Mencari informasi bukanlah keahlian utamanya membuat Orochimaru memutar otaknya. Tidak di sangkanya setelah perang berakhir dan berharap kedamaian dapat terjaga malah menemukan hal yang mengancam desa. Beruntung Naruto menerimanya dan berhasil mengubah hati dan kehidupannya sehingga dia memiliki kesempatan menebus kesalahan di masa lalunya.

Di depan Orochimaru nampak beberapa orang yang sebelumnya merupakan bagian mata mata Jiraiya. Setelah memberikan beberapa arahan Orochimaru memerintahkan mereka untuk segera melaksanakan demi mencegah sesuatu yang buruk menimpa desa.

Tsunade Senju menatap Karin Uzumaki dengan penuh harap. Saat ini Tsunade melihat Karin mampu menguasai rantai chakra yang di ajarkan Naruto setelah mempelajari gulungan klan Uzumaki. Ingatan tentang Kushina Uzumaki membuat Tsunade berharap Karin mampu menjadi istri yang baik untuk Naruto.

"Tak di sangka perkembanganmu cukup pesat setelah meninggalkan kelompok ku Karin." Suara seorang pria berambut hitam panjang dengan mata seperti mata ular mengagetkan Karin yang sedang fokus menambah jumlah rantai chakra yang bisa dia keluarkan.

"Orochimaru-sama!" Karin terlonjak dan spontan memasang sikap siaga.

"Baka Oro apa yang kamu lakukan di rumahku?" Tsunade memincingkan mata melihat kedatangan Orochimaru.

"Tenanglah Hime, Karin. Aku cuma datang berkunjung sekalian menyampaikan pesan dari bocah rubah itu." Orochimaru memasang senyuman yang menurut Tsunade sama menjijikkannya ketika masih berkhianat kepada desa Konoha.

"Kau mengenal Naruto-kun?" Karin tersentak.

"Hooo.. jadi rupanya kamu sudah beralih ke lain hati ya Karin. Padahal dulu kamu paling cinta sama Sasuke. Panggilanmu kepada bocah itu begitu mesra."

"Urusai." Karun memalingkan muka sambil menggembungkan mukanya.

"Hehehe. Ya ya ya aku lihat kamu lebih baik dengan bocah rubah itu. Dia membuatmu berkembang lebih pesat dan lebih baik daripada saat kamu bersamaku atau Sasuke."

"Jadi apa maksudmu kemari Orochimaru?" Tsunade menyela percakapan Orochimaru dan Karin.

"Ah hampir saja aku melupakan itu. Bisakah kita masuk ke dalam dan berbicara di ruang privat?" Orochimaru memasang wajah seriusnya.

Kemudian Tsunade memberi kode kepada Karin untuk menghentikan latihannya dan mengikuti Tsunade dan Orochimaru ke ruangan yang di persiapkan Naruto di mansion Senju.

"Kita berbicara di sini. Ruangan ini aman untuk berbicara hal rahasia tingkat s." Tsunade mempersilahkan Orochimaru duduk dan berbasa basi sambil menunggu Karin datang. Setelah Karin datang sambil membawa minuman dan cemilan, Tsunade membentuk segel tangan mengaktifkan beberapa segel yang membuat ruangan aman dari berbagai gangguan.

"Fuinjutsu memang mengerikan. Kamu hebat hime bisa menguasainya." Orochimaru tersenyum.

"Ini bukan apa apa, aku hanya mengaktifkan saja. Naruto yang membuatnya dan dia menguasai hampir keseluruhan funjutsu klan Uzumaki." Tsunade membalas senyuman Orochimaru.

"Tak kusangka hanya bermodalkan tekad dan kerja keras bocah rubah itu melangkah jauh melebihi perkiraan semua orang."

"Jangan lupakan sifat dan hatinya Orochimaru. Itu yang membuatnya berbeda denganmu." Sindir Tsunade kepada Orochimaru.

"Benar dan aku beruntung bisa mengenalnya lebih baik. Dia banyak membantuku dalam segala hal."

Orochimaru menatap Karin dengan pandangan layaknya seorang ayah kepada seorang anak.

"Tsunade, aku merasa Karin lebih baik di nikahkan secepatnya dengan Naruto."

Perkataan Orochimaru membuat Karin dan Tsunade membulatkan mata.

"Apa maksudmu Orochimaru-sama?"

"Karin, sebelumnya aku minta maaf pernah menjadikanmu budak dan objek penelitianku. Melihatmu saat ini aku ingin menebus dosa dosa ku. Aku berharap kamu segera memiliki ikatan dengan Naruto karena aku merasa sesuatu akan terjadi."

"Orochimaru." Tsunade menatap tidak percaya ketika Orochimaru bertingkah di luar dugaannya.

"Naruto ingin kamu bersembunyi sementara waktu Karin."

"Kamu bertemu Naruto?"

"Ya Tsunade, dia memintaku menemuimu dan menyembunyikan Karin setelah menginterograsiku soal Kabuto."

"Hah situasi semakin rumit. Karin mulai sekarang kamu tinggal di mansion Uzumaki. Jangan pernah keluar sebelum ada kabar dari Naruto. Kita hanya bisa percaya kepada Naruto untuk saat ini. Anbu special yang akan mengurus kebutuhanmu, berhubung beberapa anbu memang bawahan Naruto."

"Baiklah Baachan."

"Dan setelah kamu tinggal di mansion Uzumaki kamu resmi menjadi istri Naruto lho Karin." Dengan wajah tanpa dosa Orochimaru menambahi ucapan Tsunade.

Blussshhhh

Wajah Karin sontak memerah serupa dengan rambutnya dan di pandangi Orochimaru dengan senyum jahilnya. Karin yang tidak kuat menahannya langsung terburu buru meninggalkan tempat itu.

"Apa yang kau katakan Orochimaru? Kita tidak bisa mengambil keputusan sepihak. Bagi Naruto Karin itu seperti kakaknya." Tsunade menatap Orochimaru dengan tatapan tidak percaya.

"Maaf Tsunade hanya ini cara untuk menjaga Karin mengingat dia juga anggota klan Uzumaki terakhir. Aku sudah memperkirakan sejak Naruto menanyakan soal Kabuto maka ada hubungannya dengan Karin. Dengan mengikatnya kepada Naruto maka kita punya hak lebih untuk melindunginya."

"Eh."

"Kamu pikirkan Tsunade semisal ketakutan Naruto terjadi bahwa Kabuto terlibat maka dia akan menarik Karin yang sempat bersama dengannya di bawahku dulu. Ketika dia membawa Karin yang statusnya belum jelas walau mengenakan hitae ate tapi dari informasi yang aku dapatkan belum permanen karena Kakashi menggantung statusnya akibat permintaan Sasuke."

"Sasuke meminta itu pada Kakashi apa dasarnya?"

"Entahlah Tsunade? Aku belum mendapat informasi itu lebih lanjut. Ku rasa untuk sekarang kita harus berhati hati dan mengumpulkan orang orang yang bisa menjaga rahasia. Aku heran kenapa Naruto bisa seserius ini."

Tsunade beranjak ke sudut ruangan lalu mengambil sebuah dokumen dan menyerahkannya ke Orochimaru.

"Sebagai ilmuwan tentu kamu mengerti setelah membaca dokumen ini."

Orochimaru segera mengambil dokumen dan membacanya dengan teliti. Matanya membulat setelah beberapa saat membaca dan mengepalkan tangannya.

"Pantas saja hal seperti ini tidak bisa di biarkan. Walau belum bisa dipastikan Kabuto terlibat namun ini akan memicu perang antar desa. Baiklan aku pamit sekarang Hime dan tetap bersikap normal untuk jaga jaga."

Orochimaru segera meninggalkan Tsunade dengan shunsin setelah keluar dari ruangan itu.

Sementara di salah satu sudut desa Konoha yang jarang di lalui orang nampak dua orang pemuda sedang berbincang sambil menatap ke arah gedung hokage.

"Sasuke, aku putuskan mengikutimu. Aku harap dengan ini semua tujuan kita tercapai." Seorang pemuda berambut hitam dengan kulit pucat.

"Baguslah Sai. Tak ku sangka secepat ini kamu memutuskan untuk bergabung denganku."

"Aku hanya ingin menghancurkan kehidupan orang yang sudah menghancurkan mimpi ku."

"Hn.. apa aku mengenalnya?"

"Ya dan mungkin dulu dia pernah menjadi orang di belakangmu."

Sasuke mengeryitkan dahi mendengar ucapan Sai. Dia merasa orang yang di belakangnya hanya Karin dan Sakura. Sasuke teringat kembali soal Karin.

Ngomong ngomong soal orang di belakangku entah dimana Karin berada? Sudah beberapa minggu dia menghilang tanpa jejak. Aku akan meminta Duigetsu mencarinya kemungkinan dia bisa jadi batu sandungan kalau aku lepas Sasuke menatap Sai sambil membatin soal Karin.

"Baiklah Sai aku akan membantumu membalas orang yang menghancurkan mimpimu."

Sai tersenyum kepada Sasuke dan kemudian mereka menghilang dengan shunshin menuju tempat rahasia anbu ne untuk mematangkan rencana mereka.

KIRIGAKURE

Mei Terumi tengah memijat kepalanya memikirkan banyaknya laporan aneh berdatangan di mejanya. Belum pernah selama dia menjadi pengawal Mizukage sebelumnya Yagura maupun saat menjabat menemukan kasus sepelik ini. Mei berusaha mencoba mencari jalan keluar untuk masalah ini.

Sebuah desa yang pernah menjadi tujuan misi keluar desa pertama Naruto mengirimkan laporan tentang penyakit misterius seperti keracunan yang bersumber dari mata air untuk konsumsi. Mizukage sudah mengirimkan ahli medis untuk membantu namun tidak ada perkembangan yang berarti.

Belum tuntas masalah itu kini ada setumpuk laporan tentang pembantaian shinobi Kirigakure yang meresahkan warga Kirigakure. Tim penyelidik sudah di terjunkan namun hasilnya nihil. Pelaku pembantaian beberapa shinobi ini cukup licin untuk di tangkap

Mei mendesah panjang sambil memijat keningnya. Tidak menyangka di saat ingin mengakhiri jabatannya malah di perburuk dengan berbagai masalah.

"Menghela nafas tidak akan menambah umurmu Mizukage-sama." Mendadak suara baritone tertangkap telinga Mei membuatnya secepat mungkin menoleh ke arah pintu yang menjadi asal suara itu. Seorang pemuda bersuari pirang dengan mata biru safir wajah yang tampan dengan tiga pasang kumis dengan memakai hoodie seperti milik akatsuki namun tanpa awan merahnya sedang bersandar di pintu.

"Na Na Naruto...! Bagaimana kamu ada disini dan kenapa tidak memberitahuku?" Mei membulatkan matanya dan tergagap karena tadinya Mei berpikir akan meminta bantuan Konoha untuk masalah ini namun belum mengajukan bantuan sudah tiba bahkan bantuan yang terbaik.

"Ma ma ma aku hanya mampir sebentar kebetulan aku berada di sekitar wilayah Kiri dan aku menemukan dua shinobi dan kunoichi Kiri terluka parah jadi sekalian aku antar mereka kemari."

"Masuklah Naruto. Maaf lupa mempersilahkanmu."

"Tidak masalah mengingat anda melamun sehingga tidak menyadari sekeliling anda."

Mata Naruto melihat tumpukan kertas dan sekilas membaca tentang laporan yang menurut Naruto sangat penting. Tanpa permisi Naruto mengambil berkas itu dan membacanya dengan serius.

Sikap Naruto membuat Mei kebingungan karena sangat berbeda dengan Naruto yang Mei kenal. Mei menatap Naruto penuh selidik berharap yang di lihatnya bukan Naruto.

"Kamu Naruto kan?" Mei meloloskan sebuah pertanyaan melihat Naruto sudah selesai membaca.

"Tentu saja aku Naruto ttebayo."

"Tapi aku melihat kamu berbeda dengan Naruto yang aku kenal."

"Banyak hal yang terus berubah Mei-sama. Nah berapa lama ini sudah terjadi?" Naruto menunjukkan berkas yang tadi di bacanya kepada Mei Terumi.

"Kurasa dua minggu terakhir ini Naruto. Saat kami menemukannya beberapa mayat sudah agak membusuk sehingga kami kesulitan mengidentifikasi waktu pembunuhannya."

Naruto memegang dadunya lalu berjalan menuju jendela sambil berpikir dengab serius. Mei melihat hal itu dan tiba tiba dadanya menjadi hangat dan perlahan rona merah mudah samar samar muncul di pipi Mei tanpa permisi. Mei melihat sosok yang tampan dan gagah pada diri Naruto yang sedang dalam mode seriusnya.

Naruto mencoba mengaitkan informasi demi informasi dengan teliti. Dalam dunia shinobi ketelitian sangat penting demi keberhasilan suatu misi atau taktik atau informasi. Beberapa minggu keluar dari desa mencari informasi membuat Naruto menyadari bahwa dunia shinobi itu tidak akan pernah memberikan kedamaian yang sejati. Akan selalu ada orang orang yang berusaha merusak kedamaian yang tercipta.

Terlalu serius memikirkan semua informasi membuat Naruto tidak menyadari Mei sudah berdiri di sampingnya dengan wajah sedikit memerah. Naruto tersentak merasakan tepukan di bahunya dan menoleh mandapati Mei tengah menatapnya seperti orang jatuh cinta. Mendapat tatapan seperti itu Naruto hanya mampu meneguk ludahnya dan menahan badannya agar tidak mendadak bereaksi aneh misalnya kabur.

Mei menyodorkan sebuah berkas yang di terima dengan wajah penuh tanya sebelum segera membacanya.

"Dan kasus itu muncul bersamaan dengan pembunuhan shinobi Kiri. Aku rasa ada hubungannya namun sampai saat ini aku belum bisa mengatasinya."

"Baiklah aku mengerti. Aku akan menyampaikannya pada Baachan."

Naruto segera membuat duplikat berkad tadi dan menulis sebuah surat untuk Tsunade.

"Akan aku panggil anbu Kiri untuk menyampaikannya."

"Tidak perlu Mei-sama. Mengingat ini sangat penting dan beresiko aku lebih memilih caraku sendiri. Lagipula kita harus menghindari agar tidak ada satu orang yang tahu ada pesan dari Kiri ke Konoha."

Setelah mengucapkan itu Naruto menghentak lantai ruangan Mizukage dan muncullah seekor kodok kecil di hadapan Naruto.

"Antar surat ini pada Godaime Hokage Tsunade Senju. Jangan berikan pada yang lain." Setelah Naruto menyampaikan perintahnya, kodok tersebut membuka mulut dan menelan surat dan berkas kemudian menghilang dengab kepulan asap.

"Eh!" Mei hanya melongo melihat apa yang terjadi.

"Itu hanya kodok pengantar pesan." Naruto terkekeh melihat reaksi Mei Terumi. "Aku pamit dulu Mei-sama untuk menyelidiki kasus di desa Tazuna sekalian mengunjungi mereka." Kemudian Naruto menghilang dengan Shunsin elemen anginnya yang membuat Mei terkagum.

SUNAGAKURE

Kehangatan sebuah keluarga akan selalu membawa sebuah kerinduan untuk selalu bersama. Di tengah kesibukannya mengurus desa Gaara menyempatkan diri menyisihkan waktu untuk keluarganya. Di kediaman Sabaku terlihat Gaara sedang menatap Temari yang melamun memandang ke jendela.

"Apa yang kau pikirkan Neechan?" Suara Gaara mengagetkan Temari yang ketahuan melamun.

"Ah tidak kok Gaara. Aku tidak memikirkan apa apa."

"Kau tak perlu berbohong Neechan setelah pulang dari Konoha kau beberapa kali terlihat melamun." Kankuro menatap kesal kakak perempuannya yang mencoba menyembunyikan sesuatu.

"Sudahlah Kankuro-nii. Biarkan Temari-nee melakukan apa yang di anggapnya baik. Suatu saat nanti dia pasti akan menceritakan pada kita." Gaara tersenyum pada Temari dan kemudia tiga kakak beradik terlihat saling berbincang berbagai topik yang membuat suasana kediaman Sabaku menghangat.

KUMOGAKURE

Di tengah ruangan luas yang hanya terdapat sebuah meja kerja dan kursi serta beberapa barbel, Raikage A sedang mondar mandir memikirkan sesuatu. Di tangannya ada sebuah gulungan yang sepintas terlihat logo Konohagakure.

Entah sudah berapa puluh putaran namun tak ada tanda tanda Raikage akan mengakhiri mondar mandirnya tiba tiba pintu ruangan di buka dengan kasar dan masuklah Killer Bee dengan tarian rap enkanya yang absurd.

Raikage yang merasa terganggu hanya menatap tajam pelaku gangguan tersebut yang di balas dengan cengiran tanpa dosa ala Hachibi.

"Yo Brother!"

"Bee hentika tingkah konyolmu itu dan ada apa kau menggangguku?"

"Aku hanya ingin mengunjungimu Brother dan kelihatannya kau sedang pusing."

"Ada hal yang harus ku pikirkan Bee."

"Apa ini mengenai Naruto?"

"Darimana kau tahu soal ini?" Raikage menatap curiga Bee yang hanya meneteskan keringat dingin merasakan hawa intimidasi dari Raikage.

"Hachibi yang memberitahuku. Kau tahu para bijuu dapat berkomunikasi melalui Naruto jadi Hachibi bisa mendapatkan info dari Kyuubi."

"Aku pusing memikirkan soal itu."

"Kau tahu Bro semua akan berjalan sebagaimana mestinya meskipun kau menolaknya. Aku rasa itu urusan internal desa Konoha masalah sepakat desa lain itu hanya formalitas. Aku akan mendukung Naruto bagaimanapun dia sudah berharga bagiku." Killer Bee mengarahkan kepalan tinjunya ke depan bersikap seperti hendak tos tinju dengan Naruto.

"Klan Uzumaki, tak disangka dulu klan ini di hancurkan oleh aliansi Kumo Iwa dan Kiri kini akan di bangkit lagi oleh Konoha. Klan yang begitu mengerikan dengan spesialis fuinjutsunya, entah apa yang kiniakan jadi ciri khas klan itu mengingat desa asal klan itu sudah hancur. Mustahil menemukan catatan catatan tentang fuinjutsu asli klan Uzumaki kecuali ada keajaiban di desa Uzushiogakure berhasil menyembunyikan catatan catatan itu."

"Lebih baik kita percayakan pada Naruto. Kau tahu sendiri seperti apa Naruto itu. Jadi surat di tanganmu itu soal kejadian itu ya?"

"Ya. Dan saatnya juga tepat setelah tiga hari yang lalu dua jounin kita terbunuh ketika berpatroli. Semua yang di tulis dalam surat ini sama dengan apa yang tim penyidik temukan mengenai dua jenazah jounin itu. Hal itu yang membuatku berpikir sangat keras."

"Lebih baik kita batasi dulu patroli dan fokus ke keamanan desa. Aku akan keluar mencari sedikit informasi. Hachibi bilang ada sesuatu yang aneh."

"Hati hati Bee."

Killer Bee segera shunsin ke daerah di temukannya jenazah jounin Kumo untuk mencoba mencari tahu soal keanehan yang di bilang Hachibi. Beruntung sebelum ke kantor Raikage Bee sempat berjumpa samui yang memberitahunya sesuatu yang kemudian di anggap keanehan.

Setelah tiba Bee memeriksa sekelilingnya dan menyadari ada jejak chakra yang masih tertinggal walau samar samar, menjadi jinchiuriki memiliki keistimewaan bisa merasakan jejak chakra. Killer Bee mengeryitkan dahinya setelah Hachibi menyadarkannya bahwa jejak chakra yang tertinggal itu merupakan genjutsu. Sedikit orang di masa kini yang bisa genjutsu dengan ahli yang dapat segera menghilangkan jejak chakra. Killer Bee merasa kalau pelaku masih tahap awal mempelajari genjutsu.

Setelah merasa cukup menemukan keanehan yang ternyata berasal dari genjutsu itu Killer Bee segera kembali ke kantor Raikage untuk melaporkan hasil pengamatannya.

KONOHAGAKURE

Rumah sakit Konoha terlihat agak sepi berhubung beberapa shinobi yang di temukan terluka sudah sembuh dan boleh pulang membuat tenaga medis bisa memiliki banyak waktu luang. Tsunade Senju sedang menyandarkan punggungnya di kursi kantor dokter Rumah Sakit setelah ikut menangani pasien yang membutuhkan penanganan khusus ketika kodok pembawa pesan Naruto muncul di depannya.

Hal yang membuat Tsunade melamun mengingat Tsunade sudah lama tidak mengalaminya semenjak Jiraiya meninggal. Suara kodok menyadarkan Tsunade bahwa itu adalah kenyataan. Si kodok membuka mulutnya dan memberikan surat serta sebuah gulungan kepada Tsunade lalu memberi sinyal bisa memanggilnya jika ingin membalas pesan itu. Tsunade segera membaca surat itu dengan serius dan sedikit menahan nafas.

Astaga situasi benar benar menjadi lebih gawat dari yang aku duga. Naruto sudah menemukan titik terang dalam kasus yang menimpa Konoha namun juga menimpa desa lain. Aku tidak bisa meninggalkan desa saat ini hanya Sakura kunoichi medis yang terbaik yang bisa keluar desa. Aku rasa aku harus mempelajari berkas ini dulu sebelum memutuskan memenuhi permintaan Naruto. Racun dan senjata Shinobi yang di lapisi suatu hal yang mampu mengubah struktur sel manusia bukanlah aksi biasa. Orochimaru harus tahu soal ini.

Tsunade segera menyimpan berkas yang di keluarkan dari gulungan fuin lalu pergi dengan shunsin ke mansion Uzumaki. Tempat yang sangat rahasia untuk mempelajari sesuatu yang rahasia itu pikiran Tsunade ketika memasuki mansion utama klan Uzumaki di sambut beberapa anbu special Tsunade yang memang menjadikan tempat itu sebagai markas seperti anbu ne.

Seharian mempelajari berkas dari Kiri, Tsunade memutuskan mengirim Sakura yang menurutnya mampu mengatasi masalah di desa Tazuna. Tsunade memanggil anbu neko untuk memanggil Sakura ke mansion Senju.

Berkurangnya waktu operasional Rumah Sakit membuat Sakura merasa gembira karena dapat beristirahat lebih lama mengingat selain badannya ternyata hatinya juga letih. Dilema yang di hadapinya membuatnya terombang ambing dalam ketidak pastian dan itu menyakitkan. Ketika keluar dari Rumah Sakit tanpa sengaja Sakura melihat Hinata yang sedang menbawa kantong belanja lalu menyeretnya ke Yakiniku dengan alasan mentraktir padahal Sakura ingin mengorek informasi yang bisa melepaskan dari perasaan tak menentu ini.

Setelah mengobrol santai tentang berbagai topik Sakura tiba tiba mengubah raut wajah dan nada suaranya membuat Hinata kebingungan.

"Hinata, aku ingin bertanya tapi kamu harus jawab dengan jujur."

"Ada apa Sakura-chan?"

"Apa kamu benar benar mencintai Naruto?"

"Kamu tahu sendiri kan Sakura sejak masih akademi aku sangat menyukai Naruto tentu saja aku mencintai dia."

"Kamu tidak selingkuh dengan Sasuke kan?"

"Eh eh eh apa maksudmu?"

"Aku mendengar dari beberapa orang akhir akhir ini Sasuke sering bersamamu. Aku rasa..."

"Ti ti tidak Sakura-chan. Sasuke hanya menemaniku saja. Kamu tahu sendiri akhir akhir Naruto banyak pelatihan dan misi jadi mungkin dia meminta Sasuke menemaniku agar aku tidak sedih. Sasuke kan sudah punya kamu Sakura dan aku punya Naruto." Hinata memotong ucapan Sakura setelah memahami maksud Sakura.

Sakura hanya melongo melihat kepolosan Hinata, tidak bisakah gadis di depannya ini curiga kalau ada apa apa dengan Sasuke.

"Lagipula selama aku masih bernyawa aku akan selalu memperjuangkan Naruto sampai kapanpun. Berat memang karena sekarang aku harus berbagi Naruto dengan yang lain namun aku rela. Aku rela karena aku bisa membantu mewujudkan salah satu mimpinya yaitu memiliki keluarga sendiri dan dengan bangkitnya klan berarti tidak ada keturunannya yang akan mengalami nasib yang sama dengan Naruto." Mata Hinata memandang tegas ke arah Sakura membuat Sakura menyadari betapa Hinata sungguh sungguh dalam mencintai Naruto.

"Hinata." Gumam Sakura lirih.

Sakura merasa dirinya tertohok dengan ucapan Hinata. Dia merasa keteguhan hatinya hanya secuil keteguhan hati Hinata.

"Apapun bisa terjadi dalam kehidupan ini Sakura. Tidak ada yang tahu bagaimana jalan takdir antara aku dan Naruto namun itu yang aku percayai saat ini." Hinata tersenyum.

Walaupun dalam hatinya masih ada keraguan tentang perasaan Hinata kepada Sasuke namun Sakura ingin memastikan sendiri. Memejamkan mata sejenak Sakura teringat kembali percakapannya dengan Hinata.

"Sakura-san Tsunade-sama memanggil anda untuk segera menemuinya di mansion Senju." Suara feminim membuyarkan waktu santai yang Sakura miliki. Menoleh ke arah asal suara, Sakura mendapati anbu neko sedang menatapnya tajam dari balik topeng.

"Baiklah aku akan segera ke sana setelah bersiap siap." Sakura beranjak segera mempersiapkan diri dan pergi ke mansion Senju.

Sakura mengedipkan mata melihat Tsunade Senju sedang memasang raut wajah sangat serius seperti ketika masih ada di kantor Hokage. Sudah lama Sakura tidak melihat Shisounya seperti itu semenjak di gantikan Kakashi Hatake.

"Shisou, ada apa memanggilku?"

"Ah Sakura. Maaf aku sedikit melamun tadi. Sebelum itu mari kita ke ruangan yang lebih nyaman untuk berbincang. Kemudian Tsunade mengajak Sakura ke ruangan khusus yang sama ketika Orochimaru menemui dirinya. Setelah membentuk beberapa segel tangan di iringi tatapan penuh keheranan Sakura, Tsunade mengaktifkan segel yang membuat ruangan aman untuk berbincang rahasia tingkat s.

"Sugoi Shisou. Aku tak tahu anda dapat melakukan fuinjutsu."

"Ini buatan Naruto disini aku hanya mengaktifkan saja."

"Eh anda serius?"

"Kamu hanya melihat pada bocah uchiha itu Sakura sehingga kamu tidak memperhatikan sekelilingmu."

Sakura hanya bisa merona malu mendengar sindiran dari Tsunade.

"Banyak hal yang terjadi Sakura. Naruto yang sekarang itu tidaklah sama lagi dengan Naruto yang dulu. Sesekali kamu perlu memalingkan muka ke sekelilingmu agar mampu melihat."

"Gomen Shisou."

"Aku harap kamu bisa lebih sadar. Nah sekarang aku ingin kamu mempelajari dokumen ini." Tsunade memberikan dokumen dari Naruto kepada Sakura yang segera membaca dan mempelajarinya.

"Shisou ini..!"

"Itu misi yang aku berikan kali ini Sakura. Misi tingkat S kamu akan pergi di temani beberapa anbu special bawahan Naruto."

"Eh! Apa Shisou bilang?" Sakura berdiri karena terlalu terkejut. "Anbu bawahan Naruto."

"Ah aku lupa. Naruto aku angkat menjadi kapten anbu specialku dan dia sudah jounin. Dokumen yang kamu pegang itu hasil penyelidikannya."

DUAR

Seakan tersambar petir di siang bolong tubuh Sakura menegang mendengar ucapan santai Tsunade. Orang yang selalu dianggapnya remeh kini menjadi orang yang meloncat melampaui jangkauannya. Setitik penyesalan mulai muncul di hati Sakura.

"Penyelidikan?" Pulih dari keterkejutannya Sakura menanyakan hal yang mengganjal hatinya.

"Ya. Naruto sedang menyelidiki kasus yang menimpa shinobi kita."

"Jadi itu sebabnya Naruto menghilang akhir akhir ini."

"Nah ku harap besok kamu bisa berangkat Sakura mengingat kritisnya kondisi di Kiri saat ini dan satu hal lagi ini rahasia tingkat s."

Sakura mengangguk lalu meninggalkan kediaman Senju. Dalam hatinya mulai muncul kenangan bersama Naruto semenjak di akademi. Sakura hanya bisa meringis mengingat kenangan itu karena tidak ada yang indah hanya ada yang terasa menyakitkan.

Menatap kepergian Sakura sebuah senyuman tersungging di bibir Tsunade. Setelah Sakura lenyap dari pandangan, Tsunade segera masuk dan secepatnya tangannya mengambil sebuah gulungan dan menuliskan beberapa hal untuk Naruto. Kodok penyampai pesan terlihqt senang ketika Tsunade memanggilnya dan menyodorkan sebuah gulungan yang akan di antarkannya.

Sebuah seringai jahil muncul ketika Tsunade melihat kodok penyampai pesan menghilang.

Selamat menikmati kejutan dariku cucu berisik.

TBC

Maaf kalo kali ini chapter agak ancur karena pikiran saya lagi kacau balau. Banyak yang perlu di pikirkan menbuat fokus menjadi buyar di tambah godaan fic baru. Setelah sempat post fic baru akhirnya saya putuskan remove agar bisa fokus dulu di fic satu ini sampai selesai baru bahas fic baru.

mohon maaf kalau belum bisa sesuai ekspatasi reader. semua saran kritik n flame reader saya terima sebagai bumbu penyedap rasa kehidupan saya.