Sacrifice Of Love
.
Park Chanyeol – Byun Baekhyun
.
Rated:
M/T
Genre:
Angst, Drama, Romance...
Warning: GS (genderswitch), Typo berserakan, alur gk jelas
.
Summary: "kau tau apa fungsimu di keluarga ini"... "bisakah kau membuatku mengandung, ku mohon"..."kau memang tak berguna!"..."aku tak yakin bisa menerima hati yang terbagi chanyeol ah"... "jangan terlalu memikirkannya, hanya pikirkan dirimu!"... "bagaimana jika kau tak bisa melihatku, cepat bangun, setidaknya kau harus menolongku dengan kenangan indah kita"
Chapter 4
...
..
.
Aku tak bisa lagi menyembunyikan senyum terkembang lebar diwajahku saat para pelayan mengucap selamat, dan nyatanya itu juga menulari mereka melihat bagaimana aku juga Chanyeol yang kini tengah memapahku memasuki mansion terlihat sangat bahagia
Rasanya apa yang kutakuti seolah hilang sirna, memikirkan aku tengah memiliki-nya kini membuatku tak memiliki ketakutan lagi entah untuk mengecewakan atau untuk sebuah kehilangan, itu tak perlu dipikirkan, seperti apa yang Chanyeol katakan semuanya akan baik-baik saja dan nyatanya itu benar terjadi
"Kau ingin dikamar atau –"
"Dikamar saja, rasanya tubuhku masih sangat lemas" Chanyeol dengan sigap kembali memapah saat sebelum hampir sempat singgah diruang tengah, sebenarnya sedari awal Chanyeol sudah menawarkan untuk sebuah gendongan tapi aku bersikeras tak ingin
"Pelan-pelan sayang" aku tersenyum senang mendengar bagaimana Chanyeol terus mengujar khawatir saat kami tengah menapaki tangga
"Katakan bila ada yang sakit?" aku terkekeh saat Chanyeol terus mengujar dengan wajah khawatirnya. Chanyeol membaringkan tubuhku hati-hati kemudian menyelimuti tubuhku sebatas dada
"Kau baik-baik saja?" aku tersenyum saat Chanyeol mengelus keningku yang terdapat setitik keringat, lumayan cukup melelahkan menapaki tangga dengan tubuh yang masih terasa lemas
"Aku baik sayang, kau tak usah sekhawatir itu" tanganku beralih pada wajah tegang itu, mengusap pelan hingga raut tegang itu mulai mengendur
"Huuuh aku tak bisa, rasanya masih sangat mendebarkan" terdengar lucu untukku melihat bagaimana ia kini seakan benar mendapat keresahan juga kelegaan
"Kau berlebihan Chanyeol" cibirku main-main
"Tidak sayang, aku bersungguh-sungguh.. kau ingin merasakannya?" Chanyeol membawa tanganku menuju dadanya, dan benar deguban itu terasa sangat kencang juga keras hingga aku langsung menarik kembali saking kencangnya deguban itu
"I-itu..." mataku membulat sempurna diikuti kerjapan tak percaya
"Aku tak membual, aku benar-benar bahagia hingga dadaku terasa sakit"
"Bahkan matamu memerah" tambahku saat melihat mata itu memarah hingga terdapat genangan air dipelupuknya, apa Chanyeol sebahagia itu?
"Aku tak pernah sebahagia ini" tanganku terulur pada wajah itu, aku mengusap aliran air mata itu
"Akupun sangat bahagia Chanyeol, bahkan beribu kali lipat melebihi dirimu"
"Aku mencintaimu" Chanyeol menangkup tanganku yang berada diwajahnya kemudian dahi itu ia satukan pada dahiku hingga aku bisa merasakan nafas hangatnya juga matanya yang masih memerah
"Aku lebih mencintaimu" selanjutnya benda tebal terasa menempel diikuti hisapan-hisapan lembut pada belah bibirku membuatku memejamkan mata meresapi
'Tuhan, bisakah kau mengabulkan do'aku.. aku ingin kebahagiaan ini terus terasa hingga sisa usia yang kau berikan berakhir'
...
..
.
"Sayang... bangunlah" aku mengeryit saat samar mendengar suara juga usapan halus pada perutku
"Baekhyunie... bangunlah sebentar, kita sarapan dahulu... setelahnya kau bisa kembali melanjutkan tidurmu"
"Enghh" mataku mulai terbuka perlahan dan langsung tersambut oleh wajah tampan yang tersenyum padaku
"Selamat pagi sayang" aku tersenyum saat merasakan sebuah kecupan mendarat dikeningku
"Pagi" balasku dengan suara serak khas bangun tidur
"Selamat pagi Aegi" aku semakin melebarkan senyumku saat melihat suamiku menyapa didepan perutku, itu membuatku langsung teringat jika aku memiliki-nya
Chanyeol menghujani perutku dengan ciuman gemasnya membuaktu sedikit tertawa, sebelum keningku mulai mengeryit saat menyadari jika Chanyeol sudah terlihat sangat rapi dengan pakaian kantor yang dikenakannya
"Kau akan pergi?" tanyaku membuat Chanyeol menghentikan menciumi perutku
"Hm mm" gumaman juga senyuman itu nyatanya malah semakin membuatku merasa tak senang, hingga wajahku yang melipat membuat Chanyeol mengeryit
"Ada apa?"
"Apa kau akan kembali ke jepang?" tanyaku masih dengan wajah yang memberenggut namun nyatanya Chanyeol malah menanggapi dengan tawa
"Kau akan kembali kejepang? Jika iya, aku tak ingin bertemu denganmu lagi" ujarku dengan wajah yang semakin memberenggut dan tentu saja itu menganggetkan untuk si Park
"Hey, mengapa bicara begitu... aku takan kembali kejepang" Chanyeol menarik wajahku untuk menghadap padanya
"Benarkah?" aku bertanya masih dengan delikan namun sebuah kuluman senyum coba kusembunyikan disana. Tentu saja itu artinya Chanyeol takan meninggalkanku bukan
Itu juga mengingatkanku kembali pada hari lalu saat Chanyeol bercerita jika ia langsung kembali saat mendengar kabar dari Luhan jika aku pingsan, aku merasa bahagia juga menyesal, sesal karena membuat tanggung jawab itu terabai hanya karenaku, tapi... aku juga tak bisa berbohong jika aku membutuhkan suamiku
"Tentu saja, aku sudah melempar semua pekerjaan itu pada sekretarisku, lagipula aku tak mungkin meninggalkanmu bersama Aegi sendirian" ucapan itu tak mampu lagi membuatku menahan bendungan senyuman yang kutahan
"Hm um, kau tak boleh meninggalkan kami" ucapku dengan tangan yang melingkupi perutku mencoba merasakan keberadaannya, walau tak terasa apapun selain keras pada perutku tapi itu sudah sangat membuatku membuncah dengan kebahagian. Sekali lagi, aku akan segera memilikinya
"Tak akan, tapi kau juga harus berhat-hati menjaganya... dokter bilang dia masih sangat kecil juga rapuh" tentu saja aku ingat saat dokter mewanti-wanti untuk berhati-hati, itu karena kandunganku sangat lemah mungkin juga karena usianya masih sangat muda
"Aku tau, karena itu kau tidak boleh meninggalkan kami.. kau harus menjaga aku dan aegi"
"Aku akan menjaga kalian... dan untuk pembuktianku sekarang kau harus sarapan, aku juga sudah membeli susu hamil juga vitamin untukmu" setelah mengucapkannya Chanyeol menyingkap selimut yang masih tersampir ditubuhku
"Ayo, kita turun kebawah"
"Tapi aku belum mandi" aku bertanya dengan kerjapan, masih bertahan dengan posisi duduk bersandar
"Tak apa, kau masih tetap cantik walau baru bangun tidur" mataku mendelik main-main mendengar gombalannya, berbanding terbalik dengan wajahku yang justru memerah membuatnya tertawa puas
"Yak ishh" aku mencubit perut liatnya dari balik kemeja yang dikenakannya membuat Chanyeol memekik sakit
"Gendong aku"ucapku setengah merajuk, tanganku terulur dan langsung disambut oleh si Park, Chanyeol menggendongku ala bridal membuatku puas memandangi wajah tampan suamiku
"Tumben sekali ingin ku gendong, biasanya kau sangat pemalu terlebih didepan mereka semua" aku mengikuti arah pandang Chanyeol, dibawah tangga sudah banyak para pekerja yang berjejer seperti biasa
Wajahku mulai memerah, dan aku langsung menatap suamiku yang tengah menertawai dengan sangat menyebalkan, aku tak bisa lagi menahan hingga langsung membenamkan wajahku pada dada bidang itu. Sungguh , kenapa aku melupakan keberadaan mereka semua!
"Diamlah aku malu" bisikku kesal
"Kau menggemaskan Baekhyunie" ucapan itu tak membuatku tersipu alih alih, cubitan juga gigitan pada dada Chanyeol kuberikan
"Akhh Baek sakit" Chanyeol mengaduh juga berteriak
"Rasakan" cibirku saat melihat Chanyeol masih meringis
"Aku mau turun, turunkan aku" aku mulai meronta hingga gendongan itu mulai mengendur karena pergerakanku, tapi Chanyeol justru malah mempererat gendongan itu
"Tidak, kau yang meminta"
"Chanyeol turunkan aku" aku semakin memberontak meminta turun, tinggal beberapa anak tangga lagi untuk para pekerja malihatku yang berada digendongan seperti ini, sebenarnya mungkin itu terdengar normal untuk sepasang suami istri, tapi demi apapun itu aku sungguh malu
"Chanyeol" aku memberikan pandangan memohon, tapi si Chanyeol itu hanya melempar seringaian jeleknya. Saat di anak tangga terakhir aku seharusnya tau bagaimana bebalnya si Park itu, aku langsung membenamkan wajahku kembali menahan malu
"Selamat pagi Chanyeol ah, Baekhyun ah" itu suara bibi Kim yang menyapa membuatku tak lagi ingin tau semerah apa wajahku saat ini
"pagi Bibi" setelahnya aku merasakan Chanyeol kembali melangkah hingga suara deritan kursi yang ditarik membuatku menyadari jika kami telah berada diruang makan
"Kau ingin duduk dikursimu atau dipangkuanku? Tapi sepertinya duduk dipangkuanku cukup menyenangkan" mataku langsung membola dengan delikan yang seolah menghunus pada wajah berseringai yang sayangnya sangat tampan
"Turunkan aku" bisikku mencoba mengancam. Dan kupikir itu cukup mempan hingga akhirnya Chanyeol membawa tubuhku pada kursiku sendiri
Chanyeol tak langsung duduk, mataku mengikuti bagaimana suamiku itu mengambil langkah menuju konter dapur, Chanyeol terlihat membuat sesuatu dan tak lama segelas minuman Chanyeol bawa dari sana
"Susu hamil untuk ibu hamil" Chanyeol menaruhnya tepat dihadapanku sebelum ia mengambil duduk
"Terima kasih sayang" aku tersenyum manis untuk perhatiaannya
"Apapun untukmu" setelahnya aku segera mengambil gelas yang berisi cairan berwarna merah muda itu untuk segera ku minum, namun baru satu tegukan mengalir aku langsung mengeryit saat kecapku merespon rasa aneh
"Ini tak enak, rasanya tak manis"
"Benarkah?"
"Hu'um coba saja" aku langsung menyerahkan susu itu pada suamiku yang langsung diterima olehnya, Chanyeol tak langsung mencicipi alih-alih membaui terlebih dahulu
"Cepatlah" aku berubah tak sabar untuk melihat bagaimana Chanyeol merasakannya
"Emmph... ini tak enak" itu menjadi alasan bagaimana kini tawaku seolah tak terbendung melihat bagaimana wajah itu berekspresi setelah meminum susu yang dibuatnya
"Bagaimana susu ini malah tak enak? Apa sudah kadaluarsa" pandangku mengikuti bagaimana kini Chanyeol beranjak kembali menuju konter dapur, Chanyeol terlihat kembali dengan sekotak bungkus susu ditangannya
"Tapi kurasa tak mungkin, apa memang rasanya seperti ini?" Chanyeol menatapku membuatku hanya merespon kerjapan tak tau
"Emm tu-tuan?" kami beralih pandang pada Nana yang terlihat ingin mengujar sesuatu
"Ada apa Nana-ya?" tanyaku
"Maaf tak sopan, tapi susu hamil memang terasa hambar" dan itu jelas membuatku memalu dengan tak mengetahui hal sekecil itu
"Be-benarkah?"
"Iya nyonya"
"Aahh pantas saja hahaha" Chanyeol menanggapi dengan tawa seolah itu adalah hal yang menggelitik, walau memang benar untuk siapapun yang melihat bagaimana konyolnya kami karena segelas susu hamil
"Kalau begitu cepatlah minum sayang"
"Ta-tapi..." aku sempat meragu untuk kembali meminum susu itu karena jujur saja itu membuatku sedikit merasa mual
"Aku akan membeli yang ada rasanya jika ada" yaahh aku tak terlalu berharap untuk kata 'jika ada' itu, membuatku langsung segera menenggak segelas cairan yang berasa strowberry walau sebenarnya tak memiliki rasa, mungkin yang dimaksud adalah berwarna... entahlahh
"Sekarang kau harus sarapan" Chanyeol mendekatkan sepiring pancake padaku, aku memakannya dengan perlahan menikmati
"Oh iya aku akan pulang lebih awal nanti" atensiku beralih sepenuhnya pada Chanyeol
"Tunggu, kau akan pergi bekerja?" tanyaku tak suka
"Iya, ada apa?" Chanyeol merespon dengan keryitan heran membuatku semakin merasa kesal
"Tapi kau bilang kau akan menjagaku!" aku tau tak seharusnya untukku meninggikan suaraku disaat tengah dimeja makan tapi rasanya emosiku seakan-akan terasa bergejolak tak bisa kukontrol
"Aku tau, tapi aku juga tak bisa meninggalkan pekerjaanku sayang, maafkan aku" Chanyeol menggenggam tanganku membuatku langsung memalingkan wajahku
"Tapi... baiklah pergilah" suasana hatiku berubah menjadi buruk
"Sayang, aku benar-benar minta maaf tapi ini –"
"Aku bilang pergilah!" aku berucap lirih mencoba merelakan walau wajahku terlihat sebaliknya, dan tentu saja Chanyeol menyadarinya
"Aku tak bisa jika kau marah seperti ini" genggaman tangan itu semakin terasa meremas walau masih dalam kata lembut
"Aku tak marah, kenapa percaya diri sekali!" ucapku berubah ketus
"Sayang..."
Aku tau, tidak seharusnya untukku bersikap seperti ini tapi.. aku pun tak bisa mencegah luapan itu tak keluar
"Aku mengijinkanmu, sekarang pergilah kau akan terlambat nanti tapi janji untuk pulang lebih awal" kali ini aku bersungguh mengucapkannya juga senyuman untuk membuat suamiku ringan dalam langkah meninggalkan rumah
Chanyeol masih meragu tentu saja, tapi pandangan mataku yang seakan mengatakan aku akan baik-baik saja juga diikuti sebuah senyuman yang seakan mengatakan jika aku tak merasa keberatan lagi atau tak merajuk lagi, perlahan mulai membuat Chanyeol sedikit percaya
"Terima kasih sayang, aku janji akan pulang lebih awal" Chanyeol mengecup tanganku sebagai pelengkap ucapan terima kasihnya sebelum beranjak bangkit untuk berlutut disampingku membuatku memutar arah mengahadapnya
"Tolong jaga Aegi untukku, dan perhatikan makanmu jangan sampai melupakannya oke, juga jangan pergi keluar rumah.. aku takut terjadi sesuatu padamu juga aegi, jika ada sesuatu yang kau butuhkan katakan pada pelayan atau pada bibi Kim, dan juga jangan melakukan sesuatu yang membahayakan mengerti?"
Aku tersenyum senang mendengar petuah yang Chanyeol ucapkan sebelum mengangguk sebagai responnya, Chanyeol juga terus mengecup gemas perutku membuatku tertawa senang
"Aku berangkat sayang, jaga dirimu" Chanyeol mengecup keningku sebelum beranjak pergi diikuti bibi Kim juga beberapa pelayan
...
..
.
Sudah beberapa jam semenjak Chanyeol pergi bekerja dan aku hanya terus berbaring dengan tubuh yang luar biasa lemas, setelah Chanyeol pergi tak lama gejolak itu kembali terasa membuat semua makanan yang sempat masuk kembali keluar bersama muntahan yang lainnya
Rasa mual itu masih ada hingga sekarang walau tak separah pagi tadi, bahkan untuk sebuah asupan lain yang sudah bibi Kim siapkan tak tersentuh sama sekali, itu membuatku sangat mual hingga makanan yang sempat bibi Kim bawa masuk kekamar langsung kusuruh untuk dibawa menjauhiku
Dan lagi, rasa denyutan dikepalaku terasa kembali bersamaan dengan rasa mual itu. Mungkin ini yang dinamakan masa terberat kehamilan, tapi walau begitu aku tetap bahagia dengan semua rasa tak mengenakan ini karena itu sebab dari yang kutunggu-tunggu
Aku masih berbaring dengan selimut yang tersampir sebatas dada dengan tangan yang mengusap perutku sayang saat sebuah ketukan pintu kamar mengalihkan atensiku, tak lama pintu itu terbuka yang menyebabkan raut wajahku berubah
"Eo-eomanim?" suaraku tercekat mendapati seseorang yang kini berdiri diambang pintu kamar dengan pakaian mahalnya juga tas kulit keluaran brand ternama, jangan lupakan ketukan sepatu mahal yang mulai melangkah mendekat
Aku semakin gugup saat mata tajam itu terasa menghunus menatapku membuatku langsung tertunduk
"Mungkin anakku tak mengetahui kebiasaan buruk dari istri yang sangat dicintainya ini" aku langsung terperajat duduk saat mendengar ucapan itu, itu terasa seperti sebuah sindiran dan aku menyadarinya melihat kondisiku yang tengah berbaring walau keadaan sebenarnya tak seperti itu
"Aku dengar kau sudah memiliki-nya" aku tau itu bukanlah pertanyaan
"Be-benar Eomma"
"Huh! Aku hanya ingin mengingatkanmu, dengan kau memilikinya bukan berarti statusmu dikeluarga ini akan berbeda.. bagi kami kau tetap sama, seseorang yang tak pantas. Jadi kau harus mengingat fungsimu dikeluarga ini"
tanganku meremas erat selimut yang masih membungkus kakiku, rasanya tanganku terasa sakit saking kencangnya remasan itu membuat kuku tanganku menembusnya, tak apa selagi itu bisa menahan genangan dipelupuk mataku
"Jaga penerus itu dengan baik... mungkin saja dia bisa merubahmu" suara gema sepatu menjauh mengiringi lelehan air mata yang mengalir, aku tak menahannya bahkan memilih membiarkannya hingga dadaku terasa melega dengan sendirinya
Tangan kubawa pada perut rataku, ingin merasakan juga memastikan jika ia masih berada disana. Aku mengusapnya lembut berharap anakku tak mendengar ucapan itu...
Aku akan menjaganya, mengaliri dengan kasih sayang yang kupunya demi bisa mendapat sebuah kata pantas untuk anakku. Tidak, tentu saja aku pantas... karena aku adalah ibunya
...
..
.
Aku tengah duduk mengahadap televisi diruang tengah, ditemani semangkuk buah segar juga jus buah. Seperti biasa aku akan selalu merasa bosan, sejak hamil Chanyeol tak pernah mengijinkanku untuk keluar mansion bahkan untuk mengantar makan siangnya, jika aku melakukannya Chanyeol akan sangat marah, bukan padaku tapi kepada para pekerja dimansion ini membuatku merasa bersalah
Dan semenjak kejadian lalu saat ibu mertuaku berkunjung tiba-tiba, sedikit banyaknya membuatku merasa tak baik. Dengan larangan Chanyeol juga ucapan Eommanim membuatku semakin banyak mengahabiskan waktu dengan termenung, aku tau itu tak baik terlebih untuk kandunganku yang masih sangat kecil, tidak seharusnya untukku terlalu memikirkan ucapan itu. Tapi rasanya walau sudah terbiasa, itu masih terasa menyakitkan untuk hatiku
Dan juga rasanya aku ingin menertawakan diriku karena berubah menjadi cengeng hanya karena ucapan yang sebenarnya tak seberapa yang biasa telingaku tangkap. Hinaan semacam itu sudah terlalu biasa untukku, dan dengan tangisan yang sebegitunya membuatku benar tak mengerti pada diriku sendiri. Aku pikir apakah ini karena emosi saat-saat kehamilan yang biasa menyerang wanita hamil? Entahlah
aku memilih menjulurkan tanganku untuk mengambil potongan buah dipiring dengan garpu, lalu memasukannya kedalam mulutku, mengunyahnya dengan pelan menjurus tak niat. Keadaan ini terus terulang dimana setiap selesai makan siang aku digiring para pelayan untuk menikmati buah segar ditemani tontonan yang sebenarnya tak terlalu kusukai
Sungguh! Rasanya aku ingin mengamuk pada Chanyeol karena sudah sekitar dua minggu ini Chanyeol terus mengurungku dengan alasan takut terjadi sesuatu yang buruk padaku juga pada jabang bayiku. Tapi aku bukanlah seorang bayi yang tak bisa menjaga diri, bahkan protes yang kulakukan rasanya sudah sangat bosan kuujarkan padanya, walau Chanyeol memang benar pulang lebih awal tapi tetap saja aku merasa mati kebosanan
Yang kulakukan setiap paginya hanya memandangi Chanyeol yang akan memakai pakaian kerja, bahkan Chanyeol tak membiarkanku untuk membantunya mengancingkah bajunya atau memakaikan dasi, alasannya adalah dia bilang aku tak boleh kelelahan, tapi bahkan kancing baju takan mungkin memiliki berat berkilo-kilo!
Setelahnya aku akan sarapan bersama Chanyeol dengan petuah-petuah yang terus berulang-ulang ia ucapkan, dan yang paling membuatku kesal adalah aku tak diijinkan lagi menyentuh perabot dapur atau jika aku nekat maka lagi-lagi para pelayanlah yang akan menjadi korban membuatku tak tega
Lalu setelah Chanyeol berangkat bekerja itulah puncak kebosanan, aku hanya akan berbaring atau menonton TV seharian, atau aku akan menghubungi Luhan untuk datang menemani, seperti saat ini
"Ayolah Lu.."
'Baek aku tengah sibuk, kenapa kau terus menelpon!'
"Tapi aku bosan Luhan! Setiap hari si Park itu terus mengurungku. Kau tega padaku yang tengah hamil ini? Kau tega pada calon keponak –"
'Baiklah-baiklah! Aku akan kesana, kau puas?!' aku tertawa senang, tentu saja Luhan takan kuat jika aku sudah membawa-bawa kandunganku, sekarang itu adalah kelemahannya
"Aahh kau memang yang terbaik Xi Luhan, aku menyayangimu"
'Yahh aku juga membencimu'
"Ohh iya bisakah saat kemari bawakan aku oden, aku sangat menginginkan oden"
'Kau benar-benar merepotkan Byun Baekhyun!' Luhan mulai terdengar kembali emosi membuatku dengan sigap memanfaatkan kelemahannya, kekeke...
"Bukan aku yang menginginkannya, tapi –"
'Baiklah-baiklah! aku akan membawanya!' sambungan itu langsung terputus setelah telingaku menerima teriakan Luhan, tapi aku tetap berseru senang, setidaknya aku takan kebosanan lagi
Huuuuhh!`
Helaan nafas sudah entah yang keberapa kali tapi Luhan tak kunjung datang, apa Luhan mencoba membohongiku? Ini sudah lebih dari satu jam aku menunggu tidak mungkin bukan Luhan tersesat... tunggu, jangan-jangan Luhan memang benar-benar tersesat! Tapi... tentu saja tak mungkin ini bukan kali pertama Luhan berkunjung
'Mari saya antar'
'Terima kasih bibi'
'Tak masalah nona Luhan'
Aku seperti mendengar nama Luhan... apa Luhan sudah sampai?
"eoh Luhan?" aku memekik senang saat melihat Luhan yang diantar bibi Kim. Luhan terlihat merotasikan matanya tapi siapa pedulu, yang penting sekarang aku sudah tak kebosanan lagi
"Ini" Luhan menyerahkan sebuah bungkusan padaku, membuatku mengeryit bingung
"Apa ini?"
"Pesananmu" aku menatap semakin bingung pada Luhan yang sekarang sudah mendudukan tubuhnya disampingku
"Ada apa?" Luhan bertanya heran
"Apa aku memesan sesuatu padamu?" pertanyaanku justru dibalas rotasian mata bosan membuatku semakin bingung
"Ohh ayolah Byun, kau bukan seorang manula yang pelupa bukan!"
"Ish tentu saja bukan" jawabku sebal. Aku mulai membuka bungkusan itu dan melihat isinya
"Wahh apa ini?"
"Itu adalah sebungkus kimci" aku memandang Luhan dengan kesal, tapi yang dipandang seperti tak terpengaruh dengan tangan yang setia memindahkan cenel tv
"Kimci itu dari sayuran Luhan ini dari..."
"Ya terserah dirimu" Luhan memotong ucapanku membuatku semakin kesal
Aku mulai memakan apa yang Luhan bawa, ini rasanya sangat enak, aku tak mengerti kenapa bisa seenak ini, pasti yang membuat masakan ini sangat jago memasak
"Luhan kau beli dimana ini, rasanya sangat enak tapi aku seperti tak asing dengan rasanya, apa namanya?" aku menatap Luhan dengan mulut penuh menunggu jawaban, tapi Luhan justru balik memandangiku dengan keryitan
"Apa kau amnesia Byun?"
"Ish kenapa bicara seperti itu, akukan hanya bertanya!" ucapku kesal
"Itu oden Baekhyun" Luhan menjawab masih dengan keryitan
"Oohh, aku akan meminta Chanyeol membelikannya ini sangat enak, kau mau?"
"Tidak"
"Hmm baiklah" aku kembali memakan oden yang Luhan bawa sampai habis tak tersisa, Luhan membawa banyak tapi aku merasa masih kurang
"Luhan?" aku memanggil Luhan yang tengah asyik dengan tontonan didepannya, tapi Luhan seolah tak mendengar atau seolah tak peduli atau memang tak peduli!
"Luhan.." panggilku lagi, kali ini Luhan menjawab dengan hanya gumaman
"Luu.." rengekku
"Ada apa Baek?!" jawabnya dengan atensi yang sepenuhnya menatapku
"Aku bosan" ucapku dengan bibir yang yang mengerucut
"Lalu? apa aku harus mendongeng untukmu?" jawaban itu membuatku mengeryit kesal
"Ish Luhan kenapa hari ini kau sangat menyebalkan!"
"Lalu apa, kau mau apa?" tanya Luhan jengah
"Emm bagaimana jika kita keluar?" tawarku, aku mencoba peruntungan, siapa tau Luhan tak seperti Chanyeol
"Kau ingin Chanyeol mengamuk padaku? Tidak" nyatanya mereka berdua sama-sama menyebalkan
"Ish, kau harus menggunakan otakmu Xi Luhan, jika kau tidak mengatakannya tentu saja Chanyeol takan tau"
"Byun! apa kau lupa dirumah ini bukan hanya kita berdua, banyak para pekerja yang akan siapa melapor!"
"Tapii aku bosan Luhaaaan" aku merengek pada Luhan sambil menggucang tangannya, karena sungguh aku sudah benar-benar sangat kebosanan. Kupikir dengan adanya Luhan akan membuatku sedikit mengurangi rasa bosan ini, tapi nyatanya sama saja!
"Bukankah mansion ini luas, kenapa tidak mengelilinginya saja" aku sempat memikirkan saran Luhan, karena sebenarnya aku baru menghapal isi mansion ini saja, tidak untuk bagian luarnya seperti taman dan sebagainya
"Tapi..."
"Kenapa? Aahh kau pasti sudah bosan dengan mansion megah ini"
"Ti-dak sebenarnya bahkan aku tak hapal bagian luar mansion ini" Luhan tampak terkejut saat aku mengatakannya
"Apa? Jadi kau benar-benar hanya tidur, makan dan bersantai dimansion ini?"
"Kau mengatakan seolah aku adalah orang pemalas" ucapku dengan rotasian mata saat ucapan Luhan terasa sangat berlebihan
"Semua orang akan mengatakan seperti itu jika mengetahui apa yang kau lakukan setiap harinya"
"Aku terpaksa melakukannya ok"
"Ah sudahlah, jadi bagaimana?"
"Tentu saja kita akan mengelilinginya, ayo" aku langsung beranjak diikuti oleh Luhan
"Aku baru ingat, Chanyeol bilang disini terdapat rumah kaca, ingin mengunjunginya?"
"Waah kau serius?" Luhan terlihat sangat senang mendengarnya membuatku ikut tertular
"Tentu saja ayo, –ahk tunggu... Nana?!" aku memanggil Nana saat melihatnya melintas tak jauh didepan kami
"Ada apa eonn –ahk maaf maksudku-"
"Tak apa Nana-ya, emm bisa kau antar kami menuju rumah kaca?"
"Apa eonni ingin mengunjunginya?"
"Iya, aku ingin melihat bagaimana indahnya bunga-bunga disana"
"Kalau begitu mari" aku dan Luhan mengikuti Nana yang akan menunjukan rumah kaca, Nana juga menjelaskan sepanjang perjalanan tentang bunga apa saja yang ditanam, juga tentang perawatannya dan semua yang berhubungan dengan rumah kaca dan seisinya
Saat memasuki rumah kaca itu aku dan Luhan dibuat terkagum-kagum dengan isinya, selain luas mata kami disambut dengan warna hijau berpadu warna-warni bunga yang ditanam
"Mari eonni" Nana mengajak kami untuk lebih masuk kedalam, sepanjang kami melangkah semerbak harum bunga membuat kami terlena. Nana menuntun kami menuju pada dua kursi juga meja kecil ditengahnya, aku tak mengerti untuk apa kursi juga meja diletakan disana. Tapi tooh itu bagus, karena sepertinya ini akan menjadi salah satu tempat yang akan sering kukunjungi. Aku menyukai tempat ini
...
..
.
Saat ini aku tengah berkutat dengan peralatan dapur, aku tengah memasak untuk suamiku, tapi tentu saja aku harus memohon terlebih dahulu hingga Chanyeol sempat memarahiku karena kekhawatiran berlebihnya, dan setelah aku memohon dengan berderai air mata akhirnya Chanyeol mengijinkanku dengan syarat dibantu para pelayan
"Nana bisa kau siapkan kotak makannya, sebentar lagi matang dan aku akan menatanya"
"Baik eonni"
Hari ini rasanya aku tengah sangat senang entah karena apa, mungkin karena aku yang akan mengantar makan siang untuk suamiku atau karena aku dan Chanyeol akan pergi kedokter kandungan untuk pemeriksaan rutin, kandunganku sudah akan menginjak usia sembilan minggu dan ini adalah pemeriksaan yang pertama
Bicara soal kandungan, aku juga dibuat sangat senang karena aegi tak pernah lagi menyusahkan dengan rasa mual walau terkadang rasa pusing masih terasa, juga terkadang moodku yang sering tak bisa kukontrol hingga membuatku bersikap berlebihan. Selebihnya adalah rasa kebahagian sebagai calon ibu yang akan menikmati masa pertumbuhan buah hati di dalam sana
Aku sudah sangat tak sabar untuk penantian bayiku yang akan lahir melihat dunia, terkadang jika saat sendiri aku akan menangis meluapkan kebahagian juga rasa syukur kepada tuhan
"Nyonya telpon anda terus berbunyi" aku menoleh pada salah satu pelayan yang menyerahkan ponselku. Disana memang benar banyak sekali panggilan dari Chanyeol juga beberapa pesan dari Luhan
"Terima kasih" setelahnya aku langsung menjawab panggilan itu dengan sebelah tangan yang melepas apron, lalu aku berjalan menuju ruang tengah
"Hallo, Chanyeol ah?"
"Sayang, kenapa lama sekali mengangkatnya? Apa terjadi sesuatu padamu? Apa kau terluka? Apa..." aku langsung menjauhkan ponsel itu dari telingaku saat Chanyeol memberondong pertanyaan dengan suara kencangnya
"Maafkan aku, tadi aku tengah memasak"
"Baekhyun dengarkan aku, sekarang jauhi tempat itu, jangan lagi memasak, kau.."
"Tunggu, kenapa aku tak boleh memasak Chanyeol?" tanyaku kesal, apa-apan dengannya itu
"Sayang itu bisa membahayakanmu, bagaimana jika sesuatu terjadi padamu atau pada Aegi" aku langsung memberenggut kesal mendengar ucapan suamiku itu
"Tapi aku akan berhati-hati Chanyeol, lagipula kaukan sudah memperbolehkannya!"
"Aku berubah pikiran, kau tau aku disini sudah hampir gila karena mengkhawatirkanmu"
"Tapi –"
"Sayang aku mohon oke?" tentu saja aku marah, Chanyeol merusak moodku- lagi.
"Kau menyebalkan!"
"Tunggu beberapa bulan lagi dan aku akan memperbolehkanmu melakukan apapun yang kau suka"
"Itu masih lama! Kau memang sangat menyebalkan!"
"Maafkan aku tapi ini untuk kebaikan kalian. Oh iya kau harus diantar oleh supirmu saat kemari, dan aku juga sudah menyuruh beberapa penjaga untuk menemanimu"
Jika aku tau beberapa yang Chanyeol maksud adalah sebanyak dua mobil penjaga maka aku akan langsung menolaknya, oh demi tuhan kenapa Chanyeol harus seberlebihan ini. Aku tau aku tengah hamil tapi apakah harus jika sampai mendapat menjagaan bagai seorang presiden atau raja
Aku terus memberenggut sepanjang perjalanan bahkan hingga sampai dikantornyapun aku tak menampakan senyum yang biasa terpampang diwajahku saat semua bawahan Chanyeol menyapa membuat mereka menjadi sungkan
"Siang nyonya Park" satu lagi yang masuk kedalam daftar orang yang membuatku kesal
"Siang" Jawabku ketus
"Apa anda ingin bertemu dengan sajangnim?" aku tak menjawab alih-alih memandangi bagaimana penampilan yang Chanyeol bilang adalah sekretaris sementaranya
Bagaimana rok mini yang menampakan setengah paha juga betis jengjangnya, lalu kemeja yang dua kancing teratasnya dibuka dengan sengaja hingga membuat siapapun akan melihat bagaimana belahan itu menyembul keluar tak tau dirinya, Lalu riasan yang berlebihan dengan lipstik merah yang seakan memang sengaja agar setiap mata yang melihat tak teralihkan
"A-ah ka-kalau begitu mari sa-ya antar nyoya Park" sepertinya sekretaris itu menyadari bagaimana aku menatapnya
Saat sampai didepan pintu ruangan suamiku bekerja, aku langsung melarang saat sekretaris itu ingin mengetuk, aku langsung menyuruhnya kembali
Tok tok tok
Samar jawaban dari dalam terdengar, aku langsung membuka pintu besar itu membuatku langsung melihat bagaimana kini tampannya suamiku dengan kaca mata baca membingkai dihidung besarnya tengah pokus pada tumpukan dokumen, Chanyeol masih belum menyadari keberadaanku
Aku berjalan perlahan dengan tangan yang masih menjinjing makan siang yang kubawa, saat sampai dimeja kerja itu aku langsung meletakan kotak makan siang yang kubawa dengan sengaja diatas tumpukan dokumen yang tengah Chanyeol baca
"Baekhyunie" Chanyeol terihat terkejut dengan kedatanganku
"Bukan, aku adalah nyonya Park"
"Ohh astaga, aku merindukanmu, bagaimana kabarmu sayang?" Chanyeol menarik tanganku menuntunku agar duduk dipangkuannya
"Bagaimana kabar Aegi hm? Kau tidak nakal bukan? Daddy sangat merinduanmu" aku duduk menyamping menghadap suamiku membuatnya dengan lulasan dapat menciumi perutku
"Chanyeol, apa matamu hanya melirik padaku? Tidak pada yang lain?" aku menarik wajah suamiku agar menatapku, tanganku menangkup wajahnya menuntut jawaban
"Hm? Tentu saja, ada apa?" Chanyeol masih terlihat bingung walau ia memberikan jawaban
"Apa kau mulai membohongiku?"
"Sayang ada apa?" Chanyeol menangkup tanganku yang berada diwajahnya kemudian menariknya untuk digenggam
"Jawab pertanyaanku!"
"Tidak, aku tidak pernah berbohong padamu"
"Lalu, kau bilang dia hanya sekretaris sementara, kenapa masih bekerja untukmu?" Aku bertanya dengan picingan mata menanti
"Maksudmu Irene?"
"Aku tidak menanyakan namanya!" ucapku kesal
"Dia pekerja yang keras jadi aku memperpanjang kontraknya"
"Ooh benarkah? Bukan karena untuk kesegaran matamu?"
"Maksudmu?"
"Dia berpenampilan terlalu minim, apa itu yang dinamakan pekerja yang baik?"
"Aaahh jadi kau tengah cemburu hm?" aku semakin kesal saat Chanyeol justru mengerling padaku dengan seringayan menyebalkannya
"Chanyeol!" aku mencoba memperingati dengan tatapan tajamku
"Baiklah baiklah, lalu kau ingin aku melakukan apa?"
"Aku tidak ingin kau memiliki sekretaris wanita apalagi yang seperti itu"
"Baiklah sayang, aku akan memecatnya besok" Chanyeol menjawab ringan seolah itu bukan masalah, mungkin kali ini aku sangat berlebihan hingga membuat orang lain kehilangan pekerjaan, tapi sekali lagi rasanya luapan itu bagai tak terkontrol
"Ti-tidak, cukup ganti saja jangan memecatnya"
"Kenapa?" Chanyeol kembali bingung atas ucapanku, tapi akupun tengah bingung dengan kontrol emosiku
"Hanya turuti ucapanku!"
"Hahah baiklah nyonya Park. Aaahh apa sekarang sudah waktunya makan siang, perutku sudah berbunyi" Chanyeol berucap bersama renggutan yang justru terlihat mengerikan untuk wajah juga badan yang berbanding terbalik
"Hmm kalau begitu kau harus makan" aku membuka kotak makan yang kubawa, kemudian mengambil sendok untuk menyuapi suami tampanku
"Aaaa.. buku mulutmu"
...
..
.
"Chanyeol aku haus" saat ini aku dan suamiku tengah berada di salah satu taman disudut kota, Chanyeol mengajakku kesini setelah pemeriksaan itu usai. Chanyeol bilang ia ingin menghirup udara segar setelah seharian menghabiskan waktu didalam kantor yang suntuk, juga dia bilang ingin menghabiskan waktu bersamaku juga Aegi
Bicara soal Aegi membuatku tak bisa menahan senyumku saat mengingat pemeriksaan yang kulakukan tadi
"Ini masih berbentuk janin, perkembangannya juga sangat baik" rasanya aku sangat ingin menangis saat mendengar dokter mengatakannya sama halnya dengan Chanyeol, dia terus menggenggam tanganku menyalurkan kebahagiaannya, wajah itu terus tersenyum bercampur haru
"Tapi anda harus berhati-hati nyonya Park karena diumur janin saat ini akan sangat beresiko terjadi keguguran" tanganku reflex menyentuh perutku, insting seorang ibu langsung menyerangku begitu mendengar sesuatu hal yang buruk yang berkaitan dengan anakku
Tidak, aku akan menjadi ibu yang baik, ibu yang akan menjaga anaknya dalam keadaan apapun, ibu yang akan menjadi kebanggan untuk anakku, aku ingin anakku merasa bersyukur karena memiiliku
"Kau haus?" Chanyeol bertanya dari posisi berbaringnya diatas pahaku. Suasana sepoy angin disaat matahari mulai bergulir pergi memang sangat menyenangkan, ditambah cicitan burung diatas pohon yang menaungi semakin sempurna
"Hm'um" aku mengangguk membuat anak rambutku bergoyang
"Baiklah, tunggu disini aku akan membeli minuman" sebelum beranjak Chanyeol menyempatkan mencium perutku sebagai pamit perpisahan karena aku yang mengganggu kegiatannya menciumi Aegi
Walau hari sebentar lagi berganti malam tapi taman ini sungguh ramai, banyak para orangtua yang membawa anak mereka untuk bermain ditaman ini, atau para pesepeda yang bersepeda ditaman, ada juga yang memanfaatkan waktu untuk berolahraga sore ditengah kesibukan yang mungkin memang tak sempat saat pagi hari
Aku tersenyum senang saat melihat para anak kecil yang bermain bola, suara teriakan juga jeritan mereka sungguh menyenangkan dipendengaraku, rasanya membuatku semakin tak sabar menunggu Aegi ikut bermain bersama mereka, walau aku tak tau apa anakku nanti perempuan atau kah laki-laki tapi apapun itu tak masalah untukku
Aku terus memperhatikan sampai mataku melebar saat sebuah bola yang ditendang mengenai seorang anak kecil yang tengah bermain dipinggir lapangan, anak itu terlihat menangis sedang anak-anak yang lain terlihat tak perduli dengan melanjutkan bermainnya
Aku berjalan menghampiri saat dirasa tak ada yang menghampiri bocah itu, apa anak itu bermain sendiri ditaman ini? Kemana orang tuanya?..
"Hey"
Anak itu terlihat sangat lucu dengan isakan kecil, posisinya berjongkok membuatku ikut berjongkok, kepalanya yang disembunyikan disela lutut dengan rambut yang dikuncir dua juga pakaian yang berbentuk ala princess membuatnya semakin terlihat lucu
Aku sempat tertegun saat panggilanku terespon, anak itu mengangkat kepalanya dengan kerjapan mata jernih yang berlinang air mata menatapku, aku tak mengerti kenapa rasanya sangat mendebarkan
"Kenapa menangis hm?" aku pikir tak apa bertanya untuk basa-basi walau aku sudah mengetahui alasan dibalik kenapa wajah bulat itu penuh air mata
Anak itu tak langsung menjawab alih-alih tarikan ingus juga sapuan mata basah oleh tangan mungilnya diperlihatkan padaku, kemudian tangannya yang lain terlihat mengusap sisi kepala yang tadi terkena tendangan bola. Aku sempat terkekeh melihat semua itu
"Kepalaku.. hiks.. sakit" aku iba melihat bagaimana airmata itu mengalir kembali juga tangan kecil yang mengusap-usap kepalanya, sepertinya tendangan itu lumayan kencang. Tanganku perlahan ikut mengusap kepala mungil itu, sangat lembut ditanganku saat permukaan kulitku menyentuh rambutnya
Lama tanganku mengusap menggantikan tangan mungilnya, pipi basah itu juga ikut ku usap agar air mata tak mengahalangi wajah cantiknya
"Siapa namamu cantik?" tanyaku saat dirasa anak itu mulai tenang
"Aku Kim Yeri" jawabnya masih dengan sedakan sisa-sisa tangis
"Namamu sangat cantik sesuai dengan dirimu" pujianku berbalas senyuman cantik membuatku gemas pada gigi kecil yang terlihat olehku
"Lalu dimana orang tuamu?" Yeri tak langsung menjawab alih alih membuatku mengeryit saat melihat raut yang mulai berubah menampakan ketakutan, kutebak anak ini tak bersama orang tuanya, mungkin ia pergi keluar sendiri
"Kau tak bersama orang tuamu?" Yeri menggeleng dengan kepala yang menunduk, perlahan isakan kecil mulai terdengar kembali membuatku reflex memeluknya
"Hey tak apa, tapi lain kali jangan lakukan lagi ok, itu sangat berbahaya bagaimana jika ada yang berniat jahat hm?" aku mengusap rambut halus itu sesaat setelah menjauhkan tubuh kecilnya untuk menatap mata jernih itu. Anak itu menggangguk mengiyakan
"Namaku Baekhyun, kau bisa memanggilku eonni atau apapun yang kau mau"
"I-mo?" aku tersenyum mendengarnya bersamaan deguban yang terasa menyenangkan pada dadaku
"Ya, kau boleh memanggilku Imo. Dimana rumahmu? Aku akan mengantarmu pulang" aku mulai menarik tangannya untuk berdiri tapi tangan kecil itu terlihat menahan membuatku langsung memandangnya
"A-aku takut Mommy marah" wajah bersedih itu membuatku langsung berlutut kembali dengan tangan yang menangkup wajah mungilnya
"Aku yang akan bilang jika Mommymu marah ok?" tapi Yeri masih terlihat ragu
"Jangan takut, aku akan membelamu hm?" wajah itu perlahan mulai mengangguk membuatku tersenyum
"Nah sekarang siapa yang mau eskrim?"
"Aku" Yeri berseru kencang dengan lompatan kecil juga tawa sesaat tawaranku mengalun
"Baiklah ... ayo kita beli sebelum bertemu Mommymu" aku menarik tangannya pergi, langkah kaki kami menapak menuju keluar area taman, aku menunutunnya pada sebuah kedai yang tak jauh dari taman yang berada disebrang jalan
Kepalaku menoleh kanan kiri memastikan tak ada kendaraan yang melaju, jalanan itu terlihat tak terlalu ramai oleh kendaraan hanya satu dua yang melintas. Aku sempatkan menatap wajah mungil itu sebelum langkah kaki menapak pada aspal
Saat langkah pertama entah kenapa jantungku terasa berdegub kencang, sedikit menyakitkan menimbulkan ringisan kecil. Aku juga tak mengerti mengapa nafasku serasa memberat dengan getar yang mulai melanda tubuhku, pikiranku terasa kosong. Aku mencengkram tangan kecil yang berada digenggamanku, upuk mataku mulai terasa panas juga mengabur
Aku tak mengerti ada apa dengan tubuhku, kenapa langkahku menjadi terasa berat disetiap langkahnya, telingakupun terasa mulai berdengung
TIINN.. TIINNNN...TIIIIINNNNN
Waktu terasa melambat saat pendengaranku menangkap bising yang terasa mengerikan, tubuhku makin diserang gigil dengan panik yang mulai menyadari jika sebuah mobil hitam terlihat melesat menuju arahku
Kakiku tak lagi bisa bergerak tapi syukur kupanjatkan saat otakku berkata tak seharusnya kehidupan kecil terenggut saat ini. Tanganku seolah bekerja dengan sendirinya begitu dorongan kulakukan pada yang lebih kecil
TINNN... TIIINNNNNN...TTIIINNNN
Yang kulakukan kini adalah panjatan doa untuk kehidupan kecil yang lain yang juga menanti, aku berharap tuhan tak mengambil apapun yang telah kumiliki
TIINNNNNN
CKIITTTT
BRAAAKKKKK
saat tubuh tak terasa lagi...
saat bayang kebahagian mulai mengabur..
saat kehidupan terasa tak terlihat lagi..
aku mulai merana pasrah..
harapan masih ada walau tak sebesar peratama kali kabar itu kudapatkan
akankah tuhan berbaik dengan rajutan takdir kebahagian..
juga..
'BAEEKHYUUUNNN'
Seseorang yang harus pantas untuk itu
...
...
..
.
END (?)
atau
TBC (?)
.
..
...
...
Untuk yang susu hamil aku ngasal ya, maaf aku gk tau entah hambar atau ngga karena aku blum pernah hamil wkwkwk.. Anggap saja itu hiburan ya :D
selamat menikmati ;)
