazuki yang sebelumnya murah senyum menjadi lebih muram ketika ada kedatangan pedang baru. Info tersebut ia dapatkan dari Yamanbagiri selaku kapten Divisi Satu. Namun mereka mendapatkan untung karena Mikazuki melampiaskan perasaannya di medan perang. Misi berhasil adalah kalimat yang sudah dapat ditebak ketika salah satu Tenka Goken mengamuk.

"Anda jangan salah paham. Misi selanjutnya, terutama di Kyoto pada tahun1185, akan menjadi lebih susah dari biasanya."

Saniwa berpikir sejenak. Di zaman itu terjadinya Minamoto no Yoshitsune melarikan diri ke Kyoto. Di saat itu juga, Yoshitsune melakukan seppuku. Kemungkinan besar, para pedang revisionis akan mencegah Yoshitsune untuk melakukan seppuku. Akan tetapi, keturunannya masih ada sampai sekarang. Sama saja para revisionis melakukan hal yang sia-sia.Itu sungguh mustahil.

"Itu sungguh mustahil? Masih ada sifat naif untuk menjadi seorang buronan. Oh aku lupa, kenaifan memang identitas milik Anda."

Saniwa tidak terkejut dengan ucapan Mikazuki yang melafalkan ulang pikiran Tuannya sendiri. Mikazuki sudah ahli untuk menjadi penerjemah pikirannya. "Tidak sopan untuk membaca pikiran saya."

"Hahaha. Bakat tidak dapat dihapus dengan mudah."

"Terserah." Saniwa mengunyah camilan yang sudah ada di tangannya. "Puaskan saya dengan alasan Anda, Mikazuki Munechika-san."

Selama setengah jam Saniwa menggunakan telinga dan matanya dengan baik hanya untuk mendengar penjelasan dari Mikazuki. Tidak hanya mendengar, ia harus teliti melihat gerak-gerik pedang itu agar ia tahu apakah pedang itu serius atau sebaliknya. Walaupun jawabannya mustahil untuk mendapatkan celah dari Mikazuki, Saniwa tetap merasa tidak puas dengan alasan yang sudah dibuat oleh pedang itu.

Mikazuki langsung mengingatkannya tentang misi di zaman berakhirnya Shinsegumi. Di saat itu, Saniwa mengirimkan dua divisi sekaligus karena portal dari revisionis terbuka sampai seribu buah. Berkat mereka, terutama kombinasi kekuatan dari Mikazuki dan Tsurumaru yang mengalahkan seratus ootachi sekaligus, misi tersebut berhasil diselesaikan. Saniwa sampai puas dan membaca laporan dari Yamanbagiri berkali-kali dalam sehari. Ia juga senang memutar ulang rekaman dari Konnosuke pada saat mereka menggunakan kombinasi itu.

Mikazuki menggunakan momen itu menjadi kartu as nya untuk meminta Saniwa memindahkan Tsurumaru ke Divisi Satu.

"Saya ingin kekuatan semua Divisi sama rata. Jadi berat rasanya untuk memindahkan Tsurumaru ke divisi Anda."Ucap Saniwa jujur. Jika memang dilakukan, revisionis akan menyerang divisi lainnya dengan kekuatan penuh sehingga Divisi Satu akan tumbang karena tidak ada lagi yang bisa membantu mereka. Setelah itu, cerita kekalahan akan terkabulkan.

"Jika Anda memindahkannya, saya akan menjamin kemenangan Anda di zaman Minamoto no Yoshitsune." Tawaran Mikazuki selalu menggiurkan. Tidak ada rencana buatan Mikazuki yang gagal selama ini.

"Tunggu dulu. Kenapa Anda dapat menebak bahwa revisionis akan menyerang di zaman itu?" Tanya Saniwa curiga.

"Saya sempat membaca ulang buku sejarah. Di zaman itu banyak kejadian yang mengubah nasib manusia secara tidak langsung. Jika Anda teliti, pasti Anda juga menyadarinya."

Tapi ia sudah melakukannya dari dulu. Bahkan ia harus melawan kebosanan khanya karena membaca permasalahan yang sama walaupun dari sumber yang berbeda. Sepertinya ia harus berkutat lagi dengan kasus itu sebelum mimpi buruk menjadi kenyataan, yaitu kekalahan.

"Saya akan kasih Anda satu kesempatan. Besok, saya akan mengirimkan pedang secara acak ke zaman Ashikaga Yoshiteru yang pernah Divisi Satu kalahkan sebelumnya."

Saniwa dapat melihat raut wajah Mikazuki sedikit terkejut. Misi itu adalah misi tersulit yang pernah ia dapatkan. Bukan hanya kalah jumlah, informasi untuk musuh pun masih minim. Tidak ada yang tahu penyebab kebangkitan Ashikaga Yoshiteru. Yang mereka tahu, revisionis adalah tersangka yang membuat sejarah berubah. Beruntung Divisi Satu berhasil meminimalkan perubahan tersebut agar tidak terkena sejarah penting di Jepang. Walaupun begitu, mereka masih merasa gagal ketika melihat keluarga korban menghabiskan air matanya karena kejadian tersebut.

"Apakah Ashikaga Yoshiteru bangkit lagi?" Tanya Mikazuki serius.

"Kemungkinan besar, iya. Tapi kami masih belum memastikan hal itu." Jeda, ia menyalakan proyektornya dan gambar peta muncul di layar putih di samping mereka. "Tempat kejadiannya juga sama seperti misi sebelumnya. Saya tidak dapat mengirimkan Divisi Satu karena kemungkinan besar mereka sudah membaca gerak kalian, bahkan Oodenta-san bisa kalah jika itu terjadi." Jelasnya seraya menunjukkan titik di suatu tempat peta dengan pointer miliknya.

"Saya juga tidak menunjukkan Anda sebagai kapten. Saya hanya ingin meminta Anda untuk membimbing Nakigitsune-sanmenjadi kapten. Dia adalah calon kapten Divisi Empat yang akan kubuat secepatnya."

Mikazuki berpikir sejenak. Ekspresi nya saat ini menjelaskan kalau dia tidak keberatan dengan hal itu. "Lalu anggota lainnya?"

"Tunggu saja informasi selanjutnya. Sekarang, tolong panggilkan Nakigitsune-san untuk ke ruangan saya."

Mikazuki mengangguk sebagai jawaban dari titah Saniwa. Ia segera keluar dari ruangan itu dan memanggil uchigatana keluarga Awataguchi itu. Beberapa langkah dari ambang pintu ruangan, ia terhenti dan harus menahan amarah. Ia melakukannya karena takdir mempertemukan dirinya dan pangeran Awataguchi di siang musim panas yang cerah seperti ini. Tidak cocok dengan suasana lingkungan.

"Mikazuki-dono." Mikazuki hanya diam dan menatap intens ke orang yang memanggilnya. "Maafkan kelancangan saya karena telah mengganggu waktu sibuk Anda dengan Aruji-dono."

Mikazuki terdiam sejenak, ia tahu untuk membuat senyum ramah palsu harus membutuhkan waktu lebih lama. Iya tersenyum dan membalas permintaan maaf dari Ichigo. Tidak baik jika ia tidak ramah dengan kawan lama.

"Aku juga meminta maaf untuk kemarin. Kelelahan memang menggoyahkan emosi ku." Jeda, senyuman pun berubah menjadi seringai licik. Ichigo menyadari hal itu namun buruk sangka bukanlah hal yang baik. "Kenapa Anda tersenyum seperti itu, Mikazuki-dono?" Tanya Ichigo dengan nada penasaran.

"Yah.. mengingat kejadian malam di kamarku membuat hatiku senang, Ichigo." Jawabnya seraya mengambil pose seakan-akan pegal dengan pundak sebelah kirinya. "Tsuru yasangat bersemangat tadi malam." Lanjutnya sambil melihat ekspresi Ichigo yang terkejut mendengar jawaban darinya. Bahagia adalah kata tepat untuk Mikazuki yang melihat amarah Ichigo yang sedang bersembunyi di wajah pangerannya.

"Tsurumaru-dono berada di kamar Anda? Saya kira dia istirahat karena terluka dari misi sebelumnya."

Mikazuki tidak tahu hal itu. Akan tetapi, banyak ribuan kata yang dapat dirangkai oleh Mikazuki untuk memanipulasi teman lamanya itu. "Dia yang datang sendiri ketika mendengar berita kalau aku pulang lebih cepat. Walaupun ia terluka, ia masih ada tenaga untuk berkuda di atasku." Setelah mendengar penjelasan dari Mikazuki, tachi Awataguchi pergi dengan kobaran api cemburu yang menyelimutinya. Mikazuki lah yang menuangkan minyak tanah ke hati sang pangeran.

Suara langkah Ichigo yang membentur lantai kayu terdengar lebih keras dan tergesa-gesa dari biasanya. Beberapa orang bertanya langsung kepadanya tentang kondisinya hari ini. Namun ia menjawab baik-baik saja dengan wajah kalemnya seperti biasa. Padahal yang bertanya sudah dapat menilai kalau kondisi nya berbanding terbalik dengan jawabannya barusan.

Ichigo melihat papan daftar pedang yang sedang bertugas di honmaru maupun di medan perang. Nama Tsurumaru Kuninaga berada di kolom tugas kandang kuda bersama salah satu adik wakizashi berwajah manis dari Awataguchi. Ia juga akan memarahi adiknya karena ketahuan kabur dari pekerjaannya tadi pagi. Ditambah kotoran kuda yang ia lempar berhasil mengotori adik-adik lainnya.

Ia menuju ke tempat di mana mereka berdua mengerjakan tugasnya. Berterima kasih kepada Yagen yang telah memegang hukuman Tsurumaru sesuai janjinya dulu. Jadi, si bangau itu tidak dapat kabur darinya.

Setelah sampai di tujuan, ia dapat melihat dua pedang manis mengerjakan tugasnya dengan baik. Atau bertingkah seperti itu karena ada Ichigo yang datang ke sana.

"E-eh.. Ichi-nii. Tadi pagi aku bukan bolos kok. Cuman menggunakan jatah istirahat." Namazuo beralasan dengan nada ragu di tiap kata nya. Ia menjadi kikuk jika berbohong kepada orang lain. Sementara tachi di sebelah Namazuo hanya diam di tempat dan tidak sudi untuk membuka mulutnya. Ia merasa bahwa tatapan tajam Ichigo juga mengarah ke Tsurumaru.

Ia bingung dengan dirinya sendiri. Apakah aku pernah melakukan salah kepada nya hari ini? Hei, bahkan aku belum bertemu dengannya sampai sekarang. Walaupun ada pembelaan diri dalam batinnya, Tsurumaru tetap merasa bahwa ia akan mendapatkan amukan besar dari sang pangeran.

Ichigo berjalan ke arah mereka. Semakin dekat, ia berjalan ke arah Tsurumaru. Namazuo yang harusnya dicincang dengan ceramah kakaknya, pun bingung dengan tindakan kakaknya yang di luar juga merasakan Tsurumaru ingin lari dari tempatnya. Tapi ia tidak sempat melakukannya karena tangan Ichigo sudah mencengkeram tangannya duluan.

"Namazuo, sebagai hukumanmu, tugas Tsurumaru-donoharus kau selesaikan juga." Ucapnya seraya pergi dengan mangsanya yang sudah ia tangkap.

"Hee?! KENAPA?!" Teriak Namazuo yang bertanya sekaligus mengeluh dengan titah dari kakaknya. Namun sang kakak tidak menjawab dan pergi meninggalkan adiknya menangis pasrah di kandang kuda.

Suara langkah terburu-buru kembali terdengar. Sang mangsa hanya dapat mengikuti langkah sang predator karena ia takut untuk mati lebih cepat. Yagen yang melihat mereka berdua pun langsung menuju ke arah mereka. "Ichi-nii! Ada apa ini?!" Tanya Yagen dengan nada sedikit membentak ke kakaknya. Ia tidak habis pikir dengan tingkah laku kakaknya yang tidak seperti biasanya. Beruntung tidak ada adik-adik Awataguchi lainnya yang melihat. Ia tidak mau kalau kakak yang sudah ditunggu-tunggu bertingkah layaknya orang gila seperti saat ini.

"Kosongkan ruangan kita sekarang, Yagen." Jeda, ia pun tidak mau kalau adiknya membenci dirinya yang seperti ini. "Saya mohon."

Dengan dua kata dari kakaknya, ditambah ekspresi sedikit memelas darinya, ia langsung pergi ke ruangan untuk mengabulkan permintaannya. Kakaknya bukan sedang gila atau brutal. Ichigo hanya sosok pria yang hatinya sedang retak oleh sesuatu yang ia tidak tahu penyebabnya. Ia pun juga pernah seperti itu ketika Souza Samonji memilih Heshikiri Hasebe dibandingkan dengannya.

Ichigo dan Tsurumaru sampai ke ruangan Awataguchi yang sudah kosong berkat Yagen. Tidak menunggu waktu lama,Ichigo langsung mendorong Tsurumaru hingga tubuhnya membentur tatami. Ia juga menutup pintunya dan berdoa agar ruangan ini kedap suara.

"Apa-apaan ini Ichigo?!"Tsurumaru sempat memberontak sebelum Ichigo mengurungnya. Kaki panjang Tsurumaru sengaja ia duduki agar ia tidak mengayunkan tendangannya. Jujur, tendangan Tsurumaru sangat kuat. Ia bisa saja terlempar lagi seperti kemarin.

Kedua pergelangan tangan ditahan oleh tachi Awataguchi dengan satu tangan saja. Pergelangan Tsurumaru terlalu kecil untuk ukuran seorang laki-laki. "Jawab dengan jujur. Apakah tadi malam Anda tidur di ruang Mikazuki-dono?"

Tsurumaru langsung menjawab tanpa ragu. Ia memang tidak berniat bohong kepadanya. "Tidak. Tapi tadi pagi aku mengunjungi Mikazuki. Apakah salah aku mengunjungi pedang yang dulunya mengurusi aku?"

Salah besar jika pedang itu adalah Mikazuki-dono, batin Ichigo menahan kesalnya. Ia tidak puas dengan jawaban Tsurumaru. Segera, ia memeriksa lehernya yang tertutup oleh yukata putih dengan paksa. Bercak merah yang menempel di leher putih Tsurumaru membuat Ichigo tidak dapat menahan amarahnya.

"Ohh.. mengunjungi ya? Berapa kali biasanya Anda untuk mengunjungi pak tua sialan itu?" Tsurumaru yang tidak tahu dibalik pertanyaan itu langsung menjawab, "tidak teratur. Jika dia ada di honmaru, aku mengunjungi keluarga Sanjou tiap malam hari."

Kesalahpahaman pun menyelimuti suasana di antara mereka berdua. Tatapan yang mengarah ke Tsurumaru semakin tajam. Bahkan ia merasa tatapan itu menusuk ke dalam tubuhnya. Tsurumaru berusaha untuk tidak mendesah karena sensasi yang diberikan oleh orang yang ada di atas tubuhnya.

"Sepertinya Mikazuki-dono beruntung karena dapat menyantap leher indah ini." Ucap Ichigo seraya mengelus leher jenjang Tsurumaru. Di situlah pedang bangau itu menyadari maksud dari Ichigo.

"Tunggu dulu! Bekas kemerahan ini adalah gigitan nyamuk. Kemarin malam Sada-bou mengajakku begadang dan alhasil aku digigit oleh para nyamuk musim panas." Jelasnya terburu-buru. "Jangan berpikir aneh-aneh, Ichigo! Lepaskan aku!"

Menunggu detik berlalu, cengkeraman dari Ichigo tak kunjung lepas. Hanya kepala Ichigo yang mendekat ke wajahnya. Ia merasakan napas dari Ichigo menyentuh bibirnya, memberikan titah untuk membuka agar lidahnya dapat berdansa hingga lelah menjemputnya. "Berbohonglah semau Anda." Ciuman kasar datang ke Tsurumaru. Suara erangan berontak dan benturan antar bibir bercampur saliva pun terdengar keras.

"Saya ingin melihat Anda berkuda di atas saya. Kata Mikazuki-dono kalau Anda ahlinya, bukan?"

.

.

.

.

Malam di musim panas selalu cerah ditambah suara jangkrik merdu yang ingin berduet dengan burung hantu. Mikazuki menikmatinya di belakang ruangannya (menghadap ke kolam halaman belakang), berdua bersama sebotol sake dengan mesra. Ia mencintai sake itu sehingga mencicipi nya sedikit demi sedikit. Tidak rela ia pergi mengalahkan waktu.

"Mikazuki-dono.." seseorang memanggilnya. Ketika ia menoleh ke arah sumber suara, terlihat pria gagah bersurai putih panjang dan mata merah yang tajam. Tidak lupa kedua telinga rubah yang menjadi identitasnya. Ia bangga memiliki saudara yang tampan seperti itu.

"Ada apa, Kogitsunemaru? Mau menjadi obat nyamuk bersama kami?" Tanya sang kakak tertua seraya mengarahkan cawan sake ke arah pria gagah itu.

"Anda punya tamu malam ini." Jawabnya singkat. Tidak biasanya Kogitsunemaru menjawab pertanyaan sang kakak secara singkat. Dilihat dari raut wajahnya, Mikazuki merasa ada yang tidak beres darinya.

"Siapa?"

"Anda pasti akan membencinya."

Mikazuki mengerutkan dahinya. "Aruji? Atau si bocah Tenka Hitofuri?" Jujur, ia tidak suka jika tamu malamnya adalah Tuannya sendiri. Siapa yang tidak benci dengan rapat mendadak? Terutama di malam hari yang harusnya adalah waktu istirahat untuknya. Jangan ditanya alasan ia tidak menyukai satu orang lainnya sebagai tamu malamnya.

"Tsurumaru adalah tamu Anda, kakak." Jawab Kogitsunemaru singkat, lagi.

Mikazuki menegak satu cawan sake nya sebelum menanggapi jawaban dari adiknya. "Kenapa aku tidak suka? Dia menjadi tamu favoritku di tiap malam."

"Masalahnya..—"

DRAP DRAP DRAP

"Mikazuki-sama!" Belum sempat Kogitsunemaru menyelesaikan jawabannya, seseorang sudah menerobos masuk ke ruangannya. Sosok yang menjadi tamu favorit Mikazuki berlari seraya menangis tersedu-sedu ke arahnya. Serangan pelukan dari sosok itu berhasil membuat sake yang dipegang oleh Mikazuki membasahi lantai.

Yukata santai berwarna hitam milik Mikazuki menjadi basah. Bukan karena sake, melainkan air mata dari pemuda bersurai putih yang sedang memeluknya erat. "Tsuru?"

Yang dipanggil hanya mengeratkan dekapannya. Tangisannya pun mengalahkan nyanyian jangkrik dan burung hantu. "Mikazuki-sama, aku menyesal! Aku menyesal! Aku menyesal!"

"Pandanglah wajahku jika berbicara denganku, Tsuru ya." Tsurumaru menuruti perintah dari Mikazuki. Ia sedikit heran dengan panggilan lamanya disebut kembali oleh Tsurumaru. Ia akan bertanya setelah mengetahui siapa yang membuat Tsurumaru menangis seperti ini. Jujur, ia tidak pernah melihat pedang cantik itu menangis dan mengadu ke Mikazuki seperti ini. Kalaupun menangis, ia bukanlah tipe yang menunjukkan kesedihan di depan lainnya.

"Kau menyesal karena apa?" Tanya nya seraya mengusap pipi Tsurumaru yang basah. "Dan tolong beritahu aku siapa pelaku yang membuatmu cengeng seperti ini. Aku bersumpah—"

"Kakak, ini sudah malam. Jangan membuat keributan." Sela Kogitsunemaru yang sudah siap untuk menjaga pintu depan agar kakaknya tidak keluar dari terkekeh, namun kekeh darinya tidak terlihat santai menurut Kogitsunemaru.

"Pernahkah kau ingat dengan janjiku dulu, Kogitsunemaru?Aku akan melindungi anak ini sesuai lambang kebanggaan buatan Gojou Kuninaga."Lambang pedang Tsurumaru Kuninaga tidak hanya bergambar bangau saja. Waktu Sanjou Munechika dan Gojou Kuninaga melihat bangau besar terbang ke arah bulan sabit indah, terciptalah ide membuat lambang kebanggan untuk pedang Tsurumaru Kuninaga.

Bagaikan bulan sabit yang melindungi sang bangau, terikat sendiri oleh perjanjian yang tidak sengaja dibuat. Namun di sisi gelapnya, bulan sabit itu mengurung sang bangau yang ingin bebas terbang ke langit lebih jauh. Dari segi nama sisi gelap, sisi itu tidak akan terlihat. Permukaan bulan menjadi indah ketika ada sisi terangnya. Mantan kapten Divisi Satu pernah memberi ceramah seperti ini kepada salah satu wakizashi Awataguchi yang sempat bingung dengan kedua sisi itu.

"Tsurumaru, tolong jangan katakan sebenar—" Kogitsunemaru ingin menahan Tsurumaru untuk tidak menceritakan hal sebenarnya namun dia terlambat.

"Aku diperkosa oleh Ichigo."

"Ah, tidak." Kogitsunemaru menutup wajahnya. Sebelum Tsurumaru dipersilahkan masuk, ia sudah meminta bangau itu cerita kepada nya. Sekarang ia sudah akan dijadikan bahan amukan kakaknya sekaligus Heshikiri Hasebe. Malam yang harusnya bisa untuk waktu mimpi indahnya sekarang menjadi mimpi buruk. Bukan mimpi, karena kemungkinan besar ia tidak tidur malam ini.

Mikazuki tidak bergerak sama sekali. Shock menyerang pedang tua itu. Api amarah menyala perlahan namun masih bisa dijinakkan oleh dirinya sendiri. Walaupun bekas kemerahan yang terlihat di leher Tsurumaru memancing api itu untuk keluar.

"Kenapa dia melakukan hal menjijikkan seperti itu, Tsuru ya?"

"Dia tidak mau percaya kalau aku tidak melakukan hubungan intim denganmu. Padahal kemarin malam aku tidak ke ruanganmu." Jawabnya jelas. Seketika amukan jago merah di dalam hatinya meredup. Mikazuki melakukan kesalahan besar tadi siang. Tidak dia sangka kalau bocah Awataguchi itu melampiaskannya ke sosok yang ia sayangi. Penilaian Mikazuki terhadap pedang itu salah besar. Serigala berbulu domba memang benar-benar ada.

Kogitsunemaru yang melihat Mikazuki diam di tempatnya merasa heran. Sepertinya sang kakak bisa mengendalikan emosi seperti ia sebelumnya. Ia mengendurkan pengawasan dan penjagaan ambang pintu setelah ia tahu kondisi Mikazuki yang kembali normal.

"Kogitsunemaru," yang dipanggil hanya menatap Mikazuki dari ambang pintu. Ia berusaha melihat maksud di balik gerak-gerik kakaknya. Setelah mengerti maksud dari itu, Kogitsunemaru mengambil futon miliknya dan pindah ke ruang pedang Genji bersaudara yang kebetulan berada di samping ruangannya. Beruntung pedang Sanjou lainnya pergi menjalankan misi untuk kelompok acak buatan Aruji, sehingga tidak ada yang mengganggu dua pedang itu.

"Berhentilah menangis, Tsuru." Suara Mikazuki sedikit ada penekanan untuk pemuda di dekapannya. Walaupun terlihat memanjakan Tsurumaru, ia masih dikenal sebuah pedang yang tegas. Terkadang ia dimarahi oleh pedang Sanjou itu ketika kelakuannya terlalu berlebihan. Tidak ada yang ingin terjatuh lagi di lubang buatannya atau takoyaki pedas karena ada wasabi di dalamnya.

Tsurumaru tidak dapat menghentikan tangisannya. Seorang yang baru pertama kali patah hati memang hal yang wajar untuk menangis. Mikazuki tidak dapat berbuat apa-apa selain mengelus surai putihnya yang lembut. "Sudah kukatakan untuk tidak mendekat dengannya, bukan?" Gumamnya sendu, sedih ketika orang yang ia cintai sudah tidak suci lagi dari tangan pemuda lainnya.

Pada akhirnya, ia rela mendengar suara tangisan sang bidadari tanpa sake dibandingkan nyanyian jangkrik yang merdu sampai fajar. Tidak semua bidadari memiliki suara merdu. Nyanyian kesedihan adalah lagu terburuk yang pernah ia dengar.

Walaupun begitu, ia senang dengan suara tangisan itu. Apalagi jika bidadarinya berada di bawahnya, menangis akibat tidak menahan nikmat yang diberikan.

.

.

.

.

Ichigo merasa menyesal dengan perbuatannya yang penuh dosadi hari sebelumnya. Rasa itu muncul ketika dirinya dipanggil oleh salah satu Konnosuke untuk ke ruangan Saniwa bersama beberapa pedang lainnya. Tidak lupa ia menggunakan pakaian perangnya karena disuruh oleh rubah kecil itu. Setelah ia berada di ruangan Tuannya, ia dapat melihat Tsurumaru dalam kondisi terburuk yang pernah ia lihat.

Ia tahu kulitnya pucat, tapi hari ini kelihatan seperti mayat hidup. Bibirnya tidak lagi mengeluarkan warna indah, melainkan warna putih kesukaan Tsurumaru. Rubah milik Nakigitsune sempat bertanya namun jawabannya adalah kebalikan dengan kenyataan. Namun, Mikazuki yang juga dipanggil oleh Saniwa pun tidak bertanya kepada pedang kesayangannya.

Hari ini tidak ada kata protes dari Shokudaikiri dan Taikogane maupun amukan Ookurikara, berarti Tsurumaru tidak memberitahukannya ke saudara-saudara nya. Ichigo sebenarnya tidak keberatan jika Tsurumaru mengatakan sebenarnya. Ia memang harus disalahkan karena ia menodai kesucian putihnya bangau lebih dari sepuluh kali di ruangannya. Tapi si pedang bangau juga salah. Dua-duanya salah.

Kelompok acak terdiri dari enam pedang, yaitu : Nakigitsune sebagai kapten, Uguisumaru, Juzumaru Tsunetsugu, Ichigo Hitofuri, Mikazuki Munechika, dan Tsurumaru Kuninaga. Mereka akan dikirimkan ke zaman setelah jatuhnya istana Osaka. Honebami pernah bercerita kepada kakak tertua nya bahwa ia pernah ke zaman itu. Ia bahkan pernah mengaku misi itu adalah misi tersulit yang pernah ia dapatkan. Bahkan ia sempat pesimis kalau divisi nya akan kalah.

Jika kita melawan musuh tanpa informasi tentang lawannya sendiri, sama saja seperti orang bodoh yang menusuk pedangnya ke tubuhnya sendiri. Ichigo segan untuk mengejek Tuannya sendiri.

Sebelum menuju ke mesin waktu, sosok kawan lama menjadi musuh baru untuknya menepuk pundaknya. Bukan tepukan kerabat selayak dahulu, melainkan tepukan pundak yang mengatakan "jangan mendekati milikku." Seketika itu ia juga baru menyadarinya bahwa ia selalu mengekori Tsurumaru dari memasuki ruang Aruji sampai sekarang.

Ingin rasanya bertanya keadaannya, namun ia tidak pantas berbaik hati kepada Tsurumaru. Ia sudah menjadi peran antagonis untuk cerita hidup sebuah pedang Tsurumaru Kuninaga. Tidak ada lagi ikatan baik di antara mereka. Ichigo sendiri lah yang sudah menarik tali ikatan itu terlalu kuat hingga terlepas.

"Ichigo-dono, ada apa?" seekor rubah kecil yang selalu duduk di pundak Nakigitsune menarik atensi milik Ichigo.

"Apakah ada masalah?" Nakigitsune pun ikut menimbrung dengan nada datar khas nya. Pedang yang dari keluarga Awataguchi namun beda penempa itu khawatir dengan Ichigo. Jika ada yang tidak fokus dengan misi kali ini, tanggung jawab sang kapten bertambah berat.

"Hanya sedikit buruk." Ichigo terpaksa mengaku kepada saudara sesama pedang Awataguchi itu. "Anda tenang saja, kapten. Saya tetap bisa mengatasi nya."

"Ah, begitu." Nakigitsune sedikit lega mendengarnya. "Baru kali ini aku ditunjuk jadi kapten. Tolong bersikap wajar jika aku banyak kurang nya."

"Namanya juga kau bisa bertanya kepada Mikazuki-dono untuk masalah ini?" Ichigo juga baru menyadari bahwa pedang bertopeng itu sedikit menjauh dari Mikazuki. Posisi mereka berjalan pun jadi sedikit aneh. Ralat, sedikit harus dihapus dari kalimat itu.

Mikazuki dan Juzumaru yang memimpin perjalanan, bukan Nakigitsune. "Kitsune, jelaskan."

Rubah milik Nakigitsune angkat bicara. "Soal itu, kami merasa ada hal aneh dari Mikazuki-dono.Tidak cuman Nakigitsune, anak Awataguchi lainnya merasa kalau Mikazuki sedang marah kepada mereka."

"Ku ingatkan saja, Mikazuki memang terlihat pedang tanpa cacat satu pun. Akan tetapi, terkadang ia lupa mengoreksi ucapan dia terlebih dahulu. Jangan terlalu serius untuk menanggapinya.

"Yah.. walaupun begitu, aku juga tidak pernah bisa membedakannya. Jadi, waspada saja jika ia memang berniat buruk."

Ucapan dari Uguisumaru teriang di kepala Ichigo. Sepertinya ia harus mengawasi Tenka Goken itu dari saudara-saudara nya. "Saya akan mengawasinya dari sini. Majulah ke Mikazuki-dono. Tugas dari Aruji-dono jangan dilalaikan."

Nakigitsune menuruti nasihat dari saudaranya. Ia pun berjalan ke arah Mikazuki dan Nakigitsune bertingkah seakan-akan ia tidak merasakan aura aneh dari Mikazuki.

Sementara itu, Uguisumaru yang berada di tim tersebut dan posisi di barisan tengah selalu memerhatikan kondisi pedang di sampingnya. Jalan Tsurumaru terlihat aneh, seakan-akan satu langkah saja seperti orang yang tertusuk oleh jarum.

"Kakimu terkilir?" Tanya Uguisumaru kepada Tsurumaru. Yang ditanya hanya menggeleng sebagai jawabannya. Mulutnya ia tutup rapat seperti menahan tiap kata keluhan agar tidak tumpah sembarangan.

"Jika kau tidak ingin menceritakannya juga tidak apa. Tapi, seharusnya kau meminta Aruji untuk tidak ikut menjalankan misi ini."

"Bagaimana lagi, di saat seperti ini aku memang bisa diandalkan." Balas Tsurumaru bangga. Ia juga membawa percakapannya dengan tawa agar Uguisumaru tidak membuat situasi menjadi lebih berat.

"Huh, sombong sekali." Uguisumaru juga tertawa karena canda yang dibuat oleh Tsurumaru. "Tapi aku serius. Jika kau tumbang, aku tidak mau mengangkatmu kecuali jubahmu yang berat itu dibuang."

"Enak aja!" Mereka berdua pun tertawa dan melupakan suasana berat dari timnya. Juzumaru yang mendengar tawa itu tersenyum. Jarang melihat dua nyanyian malaikat terdengar di saat seperti ini. Semoga saja anggota lainnya menjadi semangat untuk menuntaskan misi berat yang sedang mereka jalani saat ini.

Juzumaru mencoba menoleh ke arah Mikazuki yang sedang berbicara kepada kapten timnya. Walaupun ia buta, ia dapat merasakan keberadaan orang lain. Orang yang taat selalu diberi kemudahan oleh Tuhannya.

Ia teringat kalau Mikazuki dan pedang baru yang dulunya ditempa oleh Awataguchi Yoshimitsu. Akan tetapi, mereka berdua tidak menunjukkan suatu jenis keakraban. Ditambah ia bingung dengan kumpulan buku sejarah yang ia baca di ruang buku. Ia tidak menemukan zaman apapun yang menunjukkan bahwa mereka pernah di satu zaman yang sama.

Penasaran membuat dia harus membuka mulutnya. "Mikazuki-dono," yang merasa dipanggil pun menoleh. "Anda dan Tenka Hitofuri pernah satu zaman. Kalau saya boleh tahu, zaman manakah itu?"

"Aku pernah bersamanya ketika tuanku adalah Nene-hime. Lalu, pedang kami berpindah ke tangan keluarga Ashikaga. Namun, kelihatannya ia mengalami amnesia seperti kedua adik wakizashi nya." Jawab Mikazuki lancar. Pedang yang memiliki gelar sama seperti dirinya semakin tidak paham. Sejarah Ichigo Hitofuri tidak pernah di keluarga Ashikaga.

"Bukannya pemilik sebelumnya adalah Tokugawa Ieyasu?" Tanya Juzumaru heran. Langkah Mikazuki terhenti, beralasan menunggu barisan belakang sedikit ketinggalan. Nakigitsune pun juga ikut berhenti.

"Tokugawa Ieyasu yang membunuh Ashikaga , Ichigo sudah berada di tangan keluarga Tokugawa." Ucap Mikazuki mengoreksi.

"Tidak, tidak. Maaf kelancangan saya. Tapi saya membaca buku sejarah kalau Ichigo Hitofuri memang dari dulu dimiliki oleh keluarga Tokugawa. Aku juga sempat berbincang dengan pedang itu sebelum berangkat. Jawabannya pun sama seperti buku yang aku baca."

"Mungkin ingatannya semakin parah sehingga dia lupa dengan tuannya sendiri." Tanggap Mikazuki cepat. Jika memang buku itu ada (karena banyak kumpulan buku sejarah di ruangan itu), ia dapat menyimpulkan bahwa ilmu dari sang penulis lebih buruk dibandingkan anak sekolahan. Ia akan meminta Aruji untuk membuang buku itu untuk menghindar salah informasi seperti Juzumaru.

"Tuan-tuan sekalian, maafkan saya yang telah menyela pembicaraan kalian." Rubah milik Nakigitsune memotong pembicaraan dua pedang Tenka Goken. Kedua pedang itu memandang ke arah Nakigitsune dan rubahnya.

"Barisan belakang belum kunjung datang."

"Konnosuke juga tidak ada." Ucap Nakigitsune melanjutkan ucapan dari rubahnya. Tanpa menunggu detik berjalan, mereka bertiga memutar balik arah dan berlari untuk menjemput barisan belakang. Keringat dingin mulai membasahi wajah mereka, ketakutan punmulai menghantui. Jika Konnosuke tidak muncul, ada kemungkinan kalau rubah itu tertangkap oleh pedang revisionis sejarah.

Kalau itu sampai terjadi, semua data penting akan diretas.

Setelah mereka bertiga sampai, ia dapat melihat banyak sosok hitam berbau darah segar mengepung anggota tim lainnya. Kedua mata heterochromia milik Mikazuki terpaku pada salah satu pedang berpakaian serba putih yang sedang terbaring di tanah. Dari posisi nya, ia dapat mengambil kesimpulan bahwa pedang itu didorong kuat oleh musuh hingga tubuhnya menabrak pohon besar. Patah tulang bukanlah cedera ringan.

Di depan tubuh itu terlihat sosok Tenka Hitofuri yang ia benci bertarung melawan ootachi. Sekali tebasan dari Ichigo, ootachi pun musnah dan menerima kekalahannya.

"Nakigitsune! Belakangmu!" Teriakan Uguisumaru mengaktifkan gerak refleks dari Mikazuki. Sosok musuh dan tuan lamanya itu muncul kembali. Mengayunkan pedang layaknya sapaan untuk pedang tercinta nya.

TANG!

Suara benturan pedang paling kerasyang pernah mereka dengar, bahkan Mikazuki tidak menyangka hal itu. Kekuatan Ashikaga Yoshiteru lebih kuat dibandingkan sebelumnya. Sepertinya ia bahkan kalah dari tuannya sendiri.

"Juzumaru!" Tanpa menunggu waktu berjalan, pedang pembawa tasbih menebas pedang bertopeng itu dengan cepat. Formasi dan susunan tim dari Saniwa memang selalu tepat. Jika tidak ada Tenka Goken di timnya, patah adalah kenyataan pahit yang harus diterima oleh Mikazuki.

"Mikazuki-dono, terima kasih telah menolong kami." Ucap rubah milik Nakigitsune.

"Kami sangat berhutang atas kejadian barusan." Nakigitsune melanjutkan ucapan rubahnya seperti biasa. Mikazuki hanya tersenyum, ia juga bersyukur bahwa uchigatana Awataguchi itu selamat dari panggilan maut. Tidak ada yang mau melihat rekannya sendiri mati di tempat.

Sebuah tangan mendarat di atas surai putih milik Nakigitsune. Elusan bersahabat membuat Nakigitsune semakin menghormati pedang itu. Bahkan saudara tachi yang melihat momen itu hanya bisa terdiam karena saking terkejutnya. "Sepertinya kau harus menulis banyak laporan. Tapi tenang saja, aku masih bisa membimbingmu." Nakigitsune pun mengangguk. Suara terima kasih darinya ditangkap oleh pendengaran Mikazuki walaupun dengan volume kecil.

Di saat itu juga, Uguisumaru menghampiri Ichigo yang masih belum bergerak dari tempatnya sama sekali. Ia pun juga menyiku lengan pedang bersurai biru muda itu sehingga kedua netra emas milik Ichigo tidak terpaku ke arah Mikazuki.

"Ucapkan terima kasih kepada beliau." Setelah itu, Ichigo berjalan menuju pedang Sanjou itu tanpa ragu. Uguisumaru bangga melihat rekannya seperti itu. Mungkin sifatnya seperti itulah menurun ke Hirano selaku adiknya.

"Mikazuki-dono.." Tenka Hitofuri yang dibenci oleh Mikazuki memanggilnya. Tidak ada ekspresi benci terhadapnya. Mikazuki mengangkat salah satu alis matanya karena heran melihat ekspresi yang tidak sesuai dengan dugaannya.

Sosok yang tidak ia sukai itu membuat pose menunduk hormat ke arahnya. Terlalu sempurna untuk dikatakan sebagai sandiwara, Mikazuki semakin tidak menyukai nya. Uguisumaru yang mengerti suasana di antara mereka berdua langsung mengajak Juzumaru untuk mencari Konnosuke yang hilang.

"Terima kasih telah menolong saudara saya. Tidak pantas bila Anda tidak meminta imbalan apa pun dari saya.." jeda, Ichigo menyiapkan kata-katanya agar tidak terlihat ragu di depannya. "Karena saya sudah berpikir buruk terhadap Anda."

Ucapan terima kasih dari Ichigo membuat Mikazuki teringat dengan ucapannya beberapa hari lalu. Ia sempat mengancam kepada Ichigo untuk menghabisi pedang keluarga Awataguchi jika mendekati Tsurumaru. Sedikit menyesal dengan ancamannya walaupun tidak ingin mengakui hal tersebut. Para pedang Sanjou selalu mengingatkannya berkali-kali untuk mengatasi keburukan yang ada di dalam dirinya.

Ia hanya tidak ingin bidadari kecilnya terluka lagi akibat pedang dulunya juga dari Awataguchi. Keselamatan Tsurumaru paling diutamakan karena ia Gojou Kuninaga yang mengharapkan hal tersebut. Bulan sabit dapat melindunginya dari ancaman, itulah makna dari lambang kebanggaan Tsurumaru Kuninaga. Sebenarnya tidak hanya itu, ada satu hal yang membuat sang pedang bergelar Tenka Goken selalu posesif terhadap pedang bangau itu. Ia tidak dapat menyebutkannya karena itu adalah dosa yang tidak akan pernah diampuni oleh siapa pun.

Jatuh cinta terhadap cucunya sendiri bukanlah dosa kecil. Dunia tidak dapat mendukung kisah cintanya.

"Nakigitsune, tolong susul Uguisumaru dan Juzumaru. Kau harus tahu kondisi Konnosuke untuk menjadi bahan laporan." Yang disuruh pun pergi untuk melaksanakannya. Sekarang hanya sosok dua pedang saling berhadapan dan satu pedang yang sedang tidak sadarkan diri.

"Berdiri tegaklah, nak. Aku tidak dapat melihat wajah mantan Tenka Goken yang dicintai oleh Tsurumaru." Jawaban yang tidak disangka berhasil membuat Ichigo terkejut mendengarnya. Mungkin inilah alasan Tsurumaru senang dengan Mikazuki karena selalu berhasil membuat kejutan dibandingkan dirinya sendiri.

Sang Tenka Hitofuri pun melakukan apa yang dikatakan oleh Mikazuki. Tidak ada tatapan tajam dari mata heterochorme ke emas. Apakah Ichigo dapat mengibarkan bendera karena sudah diakui oleh pedang terhormat di hadapannya?

Mikazuki meminta penjelasan dari Ichigo karena sempat terpisah dengan anggota tim lainnya. Yang diminta pun menjawabnya dengan rinci. Mereka masih mementingkan misi dibandingkan emosional individu mereka.

Awalnya, Uguisumaru menyadari ada sesuatu di balik pohon ketika dalam perjalanan. Ia mengajak dua pedang lain untuk memastikannya. Di saat itu juga, salah satu pedang revisionis berukuran wakizashi mengejar Konnosuke yang berlarian untuk menghindar dari musuh.

Mereka berusaha mengejar wakizashi itu sampai sosok musuh lainnya menyerang Tsurumaru. Pada awalnya, pedang tersebut masih dapat mengalahkan musuh. Namun, ia diserang oleh pedang berukuran tachi dari belakang hingga terlempar dan mengenai pohon besar. Tsurumaru mengalami retak dan tidak sadarkan diri.

Musuh pun berdatangan dan mereka kalah jumlah dengan para pedang revisionis. Sebelum Mikazuki dan lainnya datang menghampiri mereka, jumlah mereka sekitar 20 pedang. Kondisi Ichigo baik-baik saja namun Uguisumaru mengalami cedera ringan di pergelangan kakinya. Pedang bersurai hijau itu tidak sengaja memijak batu kecil hingga kakinya tidak dapat menapak tanah dengan sempurna.

"..dan Konnosuke-dono masih tidak diketahui keberadaannya." Ujar Ichigo. Ia juga menjelaskan bahwa musuh yang menggunakan topeng merah itu belum muncul sampai tiga anggota tim lainnya datang.

Penjelasan panjang itu membuat Mikazuki ingin menginformasikan ke Saniwa tentang zaman Minamoto no Yoshitsune melakukan seppuku. Zaman itu adalah zaman yang paling rawan untuk diserang oleh para revisionis sejarah. Ditambah dari penjelasan Ichigo dan pengamatan Mikazuki bahwa musuh bertambah kuat dibanding sebelumnya. Untungnya, Ichigo masih dapat mengatasinya. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya jika Ichigo tidak kuat seperti ini.

Namun sebelum itu, ia juga akan mempelajari kesalahan buku sejarah yang diceritakan oleh Juzumaru barusan. Ia merasa kesalahan itu bukanlah kesalahan yang tidak disengaja oleh penulis. Ditambah Ichigo terlihat tidak peduli dengan sosok yang menyerang saudaranya tadi. Tidak seperti Honebami yang langsung mencari tahu tentang sosok tuannya dulu.

Setelah lama berpikir panjang, suara langkah kaki dari para anggota tim terdengar. Salah satu dari mereka membawa Konnosuke dalam keadaan rusak parah. Mikazuki berharap kalau musuh tidak meretas data milik rubah tersebut.

Kedua mata heterechrome nya menuju ke sosok pedang yang masih belum sadar dari mimpi buruknya. Ia menyesal sudah membuat sesuatu terlarang kepada pedang Gojou itu tadi malam. Stamina Mikazuki terlalu tinggi dibandingkan Tsurumaru. Ia pun juga memaksa minta lebih walaupun Tsurumaru sudah kehabisan napas untuk berteriak indah di malamnya.

Belum sempat untuk berjalan ke arah pedang itu, Ichigo sudah mengambil start. Pedang tachi layaknya pangeran itu menggendong tachi kesayangannya tanpa kesulitan. Walaupun badannya tidak besar, tenaga pedang itu menyaingi milik Mikazuki. Mikazuki tidak terkejut akan hal itu. Ia sudah mengenalnya ketika Toyotomi Hideyoshi menggunakan pedang tersebut.

Mikazuki menghampiri mereka berdua. Salah satu tangan yang diselimuti oleh sarung tangan hitamnya mengelus pipi pedang yang sedang tertidur pulas di punggung Ichigo. Ia sempat memberi ciuman sekilas tepat di bibirnya, namun Ichigo membiarkannya.

"Tidak marah denganku?" Mikazuki bertanya kepada Ichigo.

"Anda juga, kenapa membiarkan saya untuk menggendongnya?" Ichigo membalasnya dengan pertanyaan.

"Anggap saja kita impas, Ichigo Hitofuri."Setelah membalas pertanyaan Ichigo, Mikazuki pun meninggalkan mereka berdua dan menuju Nakigitsune untuk membimbingnya kembali. Ichigo ditinggal dengan banyak pertanyaan muncul di pikirannya. Akan tetapi, pertanyaan itu lenyap ketika Indera pendengarannya menangkap suara bidadari yang terbangun dari mimpi buruknya.

"Ichigo?" Suara nya terdengar serak, Ichigo ingin membunuh dirinya sendiri karena ia telah membuat pedang tercinta nya seperti ini.

"Bagaimana kondisi Anda?" Tanya nya seraya mengikuti langkah para anggota tim lainnya. Sengaja ia memposisikan dirinya di barisan paling belakang.

"Sepertinya tulangku retak. Aku akan merepotkan Aruji lagi." Jawabnya lemah. Mungkin hanya Ichigo yang dapat mendengarkan suaranya. Andaikan ia tuli sementara, Ichigo tidak akan merasakan hatinya retak mendengar suara malang tidak dapat berbuat apa-apa selain menggigit bibirnya.

"Tsurumaru-dono, maafkan saya yang telah berbuat jahat kepada Anda."

"Jangan minta maaf.. aku sudah membenci mu." Balasan yang lebih menyakitkan dibandingkan terbakar oleh amukan api. Baru kali ini ia mendengar nada kebencian dari seorang Tsurumaru Kuninaga. Pedang yangramah, cantik, dan ceria itu bisa mengatakan hal seperti itu dengan terus seperti itu, Ichigo tidak akan melihat senyuman malaikat itu lagi. Tuhan sedang menghukumnya.

Setitik air menyentuh wajah sang pangeran, lalu air nya menjadi lebih deras sehingga wajah memikatnya menjadi basah. "Ah, hari ini hujannya begitu deras ya." Gumamnya kecil, namun Tsurumaru dapst mendengarnya dengan jelas.

"Hari ini cerah. Kau sudah mulai halusinasi."Sahut Tsurumaru.

"Tidak. Apakah Anda tidak melihatnya?" Suara Ichigo yang bergetar membuat Tsurumaru sadar dengan maksud Ichigo. Ia juga dapat merasakan beberapa titik airnya membasahi tangannya yang mengalungi leher Ichigo. Segera, ia mengarahkan tangannya ke wajah sang pangeran. Hujan yang dimaksud sang pangeran lebih terasa di tangannya.

"Ichigo.. kumohon jangan menangis.."ucapnya seraya mengusap wajah sang pangeran dari belakang. Ia tidak dapat melihat wajahnya, namun ia tidak tega ketika air hujan itu terus membasahi wajah pedang yang ia cintai. "Kumohon.. aku semakin tidak bisa membenci mu."

"Kalau begitu jangan." Ichigo membalas permohonan Tsurumaru. "Saya hanya ingin mengikat Anda agar bisa bersama. Kenapa Anda memutuskan ikatan itu dengan mudah?"

Pertanyaan Ichigo membuat Tsurumaru menutup mulutnya sesaat. Ia tidak merasa bahwa dirinya yang memutuskan tali hubungan mereka. Jika ada, ia dapat menantang Ichigo di waktu kapan ia melakukannya.

"Nee Ichigo, untuk mengikat suatu benda dengan tali harus ada teknik untuk membuat simpul agar tidak mudah lepas, bukan dengan paksaan sampai tali itu rusak bahkan putus."

Ichigo mengerut dahinya, bingung dengan ucapan tachi yang sedang ia gendong. Belum sempat bertanya, Tsurumaru melanjutkan ucapannya.

"Untuk mengikatku dengan benar juga harus ada tekniknya, yaitu kepercayaan."

"Percaya? Bagaimana saya bisa percaya jika Anda berbohong terus kepada saya?"

Tsurumaru pun membalas walaupun ia lelah untuk berbicara lebih panjang. Rasa sakit yang menusuk selalu mengganggunya. "Apakah kau punya bukti jelas kalau aku melakukannya sama Mikazuki sebelum dirimu?"

Ichigo terdiam sejenak. Ia tidak dapat menjawab pertanyaan Tsurumaru. Sekarang ia baru sadar bahwa ia belum mempercayai Tsurumaru sepenuhnya. Ia termakan oleh ucapan Mikazuki dibandingkan percaya kepada Tsurumaru. Ia tidak melakukan teknik menyimpul dengan benar. Tali yang menghubungi mereka putus karena ulahnya sendiri.

"Maaf, Tsurumaru-dono. Bolehkah Anda beri saya waktu untuk belajar mempercayai Anda?"

Kata maaf lagi. Sebenarnya ia tidak ingin menerima kata itu lagi. Rasa cinta kepada sang pangeran hampir sirna karena kejadian kemarin. Mengingatkan dirinya akan sosok tachi Awataguchi lainnya. Tapi...

"Asalkan kau tidak menangis lagi."

Tidak ada yang ingin menangis untuknya selain pedang Ichigo Hitofuri. Senang sekaligus sedih karena ia sudah melukai hati sang pangeran.

Kau ini.. benar-benar mencintaiku ya?

.

.

.

.

6 bulan kemudian

Keadaan honmaru masih normal seperti pertama kali Ichigo datang. Beberapa pedang baru pun bermunculan bahkan beberapa dari mereka ada yang dari Awataguchi. Anggota keluarga pun semakin banyak dan futon semakin memenuhi ruangan pedang Awataguchi. Asalkan mereka senang, sang kakak juga senang. Walaupun salah satu adiknya bernama Houchou menyukai Uguisumaru karena mirip dengan wanita bersuami atau pedang cantik lainnya yang mirip seperti ibu rumah tangga. Bahkan Saniwa pun diincarnya.

Adiknya itu juga pernah menyukai Tsurumaru dan selalu mengikutinya ketika ia ingin mandi di onsen. Alhasil, Ichigo pun mengancam untuk menyita jatah permen dan camilannya jika masih ingin berbuat mesum kepada Tsurumaru.

Walaupun begitu, Ichigo bahagia.

Hubungannya dengan Mikazuki membaik namun masih ada persaingan dalam bentuk sehat. Saniwa pernah berkata untuk merombak kembali divisi yang sudah dibentuk. Akan tetapi, pemuda itu mengurungkan niatnya dan membentuk Divisi Keempat yang dipimpin oleh Nakigitsune.

Beliau sempat takut kalau data yang ada di Konnosuke diretas. Namun sampai sekarang para revisionis sejarah tidak menunjukkan gerakan yang aneh. Saniwa menjadi lebih tenang. Akan tetapi, Ichigo merasa kebalikan dengan Tuannya saat ini. Selama setengah tahun lebih berada di honmaru dan melakukan banyak misi bersama divisi dua, ia masih belum membaca kelemahan para revisionis sejarah walaupun ia selalu mengalahkannya. Hanya saja, jumlah ootachi semakin bertambah banyak.

"Ichi-nii, kenapa melamun? Aku lempar kotoran kuda kalau memikirkan Tsurumaru-san lagi lho~"Suara godaan Namazuo menyadarkan Ichigo dari lamunannya. Saat ini ia mendapatkan tugas mengurus pakaian bersama Namazuo. Musim dingin membuat mereka tidak dapat menjemur pakaian. Mengandalkan mesin cuci dan penghangat adalah solusi utama untuk menyelesaikannya. Sekarang mereka sudah membawa dua keranjang pakaian yang sudah kering dan melipatnya di ruangan mereka.

"Kau ingin kuhajar di ruang latihan atau menyita camilanmu selama seminggu?"

"Ehehehe.. Ichi-nii baik banget. Nanti kita pijat pundak Ichi-nii. Iya 'kan Honebami?" yang diajak berbicara tidak menjawabnya. Honebami tetap mengekor saudara nya pergi ke ruangan mereka. Kebetulan Honebami tidak mendapatkan tugas apapun.

"Dasar." Gumam Ichigo sambil menyentil dahi Namazuo. Tawa mereka muncul untuk menghangatkan musim dingin yang menusuk tulang. Bahkan wajah dingin Honebami mencair akibat tawa hangat tersebut.

Setelah sampai di ruangan, terlihat pedang berpakaian serba biru dan slayer kuning duduk manis di kepala nya berdiri di samping ambang pintu ruangan. Ichigo yang menyadari sosok itu langsung memanggilnya. "Mikazuki-dono? Ada apa gerangan?"

"Apakah ada misi untuk Divisi Satu?" Honebami ikut bertanya kepada Tenka Goken tersebut.

"Aku ingin meminjam kakak kalian jika tidak keberatan." Jawab Mikazuki dengan senyuman khasnya. Ichigo lega melihatnya. Tidak ada senyuman palsu lagi menempel di wajah pak tua Sanjou itu.

"Boleh kok. Asalkan camilan Mikazuki-san hari ini untuk kami ya!" Namazuo ikut menimbrung seraya mengambil keranjang pakaian yang dibawa oleh Ichigo. Anggukan Mikazuki membuat Namazuo bersorak kegirangan.

Mikazuki pun pergi dari tempatnya barusan, disusul oleh Ichigo yang masih tahan menyimpan banyak pertanyaan kepada pedang tersebut. "Anda terlalu baik kepada Namazuo." Ucapnya seraya menyamakan posisi jalannya dengan Mikazuki.

Mikazuki mengeluarkan tawa khasnya sekaligus membalas ucapan Ichigo, "kedua anak itu selalu kumanjakan di zaman Ashikaga."

"Anda pernah bersama mereka?" Tanya Ichigo dengan nada terkejut. Setelah jauh dari ruangannya, langkah Mikazuki terhenti. Begitu pula Ichigo yang mengikutinya. "Mikazuki-dono?"

"Ichigo, aku ingin memastikan ini.. semoga saja ingatanmu masih ada sisanya."

Apa maksudnya? Aku tidak mengalami amnesia seperti Honebami. Batin Ichigo bertanya.

"Pada zaman apa kita pernah bekerja bersama?" Tanya Mikazuki dengan nada serius. Lalu,Ichigo menjawab pertanyaan dengan ragu. "Sepertinya aku lupa nama tuanku sebelum Tokugawa Ieyasu. Nama marga nya kalau tidak salah adalah Toyotomi."

"Tokugawa Ieyasu bukan tuanmu." Sela Mikazuki cepat.

"Apa maksud Anda? Bukannya keluarga Toyotomi menyerahkanku kepada Tokugawa Ieyasu-dono? Saya masih mengingatnya dengan jelas." Ucapnya jelas. Menunggu balasan dari Mikazuki tidak terlalu lama. Namun ekspresi serius dari Mikazuki membuat ia tidak sabar apa yang dimaksud dengan ucapan Mikazuki.

Sebuah tangan mendarat di atas salah satu pundak Ichigo. "Aku, Namazuo, Honebami, dan dirimu pernah satu zaman dan diletakkan di kediaman keluarga Ashikaga. Setelah Toyotomi Hideyoshi menyerahkanmu dan diriku, kita dipertemukan lagi di keluarga Ashikaga."

"Apa maksud An-"

"Mungkin kau baca buku sejarah ini dulu. Aku tidak dapat menjelaskannya lebih rinci. Setelah itu, aku mohon kerja sama kau."

Ichigo menerima sebuah buku tebal bersampul cokelat tua dari Mikazuki. Ia juga baru menyadari bahwa pedang itu membawa buku seberat ini dari tadi. Ichigo harus menyimpan banyak pertanyaan untuk rekan lamanya itu. Ia akan menyisakan waktu malamnya untuk membaca buku di tangannya.

DRAP DRAP DRAP DRAP

Suara langkah kaki yang membentur lantai kayu terdengar buru-buru. Kedua pedang yang tadinya berbincang dengan serius mengedarkan pandangan mereka ke arah sumber suara. Terlihat ootachi bernama Hotarumaru menarik Akashi Kuniyuki yang terlihat tidak semangat seperti biasa ke suatu tempat.

"Ayo, Kuniyuki! Pedang ini susah dicari, lho."Kata Hotarumaru dengan semangat.

"Aku tidak peduli, Hotarumaru. Aku baru saja diperbaiki oleh Konnosuke." Balasnya lemah.

"Kalau kau semangat, nanti kau bisa tidur di pangkuanku." Setelah tawaran menggiurkan dari Hotarumaru keluar, Akashi memosisikan dirinya untuk berjalan lebih tegak. Dasar pedofil.

"Oya, Hotarumaru. Sudah pulang dari misi?" Tanya Mikazuki ke Hotarumaru.

Hotarumaru mengangguk dengan semangat dan menjawab, "iya. Dan kami dapat pedang Tenka Goken lho. Jangan meremehkan Divisi Tiga! Hehe."

Mereka salut mendengar berita dari honmaru. Divisi tersebut terdiri atas 6 pedang : Hotarumaru, Akashi Kuniyuki, Shishiou, Yamatonokami Yasusada, Kashuu Kiyomitsu, dan Mutsunokami sebagai kaptennya. Dilihat dari isi anggota nya, ada dua pedang yang menjadi kartu As dan Joker. Ichigo pernah melawan Yamatonokami pada saat latihan. Melawan uchigatana manis yang brutal seperti tuan lamanya membuat Ichigo sempat kesulitan. Kalau Hotarumaru dapat dilihat kekuatannya sebagai ootachi. Ichigo pernah melihatnya membawa Otegine dengan mudah. Tidak mengejutkan bila divisi tersebut berhasil mendapatkan pedang bergelar Tenka Goken.

Tunggu.. Tenka Goken?

"Siapa nama pedangnya?!" Ichigo dan Mikazuki bertanya secara kompak. Hotarumaru dan Akashi saling bertatapan, bingung dengan dua pedang tachi yang bertanya Hotarumaru dan terlihat tidak sabar menunggu jawaban dari ootachi tersebut.

"Onimaru Kunitsuna desu."Setelah nama itu keluar dari mulut sang ootachi, Mikazuki dan Ichigo berlari ke ruang penempa. Sementara Hotarumaru dan Akashi ditinggal kebingungan.

"Apakah mereka ingin mengadakan reuni, Kuniyuki?"

"..sepertinya kita tidak boleh ikut campur, Hotaru."

.

.

.

.

To be continued

Author's note:

Halohaaaaa readers. Akhirnya aku bisa menyelesaikan ffn ini. Sumpah.. ini buatnya harus dengar lagu mellow biar feel nya kerasa. Semoga aja para readers senang bacanya :v

Betewe maaf ya ga ada cerita dewasa nya. Aku ga kuat kalau disuruh buat cerita dewasa. Biasanya ada temanku yang membantu untuk membuatnya (dia mah masternya) tapi sekarang kami terpisah oleh ruang dan waktu /eaaa.

Sebenarnya Mikazuki itu melakukan *titttt* sama Tsuru. Si Tsuru terima aja karena pelampiasan. Dasar bango ababil :v.

Sekian dari aku ya! Saran dan Kritik yang membangun selalu diterima.

-coretankecil