Sacrifice Of Love
.
Park Chanyeol – Byun Baekhyun
.
Rated:
M/T
Genre:
Angst, Drama, Romance...
Warning: GS (genderswitch), Typo berserakan, alur gk jelas
.
Summary: "kau tau apa fungsimu di keluarga ini"... "bisakah kau membuatku mengandung, ku mohon"..."kau memang tak berguna!"..."aku tak yakin bisa menerima hati yang terbagi chanyeol ah"... "jangan terlalu memikirkannya, hanya pikirkan dirimu!"... "bagaimana jika kau tak bisa melihatku, cepat bangun, setidaknya kau harus menolongku dengan kenangan indah kita"
Chapter 2
...
..
...
Saat ini kami tengah didalam mobil untuk pulang, kami telah berada di Korea menuju mansion Park. Setelah melakukan bulan madu selama dua minggu dipulau pribadi itu membuatku sudah seperti disurga, Chanyeol benar-benar menepati ucapannya tentang sesuatu tak terlupakan, terbukti dengan ingatanku yang terus berputar tentang bagaimana menyenangkannya disana
Setelah dimalam Chanyeol memberikan kejutan berupa kencan yang bagiku sebenarnya tidak ada romantis sama sekali, bukan apa karena yang Chanyeol bahas adalah sesuatu yang tak pantas dibicarakan ditengah acara kencan. Chanyeol membicarakan bagaimana gagahnya dirinya bersama si Park junior, itu terus berlanjut membuatku kesal, aku bingung kenapa sekarang ia menjadi seseorang yang sangat mesum
Tapi setelah kejutan itu Chanyeol terus memberiku kejutan yang lainnya membuatku terlihat seperti orang gila karena terus tersenyum memikirkan bagaimana romantisnya seorang Park Chanyeol. Seperti saat Chanyeol mengajakku menyelam, waktu itu aku sempat marah karena Chanyeol terus memaksaku, bukan apa tapi karena aku memang tak bisa sebenarnya juga takut, jangankan untuk menyelam, berenang saja aku tak bisa
Tapi mengingat bagaimana keras kepalanya seorang Park Chanyeol membuatku kalah, dengan tubuh bergetar juga wajah yang sudah sangat pucat seperti mayat, aku menceburkan diriku –sebenarnya memang tak usah sepanik itu karena disana sudah ada instruktur yang mengawasiku, lagipula Chanyeol terus menggenggam tanganku, tapi disaat takut begitu mana terpikir olehku
Dan saat menyelam juga aku sempat menangis, tidak tidak itu bukan tangis sedih atau apa, tapi aku terharu dengan suamiku , dia menyiapkan sebuah kejutan untukku dibawah sana. Entah bagaimana tapi kupikir itu sedikit mustahil, apa Chanyeol sudah mempersiapkannya bertahun-tahun yang lalu, tapi bagaimana bisa? disana ada sebuah hurup B & C, itu adalah sebuah terumbu karang yang bagaimana caranya membentuk hurup awal namaku dan Chanyeol
Chanyeol juga sempat mengajakku kesebuah kebun, disana sangat banyak buah dan sayur membuatku langsung berlari mengambil keranjang untuk memetik buah juga sayuran yang sangat segar. Aku memetik banyak sayuran, niat awalku adalah aku ingin memasak itu untuk Chanyeol –di paviliun memang aku yang memasak walau banyak pekerja. Dan yang membuatku kesal adalah Chanyeol sempat mogok bicara denganku hanya karena aku terus memasakannya sayuran padahal itu sangat bagus untuknya, sebenarnya mungkin karena aku terus memaksanya menghabiskan sayuran yang kumasak sangat banyak
Chanyeol juga sempat mengajaku memancing ditengah laut bersama uncle Leo, dari awal aku memang tak yakin dengannya apalagi saat Chanyeol berkata dengan dagu yang diangkat tinggi jika ia akan mendapatkan ikan yang sangat besar mengalahkan uncle Leo jika ia mau, Chanyeol bilang ia akan membawa seekor hiu jika beruntung, nyatanya jangankan hiu, ikan kecil saja tak ada yang didapat
Dan Chanyeol kembali mendiamiku katanya itu gara-gara aku yang tak bisa diam hingga ikan yang seharusnya dia dapat menjadi kabur karena suara cemprengku. Cih tentu saja itu alasan, aku terus memekik lantaran uncle Leo terus menarik ikan ketas perahu, bahkan dengan suaraku ikan yang uncle Leo dapat malah menjadi banyak
Terhanyut dengan kenangan saat dipulau, aku tersentak saat seseorang yang duduk disampingku menutup mataku dengan sebuah kain hitam membuatku tak bisa melihat apapun
"Chanyeol, apa yang kau lakukan?" tanganku sudah bersiap melepaskannya, tapi Chanyeol menahannya tak boleh
"Aku mempunyai kejutan lain untukmu" dahiku berkerut mendengarnya
"Kejutan apa?"
"Kau akan mengetahuinya nanti" mobil yang kami tumpangi terus melaju, selama perjalanan aku terus memikirkan kejutan apalagi yang Chanyeol siapkan untukku. Aku bisa merasakan mobil yang kami tumpangi mulai berhenti, aku juga mendengar suara pintu mobil yang tertutup lalu terbuka dan sebuah tangan menuntun tubuhku untuk keluar dari mobil dengan mata yang masih tertutup
"Apa aku bisa membukanya sekarang?" aku sudah benar-benar penasaran
"Tidak sayang" Chanyeol menuntunku berjalan, aku mengambil langkah hati-hati karena mataku yang tertutup walau Chanyeol tengah menuntunku tapi aku tetap takut terjatuh. Lama kami berjalan akhirnya kain yang menutup mataku terbuka perlahan
"Selamat datang" aku melihat kesekitar, lalu menoleh dengan wajah kebingungan pada Chanyeol yang tengah tersenyum padaku
"Selamat datang dirumah baru kita" ucap Chanyeol lagi
"A-apa?"
"Selamat datang dirumah baru kita Baekhyunie" Chanyeol merentangkan tangannya seolah tengah menyambut
Aku kaget tentu saja setelah beberapa detik mencerna, mataku membulat dengan mulutku yang tak terkatup. Aku segera menerjang tubuh tinggi itu, Chanyeol dengan sigap menangkap tubuhku hingga aku berada digendongannya dengan kaki membelit pinggang Chanyeol. Aku menerjang wajah Chanyeol dengan banyak ciuman
"Kau menyukainya?" aku mengangguk banyak
"Aku menyukainya, walau sebenarnya ini bukan rumah idamanku tapi aku senang, setidaknya ada dirimu didalamnya" aku tersenyum saat mengatakannya hingga bibirku tertarik sakit saking lebarnya bahkan mataku terasa semakin menyipit saking senangnya
"Maafkan aku, aku tak bisa mengabulkan apa yang kau inginkan"
"hey, bukankah tadi aku mengatakan jika aku menyukainya, aku menyukainya Chanyeol, apalagi ada dirimu bersamaku"
"Tapi memangnya seperti apa rumah yang kau idamkan?"
"hmmm, aku mengidamkan rumah dipinggir laut, bukan sebuah rumah yang mewah, cukup rumah sederhana dan nyaman, tapi mengingat yang kunikahi seorang pewaris tunggal sepertinya itu akan berubah, sebuah mansion mewah sepertinya adalah standarnya" kerlingku berucap main-main. Chanyeol hanya tersenyum mendengar penuturanku.
Aku masih bergelayut di tubuhnya dengan Chanyeol yang setia menahan tubuhku, aku mengedarkan pandangku ingin meneliti setiap sudut yang akan kutinggali, namun sesuatu membuatku terperajat kaget hingga aku langsung meloncat turun dari gendongan Chanyeol
Wajahku sudah sangat memerah saat menyadari banyak para pelayan dengan seragam yang sudah rapi tengah berbaris dengan kepala yang tertunduk. Astaga apa yang kulakukan tadi sungguh memalukan, sangat-sangat memalukan , aku menoleh pada Chanyeol saat mendengar kekehannya, kulihat ia tengah tersenyum geli melihat wajah merahku. Ish kenapa dia tak memberi tau bila sudah banyak pekerja yang berkerja dirumah ini, dan kenapa aku tak menyadarinya
Ugh rasanya aku ingin menghilang atau apapun agar memori memalukan itu musnah. Saat tengah merutuk sikapku, Chanyeol menyentuh pundakku, aku menoleh padanya
"Ingin mengitari tempat ini?" aku segera mengangguk, itu lebih baik dari pada tetap tinggal disana dengan hal memalukan
Chanyeol membawaku berkeliling dimulai mengitari isi mansion yang membuatku terkagum-kagum dengan interior yang benar-benar sangat indah juga mewah, lalu Chayeol membawaku berkeliling diluar mansion, itu adalah yang membuatku hampir memekik senang melihat bagaimana indahnya tempat ini
Disisi bagian barat terdapat lapangan golf, kolam renang raksasa, lalu disisi timur terdapat kolam ikan, dan yang membuatku benar-benar memekik senang adalah terdapat rumah kaca yang sangat besar dengan banyak tanaman didalamnya, dan chanyeol bilang dimansion ini juga terdapat peternakan, itu terdapat disisi utara mansion, juga terdapat kandang kuda juga tempat latihannya
Aku rasa aku benar-benar menjadi seorang Cinderella, seorang anak yang tak punya apa-apa juga siapa-siapa tiba-tiba tinggal disebuah mansion yang layaknya istana bersama sang pangeran yang mencintainya, tuhan benar-benar tengah berbaik padaku
Setelah lelah berkeliling, Chanyeol membawaku memasuki sebuah kamar, itu adalah kamar yanag akan kami tempati, kamar yang sangat luas dengan interior yang tak kalah mengagumkan, didalam kamar juga terdapat sebuah kaca besar penghubung balkon kamar
"Chanyeol ah, kau ingin mandi?"
"Ya, badanku sangat lengket"
"Tunggulah, aku akan menyiapkannya" walau dirumah ini terdapat banyak pelayan tapi aku tak mau kewajiban sebagai seorang istri diambil alih oleh siapapun, terutama yang berhubungan dengan suamiku, itu adalah tugasku, semua yang berurusan dengan suamiku adalah apa yang harus kukerjakan
Setelah selesai menyiapkan air untuk mandi Chanyeol, aku segera mendudukan tubuhku, sebenarnya aku juga sangat lelah, setelah menempuh perjalanan pulang dilanjut mengitari mansion ini jelas aku butuh sitirahat
Saat sedang mengistirahatkan tubuh lelahku, pintu kamar mandi terbuka menampilkan tubuh atletis juga kekar milik suamiku, aku sempat terhanyut hingga lupa bagaimana caranya bernafas, aku benar-benar gugup hanya kerena melihat bagaimana setiap tetes air mengalir menuruni tubuh itu
"...hyun Baekhyun?" aku tersentak kaget saat Chanyeol memanggil-manggil namaku dengan tangan yang ia bawa melambai didepan wajahku
"Ada apa? Kau melamun?" seketika wajahku memerah padam, asataga!
"a-ah ti-tidak" aku gelagapan saat melihat suamiku tiba-tiba tersenyum geli –ahk atau bisa dibilang menyeringai
"Kau terpesona dengan tubuhku?"
"A-apa?"
"Wajahmu memerah"
"A-apa?" tanganku refleks terangkat menyentuh wajahku yang terasa panas
"heh! Apa aku semempesona itu" tubuhku refleks mundur saat Chanyeol mencondongkan tubuhnya kearahku, dan jangan lupakan bagaimana seringayan jeleknya itu!
Mataku bergerak acak menghindari tatapan tajamnya, aku tak tau sudah sematang apa wajahku saat ini juga bagaimana kerasnya degupan jantungku hingga terasa sakit, apa Chanyeol mendengarnya ?
Saat wajah itu semakin mendekati wajahku, mataku langsung terpejam siap menerima apapun, bahkan deru nafasnya sangat terasa diwajahku, hingga dahi ku berkerut saat tak merasakan apapun, mataku kubuka perlahan... wajah itu masih disana juga tatapannya masih tajam. Mataku berkedip-kedip saat tiba-tiba Chanyeol bangkit dari tubuhku. Apa Chanyeol tak melakukan apapun (?)
"aaahh wajahmu semakin memerah" mataku masih berkedip-kedip saat si Chanyeol itu melenggang pergi dengan pakaian ditangannya, itu adalah pakaian yang kusiapkan tadi saat dirinya tengah mandi. Jadi Chanyeol berpura-pura seperti ingin menciumku padahal ia hanya ingin mengambil pakaian yang terletak di dekat tubuhku ?!
"PARK CHANYEOOOOOOL!"
...
..
.
Saat ini aku tengah berkutat dengan perabot dapur, aku akan menyiapkan makan malam dibantu para pelayan. di mansion ini tak ada juru masak seperti dirumah abonim, itu memang aku yang meminta karena bagiku itu tak perlu, aku suka memasak dan lagi pula aku tak memiliki kegiatan apapun yang menyibukan
Sudah sekitar seminggu aku tinggal dimansion ini, dan masih saja perasaan tak nyaman selalu muncul saat para pelayan memperlakukanku layaknya seorang nyonya besar. Aku tak begitu, aku takan terbiasa walau mencoba. Hidup diliputi kesusahaan tak membuatku menjadi sombong dengan semua kemewahaan yang kurasakan kini, aku tau ini bukanlah milikku walau suamiku sendirilah yang memilikinya, aku takkan menjadi sebuah kacang lupa pada kulitnya, karena kesusahaanlah yang membuatku tak mengenal kata besar, berbeda dengan Chanyeol yang sedari kecil sudah disuguhi sendok emas
"Permisi nyonya, ada panggilan untuk nyonya" aku menoloeh pada seseorang yang memanggilku
"Bibi Kim, kenapa masih memanggilku begitu"
"ah maafkan saya nyonya –ah maksud saya baekhyun ah"
"Bibi tak usah sungkan bila bersamaku" aku tersenyum saat melihat wajah tak enak bibi Kim. Bibi Kim adalah kepala pelayan di mansion ini
"Ne Baekhyun ah" setelahnya aku segera pergi menjauhi dapur untuk mengangkat telpon
"Hallo?"
'Baekhyun?'
"Chanyeol?"
'Ne, ini aku, apa kau baik-baik saja?'
"Aku baik"
'Huh syukurlah, kupikir terjadi sesuatu padamu, sedari tadi aku menelponmu tapi kau tak mengangkatnya'
"ah maafkan aku, sepertinya ponselku tertinggal dikamar. Oh ya, ada apa kau menelpon Chanyeol ah?"
'Tidak ada, aku hanya tengah merindukan istri cantikku' aku tersenyum bersemu mendengarnya, tidak sekali dua kali Chanyeol menelponku dengan alasan bahwa ia tengah merindukanku, itu terjadi sangat sering, dan aku menyukainya
"A-aku juga merindukanmu" ucapku mencicit, astaga aku tak terbiasa dengan itu
'aaahh manisnya, aku jadi ingin cepat pulang bertemu istri cantikku'
"Kalau begitu cepatlah pulang, aku akan menunggumu"
'Astaga, aku benar-benar tak tahan, rasanya aku ingin pulang sekarang' aku tersenyum geli membayangkan bagaimana dirinya saat mengatakan itu
"Pulanglah pada jadwalnya jika kau tak ingin abonim marah"
'Ah ya, pasti pria gila kerja itu akan mengamuk padaku'
"Chanyeol! Kenapa bicara begitu pada abonim!" Chanyeol hanya menanggapi dengan kekehan
'Yasudah kalau begitu tunggu aku pulang ne'
"Ne, pulanglah dengan selamat, aku akan menunggumu" setelah panggilan berakhir, aku segera beranjak kembali kedapur untuk menuntaskan masakanku
"Nana tolong kau susun dimeja, aku akan kekamar untuk membersihkan diri, sebentar lagi suamiku akan pulang" setelah berucap aku segera melangkahkan kakiku menuju kamarku yang berada dilantai kedua
Jam sudah menunjukan setengah enam sore, sebenarnya Chanyeol biasa pulang jam tujuh malam, karena itu aku harus bergegas membersihkan diri untuk menyambut suamiku pulang
Satu jam berkutat dikamar, aku melangkahkan kakiku menuruni tangga dengan tubuh juga pakaian yang sudah wangi, tak mungkin aku menyambut suamiku dengan keadaan yang buruk. Menyenangkan suami adalah kewajibanku
Aku melangkah menuju ruang tengah, kududukan tubuhku disofa yang ada, tanganku terjulur mengambil sebuah remot tivi untuk mengisi waktu menungguku
"Permisi nyonya, apa nyonya ingin kubuatkan minuman?" aku menoleh pada seseorang yang mengalihkan atensiku, itu Nana salah satu pelayan dimansion ini
"Bisakah kau hanya memanggil namaku, kau tak usah memanggilku dengan sebutan seperti itu, itu membuatku tak nyaman"
"Ma-maafkan saya nyon –ahk maksud saya eonni" aku tersenyum melihat kegugupannya, mungkin bagi mereka dengan hanya memanggil nama saja adalah sesuatu yang tak sopan, tapi sungguh itu benar-benar membuatku tak nyaman
"Tak apa, kau hanya harus biasakan. Oh ya kau bisa membuatkan aku segelas coklat hangat?"
"Saya bisa nyon- ahk maksud saya eonni" aku terkekeh geli mendengar Nana berucap dengan sangat kaku, itu bukan hanya terjadi pada bibi Kim dan Nana tapi hampir kesemua pelayan di mansion ini sangat kaku memanggilku dengan hanya nama saja
Bahkan mereka sempat menolak dan aku tak bisa berbuat apa-apa jika menyangkut kenyamanan mereka selama bekerja disini, dan hanya bibi Kim dan Nana saja yang sebenarnya mau memanggilku dengan hanya nama itupun karena aku yang sering berinteraksi dengan keduanya dan juga aku sedikit memaksa, itupun jika hanya saat aku berbicara dengan keduanya tidak saat ditempat umum terlebih didepan abonim dan eommanim juga Chanyeol
"Baiklah, terima kasih Nana"
"Tak masalah eonni"
Aku mencari-cari siaran televisi yang bagus, namun kesemuanya sangat membosankan menurutku, hingga siaran yang kutonton berakahir pada makhluk kuning dengan lubang-lubang ditubuhnya yang berbentuk kotak juga rumah nanas yang terdapat didalam air
"Ini eonni" aku mengalihkan pandanganku pada Nana yang baru saja menaruh secangkir coklat hangat diatas meja
"Terima kasih Nana ya"
"Sama-sama eonni"
Aku kembali beralih pada tontonanku yang tengah menayangkan si kotak kuning tengah berlarian bersama temannya si bingtang laut pink, mereka tengah berlari dengan ubur-ubur yang mengejar mereka dengan wajah marah. Astaga mereka sangat lucu, aku bahkan tertawa tanpa sadar
Saat mendengar suara klakson mobil, aku segera beranjak bangkit untuk menyambut seseorang yang kutunggu-tunggu. Saat aku membuka pintu utama, disana Chanyeol baru saja keluar dari mobil dengan bibi Kim yang berada disamping mobil membukakan pintu mobil Chanyeol
"Sayang" aku tersenyum menyambut kedatangannya, Chanyeol melangkah mendekat, aku segera menutup mataku saat ia mencium keningku. Setelahnya aku segera mengambil tas kerja Chanyeol dan menuntunnya untuk segera masuk
"Apa kau lelah?" tanyaku disela perjalanan kami menuju lantai atas tepatnya menuju kamar kami
"aahh sangat lelah, rasanya aku selalu melihatmu disetiap sudut ruanganku membuatku semakin merindukanmu"
"Astaga tuan Park, apa yang kau bicarakan sih" aku hanya menggelengkan kepalaku mendengar ucapannya
"Terlebih aku sangat merindukan Aegi" Chanyeol menunduk saat mengatakannya, tangan besar itu mengelus perutku juga kecupan sayang ia berikan disana. Aku hanya tersenyum haru melihatnya
"Sepertinya kau benar-benar lelah, aku akan menyiapkan untuk mandimu" aku melangkah lebih dulu menuju kamar
"Kau terlihat semakin seksi dari belakang Baekhyunie"
"Aku mendengarmu Park Chanyeol!"
Setelah menunggui Chayeol membersihkan diri juga mempersiapkan segala keperluannya, akhirnya kami melangkah menuruni tangga menuju ruang makan. Semua hidangan yang kumasak sudah tertata rapi dimeja
"Wanginya sangat harum, kau yang memasak?"
"Ne, memang siapa lagi"
"hmm mungkin istri cantikku jika bukan Baekhyunie yang memasak"
"ish kau ini"
Aku mulai menyendokan nasi dipiring suamiku, juga mengambil potongan lauk yang akan suamiku santap, setelahnya aku menuangkan minum untuknya, setelah melihat suamiku menyuap disatu suapun, giliran aku yang menyendok untukku
"Apa enak?" tanyaku disela suapan lahap suamiku
"Sangat enak, apapun yang istriku masak selalu enak, aku menyukainya" aku tersenyum senang mendengar penuturannya. Kami memakan dengan tenang hingga makanan dipiring habis
...
Saat ini kami tengah berbaring –ahk mungkin hanya Chanyeol yang membaringkan tubuhnya dipahaku sedangkan aku duduk dengan bersandar pada kepala ranjang. Tanganku mengelus rambut hitam suamiku saat yang dielus tengah memejamkna mata menikmati
"Bagaimana harimu tuan Park?"
"Tak ada yang spesial kecuali saat aku berada dirumah bersamamu. Lalu bagaimana dengan harimu?" mata bulat itu memandangku saat berucap
"Tak ada yang kulakukan selain memasak dan menungguimu"
"Kau pasti sangat bosan" tangan besarnya terulur menyentuh wajahku, usapan Chanyeol berikan disana hingga mataku tertutup menikmati
"Saat bertemu dirimu kembali semuanya terasa menjadi menyenangkan"
"Akhir pekan ayo kita berlibur"
"Kemana?"
"Kau ingin kemana?"
"hmm?... aku memikirkan sebuah piknik dimusim panas, bagaimana?"
"Ide yang bagus, ayo kita piknik dimusim panas" setelah berucap Chanyeol segera membalik tubuhnya hingga wajahnya menghadap kearah perutku tenggelam, aku tersenyum masih dengan tangan yang membelai lembut rambutnya
"Hallo Aegi ya, bagaimana harimu hmm? Apa kau kebosanan disana?... apa kau merasa kepanasan... Appa menantimu cepatlah hidup didalam sana" Chanyeol menghujani perutku dengan ciuman gemasnya
"Baekhyun ah, apa akhir-akhir ini kau merasa mual?"
"hmm tidak"
"Bagaimana dengan pusing tiba-tiba?"
"hmm.. akhir-akhir ini aku terkadang merasa sedikit pusing"
"Benarkah?.. apa kau juga merasa menginginkan sesuatu secara tiba-tiba?"
"Aku tidak Chanyeol ah, apa kau benar-benar menginginkan Aegi segera berada diperutku?"
"hmm rasanya aku benar-benar tak tahan menantinya.. ahk Baekhyun ah bagaimana jika kita pergi kedokter?"
"Aku rasa tak perlu, jika memang aku benar mengandung aku pasti akan merasakan juga mengetahuinya.. tapi bagaimana jika... memberikan peluang yang banyak untuk menempati ini" aku menepuk perutku pelan. Awalnya Chanyeol terlihat kebingungan dengan apa yang kumaksud tapi setelahnya seringayan segera muncul diwajah tampannya
"hmm sepertinya harus ada yang berkunjung menemui Aegi didalam sana" setelahnya Chanyeol segera bangkit dan langsung mendorong tubuhku hingga terlentang, aku tak sempat melayangkan protes saat ciuman basah telah Chanyeol layangkan padaku, aku hanya akan pasrah menerima perlakuannya
"Enghh" lidah itu terasa menyeruak masuk mengobrak-abrik setiap celah rongga mulutku, aku semakin terlena menerima perlakuannya hingga tanpa kusadari tangan panas itu sudah membebaskan kedua gundukan payudaraku, tangannya terus memberikan pijatan lembut disana
Ciuman Chanyeol mulai berpindah pada area sensitifku, Chanyeol mulai menciumi leherku, sesekali aku memekik saat hisapan kuat kurasakan
"aahh Chanyeol" hisapan itu terus turun hingga pucuk dadaku, Chanyeol menyedotnya kuat sesekali nipple dadaku digigitnya
"Cha-Chanyeol lang-sung sajahhh aahhh" tanganku berusaha mengangkat kepalanya yang terasa tak mau lepas
"Kau yakin?"
"N-neh "
"Baiklah, tapi jangan salahkan aku jika rasanya lebih sakit dari biasanya" mataku terpejam menunggu sesuatu yang akan menyeruak masuk kedalam tubuhku. Saat Chanyeol mulai memposisikan kejantanannya aku langsung memeluk lehernya meyiapkan diri
"Aku akan mulai" setelah mengatakan itu Chanyeol langsung menghentak kejantannya, berbarengan dengan pagutan yang Chanyeol berikan untuk meredam jeritanku, Chanyeol terus menyiumku berusaha mengalihkan dari rasa menyengat diarea bawahku. Saat dirasa aku mulai terlena, Chanyeol mulai menggerakan pinggulnya menghentak
"eungh eungh eunghhh ahh ahh" ciuman itu terlepas, Chanyeol mulai terpokus dengan hentakannya dibawah sana sedangkan aku, apa lagi yang kulakukan selain mendesah
"arghhh ja-janghanh diketatkan aahh baekhyunhh"
"akh akh akh akh" Chanyeol semakin membuka lebar pahaku memperdalam tusukannya
"Cha-Chanyeol aahhh ahk akh pe-pelan ahh" tidak, chanyeol tak akan mengabulkan apa yang kuucapkan, justru sebaliknya tusukan itu semakin kencang menghajar lubangku
"ahk ahk ahk Ca-Chanyeolhhh aahh ahhh ahk ahk ahhh" aku hanya berharap esok pagi kakiku masih berpungsi
...
..
.
"Eunghh" tubuhku menggeliat mencoba meregangkan bagian yang terasa pegal, ahk rasanya semua terasa pegal. Aku menoleh pada jendela yang masih tertutup yang kuyakini belum ada cahaya yang mencoba menyeruak masuk kedalam lewat celah horden, ini masih sangat pagi tapi bagiku ini adalah jam untukku bangun menyiapkan keperluan suamiku
Aku menoleh pada sisi ranjang yang lain saat merasakan pergerakan, disana Chanyeol tengah mendengkur halus dengan tangan yang melilit perutku erat, tanganku terulur mengusap wajah tampannya yang masi terpejam
Setelah memberikan kecupan singkat pada belah bibir tebal itu aku mencoba bangkit menuju kamar mandi setelah mengambil sebuah kaos besar yang sepertinya milik Chanyeol lalu memakainya, namun sebelum kakiku menapak pada permukaan lantai dingin sebuah tangan sudah menarikku kembali hingga terbaring dengan badan yang terkukung tubuh besar sipenarik, terasa sesak saat belitan tangan terasa mengencang
"Ini masih sangat pagi, kau mau kemana hm?" suara itu terdengar serak menggeram ditelingaku
"Aku harus menyiapkan keperluanmu sayang"
"Aku masih mengantuk"
"Kau bisa melanjutkan tidurmu, aku akan membangunkanmu nanti"
"Kenapa tidak tidur bersama? aku ingin memelukmu" belitan itu terasa semakin kencang hingga membuatku sedikit sulit bernafas
"Aku harus menyiapkan sarapanmu"
"Banyak para pelayan yang bisa menyiapkannya, kenapa harus repot-repot hah?"
"Istrimu itu aku atau para pelayan hm, tentu saja aku harus menyaipkan keperluanmu sayang"
"Tapi aku membayar mereka, lalu apa yang mereka lakukan jika tuan mereka ingin bermesraan saja tak bisa"
"Hey aku hanya membuat sarapan sebentar, kenapa bicara begitu lagipula tadikan kau bilang mengantuk"
"Aku sangat mengantuk setelah membuat Aegi, ahk apa Aegi masih tertidur" tangan besar itu membelai perutku lembut mengabaikan bagaimana pipiku terasa bersemu merah
"Selamat pagi Aegi ya, apa kau sudah tumbuh disana, ahh aku sangat merindukanmu... apa? Ahk kau ingin tidur bersama appa? Bersama eomma juga?.. iya iya sayang" alisku terangkat seolah bertanya apa yang kau lakukan?
"Aegi ingin tidur bersama kita, jadi kau tidak bisa beranjak kemanapun" Chanyeol mengatakannya dengan cengiran lebarnya
"Chanyeol ah"
"ahh ne sayang, eommamu takan kemanapun"
"Chanyeol"
"hm mm aku juga menyayangimu"
"Sayang?" kubawa wajahnya agar melihat kearahku, kubelai wajah itu sayang, aku menatapnya dengan pandangan andalanku mencoba membuatnya luluh
"huh! Baiklah tapi janji tak lama?"
"Ne, sekarang sebaiknya kau kembali tidur ok?" tubuh besar itu kembali berbaring, dengan sigap aku menarik selimut agar kembali membungkus tubuh besar suamiku, sebelum benar-benar beranjak kukecup kening itu sayang
Aku segera melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhku, setelah selesai dengan tubuhku aku melangkah menuju lemari pakaian lalu mengambil sebuah gaun santai yang menurutku nyaman untuk dipakai, setelahnya aku segera melangkah keluar kamar menuju dapur
Para pelayan sudah berjejer seolah menungguiku memberi titah
"Selamat pagi nyonya" ucap para pelayan membungkuk saat kakiku mulai menapak dilantai dasar, itu membuatku merasa tak nyaman
"Selamat pagi"
"Bagaimana tidur nyonya?"
"Tidurku baik bibi Kim, bagaimana dengan bibi Kim?"
"Saya juga baik nyonya, apa anda akan mulai memasak?"
"Ne, aku harus cepat sebelum suamiku bangun"
"Para pelayan akan membantu"
"Terimakasih bibi Kim"
"Tak masalah nyonya" kakiku mulai melangkah menuju dapur dengan diikuti beberapa pelayan yang akan membantuku
Hari ini aku akan membuat sandwich tuna untuk Chanyeol bersama segelas kopi, aku juga akan membuat nasi goreng juga pancake, lalu segelas susu coklat hangat untukku. Saat sarapan memang tak ada menu yang terlalu special karena baik diriku juga Chanyeol tak terlalu mempermasalahkan, hal lain karena Chanyeol tak terlalu menyukai sesuatu yang berat untuk memulai hari
Saat semua hidangan sudah tertata dimeja makan, aku segera beranjak menuju kamar untuk membangunkan suamiku yang kuyakini masih tertidur nyenyak. Pintu kamar kubuka, lalu langkahku tak langsung mendekati ranjang tempat bergelungnya seseorang, namun aku lebih memilih membuka horden yang sudah menampilkan secercah cahaya yang mencoba masuk, ku tarik kain itu hingga semua cahaya berlomba-lomba memasuki ruangan hingga sedikit mengusik seseorang diatas ranjang karena sinarnya menerpa wajah
"Selamat pagi" sapaku pada mata yang mulai terbuka, aku melangkah mendekat untuk memberikan sebuah kecupan selamat pagi
"Pagi" suara serak itu membuatku semakin tersenyum lebar menyambutnya
"Bangunlah, aku sudah menyiapkan sarapan untukmu"
"aahh aku masih mengantuk Bae" Chanyeol berucap sambil meregangkan tubuhnya membuat suaranya terdengar semakin berat
"Bukankah tadi kau sudah mendapat tidurmu lagi?"
"Itu tak cukup, ahh bagaimana dengan berlibur diatas kas –"
"Apa kau tengah mencoba sebuah peruntungan? Tapi maaf aku tak menerima segala bentuk negosiasi apapun"
"Aku ingin mengatakan berlibur diparis" Chanyeol berucap dengan wajah masamnya membuatku tertawa geli, aku tau maksud ucapan Chanyeol bukanlah itu
"Ayo, kau akan kesiangan jika tetap disana"
"Aku memilih terlambat"
"Jika begitu berarti kau bukan suami yang baik karena melalaikan tugasmu, terlebih untuk menghidupi istrimu"
"Menjadi pengangguran seumur hiduppun kau akan tetap terjamin Baekhyunie, aku lelah bekerja"
"Lalu bagaimana kau memberi contoh untuk Aegimu nanti?"
"huh?" alisku terangkat seolah berucap bagaimana?
"ahh Aegiku, appa hampir melupakanmu sayang, selamat pagi, bagaimana kabarmu?" Chanyeol berucap didepan perutku seakan benar-benar tengah berbicara dengan lawan bicaranya setelah sebelumnya melompat turun dari ranjang kasur. Sebenarnya ini membuatku sedikit takut, bagaimana jika aku mengecewakan Chanyeol
Chanyeol terus mengecup perutku dengan usapan yang ia berikan disana sebelum sebuah nada dering menginterupsi kegiatannya membuat Chanyeol sedikit menggeram kesal. Aku hanya memperhatikan bagaimana suamiku itu mengangkat sebuah panggilan dengan wajah malasnya, aku sedikit tertawa saat melihat bagaimana Chanyeol hanya menjawab dengan gumaman malas membuat lawan bicaranya memekik kesal hingga terdengar olehku, dari suaranya sepertinya itu Sehun
"Huh! Kegiatan yang membosankan" ucap Chanyeol dipelukanku setelah memutus sambungan telponnya
"Akhir pekan kita akan berlibur ingat"
"Itu terlalu lama" aku sedikit merasa iba pada suamiku itu, pasti sangat membosankan juga melelahkan dengan semua pekerjaannya
"Siang nanti aku akan berkunjung, aku akan membawa makan siang untukmu, bagaimana?"
"Benarkah, aku akan menunggumu"
"Ne, kalau begitu sebaiknya sekarang kau segera bergegas membersihkan diri, aku akan menyiapkan pakaianmu"
"Baiklah istri cantikku" Chanyeol beranjak menuju kamar mandi setelah memberikan kecupan singkat pada bibirku
"ahh dia itu" tanganku terus mengipasi wajahku yang terasa panas
...
Aku menggandeng tangan suamiku yang sudah terlihat sangat tampan juga gagah dengan stelan jas yang ia kenakan
"Selamat pagi tuan, nyonya" para pelayan membungkuk hormat menyambut kami, aku sedikit melirik suamiku yang tengah memasang wajah dinginnya
Aku membalas dengan gumaman juga senyuman pada para pelayan sedangkan Chanyeol hanya terus melangkah menuju meja makan tanpa peduli pada sekitar, astaga kenapa dengan dirinya itu. Setelah mendudukan pada kursi, aku segera memberikan sandwich juga kopi hangat pada suamiku itu, kami menikmati sarapan dengan tenang
Setelah selesai Chanyeol segera beranjak diikuti olehku, kami melangkah menuju pintu utama, disana sudah ada paman Lee supir yang akan mengantar jemput Chanyeol yang tengah berdiri disamping mobil
Aku melangkah pada Chanyeol, tanganku terangkat membetulkan dasi yang dikenakannya setelahnya tepukan pada bahu lebar yang dibungkus jas kantor itu kuberikan. Kupandangi suami tampanku yang tak pernah bosan untukku
"Hati-hati dijalan ne"
"hmm"
"Kau sangat tampan"
"Milikmu" aku terkekeh mendnegarnya, tentu saja ketampanannya milikku
"Aku akan menunggumu siang nanti"
"Ne, aku akan datang"
"Yasudah aku berangkat ne" Chanyeol mengusak tatanan rambutku hingga membuatku merenggut, setelahnya kecupan manis dibibirku ia berikan tanpa memikirkan para pekerja juga wajah matangku yang memerah
"N-ne, hati-hati" Chanyeol terkekeh mendengar suara gugupku sebelum melangkah menuju mobilnya. Aku melambai pada mobil yang mulai melaju meninggalkan pekarangan
...
..
.
Sesuai janjiku pada suamiku, siang ini aku akan berkunjung pada kantor suamiku, aku diantar supir yang lain menuju kantor Chanyeol. Saat sampai disana para pekerja yang tak sengaja kutemui terus menyapaku membuatku sedikit gugup. Aku diantar oleh sekretaris Chanyeol yang menurutku terlihat sangat seksi. Kenapa dia berpakaian seperti itu
Sekretaris Chanyeol itu mengetuk sebuah pintu ruangan yang kuyakini ruangan tempat suamiku bekerja, saat terdengar suara yang menyuruh masuk, sekretaris Chanyeol itu segera mempersilahkanku masuk
Aku sedikit menyembulkan kepalaku untuk melihat kedalam, memang tak sopan tapi kupikir bukankah ini ruangan suamiku jadi tak ada yang harus kukhawatirkan. Disana wajah yang selalu bertingkah konyol bila bersamaku nampak sangat berbeda. Tegas, berwibawa, juga berkarisma, Chanyeol memiliki semua yang membuat para kaum hawa akan memberikan apapun yang ia punya hanya untuk mendapatkan lirikan Chanyeol, pantas saja sekretrisnya berpenampilan seseksi itu, ternyata atasannya saja sudah setampan ini
"ekhem, permisi Sajangnim"
"Ada apa?" wajah tampan itu bahkan tak terangkat untuk menatap lawan bicaranya, sepertinya tumpukan kertas membosankan lebih terlihat menarik ketimbang siapa yang datang
"Ada sebuah kiriman untuk Sajangnim"
"Dari siapa?"
"Dari istri Sajangnim yang cantik juga manis" kening itu berkerut seolah tengah mencerna kemudian tatapan terkejut kudapatkan dari wajah tampan itu
"Baekhyun?"
"Sepertinya Sajangnim sangat sibuk hingga suara istri Sajangnim saja tak membuat anda menoleh"
"Maafkan aku sayang, aku tak tau bila itu kau" Chanyeol beranjak dari kursinya menghampiriku, pelukan kudapatkan serta kecupan Chanyeol berikan pada bibirku, setelahnya Chanyeol membawaku pada sofa yang terdapat diruangan itu
"Aku membawakan makan siang untukmu sesuai janjiku"
"Apa ini sudah waktunya jam makan siang?"
"Kau menjadi gila kerja"
"Maafkan aku"
"Apa yang terjadi bila aku tak datang membawakanmu makanan, apa kau akan melewatkan makan siangmu?"
"Mungkin"
"Apa?" aku mendelik saat mendapatkan jawaban yang membuatku marah
"Apa kau sering melupakan makan siangmu?" cengiran lebar menjadi jawaban atas pertanyaanku
"Apa susahnya makan Chanyeol kenapa kau menjadi tak memperhatikan kesehatanmu hah? Mulai sekarang aku akan terus datang membawa makan siang untukmu"
"Itu yang ku inginkan"
"Cih kau benar-benar. Jja cepat makan makananmu"
"Suapi aku"
"Astaga kau kan sudah besar Chanyeol"
"Memang kenapa jika aku sudah besar, kau istriku jadi aku ingin kau menyuapiku"
"Astaga baiklah baiklah" aku segera menyendokan suapan makanan yang kubawa pada suamiku
"Bagaimana pekerjaanmu?"
"Ada sedikit masalah pada perusahaan cabang yang ada di jepang"
"Masalah apa?"
"Penurunan saham, jangan khawatir aku sudah menyuruh sekretarisku pergi kejepang untuk memantaunya" dahiku berkerut saat mendengar kata sekretaris, apa yang Chanyeol maksud sekretaris yang kutemui tadi
"Sekretaris yang berpenampilan seksi tadi?"
"Huh? Aaahh bukan sayang, yang tadi itu hanya sekretaris pengganti"
"oohh kupikir sekretaris yang tadi"
"Kenapa? Dari nada bicaramu sepertinya kau tengah cemburu" Chanyeol menatapku dengan pandangan yang ugh itu membuatku memerah
"A-apa? Kenapa aku harus cemburu?" Chanyeol tak menjawab hanya menatapku dengan kerlingan juga seringayannya
"Ish lagipula wajar aku bersikap begitu jika suamiku sendiri terus disuguhi ikan asin"
"Ahahaha apa kau pikir aku seekor kucing?"
"Jika kau tak tertarik dengan suguhan itu berarti kau masih seorang Park Chanyeol suamiku"
"Yang kucintai hanya Baekhyuniku seorang, tak ada oranglain yang membuatku tergila-gila olehmu"
"Yak ish sudah cepat makan lagi" teriakku padanya, sebenarnya itu adalah peralihan dari wajahku yang memerah
"Hahahaha"
"Jangan tertawa kau jelek" renggutku
...
..
.
"Nana ah bisa tolong buatkan aku teh cinnamon, kepalaku tiba-tiba sakit"
"Apa anda baik-baik saja eonni?"
"Aku baik-baik saja, tak usah khawatir"
"Baiklah saya akan membuatkan tehnya eonni"
"Terima kasih Nana ah" saat ini aku tengah berbaring diatas ranjangku. Setelah mengantar makan siang untuk suamiku itu saat perjalanan pulang tiba-tiba kepalaku berdenyut nyeri, aku tak tau kenapa tapi rasanya itu sungguh menyakitkan. Suara ketukan mengalihkanku, aku berucap untuk masuk
"Baekhyun ah?" aku menoleh saat yang memanggil bukan Nana, itu bibi Kim dengan cangkir ditangannya
"Aku dengar dari pelayan jika kau tak enak badan" bibi Kim menaruh cangkir yang dibawanya yang kuyakini teh cinnamon
"Aku hanya sakit kepala bibi"
"Apa aku perlu memanggil dokter pribadi keluarga Park?"
"Tidak-tidak kurasa aku hanya perlu istirahat"
"Kau yakin?"
"Ne bibi"
"Baiklah aku akan keluar, jika ada sesuatu yang kau butuhkan panggil aku atau pelayan"
"Aku mengerti bibi" setelah bibi kim keluar aku mengambil cangkir teh untuk kuminum, itu sedikit meredakan rasa pusingku. Setelahnya aku segera membaringkan kembali tubuhku untuk segera mengistirahatkan tubuhku agar rasa pusing itu benar-benar sembuh
"Sayang" samar-samar aku mendengar ada yang memanggil namaku juga usapan lebut diwajahku, mataku perlahan terbuka aku mengerjapkan mataku berkali-kali untuk memperjelas siapa yang tengah memanggilku. Saat sepenuhnya penglihatanku sudah jelas barulah aku tau si pemanggil, itu Chanyeol dengan wajah khawatirnya
"Chanyeol?"
"Sayang apa kau baik-baik saja?"
"Aku baik" mataku kembali tertutup saat merasakan usapa tangannya diwajahku
"Bibi Kim bilang kau sakit, aku mencemaskanmu"
"Tidak, kepalaku hanya sedikit pusing, tak usah cemas" aku tersenyum menenangkan saat masih melihat raut wajah cemas itu
"Apa sebaiknya aku memanggil dokter pribadi kita?"
"Hey aku tak apa, kau tak perlu secemas itu, lagipula aku sudah tak merasa pusing lagi"
"Benarkah?"
"Hu'um" sekarang tanganku yang berganti mengelus lembut wajah kelelahannya
"Oh astaga aku belum menyiapkan makan malam kita, jam berapa ini" aku langsung terperajat duduk, namun Chanyeol langsung menahanku untuk bangkit, tangan itu membaringkan kembali tubuhku
"Kau ini, aku hanya memikirkanmu, aku juga sangat mencemaskanmu, kenapa kau malah memikirkan memasak, bahkan saat bibi Kim memberitahu jika kau sakit saat aku menanyakanmu, aku langsung berlari kemari"
"Maafkan aku sayang, tapi aku tak bisa mengabaikan kewajibanku sebagai seorang istri, kau harus makan malam, jja sebaiknya sekarang kau membersihkan tubuhmu, aku akan memasak"
"Para pelayan sudah menyiapkannya Baekhyunie"
"Benarkah ahh aku jadi merasa tak enak"
"Apa? Astaga kau adalah seorang nyonya rumah sayang, kenapa kau harus merasa tak enak pada mereka"
"Tapi itu adalah pekerjaanku, membuatmu senang adalah tugasku, dan memasak adalah salah satu dari tugasku sebagai seorang istri sayang, dan mereka tak memiliki hak apapun untuk itu"
"Baiklah-baiklah istriku yang cantik, yang baik, yang imut, yang seksi"
"Ish kau ini, awas aku akan menyiapkan mandimu" setelahnya aku langsung melangkah menuju kamar mandi untuk menyiapkan air hangat untuk suamiku, namun saat selangkah kaki melangka tiba-tiba sebuah tangan sudah menarikku hingga aku terduduk dipangkuan sipenarik
"Seorang istri yang baik juga harus menyenangkan suami bukan hanya dari segi makanan tapi diatas ranjang juga kau tau itu bukan, tapi bagaimana jika suamimu ini tengah ingin melihatmu menjadi seorang istri yang baik dikamar mandi?" mataku membulat mendengar penuturannya
"A-apa?" aku mencoba melepaskan belitan tangannya dipinggangku, mataku menatap awas pada kerlingan matanya juga seringayannya
"Kau jelas mengerti apa maksudku Baekhyunie sayang"
"YAAAKK" setelahnya Chanyeol langsung membawaku menuju kamar mandi tanpa mengindahkan jeritan juga rontaanku. Kupikir setelahnya kalian jelas tau apa yang akan terjadi
...
Aku berjalan dengan menggandeng tangan suamiku, setelah acara yang melelahkan itu akhirnya aku bisa terbebas dari kemesuman suamiku, tadinya Chanyeol tak mau berhenti tapi saat aku mengeluhkan sakit kepala lagi Chanyeol langsung menghentikan kegiatannya yang membuat bagian bawah tubuhku sakit, sebenarnya tak sepenuhnya sakit nyatanya aku terus meminta lebih pada suami mesumku itu, astaga kenapa aku jadi tertular kemesumannya
Dan untuk sakit kepala itu aku memang tak bohong, sakit kepala itu sempat menyerangku kembali tapi untungnya tak semenyakitkan yang tadi juga tak terlalu lama. Saat kami melangkahkan kaki dianak tangga terakhir para pelayan seperti biasa menunduk hormat
"Selamat malam tuan, nyonya" itu bibi Kim
"Malam bibi" aku yang menjawab, seperti biasa suami tampanku itu hanya memasang wajah dinginnya, cih sebenarnya ada apa dengan dirinya itu
Kami melangkah menuju meja makan yang benar saja sudah banyak hidangan yang tersaji disana. Saat akan duduk para pelayan menarik kursi kami hingga membuatku merasa tak enak, sudah kubilang bukan aku takan pernah terbiasa berbeda dengan Chanyeol yang bersikap biasa saja
Aku menyendokan nasi juga lauk pauknya pada piring Chanyeol setelahnya aku menyendok untukku
"Bagaimana pekerjaanmu tadi?"
"Melelahkan, perusahaan cabang yang ada dijepang masih belum ada perubahan"
"Ugh kasihannya suamiku"
"Ya beginilah pekerjaanku, banyak yang ingin berada diposisiku saat ini namun mereka tak tau tanggung jawab sebesar apa yang harus kutanggung" aku tersenyum mendengar suamiku berkeluh kesah
Aku menyukainya saat suamiku ingin berbagi padaku, walau aku tak mengerti tapi aku bisa membantu dengan mendukungnya, bukankan dibalik suami yang sukses ada istri yang hebat? Mungkin aku bukan seorang istri hebat mengingat suamiku sudah menjadi sukses bahkan sebelum kami menikah, tapi setidaknya aku harus selalu ada saat suamiku mendapat tekanan atau apapun kesusahan dengan pekerjaannya
"Kau suami yang hebat"
"Aku menjadi hebat karena istriku juga hebat" senyumku terulas kembali mendengarnya
...
..
.
"eengh" mataku terbuka perlahan, keringat mengucur deras membasahi keningku. Aku merasa tak enak badan, sangat mual rasanya terlebih denyut itu terasa kembali, keringat dingin juga membasahi tubuhku hingga membuatku gemetar, sebenarnya ada apa denganku. Saat rasa mual sudah sangat tak tertahankan aku langsung berlari menuju kamar mandi
"hoek hoek" mual itu semakin membuatku pening, tak ada yang kumuntahkan hanya cairan bening yang keluar, itu sangat tak enak rasanya
"ugh hoek" lagi, kenapa rasanya sangat mual, apa aku salah memakan sesuatu
"Baekhyun ah?" pijatan pada tengkukku mulai terasa berbarengan suara panggilan yang sarat akan kekhawatiran, sepertinya aku mengganggu tidur suamiku
"Apa yang terjadi?"
"ugh aku tak tau, rasanya sangat mual Chanyeol"
"Apa?" aku sedikit heran mendengar pekikikan Chanyeol, astaga kenapa dia seperti senang begitu, apa dia senang aku sakit
"hoek"
"ahh tak apa sayang muntahkan saja, appa disini"
"hoek ugh... kau bicara apa?!"
"Itu biasa terjadi sayang" ada apa dengan si Chanyeol itu, kenapa dia berubah menjadi sesenang itu melihat aku mual begini! Apa dia tak tau rasanya sangat tak enak
"ugh kepalaku sakit"
"Aku tau ini menyakitkan sayang, tapi bertahanlah, ini takkan lama"
"Bicara apa kau ini?! Jangan membuat kepalaku semakin pusing"
"Apa sudah selesai?"
"ugh apanya?"
"Mualnya, aku ingin mencium anakku"
"ASTAGA ADA APA DENGANMU!?" ugh kepalaku semakin sakit, seharusnya sebagai suami yang baik dia memanggilkanku dokter atau paling tida bersikaplah khawatir, kenapa si Chanyeol itu sangat aneh
"Kau tengah hamil Baekhyunie"
"A-apa?"
...
..
.
TeBeCe
.
..
...
Happy reading
Semoga endingnya menyenangkan, kalaupun tidak tolong jangan marah T^T
