Segala sesuatu yang terlihat baik dan sempurna oleh kedua mata tidaklah selalu menampilkan wujud asli sesuai harapan manusia. Sering kali tampilan luar hanya topeng untuk menyembunyikan kebusukan di dalamnya. Pengorbanan yang di berikan hanya berbalas hal yang menyakitan tak pernah terbesit dalam benaknya membuatnya beberapa hari ini menangis dan menyendiri di danau di dekat desa. Hanya tempat ini yang mampu sedikit menghiburnya di kala hatinya hancur karena orang yang di cintai ralat pernah di cintai karena sekarang hanya kebencian yang timbul setelah mengetahui tanpa sengaja kenyataannya. Seorang gadis cantik bersuraikan merah maron beririskan merah dengan baju berwarna merah juga sedang duduk di bawah pohon di tepi danau sedang memandang riak air yang tercipta dari lemparan batu. Tatapan matanya sayu dengan kantong mata yang membengkak, entah berapa banyak air mata yang mengalir di pipi yang mulus itu. Dadunya di topang kedua lutut kaki yang di tekuknya membuat dia meringkuk seakan posisi itu membuatnya bisa menghilangkan kesedihannya.

Tak habis pikirnya mengapa orang yang dulu di cintainya begitu tega dan jahat. Dahulu dia pernah hampir di bunuh olehnya beruntung Naruto dan Sakura menyelamatkannya walaupun harus menjadi tawanan. Saat kemudian bisa bersama lagi setelah perang dunia shinobi ke empat, dia harus menelan kembali kekecewaan karena di campakkan seakan tiada artinya. Masih segar dalam ingatannya ketika dia tanpa sengaja menguping percakapan antara Sasuke dan Suigetsu di distrik Uchiha. Betapa terkejutnya kalau selama ini Sasuke menganggap dirinya hanya beban yang jauh lebih parah dari Sakura yang menyebalkan. Sasuke hanya memanfaatkan dirinya untuk kepentingan pribadinya demi mewujudkan ambisi dan nafsunya mengenai klan Uchiha.

Tanpa perasaan Sasuke menganggap dirinya hanya seperti sapi yang bisa selalu di perah, bahkan mimpinya untuk bersanding dengan Sasuke pun sirna dengan cepat setelah Sasuke mengatakan hanya seorang Hinata Hyuuga yang mampu membuat keturunan klan Uchiha berikutnya menjadi sempurna berkat byakugan dan gen klan Hyuuga yang istimewa. Bahkan Sasukepun memanfaatkan Sakura demi kebusukan hatinya yang kemudian suara tawa Suigetsu yang menggema dan pujian tentang hebatnya seorang Sasuke Uchiha mengalir dari mulut manusia air itu. Dirinya merasa langit seketika runtuh menimpanya dan dunianya hancur berantakan, dengan menahan isak tangisnya dia segera meninggalkan tempat itu dan berakhir di tempat ini. Selama beberapa hari ini dia menyendiri di tempat ini untuk merenungkan semua hal yang terjadi dan apa yang harus dia lakukan. Ingin sekali rasanya dia pergi dari desa Konoha namun dia bingun harus pergi kemana?. Tiada satupun sanak saudara di tempat lain, bahkan hanya tersisa satu orang lagi dari klannya yaitu Naruto Uzumaki. Beban pikiran yang berat membuatnya tidak menyadari sekelilingnya. Ketika memejamkan mata menyesali nasib buruknya, sensornya mengatakan ada seseorang mendekati lokasinya. Memasang sikap siaga kalaupun dia harus berhadapan dengan musuh tiba tiba dia melihat kilatan kuning diatas danau.

"Akhirnya aku berhasil kabur! Areeeee...?"

dan

BYURRRRRR

seseorang yang muncul dalam kilatan kuning tadi otomatis terjatuh dalam danau. Si gadis hanya bisa sweetdrop melihat orang yang jatuh di danau itu, hanya orang bodoh yang tidak menyadari dia akan jatuh ke danau. Saat dia sedang blank pikirannya akibat melihat kejadian absurd di depan mata, sang pelaku yang seorang pemuda bersurai kuning berirish biru berkulit tan dengan tiga pasang kumis serupa rubah yang tak lain Naruto Uzumaki sudah menepi dan berdiri di depan gadis itu. Naruto menatap heran gadis itu karena seolah gadis itu tidak menyadari Naruto di depan matanya.

Rambut merah berkacamata dan mata merah, sepertinya aku pernah melihatnya tapi siapa ya? Naruto membatin sambil memikirkan soal gadis itu. Ah aku ingat dia, Karin dari tim taka yang biasa mengikuti Sasuke.

" Hallo.!! ada orang disana?" Naruto melambaikan tangannya di depan muka gadis itu.

"Hallo.!!!!"

"Astaga apa yang terjadi padamu onna?" Naruto mengguncangkan bahu gadis itu dan kemudian menempelkan dahinya ke dahi gadis itu.

Hal ini membuat gadis tersebut merona pipinya dan tanpa sadar sebuah kepalan menghantam pipi pelaku penempelan dahi tanpa permisi. Pukulan telak yang membuat sosok itu terlempar ke samping dan mendarat dengan tidak elite.

"Whoa baka onna apa apaan kamu ini?" Naruto memposisikan diri duduk bersila sambil mengelus elus pipinya.

" Kau kau kau... BAKA!" Karin menunjuk nunjuk Naruto dengan wajah memerah dan mata melotot menahan malu dan marah.

"Aku kenapa?" Naruto berkata tanpa merasa bersalah dan memasang wajah innocent. "Aku hanya memeriksa apa kamu demam Karin. Habisnya kamu diam saja."

"Kau, dasar mesum." Karin memalingkan muka sambil menggembungkan pipinya.

"Hehe. Nah sekarang apa yang kamu lakukan disini. Ini bukan tempat gadis cantik sepertimu sendirian?"

BLUSH

Wajah Karin sontak kembali memerah mendengar kata cantik dari Naruto. Entah kenapa harinya menghangat mendengar kata itu,kata yang di harapkan muncul dari Sasuke tercinta harus keluar dari Naruto.

"Uhmmmm."

"Tentu saja kamu cantik, tak mungkin aku mengatakan kamu tampan karena kamu seorang gadis seperti Sakura-chan."

Twich

Perempatan muncul di dahi Karin dan kemudian

PLETAK

Sebuah jitakan kasih sayang yang cukup keras mendarat di kepala Naruto.

"Ittai...!!! Baka onna apa yang kau lakukan?"

"Aku hanya berterima kasih Pirang Duren." Karin melotot menatap Naruto yang tengah nungging sambil mengelus elus bakpao di kepalanya akibat jitakan keras dari Karin. Hal absurd ini membuat Karin tertawa dalam hati, dia tidak menyangka Naruto penuh dengan kejutan yang membuat hatinya menghangat di tengah kesedihan dan kegalauan hatinya walau dengan hal yang absurd dan konyol menurutnya.

"Hoi hoi aku punya nama yaitu Naruto Uzumaki."

"Ho jadi ini tuan Naruto Uzumaki yang terkenal terkuat se dunia elemental. Aku bahkan mengalahkanmu dengan sebuah jitakan."

"Arrrrggggghhhhh...! Kau benar benar jahat Karin. Pantas saja Sasuke memilih Sakura-chan."

Deg..deg..deg.. Perkataan Naruto membuat dada Karin sesak seketika dan jantungnya berdebar keras. Ada perasaaan sakit dalam hatinya mengingat kembali tentang Sasuke. Raut wajahnya kembali sedih dan air matanya jatuh. Melihat hal tersebut, Naruto mendadak panik. Otak jeniusnya segera menyadari bahwa ucapannya telah membuat gadis di depannya menjadi seperti itu.

"Gomenne Karin. A..ak..aku salah. Aku membuatmu sedih dan menangis." Entah angin apa yang mendorongnya tiba tiba Naruto bergerak memeluk Karin dan mengusap pucuk kepala Karin seperti yang biasa dia lakukan ketika bersama Hinata. Mengingat Karin adalah orang satu klan yang tersisa selain dirinya dimana dia juga telah berniat menjadikan Karin Uzumaki sebagai bagian dari klan Uzumaki di Konoha membuat hatinya tergerak untuk meringankan beban Karin.

Setelah tangis Karin mereda, Naruto memberikan senyum lebarnya.

"Ne Karin aku ada permintaan ku harap kamu mau menerimanya."

"Apa?" Karin melihat ke arah lain enggan melihat sosok yang membuatnya merasa aneh dengan debaran di dadanya.

"Aku tahu klan Uzumaki hanya menyisakan kita berdua dan sekarang aku ingin membangkitkan klan. Aku ingin kamu tinggal di distrik klan Uzumaki."

"Hah!" Karin menoleh dan menatap mata Naruto mencoba mencari kebohongan. Sungguh Karin tidak mempercayainya di saat dia tidak tahu harus kemana tiba tiba orang di sampingnya menawarkan tempat tinggal.

"Aku tidak mungkin membiarkan satu satunya orang yang masih menyandang nama klan ku pergi dari sini Karin. Aku akan menganggapmu sebagai kakakku Karin-nee."

Sebuah pernyataan yang membuat Karin menegangkan badan. Rasa terkejut yang menguasai dirinya membuatnya tidak tahu harus berkata apa apa. Belum sempat Karin sadar dari syoknya

"Yah ku harap kamu mau menerimanya Neechan. Aku sudah menyiapkan kamar untukmu di mansion Uzumaki. Akan aku beri kamu waktu memikirkan permintaanku ini. Biarlah aku menjadi keluargamu yang baru." Tanpa mengetahui apa yang akan terjadi kelak Naruto memberikan Karin sebuah harapan tentang keluarga. Karin melihat mata Naruto dengan mata berkaca kaca.

"Aku mau Naruto." Karin menganggukkan kepala. Untuk sekarang biarlah seperti ini. Aku harap Naruto tidak mengetahui apa yang sedang terjadi. Aku bingung apakan aku harus memberi tahu Naruto soal Sasuke. Aku takut dia membenciku mengingat aku bagian dari tim Sasuke. Akan aku cari jalan sambil tinggal bersama dia batin Karin.

" Baiklah hari sudah siang lebih baik kita kembali ke desa dan melaporkan pada Hokage kalau kamu resmi menjadi bagian dari keluargaku dan meminta agar kamu resmi jadi kunoichi Konoha."

Karin menitikkan air mata melihat kesungguhan Naruto. Setelah dia mengetahui dicampakkan dan di khianati harapannya oleh Sasuke kini dia menemukan jalan yang akan membawa kebahagiaannya. Karin bertekad akan menjadi yang lebih baik dari saat ini demi orang yang menerima dan mengakuinya ini.

Kakashi sedang melihat lihat laporan laporan di mejanya sambil memijat kening. Dia merasa tugas Hokage tidak akan ada habisnya dan itu sukses membuatnya merindukan saat saat bersama tim tujuh menjalankan misi. Saat menikmati lamunannya tiba tiba sebuah kilatan kuning di depannya mengagetkannya.

Hiraishin batin Kakashi yang mengetahui jurus itu. Tidak mungkin!

Yo Kakashi sensei, apa kabarmu?" Suara bariton membuat Kakashi terkejut. Di hadapannya berdiri Naruto dan Karin yang bergandengan tangan dan itu membuat Kakashi menyipitkan mata.

"Naruto kamu bisa hiraishin no jutsu!. bagaima..."

BRAKKKKK

Belum sempat Kakashi menyelesaikan ucapannya terdengar pintu di buka dengan kasar. Aura gelap dan menyesakkan tiba tiba memenuhi ruangan dan itu berasal dari seorang wanita bersurai pirang pucat dengan dua asset jumbonya yang mengepalkan tangan dan menghentakkan kaki melihat Naruto ada di ruangan itu.

Naruto menoleh patah patah merasakan aura itu berharap dugaannya salah dan shinigami masih enggan mengambil nyawanya.

"NARUTOOOOOOOO...!!!!!!!!

DUAGH PLETAK PLAK DUGHHH

Akhirnya penyiksaan terhadap ninja terkuat di mulai dan jeritan terdengar sampai keluar gedung Hokage. Hal itu membuat warga yang ada di sekitar gedung Hokage cepat cepat menyingkir sambil sweetdrop. Sementara saksi mata hanya berkeringat dingin dan sweetdrop sampai terpaku di tempat mereka masing masing.

"Ittai Baachan. Kau inging membunuhku ya?" Naruto duduk bersila dengan muka bonyok akibat pelajaran kasih sayang dari neneknya. "Huwaaaaa tolong aku Neechan, nenek sihir ini kejam sekali."

BLETAK..

Sebuah jitakan kembali bersarang di kepala Naruto sementara Tsunade pelakunya menatap Karin. Neechan,kenapa dia memanggil Karin neechan batin Tsunade yang kemudian menatap Kakashi seakan bertanya kamu tahu soal ini dan di balas Kakshi dengan mengangkat kedua bahunya.

"Naruto, kenapa kamu kabur dari belajar bersama Yugao? Sudah ku katakan agar kamu disiplin demi klanmu."

"Aku bosan setiap hari aku hanya berlatih dan belajar. Bahkan waktuku dengan Hinata dan Sakurachan semakin berkurang." Naruto memasang muka sebal.

"Tapi itu demi kebaikanmu Naruto. Bukankah mimpimu menjadi Hokage?"

"Ya memang itu mimpiku tapi sekarang aku punya mimpi yamg lebih dati menjadi Hokage. Aku hanya ingin mempunyai banyak waktu berharga dan memberikan yang terbaik yang bisa aku lakukan untuk keluargaku kelak. Aku akan membuat kebahagiaan Karin- nee, Hinata dan Sakurachan menjadi nyata."

Sontak perkataan itu membuat Karin, Tsunade dan Kakashi membulatkan mata. Karin teringat seluruh kisah hidupnya dan perkataan Naruto di tepi danau, hal itu membuatnya spontan membuatnya memeluk Naruto. Tsunade dan Kakashi yang melihat reaksi Karin kemudian tersenyum jahat mengingat rencana menikahkan Naruto dan Karin.

"He hentikan senyuman itu. Kalian pasti merencanakan sesuatu kepadaku dattebayo!" Naruto pucat melihat duo Hokage menyeringai ke arahnya tanpa menyadari posisi intimnya dengan Karin di mana Karin memeluknya erat dari depan dan tangan Naruto melingkar di pinggang Karin seolah tidak membiarkan gadis itu melepaskan pelukan.

"Kau pikir apa yang kau lakukan Naruto? kalau mau bermesraan jangan disini tapi di kamarmu." Kakashi memasang eye smile dan menunjukkan buku icha icha paradise.

"Apa maksudmu sensei?" Naruto masih belum sadar.

"Kau ingin 'memakan' seorang gadis Naru-chan?" Tsunade tersenyum manis namun bagi Naruto itu seperti senyum iblis.

"Aku tak mengerti." ketika Naruto menoleh untuk bertanya kepada Karin yang pertama dia lihat surai merah begitu dekat.

1 detik

3 detik

5 detik

"Huwaaaaa..! Gomenne Karin-nee!" Naruto sontak melepaskan pelukannya dan Karin juga melepaskan pelukannya akibat teriakan Naruto yang menyadarkannya bahwa dia menikmati pelukan dan aroma tubuh Naruto. Kedua orang ini sedang memalingkan wajah ke arah yang berlawanan arah menyembunyikan rona merah di wajah masing masing.

Tsunade dan Kakashi tersenyum senang karena melihat bahwa niat menikahkan Naruto dan Karin tidak akan menemukan kendala berarti melihat tingkah mereka. Naruto merutuki dirinya sendiri kenapa memperlakukan Karin seperti kekasihnya Hinata dan kenapa debaran jantungnya seperti saat bersama Hinata dan Sakura.

Sementara Karin merasa hatinya menghangat dan bertanya tanya kenapa rasanya jauh lebih indah daripada saat bersama Sasuke. Biarlah sang waktu menjawab apa yang terkandung dalam hati mereka dan membuat harapan mereka menjadi kenyataan.

"Nah sekarang jelaskan padaku apa maksudmu datang kemari sambil menggandeng Karin dan darimana kamu belajar hiraishin?" Kakashi menginterupsi lamunan Naruto dan Karin sementara Tsunade terkekeh mendengar ucapan Kakashi soal gandengan tangan.

"Diamlah Baachan kamu membuatku malu." Naruto memberikan glare kepada Tsunade. " Aku belajar dari gulungan Tousan yang aku temukan di rumah selama beberapa minggu ini Sensei. Beruntung banyak gulungan fuinjutsu klan Uzumaki yang di kumpulkan Tousan dan Kaasan jadi aku bisa mempelajarinya untuk menjadi ciri khas klan Uzumaki."

Kakashi melirik Tsunade menanyakan apakah benar hal itu dan di balas Tsunade dengan tatapan yang mengatakan dia jenius cuma tidak peka.

"Naruto, bolehkan aku mempelajari fuinjutsu dan jutsu klan Uzumaki?" Karin menatap Naruto penuh harap. Karin hanya ingin berkembang bukan hanya menjadi sekedar penyembuh, dia tidak mau nasibnya sama seperti ketika bersama Sasuke. Kali ini dia akan menjadi jauh lebih kuat deni Naruto yang telah mengembalikan cahaya hidupnya dan tanpa sadar Karin mulai melupakan Sasuke dan jatuh cinta dengan Naruto. Dua hati yang entah sama sama tertarik namun ada tembok yang menghalangi itu yang terjadi antara Naruto dan Karin. Entah mau di bawa kemana hubungan mereka namun Karin merasa di anggap Neechan oleh Naruto itu sudah cukup asalkan cahaya hidupnya tetap bersamanya.

"Tentu saja Karin-nee, Tsunade Baachan dan Kakashi sensei aku mohon ijinkan Karin-nee tinggal bersamaku. Dia akan menjadi kakakku, membuat ikatan keluarga. Dan tentu saja agar Karin-nee menjadi shinobi Konoha yang resmi. Aku yang menjaminnya." Naruto dengan bulat mengatakan keputusannya. Hal itu membuat Karin menundukkan kepala berharap Naruto mau melihatnya sebagai seorang gadis bukan seorang kakak. Kemudian Naruto menjelaskan pertemuannya dengan Karin di tepi danau. Tsunade hanya tersenyum karena merasa langkahnya akan lebih mudah.

"Tentu saja Naru-chan. Nah Karin kamu sekarang bisa memanggilku Baachan." Tsunade tersenyum dan memeluk Karin. "Selamat datang di keluarga Uzumaki."

"Maafkan saya namun itu terlalu lancang untuk saya Godaime Hokage-sama."

"Tak perlu takut dan merasa formal. Jadilah seperti bocah bodoh kurang peka itu."

"Hoi apa maksudmu nenek sihir?" Naruto memasang muka emosinya yang terlihat lucu di mata Karin.

KAWAI Naruto-kun batin Karin yang tersipu tanpa sadar menambahkan siffix -kun.

"Bagaimanapun juga aku nenek kalian. Nah aku ingin kita menjadi keluarga yang baik."

"Ha'i Baachan" Karin memeluk Tsunade merasakan memiliki orang tua. Sementara Tsunade menatap Karin penuh kasih. Tsunade marasa ada sesuatu yang di sembunyikan Karin namun dia percaya suatu saat Karin akan menceritakan sesuatu itu.

Kakashi tersenyum melihat hal itu kemudian mengulurkan sebuah hitae ate yang di terima Karin dengan penuh semangat kemudian memasangkan di lengannya.

"Nah karena semua sudah jelas saatnya menandaimu Karin-nee." Naruto mendekat ke arah Karin yang berdiri di sebelah Tsunade dengab sorot mata yang penuh kemenangan. Melihat tingkah Naruto, Karin mendadak panik.

"Hei apa yang akan kamu lakukan baka hentai?" Karin merasa seolah olah Naruto ingin memakannya melihat tatapan yang seakan menelanjanginya.

Secara reflek Karin menyilangkan tangannya ke dadanya menutupi dua asetnya dan menyempitkan posisi kaki melindungi aset berharganya.

"Baka onna kamu pikir aku akan memperkosamu disini." Naruto hanya sweetdrop melihat tingkah Karin.

"Matamu mata hentai baka kiroi."

"Hah rupanya penyakit Ero-Sennin menular kepadaku. Tenanglah Neechan."

Tsunade terbahak melihat tingkah dua anak muda itu mengingatkan kembali pada sosok yang di rindukannya akhir akhir ini, Jiraiya.

Tiba tiba Naruto menyentuh dahi Karin dengan dua jari tangan kirinya sementara tangan kanannya membentuk segel tora. Beberapa saat kemudian Karin merasa dahinya berdenyut dan sebuah tatto pusaran Uzumaki tercetak di dahi Karin.

"Nah aku sudah menandaimu sebagai milikku." Ucapan Naruto membuat Karin blushing padahal maksud Naruto sebagai keluarga namun Karin menganggapnya jalan menuju pasangan. "Tanda ini akan membuatmu keluar masuk distrik Uzumaki dengan mudah. Itu juga sebagai segel hiraishin jadi aku bisa menemukanmu dengan mudah dan.."

"Aku ingatkan Naruto agar kamu tidak menggunakan untuk mengintip aku dan Karin ketika mandi,ganti baju dan hal privasi wanita lainnya." Tsunade memotong ucapan Naruto sambil tersenyum manis yang menjanjikan sesuatu yang mengerikan.

GLEK..

Naruto menelan ludah melihat senyum Tsunade.

"Hehe, tentu saja Baachan. Dan kqu bisa menggunakan layaknya segel bakugyo milik Baachan yang segiempat di dahinya itu."

Setelah menyelesaikan urusan di geding Hokage, Naruto mengajak Karin berbelanja segala keperluan Karin dan mengambil beberapa barang Karin yang ada di tempat tinggal lama Karin. Kini distrik Uzumaki tidak akan sepi lqggi karena bertambah satu orang Uzumaki walaupun distrik Uzumaki juga di gunakan sebagai markas anbu special Tsunade yang di pimpin Naruto. Anbu ini yang juga menjadi anggota klan Uzumaki sebagai pelindung.

Karin merasa sangat bersyukur bisa menemukan keluarga di distrik Uzumaki. Kini hari harinya akan jauh lebih berwarna dengan berbagai aktivitas khusus klan Uzumaki seperti latihan dengan anbu special, belajar fuinjutsu

dan ninjutsu,mengembangkan rantai chakra yang di latih pribadi oleh Naruto membuatnya banyak waktu yang pastinya akan membuat cintanya kepada Naruto akan semakin bertumbuh dan terutama bisa bersikap sebagai istri Naruto berkedok kakak perempuan. Membayangkan hal hal itu membuat Karin tanpa sadar terbuai dalam mimpi lelapnya.

Hari hari berlangsung penuh damai di Konoha. Sinar hangat mentari pagi memasuki sebuah ruangan di rumah sakit Konoha membuat seorang gadis bersuarikan merah muda beririshkan hijau emerlad menggeliat tak kala sinar hangat itu menerpa wajah cantiknya. Mengumpulkan fokus dan kesadarannya dia melihat sahabatnya sedang membuka korden jendela ruangannya.

"Astaga kau tidur di kantormu lagi forehead?" Ino Yamanaka menggelengkan kepalanya melihat betapa kusut sahabatnya itu. "Kau terlihat sangat berantakan."

"Begitulah pig!" Sakura merapikan rambutnya yang tergerai.

"Ada masalah apa kali ini?" Ino mendesah,dirinya hafal di luar kepala mengenai sahabatnya ini.

"Aku tak ada masalah Ino."

"Kau tak perlu berbohong Sakura. Ingat kita sudah sejak akademi menjadi rival dan bersahabat tentu aku tahu soal dirimu."

Sakura menghela nafasnya,dia lupa soal itu.

"Untung Naruto tak tahu soal ini, bisa kacau jika dia menemukanmu sedang berantakan seperti ini."

"Apa hubungannya dengan Naruto? Dia sudah punya Hinata dan aku sudah punya Sasuke. Lagian dia juga sudah jarang sekali menemuiku." Sakura mendengus kesal.

"Asal kau tahu Sakura, Naruto masih mencintaimu. Kau pikir selama ini siapa yang mengirimmu makanan dan minuman di mejamu. Menyelimutimu setiap kau tertidur di kantor saat banyak kerjaan. Mengawasimu dari kejauhan. Walau dia punya Hinata dan sibuk dengan berbagai misi dan pelatihan Naruto selalu menyisihkan waktu untukmu tanpa kau sadari."

Ucapan Ino bagaikan kilat di siang bolong, menampar pemikiran Sakura.

"A Aku pi pikir itu Sa Sasuke-kun."

"Sasuke kamu pikir. Orang itu bahkan tidak muncul saat kamu sakit kemarin. Ya dan Naruto yang kalang kabut mencarikan tumbuhan herbal karena rumah sakit kehabisan obat. Asal kamu tahu saat ini Sasuke lebih memaksa menemani Hinata Hyuuga menjalankan misi tanpa sepengetahuan Naruto dan Tsunade-sama. Hokage-sama tentu meloloskan permintaannya mengongat Sasuke itu madih murid kesayangannya walau Hokage berkata Naruto yang terbaik. Sekarang pulanglah dan istirahatlah, kau membutuhkannya. Shizune senpai yang menyuruh." Ino berdiri dari tempat duduknya dan meninggalkan Sakura yang masih termenung meresapi perkataan Ino.

Sakura menatap nanar meja di depannya, dia masih menolak segala perkataan Ino tadi. Pikirannya menjerit bahwa Ino telah mempermainkan perasaannya.

Apa apaan Ino pig, informasi sampah macam apa itu. Dia pikir aku akan percaya, Naruto tidak melakukan semua hal itu dan yang melakukan adalah Sasuke karena Sasuke juga mencintaiku. Aku tidak percaya Sasuke menemani Hinata soalnya dia tahu Hinata kekasih Naruto. Ino pasti membual dan mengarang cerita supaya aku meninggalkan Sasuke dan dia bisa mendekati Sasuke. Aku tidak akan terjebak oleh permainanmu Ino pig bagin Sakura seraya bangkit dari kursinya dan meninggalkan ruangannya. Sepanjang perjalanan perkataan Ino masih terngiang di benaknya dan Sakura terus membantah bahkan semakin memantapkan cintanya ke Sasuke. Cinta membutakan seseorang untuk mengetahui sesuatu kebenaran akibat terlalu cinta dan menjadi buta akibat cinta. Sakura tahu soal itu namun pikirannya mensugesti bahwa Sasuke adalah pria paling sempurna yang dia tahu dan layak untuk mendampinginya kelak. Jantung Sakura berdebar keras membayangkan hari hari setelah menikah dengan Sasuke. Ketika melewati kompleks pertokoan Sakura melihat Karin sedang berbelanja sayuran dan buah. Sakura segera menghampirinya karena ingin menanyakan soal Sasuke, bagi Sakura Karin adalah orang yang tepat untuk bertanya karena dekat dengan Sasuke.

"Hai Ka..." Sakura mendadak terdiam ketika akan menepuk bahu Karin yang sedang membayar belanjaan karena melihat baju Karin bagian belakangnya terdapat gambar pusaran khas klan Uzumaki.

"Oh Sakura kamu membuatku kaget. Ada apa berdiri di belakangku atau kamu mau berbelanja juga?" Karin terkejut ketika berbalik dia mendapati Sakura.

"Eh.. Oh tidak tidak. Aku hanya ingin berbincang denganmu mengingat sudah lama tidak berbincang." Sekali lagi Sakura menahan reaksi terkejutnya karena melihat Karin semakin cantik apalagi dahinya di hiasi tatto pusaran Uzumaki.

"Baiklah Sakura. Kurasa kita bisa sambil berjalan pulang."

Sakura menganggukkan kepalanya. Sepengetahuannya memang dari kompleks ini ke tempat tinggalnya dan Karin memang searah. Kemudian mereka berjalan sambil mengobrol santai. Tak berapa lama Sakura tidak tahan lagi menanyakan sesuatu.

"Karin apa kabar Sasuke? Beberapa hari ini aku tidak melihatnya di desa."

Karin yang mendengar hal itu hanya bisa mengepalkan tangannya.

"Sasuke baik baik saja,mungkin dia sedang ada misi."

"Tumben sekali kamu tidak ikut bersamanya."

"Aku lelah Sakura makanya aku libur dahulu dari misi dengannya."

Sakura mengeryitkan dahi mendengar ucapan Karin. Tidak biasanya dia bersikap datar apalagi kalau soal Sasuke.

"Karin, kenapa kamu sekarang memakai baju dengan tanda klan seingatku kamu tidak memakainya dulu?" Sakura meloloskan pertanyaan itu mengingat Karin Uzumaki tidak pernah memakai tanda klan berbeda dengan Naruto Uzumaki yang bangga memakai tanda klan dengan baju orangenya yang menyilaukan mata.

"Aku hanya ingin meniru Sasuke saja. Ah aku rasa cukup sampai disini Sakura jaa."

Belum sempat Sakura mengatakan sesuatu Karin tiba tiba segera pergi dengan terburu buru. Sakura menatap kepergian Karin denga heran.

Sepertinya ada sesuatu yang di sembunyikan. Kenapa Karin harus memakai tanda klan Uzumaki, bukankah harusnya dia memakai tanda klan uchiha mengingat dia bagian dari tim Sasuke. Ah belum lagi di dahinya juga ada tanda itu. HEI bukankah jalan yang diambil Karin itu jalan menuju apartemen Naruto. Sepertinya ada yang aneh. Sakura menekan dadunya dengan jari telunjuk sambil berpikir sesuatu,setelalh beberapa saat memikirkan tentang sikap Karin Sakura mengangkat bahunya. Sakura merasa percuma mengurusi persoalan itu lebih baik mencoba mencari keberadaan Sasuke dan melepas kerinduan yang dia pendam.

TBC

Trima kasih yang udah review, masukan anda sangat berarti. Sejujurnya fic ini di ilhami dari banyak fic dan cerita baik itu cerpen maupun cerbung yang author baca di kala senggang jadi ga cuma fic fic tertentu. Yang pastinya akan ada hal yang di alami tokoh tapi ga pemerkosaan karena author benci banget pemerkosaan.jangan harap ada lemon di fic ini karena author tidak bisa menulis gumpaln nafsu hahaha...

mphon maaf jika masih ada typo dan alur serta bahasa ga jelas.