Warn! Lime detection!
BRAK
Yoongi terlonjak kaget dari tidurnya, netranya mengedarkan pandangan pada pintu kamarnya yang terbuka paksa, dirinya tidak bisa melihat apapun lantaran kamarnya yang gelap. Ia hanya bisa menerka nerka oknum yang dengan kasar membuka pintunya. Siapa lagi kalau bukan—
"Jimin?" sosok tersebut mulai berjalan mendekati yoongi yang menyipitkan matanya, berusaha mencari sekering lampu tidur di dekatnya.
"Akhh!" rintih yoongi saat tangan sosok itu mencengkramnya dan mengungkungnya dibawah.
"Yoon... Lo tau kan hik gue cinta ama lo hik" yoongi bergidik ngeri, jimin mabuk dan suara itu tepat ada ditelinganya serta napas jimin berhembus menggelitik tengkuknya.
"Jim– lepas" bukannya melepas jimin malah menyusupkan kepalanya pada leher yoongi dan mengendusnya pelan.
"Ah.. Lo .. hik.. wangi yoon"
"Eunghh– jimh, berhenti– akkh"
Yoongi berjengit kala jimin mulai menggigit lehernya memberi sebuah bekas yang ia yakin tidak akan hilang dalam sehari.
"Milik gue..." jimin mulai menelusupkan tangannya pada piyama yang dikenakan yoongi, meraba perut rata yoongi serta mengecupinya.
"Jimhh... hhhh...henti-AHH jimin!" yoongi membelalakkan matanya saat jimin menyesap nipplenya.
Dengan kesadaran secukupnya yoongi meronta, berusaha melepaskan dirinya dari kungkungan jimin. Astaga, jimin semakin berani. Ia mulai melepas celana yoongi dan menciumi paha dalam yoongi.
Yoongi mulai menangis, dengan segenap kekuatannya yang mulai melemah ia—
BUGH!!
"HENTIKAN JIMIN! LO GAK SADAR!"
Yoongi menyalakan lampu tidur disebelahnya dan menatap jimin dengan pandangan kecewanya, airmatanya meleleh dari netra beningnya, ia telah dilecehkan oleh majikannya dan dia merasa kotor.
Jimin membola dengan pemandangan didepannya. Yoongi kacau dan terlihat rapuh didepannya.
"Ma-maaf, yoon... Gu-gue khilaf..."
"Jangan deketin gue, pergi dari kamar ini sekarang!" jimin dengan segala rasa bersalahnya segera meninggalkan kamar yoongi.
Setelah jimin pergi, yoongi membenahi pakaiannya dan menggelung tubuhnya dalam selimut. Ia menangis dalam diam, tidak disangka jimin akan berbuat seperti itu.
Pagi ini beda ama kemarin, setelah kejadian malam itu yoongi semakin menghindar dari jimin, begitupun jimin. Ia merasa bersalah dengan perbuatannya kemarin. Tapi apa daya, minta maaf sambil menangispun yoongi tidak akan memaafkannya. Kesalahannya besar, ia sadar. Gara-gara alkohol dirinya jadi kalap dan tak berotak.
Setelah menyelesaikan sarapannya, jimin segera berangkat kekampusnya, tanpa mengucapkan salam khasnya. Yoongi menghembuskan napasnya kasar, ia mulai mengerjakan tugasnya seperti biasa dan pergi kekamarnya.
Yoongi POV
Gue kecewa berat ama kejadian kemarin, pengen banget rasanya gue segera keluar dari pekerjaan ini. Tapi gimana? Uang yang gue dapet belum cukup buat nyewa apartemen ama biaya kuliah kedepan. Mungkin dua minggu setelah gue lulus kejar paket C gue bisa langsung mengundurkan diri dari sini.
Ya, sebenarnya sebelum gue minta izin sama jimin, gue udah njalanin kejar paket kilat, cuma dua bulan. Dan tinggal dua minggu lagi kejar paket gue selesai. Tanpa sepengetahuan jimin gue diem diem kekamarnya buat pinjem buku SMA-nya dulu trus gue pelajarin. Makanya gue ambil kejar paket kilat, karena sebenernya otak gue emang encer dari lahir.
Selagi jimin kuliah, gue nyiapin diri gue buat pergi ke lembaga yang ngadain kejar paket itu, jadi gue gak ketahuan.
Setelah gue rasa pintu udah kekunci, gue langsung berangkat aja ke tempat kejar paket.
Ah, sial.
Baru beberapa langkah dari apartemen gue ketemu ama adeknya jimin.
Itu si Jungkook.
"Lho, kak yoongi mau kemana ?" tanya adeknya jimin itu, tumbenan dia gak kesini bareng pacarnya.
"Cuma mau main aja kok jung," kata gue berusaha nutupin kebohongan gue
"Yah... Padahal kookie mau ajak kak yoongi masak bareng, udah lama kita gak masak bareng. Kalo gitu kookie ikut main boleh?"
duhhh, bocah ini...
"Umm.. Maaf jung, gue mau ketemu ama temen lama gue, iya temen lama. Jadi, gue gak bisa ngajak lo... Maaf yaa"
Gue langsung ninggalin jungkook yang keliatan bingung itu. Kalian mesti bingung kenapa gue gak canggung lagi sama jungkook, kan? Iyalah kan udah kenal lama jadi enggak canggung lagi guenya.
Yoongi POV end
"Ah, yoongi? Tumben baru datang" sapa seorang lelaki bermuka kuda.
"Oh, pak hoseok? Selamat siang pak. Hehe, tadi saya kena macet pak." ujar yoongi pada lelaki didepannya ini. Namanya Jung Hoseok, usianya 24 tahun, seorang guru yang turut membantu dalam pengajaran kejar paket itu.
"Bagaimana yoongi kamu sudah siap ujian kelulusan minggu depan?"
"Emm baru 30 persen sih pak, hehe." yoongi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu, tanda ia gugup.
"Pokoknya kamu belajar saja ya, semoga lulus yoongi!" guru muda itu tersenyum lembut pada yoongi.
"Makasih, pak"
"Ya sudah saya mau ngajar dulu, kamu segera masuk kelas gih, bel udah bunyi 5 menit yang lalu." ujar hoseok lalu memasuki ruangan yang ada disebelahnya. Yoongi yang menyadari keterlambatannya berlari kencang untuk sampai ruang kelasnya yang ada dipojok.
TBC
