Dibalik kedamaian dan keamanan desa selalu di penuhi dengan berbagai hal yang di lakukan pemimpin desa beserta orang orang terkait. Pembunuhan beberapa shinobi baik dari Konoha maupun desa lain terus terjadi sehingga sedikit menurunkan kepercayaan desa lain kepada desa Konoha. Hal ini membuat kepala Kakashi selaku Hokage pening memecahkan masalah itu.
Laporan laporan bertumpuk di depan Kakashi dan Shikamaru untuk segera di cari jalan keluarnya supaya keadaan kembali normal. Shikamaru tampak letih sehingga meminta ijin kepada Kakashi untuk beristirahat sejenak. Setelah mendapat ijin Shikamaru beranjak keluar dari kantor Hokage namun masih sempat mengambil satu berkas yang sangat dia curigai. Kini hanya satu tujuannya sahabatnya yang mendadak pintar, semoga saja dia mengerti tentang masalah ini. Ketika tiba di apartemen Naruto yang terkunci Shikamaru menjadi bingung.
Tidak biasanya Naruto pergi saat hari libir misi ini. Apa dia ada janji dengan Hinata ya? Batin Shikamaru lalu beranjak menuju kedai ichiraku berharap siang ini Naruto makan di sana.
Di tengah perjalanan ke kedai Shikamaru berjumpa dengan Ino yang juga mencari Naruto.
"Hai Ino." Shikamaru melangkah mendekati Ino.
"Hai Shika. Ada apa gerangan kamu berjalan sendirian? Biasanya kamu akan menghabiskan waktumu untuk tidur saat seperti ini."
"Aku mencari Naruto. Ada hal yang ingin ku bahas tentang permasalahan desa. Kamu sendiri sedang apa?"
"Kebetulan ayo ikut aku ke rumah Tsunade-sama Naruto disana."
"Eh..!"
"Naruto sekarang selalu makan di sana. Yah berhubung dia cucu Tsunade-sama kan. Lagian aku juga ingin menanyakan tentang fuin soalnya kata Tsunade-sama Naruto memasteri fuin kurasa aku bisa menanyakan fuin ini." Ino menunjukkan sebuah benda persegi di tangannya.
"Beberapa waktu tidak berjumpa selalu ada kejutan darinya. Benar benar tipikal klan Uzumaki, memasteri fuinjutsu dalam waktu yang singkat. Otaknya mengerikan."
"Aku bisa membayangkan betapa mengerikannya Naruto kelak. Jangan lupakan dia jenius soal bertarung dan dengan otak seperti Yondaime-sama aku berharap kelak dia tidak menjadi musuh desa." Ino menerawang ke arah langit biru.
Shikamari tertegun mendengar ucapan Ino. Melihat Ino yang tegas mengucapkan kalimat itu membuat Shikamaru seolah terseret dalam pesona Ino. Mendadak wajah Shikamaru terasa menghangat dan semburat merah menghiasi wajahnya,bertepatan Ino melihatnya dan tersenyum manis. Shikamaru mendadak salah tingkah namun Ino sepertinya tidak menyadari dan berjalan meninggalkan Shikamaru yang masih terpaku.
"Kamu jadi menemui Naruto kan Rusa Pemalas." Ino tersenyum jahil ke arah Shikamaru yang tertinggal di belakangnya.
"I i iya. Ah mendokusai." Shikamaru menggaruk belakang kepalanya menghilangkan rasa gugupnya. Mata Shikamaru tidak berhenti mencuri pandang ke arah Ino yang berjalan di sampingnya. Sambil mengobrol beberapa hal tanpa terasa mereka sudah tiba di rumah Tsunade.
Beruntung Tsunade ada di rumah dan sedang bersantai.
"Gomen mengganggu anda Tsunade-sama. Kami ingin bertemu Naruto karena ada beberapa hal yang ingin di bicarakan." Shikamaru menjelaskan kedatangannya.
"Tentu tapi tunggu sebentar. Naruto sedang di training ground khusus klan Uzumaki. Nah Karin..." Tsunade memanggil Karin Uzumaki.
Setelah panggilan Tsunade menggema di rumah tersebut tak berselang lama Karin datang dari arah dapur.
"Ada apa Baachan" Karin melepas apronnya dan berjalan mendekati Tsunade.
"KARIN...! ini benar kamu!" Ino terkejut melihat Karin yang menemui mereka. Ino mengira ada Karin yang lain.
"Iya Ino. Ada apa kamu dan pacarmu datang kemari." Karin memberikan senyuman jahil ke arah Ino. Ucapan Karin jelas membuat wajah Shikamaru dan Ino memerah.
"Urusai baka onna. Bukankah seharusnya kamu menjelaskan kenapa kamu ada disini. Aku pikir kamu ada di distrik Uchiha." Ino menunjuk Karin dengan ekspresi panik.
"Ho bukankah tidak salah kalau aku bersama nenek pasanganku kelak." Karin terkekeh melihat ekspresi Ino yang bagaikan ikan.
"Mendokusai." Shikamaru menatap malas Karin.
"Karin tolong jemput Naruto di tempat biasa, bilang ada urusan penting terkait desa. Dan jangan sampai mengagetkan dia." Tsunade segera menyuruh Karin pergi.
"Tsunade-sama apakah dia sudah tahu?" Ino menatap tempat Karin berdiri sebelum sunshin menjemput Naruto.
"Aku sudah memberitahunya namun sepertinya saat ini Naruto hanya menganggap Karin sebagai kakak."
"Naruto memang baka kalau urusan seperti ini."
Kemudian Tsunade menceritakan soal Karin sepengetahuannya, Ino benar benar tidak menyangka kalau Karin seperti di buang oleh Sasuke apapun alasannya. Beruntung ada Naruto yang mau menerimanya tanpa mengetahui Karin dijodohkan dengannya.
"Ngomong ngomong sejak kapan kalian resmi ne Ino Shikamaru?" Tsunade mengedipkan sebelah matanya.
Sontak hal itu membuat Ino dan Shikamaru menjadi salah tingkah. Beruntung sebelum Tsunade menginterograsi mereka kilatan kuning mengalihkan perhatian mereka dan muncul Naruto menggandeng tangan Karin.
"Hai Shika Ino. Maaf menunggu."
"Tak apa Naruto. Kamu ini benar benar maniak berlatih sekarang." Shikamaru menatap Naruto yang menurutnya agak berubah.
"Berlatih sih boleh saja tapi kamu tidak lupa kan dengan Hinata dan Sakura hahahaha." Ino tertawa melihat Naruto memalingkan muka menyembunyikan semburat wajahnya.
Karin yang mendengar ucapan Ino hanya tersenyum kecut, sesungguhnya dia ingin merasakan cinta yang benar benar tulus dari Naruto yang telah menyelamatkannya dari kegelapan dan memberi cahaya di hatinya. Mengingat pembangkitan klan yang memang di canangkan oleh lima desa besar maka Karin harus merelakan untuk berbagi hati dengan yang lain.
"Naruto coba kamu baca ini." Shikamaru menyodorkan berkas yang dia bawa dari kantor Hokage.
Naruto menerimanya kemudian beranjak ke ruang sebelah ruang tamu, Tsunade yang tanggap segera memberi kode kepada Shikamaru untuk mengikutinya dan Karin agar menahan Ino supaya tidak mengikuti.
Naruto nampak sangat serius membaca berkas yang ada ditangannya tidak menyadari kalau Tsunade dan Shikamaru menatapnya penuh tanda tanya.
"Naruto." Tsunade melihat kali ini Naruto benar benar sangat serius. Hal itu terlihat dari tindakan Naruto mengangkat sebelah tangannya memberi isyarat berhenti.
Shikamaru merasa di depannya bukan Naruto, seolah olah Minato Namikaze yang ada di depannya.
"Naruto Namikaze Uzumaki Senju." Tsunade memanggil Naruto yang tenggelam dalam aktivitasnya.
"Hn" sebuah kata ambigu milik Sasuke keluar dari mulut Naruto membuat Tsunade dan Shikamaru menghela nafas. Mereka tidak menduga Naruto akan bersikap demikian.
"Sudah berapa lama Shika?" Tiba tiba Naruto meletakkan berkas tersebut dan menatap lekat Shikamaru yang meneguk ludah melihat sikap Naruto.
"Sejak tim taka Sasuke berkumpul kembali di desa."
Naruto menyerahkan berkas tersebut kepada Tsunade. Tsunade segera membacanya dan membulatkan mata setelah selesai membaca.
"Aku akan menyelidikinya sendiri. Jangan sampai orang lain tahu terlebih Kakashi." Naruto segera beranjak dari kursinya meninggalkan Tsunade yang melihatnya dengan khawatir dan Shikamaru yang bingung dengan reaksi Naruto.
"Maaf Tsunade-sama apa maksud Naruto?"
"Kamu sudah membaca berkas ini dengan teliti kan?"
"Saya sudah berulang kali membaca berkas itu tapi saya tidak mengerti maka dari itu saya memberikannya kepada Naruto."
"Luka para shinobi itu akibat goresan senjata shinobi khusus atau penggabungan element yang sempurna Shika bukan sekedar kunai atau tanto maupun katana."
"Maksud anda? Jangan jangan...?"
"Begitulah Shika. Kita berharap saja semoga bukan dia yang melakukannya?"
Shikamaru hanya bisa terdiam sepintar apapun dia ternyata melewatkan informasi itu. Dia heran bagaimana Naruto bisa tahu soal itu.
"Naruto mempelajari seni pedang khusus klan Uzumaki. Hal yang ada di laporan ini pernah terjadi dulu di klan Uzumaki." Seolah membaca pikiran Shikamaru Tsunade melanjutkan perkataannya.
"Kalau ada orang seperti itu bagaimana mungkin Naruto menyelidiknya sendiri? Aku akan mengatur tim untuk menemaninya." Shikamaru berdiri dan berjalan ke arah pintu.
"Lebih baik jangan Shika. Biarkan Naruto bekerja sendiri. Mengirim tim untuk menemaninya saat ini hanya akan membawa masalah. Kamu pikir Naruto yang sekarang sama dengan sebelum pergi ke bulan. Jadikan ini rahasia tingkat S. Aku akan membuat pernyataan mengirim Naruto ke Sunagakure untuk alasan." Tsunade menutup matanya dan melipat tangan di dadanya.
Shikamaru hanya bisa mengangguk mendengar ucapan Tsunade.
Sementara itu di ruangan tempat Ino dan Karim berbincang, Naruto menghampiri Ino dengan raut wajah yang serius. Ino yang melihat hal itu hanya bisa membuka rahang, dia tidak menyangka orang yang berisik hyperaktif,konyol,biang onar ternyata bisa bersikap seperti itu. Sungguh kejutan yang menampar pikiran Ino, Karin yang melihat Ino melamun hanya terkikik.
"..no!"
"INO!" Naruto meninggikan nada suaranya karena merasa panggilannya tidak ditanggapi Ino. Ino segera tersadar dan mendadak salah tingkah, tawa lepas dari Karin pun terdengar merdu di ruangan itu.
"Eh..eh ano ano." Ino merutuki dirinya sendiri kenapa bisa jadi seperti kekasih orang yang ada di depannya ini.
"Apa Ino?" Naruto masih menunggu kesadaran Ino pulih.
"Ah ini Naruto. Aku mau menanyakan soal fuin di kotak peninggalan Tousan?" Ino menyodorkan kotak yang tadi dia bawa ke arah Naruto.
Naruto menerimanya dan memandang segel yang tertulis di kotak itu. Beberapa saat kemudian Naruto memberika kotak itu kepada Karin.
"Karin-nee kamu saja yang atasi fuin itu. Aku sudah mengajarkannya padamu. Nah Ino Karin aku pergi dulu jaa." Belum sempat Ino mengucapkan sesuatu Naruto sudah pergi dengan hiraishin meninggalkan kilatan kuning di tempat semula.
"Dia bisa hiraishin pasti levelnya jauh di atas rookie." Shikamaru yang baru saja masuk ruangan bersama Tsunade memandang tempat Naruto menghilang.
"Seakan akan tak terjangkau lagi oleh kita. Oh iya Karin kamu bisa berbuat sesuatu dengan fuin itu?" Ino menatap Karin kemudian spontan menunjuk dahi Karin. "Hei apa itu di dahimu Karin?"
"Itu tanda dari Naruto,semacam klaim kepemilikan lah hahaha...!" Tsunade menjawab pertanyaan Ino sedangkan Karin hanya bisa blushing.
"Eh."
"Itu semacam fuin khusus untuk menjaga klan Uzumaki. Karena ada beberapa hal makanya Naruto memasang fuin itu." Tsunade menjelaskan sambil menunjukkan fuin yang sama di telapak tangannya. "Aku harap kalian merahasiakan ini dari yang lain. Kalau ingin menghubungi Naruto kalian bisa menemuiku atau Karin karena Naruto tidak selalu ada di apartemennya."
"Aku akan mengabarimu beberapa hari soal kotak ini Ino. Aku tidak bisa menjanjikan cepat karena akupun baru mempelajari fuinjutsu tapi aku berbeda dengan Duren Pirang itu." Karin memberitahu Ino soal kotak yang Ino bawa.
Setelah sedikit berbasa basi akhirnya Shikamaru dan Ino pamit pulang. Sepanjang perjalanan mereka sibuk dengan pikiran masing masing tanpa menyadari sepasang mata menatap mereka penuh kecemburuan.
Pagi hari dengan langit cerah tanpa awan menggantung membuat setiap warga Konoha begitu bersemangat beraktivitas. Begitu juga nampak di mansion Hyuuga, tampak Hinata sedang bersemangat berlatih bersama Hanabi. Misi yang banyak membuat Hinata harus rela mengurangi waktu bersama Hanabi dan sekarang ketika waktu liburnya dari misi Hinata ingin menghabiskan waktu bersama Hanabi mengingat Naruto harus pergi ke Sunagakure untuk misi dari Godaime Hokage. Setelah merasa lelah dan Hanabi meninggalkannya pergi bersama Konohamaru adik angkat sekaligus murid Naruto Hinata duduk di beranda dojo yang menghadap taman sambil menyelupkan kakinya ke air kolam.
Menikmati angin yang berhembus pelan membuat Hinata mengingat kembali kebersamaannya dengan Naruto yang dimulai sejak perjalanan pulang dari Bulan. Hari hari berlalu selalu ada Naruto di situ kecuali setiap ada misi terpisah. Mengingat lagi soal misi Hinata merasa heran karena beberapa misi yang seharusnya bersama Naruto di ubah Hokage menjadi bersama Sasuke akhir akhir ini. Hinata tidak berani menanyakan kepada Hokage karena dia berpikir positif barangkali Naruto ada misi mendadak. Apalagi masa perdamaian yang baru seumur jagung ini masih banyak bahaya tersembunyi mungkin Hokage memerlukan kemampuan Naruto untuk menemukan bahaya itu. Apalagi Sasuke adalah sahabat dan dianggap saudara oleh Naruto.
Hiashi Hyuuga melihat putri sulungnya sedang melamun sambil memainkan kakinya di kolam beranjak mendekatinya. Selayaknya Hiashi berterima kasih kepada Naruto karena putrinya kini bisa bahagia dan terlepas dari beban juga klan Hyuuga bisa semakin memperbaiki sistem klan. Hal yang merupakan langkah awal yang ditujukan untuk penghapusan sistem keluarga inti dan cabang namun tidak semua anggota klan menerimanya.
Hiashi masih mengingat ketika pertemuan perwakilan keluarga klan Hyuuga mengenai permintaan Sasuke soal Hinata banyak orang yang memintanya mengikuti permintaan Sasuke dengan harapan keluarga Hyuuga semakin berjaya dan tidak usah berperang lagi. Hiashi tidak mengetahui apa motif utama dan kenapa mereka bisa mengusulkan hal seperti itu. Hiashi hanya bisa memberikan jalan keluar supaya Hinata lah yang akan memilih pasangan hidupnya kelak.
Tanpa sepengetahuan Hiashi selaku kepala klan dan tetua beberapa anggota keluarga cabang meninggalkan wilayah klan bergabung bersama anbu ne pimpinan Sasuke dan beberapa keluarga lagi mengambil hati Hinata untuk mengarahkan Hinata agar mencintai Sasuke dan melupakan Naruto. Bahkan Sasukepun memanfaatkan Hokage yang masih menganggap Sasuke murid kesayangannya telah kembali untuk mendekati klan Hyuuga terutama Hinata.
"Hinata." Hiashi duduk di sebelah Hinata.
"Tou-sama. Ada apa?" Hinata memandang Hiashi
"Hanya ingin berbincang. Sudah lama kita tidak berbincang." Hiashi sedikit menyesali mengingat masa lalu. Betapa kerasnya dia kepada Hinata,beruntung ada sosok itu dalam hidup Hinata.
"Souka?" Memiringkan kepalanya Hinata membuat Hiashi bersyukur memiliki putri secantik Hinata.
"Hmm. Apa yang kamu pikirkan? Sedari tadi Tou-sama lihat kamu melamun sambil senyum senyum sendiri."
"Hanya mengingat tentang Naruto." Wajah Hinata memerah saat mengatakan itu.
Hiashi yang melihat rona merah itu hanya tersenyum. Sungguh dia lebih banyak berhutang budi pada Naruto dibanding Sasuke namun keselamatan klan juga menjadi beban pikirannya.
"Kamu sangat mencintainya ya?"
"Begitulah Tou-sama namun aku sadar aku tidak bisa memilikinya sendirian. Tapi itu akan aku terima berbagi dengan wanita lain mungkin berat namun aku akan mengorbankan itu karena Naruto sudah banyak memberikan kebahagiaan untukku." Hinata tersenyum tulus.
"Jika ada seorang yang mencintaimu dan hanya ingin memilikimu seorang apa yang akan kamu lakukan?" Hiashi berharap semoga jawaban Hinata memberinya petunjuk menyelesaikan masalah dengan Sasuke.
"Aku rasa aku tak akan mampu berpaling dari Naruto namun tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi. Satu hal yang pasti selama aku bernyawa aku akan selalu mencoba bertahan di sisi Naruto. Aku berharap aku tidak akan mengkhianati cintanya yang dengan susah payah dia sadari walau harus berbagi cinta dengan yang lain." Hinata menatap serius Hiashi yang tertegun mendengar jawaban Hinata.
"Hinata, apakah Sasuke mendekatimu akhir akhir ini?"
"Apa maksud Tou-sama? Memang akhir akhir ini Sasuke sering menemuiku dan memaksa menemaniku dalam misi yang seharusnya bersama Naruto. Aku pikir itu karena Sasuke bersikap layaknya seorang saudara kepada Naruto mengingat Naruto juga banyak misi dan pelatihan agar secepatnya menjadi jounin."
Jawaban Hinata menohok hati Hiashi. Dia tidak percaya putrinya sepolos itu menyikapi tingkah seseorang. Ingin rasanya Hiashi menyampaikan kebenaran soal Sasuke namun melihat senyum Hinata seolah tidak terjadi apa apa membuat Hiashi memikirkan bagaimana cara menyampaikan. Sejenak berpikir Hiashi memutuskan akan memberitahu kemudian hari setelah mempersiapkan segala bukti dan persiapan untuk itu.
Kedua ayah dan anak itu terus berbincang bincang layaknya sebuah keluarga. Pemandangan yang langka mengingat keseharian Hiashi Hyuuga.
Disebuah ruangan yang gelap di bekas wilayah penelitian Orochimaru yang terdapat di pinggiran wilayah negara Hi nampak seorang pemuda dengan wajah sedikit menyeramkan akibat bekas operasi dengan mata sharingan yang menyala menatap Kabuto yang sedang duduk santai.
"Kabuto. Aku harap kamu menepati janjimu kepada Sasuke-sama, aku ingin manusia manusia hasil kloningan dari gen itachi itu segera di siapkan. Sasuke-sama ingin melihat mengetahui perkembangannya."
"Shin, berapa kali harus aku bilang mereka belum sempurna. Walaupu ada 200 hasil kloningan namun mereka masih layaknya bocah yang baru lulus akademi shinobi."
"Aku tidak peduli. Persiapkan beberapa di antara mereka, aku akan mengetes perkembangannya."
"Kamu seperti Suigetsu terlalu terburu buru dan gegabah. Baiklah akan ku berikan maumu namun aku ikut denganmu." Kabuto mendorong kursi rodanya keluar dari ruangan itu. Semenjak di bebaskan Sasuke dari pengaruh izanami izanagi dia mengalami kelumpuhan. Kebebasan yang di bayar mahal menjadi budak seorang Sasuke Uchiha membuatnya mengkhianati tuannya sesungguhnya Orochimaru.
Di laain tempat nampak seorang pria bersurai panjang hitam sebahu dengan mata seperti mata ular sedang memandang seorang pemuda dengan penampilan serupa Yondaime Hokage sama yang membuatnya mendecih marah mengingat masa lalunya.
"Akhirnya kau datang juga Orochimaru."
"Ada apa kau tiba tiba memanggilku bocah?"
"Beritahu aku dimana Kabuto?"
"Untuk apa kau tanyakan itu? Aku tidak mengetahuinya, semenjak aku hidup lagi ketika perang dunia shinobi kemarin aku tidak menjumpainya."
Naruto memicingkan matanya mencoba mencari kebohongan di mata Orochimaru. Sikap waspada Naruto membuat Orochimaru menyadari ada sesuatu yang tidak baik sedang tejadi.
"Sesuatu sedang terjadi dan aku curiga dia dalangnya." Naruto kembali bersiap akan meninggalkan tempat itu. Sebelum melangkah Orochimaru menahan tangannya.
"Mau kemana kau Naruto?"
"Aku akan pergi dari desa untuk menyelidiki tentang sesuatu. Aku harap kau bisa merahasiakan ini."
"Baiklah. Aku akan membantumu mencari informasi dan mengabarinya padamu. Saranku coba kau pergi ke bekas tempat penelitianku dulu."
"Kau gila pedo Oro. Ada banyak tempat penelitianmu dan aku harus mengunjunginya satu persatu. Aku ingin ketika kau tiba di desa sembunyikan Karin-nee dan temui Baachan."
Orochimaru mengangkat kedua bahunya kemudian menghilang meninggalkan Naruto dengan sunshinnya.
Naruto menghela nafas melihat kepergian Orochimaru setidaknya setelah perang dia mau kembali ke desa dan berubah menjadi lebih baik. Bahkan Orochimaru menjadi orang yang berhubungan baik dengannya secara sembunyi sembunyi agar tidak memancing kecurigaan orang lain.
Memendam pikiran tanpa berusaha mencari kebenarannya ternyata membuat Sakura uring uringan padahal tamu bulanannya sudah lewat beruntung Sakura bisa bersikap profesional ketika di rumah sakit. Keanehan Sakura ternyata tidak lolos dari pengamatan Shizune yang memberikan potongan jam kerja. Berharap dengan hal itu Sakura bisa menjernihkan pikiran namun ingatannya kembali ke pria pirang teman satu tim Sakura. Mengingatnya membuat Shizune tersenyum sendiri di kantor kepala rumah sakit yang sebentar lagi akan dia serahkan ke Sakura. Hanya seorang Naruto yang bisa membuat dunia Sakura teralihkan dengan berbagai sikap konyolnya di saat saat Sakura seperti ini.
Sakura melangkah di jalanan Konoha yang mulai ramai menjelang siang ini karena bertepatan dengan waktu makan siang. Tanpa di sadari langkah kaki membawa Sakura ke depan kedai Ichiraku dan tercium aroma sedap dari masakan kesukaan teman satu timnya. Entah angin apa yang membuat Sakura tiba tiba masuk ke kedai itu.
"Selamat siang Jii-san. Aku pesan miso ramennya satu." Sakura duduk di pojokan kedai itu.
Beberapa saat setelah Sakura masuk, datang dua orang dari klan Hyuuga memasuki kedai dan setelah memesan ramen keduanya berbincang cukup keras sehingga Sakura bisa mendengar.
"Hari ini sungguh beruntung bisa makan keluar." kata seorang yang berpakaian seperti Neji Hyuuga tapi hitae atenya di taruh di lengan.
"Ya benar. Beruntunglah kita berhasil membantu rencana Sasuke-sama mendekati Hinata-sama sehingga kita di beri kelonggaran.
Sakura yang mendengar itu sontak membulatkan matanya. Apa mereka bilang? Sasuke mendekati Hinata. Tidak mungkin.
"Kalau Sasuke-sama berhasil mendapatkan Hinata sebagai istrinya tentu hidup kita akan lebih enak dari yang sekarang."
"Aku dengar ketua Hiashi menolak secara tidak langsung Sasuke-sama namun masih ada harapan kalau Hinata menerima Sasuke maka ketua Hiashi mau tidak mau menerimanya juga."
"Hal itu yang sekarang menjadi tugas kita yaitu memperlancar dan mengikuti rencana rencana Sasuke-sama agar Hinata mau menerimanya."
Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Sakura. Tidak di sangkanya bahwa sebelum ini Ino juga mengatakan hal yang sama namun dibantahnya. Cintanya yang menggebu gebu kepada Sasuke membuatnya bodoh dan menutup mata. Sakura merasa hatinya hancur mendengar percakapan dua orang shinobi klan Hyuuga itu. Betapa mudahnya dia percaya bahwa cintanya kepada Sasuke akan di permainkan.
Sakura beranjak pergi tanpa menyentuh ramennya dan meninggalkan sejumlah uang di mejanya. Perasaannya yang hancur membuat Sakura berjalan gontai tanpa arah yang pasti. Otaknya terus memikirkan soal Sasuke yang mengkhianati cinta yang dia berikan. Sakura tidak ingin membagi Sasuke dengan yang lain namun kenyataannya Sasuke lebih memilih gadis lain dibanding dirinya.
Sakura tidak mengerti kepada siapa dia harus percaya. Teringat kembali semua hal yang pernah dia lalui bersama Sasuke, sejenak Sakura mulai menyadari bahwa selama ini Sasuke tidak pernah menunjukkan hubungan timbal balik dalam keseriusan.
Melangkah tanpa tujuan membawa Saskura ke halaman Akademi. Dia melangkah mendekati ayunan yang biasa untuk mainan Naruto kecil tanpa sadar. Duduk di ayunan itu sambil menangis Sakura mengingat janji bodoh yang dia bebankan kepada Naruto yang untungnya Naruto tepati dengan membawa pulang Sasuke. Kebahagiaan itu hanya berlangsung sementara, kini Sakura mendengar dari beberapa orang tentang Sasuke yang berusaha memiliki Hinata. Rasa bersalah tiba tiba menghujam hati Sakura, ingatan ketika dia menyadarkan Naruto tentang perasaan Narut kepada dirinya hanya sebatas tidak mau kalah dari Sasuke. Malah Sakura menyadarkan kalau lebih baik Naruto menyadari perasaan Hinata yang berakhir sukses. Naruto mulai membalas cinta Hinata sampai saat ini walau harus menjalani pembangkitan klan namun dirinya hanya sebentar menikmati pacaran dengan Sasuke. Ironisnya Sasuke malah berusaha merebut Hinata dan meninggalkannya.
Semakin kalut dalam pikirannya membuat Sakura tidak menyadari Ino dan Tenten sedang berjalan kearahnya.
Kedua orang itu memandang Sakura heran karena tidak biasanya Sakura seperti itu.
"Sakura." Ino menepuk pundak Sakura dari belakang yang membuat Sakura terlonjak kaget.
"Pig, Tenten" Sakura menoleh melihat siapa yang mengagetinya.
"Wajahmu sayu Sakura. Apa kamu habis menangis?" Tenten mengusap pipi Sakura.
"Hal apa yang membuat sahabatku ini menangis? Hal yang aneh mengingat kamu kunoichi terkuat desa Konoha." Ino mengambil tempat di sebelah Sakura.
Mendengar ucapan Ino dan Tenten membuat Sakura merasa sakit dalam hatinya teringat soal Sasuke. Keadaan menjadi hening sejenak karena Sakura tak kunjung menjawab pertanyaan Ino dan Tenten.
"Aku rindu Sasuke."
"Eh!" Ino dan Tenten terkejut.
"Hei dia kan sudah tidak mengembara lagi tentu kamu dapat menemuinya kapan saja." Tenten mendapat glare dari Ino setelah mengucapkan itu.
"Andai semudah itu Tenten." Sakura menundukkan kepalanya menahan agar isak tangisnya tidak pecah. "Sasuke menghindariku akhir akhir ini. Aku merindukan menikmati masa pacaran kami seperti orang orang namun yang ada seolah hanya aku saja yang menganggap hubungan kami ini atas nama cinta."
"Sakura." Ino menatap Sakura dengan perasaan sedih.
"Aku takut Ino Tenten kalau selama ini aku menjalin hubungan yang semu. Aku rasaaku terlalu bodoh membiarkan cinta membutakan mata dan pikiranku mengenai sekelilingku. Ino, mungkin kamu benar tentang perkataanmu tempo hari."
"Sakura, jangan di masukkan hati apa yang aku ucapkan kemarin. Itu hanya apa yang ada dalam pikiranku saja. Bisa ja..."
"Tidak itu kenyataannya Ino. Aku mendengar lagi hal yang sama tentang mereka dari orang yang lebih dekat dengan mereka."
"Hei bisa saja orang itu hanya mengarang cerita supaya kamu cemburu. Aku minta maaf sudah membuat pikiranmu kalut."
"Tidak Ino justru kamu baik sekali memberitahuku soal itu. Terima kasih jika bukan karena info darimu aku mungkin sudah men shanaro mereka."
"Kalian membicarakan apa sih Ino Sakura." Tenten yang tidak mengetahui maksud dan arah pembicaraan menginterupsi
"Pembicaraan orang dewasa, anak kecil dilarang ikut." Ino tersenyum jahil.
"Mou!"
Sakura dan Ino terpaksa mengeluarkan tawa mereka melihat Tenten menggembungkan pipi dan cemberut karena di goda Ino.
"Aku ingin menenangkan pikiranku, mungkin aku bisa meminta misi ke luar desa beberapa waktu untuk itu."
"Aku mendukungmu Sakura dan gunakan itu untuk memecahkan hal ini." Ino memberi senyum manisnya kemudian memeluk Sakura diikuti Tenten.
"Ah aku rasa kamu lebih merindukan Naruto forehead mengingat beberapa waktu terakhir ini dia tidak muncul mengganggumu dan tidak ada kejutan kejutan seperti yang sdring kamu ceritakan." Ino lagi lagi tersenyum jahil ke arah Sakura.
"Siapa yang merindukannya? darimana kamu menilai hal itu Pig!"
"Saat kalut begini kamu lebih memilih mendatangi tempat kesukaan Naruto waktu kecil di banding tempat kesukaan Sasuke.
"Eh!"
Tiba tiba di wajah Sakura muncul rona merah yang mendekati warna rambutnya. Hal itu tak luput dari perhatian Ino dan Tenten yang membuat tawa mereka pecah.
Sakura beranjak dari ayunan lalu beranjak meninggalkan tempat itu setelah menenangkan diri akibat godaan Ino. Sakura merasa heran kenapa dia bisa sedikit merasa hangat di goda soal Naruto. Menggandeng tangan Ino dan Tenten Sakura beranjak pergi dari ayunan yang tampaknya telah menjadi saksi bisu angin perubahan. Sakura berharap apa yang dia rencanakan saat ini bisa berjalan dan menentukan langkahnya ke depan.
TBC
Terima kasih buat dukungan reader dan senpai sehingga masih bisa terus melanjutkan fic ini. Salut sama senpai yang menghasilkan karya terbaik karena dunia menulis bukanlah dunia yang enteng. Orang bilang tinggal nulis aja kok repot tapi ternyata menemukan feel dalam menuangkan ide itu susah dan konsisten dalam ide awal itu godaannya banyak. Mohon maaf kalau word blm bisa panjang,masih ada typo,gaje dan kekurangan lainnya.
Di fic ini terjadi ooc yang di luar dugaan karena tuntutan ide cerita jadi mohon maaf untuk yang merasa karakter favoritnya jadi aneh di fic ini.
