Mentari pagi baru saja membagi sinarnya ke seantero dunia elemental ketika Naruto tiba di jembatan Naruto buatan Tazuna yang pernah menyewanya ketika masih genin. Kini Naruto datang lagi sebagai jounin karena prestasi semasa perang walaupun itu informasi rahasia karena hanya beberapa orang dan kage yang tahu. Memakai baju lengan panjang berwarna biru dengan corak orange serta jubah putih dengan motif api orange di bagian bawah dan celana anbu serta rambutnya yang di biarkan agak gondrong menbuat orang menyangka melihat Minato Namikaze.
Inari tidak menyangka di desanya bisa terjadi wabah keracunan yang parah dan bantuan Mizukage tidak banyak bisa melakukan tindakan membuatnya sedih dan menundukkan kepala ketika melintasi jembatan. Sebagai cucu seorang tetua desa, Inari merasa harus melakukan sesuatu untuk menolong warga desanya. Tanpa di sadarinya sepasang netra biru safir memandangnya di ujung lain jembatan.
"Yo bocah." Naruto menyapa Inari ketika sudah mendekatinya.
Sibuk melamun tidak membuat Inari menyadari panggilan itu dan terus berjalan sambil menunjukkan kepala. Naruto yang melihat itu hanya bisa menghela nafas.
Sepertinya ada masalah yang cukup berat yang di pikirkannya sehingga tidak mendengarkanku. Apa mungkin masalah wabah keracunan desa? Batin Naruto memandang Inari kemudian menghampirinya.
BLETAK
"Siapa yang berani memu...?" Inari menoleh sambil mengelus kepalanya yang terkena jitakan. "Naruto-nii. Benarkah itu dirimu?"
"Tentu saja ttebayo! Nah apa yang membuatmu mengabaikan sapaanku tadi?
"Eh. Ano ano.." Inari hanya bisa tergagap karena kaget.
"Sepertinya masalahmu begitu berat ya Inari?"
"Iya Niisan. Masalah yang sangat berat. Dan apa yang Niisan lakukan disini? Apakah ada misi?" Inari mengingat permohonan bantuan kepada Mizukage mengingat tenaga medis Kiri kewalahan dengan wabah.
"Aku hanya sedang lewat saja Inari dan aku pikir untuk mampir ke rumah kalian. Bagaimana kabar Tazuna Jiisan dan ibumu?"
"Kabar mereka baik namun saat ini mereka sedang membantu menangani wabah di desa."
"Jadi tidak ada orang di rumah. Dan apa yang kamu lakukan sekarang."
"Aku ingin pulang mengambil perlengkapan untuk pergi ke Konoha meminta bantuan pada Tsunade Senju untu mengatadi masalah ini."
"Lebih baik kamu tidak usah kesana. Kamu tunggu saja di rumah dan bolehkah aku menginap di rumahmu beberapa waktu? Aku akan menyelidiki kasus ini." Naruto mengatakan hal itu untuk berjaga jaga.
"Kenapa?"
"Karena aku sudah tahu kondisi desa ini dan aku memberitahu Tsunade Baachan, aku yakin dia akan segera datang. Lagipula kasus desa ini ada hubungannya dengan kasus yang aku selidiki siapa tahu aku dapat petunjuk disini."
Inari hanya bisa mengangguk angguk mendengar penjelasan Naruto. Sambil mengobrol tentang berbagai hal akhirnya Inari dan Naruto tiba di rumah Tazuna.
Baru sejenak mengistirahatkan badan di rumah Inari, Naruto merasakan perasaan yang tidak enak bahwa akan ada hal yang merepotkan segera terjadi. Tak lama kemudian kodok pengirim pesan muncul tepat ketika Naruto membayangkan apa yang akan merepotkannya. Naruto segera mengambil gulungan yang di berikan kodok itu dan segera membacanya.
Setelah membaca pesan tersebut wajah Naruto mendadak menjadi pucat.
Apa apaan Baachan? Dia mengirimkan orang lain dan aku harus menjaganya. Lagipula apa maksudnya special ini? Dasar dada jumbo ini kasus yang tidak remeh malah mengirim orang lain. Aku harus pulang secepatnya pula, aaaarrrrrrgggghhhhhhhh ini membuat kepalaku pusing memikirkan semua sekaligus. Naruto tidak habis pikir dengan surat yang diterimanya.
KONOHAGAKURE
Sakura melangkah dengan langkah pasti menuju ke gerbang Konoha. Hatinya terasa gembira karena bisa keluar desa dengan alasan misi dari Godaime Hokage. Di tengah perjalanan Sakura melihat Sasuke sedang memandang ke sebuah toko dengan intens. Hal tersebut membuat Sakura penasaran dan mengikuti arah pandangan Sasuke. Di sebuah toko nampak Hinata dan Hanabi sedang memilih sayuran dan buah sambil bercanda dengan bibi penjual sayur dan buah itu. Hati Sakura mendadak terasa seperti di iris iris mengingat perkataan Ino dan orang dari klan Hyuuga tentang hubungan Sasuke dan Hinata.
Sakura menggenggam dada kirinya mencoba mengurangi rasa sakit hatinya melihat Sasuke mengkhianati cinta dan hubungan yang di jalani bersama. Sakura merasa perjuangannya tidak di hargai dan tanpa sadar mengingatkannya soal Naruto.
Apakah seperti ini yang Naruto rasakan ketika aku selalu melihat Sasuke? Ternyata sangat menyakitkan ketika mencintai orang yang mencintai orang lain. Terlebih lagi bila sudah berkomitmen menjalani hubungan. Maafkan aku Naruto selama ini mengabaikanmu. Hinata sungguh beruntung mendapatkanmu.
Sakura menatap sedih Sasuke yang terlihat fokus menatap gadis Hyuuga sehingga tidak menyadari Sakura sudah berdiri di dekatnya.
"Ohayou Sasuke-kun." Sakura menguatkan hati mencoba mencari sesuatu di kesempatan kali ini.
Sasuke terkejut namun berhasil di tutupinya dengan wajah datarnya.
"Hn."
"Apa yang kamu lakukan disini?"
"Tidak ada."
"Lalu kenapa kamu bersikap seperti mengintai seseorang?"
"Bukan urusanmu." Sasuke memalingkan wajahnya mengabaikan Sakura.
"Sasuke-kun."
"Sasuke-kun."
"Aku akan pergi menjalani misi."
"Hn."
"Mungkin akan lama."
"Hn."
"Kau tak rindu padaku kan bila aku tinggal misi lama lama?"
"Kau menyebalkan Sakura. Pergilah jika memang kau ada misi."
Sasuke masih memandang Hinata mengabaikan Sakura yang ada di sampingnya. Sikap Sasuke membuat Sakura terpukul, bagaimana tidak? Sang kekasih ada di sampingnya tapi Sasuke memperhatikan yang lain. Belum lagi perkataannya tentang menyebalkan padahal dulu seingat Sakura Sasuke pernah mengatakan bahwa Sasuke menyukai dahi lebarnya dan ingin mengecupnya.
Tanpa permisi Sakura segera pergi dari tempat itu dengan menahan agar air matanya tidak tumpah. Dada Sakura terasa sesak dan kini Sakura mulai menyadari bahwa Sasuke mulai melupakannya.
Sasuke memalingkan mukanya dan menemukan Sakura telah meninggalkannya. Seakan tidak peduli Sasuke segera memperhatikan Hinata yang sudah meninggalkan toko dengan Hanabi. Sasuke memilih mengikuti Hinata daripada mengejar Sakura karena Sasuke merasa Sakura hanya ngambek di cuekin. Sasuke tidak merasa khawatir Sakura akan meninggalkannya mengingat apa yang telah terjadi.
Bagi Sasuke Sakura hanya akan selalu menempel kepadanya karena cinta Sakura itu tanpa perlu diperjuangkanpun tetap akan menempel padanya. Hal itu yang kemudian membuat Sasuke dengan mudahnya mengincar Hinata yang di anggapnya lebih unggul sebagai pencetak generasi generasi Uchiha yang terbaik. Memiliki Sakura itu bonus yang besar di tambah dengan Karin untuk memperkuat rencananya.
Hinata sedang berjalan beriringan dengan Hanabi ketika mendadak seekor kodok kecil muncul di pundaknya.
"Ah Naru.."
Hanabi mengangkat sebelah alisnya melihat kemunculan kodok itu dan panggilan kakaknya.
"Naru? Kau menamai kodok itu sama dengan Naruto-nii ya Nee-sama?"
"Namanya Naruse Hanabi-chan. Ini kodok penghubung khusus antara aku dan Naruto."
"Eh."
"Apa?"
"Pantas saja selama ini aku tak melihatmu kebingungan berkomunikasi dengan Naruto-nii ketika saling berjauhan." Hanabi menunjuk nunjuk Hinata dengan kunai yang di beri bandul sehingga senjata shinobi itu menjadi terkesan imut.
"Hihihihihi sekarang kau tahu rahasiaku Hanabi-chan. Jangan ceritakan ke yang lain." Hinata terkikik melihat tingkah adiknya yang cemberut karena merasa selama ini usahanya menggoda kakaknya ketika saling berjauhan dengan Naruto gagal dan penyebabnya kodok kecil ini.
Beruntung saat Naruse muncul Sasuke tidak memperhatikan hal itu karena Naruse tertutup kepala Hinata dan Sasuke sedang tidak fokus ke hal lqin selain menatap sosok yang menjadi obsesinya Hinata Hyuuga.
Naruse hanya menatap Hanabi dengan matanya sambil tetap berada di pundak Hinata.
"Ne Hanabi-chan boleh aku bertanya sesuatu?" Hinata menatap jahil adiknya setelah Naruse berbunyi lirih beberapa kali.
"Apa Nee-sama?"
"Apa kamu menyukai Konohamaru?"
Sontak membuat Hanabi memerah mukanya dan menatap horor Hinata yang sedang tersenyum jahil.
"A a a apa ma ma maksud Nee-sama. Aku tidak pacaran dengan Konohamaru." Hanabi menunjuk nunjuk Hinata lagi.
"Oh jadi kamu berpacaran dengan dia."
Dasar mulut ember kenapa juga keceplosan Hanabi merutuki kelepasan bicaranya.
"Tak apa Hanabi-chan." Hinata mengelus lembut surai Hanabi. "Konohamaru anak yang baik, aku seperti melihat Naruto-kun kecil di dalam dirinya. Lagipula dia juga murid special dan pertama Naruto-kun. Asalkan kalian saling mencintai dengan tulus dan saling menjaga."
"Eh."
"Kamu beruntung Konohamaru membalas perasaanmu dengan segera sehingga kamu bisa merasakan lebih awal dibandingkan denganku." Hinata tersenyum tulus membuat Hanabi merasa Hinata sosok yang kuat dan tegar.
"Nee-sama."
"Ya."
"Bagaimana denganmu dan Naruto-nii? Maksudku sekarang Naruto-nii harus membangkitkan klan apakah Nee-sama rela?"
"Aku benar benar mencintai Naruto-kun sepenuhnya. Selama nyawa masih ada aku akan terus berada disisinya setelah dia menerima perasaanku. Aku tahu tidak mudah berbagi orang yang di cintai dengan yang lainnya namun bagiku itu hanya sebagian pengorbanan cinta yang aku lakukan. Cinta sejati akan selalu saling berkorban, tidak egois, saling melengkapi, menerima apa adanya. Kami sama sama harus menerima kondisi ini dan kami sudah memikirkan matang matang soal Naruto-kun menjalani pembangkitan klan."
"Nee-sama." Hanabi menatap kagum Hinata sambil menggenggam tangan Hinata yang tidak memegang kantong belanjaan.
Hinata tersenyum mengingat kembali keputusan yang sudah dia dan Naruto bicarakan baik baik. Beruntung Naruto mempercayakan sepenuhnya kepada Hinata untuk mengambil keputusan dan sekarang Hinata ingin menyampaikan kepada Tsunade soal ini.
"Nee-sama darimana kau tahu soal aku dan Konohamaru?"
"Naruse yang memberitahuku."
"Huwaaaaaa!"
"Kenapa Hanabi-chan."
"Kau tidak gila kan Nee-sama?" Hanabi mencoba menyentuh dahi Hinata dan hal itu membuat Hinata mengedutkan dahinya sebelum sebuah senyuman manis tersungging di bibirnya. Melihat senyuman itu Hanabi merinding seolah akan mengalami sesuatu yang tidak enak. "Kau mengerti bahasa kodok itu?" tanya Hanabi sambil menunjuk Naruse
"Aku baik baik saja Hanabi. Kau pikir aku gila karena bisa mengerti Naruse yang sudah terlatih untuk memberi informasi lewat suaranya. Asal kau tahu kode suaranya kau bisa memecahkan sandi informasi dari Naruse. Dan karena sikapmu maka tidak ada dango nanti malam."
"TIDAKKKK!!!!"
Sasuke hanya bisa menatap heran wajah lesu Hanabi yang di lihatnya dari jarak yang cukup jauh mengingat niatnya selalu mengikuti Hinata sehingga bisa memanfaatkan sebuah situasi tertentu untuk menjerat Hinata. Beruntung baginya Kakashi bisa di pengaruhi dengan kata kata manisnya sebagai pengalih.
KUMOGAKURE
Killer Bee masih heran dengan penemuan soal genjutsu itu segera memberitahu Hachibi soal apa yang menjadi pemikirannya. Beruntung kali ini dia ada di pulau kura kura tempat Naruto dan Killer Bee berlatih Bijuu mode.
Hachibi yang mengerti apa pemikiran Bee segera menenangkan jinchiurikinya dengan segera menyampaikan kepada Naruto melalui Kyuubi.
"Bee! Aku mengerti apa yang kau pikirkan. Aku akan memberitahukan kepada Naruto. Sekarang waktunya untuk melatih kondisimu setelah aku keluar dari tubuhmu."
"Yo kau benar. Aku akan berlatih supaya aku kuat."
Setelah Bee merasa tenang akhirnya Hachibi dan Bee mulai berlatih agar Bee bisa bertahan hanya dengan sedikit chakra Hachibi yang di tinggalkan agar Bee tidak mati ketika Hachibi keluar dari tubuhnya.
KIRIGAKURE
"Mizukage-sama. Maaf mengganggu anda." Seorang kunoichi berambut hitam di ikat ekor kuda membuat Mei menghentikan aktivitas berkutat dengan dokumen dokumen di mejanya.
"Ada apa Misa (oc)?" Mei menatap Misa dengan tatapan serius menunggu laporan misi khususnya.
"Saya menemukan beberapa gulungan klan Uzumaki namun saya tidak tahu itu asli atau palsu. Beberapa orang yang memiliki hubungan darah dengan klan Uzumaki juga berhasil di lacak." Misa kemudian menyerahkan beberapa gulungan yang di bawanya ke ruangan Mizukage.
"Kerja bagus Misa. Anbu coba kau pergi ke Nami no Kuni ke jembatan the great Naruto cari Naruto dan suruh kemari." Setelah Mei mengatakan hal itu seorang anbu muncul dari sudut ruangan dan setelah memberi hormat segera pergi melaksanakan tugas.
Aku akan memberikan wilayah klan Uzumaki mula mula sebagai milik Naruto dan semoga hal ini bisa membalas perbuatan para pendahulu shinobi Kiri yang membantai klan Naruto. Ukh aku harap aku bisa memberikan Naruto seorang istri dari kunoichi Kiri sehingga kelak klan Uzumaki bisa bersikap netral ketika ada perselisihan antar desa. Aku yakin dari Konoha pasti Byakugan no Hime yang menjadi istri Naruto.
"Choujuro, Ao apakah ada kunoichi kita yang setara dengan Byakugan no Hime dari Konoha?"
Dua orang yang di tanya malah saling menatap keheranan akibat pertanyaan itu sehingga membuat wajah elok sang Mizukage memerah karena merasa di acuhkan.
"Ne kalian ingin merasakan yotonku ya?" Mei menjilat bibirnya sambil menyiapkan segel tangan.
Melihat hal tersebut Choujuro segera melesat meninggalkan ruangan tanpa sepengetahuan Ao yang panik menghadapi pemimpinnya.
"Gomen Mei-sama kami hanya bingung ya kan Chou..." Ao bengong ketika menoleh untuk meminta persetujuan pembelaan ternyata yang di cari sudah kabur duluan.
"BOCAH KAMPRETTTTTT...!!!!"
BRAK
BRUK
DUAR
Akhirnya sebuah penderitaan Ao di mulai dan itu menjadi hiburan tersendiri bagi warga Kiri di sekitar gedung Mizukage karena tingkah absurd semacam itu membuat mereka tidak mengingat masa masa pemerintahan Yagura. Walaupun terkesan seperti galak namun Mei melakukannya dengan perhitungan sehingga tidak ada shinobi Kiri yang merasa di tindas ketika merasakan kemarahannya. Hal itulah yang membuat warga Kiri sering terhibur dengan tingkah absurd Mizukage dan bawahannya.
Sementara Choujuro yang berhasil kabur segera mengatupkan tangan di depan gedung Mizukage sambil menggumamkan semoga arwahmu di terima Kami-sama dan gomen Ao berulang ulang yang menyebabkan para warga yang melihatnya semakin terkekeh.
KONOHAGAKURE
Penyesalan memang akan selalu datang ketika semua berakhir namun selalu ada pelajaran yang bisa di ambil dan keputusan agar penyesalan tidak semakin dalam. Orochimaru mengingat ingat masa lalu yang kelam sambil berjalan tanpa arah, di tangannya terdapat gulungan penyimpanan yang berisi semua pengetahuan dan jutsu yang dia miliki sedang di genggam erat.
Orochimaru menatap langit sambil menghela nafasnya memantapkan apa yang sudah semalam dia pikirkan. Melihat gulungan yang ada di tangannya membuat Orochimaru sedikit kecewa karena Tsunade tidak berhasil dia temui di mansion Senju sedangkan ingin ke mansion Uzumaki dia tidak memiliki akses. Dalam hatinya Orochimaru mengutuk kemampuan fuinjutsu klan Uzumaki yang dikembangkan bocah rubah pirang biang masalah menurutnya.
Tanpa sengaja Orochimaru melihat Sakura melintas di depannya dengan terisak sambil berusaha menahan airmata. Tanpa berpikir dua kali Orochimaru segera mengejar Sakura sehingga berhasil menyusulnya ketika tiba di gerbang Konoha.
Tsunade Senju hanya bisa menatap heran kedatangan Sakura yang terisak namun sebelum sempat mengatakan sesuatu terlihat Orochimaru di belakang Sakura. Kepalan tangannya segera aktif bersamaan munculnya pertigaan di kening Tsunade begitu Orochimaru menjejakkan kaki di samping Sakura.
"Baka Oro apa yang kau lakukan pada Sakura?" Tsunade langsung menerjang Orochimaru dengan pukulan human strengthnya dan membuat Orochimaru serta Sakura kaget. Beruntung mereka dapat menghindari dampak pukulan yang membuat tanah di depan gerbang menjadi retak retak. Kotetsu dan Izumo menatap horor pemandangan di depan mereka dengan tanpa sadar saling memeluk satu dengan yang lainnya.
"Whoa tunggu Hime akan aku jelaskan." Orochimaru tersenyum menatap Tsunade yang menatapnya dengan emosi. "Sebelum aku jelaskan lebih baik kita menyingkir agak jauh dari pasangan kekasih yang sedang di mabuk asmara."
Tsunade dan Sakura sweetdrop mendengar ucapan Orochimaru karena setahu mereka tidak ada orang lain disini selain mereka. Duo chunin penjaga gerbangpun menatap heran Orochimaru dengan tetap berpelukan seperti sepasang kekasih akibat takut amukan Tsunade tadi.
"Khe khe khe khe.." Orochimaru menjilat bibirnya dengan lidah ularnya sambil menatap Kotetsu dan Izumo yang di ikuti oleh Tsunade dan Sakura. "Kalian memang pasangan yang cocok. Cepatlah menikah sehingga kalian tidak perlu bermesraan di depan gerbang ne Kotetsu Izumo."
Tsunade dan Sakura tertawa lepas melihat posisi duo penjaga gerbang yang masih memasang wajah innocent dengan posisi mesra.
"Astaga Kotetsu Izumo ini sungguh memalukan bila ada tamu yang mengunjungi Konoha melihat apa yang kalian lakukan." Tsunade yang sudah berhenti tertawa menunjuk Kotetsu dengan wajah horornya.
Melihat sikap Tsunade membuat Izumo menatap Kotetsu ingin meminta penjelasan namun ketika menoleh Izumo menyadari wajah Kotetsu sangat dekat dengannya. Sungguh hari yang sial bagi mereka karena Kotetsu mendadak menoleh ke arah Izumo dan terjadilah hal yang membuat wajah Sakura dan Tsunade memerah dan Orochimaru semakin terbahak bahak. Tanpa di sadari bibir keduanya saling bersentuhan yang walaupun sekilas namun cukup membuat heboh gerbang Konoha pagi itu.
GYAAAAAAHHHHHHH
GUBRAAAKKK
DUARRRRRR
Seketika tembok pos penjaga gerbang retak dengan Izumo menempel seperti cicak dan di pojokan Kotetsu sedang pundung sambil menggumam aku bukan homo terus menerus sambil jarinya mengorek ngorek tanah.
"Astaga. Benar benar membuat heboh saja." Tsunade memijat keningnya melihat tingkah absurd duo penjaga gerbang. "Nah Orochimaru jelaskan padaku kenapa kau membuat Sakura menangis?" Tsunade memandang Orochimaru sambil menyiapkan human strenghtnya sementara Sakura hanya menatap sang sannin ular sambil meringis.
"Tu tu tunggu dulu Hime. Bukan aku yang membuat muridmu menangis. Aku mengejarnya karena melihat dia melewatiku sambil terisak dan aku pikir sesuatu sedang terjadi." Orochimaru menatap Sakura dengan pandangan yang seolah berkata cepat jelaskan.
"Gomen Orochimaru-sama, Shisou telah membuat kalian khawatir hanya ada sedikit masalah dengan Sasuke." Sakura menundukkan kepalanyanya.
Tsunade menyadari ada yang salah dengan Sakura ketika mendengar Sakura memanggil Sasuke tanpa suffix -kun. Aneh sejak kapan Sakura memanggil Sasuke sedingin itu. Apakah sesuatu sedang terjadi dalam hubungan mereka? Apa ini terkait dengan perkataan Karin dulu? Tsunade menatap sedih sosok murid yang selalu dia banggakan.
"Apapun yang terjadi semoga kau segera dapat menyelesaikannya Sakura. Dan sekarang saatnya kau mengesampingkan masalah masalah pribadimu agar kau bisa fokus dalam menjalani misi. Beberapa anbu akan melindungimu dari bayangan dan aku sudah memberitahu dia soal kedatanganmu ke Nami no Kuni walau tak menyebut namamu."
"Dia?" Beo Sakura.
"Bocah rubah itukah Hime?" Kilatan nampak di sudut mata Orochimaru. Kesempatan untuk sedikit menebus kesalahan di masa lalunya segera tiba.
"Naruto Uzumaki. Saat ini dia ada di Nami untuk menyelidiki sesuatu nah Sakura kalau kau bertemu dengannya berikan gulungan ini." Tsunade memberikan sebuah gulungan ke tangan Sakura.
Sakura terpaku tidak dapat berkata apa apa selain respon tangannya yang reflek mengambil gulungan yang di sodorkan Tsunade. Naruto hanya kata itu yang kini berputar putar di otaknya membuat semua kenangan tentang sosok pirang berisik kembali berputar dan menimbulkan perasaan hangat di hatinya sekaligus nyeri.
Tsunade dan Orochimaru hanya bisa menatap heran tingkah Sakura yang tidak biasanya. Tatapan Sakura dipenuhi kerinduan penyesalan dan harapan membuat Orochimaru yang menyadarinya tersenyum tulus.
"Aku tahu kau sedikit banyak sama denganku nona Haruno. Nah aku minta tolong berikan gulungan penyimpanan ini untuk Naruto. Sampaikan salam dan maafku untuknya."
Sakura menerima gulungan yang di berikan Orochimaru dengan tatapan heran mendengar kata maaf dari mulut sannin ular itu.
"Kelak kau dan Naruto akan mengerti dan satu hal nona Haruno lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali apapun hasilnya yang penting sudah berusaha."
Sakura menatap Orochimaru dan mencerna ucapannya sejenak rasa hangat mulai muncul di hatinya membuat Sakura tersenyum dan menganggukkan kepala dengan mantap. Tsunade yang melihat interaksi keduanya hanya memasang wajah penasaran apa yang di maksudkan dalam pembicaraan itu.
"Terima kasih Oro..."
"Kau bisa memanggilku Jiisan Sakura. Semoga berhasil." Orochimaru memotong ucapan Sakura sambil membalikkan badan dan melangkah ke dalam desa di ikuti tatapan mata tidak percaya dari Tsunade Senju yang membuka mulut.
"Ha'i." Sakura membungkukkan badan ke arah Orochimaru. "Shisou aku pergi dulu jaga diri baik baik dan jangan banyak minum sake jaa ne!"
Belum sempat Tsunade membalas ucapannya Sakura sudah melesat melompat lompat di pepohonan di ikuti anbu special Godaime Hokage membuat Tsunade hanya bisa menghela nafas.
"Seperti Naruto saja." Gumam Tsunade sambil melangkah masuk ke dalam desa mengabaikan Kotetsu dan Izumo yang masih dalam dunia absurdnya akibat syok berkepanjangan.
TBC
Akhirnya bisa up juga setelah kebingungan aplikasi fanfiction sempat agak trouble. trima kasih buat yang udah ninggalin jejak. GOMENNASAI kalo belum sesuai ekspatasi reader n author senior. masih banyak typo n kesalahan kesalahan yang timbul.
trima kasih untuk flamenya baik secara halus maupun kasar saya hargai karena dunia ini indah dengan berbagai perbedaannya.
selamat hari raya idul adha bagi yang merayakan walaupun udah lewat.
