Love is gone away
Love is gone away
Love is gone away
Neon utgo itneunde nan michyeoga
Oh No
.
.
Renjun menatap ponsel berwarna putih di tangannya dengan sesekali menghela nafasnya. Menyalakan ponselnya sekali lagi, Renjun mendesah dengan keras begitu tidak ada notifikasi pesan ataupun telfon dari seseorang yang memang sudah ia nantikan sejak tadi.
"Mark hyung, kau kemana sebenarnya?" Renjun berbicara pada foto yang menjadi wallpaper layar ponselnya. Sudah beberapa hari belakangan ini kekasihnya, Mark Lee, tidak menghubunginya sama sekali. Ditambah dengan pemandangan yang dilihatnya kemarin, membuat pikiran negatif datang begitu saja ke otak Renjun.
Menyimpan ponselnya di atas nakas, Renjun lantas membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Menatap langit-langit kamarnya dengan mata yang berkaca-kaca. Memeluk gulingnya, Renjun berusaha untuk tidur. Tapi sayang, dia tidak bisa. Otaknya masih saja terus memikirkan Mark yang beberapa hari terakhir berubah sikap kepadanya membuat Renjun merasa tersakiti. Hingga tanpa sadar, air mata turun melalui kedua matanya. Dan akhirnya, Renjun pun tertidur karena kelelahan menangis.
.
Renjun melangkah di koridor kelasnya dengan sesekali tersenyum tipis membalas sapaan dari teman-teman satu sekolahnya. Langkah Renjun terhenti begitu matanya menangkap wajah seseorang yang begitu sangat ia rindukan suaranya. Tangan kanan Renjun reflek melambai begitu Mark melihat ke arahnya. Renjun melihat Mark tersenyum tipis tanpa ada niatan untuk membalas lambaian tangannya.
Renjun menghela nafas berat begitu Mark melanjutkan langkahnya diiringi Jaemin yang bercoleteh dengan riang di samping kekasihnya itu. Hati Renjun seperti tercubit melihat pemandangan seperti ini setiap harinya. Pemandangan yang selalu terulang. Jujur, Renjun sangat muak sekarang. Renjun itu kekasih Mark kan? Tapi kenapa sikap Mark seperti ini padanya.
Renjun mengusap dengan cepat air mata yang tiba-tiba menetes dari matanya. Renjun memegang dadanya yang terasa sakit. "Apa yang harus aku lakukan hyung? Hal apa yang bisa membuatmu lebih memahami perasaanku, apa hyung?"
.
Jeno menyentuh pundak Renjun yang membuat sang empunya tersentak kaget. Menolehkan kepalanya, Renjun menemukan Jeno yang tersenyum ramah padanya.
"Melamun saja. Ada masalah?" Jeno mendudukan dirinya di kursi samping tempat duduk Renjun. Renjun kembali menghela nafas, menggeleng lalu setelahnya tersenyum tipis sembari berkata, "Tidak ada."
Jeno terkekeh pelan, tangannya merebut pensil Renjun yang pemuda manis itu gunakan untuk menggambar. "Kau tidak bisa berbohong padaku, Moomin."
Renjun berdecak kesal. Ini salahnya juga yang selama ini terlalu terbuka pada sahabat tampannya itu. Sehingga Renjun, tidak bisa menyembunyikan hal apapun dari Jeno.
"Biar aku tebak. Ini pasti ada kaitannya dengan Mark hyung." Jeno menatap Renjun dengan sinar mata jahil. Renjun menggembungkan pipinya pertanda merajuk.
"Kalau sudah tahu, jangan bertanya lagi." Sahut Renjun kesal. Jeno terbahak sebentar sebelum mendapat tatapan tajam dari sahabat manisnya itu.
"Habisnya, kau juga bandel sih."
"Bandel kenapa memangnya?"
Renjun menatap Jeno bingung yang membuat pemuda yang lebih tinggi itu menghela nafasnya sebelum membalas tatapan Renjun.
"Kau bandel karena tidak mendengarkan perkataanku. Dari awal kan aku sudah bilang, jika Mark hyung itu tidak mencintaimu. Kau saja keras kepala." Jeno menyentil dahi Renjun yang membuat Renjun terpekik keras.
Renjun mengalihkan pandangannya ke arah jendela dan menatap langit biru yang terlihat. "Habisnya, aku juga sudah jatuh cinta sangat dalam sih, pada Mark hyung."
Jeno memutar bola matanya malas begitu mendengar ucapan Renjun yang menurutnya berlebihan itu. "Ya, terserahmu saja."
Dan ketika pandangan Renjun teralih pada lapangan basket yang tak jauh dari kelasnya, Mark tersenyum ke arahnya. Tapi entah mengapa, Renjun malah merasa sedih melihat senyuman itu.
.
Renjun menatap Mark yang duduk di depannya sementara pemuda berambut pirang itu fokus dengan telfon genggamnya. Renjun mendumal dalam hati. Renjun itu tidak suka diabaikan, apalagi ini sudah sering kali Mark lakukan padanya. Renjun sudah tidak kuat. Renjun itu benar-benar mencintai Mark, tapi kenapa Mark selalu membuatnya sedih?
Memang salah Renjun ketika dulu Mark menyatakan perasaannya, Renjun langsung menerimanya tanpa benar-benar tahu jika Mark itu mencintai dirinya atau tidak. Renjun ingin, sekali saja, Mark bilang jika Mark mencintainya, bukan hanya menyukainya.
Renjun berdeham, mencoba menarik perhatian Mark yang tak kunjung menatapnya meskipun mereka sudah berada di cafe favorit mereka ini sejak setengah jam lalu. Semenjak datang kemari, Mark fokus bertukar pesan dengan seseorang di ujung sana (yang bisa Renjun pastikan itu Jaemin) hingga sang kekasih mengabaikannya begitu saja.
Tidak mendapat respon yang berarti, Renjun pun menghela nafasnya dengan berat. Membasahi bibirnya, Renjun mencoba membuka suaranya, "Hyung, kita... sudahi saja ya?"
Kegiatan Mark terhenti seketika begitu mendengar suara ragu dari Renjun. Menaruh telfon genggamanya di atas meja, Mark mengalihkan pandangannya untuk menatap Renjun, "Kau, bilang apa?"
Renjun meneguk ludahnya gugup. Tangannya sibuk mengaduk-aduk Caffe Latte miliknya, sementara matanya berusaha untuk tidak menatap atau bahkan mengarah pada Mark. Meskipun itu sulit.
Mark membuang nafasnya, tangannya terulur meraih tangan Renjun dan di genggamnya erat.
"Aku minta maaf akan sikap ku akhir-akhir ini. Aku janji, aku akan berubah."
Renjun mendongak, menatap mata Mark dan tertawa pelan setelahnya. Sudah berapa kali Mark bilang begitu sejak beberapa bulan lalu semenjak mereka resmi menjadi sepasang kekasih? Nyatanya, Mark sama seperti dulu sebelum mereka jadian. Cuek dan dingin. Walaupun dua minggu berpacaran Mark sedikit berubah, tapi setelah itu Mark kembali pada sifat asalnya.
Mark masih menatap mata Renjun yang dibalas juga oleh Renjun.
"Aku menyesal Renjun, sungguh."
'Menyesal katamu? Kau bohong, hyung.' Renjun bergumam dalam hati. Tak berniat membalas perkataan Mark sedikit pun. Mark mendesah pelan, matanya sudah kehilangan binarnya sejak Renjun menertawakannya tadi.
"Bicaralah, Renjun!"
Renjun menarik tangannya dari genggaman tangan Mark. Lalu menyesap Caffe Lattenya yang sudah mendingin, lalu beralih lagi pada Mark.
"Aku tak habis fikir denganmu hyung. Kalau kau berfikir terlebih dahulu, seharusnya kau tidak melakukan hal ini. Kau tahu benar jika aku mencintaimu tapi nyatanya kau tidak menghargai diriku atau perasaanku sedikit pun. Aku bukan diriku yang dulu lagi sekarang, aku sudah berubah."
Renjun mengatur emosinya yang menumpuk dalam hatinya. Sudah cukup! Benar kata Jeno, Mark itu tidak mencintainya. Meskipun cinta memang perlu diperjuangkan, tapi jika diabaikan terus-menerus, maka ia akan bosan juga. Seperti yang dirasakan Renjun sekarang.
"Jadi, mari akhiri hubungan tidak berguna ini?"
Setelah mengatakan hal itu, Renjun berdiri dari duduknya. Berjalan meninggalkan Mark sebelum pemuda berstatus kekasih (atau mantan kekasih)-nya itu masih berusaha untuk mencerna apa yang sebenarnya telah terjadi. Dan saat Mark sudah bisa mencerna semuanya, dia terlambat karena Renjun sudah pergi dari cafe itu.
Mark menggeram pelan. Menatap kursi di hadapannya yang sudah kosong. Renjun sudah pergi dan kini ia sendirian. Tapi Mark tetap bisa merasakan kehangatan yang memang selalu ia rasakan jika bersama Renjun. Kehangatan yang tak pernah ia rasakan ketika bersama orang lain. Dan kini, kehangatan itu akan hilang? Oh tidak! Mark tidak bisa membiarkan hal itu terjadi.
Dengan cepat, Mark meraih ponselnya. Menghubungi seseorang di ujung sana yang mungkin bisa membantunya.
"Halo Jaemin?"
.
.
Renjun memeluk boneka moominnya dengan erat. Sudah dua hari Renjun mengurung diri di dalam kamarnya. Jangankan pergi sekolah, pergi keluar kamar saja malas. Beruntung kedua orangtuanya tidak sedang di rumah, jika ada, mungkin Renjun sudah habis di ceramahi.
Renjun mengerutkan keningnya begitu handphone berwarna silver di atas nakasnya bergetar. Sejak kapan Renjun mengaktifkan handphonenya? Seingat Renjun, semenjak dua hari lalu, Renjun sudah mematikan ponselnya itu.
Dengan sedikit penasaran, Renjun meraih handphonenya dan membuka pesan yang masuk. Mata Renjun sedikit terbelalak begitu membaca pesan yang rupanya dari Mark itu.
From : Markeu Hyung
'Renjun-ie, Happy Anniversarry. Kau pasti ingat kan, jika tepat di tanggal ini satu tahun yang lalu aku menembakmu? Atau kau lupa? Jika kau lupa, berarti rencana kami berhasil.'
Renjun mengernyitkan dahinya, rencana? Rencana apa yang dimaksud Mark sebenarnya?
'Sebenarnya, semua ini rencana Jaemin dan Jeno. Mereka ingin aku memberi kejutan padamu Renjun-ie. Dan mereka juga yang menyuruhku agar bersikap seperti awal-awal kita bertemu agar kau bisa melupakan tentang hari anniv kita ini. Menurut mereka, kalau kau lupa, pasti kejutannya akan lebih bagus.'
Renjun keluar dari kamarnya. Menuruni tangga untuk menuju dapur.
'Dan tentang ucapan putusmu waktu itu, maaf Renjun, nyatanya sampai sekarang kita masih berpacaran. Aku sengaja tidak menghubungimu agar kau berfikir jika aku menerima keputusanmu. Nyatanya tidak Renjun! Aku benar-benar mencintaimu, mana mungkin aku mau meninggalkanmu?'
Renjun menggigit bibirnya sendiri begitu membaca pesan Mark yang membuat pipinya memerah itu.
'Sekarang pergilah ke taman belakang rumahmu!'
Tanpa banyak berfikir lagi, Renjun lantas melangkah dengan cepat menuju pintu belakang rumahnya. Ketika membuka pintu, Renjun di kejutkan dengan balon yang berterbangan ditambah dengan taburan bunga mawar yang berada di sepanjang jalan. Renjun sedikit speechles, tapi apa daya, Mark itu memang romantis sebenarnya hanya pemuda blasteran itu sangat malas untuk melakukan hal-hal yang romantis meskipun itu pada kekasihnya sendiri.
Begitu tiba di tengah-tengah taman, Renjun menemukan Mark yang tengah berdiri membelakanginya. Meneguk ludahnya gugup, Renjun melangkah mendekat. Berdiri tepat di belakang Mark.
"Mark hyung?" Renjun mencicit memanggil nama Mark. Dengan begitu, Mark menoleh ke arah Renjun lengkap dengan senyum lebarnya.
Di tangan Mark, ada sebuah boneka moomin berukuran sedang dan ada sebungkus coklat.
"Nah sekarang, kau pilih. Jika memilih Moomin ini, maka kita benar-benar putus. Tapi, jika kau memilih coklat, maka kita akan terus menjadi sepasang kekasih."
Perkataan Mark membuat hati Renjun sedikit berdenyut sakit. Bukankah tadi di sms Mark bilang dia tidak ingin kehilangan Renjun, tapi kenapa sekarang Mark malah memberikan pilihan yang lumayan berat baginya. Karena sungguh, Moomin itu cinta pertama Renjun sementara coklat, itu musuh abadi Renjun.
Renjun menggigit bibirnya ragu. Tangannya terulur untuk meraih boneka Moomin yang berada di tangan kiri Mark. Dan ketika Renjun mengambil boneka itu, bukannya sedih, Mark justru tersenyum lebar. Apa yang Mark inginkan sebenarnya?
"Sekarang, coba kau pencet hidung Moomin itu."
Renjun menatap polos Mark yang menganggukan kepalanya. Menghembuskan nafasnya berat, Renjun pun memencet hidung boneka Moominnya yang terbaru dan terkejut begitu mendengar suara dari 'Moomin' itu.
'Renjun-ie, ayo menikah!'
.
.
.
END
.
.
.
Special for hopekies and MarkRen Shipper!
A/N :
Maaf lama, sebenarnya sudah lama ngetiknya cuma baru diedit terus ditambahin lagi tadi. Awalnya mau bikin yang sad sesuai lagu, tapi anggap saja ini hadiah juga permintaan maaf karena lama UPnya.
Semoga suka ya!
Kritik, saran, dan requestan akan selalu ditunggu!
Review juseyo~
