Sacrifice Of Love


.

Park Chanyeol – Byun Baekhyun

.

Rated:

M/T

Genre:

Angst, Drama, Romance...

Warning: GS (genderswitch), Typo berserakan, alur gk jelas

.

Summary: "kau tau apa fungsimu di keluarga ini"... "bisakah kau membuatku mengandung, ku mohon"..."kau memang tak berguna!"..."aku tak yakin bisa menerima hati yang terbagi chanyeol ah"... "jangan terlalu memikirkannya, hanya pikirkan dirimu!"... "bagaimana jika kau tak bisa melihatku, cepat bangun, setidaknya kau harus menolongku dengan kenangan indah kita"


Chapter 1

...

..

...

"Park Chanyeol ssi, Byun Baekhyun ssi. Sekarang kalian sudah sah menjadi sepasang suami istri. Park Chanyeol ssi sekarang kau bisa mencium istrimu" setelah pendeta mengatakan itu, seseorang yang kini telah menjadi suamiku mendekatkan wajahnya dengan senyum yang sangat memikat, aku menutup mataku saat merasakan bibir tebalnya mengecup dengan sangat manisnya

Kami saling pandang menyalurkan cinta juga kebahagian, suara tepuk tangan dari tamu yang hadir membuat kami menoleh, wajahku langsung memerah. Aku sangat bahagia hari ini hingga sulit untukku mengungkapkan dengan kata-kata, mataku menelusuri para tamu yang hadir. Disana seseorang yang sangat aku sayangi, seseorang yang selalu ku syukuri kehadirannya dalam hidupku, satu-satunya seseorang yang sudah kuanggap keluargaku, ibuku, ayahku, kakakku, temanku, dia sahabatku. Benar-benar hanya seorang. Aku merentangkan kedua tanganku saat ia mendekat, kami saling berpelukan

"Selamat Baekhyunie, semoga kau bahagia"

"Terima kasih Luhan ah" air mataku menggenang entah kenapa, terasa sangat sesak saat memeluknya dihari yang sangat membahagiakan ini

Dia melepaskan pelukannya lalu tangannya kurasakan mengusap air mataku yang tak terasa mengalir, aku menjadi cengeng bila bersamanya

"Kenapa menangis hm?" aku hanya tersenyum mendengarnya, nyatanya bukan hanya aku tapi diapun sama, kami menangis

Aku memeluknya lagi "Ini semua karnamu, kau merusak riasanku" dia mencoba mengomeliku walau ucapannya tersendat-sendat, jelas itu untuk menutupi matanya yang memerah

"Mulai sekarang aku tak ingin melihatmu menangis lagi, jika kau sampai datang padaku dengan air mata bodoh itu maka aku akan langsung menendangmu" aku mengangguk dalam jumlah yang banyak

"Jja, kau terlihat sangat cantik Baekhyunie, orang yang menikahimu sangat beruntung bisa mendapatkanmu" aku mengalihkan pandanganku pada seseorang itu, Chanyeol tengah menatapku dengan senyuman tampannya

"Dan kau Park Chanyeol ssi, aku menitipkan bayiku padamu, jika kau sampai membuatnya menangis atau terluka maka kau akan berurusan dengan ibu si bayi" aku memukul lengan Luhan karena ucapannya

"Kau bisa membunuhku bila aku melakukannya" Chanyeol membawa tubuhku dalam dekapannya, ia mencium keningku seolah berkata ucapannya bukan candaan

"Akan ku pegang ucapanmu"

"Prak Chanyeol" kami beralih pada seseorang yang baru memanggil suamiku, itu Oh Sehun, sepupu dari suamiku

"Selamat untukmu brother" mereka saling berpelukan

"Baekhyun ah..." Luhan memanggilku kembali "Sepertinya aku harus segera pulang, aku tak bisa meninggalkan ibuku terlalu lama" ah, aku teringat bibi Xi yang tak bisa menghadiri acara penting ini, dia sudah kuanggap ibuku

"Baiklah, sampaikan salamku padanya, dan bilang padanya aku akan mengunjunginya, semoga bibi Xi cepat sembuh, jangan terlalu memikirkan banyak hal katakan hanya pikirkan kesehatannya" kami berpelukan kembali, aku sedikit tak rela melihat kepergiaan sahabatku itu

"Baekhyun ssi" aku beralih pada Sehun yang sekarang berdiri didepanku

"Selamat untukmu, semoga kalian selalu berbahagia, dan selamat datang dikeluarga Park, aku menunggu kabar baik dari kalian" aku tersenyum canggung mendengarnya

"Terima kasih Sehun ssi"

"hmm, sepertinya kita harus merubah panggilan ini, itu terdengar sangat jauh"

"ahh maafkan aku"

"Tak apa, kau bisa memanggilku Sehun saja seperti suamimu atau Sehunie juga tak apa" tangan besar langsung terasa melilit posesive dipinggangku

"Itu terlalu manis untuk dirimu"

"Aku memang manis tuan park"

"Kau harus banyak bercermin Oh Sehun, manis katamu? Tch, tersenyum saja kau sangat peli bagian mana yang kau sebut manis hah! Memangnya kau lupa bagaimana bayi bibi ahn menangis ketakutan melihat wajahmu"

"Itu karena bayinya yang tak bisa membedakan mana yang tampan sepertiku dan mana yang tidak, atau mungkin bayi itu merasa minder dengan ketampananku" aku hanya tersenyum melihat keduanya, tak akan ada yang percaya bila aku berbicara tentang tingkah mereka saat ini melihat rupa keduanya tak jauh berbeda. Tegas, dingin, tampan namun konyol

Aku dan Chanyeol menyapa tamu yang datang –tidak, mungkin lebih tepatnya tamu Chanyeol, aku tak punya tamu, aku juga tak mengundang temanku karena aku memang tak punya teman, seseorang yang datang untukku hanya luhan

Aku mengikuti Chanyeol dibelakangnya, saat Chanyeol mengenalkan ku pada kerabat atau seseorang yang berkaitan dengan perusahaan maka aku akan tersenyum, Chanyeol juga mengundang teman-temannya yang semakin membuatku iri

Acara terus berlanjut hingga malam tiba, keluarga Park mengadakan pesta untuk putra mereka yang kini sudah melepas masa lajangnya. Sebenarnya aku tak terlalu menyukai pesta, entahlah

Saat ini jam sudah menunjukan tengah malam, sebenarnya acara tengah berada dipuncaknya namun tidak denganku, tubuhku terasa sangat lelah dan untungnya Chanyeol mengerti keadaanku, kupikir ia pun sama lelahnya denganku

Chanyeol membawaku ke mansion Park, sebenarnya ini adalah perintah ayah Chanyeol yang sekarang sudah menjadi ayah mertuaku

Saat sampai di mansion kami disambut oleh ketua pelayan gong, aku lebih suka memanggilnya bibi gong, entahlah aku hanya merasa tak ada yang berbeda dari kami, aku menganggapnya sama bukan sebagai pelayan pada majikan

Bibi gong membawa kami menuju sebuah kamar, Chanyeol bilang sebenarnya itu adalah kamarnya dulu namun kini kamar itu telah disulap menjadi kamar pengantin yang sangat indah, aku sampai terkagum-kagum melihatnya

"Sayang, sebaiknya kau membersihkan diri terlebih dahulu, aku akan kebawah sebentar" aku hanya mengangguk sebagai jawaban, saat pintu kamar tertutup aku segera beranjak menuju kamar mandi untuk mengguyur tubuh lelahku

Setelah setengah jam berkutat dengan kamar mandi aku merasa lebih segar, dan sepertinya Chanyeol juga belum kembali, aku melangkahkan kakiku menuju ranjang yang berhias banyak kelopak mawar yang disusun hingga menyerupai gambar hati, sangat indah ditambah suasana kamar yang temaram sangat cocok untuk pengantin baru memulai malamnya

Namun sepertinya atensiku teralih lebih dulu pada kilawan bintang yang berceceran dari balik jendela kamar. Aku melangkahkan kakiku pada jendela itu, jendelanya sangat besar, sebenarnya itu pintu yang menyerupai jendela, diluar jendela terdapat balkon kamar, aku sedikit mendorong jendela itu hingga memberikan ruang untukku keluar menapak balkon

Udara terasa sangat dingin menyentuh kulit, namun pemandangan kilawan bintang dari gedung-gedung pencakar langit membuatku betah meski gigil mulai terasa, aku hanya menggunakan kimono piyama pendek yang terasa tipis

Terhanyut dengan suasana tiba-tiba sebuah lengan sudah bertengger manis membelit perutku, dagu runcing terasa menancap dipundak sempitku

"Apa yang sedang kau lakukan?" aku mengeratkan belitan tangannya mencari kehangatan

"Apa tak merasa dingin dengan pakaian tipis ini?" aku sedikit bersemu entah kenapa

"Ini indah Chanyeol" ucapku pada hamparan perkotaan dimalam hari

"Bagiku tak ada yang lebih indah selain dirimu" astaga, suamiku ini, dia membuatku merasa hangat dengan gombalannya

Chanyeol mengusak wajahnya pada ceruk leherku, kami terdiam saling menikmati hembusan nafas hangat juga debaran jantung yang saling menggila, aku sangat senang merasakan debaran jantungnya, bagiku itu berefek sangat besar terlebih pada wajah juga jantungku yang berkali-kali lebih cepat memompa darah hingga terkadang sedikit sakit namun lebih terasa menyenangkan

Sebenarnya sedari tadi aku sangat gugup mengingat ini malam pertama kami, kalian pasti tau apa yang kumaksud dengan malam pertama

"Chanyeol ah?" ku gigit bibir bawahku untuk mengurangi gugup yang kurasakan

"hm?" dia menyahut dengan gumaman, masih dengan kepala yang terbenam dileherku

"Apa... kita akan melakukannya?" astaga, aku tak tau apa wajahku sudah matang karena pertanyaan yang terlontar dari mulutku

"Melakukan apa?" kurasakan belitan tangannya semakin mengencang memelukku

"Me-melakukan itu" rasanya lebih baik menghilang saat ini juga, dan kenapa Chanyeol tak mengerti apa yang ku maksud

"Melakukan apa sayang? Bicara yang jelas aku tak mengerti" astaga, kenapa dia berbicara tepat ditelingaku dengan suara rendah, itu membuatku merinding

"I-ini malam pertama kita.."

"Mm hm lalu kenapa?" apa tak berdosa bila aku berkeinginan menonjok wajah tampan suamiku! Apa dia tengah menggodaku, sebagai pria dewasa seharusnya dia paham apa yang kumaksud

"Chanyeol " aku tak kuat dengan wajahku saat ini. Dan benar saja bukan, dia paham dengan yang ku maksud dengan kekehan menyebalkannya

"Apa kau tengah ingin?" aku tau apa maksudnya

"I-itu terserah padamu" Chanyeol membalik badanku hingga mengahadap padanya, tangan besar itu terasa kasar juga hangat saat menyentuh pipi wajahku

"Aku tau kau lelah sayang, aku tak akan memaksamu untuk melayaniku" sudahkah aku mengatakan jika dia adalah calon suami idaman, dan kini dia sudah menjadi suamiku

"Aku tak apa bila kau menginginkannya?" sesungguhnya aku memang benar-benar sangat lelah, namun kebahagiaan suamiku adalah hal utama

"Tidak, kita bisa melakukannya lain kali, aku tak ingin bila kau sampai sakit karena terlalu lelah, ayo sebaiknya kita pergi tidur" aku hanya menurut saat suamiku menarik tanganku lembut menuju tempat tidur kami

...

Pagi ini aku sudah terbangun, aku berencana membuat sarapan untuk suamiku juga kedua orang tua Chanyeol, walau sebenarnya itu tak perlu karena di mansion sebesar ini sudah pasti terdapat juru masak handal, namun aku tetap ingin melakukannya demi bakti ku pada sang suami

Saat aku tengah berkutat dengan menu sarapan dibantu juru masak keluarga park juga beberapa maid, tiba-tiba sebuah tangan membelit perutku disusul suara serak namun berat khas orang bangun tidur, itu Chanyeol suamiku

"Pagi" Chanyeol mengusak kepalanya pada leherku dengan mata tertutup, aku sedikit merasa malu bermesraan didepan para pekerja mansion Park walau itu dengan suamiku sendiri

"Kenapa sudah bangun?" aku mengusap rambut hitamnya sayang

"Seharusnya aku yang bertanya padamu, ini masih pagi dan kau sudah berkutat dengan peralatan masak" itu terdengar sedikit merajuk

"Maafkan aku, aku hanya ingin membuat kesan pertama yang baik di keluarga Park"

"Tapi kau membuatku tak mendapat morning kissku" wajahku memerah mendengar ucapan Chanyeol, dan sekils aku juga melihat para pekerja tersentak saat mendengar tuan muda mereka bersikap kekanakan seperti itu

"Chanyeol ah, sebaiknya sekarang kau membersihkan diri, nanti aku akan menyusul"

"Tidak aku belum mendapat morning kissku!" astaga si Chanyeol ini

"Nanti saat dikamar" bisikku kesal padanya

"Tidak aku mau sekarang" astaga apa Chanyeol tak melihat para pekerja disekitar mereka

"Chanyeol!"

"Yasudah aku tak mau mandi" kurasa daya ingatku masih bagus, tapi mengingat usia dan tingkah suamiku sekarang aku jadi sedikit ragu dengan daya ingatku

Akhirnya dengan sangat terpaksa aku akan mengabulkan permintaan bodoh suamiku ini, tapi itu sebelum deheman keras dari arah tangga yang membuat kami semua tersentak. Disana ayah dan ibu chanyeol tengah menuruni tangga dengan wajah dingin yang membuatku langsung tertunduk, aku sempat melirik suamiku dia hanya memutar bola mata malas, mungkin karena apa yang dia inginkan tak ia dapatkan

"Abonim, Eommanim" sapa ku saat mereka akan mengambil duduk dibantu para pelayan yang dengan sigap menarik kursi untuk keduanya duduk, aku sempat mendengar gumaman atas jawaban dari sapaanku tadi

"Chanyeol, Baekhyun cepatlah bersiap, ada yang ingin kami sampaikan pada kalian" aku sedikit tersentak saat namaku disebut

"Baik ayah" jawab Chanyeol, kemudian ia menariku kelantai atas tempat kamar kami semalam untuk segera bersiap

Setengah jam kemudian aku dan Chanyeol sudah rapi, kami menuruni tangga dengan tangan yang saling menggenggam

"Pagi Ayah, pagi Ibu" sapa Chanyeol kemudian kami segera mengambil duduk –sebelum duduk para pelayan sempat akan melakukan hal yang serupa mereka lakukan pada Ayah dan Ibu Chanyeol pada kami, namun aku segera menolaknya, aku tak terbiasa dengan itu semua

"Sebaiknya kita mulai saja sarapannya" setelah abbonim berucap begitu para pelayan datang dengan hidangan ditangan mereka, mereka menyusun dengan rapi –sebenarnya aku sedikit tersentak, aku tak terlalu suka diperlakukan seperti itu

Kami memulai sarapan, aku mengoleskan roti panggang dengan selai coklat kesukaan suamiku, dia tak terlalu suka dengan sesuatu yang berat untuk memulai harinya

Saat ditengah acara sarapan, tiba-tiba abbonim berucap

"Aku sudah membelikan tiket untuk bulan madu kalian" aku terdiam mendengarnya, sebenarnya aku tak terlalu memikirkan soal bulan madu

"Dimana? Kenapa ayah tak bicara pada kami dulu?"

"Hawai bukan tempat yang membosankan bukan. Kenapa? apa kau mempunyai tempat yang ingin kau kunjungi?"

"Sebenarnya ada –" aku hanya menatap bingung pada suamiku

Siang ini aku tengah mengupas buah untukku dan suamiku, Chanyeol mengajakku menonton untuk mengisi waktu luang, bicara tentang suamiku dia masih cuti pernikahan kami. Setelah mengupas semua buah, aku membawa menuju ruang tengah, disana Chanyeol sudah lebih dulu memulai acara menontonnya

"Kemari sayang" setalah aku menaruh piring berisi buah-buah segar yang sudah ku kupas aku segera mendudukan diriku di sebelahnya, chanyeol langsung melingkarkan tangannya dipundakku, aku dengan segera menyenderkan kepalaku dengan nyaman didada bidangnya

Kami menonton film action, sebenarnya itu pilihan Chanyeol aku hanya mengiyakan saja karena aku memang tak terlalu menyukai menonton. Saat ditengah acara menonton tiba-tiba aku teringat tentang pembicaraan abbonim tentang bulan madu

"Chanyeol ah?" suamiku hanya menjawab dengan gumaman saja saking pokusnya dengan film yang ia tonton

"Sebenarnya kemana kita akan berbulan madu?" aku cukup penasaran dengan tempat yang ingin Chanyeol kunjungi, ia tak memberi tahu tapi abbonim langsung mengiyakan tanpa banyak tanya yang otomatis paket bulan madu ke hawai resmi batal

"Kau akan tau besok" Chanyeol mencium pucuk kepalaku setelah menjawabnya. Kami memang akan berangkat besok, sebenarnya menurutku ini terlalu cepat padahal aku ingin menemui bibi Xi. Ah bicara soal bibi Xi aku teringat Luhan, dia belum mengetahui untuk keberangkatanku besok. Mungkin nanti saja aku mengabarinya mengingat ponselku tertinggal dikamar

...

Krieet

Aku menutup pintu kamar, siang tadi setelah kami menonton, Chanyeol mengajak untuk tidur siang. Aku menurini tangga, rencanaku aku ingin menyiapkan makan malam

"Apa ada yang bisa saya bantu nona?" Aku tersentak mendengar suara dibelakangku saat aku tengah meneliti isi kulkas

"ah maafkan saya nona"

"Tak apa" aku hanya tersenyum, mungkin dia melihatku terkejut tadi

"emm..?"

"Naeun nona"

"ah ya, Naeun ssi bisa kau bantu aku, aku ingin menyiapkan makan malam nanti"

"Nona tak perlu melakukan itu, kami memiliki juru masak "

"Tak apa, bukankah kewajiban seorang istri membuat suami senang, aku ingin menyenangkan suamiku dengan masakanku"

"Baiklah nona"

Saat kami tengah memasak tiba-tiba suara gema sepatu hak tinggi cukup mengalihkanku, aku melihat eommanim baru saja kembali, mungkin dia sehabis dari kantor atau entah kemana, aku berjalan mendekat untuk menyapanya yang kini baru saja mendudukan dirinya disofa ruang tengah

"Eommanim sudah kembali?" aku sedikit merasa takut dengan tatapan yang eommanim layangkan padaku membuatku langsung menunduk

"A-apa eommanim ingin ku buatkan minuman?"

"Duduklah" aku sempat tersentak mendengar suara dingin itu, dengan cepat aku mengambil duduk di sebrang eommanim

"Kau masih ingat pembicaraan kita bukan?" aku tau apa yang dimaksud eommanim, pembicaraan yang dia maksudpun aku tau

"I-ingat eommanim"

"Baguslah, kau harus ingat tak ada yang gratis di dunia ini" setelah eommanim mengatakan itu ia langsung beranjak meninggalkanku

Ya aku tau, tak ada yang gratis memang

"Sayang" aku beralih pada suara dari arah tangga, disana Chanyeol terlihat sangat lucu. Mata merah mengantuk, wajah kusut khas bangun tidur, rambut berantakan namun masih terlihat keren, dan suara seraknya yang memanggilku

"Kau meninggalkanku lagi" aku mendapat rajukannya lagi

"Maafkan aku" Chanyeol segera menimpakan badan besarnya padaku dengan tangan yang melingkari pinggang juga wajah merajuknya yang sudah tenggelam di leherku

"Astaga Chanyeol kau berat"

"Kenapa kau senang sekali meninggalkanku saat tertidur hah" aku hanya terkekeh mendengar rajukannya

"Aku masih mengantuk"

"Kenapa terbangun jika masih mengantuk" aku mengusap rambut hitamnya

"Karena kau tak ada disampingku saat aku ingin memelukmu"

"Baiklah-baiklah maafkan aku oke"

"Tidak aku tidak mau" astaga aku seperti merasa sudah memiliki bayi

"Kenapa

"Kau bahkan belum menepati janjimu"

"Janji? Yang mana?"

"Janji yang tadi pagi"

"Memangnya apa yang kujanjikan padamu?" Chanyeol menarik wajahnya hingga sempat akan mengenai daguku jika saja aku tak menghindar

"ck, kenapa tak ingat? Atau kau berpura-pura tak ingat?"

"Aku tak ingat"

"Kau berjanji ingin menciumku" ?" aku menunjukan wajah kagetku, sebenarnya aku sudah tau janji apa yang dimaksud Chanyeol namun sepertinya menyenangkan menggoda suamiku ini

"Kapan aku berjanji begitu?" Chanyeol menatapku dengan mata malasnya, hingga dalam hitungan detik mataku sudah membola sempurna terkejut

Aku berkedip lambat-lambat saat merasakan sesuatu yang bergerak lembut dibibirku, saat menyadari sebuah bibir tebal, aku langsung menutup mataku menikmati bagaimana lembutnya usapan bibir Chanyeol dibibirku

Chanyeol menyesap bibir atas dan bawah secara bergantian, hingga kurasakan sebuah lidah ingin mencoba menyeruak masuk kedalam, aku mencoba membuka mulutku memberi akses, aku mengeryit saat merasakan lidah hangat Chanyeol berada didalam mulutku, Chanyeol mengajak lidahku bermain didalam sana, keryitan didahiku muncul kembali saat Chanyeol menghisap lidahku hingga kurasakan liurku tersedot

Aku terhanyut dengan permainan lidah Chanyeol hingga tak kurasakan tubuhku sudah terbaring di sofa, aku mengalungkan tangan kurusku pada leher Chanyeol, saat permainan lidah Chanyeol semakin menggila aku akan meremas pundaknya sebagai pelampiasan

Dapat kurasakan tangan Chanyeol mengusap punggungku turun hingga pinggul, aku beralih pada rambutnya sebagai pelampiasan atas tindakan Chanyeol, usapan Chanyeol terasa sangat panas dikulitku, Chanyeol mengusap semakin turun kebawah, kurasakan ia beralih pada pahaku, aku melenguh saat ciuman Chanyeol berpindah pada leherku, Chanyeol menyesap leherku hingga mataku terbuka tertutup tanpa disadari

PRANKK

Kami tersentak, aku langsung mendorong tubuh Chanyeol begitu melihat pergerakan salah satu pelayan yang tengah membersihkan pecahan gelas kaya

Wajahku sudah sangat memerah membayangkan apa yang tadi kami lakukan, terlebih ini bukanlah tempat tertutup seperti kamar, banyak orang yang berkeliaran dan dengan tak tau malunya kami melakukan hal yang tak senonoh sembarangan

"Ma-maafkan saya" aku beralih pada Chanyeol saat mendengar suamiku seperti menggeram, ia terlihat sangat kesal dengan wajah memerah –entah karena marah atau karena yang lain, juga rambut berantakan yang menjadi korbanku tadi

"Tak apa, sebaiknya kau pergi saja" aku langsung berucap sebelum Chanyeol meluapkan kemarahannya pada pelayan itu

"Ini sangat memalukan" aku menutup wajahku dengan kesepuluh jariku, samar kudengar kekehan Chanyeol

"Kenapa malu?" astaga si Chanyeol ini

"Tentu saja ini sangat memalukan, kita hampir melakukan hal yang tidak-tidak didepan pelayan tadi" ucapku kesal

"Itu salah si pelayan kenapa dia ingin melihat apa yang kita lakukan"

"Yang harus disalahkan adalah dirimu, kenapa kau melakukan itu padaku!"

"Melakukan apa?" bolehkan aku meninju wajah tampannya, kenapa dia bicara dengan wajah seperti itu

"ish kau ini"

"hahaha lagi pula kau kan menikmatinya sayang" Chanyeol membawa tubuhku kedalam pelukannya

"Apa?!"

"huh padahal tadi tinggal sedikit lagi menuju inti"

"Yak!"

...

..

.

"Caekhyun ah nanti kabari aku bila sudah sampai ok" saat ini kami tengah dibandara, luhan mengantar kepergianku untuk berbulan madu, sedangkan ibu dan ayah chanyeol mereka sibuk dengan pekerjaannya sehingga tak sempat mengantar kepergian kami

"Ne, akan kukabari" aku melepaskan pelukannya

"Kemana kalian akan pergi?" aku mengalihkan tatapan pada suamiku yang sedari tadi memperhatikan kami

"Sebuah tempat yang tak akan dilupakan olehnya" ucap Chanyeol dengan senyuman tampannya

"Luhan ah, sampaikan ucapan maafku pada bibi Xi karna belum sempat mengunjunginya, sepulang dari ini aku akan langsung menemuinya"

"Tak apa Baekhyun ah, dia akan mengerti"

"Sayang ayo" Chanyeol menyentuh pundakku saat pemberitahuan sudah terdengar, aku memeluk Luhan sekali lagi sebelum benar-benar pergi

Saat didalam pesawat Chanyeol terus menggenggam tanganku bahkan saat ia tertidur sekalipun, rasanya seperti sebuah mimpi bisa digenggam orang yang bahkan sempat terlintas tak akan pernah bisa ku miliki

Sangat kusyukuri bisa mengikat janji dihadapan tuhan, aku akan berdoa semoga kehidupan yang akan kami jalani akan memiliki akhir yang membahagiakan, aku ingin menghabiskan hidupku bersama orang-orang yang kusayangi, dan juga mengakhiri dengan orang-orang yang kusayangi

Semoga saja tuhan mendengar doaku kali ini

Setelah menempuh perjalanan yang sangat melelahkan akhirnya kami sampai disebuah pulau yang kupikir ini adalah pulau pribadi, saat aku menanyakan pada Chanyeol dia bilang ini adalah pulau peninggalan milik kakeknya. Chanyeol bilang pulau ini adalah salah satu pulau yang sering dikunjungi anggota keluarga Park lainnya untuk berlibur. Aku tak mengerti dengan salah satu, apa masih banyak pulau yang keluarga Park miliki. Aku tak menyangka jika keluarga Park ternyata sekaya itu

Pulau ini sangat indah dengan rimbunan pepohonan yang segar namun tak menyeramkan, saat aku menginjakan kaki disini terdengar banyak suara burung-burung, pantainya juga sangat indah, kupikir apa yang Chanyeol bilang tentang sesuatu yang tak bisa dilupakan memang benar adanya, aku sangat menyukai tempat ini

"Apa uncle sendiri yang mengurus pulau ini?" Chanyeol tengah berbincang dengan uncle Leo, dia adalah seseorang yang menyambut kami saat sampai dipulau ini, kami menggunakan sebuah kapal pesiar pribadi yang sangat mewah yang kupikir memang salah satu pasilitas dipulau ini

"Tentu saja, kau pikir siapa lagi yang mau mengurusnya selain aku, semua anggota keluarga Park mana mau mengurus pulau ini, terutama ayahmu yang gila kerja itu" ucap uncle Leo, uncle Leo adalah kerabat jauh yang abbonim perintahkan untuk mengurus tempat ini chanyeol bilang

"Uncle minta maaf karna tak sempat menghadiri pernikahanmu Chanyeol"

"Tak apa uncle"

"Dan tak kusangka seleramu ternyata sangat bagus" aku tersentak dengan ucapan uncle Leo

"Yeah aku tak pernah menyesal dengan pilihanku" Chanyeol terkekeh dan langsung memelukku tanpa menghiraukan uncle Leo

Drrtt drttt

Kami mengalihkan pada uncle Leo yang tengah mengangkat telpon dengan wajah yang serius

"Apa tak apa uncle mengantar sampai sini, uncle ada urusan sebentar dan tak bisa ditunda"

"Tak apa uncle, selesaikan saja urusan uncle"

"Kau tau jalan menuju rumah utama bukan?"

"Aku tau"

"Baiklah, para pekerja sudah menyiapkan keperluan kalian selama disini, bersenang-senang lah"

Kami melangkah disetiap bebatuan yang mengarah seperti jalan, mungkin mengarah pada rumah utama yang uncle Leo bilang. Chanyeol terus menggenggam tanganku selama perjalanan

"Chanyeol ah aku tak menyangka keluargamu sekaya ini" Chanyeol tersenyum setelah mengusak rambutku gemas

"Apa kau menyukai pulau ini?"

"Apa kau bercanda, ini adalah tempat terindah yang pernah kukunjungi"

"Kau belum melihat keindahan yang sesungguhnya dari pulau ini"

"Benarkah, keindahan seperti apa?"

"Kau akan mengetahuinya nanti" setelah berjalan hampir lima belas menit akhirnya kami sampai disebuah rumah besar, disana sudah banyak pelayan yang berbaris menyambut kedatangan kami

Salah satu pelayan yang kupikir adalah kepala pelayan disini membungkuk hormat pada kami diikuti para pelayan yang lain dibelakangnya

"Selamat datang tuan muda Chanyeol, nona Baekhyun"

"Apa kabar bibi Nam?" sapa Chanyeol, sepertinya mereka cukup dekat, kupikir yang Chanyeol panggil bibi Nam adalah salah satu pekerja yang sudah lama bekerja disini. Tapi Chanyeol bilang ini adalah pulau pribadi yang aksesnyapun tak sembarang orang bisa masuk kepulau ini hanya keluarga park saja yang bisa memiliki akses, berarti pasti semua pekerja disini sudah lama

"Saya baik tuan muda, bagaimana kabar tuan muda?"

"Bibi Nam jangan memanggilku seperti itu, panggil seperti biasa saja"

"Baiklah, bagaimana kabarmu chanyeol ah?"

"Aku baik bibi"

"Syukurlah, dan selamat untuk pernikahanmu Chanyeol ah, bibi sangat senang saat mendengar kau akan menikah"

"Terima kasih bibi. Ah ya Baekhyun ah ini bibi Nam, bibi Nam ini adalah salah satu pekerja dikeluarga Park yang sudah bekerja sejak aku masih kecil, bibi Nam adalah orang yang mengasuhku dulu aku sudah menganggapnya seperti keluargaku, beberapa tahun yang lalu bibi Nam dipindahkan kesini"

"Apa kabar bibi Nam" ucapku setelah membungkuk padanya yang membuat bibi nam merasa tak enak. Padahal jelas-jelas aku yang tak enak padanya saat dia membungkuk tadi

"ternyata benar, kau sangat cantik nona Baekhyun"

"Bibi tolong jangan memanggilku dengan begitu, panggil seperti bibi memanggil Chanyeol saja" bibi Nam tersenyum mendengar ucapanku

"Baiklah, ayo sebaiknya kita segera masuk"

"ah bibi bisakah aku menempati paviliun barat?" kulihat bibi Nam terdiam, tak lama ia tersenyum

"Mari bibi antar"

...

..

.

Saat ini aku tengah menikmati semilir angin laut dibalkon kamar, aku tak tau kenapa Chanyeol memilih paviliun barat tapi aku sangat menyukainya, disini aku bisa melihat bagaimana ombak saling menggulung juga bagaimana mentari yang mulai tenggelam menampilkan bias jingga yang sangat cantik di air laut

Hari sudah menggelap, setelah makan malam tadi Chanyeol mengajak untuk berkeliling tapi aku menolak, tubuhku rasanya sangat lelah jadi aku langsung masuk kedalam kamar

Sebuah tangah melingkar dari belakang, dan tak perlu menengok aku sudah tau dari aroma yang menguar, Chanyeol baru selesai membersihkan diri terasa dari bagaimana kulitnya masih terdapat jejak-jejak air yang mulai mengering

"Apa kau tak kedinginan?" sebenarnya ya, untukku yang tak kuat dengan udara dingin diterpa angin malam yang berasal dari laut jelas membuatku menggigil terlebih dnegan pakaian yang lumayan terbuka

"Aku sangat menyukainya Chanyeol" mataku mengarah pada hamparan laut juga hamparan bintang dilangit sana

"Aku juga menyukaimu" aku terkekeh mendengar ucapannya

"Kau tak nyambung"

"Apanya?" Chanyeol mengeratkan pelukannya, wajahnya terbenam di ceruk leherku, aku sedikit merasa geli sebenarnya, bukan apa karena chanyeol sedari tadi mengendus leherku tak jarang ia mengecupnya juga

"Chanyeol?"

"hmm?" aku terdiam tak langsung melanjutkan ucapanku

"Berapa anak yang kau ingin kan?" kugigit bibirku sebagai pengalihan

"Yang banyak, aku ingin yang banyak" aku sedikit menggeliat, chanyeol berbicara ditelingaku menyebabkan nafasnya langsung masuk ketelingaku membuatku geli

"Berapa banyak?"

"Sebanyak aku menanam benihku padamu" astaga wajahku memanas mendengar ucapannya, kenapa dia menjawa dengan seperti itu

"Ke-kenapa kau bicara begitu"

"Kenapa? Kau ingin aku membuktikannya" setelah berucap seperti itu Chanyeol langsung mengangkat tubuhku bridal style, aku memekik terkejut karena perlakuan yang tiba-tiba itu

Chanyeol membawa tubuhku masuk kedalam kamar, kemudian ia membaringkan tubuhku dengan perlahan, sangat hati-hati bagai tubuhku seperti sebuah permata langka. Sebenarnya aku sangat gugup

Chanyeol menatap ku dengan sangat intens, tajam, namun membuatku tak bisa mengalihkan pandangan pada hal lain selain matanya, aku terjerat

"Cha-chanyeol"

"Ada apa?" kenapa suara Chanyeol terdengar sangat berat juga dalam, membuat semua bulu kudukku merinding mendengarnya

Tangan besar itu mulai terangkat mengusap wajahku, hanya dengan tangan itu mataku sudah tertutup rapat merasakan tekstur kasar tangan itu, napasku mulai terasa berat. Aku tak tau apa yang terjadi pada tubuhku, Chanyeol bahkan belum menyentuhku kenapa aku sudah seperti ini

Mataku kubuka perlahan, mata tajam itu masih setia menatapku intens, saking terpokus pada pandangan memikat itu membuatku tak sadar saat sebuah benda sudah mendarat dibibirku, aku merasakan sapuan lembut dibibirku diikuti sesapan-sesapan yang semakin lama semakin dalam, aku ingin menutup mataku namun pandangan itu membuatku sulit

Saat merasakan sebuah lidah terasa menjilat bibirku membuatku otomatis membuka celah bibirku hingga terasa lidah panas itu mulai menyeruak masuk, lidah itu terasa menjelajah rongga mulutku

"eunghh" aku tak kuat merasakan lidah itu serasa menyedot liurku hingga terasa seperti semua berpindah padanya, juga bagaimana tangan besar itu mulai bergerak menyentuh permukaan kulitku yang panas

Chanyeol melepas ciumannya, aku merasa nafasnya seperti masuk kedalam mulutku yang terbuka, apa chanyeol bernafas di mulutku(?)

"aahhhhh" tangan kasar itu terasa bergerak dipunggungku mengusap turun naik membuat nafasku semakin berantakan, terlebih kini bibir itu sudah berpindah turun di tempat sensitifku, bibir itu terus mengecupi leherku sesekali menyesap yang membuatku meringis

Terlena dengan permainan lidahnya membuatku tak menyadari bagaimana pakaian yang kukenakan sudah tertanggal. Kapan Chanyeol melepasnya (?)

Aku tak kuasa dengan semburat merah matang diwajahku juga bagaimana lenganku berusaha menutupi tubuh tak berhelai kain itu. Bagaimanapun aku malu dengan ini

Chanyeol mencoba menarik lenganku yang sibuk menutupi tubuhku. Awalnya aku kekeh ingin menutupinya tapi mengingat semua yang ada dalam diriku menjadi milik suamiku membuatku melepas lenganku membiarkan suamiku melihat bagaimana tubuhku tanpa celah

"A-aku malu" Chanyeol membawa kedua lenganku bertaut masih dengan pandangan tajamnya

"Kau indah, sangat indah" berbarengan mengatakan itu bibir Chanyeol turun perlahan dengan hembusan nafas panas dikulitku. Aku tersipu mendengarnya, tentu saja aku bahagia bagimanapun pasti terbersit rasa takut akan kekecewaan pada apa yang kumiliki. Aku takut Chanyeol tak menyukai bagaimana tubuhku, namun mengingat pujiannya membuatku senang luar biasa

"a-aahhh" bagaimana hembusan napas yang sengaja Chanyeol hembuskan pada pucuk dadaku membuatku menggila

"ngghh aahhh c-chan"aku tak tau harus bagaimana saat miliku diraupnya, apalagi saat pucuk miliku dikulum intens. Chanyeol mempermainkannya bergantian

Aku hanya diam menikmati bagaimana tangan juga mulutnya bekerja mengerjai tubuhku, mataku terpejam erat saat Chanyeol membuka kedua kakiku, aku memegang apapun yang dapat ku jangkau saat merasakan chanyeol tengah bersiap dengan miliknya. Aku takut

"Relax sayang" aku tak benar mendengarnya, pikiranku hanya dipenuhi dengan bagaimana menyengatnya rasa sakit yang akan ku rasakan saat benda sebesar itu mencoba memasukiku, melihat miliknya saja sudah membuatku ketakutan

"Buka matamu" Chanyeol mengusap wajahku dengan senyum yang ia berikan, saat melihat senyumannya entah bagaimana membuatku sedikit merasa tenang

"Kau percaya padaku?" aku mengangguk

"Aku tak akan menyakitimu" setelahnya Chanyeol menyesap bibirku, aku mulai terbuai menikmati kelihayan permainan lidahnya

Setelah merasakan tubuhku mulai relax aku merasakan Chanyeol mulai mendorong miliknya, aku mengeratkan pelukan padanya dangan keryitan juga bagaimana ciuman Chanyeol terasa semakin intens, aku tau itu adalah usaha Chanyeol agar rasa sakit itu tak terlalu terasa. Tapi mengingat ini pertama kali aku melakukannya membuat rasa sakit itu tak terelakan

"MMMHHH" tanpa kusadari lidah itu kugigit kencang sabagai pengalihan saat Chanyeol mendorong dengan keras memaksa masuk sepenuhnya

"Maafkan aku, aku sudah berusa agar rasa sakitnya berkurang" Chanyeol membawa tangan besarnya pada kedua mataku yang tanpa kusadari mengeluarkan cairan bening

Aku tau itu juga menyiksa Chanyeol maka dari itu, aku menyuruhnya segera bergerak walau masih terasa sakit, Chanyeol kembali membawa kami berpagutan

Tubuhku terasa tersentak seiring gerakannya pada tubuhku, aku mengeryit bagaimanapun ini masih terasa sakit, Chanyeol terus bergerak hingga–

"AAAHHH" aku memekik kencang saat merasakan sesuatu yang membuat rasa sakit itu hilang, aku tak tau itu apa

"Aahhh" Chanyeol melakukannya lagi, hingga sentakan itu terasa semakin kencang mendorong tubuhku, aku mengaitkan tanganku pada bahu mengkilat itu

Ini sudah pukul dua pagi tapi Chanyeol masih mengerjai tubuhku, aku sudah tak merespon karena terlalu lelah dan terakhir yang kulihat adalah wajah mengerang Chanyeol. Aku jatuh pingsan

...

"enggh" aku tak tau ini jam berapa tepatnya, tapi dari celah mentari yang memasuki kamar kami membuatku tau jika ini sudah siang

Aku menggeliat meregangkan tubuhku yang terasa sangat pegal, aku sedikit meringis merasakan bagian bawah tubuhku, saat wajahku menoleh aku bisa melihat wajah damai seseorang yang kini tangannya melingkar erat diperutku

Tanganku terangkat untuk menyentuh pahatan tuhan yang selalu kusyukuri keberadaanya, aku selalu merasa bingung kenapa suamiku ini sangat tampan, terkadang aku sering berpikir bagaimana jika ada yang menyukainya dan ingin mengambilnya dariku. Ck, pemikiran macam apa itu Byun Baekhyun!

Mata bulat itu, hidung besarnya, bibir tebalnya, tanganku terus bergerak mengusap semua permukaan wajahnya, saat tanganku menyentuh rahang tegas itu terasa dikulit tanganku bulu-bulu yang terasa mulai tumbuh

Tanganku terus mengusap pipi itu hingga...

"Apa kau sedang mengagumi betapa tampannya suami dari nyonya Park ini" aku tak bisa menahan kedut dikedua bibirku walau sudah kukulum agar tak terlihat. Bagaimana bisa aku menampik kebenaran yang sesungguhnya itu

Tangan besar itu terasa diatas tanganku, mengelusnya lembut dengan mata bulatnya yang terpejam

"Aku tak tau ternyata suami dari nyonya Park sangat besar kepala"

"Banyak gadis yang mengakuinya"

"Apa? Huh ternyata kau sangat mempercayai perkataan gadis-gadis bawang itu"

"Tentu saja, mereka tak akan berbohong"

"Tau dari mana?"

"Aku jelas mempunyai bukti untuk itu"

"Apa?"

"Seseorang yang tengah terkagum dengan keadaan... " aku memicing saat mata bulat itu melihatku dengan tatapan yang aneh(?)

"...Selimut menutupi tubuh sexy nya..." aku mengeratkan pelukan pada selimut yang kupakai

"...Maha karya yang menghiasi..." selimut kubawa menutupi hingga hanya kepala yang menyembul

"...Juga aroma pagi yang sangat membuatku terlena..." wajahku semakin memerah

"...Dan.. paha yang mulus dan menggoda" mataku melotot merasakan usapan tangan kasar dari balik selimut yang ku kenakan. Hingga...

"KYAAAAAAAAA"

...

..

.

Aku berjalan menghentak kesal diatas pasir putih yang tersapu ombak "Sayang, kenapa berjalan cepat" itulah alasannya

"Kau tega sekali padaku, aku tak nyaman"

"Tega apanya?" aku berjalan semakin cepat didepannya, dengan wajah yang sudah seperti kepiting rebus

"ugh kau jahat! Aku tak mau memakai ini!" itu berawal saat si Chanyeol keras kepala yang memaksaku memakai bikini seksi, ini pertama kalinya aku berpakaian –ahk apa aku bisa mengatakan pakaian telanjang, aku tak pernah memakai seperti ini, itu kenapa aku sangat tak nyaman tapi apa yang bisa kulakukan saat si dobi jelek itu malah menyembunyikan semua pakaianku dan hanya menyisakan bikini ini!

"Kau seksi sayang"

"Matamu!"

"akkh" aku menjerit saat seseorang yang dengan kurang ajarnya menepuk pantatku. Aku segera berbalik untuk melihat seseorang yang kini tengah tersenyum jelek, aku memberikan tatapan membunuhku yang super menyeramkan, tapi anehnya dia malah mendekatkan wajahnya hingga...

Cup

"Yak isshh" aku kesal hingga tanganku langsung melayang memukul dadanya yang keras. Aku bahkan tak tau apa dia kesakitan dengan pukulanku, ahk sepertinya tidak karena justru tanganku yang sakit karena dada bidang yang sangat keras miliknya itu

"Bagaimana jika ada yang melihat aku berpakaian seperti ini!"

"Tak ada yang akan berani"

"Apanya! Kau pikir dipulau ini hanya ada kita berdua, banyak para pekerja yang bisa saja melihatku begini"

"Aku akan langsung memecatnya"

"Heh!"

Chanyeol menggenggam tanganku setelah mencium bibirku singkat, kami berjalan meyusuri pantai dengan kaki telanjang merasakan bagaimana tekstur pasir pantai yang basah juga gelombang ombak yang menerjang. Selepas makan siang Chanyeol mengajak ke pantai, dia bilang aku akan terpesona oleh sesuatu selain dirinya, cih kenapa kadar kepercayaan dirinya sangat tinggi

Sebenarnya itu tak bisa disebut siang, karena saat terbangun oleh mentari pagi dan tragedi Chanyeol yang dengan kurang ajarnya mengelus-elus pahaku hingga akhirnya dia menyerangku lagi selama dua ronde, karena aku yang mengeluh kelelahan dan berakhir dengan kami terlelap kembali, kami bangun saat pukul dua siang dilanjut dengan makan siang dikamar ah atau sarapan mengingat aku dan Chanyeol belum sempat sarapan

Setelahnya makan siang aku membersihkan diriku, sebenarnya Chanyeol memaksa ingin ikut mandi bersama tapi dengan keras aku menolak, aku hanya tak ingin melakukannya lagi, bukan apa bahkan sekarang masih terasa bagaimana nyerinya saat berjalan. Aku tak mengerti kenapa Chanyeol berubah menjadi mesum begitu

Dipantai ini terdapat dua kursi pajang untuk bersantai sambil berjemur juga dua gelas minuman segar sebagai pelengkap yang kupikir jelas para pelayan yang menyiapkan mungkin atas perintah Chanyeol. Chanyeol menarik tanganku kesana, aku mendudukan tubuhku dikursi sebrang suamiku

Pandanganku beralih pada suamiku yang kini tengah menidurkan tubuhnya dengan tangah kanan sebagai bantalan. Suamiku itu terlihat sangat keren juga mempesona dengan kacamata hitam yang bertengger dihidung bengirnya juga bagaimana otot-otot kekarnya menghias ditubuhnya, Chanyeol bertelanjang hanya mengenakan celana pendeknya

Aku tak mengerti setelah kesulitan yang kualami kini tuhan tengah berbaik padaku dengan memberikan kehidupan yang bahkan tak pernah terlintas dalam mimpiku. Aku jelas mensyukuri itu, dengan adanya suami yang sangat kucintai apalagi yang membuatku tak bersyukur. Aku akan selalu berdoa agar tuhan tak mengambil kebahagian yang tengah kurasakan

Terlarut dengan pikiranku membuatku sedikit tersentak saat tangan besar juga hangat melingkar di tanganku, kurasakan usapan disana, mungkin Chanyeol merasakan bagaimana aku tersentak tadi

"Ada apa?" aku menggeleng . kubalas gengaman tangannya, mataku menatap dalam pada mata bulat yang selalu membuatku terjerat

"Tuhan tengah berbaik padaku" rematan ditanganku jelas mengartikan jika chanyeol kini seakan tengah mengatakan jika semua akan baik. Aku akan mempercayainya

"Chanyeol ah?" Chanyeol membalas dengan gumaman

"Masa tua apa yang kau inginkan?"

"Aku tak terlalu memikirkannya karena aku tak menginginkan apapun selain keberadaanmu disampingku"

"Jika ternyata aku tak berada disampingmu bagaimana?" mata itu kurasakan menajam setelah ku berucap

"Kau akan berada disampingku apapun yang terjadi"

"Tapi siapa yang tau dengan takdir" rematan tangan itu membuatku sedikit meringis, aku tau Chanyeol tak menyukai ucapanku, aku juga tak tau kenapa aku berucap seperti itu

"Takdir tak akan memisahkan kita, karena cinta kita besar dan tulus" aku tersenyum mendengarnya. Ya cinta kita besar dan tulus

"Baekhyun ah, lihatlah" aku mengalihkan pandanganku pada apa yang Chanyeol tunjukan

"Sangat indah" aku tak tau atau mungkin tak pernah menyadari jika matahari tenggelam seindah ini. Aku menoleh saat tangan yang tertaut itu tertarik mengikuti sipenarik, Chanyeol menarikku mendekati pantai

"Ini sangat indah Chanyeol ah" bagaimana warna jingga itu seakan tumpah ruah dilaut sana dan tersapu ombak.. sangat indah

"Ya... sangat indah... tapi tak lebih indah dari dirimu" aku bersemu mendengarnya. Tangan kekarnya memeluku dari belakang, aku menyenderkan tubuhku padanya

Sangat indah, pasangan yang terbias mentari tenggelam

...

..

.

Setelah kemarin menyaksikan bagaimana indahnya matahari tenggelam, hari ini Chanyeol berkata akan mengajakku kesuatu tempat. Itu terdapat didalam pulau

Chanyeol menggenggam tanganku selama perjalanan, kami berjalan kaki menyusuri jalan setapak, ini cukup jauh namun aku menikmati bagaimana pulau ini memberikan kenyamanan. Sangat asri untuk kehidupan beberapa flora fauna yang hidup disini, chanyeol bilang pulau ini memang masih dihuni beberapa hewan namun untungnya itu bukan sejenis ular berbisa atau hewan-hewan buas lainnya

Selama perjalanan aku tak henti-hentinya mengagumi bagaimana indahnya pulau ini, banyak suara-suara yang kudengar, seperti bagaimana desiran ombak yang masih terdengar, suara burung-burung juga hewan lainnya, aku juga mendengar gemericik air yang lumayan keras. Tunggu, gemericik? Apa disini terdapat pemandian alami atau...

"Sayang lihatlah" sebuah air terjun

"Cha-Chanyeol in sangat indah" aku refleks melepas tautan tangan dan langsung berlari mendekati kucuran air besar

"sSyang hati-hati, itu licin" Chanyeol benar, ini memang licin terbukti beberapa kali aku hampir tergelincir saat berlari tadi. aku tak pernah merasakan bagaimana indahnya alam yang tuhan miliki, bukan tak ingin merasakan tapi keadaan yang membuatku sulit

"Chanyeol ah kemari" aku melambai pada Chanyeol yang tengah berjalan santai menghampiriku yang kini sudah menceburkan diri ditengah kolam yang terdapat dialiran air terjun itu

"Kau terlihat sangat menyukainya" ucap Chanyeol sesaat setelah ikut menceburkan diri bersamaku

"Aku menyukainya, ini seperti sebuah kejutan" aku berucap dengan dongakan karena Chanyeol yang kini telah mengapit pinggangku membuat dada kami bersentuhan

"Kau sangat beruntung Chanyeol ah, jika aku menjadi dirimu mungkin aku lebih memilih tinggal disini ketimbang dikota seoul" Chanyeol tersenyum mendengar celotehanku

"Keberuntunganku adalah saat aku bisa memilikimu seutuhnya"

"Aku tak mengerti kenapa akhir-akhir ini kau jadi sering menggombal begitu?" ucapku merenggut

"Kenapa? Kau tak suka?"

"Ani aku suka, tapi apa kau seperti itu hanya padaku?"

"Tak ada yang pernah mendengar gombalanku"

"Benarkah, itu bagus tapi ... bagaimana dengan matan-mantan kekasihmu yang lalu"

"Apa jika aku mengatkan ini kau akan menertawaiku?"

"Apa?"

"Mantan kekasihku hanya dirimu, aku tak memilikinya selain dirimu, kau yang pertama dan terakhir" aku bersemu mendengarnya, walau cukup mengejutkan bagaimana seorang Park Chanyeol yang sangat sempurna tak pernah menjalin sebuah hubungan, itu sangat aneh

"Lalu bagaimana dengan istri?"

"hum?" dahi tampan Chanyeol mengkerut pertanda tak mengerti dengan ucapan asalku, itu adalah ucapan yang keluar begitu saja, tapi karna Chanyeol sudah mendengar pertanyaan itu.. kenapa tidak, bukan tak percaya hanya sebatan ingin tau bagaiman tanggapannya

"Kau berencana menambah seorang istri?" dan sekarang dahi Chanyeol menukik tajam pertanda sepertinya ia tak terlalu menyukai apa yang kuucapkan

"Kau yang pertama dan terakhir, apa itu kurang jelas" alis Chanyeol terangkat sebelah, cih kenapa dia semakin tampan. Tapi aku sangat senang mendengar ucapannya

"Aku mencintaimu" aku mengalungkan tanganku pada leher Chanyeol

"Aku lebih mencintaimu sayang" setelahnya Chanyeol mendekatkan wajahnya dan kami berciuman, ciuman yang sangat manis

...

Setelah seharian melihat air terjun juga bermain air hingga tubuhku menggigil dengan bersin yang tiba-tiba menyerang membuat Chanyeol sedikit panik dengan omelan-onmelan yang ia berikan padaku, sebenarnya sedari awal datang Chanyeol sudah mengajak untuk kembali ke paviliun tapi karena aku yang tak ingin menyianyiakan pemandangan yang jarang kulihat membuatku enggan kembali

Saat ini aku tengah bersiap dengan gaun hitam yang sangat cantik melekat memperlihatkan lekukan tubuhku, chanyeol bilang ia ingin membawaku kesuatu tempat tapi satu jam yang lalu Chanyeol pamit dia bilang ada urusan yang harus ia selesaikan dan tak akan lama, namun sampai sekarang belum kembali membuatku berkali-kali menoleh kearah pintu

Setelah merasa penampilanku sudah rapi, aku berjalan kearah pintu, aku ingin mencari keberadaan suamiku atau setidaknya bertanya pada salah satu pekerja bila aku menemukannya. Namun saat membuka pintu semua ruangan sangat sepi juga temaram, namun sekaligus indah karena dari kamarku sekarang hingga kebawah ada lilin yang berjajar seperti membentuk sebuah jalan dengan banyak kelopak mawar yang seperti sebuah karpet

Aku berjalan menyusuri tangga ditemani lilin-lilin yang menyala indah, saat sampai dilantai bawah aku berjalan pelahan masih mengikuti lilin-lilin itu yang ingin membawaku entah kemana, aku sangat penasaran hingga lupa niat awalku ingin mencari Chanyeol

Lilin itu membawaku kearah taman yang berada dibelakang dekat pantai, samar-samar aku melihat dua kursi yang saling berhadapan dengan meja ditengahnya juga bayak hiasan yang sangat indah mempercantik tempat itu membuat langkah kakiku tanpa disadari sedikit berlari, aku penasaran ingin melihat tempat itu

Dan saat sudah berdiri didepan dua kursi itu aku tak bisa menahan kedua mulutku tak terbuka melihat indahnya tempat itu, tanpa sadar aku berjalan mendekat hingga tak kusadari aku telah mendudukan tubuhku disalah satu kursi disana

Tiba-tiba aku mendengar alunan musik yang entah darimana, aku menikmatinya hingga...

"Permisi nona"

Aku sedikit tersentak saat banyak para pelayan yang berbaris dengan nampan ditangan merepa membawa makanan, para pelayan itu bergantian menata makanan itu. Aku memperhatikan hingga tinggal dua pelayan lagi, satu pelayan mulai metakan hidangan yang ia bawa, dan saat si pelayan tadi mundur perlahan hingga giliran pelayan yang terakhir, namun aku sedikit mengeryit karena pelayan itu tak kunjung melangkah maju hanya menundukan pandangannya

Para pelayan tadi perlahan kembali hingga menyisakan diriku dengan pelayan terakhir tadi, aku mengeryit hingga aku mulai menyadari, pelayan itu tak membawa nampan makanan, pakaiannyapun berbeda dengan para pelayan yang telah kembali. Aku sedikit menunduk ingin melihat rupa dari pelayan itu hingga mataku membulat sempurna saat sipelayan itu juga mengangkat wajahnya bersamaan suara ledakan yang mengejutkanku, aku mengalihkan pandanganku pada langit

Disana sangat indah, banyak letupan-letupan yang menghasilkan percikan berwarna-warni, aku tersenyum senang hingga tubuhku tersentak saat sebuah tangan menggenggam tanganku

"Apa kau terkejut?"

"Hmm sebenarnya tidak" cibirku, aku ingin tertawa saat melihat wajah terkejutnya

"Huh! Seharusnya aku tidak mengikuti saran si idiot itu" aku mengeryit mendengarnya, walau suara itu pelan namun aku masih mendengarnya

"Ini bukan idemu?"

"Hanya sebagian, tapi berbaris dengan pelayan adalah ide gila si sialan Oh Sehun" aku tertawa mendengarnya, jujur itu memang lucu

"Kau terlihat konyol saat menunduk tadi hahaha"

"Diamlah!"

"Bagaimana bisa kau melakukan itu"

"Kubilang diam"

"Tapi... malam ini aku sangat senang, seumur hidupku aku belum pernah mendapatkan kejutan seperti ini, terima kasih" aku sungguh-sungguh mengatakannya

"Setidaknya tidak semua kejutan gila ini gagal" aku terkekeh geli mendengarnya

"Tidak ada yang gagal, terutama ketampananmu"

"tck! Tentu saja" aku jadi menyesal mengatakannya melihat bagaimana wajah menyombongkan itu juga tangan yang mengusap rambut gaya hair up nya, tck!

"Lalu sebenarnya apa ini?"

"Aku ingin mengadakan kencan diacara bulan madu kita, karena kupikir kita mungkin akan susah berkencan setelah kau hamil nanti"

"Cih alasan, kita bisa berkencan kapanpun kita mau, kenapa mengatakan itu"

"Banyak yang mengatakan bila syndrom wanita hamil itu mengerikan, kau tau mengidam"

"Apa hubungannya?"

"Temanku bilang jangankan hanya ingin berkencan bahkan bercinta saja tak bisa"

"Tak semua seperti itu, lagipula kenapa kau sangat yakin setelah kita kembali aku akan langsung hamil?"

"Hey, si Park junior itu sangat sehat, bahkan dia selalu mendapatkan asupan yang baik, aku yang menjaga dan membesarkannya"

"Yak! Kenapa bicara hal seperti itu!"

"Aku hanya memberitahumu Baekhyunie, bahkan kau sendiri merasakannya bukan bagaimana gagahnya ia sekarang, kau bahkan ketagihan bersamanya"

"Yak!"

"Kau selalu mengatakan lagihhh aahh laggiiihh chanyeolaahh"

"Chanyeol!"

...

..

.

TBC

.

..

...

Happy reading :)