Sacrifice Of Love
.
Park Chanyeol – Byun Baekhyun
.
Rated:
M/T
Genre:
Angst, Drama, Romance...
Warning: GS (genderswitch), Typo berserakan, alur gk jelas
.
Summary: "kau tau apa fungsimu di keluarga ini"... "bisakah kau membuatku mengandung, ku mohon"..."kau memang tak berguna!"..."aku tak yakin bisa menerima hati yang terbagi chanyeol ah"... "jangan terlalu memikirkannya, hanya pikirkan dirimu!"... "bagaimana jika kau tak bisa melihatku, cepat bangun, setidaknya kau harus menolongku dengan kenangan indah kita"
Chapter 3
...
..
...
"Kau tengah hamil Baekhyunie"
"A-apa?"
"kau pasti tengah hamil, astaga aku sangat senang..."
"Cha-Chanyeol?"
"...Apa yang harus kulakukan, apa aku harus menelpon ibu? Atau..."
"Chanyeol ah?"
"... Ahk aku rasa kita harus memeriksa usianya dulu, tapi kira-kira berapa usianya ya, aku pikir dia masih kecil, kitakan baru beberapa minggu menikah hahaha"
Entah kenapa aku terluka mendengar tawa bahagia itu
"Baekhyun ah?" aku tersentak mendengar panggilan itu
"Apa kau tak bahagia?" mata itu memandangku heran
"Chanyeol?"
"Ada apa sayang?" aku tersenyum melihat senyum lebar itu terulas diwajah tampan suamiku
"Apa kau benar-benar sangat menginginkan seorang anak?"
"Ada apa? Kenapa bertanya begitu?"
"A-aku hanya bertanya" aku mengalihkan pandanganku tapi Chanyeol segera menangkap daguku untuk ia bawa menatap padanya
"Aku memang menginginkannya, sebagai seorang ayah. Bukan sebagai seorang pewaris" Chanyeol tersenyum membuatku ikut tersenyum.. walau rasanya masih banyak yang mengganjal
"Ada apa?"
"Tak ada, aku hanya bahagia bisa mendapatkan seorang suami sepertimu" aku tersenyum berusaha meyakinkannya
"Aku suamimu, kau tak bisa membohongiku. Ada apa Baekhyunie?"
"A-aku... aku takut Chanyeol ah"
"Apa soal itu?" aku mengangguk lambat-lambat menjawabnya
"I-iya, aku takut mengecewakanmu, bagaimana jika dalam waktu itu aku ternyata belum hamil. Aku takut... aku sangat takut kehilanganmu"
"Hey, hey.. apa yang kau katakan? Tak ada yang harus kau takuti Baekhyunie... dengarkan aku, aku menginginkannya sama sekali tak terpaut dengan waktu yang sudah mereka tentukan. Jika ternyata kau belum mengandung aku akan menunggunya dan kita juga bisa berusaha lebih keras lagi"
"Ta-tapi bagaimana dengan perjanjian itu?"
"Aku tak perduli dengan perjanjian bodoh itu, kau istriku selamanya kau adalah istriku, kau mengerti?"
"N-ne"
"Baekhyunie?"
"Aku mengerti Chanyeol ah" setelahnya Chanyeol mengusak rambutku yang berantakan
"Apa kau masih merasa mual?"
"Sedikit"
"Ingin ku buatkan teh hangat?"
"Apa boleh?"
"Tentu saja nyonya Park. Jja ayo kita kembali" aku bersemu mendengar ucapannya astaga kenapa sangat manis
"Kau tersipu?"
"A-apa?" aku menatap kaget pada Chanyeol yang tengah menuntunku menuju ranjang
"Kau sangat manis saat tersipu" aku langsung mengalihkan pandangku dari wajah yang tengah berseringai itu
Chanyeol membaringkanku dengan sangat hati-hati. Saat akan keluar Chanyeol mencium keningku membuatku tersenyum senang. Aku berbaring menunggu Chanyeol, mataku menoleh pada jam yang ada didinding. Masih jam dua pagi, aku merasa tak enak pada suamiku karena telah membangunkannya
"Baekhyunie" aku menoleh pada Chanyeol yang membawa segelas teh hangat, Chanyeol memberikannya padaku yang langsung terduduk menerima secangkir teh itu
"Minumlah" aku meminum sesuai apa yang Chanyeol ucapkan
"Ini enak"
"Itu hanya teh hangat biasa"
"Aku serius" aku tersenyum lebar pada wajah yang tengah menatapku datar itu
"Apa masih terasa mual?"
"Sudah lebih baik"
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Entahlah tiba-tiba aku sangat mual saat tidur tadi"
"Apa besok kita ke rumah sakit?"
"Untuk apa? Aku sudah merasa lebih baik"
"Aku masih penasaran, apa mungkin kau benar-benar hamil?"
"Tapi... bagaimana jika aku hanya masuk angin biasa?"
"Tak masalah, itu berarti kita harus berusaha lebih keras lagi"
"Tapi..."
"Aku akan menerima apapun hasilnya" Chanyeol menggengam tanganku seolah berkata tak ada yang perlu dipikirkan
"Ba-baiklah"
...
Pagi ini aku terbangun bukan karena jam alam bawah sadarku sudah berdering, tapi aku terbangun karena suara gaduh yang berasal dari arah jendela besar. Itu Chanyeol tengah menelpon, entah apa yang terjadi tapi dari raut wajah itu sepertinya terjadi sesuatu yang serius
"Chanyeol ah" aku memanggil saat melihat Chanyeol telah usai bertelpon. Chanyeol menoleh padaku kemudian mendekat
"Ada apa?"
"Maafkan aku tapi ini sangat mendadak" Chanyeol menjawab dengan wajah bersalah yang membuatku semakin penasaran
"Apa yang terjadi?"
"Aku harus pergi ke jepang" Chanyeol menggengam tanganku
"Kenapa? Apa yang telah terjadi?"
"Kau ingat perusahaan cabang yang ada di jepang yang kuceritakan, sekretarisku bilang ada beberapa investor yang menarik saham mereka dan aku harus segera pergi kesana"
"Kapan?"
"Pagi ini"
"Baiklah pergilah" aku tersenyum pada wajah bersalah itu, sebenarnya sedikit tak rela tapi akupun tak bisa menjadi egois
"Tapi... bagaimana dengan pemeriksaannya?"
"Aku akan menunggumu pulang dan kita akan memeriksanya bersama"
"Tapi..." wajah itu berubah gelisah membuatku heran
"Ada apa?"
"Entahlah aku sedikit tak rela meninggalkanmu"
"Kalau begitu cepat selesaikan masalah disana dan cepatlah pulang, aku menunggumu" wajah itu masih menunjukan kegelisahan yang tak kuketahui kenapa, aku mengusap kerutan yang terdapat dikening tampan suamiku hingga kerutan itu menghilang, aku juga mengecup kening itu hingga dapat kulihat senyum kembali terulas diwajah tampannya
"Apa kau sudah menyiapkan keperluanmu?"
"Belum"
"Kalau begitu aku akan menyiapkannya, sebaiknya kau segera membersihkan dirimu"
"Baiklah sayang" sebelum beranjak Chanyeol menyempatkan untuk mengecup bibirku membuatku tersipu
...
"Chanyeol ah kau yakin aku tak usah mengantarmu ke bandara?" aku tengah berdiri didepan Chanyeol membetulkan dasi yang suamiku pakai
"Tidak usah sayang, jika kau mengantar aku akan sulit pergi, lagi pula ini hanya perjalanan bisnis"
"Kapan kau akan kembali?"
"Aku belum tau, tapi akan kuusahakan secepatnya aku janji"
"Kalau begitu cepatlah kembali, aku menunggumu"
"Ne, aku berangkat sayang" sebelum benar-benar memasuki mobil Chanyeol mencium bibir ku terlebih dahulu, kami saling memagut, kali ini aku tak menghirauhkan para pekerja yang berada disekitar kami
"Hati-hati" pintu mobil dibuka oleh pelayan dan Chanyeol masuk kedalam, aku menatap perginya mobil itu hingga meninggalkan pekarangan.
Saat sudah tak terlihat aku segera kembali kedalam, namun baru lima langkah kakiku melangkah gejolak itu kembali terasa hingga membuatku berlari ingin memuntahkannya
"Hoek.." semua sarapan yang kumakan tadi termuntahkan hingga tak tersisa
"Hoekk.. empphh.."
"Hoek.." rasanya semua sudah termuntahkan tapi rasa mual itu masih tak tertahankan
"Hoek.. ughhh.. hoekk"
"Eonni? Apa yang terjadi?"
"Nana.. haah.. ugghh.." nafasku tersenggal membuatku sulit untuk berbicara
"Hoekk.. uuhhh.. emphh" Nana membantukku dengan memijat tengkukku
"Apa masih mual?" aku mengangguk, rasanya masih sangat mual tapi tubuhku sudah sangat lemas
"Pusing.. ughh" denyut itu kembali, membuatku meringis menahan rasa sakit. Ada apa sebenarnya dengan tubuhku kenapa sangat tak enak. Tubuhku kini sudah dipenuhi peluh membuatku basah, belum lagi keringat dingin mengucur deras, aku sudah tak kuat lagi menahan tubuhku hingga membuatku terduduk, wajahku sudah sangat pucat
"Astaga eonni.. eonni kau baik-baik saja?"
"Ughh" aku melihat Nana berlari keluar kamar mandi dengan wajah panik, mungkin dia ingin mencari bantuan untukku
BRAKK
"BAEKHYUN?!" itu bibi Kim datang dengan wajah paniknya, beberapa penjaga juga disana
"Apa yang terjadi, kau baik-baik saja?" bibi Kim menepuk wajahku yang terlihat sangat pucat
"ASTAGA APA YANG KALIAN LAKUKAN! CEPAT BANTU AKU!"
...
..
.
"Baekhyun ah apa kau sudah merasa lebih baik?"
"Aku sudah lebih baik bibi, jangan khawatir" jawabku, saat ini aku tengah terbaring diranjang kamarku
"Apa aku harus menelpon dokter pribadi Park?"
"Tak perlu bibi, aku sudah merasa lebih baik, dan... tolong jangan sampai Chanyeol tau soal ini, aku takut dia akan cemas dan tak bisa berkonsentrasi disana"
"Baiklah, tapi sebenarnya apa yang terjadi?"
"Entahlah saat aku berjalan masuk tiba-tiba perutku seperti bergejolak, rasanya sangat mual"
"Apa ini memang sering?"
"Tidak ini kedua kalinya setelah kemarin malam"
"Kau mual juga?"
"Iya.. sepertinya aku memang tengah masuk angin"
"Hmm... apa mungkin kau tengah hamil Baekhyun ah?"
"Apa?" aku jelas terkejut mendengar apa yang bibi Kim ucapkan, tapi dalam hati aku juga mengamininya
"Apa bulan ini kau sudah datang bulan?"
"Eemm aku... sepertinya belum"
"Apa kau sudah mencoba tes kehamilan?"
"Aah tidak, aku rasa aku belum hamil bibi, umur pernikahanku baru tiga minggu apa itu mungkin?"
"Hey ada apa denganmu ini, jika ternyata sperma Chanyeol bagus maka kau bisa saja sudah hamil"
"Astaga bibi kenapa bicara begitu" pipiku terasa memanas mendengar bibi kim berbicara hal seperti itu
"Hey kenapa harus malu, kau juga kan sudah berpengalaman dalam urusan ranjang"
"A-apa?!"
"Ahahaha hey wajahmu memerah Baekhyun ah"
"Astaga bibi!"
...
..
"Eunghh" mataku mulai mengerjap mempokuskan penglihatanku, sinar mentari jingga terlihat masuk melewati celah gorden yang sengaja terbuka
"Astaga jam berapa ini, apa aku tertidur seharian, rasanya seluruh tubuhku pegal semua" aku terduduk mulai mencoba meregangkan tubuhku yang terasa pegal. Mataku mulai berpendar untuk melihat angka jam yang telah menunjukan angka empat
"Astaga, aku harus menyiapkan makan malam, sebentar lagi Chanyeol akan pulang" aku mulai beranjak menuruni ranjang, kakiku melangkah terburu menuju dapur... terlihat para pekerja tengah berlalu lalang dengan pekerjaan mereka
"Bibi Kim?" panggilku saat bibi Kim melewatiku yang masih berada di anak tangga
"Baekhyun ada apa?"
"Bisa tolong membantuku memasak, aku harus segera, sebentar lagi suamiku pulang" setelah mengatakannya aku langsung melangkah menuju dapur, seperti biasa bibi Kim pasti akan langsung memanggil para pelayan yang biasa membantuku saat memasak
"Baekhyun ah" aku menoleh saat bibi Kim memanggilku
"Ada apa bibi?"
"Chanyeol sedang ada dijepang"
"Apa? Kenapa Chanyeol tak memberitahuku" aku terkejut mendengar apa yang bibi Kim ucapkan
"Kapan Chanyeol berangkat bibi?"
"Pagi tadi, kau tak ingat?" aku semakin bingung, kenapa Chanyeol tak memberitahuku dan kenapa bibi Kim juga tak memberitahuku
"Apa saat aku tertidur tadi?"
"Kau mengantar kepergiannya"
"Apa? Kapan?" aku semakin bingung dengan semua yang bibi Kim bicarakan. Tanganku langsung meraba semua kantong pakaian yang kupakai, saat tak menemukan ponsel aku langsung berlari menuju kamar. Aku harus memastikannya
"Baekhyun ah" aku hiraukan bibi Kim yang memanggilku. Saat masuk kedalam kamar aku langsung belari menuju meja nakas disamping tempat tidurku saat melihat benda pipih yang kucari. Aku mencari nama kontak suamiku dan langsung menghubunginya
"Hallo Baekhyun ah?"
"Chanyeol?"
"Iya.. ada apa sayang?"
"Chanyeol apa sekarang kau ada dijepang?" tanyaku tergesa
"Iya.. kenapa Baekhyunie?" suara Chanyeol terdengar heran
"Ke-kenapa kau tak memberitahuku?" entah apa yang terjadi padaku tapi mendengarnya membuatku sangat bersedih hingga mataku terasa memanas
"Kau kan mengetahuinya Baekhyunie"
"A-aku tidak" suaraku berubah bergetar dan sepertinya Chanyeol menyadarinya
"Astaga sayang pagi tadi kau kan melihat kepergianku, kau juga menyiapkan keperluanku untuk ke jepang"
"B-benarkah?" bibi Kim tadi mengatakan itu, dan Chanyeol juga sekarang mengatakannya. Apa ini karena aku yang tertidur seharian. Aku mengusak wajahku bingung. Astaga sebenarnya ada apa denganku
"Ne.. sebenarnya apa yang terjadi, apa kau lupa?"
"Entahlah, tapi mungkin itu karena aku tidur terlalu lama dan sepertinya... itu juga karena aku terlalu merindukanmu"
"Ooh astaga Baekhyunie, kenapa tak mengatakannya jika sebenarnya kau sedang merindukanku, kau membuatku bingung"
"Maafkan aku" aku mendengar suara kekehan dari sebrang sana
"Tapi aku juga merindukanmu, aku sangat-sangat merindukanmu, rasanya aku seperti ingin pulang sekarang juga" aku bersemu merah mendengar ucapan suamiku
"Kalau begitu cepatlah pulang, aku akan menunggumu. Ooh apa kau sudah makan siang?"
"Aku sudah, kau bagaimana?"
"Aku belum"
"Kenapa?"
"Aku tertidur hingga lupa jam makan siang"
"Apa tak ada yang membangunkanmu?"
"Emmm, entahlah mungkin ada tapi karena aku terlalu lelah jadi aku tak bangun" aku sedikit malu mengatakannya, bagaimanapun aku seorang istri dan bagiku itu terdengar seperti aku adalah seorang yang pemalas
"Kalau begitu makanlah, aku tak ingin saat kembali nanti kau sakit"
"Aku sedang tak ingin makan Chanyeol ah, nanti saja saat makan malam"
"Issh kau ini, jangan diulangi lagi, kau harus menjaga kesehatanmu"
"Ne Chanyeol ah, eemm.. kau sedang apa?"
"Aku baru saja masuk kedalam kamar hotel saat kau menelpon tadi"
"Oh pasti kau sangat lelah, kalau begitu istirahatlah"
"Tak apa, kau juga sayang, tunggu aku pulang"
"Pasti"
"Aku mencintaimu"
"aku juga mencintaimu" setelah panggilan itu terputus, aku langsung mendudukan tubuhku di kasur ranjang tidur. Sepertinya aku tak akan memasak kali ini, tubuhku rasanya sangat lelah dan entah kenapa moodku untuk memasak hilang
"Baekhyun ah?" aku menoleh pada pintu yang diketuk
"Tak dikunci bibi, masuklah" pintu itu terbuka
"Kau tak apa?"
"Aku tak apa bibi"
"Sebenarnya kenapa, kau membuat bibi khawatir"
"Entahlah, sepertinya aku terlalu lama tertidur"
"Huh?" bibi Kim terlihat mengeryit bingung mendengar ucapanku, dan sebenarnya juga aku pun sama tak mengertinya
"Oh ya bibi, emm bisakah para pelayan yang memasak makan malam?"
"Ada apa, kau sakit?"
"Aaahh tidak bibi, aku hanya merasa tubuhku sangat lelah"
"Baiklah, kau istirahat saja, para pelayan akan memasak makan malam"
"Terima kasih bibi"
Setelah bibi Kim keluar kamar, aku langsung merebahkan rubuhku dikasur, mungkin aku akan tidur lagi sambil menunggu jam makan malam, dan semoga saja nanti tubuhku bisa kembali seperti sedia kala
...
Nyatanya apa yang kuharapkan tak benar terjadi, kepalaku terasa sangat berdenyut... aku mengerang sambil memegangi kepalaku yang terasa ingin pecah, peluh mulai membanjiri. Sebenarnya apa yang terjadi padaku
Saat terbangun tadi kepalaku sudah kembali berdenyut membuatku memilih tak beranjak, kakiku terasa lemas dan rasanya keringat dingin mulai terasa berbarengan dengan tubuhku yang diliputi gigil, mataku terpejam erat mencoba menghalau denyut itu... hingga suara pintu yang diketuk membuatku menoleh
"Permisi nyonya, makan malam sudah siap"
"Nyonya?" pelayan itu terus memanggilku dari balik pintu
"Aaahh nee nee" aku berteriak parau hingga panggilan itu tak terdengar
Tangan gemetarku terulur mencoba meraih gelas yang terisi air yang berada di meja nakas samping ranjangku, saat benda kaca itu tergenggam aku segera mengarahkannya pada mulutku hingga sedikit banyak tertumpah mengenai pakaianku karena tangan yang gemetar
Setelah meminum air, aku tak langsung mencoba turun dari ranjangku, aku ingin memulihkan atau setidaknya sedikit meredakan denyut menyakitkan itu. Hingga mulai terasa lebih membaik walau tak sepenuhnya hilang, aku mulai menurunkan kakiku agar menapak dilantai marmer dingin itu
Aku mencoba berdiri kemudian melangkah dengan perlahan menghalau agar tak terjatuh, aku menapak satu persatu anak tangga hingga akhirnya tubuhku dapat terduduk dikursi meja makan. Sebenarnya aku tak terlalu lapar walau siang tadi tak sempat makan, tapi mengingat pesan Chanyeol membuatku memaksakan walau hanya beberapa sendok saja
"Baekhyun ah apa kau sakit? Wajahmu sangat pucat" aku menoleh pada bibi Kim yang nampak sangat khawatir padaku
"Aku tak apa bibi, hanya kepalaku sedikit pusing, bisa tolong siapkan obat pereda sakit kepala untukku?"
"Kau yakin? Atau aku panggilkan dokter saja"
"Tidak bibi, ini hanya pusing biasa"
"Baiklah, tapi bila kau benar-benar merasa tak enak kau harus memberitahuku"
"Ne bibi, emm dan bisakah bawakan saja obatnya kekamarku, aku akan meminumnya disana"
"Baiklah, akan bibi siapkan"
"Terima kasih bibi"
Seusai makan malam aku langsung pergi kekamar, denyut itu masih ada membuatku beberapa kali meringis. Saat memasuki kamar aku bisa melihat obat yang kupinta sudah berada dimeja nakas bersama air putih
Aku mendudukan tubuhku kemudian segera mengambil obat itu dan dengan cepat langsung kuminum, setelahnya aku segera berbaring, mungkin memang terjadi sesuatu pada tubuhku hingga menjadi sebegini tak enaknya. Aku akan mengistirahatkan tubuhku kembali dan berharap semoga saat terbangun nanti denyut itu sudah menghilang
...
..
.
"Hoaaamm" mulutku terbuka lebar menguap, kuregangkan tubuhku sebelum membawa tubuhku bersandar dikepala ranjang. Entah apa yang terjadi tapi aku merasa tubuhku sangat sehat, itu membuatku bingung karena kemarin rasanya bahkan untuk terbangun dari tempat tidur saja sudah sangat sulit
Aku menoleh untuk melihat jam menunjukan pukul setengah enam pagi, aku menyingkap selimut yang membungkus tubuhku kemudian kakiku kubawa menapak pada lantai, aku melangkah menuju jendela besar, rasanya aku sangat tergoda untuk menghirup udara pagi yang segar
Sreettt
Kusibak gorden besar itu kemudian kubuka jendela yang menghubungkan balkon dengan kamarku, sinar mentari pagi belum memancarkan sinarnya membuatku sedikit memberenggut, pasti akan sangat segar bila dapat menikmati bagaimana sejuknya udara pagi ditambah hangatnya terpaan sinar mentari pagi yang menyentuh kulitku, seharusnya juga ditambah seseorang yang ikut menemaniku menikmati indahnya pagi hari
Aaahh... aku jadi merindukan suami besarku itu, apa yang sedang dilakukannya kini, aah tapi kupikir pasti dia tengah mendengkur dengan selimut juga bantal yang tercecer, juga tubuh yang tak tertutup apapun. Heh! Membayangkannya membuatku kesal entah kenapa, bagaimana jika ada yang tiba-tiba masuk dan melihat bagaimana tubuh itu tengah bertelanjang, atau yang paling buruk bagaimana jika ternyata sekretaris yang dulu pernah kutemui ikut pergi kejepang bersama Chanyeol dan dia melihat tubuh kekar itu, ooh astaga kenapa pikiranku jadi sangat bodoh
Lama membayangkannya membuatku tersentak saat suara dering ponsel terdengar, astaga akibat pikiran bodohku sampai membuatku tak menyadari bunyi dering itu. Aku melangkah menuju kamar, ponselku masih berdering membuatku langsung mengangkatnya tanpa melihat siapa yang menelpon
"Hallo?" kakiku kembali melangkah menuju balkon dengan tangan yang menempel ditelingaku
"Morning sweatheart" suara itu terdengar sangat berat juga parau.. tapi tunggu sepertinya aku mengenal suara itu
"Chanyeol?" tebakku
"Ya ini aku suami tampanmu, kau belum menjawab sapaan pagiku sayang"
"Morning suami tampanku.. suami yang paling kucintai.. juga suami yang sangat kurindukan"
"Aahh kau membuatku benar-benar ingin segera pulang.. apa aku pulang sekarang saja ya?"
"Humm pulanglah aku sudah sangat merindukanmu, rasanya seperti sudah berpisah selama bertahun-tahun... tapi aku juga tak ingin dicap istri durhaka karena membiarkan suamiku melalaikan tugasnya" kekehan dari sebrang sana membuatku tersenyum, aku benar-benar sangat merindukannya
"Bersabarlah aku tengah menyelesaikan masalah dengan cepat karena akupun benar-benar sangat merindukanmu"
"Aku akan bersabar untukmu... ohh iya tumben sekali seorang Park Chanyeol sudah bangun sepagi ini"
"Selain berdampak buruk pada hatiku ternyata merindu juga berdampak buruk untuk mataku Baekhyunie.. aku benar-benar menderita tanpamu"
"Huh.. bagaimana jika aku tak ada kalau begitu, bagaimana jika nanti aku pergi darimu"
"Apa yang kau katakan! Kau akan selalu bersamaku! Aku tak akan membiarkanmu pergi meninggalkanku" Chanyeol terdengar sangat kesal didengar dari suaranya
"Baiklah tuan Park, kalau begitu jangan pernah membiarkanku pergi sedetikpun darimu"
"Takan pernah" suara itu terdengar sangat posesif membuatku berdebar karena senang
"Aku ingin terus mendengar suaramu tapi pekerjaan menungguku baekhyunie"
"Tak apa, kalau begitu pergilah... kita bisa bertelpon lagi"
"Tidak, aku ingin memelukmu bukan bertelponan sayang"
"Baiklah baiklah, sekarang cepatlah bangun dan membersihkan diri dan juga jangan lupa sarapan"
"Bagaimana kau tau jika aku masih berada ditempat tidur?"
"Kau suamiku dan aku istrimu, jadi kau salah jika bertanya begitu padaku"
"Hahaha baiklah sayang, aku mengaku kalah.. kalau begitu aku akan melakukan apa yang istriku katakan"
"Ne.. aku merindukanmu jadi cepatlah kembali"
"Aku juga sayang, nanti malam aku akan menelponmu kembali"
"Aku akan menunggumu"
"Bye honey, aku mencintaimu"
"Aku juga mencintaimu"
Setelah panggilan itu terputus suara lain kembali menyapa gendang telingaku membuatku menoleh
Tok tok tok
"Baekhyun ah kau sudah bangun?" dari suaranya itu adalah bibi Kim, aku berjalan kembali kedalam kamar
"Ne bibi, aku sudah bangun" ucapku saat membuka pintu kamar memperlihatkan bibi kim yang sudah rapi dengan pakaian kerjanya
"Kalau begitu bersiaplah, para pelayan telah membuat sarapan untukmu"
"Para pelayan yang membuat sarapan? Aaahh maafkan aku, tadi aku ingin menikmati udara pagi dibalkon kamar dan tidak langsung turun kedapur"
"Tak apa Baekhyun ah, itu adalah tugas mereka dan lagipula kau tengah sakit, tak mungkin aku membiarkanmu memasak dengan keadaan sakit"
"Eemm tapi aku sudah sembuh bibi"
"Benarah syukurlah, tapi kau tetap tak boleh kelelahan atau kau akan kembali sakit"
"Aah ne bibi"
'Bahkan kegiatanku hanya memasak dan menunggui suamiku pulang, kurasa itu takan membuat lelah'
"Kalau begitu bersiaplah dan segera turun kebawah"
"Ne bibi" setelahnya aku langsung bergegas melakukan apa yang bibi Kim ucapkan. Empat puluh lima menit kemudian aku turun menuju meja makan yang sudah terhidang makanan, aku langsung duduk disalah satu kursi dan mulai memakan sarapanku
...
Hari ini rasanya sangat membosankan, tak ada yang kulakukan selain menonton tv itupun tak sepenuhnya menonton, aku ingin mengambil pekerjaan entah itu membantu membersihkan rumah ini atau apapun tapi bahkan sebelum tanganku menyentuh.. bibi Kim sudah melarang terlebih dahulu, dia bilang aku tak pantas mengambil pekerjaan para pelayan dan hanya menyuruhku berdiam diri, tapi terbiasa dengan tubuhku yang terus bergerak membuat rasanya sangat aneh saat dipaksa untuk diam saja
Aku benar-benar sangat bosan, biasanya saat jam ini aku tengah sibuk-sibuknya bersama Luhan bekerja disebuah cafe... ah tunggu, apakabar sahabatku itu sekarang. Rasanya sudah sangat lama kami tak bertemu lagi sejak aku menikah dan pindah kerumah atau lebih tepatnya mansion ini
Aku mulai beranjak bangun dari sofa mahal itu, kakiku melangkah menuju kamarku dengan menapaki anak tangga satu persatu. Aku ingin mengambil ponselku untuk mengabari sahabatku, aku ingin bertemu dengannya
Kakiku mengetuk lantai seirama saat menunggu seseorang disebrang sana menjawab panggilanku, kenapa lama sekali.. apa Luhan tengah sibuk (?)
"Hallo?" aku hampir memekik saat suara itu terdengar ditelingaku saking senangnya
"Luhan ah?"
"Ne, ada apa Baekhyun ?"
"Emm apa kau sibuk?"
"Tidak terlalu, saat ini cafe tak terlalu ramai. Ada apa?"
"Aku... ingin bertemu denganmu"
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu atau apa Chanyeol menyakitimu? Apa dia selingkuh dibelakangmu?" Luhan memberondong pertanyaan yang membuatku kesal dengan pikiran pendeknya
"Yak! Kenapa bicara begitu, aku kan hanya ingin bertemu denganmu.. aku sangat merindukanmu"
"Ooohh.. hehehe kukira suamimu itu menyakitimu"
"Tentu saja tidak, mana mungkin Chanyeol melakukan itu ish" ucapku kesal
"Aah hehehe baiklah baiklah.. kemarilah aku akan menunggumu"
"Ne, aku akan kesana.. bye Luhan"
"Ya.. hati-hati nyonya Park"
Blushh~
"Aishh apa yang dia katakan" aku mentap tak percaya pada ponselku, Luhan memutus sambungan panggilan kami meninggalkan mukaku yang terasa terbakar, aaahh sangat panas
Setelahnya aku langsung bersiap untuk menemui sahabatku itu, tak sampai setengah jam aku sudah siap dan langsung turun, aku akan diantar oleh supir yang memang Chanyeol pekerjakan untuk sewaktu-waktu mengantar bila aku ingin bepergian
Dua puluh menit kemudian aku sampai disalah satu cafe tempatku dulu bekerja, sebenarnya ini adalah cafe milik ibu Luhan namun karena bibi Xi tengah sakit jadi Luhanlah yang mengurusnya. Aku berjalan masuk dan memang benar tidak terlalu ramai seperti biasanya
Aku menyapa beberapa pegawai cafe yang dulu kukenal sebelum melangkah memasuki sebuah ruangan, itu ruangan Luhan jadi aku langsung masuk tanpa mengetuk pintu.. biarlah lagipula dulu aku juga terbiasa seperti itu dan Luhan tak pernah marah karena kelancanganku
"Luhan ah?"
"Ooh hai Baekhyun" Luhan langsung beranjak dari kursi yang tadi ia duduki untuk memelukku, kami saling berpelukan melepas rindu
"Bagaimana kabarmu?" Luhan menarikku untuk duduk disofa yang terdapat diruangan itu
"Aku baik, bagaimana denganmu?"
"Seperti yang kau lihat"
"Sepertinya menjadi nyonya dari seorang pembisnis muda yang sukses membuatmu sangat sibuk"
"Sebenarnya kehidupanku yang sekarang sangat membosankan" ucapku lesu
"Waahh kutebak ada sesuatu yang baru kau ketahui dari suamimu dan membuatmu merasa tak nyaman , seperti dia yang sering mengorok? Atau kentutnya sangat bau? atau –"
"Luhan, semua yang berhubungan dengan suamiku adalah hal yang kusukai sekalipun itu dia yang mengorok saat tidur atau dia yang kentutnya bau atau yang lainnya" potongku dengan malas
"Ooh ok. Lalu apa yang kau maksud dengan membosankan? Apa suamimu itu menjadi gila kerja setelah kalian menikah dan saat pulang kau tak bisa bercinta dengannya padahal kau tengah sangat menginginkannya atau –"
"Luhan! Bukan itu, hal yang membosankan yang kumaksud adalah ..." aku menarik nafas terlebih dahulu seolah itu adalah hal yang benar-benar serius
"...Aku tak bisa bekerja, kau tau bukan aku adalah orang yang tak bisa –"
"Tunggu-tunggu, maksudmu kau ingin bekerja kembali disini?"
"Huuhh! Bukan, lagipula jikapun aku ingin aku tak yakin Chanyeol akan mengijinkannya"
"Tentu saja, dia kan dari keluarga terpandang apalagi dia adalah seorang pembisnis yang keluarganyapun adalah keluarga pembisnis, tentu saja suamimu takan mau, mau ditaruh dimana mukanya, kau tau orang-orang seperti itu sangat menjunjung harga diri" entah kenapa mendengar apa yang Luhan bicarakan membuatku semakin merasa kecil bila harus bersanding dengan Chanyeol, tentu saja Baekhyun kau hanyalah seorang yang tak memiliki apapun, jangankan harta, keluarga saja kau tak memilikinya
"Ya.. aku tau itu, tapi yang kumaksud bekerja adalah aku ingin mengambil pekerjaan rumah tangga, bukan hanya memasak atau setidaknya –"
"Tunggu, kau ingin mengambil alih pekerjaan para pelayan yang bekerja disana? Astaga sebenarnya kepalamu itu terbentur apa Baekhyunie.. aku tak mengerti disaat banyak orang yang mengidam-idamkan kehidupan sepertimu tapi kau malah ingin (?)" aku memutar mata malas mendengar ucapan bodoh yang keluar dari mulut Luhan
"Bukan Luhan ah, aku tak mungkin kuat jika semua pekerjaan aku yang mengerjakaannya sendiri, tapi yang kumaksud adalah aku ingin membantu atau setidaknya semua yang berhubungan dengan suamiku aku yang mengerjakannya seperti pakaian kotor suamiku biar aku yang mencuci, pokoknya yang berhubungan dengannya, tapi bahkan bibi Kim tak pernah mau mengijinkanku, dia bilang aku bisa kelelahan, atau Chanyeol bisa saja memarahi para pelayan karena aku yang merebut pekerjaan mereka"
"Huuh Baekhyun.. Baekhyun, aku masih tak mengerti dengan jalan pikiranmu, aku justru sangat memimpikannya bisa hidup seperti dirimu, mungkin jika aku menjadi sepertimu maka aku tak perlu bekerja, aku hanya akan duduk santai dan menunggu suamiku pulang, dan saat dia menginginkan bercinta maka aku hanya tinggal membuka kakiku lebar-lebar.. astaga hidup seperti disurga" aku mengeryit melihat wajah itu tersenyum sangat lebar dengan mata tertutup juga tangan yang terlentang disandaran sofa, astaga aku juga tak tau jika Luhan sama mesumnya dengan suamiku
"Kau bisa bicara begitu karena kau tak merasakan apa yang kurasakan"
"Yaahh aku memang tak merasakannya.. tapi aku masih memimpikannya bila nanti ada seorang pangeran yang menunggangi kuda menjemputku dan kami akan tinggal diistana yang megah"
"Astaga Luhan.. sadarlah kau membuatku takut dengan wajah seperti itu" aku semakin bergidik melihat Luhan yang sekarang malah tertawa lebar dengan mata yang menatapku
"Oh iya, kau bilang kau kebosanan karena tak melakukan apapun bukan?" kali ini Luhan semakin aneh, dia menatapku tajam dengan tangan yang menunjuk-nunjuk
"Mm hm" aku mengangguk
"Dan kau dengan teganya tak menghubungiku sama sekali?" aku tersentak kaget mendengar teriakannya
"Eemm ehehe maaf Luhanie.. aku tak terpikir"
"What? Apa kau pikir aku akan menerima alasan konyolmu itu!" teriak Luhan
"A-akukan sudah meminta maaf, aku benar-benar tak mengingatnya Luhan"
"Kau melupakanku? Astaga betapa malangnya nasibku ini.. seharusnya aku kaget saat kau tadi menghubungiku dan datang menemuiku dengan tampang tak bersalah"
"Eemm kenapa kau harus kaget?"
"Karena kau melupakanku.. berdoa saja jika nanti kau tak akan akan melupakanku, bahkan kau mungkin tak mengenali wajahku"
"Astaga Luhan! Kenapa bicaramu jahat sekali!"
"Kau yang jahat karena melupakanku!"
"Sebenarnya aku juga seharusnya marah padamu"
"Kenapa?"
"Kau juga tak menghubungiku"
"Itu.. aku sibuk"
"Tapi kau bisa saja menghubungiku saat pulang bekerja"
"Aku lelah, lagipula mana mau aku mengganggu kegiatan penganti baru"
"Hm! Chanyeol bahkan pergi kejepang" aku berucap pelan saat Luhan menyinggung soal penganti baru membuatku teringat suamiku
"Apa?" pekik Luhan penasaran
"Hum?"
"Suamimu meninggalkanmu?" mendengarnya membuatku membolakan mataku kaget dengan ucapan itu, cih Xi Luhan dengan otak pendeknya!
"Aah tidak-tidak.. dia ada pekerjaan dijepang"
"Oohh itu kenapa kau datang kesini? Karena suamimu pergi?"
"Sebagian iya dan sebagian lagi karena aku merindukanmu"
"Ciihh!" aku tersenyum saat bagaimana Luhan mencibirku
"Aku benar-benar merindukanmu... kau tak lihat wajah ceriaku?" aku tersenyum lebar mencoba meyakinkannya walau yang terlihat Luhan justru bergidik ngeri, hahaha
"Kau terlihat menyeramkan"
"jahat sekali"
"Oh ya, bagaimana? apa kau sudah mengalami tanda-tanda?"
"Tan –da apa?" aku menatap Luhan bingung
"Hamil, kau sudah merasakannya?" aku sempat tersentak mendengar Luhan membawa-bawa topik ini
"Emm bisakah aku mendapat minum terlebih dahulu, tenggorokanku rasanya sangat kering"
"Oh astaga.. maafkan aku, aku akan mengambilnya" sambil menunggu Luhan mengambil minum untukku, mataku berpendar pada setiap sudut diruangan itu. Ck! ternyata seleranya masih sama kunonya
"Ini" aku bergumam terima kasih pada Luhan saat tengah meletakan dua gelas minuman beserta cemilannya
"Jadi bagaimana?" Luhan kembali bertanya setelah aku meminum minumanku hingga tinggal setengah
"Emm.. aku tak tau, tapi Chanyeol sangat ingin aku memeriksa kedokter"
"Apa kau sudah mengalami tanda kehamilan?"
"Entahlah tapi akhir-akhir in aku sering mendapat mual juga pusing, apa menurutmu itu normal Lu?"
"Aku setuju dengan suamimu, sebaiknya kau periksa kedokter maka semuanya akan jelas"
"Tapi..."
"Ada apa?"
"Entahlah aku merasa takut Lu.. bagaimana jika aku ternyata tidak hamil?"
"Apa masalahnya? Jika kau belum hamil itu berarti jadwal diranjangmu akan bertambah hahaha" aku hampir melempas pas bunga yang ada dimeja pada mulut Luhan yang menganga lebar karena tertawa
"Ishh Luhan aku serius!" ucapku dengan memberenggut saat tawa itu tak berhenti
"Apa yang kau takutkan?"
"Aku... takut mengecewakan suamiku Lu, selama ini dia sangat mengharapkan aku hamil"
"Kau belum mencobanya, takut boleh tapi jangan menjadikan ketakutan itu pembatas untukmu, siapa tau ternyata kau benar hamil"
"Iyaa.. tapi..."
"Kau ingin aku mengantarmu kedokter?"
"Tidak, saat Chanyeol kembali aku akan melakukannya bersama"
"Baiklah"
"Eemm Luhan?" Luhan menjawab dengan gumaman
"Bisakah kau buatkan aku steak panggang?"
"Kau lapar?" Luhan melirik jam yang bertengger ditangannya
"ahh sudah jam makan siang, baiklah kalau begitu aku akan meminta chef untuk memb –"
"Ah Luhan, maksudku aku ingin kau yang memasak?" aku menyela saat melihat Luhan akan segera beranjak
"Kenapa?" tanyanya bingung
"Emm aku sudah lama tak memakan masakanmu"
"Humm baiklah, kalau begitu kau tunggulah disini"
"Ne, terima kasih Luhan" luhan beranjak dan langsung keluar untuk membuat makanan yang kupesan, informasi saja masakan Luhan sangat enak bahkan kupikir masakanku kalah bila dibandingkan dengan Luhan, tentu saja aku kan mengguru padanya kekeke
Aku lama menunggu hingga rasanya mataku mulai berkunang-kunang berat, entah karena mengantuk atau denyut yang mulai terasa ditempurung kepalaku
"Ssshhh" tidak, ini bukan mengantuk tentu saja saat denyutan itu seakan semakin menggila merajam tempurung otakku
Rasanya semakin menyakitkan kini membuatku bergerak cepat mengambil minuman yang berada dimeja kaca depanku, aku meminumnya cepat tak peduli air yang berisi pewarna juga batu es yang dingin akan membuat denyutan itu semakin menggila
"Aakhhh" benar saja, denyut itu kian menjadi membuat tubuhku bergetar diguyur keringat dingin yang mengalir, aku tak bisa memikirkan apapun bahkan sekedar memanggil Luhan atau siapapun yang mendengar permintaan tolongku saat pintu terpampang jelas disebrangku, yang kupikirkan adalah rasa sakit yang semakin menyiksa
"Aakhh sakith" aku mendesis berharap denyut itu segera menghilang atau setidaknya mereda walau terdengar percuma
"Akh kumohon ssakiitth" tanganku terus memukul-mukul kepalaku namun rasanya tak berubah selain denyutan yang semakin menyiksaku
"Arrggg akh emmmph.." tanganku turun mencengkram perutku yang juga ikut terasa sakit, kenapa malah bertambah bukan justru mengurang, rasanya sangat menyakitkan
"Tolooong sakithh" aku tak bisa lagi menahan saat rajaman sakit dikedua tempat itu membuatku nyaris hilang kesadaran
"Emmphh sakitt... tolonggg" yang terpikir kini adalah wajah meneduhkan yang tersenyum padaku, aku seakan merasakan kehadirannya tengah membelai lembut wajahku dengan tangan yang menggenggam tanganku sebelum semuanya terasa semakin memberat juga menggelap
"Baekhyun ini –"
"ASTAGA BAEKHYUN!"
...
..
.
Silau dari penerangan adalah hal yang pertama tertangkap indra menglihatku, aku mengeryit mencoba memperjelas penglihatanku sebelum seruan senang dari suara yang sangat kukenal membuatku menoleh
"Baekhyun ah, sayang.. kau sudah sadar?" apa aku tengah bermimipi? Kenapa rasanya Chanyeol sangat tampan dengan kemeja putih juga rambut yang disisir keatas memperlihatkan kening lebarnya, Chanyeol terlihat... sangat sempurna, saking sempurnanya membuatku semakin merindukan suami tampanku sekarang
"Baekhyun ah, kau baik-baik saja?" wajah itu terlihat khawatir menatapku, aku juga merasakan genggaman tangan yang terasa nyata juga belayan diwajahku yang membuatku terpejam menikmati
"Aku merindukanmu" aku berbisik berharap semua yang kulihat juga yang kurasakan benar nyata, hingga..
"Aku juga merindukanmu sayang, aku benar-benar merindukanmu" tubrukan tubuh besar yang menimpa tubuhku terasa, berbarengan dengan belitan tangan membuatku terkurung hangat dalam dekapan. Tunggu apa ini nyata?
"Cha-Chanyeol?" tubuh itu mulai memberiku sekat membuatku bisa membelai wajah itu merasakan bagaimana bulu-bulu halus mulai terasa
"Ya sayang?"
"Kau... disini?"
"Ya aku disini... untuk menyambut seseorang" aku mengeryit saat melihat wajah itu nampak tersenyum sangat lebar terlihat sangat senang entah karena apa
"Siapa?" aku semakin mengeryit tak paham saat merasakan tangan Chanyeol yang kini justru mengelus-elus sayang perutku
"Terima kasih sayang, terima kasih telah hadir disana" Chanyeol terus mengecupi perutku, aku tak bisa memikirkan apapun, rasanya otakku terasa buntu
"Apa maksudmu?" Chanyeol beralih menatapku masih dengan senyuman
"Aku sangat mencintaimu istriku, calon ibu dari anakku"
"Hum?"
"Kau sudah menjadi calon ibu, selamat sayang. Dan aku akan menjadi calon ayah"
"A-apa?"
"Kau benar-benar hamil"
...
..
.
TBC
.
..
...
Yang mau si baekhyun hamil, aku kasih dichapter ini ya.
Happy reading (;
